Home >Documents >Rahasia Bisnis Minimarket

Rahasia Bisnis Minimarket

Date post:05-Aug-2015
Category:
View:639 times
Download:27 times
Share this document with a friend
Transcript:

PENDAHULUAN

A.

Mata Rantai Perdagangan Ritel Ritel berasal dari kata retail (bahasa Inggris) yang berarti

eceran. Ada beberapa jenis institusi bisnis ritel, seperti gerai tradisional (warung dan toko tradisional), gerai modern (miniamarket, supermarket, dan kini mulai bermunculan hypermarket). Perbedaan antara gerai tradisional dengan gerai modern terletak pada tata ruang gerai modern terletak pada tata ruang gerai, tekhnologi informasi, dan pelayanan. Bisnis ritel merupakan mata rantai dari alur distribusi barang dari produsen sampai pada konsumen akhir. Sebagai mata rantai, maka bisnis ritel adalah perantara perdagangan yang memiliki ketergantungan pasokan barang dan jasa kepada produsen/pemasok.PRODUSE N DISTRIBUTO R SUB.DISTRIBUT OR

RITEL KONSUMEN AKHIR

Mengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 1

Sebagai perantara perdagangan, maka institusi bisnis ritel saling berhadapan untuk merebut konsumen akhir dalam satu area perdagangan. Minimarket sebagai salah satu institusi bisnis ritel berhadapan dengan hypermarket, supermarket, tradisional. minimarket lainnya, toko, dan warung

B.

Tren Minimarket Tren minimarket muncul karena orientasi berbelanja

masyarakat berubah. Dulu konsumen dapat dikatakan selalu mengejar harga murah. Sekarang itu tidak daya cukup tarik Kenyamanan dalam berbelanja menjadi

tersendiri. Hal ini yang membuat pilihan konsumen tertuju untuk berbelanja ke minimarket daripada ke warung atau toko tradisional lainnya. barang Selain yang nyaman, minimarket mudah memiliki citra harga yang lebih murah, pelayanan yang baik, keanekaragaman lengkap, serta memilih dan menentukan barang yang diinginkan. Perbedaan mendasar antara toko tradisional dengan minimarket ada dalam pelayanan, bentuk gerai, dan tingkat kenyamanan. Di warung atau toko tradisional, konsumen masih harus menanyakan harga atas suatu barang yang akan dibeli. Di minimarket, konsumen dapat melihat,Mengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 2

memilih dan menentukan sendiri barang yang akan dibeli berdasarkan harga yang tertera. Pada akhir yang dibeli tidak sekadar toko barang yang akan dibutuhkan mati sekarat tetapi bila juga tidak yang segera diinginkan. Dengan demikian, maka lambat laun warung dan tradisional mengubah orientasi menjadi minimarket mandiri. Kebutuhan dan keinginan sangat berbeda sekali. Motivasi konsumen dalam membeli kebutuhan barang sudah direncanakan pada saat masih di rumah, tetapi keinginan membeli barang yang tidak direncanakan bias saja secara tiba-tiba muncul setelah melihat barang. Istilah kerennya impuls buying. Sehingga di minimarket, pembelian dilakukan oleh konsumen tidak saja berdasarkan kebutuhan, tetapi juga berdasarkan keinginan. Oleh karena itu, minimarket harus menyediakan produk dalam berbagai jenis, merek, dan ukuran. Tentu dengan tersedianya peningkatan keanekaragaman volume produk dan jasa juga, yang untuk dibutuhkan dan diinginkan konsumen dapat mendorong penjualan. Bisa menyediakan pilihan yang lebih beragam, Anda bekerja sama dengan pemilik bisnis jasa untuk membuka semacam island outlet seperti jasa laundry. Begitulah gagasan dasar membangun minimarket.

Selebihnya, peta bisnis ini perlu disajikan untuk meyakinkan Anda betapa bisnis ini sangat memiliki masa depan cerah. Tidak ada matinya selama manusia masih membutuhkanMengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 3

makanan, minuman, perlengkapan mandi, dan barangbarang kebutuhan sehari-hari lainnya. Sehingga bisnis ini banyak dilirik oleh pemodal besar seperti Indofood Group dengan mendirikan minimarket bernama Indomaret pada tahun 1988. Indomaret bisa kita sebut berbagai pionir berkembangnya minimarket di Indonesia. Kemudian disusul PT. Hero Supermarket dengan mendirikan Startmart pada tahun 1991, PT HM Sampoerna dan Alfa Group mendirikan Alfamart tahun 1999. Selain Indomaret, kini Indofood Group juga membangun minimarket dengan merek lain yaitu Citimart, Omi Minimarket, dan Ceria Mart. Menurut versi majalah Franchise edisi 06/I/10 Juni-09 Juli 2006, lewat jaringan waralaba, Indomaret berkembang biak mencapai 1400 gerai. Alfamart dalam hitungan waktu 7 tahun mencapai 1100 gerai, dan Star Mart 61 gerai. Kini minimarket mandiri mulai bermunculan. Seperti Aharmart di beberapa tempat di Jakarta yang kini mulai dikembangkan melalui jaringan waralaba. Minimarket Wahana di Serang, Minimarket Bintang di Pandeglang, dan di setiap daerah lainnya sudah mulai berdiri minimarket mandiri. Kesuksesan minimarket mandiri sangat tergantung pada sumber daya manusia para pengelolanya. Selebihnya adalah kemampuan membangun sistem operasional minimarket, sehingga memiliki standar yang setara dengan minimarket waralaba.Mengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 4

C.

