Home >Business >Rahasia bisnis minimarket

Rahasia bisnis minimarket

Date post:01-Nov-2014
Category:
View:55,610 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Description:
 
Transcript:
  • 1. PENDAHULUANA. Mata Rantai Perdagangan Ritel Ritel berasal dari kata retail (bahasa Inggris) yang berarti eceran. Ada beberapa jenis institusi bisnis ritel, seperti gerai tradisional (warung dan toko tradisional), gerai modern (miniamarket, supermarket, dan kini mulai bermunculan hypermarket). Perbedaan antara gerai tradisional dengan gerai modern terletak pada tata ruang gerai modern terletak pada tata ruang gerai, tekhnologi informasi, dan pelayanan. Bisnis ritel merupakan mata rantai dari alur distribusi barang dari produsen sampai pada konsumen akhir. Sebagai mata rantai, maka bisnis ritel adalah perantara perdagangan yang memiliki ketergantungan pasokan barang dan jasa kepada produsen/pemasok. PRODUSEN DISTRIBUTOR SUB.DISTRIBUTOR RITEL KONSUMEN AKHIRMengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 1
  • 2. Sebagai perantara perdagangan, maka institusi bisnis ritel saling berhadapan untuk merebut konsumen akhir dalam satu area perdagangan. Minimarket sebagai salah satu institusi bisnis ritel berhadapan dengan hypermarket, supermarket, minimarket lainnya, toko, dan warung tradisional.B. Tren Minimarket Tren minimarket muncul karena orientasi berbelanja masyarakat berubah. Dulu konsumen dapat dikatakan selalu mengejar harga murah. Sekarang itu tidak cukup Kenyamanan dalam berbelanja menjadi daya tarik tersendiri. Hal ini yang membuat pilihan konsumen tertuju untuk berbelanja ke minimarket daripada ke warung atau toko tradisional lainnya. Selain nyaman, minimarket memiliki citra harga yang lebih murah, pelayanan yang baik, keanekaragaman barang yang lengkap, serta mudah memilih dan menentukan barang yang diinginkan. Perbedaan mendasar antara toko tradisional dengan minimarket ada dalam pelayanan, bentuk gerai, dan tingkat kenyamanan. Di warung atau toko tradisional, konsumen masih harus menanyakan harga atas suatu barang yang akan dibeli. Di minimarket, konsumen dapat melihat, memilih dan menentukan sendiri barang yang akan dibeli berdasarkan harga yang tertera. Pada akhir yang dibeli tidak sekadar barang yang dibutuhkan tetapi juga yang diinginkan. Dengan demikian, maka lambat laun warung dan toko tradisional akan mati sekarat bila tidak segera mengubah orientasi menjadi minimarket mandiri. Kebutuhan dan keinginan sangat berbeda sekali. Motivasi konsumen dalam membeli kebutuhan barang sudah direncanakan pada saat masihMengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 2
  • 3. di rumah, tetapi keinginan membeli barang yang tidak direncanakan bias saja secara tiba-tiba muncul setelah melihat barang. Istilah kerennya impuls buying. Sehingga di minimarket, pembelian dilakukan oleh konsumen tidak saja berdasarkan kebutuhan, tetapi juga berdasarkan keinginan. Oleh karena itu, minimarket harus menyediakan produk dalam berbagai jenis, merek, dan ukuran. Tentu dengan tersedianya keanekaragaman produk dan jasa yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen dapat mendorong peningkatan volume penjualan. Bisa juga, untuk menyediakan pilihan yang lebih beragam, Anda bekerja sama dengan pemilik bisnis jasa untuk membuka semacam island outlet seperti jasa laundry. Begitulah gagasan dasar membangun minimarket. Selebihnya, peta bisnis ini perlu disajikan untuk meyakinkan Anda betapa bisnis ini sangat memiliki masa depan cerah. Tidak ada matinya selama manusia masih membutuhkan makanan, minuman, perlengkapan mandi, dan barang- barang kebutuhan sehari-hari lainnya. Sehingga bisnis ini banyak dilirik oleh pemodal besar seperti Indofood Group dengan mendirikan minimarket bernama Indomaret pada tahun 1988. Indomaret bisa kita sebut berbagai pionir berkembangnya minimarket di Indonesia. Kemudian disusul PT. Hero Supermarket dengan mendirikan Startmart pada tahun 1991, PT HM Sampoerna dan Alfa Group mendirikan Alfamart tahun 1999. Selain Indomaret, kini Indofood Group juga membangun minimarket dengan merek lain yaitu Citimart, Omi Minimarket, dan Ceria Mart. Menurut versi majalah Franchise edisi 06/I/10 Juni-09 Juli 2006, lewat jaringan waralaba, Indomaret berkembang biak mencapai 1400 gerai.Mengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 3
