Home > Documents > Proposal Pene Ikm

Proposal Pene Ikm

Date post: 22-Dec-2015
Category:
Author: putera-munthe
View: 24 times
Download: 3 times
Share this document with a friend
Description:
prposlal
Embed Size (px)
of 44 /44
Hubungan Antara Metode Ber-KB Dengan Status Gizi dan Faktor Lainnya Pada Ibu-Ibu Akseptor KB di Puskesmas Kelurahan Bambu Selatan Rw Periode September 2014 Oleh : Santi Desvitasari Nikewineni Kharosima Dedik Cahyono Ebram Nainggolan Tugas Akhir Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 1
Transcript

Hubungan Antara Metode Ber-KB Dengan Status Gizi dan Faktor Lainnya Pada Ibu-Ibu Akseptor KB di Puskesmas Kelurahan Bambu Selatan Rw Periode September 2014

Oleh :Santi Desvitasari Nikewineni Kharosima Dedik Cahyono Ebram Nainggolan

Tugas Akhir Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJakarta2014

Bab IPendahuluan

1.1 Latar BelakangKeluarga berencana (KB) menurut UU no. 52 tahun 2009 adalah upaya untuk mengatur kelahiran anak, jarak dan usiaideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Tugas pokok BKKBN (Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional) adalah melanjutkan dan mematapkan kegiatan-kegiatan program KB nasional, merumuskan kebijakan umum pengelolaan program-program dan mengkoordinasikan pelaksanaan kebijakan kependudukan secara terpadu bersama institusi terkait untuk pelaksana. Keluarga berencana merupakan program yang digalakan pemerintah untuk menekan laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Hal ini disebabkan jumlah penduduk Indonesia menduduki posisi nomor 4 terbanyak di didunia. Jika tidak dikendalikan maka peningkatan penduduk ini akan menjadi masalah sosial yang bisa mengganggu pembangunan bangsa. Tujuan utama pelaksanaan program KB adalah untuk meningkatkan drajat kesehatan dan kesejahtraan ibu dan anak, keluarga, serta masyarakat pada umumnya. Dengan berhasilnya pelaksanaan KB diharapkan angka kelahiran dapat diturunkan, sehingga tingkat kecepatan perkembangan penduduk tidak melebihi kemampuan kenaikan produksi, dengan demikian taraf kehidupan dan kesejahteraan rakyat akan lebih meningkat. Permasalahan yg dihadapi berkaitan dengan tingkat kelahiran yaitu angka kelahiran total per wanita TFR berdasarkan hasil SDKI menunjukan peningkatan dari 2,6 juta pada tahun 2002 tidak juga turun, dimana hasil SDKI terbaru tahun 2012 menyebutkan sepanjang 2007-2012 kasus kematian ibu melonjak cukup tajam, dimana angka kematian ibu (AKI) mencapai 359 per 100.000 penduduk atau meningkat sekitar 57% bila dibandingkan dengan kondisi pada 2007 yang hanya sebesar 228 per 100.000 penduduk. Maka dari itu diperlukan metode yang tepat sasaran dan efektif pada setiap ibu akseoptor KB. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi metode KB yang digunakan, sehingga kurang efektif dan tidak tepat sasaran dengan ibu-ibu akseptor KB, yang mempengaruhi keberhasilan program KB. Hasil SDKI-2012 mengkonfirmasi bahwa berbagai program yang dilaksanakan pemerintah belum berhasil menekan angka kematian ibu. Menurut data SDKI 2012 rata-rata wanita Indonesia akan mempunyai 2,6 anak selama hidupnya. Di antara metode KB modern yang dipakai, suntik KB merupakan alat kontrasepsi terbanyak digunakan oleh wanita berstatus kawin (32 persen), diikuti oleh pil KB, hampir 14 persen. Terlihat adanya peningkatan dalam angka prevalensi kontrasepsi dari 50 % pada tahun 1991 menjadi 62 % pada tahun 2012. Namun demikian, TFR tetap meningkat. Melihat meningkatnya kontrasepsi, tetapi TFR tetap meningkat perlu dilihat terutama dalam program KB yang dijalankan sudah sesuai dan efektif atau tidak, mengatasi masalah tersebut perlu kita mengetahui apakah ada faktor yang mempengaruhi metode KB dimana dilihat pengaruh status gizi dan faktor lainnya pada ibu akseptor KB terhadap metode KB.Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang dalam pemilihan metode kontrasepsi yang digunakan. Purba (2009) menemukan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan metode kontrasepsi yang digunakan yaitu faktor prediposisi (umur, pendidikan, jumlah anak, pengetahuan, sikap), faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi, jarak rumah ke puskesmas, waktu tempuh dan biaya), faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan). Penelitian lain yang dilakukan oleh Widiyawati dkk (2012) menemukan hubungan bermakna faktor pendidikan dan dukungan suami terhadap pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) di wilayah kerja Puskesmas Batuah Kutai Kartanegara. Studi lain mengemukakan adanya hubungan yang bermakna antara faktor harga perolehan kontrasepsi dan jumlah anak terhadap permintaan kontrasepsi (Woyanti, 2005).1-3