Peluang Pasar Minimarket Mandiri Meskipun supermarket bermunculan di mana-mana,

bahkan saat ini hypermart pun berdiri di setiap kota besar dengan promosi yang gila-gilaan, fantastis, dan terkadang jauh di bawah harga beli bagi peritel kecil seperti warung dan toko tradisional, namun minimarket tetap mempunya posisi yang sangat penting sebagai mata rantai perdagangan barang, khususnya kebutuhan sehari-hari. Minimarket tetap dibutuhkan konsumen untuk pemenuhan kebutuhan harian. Konsumen berkunjung ke hypermart atau supermarket hanya untuk berbelanja bulanan atau mingguan. Tidak setiap hari. Terbukti minimarket berlabel Indomaret dan Alfamart tumbuh subur dimana-mana. Bak jamur di musim hujan. Kedua merek minimarket tersebut berkembang dengan jejaring waralaba. Harga jual yang ditawarkan atas barangbarang promosi relative murah, dibawah harga pasar. Ini yang membuat daya tarik konsumen berkunjung ke minimarket di atas. Selain itu juga konsumen mendapatkan kenyamanan berbelanja karena ruang gerai yang rapi, bersih dan sejuk. Lantas apakah berbisnis minimarket mandiri sudah

tertutup rapat-rapat? TIdak! Masih ada celah atau peluangMengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 5

yang bisa kita bangun. Bisakah minimarket mandiri bersaing di tengah maraknya minimarket waralaba? Bisa! Tetapi bersaing menjadi belum market bisa. leader Peluang (pemimpin yang bisa pasar) diraih kemungkinan

minimarket mandiri untuk sementara waktu berada pada posisi sebagai market follower (pengikut pasar). Jika sekadar harga jual promosi yang sama dengan harga jual promosi minimarket waralaba itu masih bisa kita lakukan. Selama kita masih mau berpikir, maka tidak ada yang tidak mungkin. Semua serba mungkin, termasuk membangun dan mengembangkan minimarket dengan modal pas-pasan. Pangsa Pasar Gerai Ritel (Bukan Posisi Akhir Tahun, dalam %) 200 0 rket Minimarket Pasar Tradisional 3,4 4,6 200 1 200 2 20, 2 4,9 74, 9 *) sumber AC Nielsen Perkiraan Pangsa Pasar (Triliun Rp) 200 3 21, 1 5,1 73, 8

Hypermarket/Superma 16,7 20,5

79,8 74,9

Mengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 6

200 0 rket Minimarket 6,2

200 1

200 2 48, 8 11, 8

200 3 56,1 13,6

Hypermarket/Superma 30,5 46,3 10,4

Pasar Tradisional Jumlah

145, 169, 2 2 182, 226, 2 0

181 196, ,1 3 241 266, ,8 0

*)Sumber diolah dari Bisnis Indonesia

Hendri Marup, dalam buku Pemasaran Ritel menulis, pasar ritel Indonesia pada tahun 2003 diperebutkan oleh pengecer modern dan pengecer tradisional yang menurut perkembangan pangsanya adalah seperti berikut ini:

Mengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 7

Jika kita lihat table diatas, maka dari tahun ke tahun pangsa pasar minimarket nilai terus meningkat, baik dari pasar presentase maupun rupiah. Sementara

tradisional (termasuk warung dan toko tradisional) secara presentase mengalami penurunan, walaupun meningkat dalam nilai rupiah. setiap Dengan tahun demikian kecenderungan seiring dengan konsumen untuk berbelanja ke gerai modern (termasuk minimarket) meningkat, perubahan pola berbelanja. Karena itu dari sekian triliun rupiah pangsa pasar ritel, peluang minimarket mandiri masih terbuka lebar. Apalagi jika kita mau membangun kolaborasi antar minimarket mandiri. Caranya? Ya, kita duduk bareng mendiskusikan upaya-upaya yang mesti dilakukan untuk manghadapi persaingan tidak seimbang antara minimarket mandiri dengan minimarket waralaba. Kenapa mesti kolaborasi? Dengan berkolaborasi, kita bisa membentuk yang yang kerjasama besar juga pengadaan akan barang dagangan. Karena pengadaan barang dagangan dengan jumlah pembelian harga pasti lumayan mendapat Untuk potongan besar.

selanjutnya, kolaborasi ini akan dikupas secara tuntas dalam bab Strategi Bersaing.

D.

Minimarket Mandiri vs Waralaba

Mengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 8

Ada pun keuntungna mendirikan minimarket mandiri bila dibandingkan dengan minimarket waralaba sebagai berikut:

Minimarket Mandiri 1. Bebas menentukan nilai investasi awal, tidak perlu harus ratusan juta rupiah. 2. Perubahan harga jual bisa ditentukan setiap saat. 3. Laba usaha untuk pemilik sendiri, tidak perlu membayar royalty. 4. Pemilik dituntut kreativitas dan inovasinya untuk membangun bisnis, sehingga dapat mempertajam kemampuan bisnis. 5. Bila sudah maju dan cukup modal bisa dikembangkan menjadi bisnis waralaba.

Minimarket Waralaba 1.Sudah memiliki standar operasional 2.Merek sudah terkenal 3.Tidak direpotkan dengan pengadaan barang dagangan. 4.Tidak perlu promosi sendiri, karena sudah dilakukan oleh pemilik merek (pewaralaba)

Mengungkap Rahasia Bisnis Minimarket by Hadi Hartono, e-book edition, 2011 Page 9

Dengan melihat berbagai keuntungan di atas maka mendirikan dikaitkan investasi minim

Embed Size (px)
Recommended