  • 4. Alfamart dalam hitungan waktu 7 tahun mencapai 1100 gerai, dan Star Mart 61 gerai. Kini minimarket mandiri mulai bermunculan. Seperti Aharmart di beberapa tempat di Jakarta yang kini mulai dikembangkan melalui jaringan waralaba. Minimarket Wahana di Serang, Minimarket Bintang di Pandeglang, dan di setiap daerah lainnya sudah mulai berdiri minimarket mandiri. Kesuksesan minimarket mandiri sangat tergantung pada sumber daya manusia para pengelolanya. Selebihnya adalah kemampuan membangun sistem operasional minimarket, sehingga memiliki standar yang setara dengan minimarket waralaba.C. Peluang Pasar Minimarket Mandiri Meskipun supermarket bermunculan di mana-mana, bahkan saat ini hypermart pun berdiri di setiap kota besar dengan promosi yang gila- gilaan, fantastis, dan terkadang jauh di bawah harga beli bagi peritel kecil seperti warung dan toko tradisional, namun minimarket tetap mempunya posisi yang sangat penting sebagai mata rantai perdagangan barang, khususnya kebutuhan sehari-hari. Minimarket tetap dibutuhkan konsumen untuk pemenuhan kebutuhan harian. Konsumen berkunjung ke hypermart atau supermarket hanya untuk berbelanja bulanan atau mingguan. Tidak setiap hari. Terbukti minimarket berlabel Indomaret dan Alfamart tumbuh subur dimana-mana. Bak jamur di musim hujan. Kedua merek minimarket tersebut berkembang dengan jejaring waralaba. Harga jual yang ditawarkan atas barang-barang promosi relative murah, dibawah harga pasar. Ini yang membuat daya tarik konsumen berkunjung keMengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 4
  • 5. minimarket di atas. Selain itu juga konsumen mendapatkan kenyamanan berbelanja karena ruang gerai yang rapi, bersih dan sejuk. Lantas apakah berbisnis minimarket mandiri sudah tertutup rapat- rapat? TIdak! Masih ada celah atau peluang yang bisa kita bangun. Bisakah minimarket mandiri bersaing di tengah maraknya minimarket waralaba? Bisa! Tetapi bersaing menjadi market leader (pemimpin pasar) kemungkinan belum bisa. Peluang yang bisa diraih minimarket mandiri untuk sementara waktu berada pada posisi sebagai market follower (pengikut pasar). Jika sekadar harga jual promosi yang sama dengan harga jual promosi minimarket waralaba itu masih bisa kita lakukan. Selama kita masih mau berpikir, maka tidak ada yang tidak mungkin. Semua serba mungkin, termasuk membangun dan mengembangkan minimarket dengan modal pas-pasan. Pangsa Pasar Gerai Ritel (Bukan Posisi Akhir Tahun, dalam %) 2000 2001 200 2003 2 Hypermarket/Supermarket 16,7 20,5 20,2 21,1 Minimarket 3,4 4,6 4,9 5,1 Pasar Tradisional 79,8 74,9 74,9 73,8 *) sumber AC Nielsen Perkiraan Pangsa Pasar (Triliun Rp) 2000 2001 200 2003 2 Hypermarket/Supermarket 30,5 46,3 48,8 56,1Mengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 5
  • 6. Minimarket 6,2 10,4 11,8 13,6 Pasar Tradisional 145,2 169,2 181,1 196,3 Jumlah 182,2 226,0 241,8 266,0 *)Sumber diolah dari Bisnis Indonesia Hendri Marup, dalam buku Pemasaran Ritel menulis, pasar ritel Indonesia pada tahun 2003 diperebutkan oleh pengecer modern dan pengecer tradisional yang menurut perkembangan pangsanya adalah seperti berikut ini: Jika kita lihat table diatas, maka dari tahun ke tahun pangsa pasar minimarket terus meningkat, baik dari presentase maupun nilai rupiah. Sementara pasar tradisional (termasuk warung dan toko tradisional) secara presentase mengalami penurunan, walaupun meningkat dalam nilai rupiah. Dengan demikian kecenderungan konsumen untuk berbelanja ke gerai modern (termasuk minimarket) setiap tahun meningkat, seiring dengan perubahan pola berbelanja. Karena itu dari sekian triliun rupiah pangsa pasar ritel, peluang minimarket mandiriMengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 6
  • 7. masih terbuka lebar. Apalagi jika kita mau membangun kolaborasi antar minimarket mandiri. Caranya? Ya, kita duduk bareng mendiskusikan upaya-upaya yang mesti dilakukan untuk manghadapi persaingan tidak seimbang antara minimarket mandiri dengan minimarket waralaba. Kenapa mesti kolaborasi? Dengan berkolaborasi, kita bisa membentuk kerjas
Popular Tags:
Embed Size (px)
Recommended