1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan masalah penelitanya:1.Apakah ada hubungan antara metode ber KB dengan status gizi pada ibu-ibu akseptor KB di posyandu kampung bambu selatan RW ?2.Apakah ada hubungan antara Metode ber KB dengan faktor-faktor lainnya seperti usia, pengetahuan, jumlah anak, dan dorongan suami di posyandu kampung bambu selatan RW ?I.3 Tujuan Penelitian1.3.1 Tujuan UmumUntuk mengetahui hubungan metode ber KB dengan faktor-faktor pada ibu akseptor KB di posyandu kampung bambu selatan RW.1.3.2 Tujuan Khususa. Diketahuinya prevalensi penggunaan kontrasepsi pada ibu akseptor KB di RW Kelurahan Kota Bambu Selatan Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat.b. Diketahuinya sebaran ibu akseptor KB menurut status gizi, usia ibu, pengetahuan ibu, jumlah anak, dan dukungan suami, di RW, Kelurahan Kota Bambu Selatan Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat.c. Diketahuinya hubungan antara status gizi, usia ibu, pengetahuan ibu, jumlah anak, dukungan suami dengan metode ber KB di RW, Kelurahan Kota Bambu Selatan.

1.4 Manfaat Penelitian1.4.1 Bagi Peneliti1. Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian.2. Meningkatkan kemampuan komunikasi dengan masyarakat secara umum.3. Mengembangkan daya pikir, minat dan kemampuan dalam bidang penelitian.4. Mendapatkan pemasukan mengenai tingkat pengetahuan tentang program keluarga berencana.

1.4.2 Bagi Perguruan Tinggi1. Realisasi tridarma perguruan tinggi dalam melaksanakan fungsi atau tugas perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian bagi masyarakat.2. Mewujudkan UKRIDA sebagai masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di bidang kesehatan3. Memberikan data bagi peneliti selanjutnya tentang hubungan metode ber KB dengan status gizi dan faktor lainnya pada ibu akseptor KB4. Meningkatkan kerja sama dan saling pengertian antara mahasiswa dengan staf pengajar maupun dengan teman sejawat.1.4.3 Bagi Masyarakat1. Meningkatkan pengetahuan ibu akseptor KB tentang metode ber KB, sehingga menghilangkan persepsi yang salah mengenai metode ber KB.2. Bahan dan masukan dalam melaksanakan penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu akseptor KB mengenai metode ber KB.

BAB IITinjauan Pustaka

2.1 Keluarga Berencana (KB)

2.1.1 Definisi KB

Keluarga berencana (KB) menurut UU no. 52 tahun 2009 adalah upaya untuk mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.Keluarga berencana adalah upaya perencanaan kehamilan sehingga kehamilan hanya terjadi pada waktu yang diinginkan. Melalui KB, jarak antara kelahiran dapat diperpanjang dan kelahiran selanjutnya dapat dicegah apabila jumlah anak telah mencapai yang dikehendaki. Dengan demikian, taraf ekonomidan kesejahtraan seluruh keluarga diharapkan akan mengalami peningkatan. Sehingga Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtra (NKKBS) dapat tercapai.Wanita usia subur adalah wanita usia 18-49 tahun dengan keadaan organ reproduksi berfungsi dengan baik, baik dengan status belum kawin, kawin maupun janda (BKKBN 2011). Wanita usia subur ini yang menjalankan program KB dengan menggunakan kontrasepsi.2

2.1.2 Tujuan Program Keluarga Berencana2Tujuan program KB dibagi menjadi : 1. Tujuan Kualitatif : meningkatkan drajat kesehatan dan kesejahtraan ibu, anak, serta keluarga pada khususnya dan bangsa pada umumnya.2. Tujuan Kuantitatif : Meningkatkan taraf kehidupan rakyat dengan cara menurunkan angka kelahiran, sehingga pertumbuhan pendukduk tidak melebihi kemampuan negara untuk menaikan produksi dan penyediaan jasa-jasa.

2.2.1 Metode KB1. Kontrasepsi Tanpa Menggunakan Alat-Alat/ Obat-Obatana. Senggama terputus ialah penarikan penis dari vagina sebelum terjadi ejakulasi. Hal ini berdasarkan kenyataan, bahwa akan terjadinya ejakulasi disadari sebelumnya oleh sebagian besar pria, dan setelah itu masih ada waktu kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi. Waktu yang singkat ini dapat digunakan untuk menarik keluar penis dari vagina. Keuntungan cara ini tidak membutuhkan biaya, alat-alat maupun persiapan. Kekurangannya bahwa untuk mensukseskan cara ini dibutuhkan pengendalian diri yang besar dari pihak pria dan bisa mengurangi kenikmatan/kepuasan dalam berhubungan seksual. Selanjutnya penggunaan cara ini dapat menimbulkan neurasteni. Efektivitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan senggama terputus setiap melaksanakannya (angka kegagalan 4-18 kehamilan per 100 perempuan per tahun).b. Pembilasan pascasenggama (postcoital douche) ialah Pembilasan vagina dengan air biasa dengan atau tanpa tambahan larutan obat (cuka atau obat lain) segera koitus merupakan cara yang telah lama sekali dilakukan untuk tujuan kontrasepsi. Maksudnya ialah untuk mengeluarkan sperma secara mekanik dari vagina. Penambahan cuka ialah untuk memperoleh efek spermasida serta menjaga asiditas vagina. Cara ini mengurangi kemampuan terjadinya konsepsi hanya dalam batas-batas tertentu karena sebelum pembilasan dapat dilakukan, spermatozoa dalam jumlah besar telah memasuki servik uteri.c. Perpanjangan masa menyusui anak (Prolonged lactation) adalah menyusui secara eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi sementara yang cukup efektif, selama ibu belum mendapat haid, dan waktunya kurang dari 6 bulan pascapersalinan. Efektivitasnya dapat mencapai 98 %1. Hal ini dapat efektif bila ibu menyusui lebih dari 8 kali sehari dan bayi mendapat cukup asupan per laktasi; ibu belum mendapat haid, dan atau dalam 6 bulan pasca persalinan. Laktasi dikaitkan dengan adanya prolaktinemia dan prolaktin menekan adanya ovulasi. Tetapi ovulasi pada suatu saat akan terjadi dan dapat mendahului haid pertama sehingga apabila hanya mengandalkan pemberian ASI saja dapat memberikan resiko kehamilan untuk itu dapat dipertimbangan pemakaian kontrasepsi lain.d. Pantang berkala (rhythm method) adalah masa subur yang disebut Fase Ovulasi mulai 48 jam sebelum ovulasi dan berakhir 24 jam setelah ovulasi. Sebelum dan sesudah masa itu, wanita tersebut berada dalam masa tidak subur. Kesulitan cara ini ialah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit untuk ditentukan; ovulasi umumnya terjadi 14 2 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang. Pada wanita dengan haid yang tidak teratur, akan tetapi variasi yang tidak jauh berbeda, dapat diterapkan masa subur dengan perhitungan, daur haid terpendek dikurangi 18 hari dan daur haid terpanjang dikurangi 11 hari. Masa aman ialah sebelum daur haid terpendek yang telah dikurangi.

2. Kontrasepsi Secara Mekanis a. Pessarium : Bermacam-macam pessarium telah dibuat untuk tujuan kontrasepsi. Secara umum pessarium dapat dibagi atas dua golongan, yakni (1) diafragma vaginal ; dan (2) cervical cap.b. Diafragma vaginal : Dewasa ini diafragma vaginal terdiri atas kantong karet yang berbentuk mangkuk dengan per elastis pada pinggirnya. Per ini ada yang terbuat dari logam tipis yang tidak dapat berkarat, ada pula yang dari kawat halus yang tergulung sebagai spiral dan mempunyai sifat seperti per. Diafragma dimasukkan ke dalam vagina sebelum koitus untuk menjaga jangan sampai sperma masuk ke dalam uterus. Untuk memperkuat khasiat diafragma, obat spermatisida dimasukkan ke dalam mangkuk dan dioleskan pada pinggirnya. Diafragma paling cocok untuk dipakai pada wanita dengan dasar panggul yang tidak longgar dan dengan tonus dinding vagina yang baik. Pada keadaan-keadaan tertentu pemakaian diafragma tidak dapat dibenarkan, misalnya pada 1) sistokel yang berat; 2) prolapsus uteri; 3) fistula vagina; 4) hiperantefleksio atau hiperretrofleksio uterus. Umumnya diafragma vaginal tidak menimbulkan banyak efek sampingan. Efek sampingan mungkin disebabkan oleh reaksi alergi terhadap obat-obat spermatisida yang dipergunakan, atau oleh karena terjadi perkembangbiakan bakteri yang berlebihan dalam vagina jika diafragma dibiarkan terlalu lama terpasang di situ. Efektivitas nya sedang (bila digunakan dengan spermasida angka kegagalan 6-18 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama)1c. Kekurangan khasiat diafragma vaginal ialah : 1) diperlukan motivasi yang cukup kuat; 2) umumnya hanya cocok untuk wanita yang terpelajar dan tidak untuk dipergunakan secara massal; 3) pemakaian yang tidak teratur dapat menimbulkan kegagalan; 4) tingkat kegagalan lebih tinggi daripada pil atau AKDR. d. Keuntungan cara ini ialah : 1) hampir tidak ada efek sampingan; 2) dengan motivasi yang baik dan pemakaian yang betul, hasilnya cukup memuaskan; 3) dapat dipakai sebagai pengganti pil atau AKDR pada wanita-wanita yang tidak boleh mempergunakan pil atau AKDR oleh karena suatu sebab.

3. Kontrasepsi Hormonal : a. Kontrasepsi estrogen plus progestin (kombinasi)Kontrasepsi kombinasi estrogen-progesteron dapat diberikan per oral, suntikan IM, atau dalam bentuk koyo. Kontrasepsi oral paling sering digunakan dan sering terdiri dari kombinasi suatu zat estrogen dan bahan prosgestasional yang diminum tiap hari selama 3 minggu dan berhenti selama 1minggu, agar terjadi perdarahan lucut (with drawal bleeding) dari uterus. Efektivitasnya tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan).1 Mekanisme kerja :1) Efek kontraseptif obat-obat yang mengandung steroid bersifat multiple, tetapi efek yang terpenting adalah mencegah terjadinya ovulasi dengan menekan gonadotropin releasing factors dari hypothalamus. Yang mana hal ini dapat menghambat sekresi follicle stimulating hormone dan lutenizing hormone dari hipofisis.2) Estrogen saja dalam dosis yang memadai akan menghambat ovulasi dengan menekan gonadotropin. Estrogen ini juga mungkin akan menghambat implantasi dengan mengubah pematangan endometrium. Estrogen mempercepat transportasi ovum; namun, progestin menyebabkan perlambatan. Karena itu, peran keduanya dalam mengubah motilitas tuba dan uterus masih belum jelas.3) Progestin menyebabkan terbentuknya mucus servik yang kental, sedikit, selular, dan menghambat jalannya sperma. Kapasitasi sperma juga mungkin terhambat. Seperti estrogen, progestin menyebabkan endometrium menjadi kurang memungkin kan untuk implantasi blastokista. Akhirnya progestin juga dapat menghambat ovulasi dengan menekan gonadotropin. 4) Efek gabungan dari estrogen dan progestin dalam kaitannya dengan kontrasepsi adalah supresi ovulasi yang sangat efektif, blockade penetrasi sperma oleh mucus serviks, dan penghambatan implantasi di endometrium apabila dua mekanisme pertama gagal. Kontrasepsi oral kombonasi estrogen plus progestin, apabila diminum setiap hari selama 3 dari 4 minggu, menghasilkan proteksi terhadap kehamilan yang hampir absolute.

5) Efek yang menguntungkanPil kombinasi estrogen plus progestin adalah bentuk kontrasepsi reversibel paling efektif yang tersedia. Dilaporkan angka kegagalan 0,32 per 100 wanita-tahun atau kurang. Efek menguntungkan lainnya yang dilaporkan adalah kepadatan tulang meningkat; pengeluaran darah menstruasi dan anemia berkurang; angka kehamilan ektopik lebih rendah sampai 90%; dismenorea yang berkaitan dengan endometriosis berkurang; kista ovarium fungsional sampai 80% dan salpingitis berkurang; keluhan premenstruasi berkurang; angka kanker endometrium dan ovarium berkurang sampai 40%; berbagai penyakit payudara jinak berkurang sampai 40%; perbaikan hirsutisme; perbaikan akne; pencegahan aterogenesis; insiden dan keparahan penyakit radang panggul berkurang; dan perbaikan rematoid artritis.3,5Kemungkinan efek yang merugikanEfek metabolikb. Lipoprotein dan lemakKontrasepsi oral kombinasi meningkatkan kadar trigliserida dan kolesterol total. Estrogen menurunkan konsentrasi kolesterol LDL dan meningkatkan HDL, sedangkan sebagian progestin menyebabkan hal yang sebaliknya. Hal ini penting untuk mengetahui pada proses pembentukan penyakit pembuluh arteri.c. Metabolisme karbohidratKontrasepsi oral dapat menurunkan toleransi glukosa pada sejumlah pemakai dengan persentase yang signifikan. Hal ini tampaknya terjadi sebagai akibat langsung dosis estrogen yang digunakan. Progestin biasanya meningkatkan sekresi insulin dan menciptakan resistensi insulin. Karena efek ini, steroid kontrasepsi dapat mengintensifkan diabetes yang sudah ada atau mungkin ternyata cukup diabetogenik sehingga mampu memicu munculnya diabetes secara klinis pada wanita yang rentan. Tapi efek ini seperti pada kehamilan, efek diabetogeniknya sering reversibel apabila kontrasepsi oralnya dihentikan.d. Metabolisme proteinEstrogen akan meningkatkan pembentukan berbagai globulin oleh hati. Meningkatnya pembentukan angiotensinogen tampaknya berkaitan dengan dosis, dan konversinya oleh renin menjadi angiotensin I dicurigai menimbulkan hipertensi. Fibrinogen dan mungkin faktor II, VII, IX, X, XII, XIII, akan meningkat sejalan dengan dosis estrogen, dan insiden kedua bentuk trombosis ini berkaitan dengan dosis estrogen.Penyakit hatiKolestasis dan ikterus kolestatik merupakan penyulit yang jarang terjadi pada pemakai kontrasepsi oral; gejala dan tanda akan hilang apabila obat dihentikan. Tampaknya kontrasepsi oral mempercepat terjadinya penyakit kandung empedu pada wanita yang rentan, tapi secara keseluruhan tidak terjadi peningkatan resiko jangka panjang. Dan tidak ada alasan untuk menghentikan kontrasepsi oral pada wanita yang telah pulih dari hepatitis virus.NeoplasiaKemungkinan kontrasepsi hormonal sebagai penyebab kanker tampaknya kecil. Sebenarnya, pada penelitian-penelitian justru diperlihatkan adanya efek protektif terhadap kanker ovarium dan endometrium.e. Hiperplasia dan kanker hatiPemakaian kontrasepsi estrogen plus progestin dilaporkan secara tidak langsung dikaitkan dengan kejadian hiperplasia nodularis fokal hepatika dan pembentukan tumor yang jinak, tetapi tidak selalu. Keterkaitan ini dijumpai pada wanita yang menggunakan formulasi berisi estrogen dosis tinggi (biasanya mestranol) untuk jangka panjang. Pemakaian kontrasepsi oral kombinasi dosis rendah yang lebih baru tampaknya dapat mengurangi insiden terjadinya kelainan yang tidak lazim ini. f. Kanker Serviks Terdapat korelasi antara resiko kanker serviks prainvasif dengan pemakaian kontrasepsi oral, dan resiko kanker invasif meningkat setelah pemakaian 5 tahun. Tapi masih belum jelas apakah keterkaitan ini memiliki hubungan sebab akibat.g. Kanker payudaraMasih belum jelas apakah kontrasepsi oral berperanan dalam ternbentuknya kanker payudara. Pada sebuah studi terbesar, tidak terbukti adanya peningkatan resiko kanker payudara diantara pemakai kontrasepsi oral (Cancer and Steroid Hormone Study,1986). Gabrick dkk.(2000) melaporkan peningkatan resiko pada wanita dengan riwayat keluaga yang kuat, tetapi resiko ini berkaitan dengan preparat-preparat yang lama yang dosis estrogennya tinggi.3-6

GiziPenyimpangan kadar beberapa zat gizi, yang serupa dengan yang dijumpai pada kehamilan normal, dilaporkan terjadi pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral.h. Defisiensi piridoksinPerubahan-perubahan biokimiawi yang menunjukkan defisiensi vitamin B6 (piridoksin) yang mana hal ini juga terjadi saat kehamilan normal. Hal ini terjadi karena estrogen memicu enzim-enzim dihati sehingga menyebabkan meningkatnya metabolisme triptofan yang menggambarkan terjadinya defisiensi piridoksin.7Efek kardiovaskularTerdapat sejumlah resiko kardiovaskular yang jarang tetapi bermakna pad pemakaian kontrasepsi hormonal.i. TromboembolismeMishell (2000) menganalisis bahwa resiko tromboembolisme vena diperkirakan meningkat 3-4 kali lipat pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral. Sekitar 1 per 10000 wanita-tahun, sehingga insiden pada pemakai kontrasepsi oral yang sebesar 1,0 sampai 3,0 per 10000 wanita- tahun adalah kecil.Faktor-faktor klinis yang meningkatkan resiko trombosis dan emboli vena adalah hipertensi, kegemukan, diabetes, merokok, dan gaya hidup yang tidak banyak aktivitas fisik (Hatche dkk.,1998). j. Stroke dan Trombosis arteriDari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemakaian kontrasepsi oral tersebut pada wanita yang sehat yang tidak merokok tidak menyebabkan peningkatan resiko stroke trombotik atau hemorhagik (Mishell,2000; Pettiti dkk, 1996; Schwartz dkk.,1998; WHO collaborative Study,1996). Yang utama, wanita dengan hipertensi, yang merokok, atau memiliki nyeri kepala migren mengalami peningkatan resiko stroke hemorhagik atau trombotik (Mishell,2000; Schwartz dkk.,1998).k. HipertensiIni timbul sebagai respons terhadap estrogen, terbukti meningkat kadar angiotensinogen (substrat renin) plasma sampai mendekati kadar pada kehamilan normal. Tekanan darah akan normal kembali saat kontrasepsi dihentikan. Terjadinya hipertensi pada kehamilan bukan merupakan halangan bagi pemakaian kontrasepsi oral setelahnya.l. Infark miokardiumInfark miokardium terjadi pada wanita yang menggunakan kontrasepsi oral dan juga merokok, karena merokok merupakan faktor resiko independen. Ad 2 patokan penting dalam kaitannya dengan merokok dan kontrasepsi oral adalah lebih dari 15 batang rokok per hari bagi orang berusia lebih dari 35 tahun yang sedang atau pernah merokok.m. Nyeri kepala migrenFrekuensi dan intensitas serangan nyeri kepala migren mungkin berkurang atau meningkat. Tapi lebih baik menghindari pemakaian kontrasepsi ini pada wanita yang memiliki migren, karena mungkin saja akan bertambah parah atau merupakan ancaman stroke atau stroke ringan.4.2 Kontrasepsi progestasional4.2.1 Progestin oralDisebut juga mini pil adalah pil yang hanya mengandung progestin 350 g atau kurang yang diminum setiap hari. Pil ini tidak terlalu populer oleh karena insiden perdarahan ireguler dan angka kehamilannya jauh lebih tinggi. Pilihan yang baik bagi ibu yang menyusui, mulai diminum pada minggu ke 6 setelah melahirkan1,5. Pil ini mengganggu kesuburan tapi tidak selalu menghambat penetrasi ovulasi. Kemungkinan sebabnya adalah terbentuknya mukus serviks yang menghambat penetrasi sperma dan perubahan pematangan endometrium sehingga dapat menolak implantasi blastokista. Keuntungan Resiko peningkatan penyakit kardiovaskular dan keganasan belum terbukti, lebih kecil kemungkinannya menyebabkan peninggian tekanan darah atau nyeri kepala, tidak berefek pada metabolisme karbohidrat dan diperkirakan lebih jarang menyebabkan depresi, dismenorea, dan gejala premenstruasi. Kekurangan Kegagalan kontrasepsi dan meningkatnya insiden kehamilan ektopik apabila kontrasepsi gagal, perdarahan uterus yang tidak jelas, kista ovarium fungsional menjadi sering, dan pil ini harus diminum paa waktu yang sama atau hampir sama tiap harinya, yang jika terlambat sekalipun hanya 3 jam untuk 2 hari berikutnya harus digunakan kontrasepsi lain sebagai tambahan.

KontraindikasiTerutama pada wanita berumur, dengan perdarahan uterus yang tidak jelas, riwayat kehamilan ektopik atau kista ovarium fungsional.

4.2.2 Kontrasepsi progestin suntikKeunggulan suntikan progestin adalah efektivitas kontrasepsi yang setara dengan atau lebih baik daripada kontrasepsi oral kombinasi, efek bertahan lama dengan hanya 4 6 kali penyuntikan setahun, dan gangguan laktasi yang minimal. Depo medroksiprogesteron asetat (Depo provera) dan Noretindron etantat (Norgest) telah banyak dipakai secara luas diseluruh dunia, mekanisme kerja kedua obat tampaknya multipel, termasuk inhibisi ovulasi, peningkatan kekentalan mukus serviks, dan pembentukan endometrium yang kurang ramah bagi implantasi ovum.Kelebihan dan kekurangannya serupa dengan progestin oral. Kekurangannya mencakup amenorea berkepanjangan, perdarahan uterus selama dan setelah pemakaian, dan anovulasi yang lama setalah penghentian kontrasepsi. Pemulihan kesuburan akan lambat namun tidak terhambat, pada pemakaian jangka panjang trigliserida dan kolesterol HDL menurun tetapi kolesterol LDL tidak meningkat, hanya terjadi sedikit modifikasi metabolisme glukosa, insiden anemia defisiensi besi menurun. Disamping itu terjadi juga peningkatan berat badan yang nyata. Pada pemakaian Depo medroksiprogesteron jangka panjang terdapat kemungkinan penurunan kepadatan mineral tulang, namun akan pulih setelah terapi dihentikan.

Depo medroksiprogesteron disuntikan dalam-dalam di kuadran luar atas bokong tanpa dipijat untuk memastikan agar obat dilepaskan secara perlahan-lahan. Dosis lazim adalah 150 mg setiap 90 hari3 .Noetindron etantat disuntikan dengan cara yang sama dalam dosis 200mg, tetapi penyuntikan obat ini harus diulang setiap 60 hari.

4.2.3 Implan progestin (sistem Norplant)Sistem norplant menyalurkan levonorgestrel dalam wadah silastik yang diimplantasikan dijaringan subdermal. Setiap wadah memiliki panjang 34mm, garis tengah 2,4mm, dan mengandung 36 mg levonorgestrel. Dosis kombinasi sebesar 216 mg menghasilkan pembebasan ke dalam plasma sekitar 85 g/hari untuk 6 sampai 8 hari pertama dan menghasilkan kontrasepsi yang efektif. Inin merupakan salah satu metode yang paling efektif yang tersedia. Dan yang paling utama, bahwa setelah penghentian pemakaian fertilitas akan segera pulih dengan segera.Keunggulan dan kekurangan hampir identik dengan progestin oral, kecuali efek pada metabolisme karbohidrat. Dilaporkan bahwa setelah pemakaian 6 bulan, kadar glukosa dan insulin mengalami perubahan bahkan pada wanita nondiebetik. Pada wanita normal perubahan ini tidak bermakna, tetapi akan sangat mengkhawtirkan pada orang yang berpotensi untuk diabetik.Pada pemakaian sistem norplant tampaknya tidak terjadi pengurangan kepadatan tulang. Karena memerlukan tindakan bedah ringan, terdapat juga masalah yang berkaitan dengan infeksi lokal. Dan apabila tidak dimasukkan sesuai petunjuk, maka pengeluarnnya akan menjadi lebih sulit.4.2.4 Injeksi Medroksiprogesteron asetat/ Estradiol SipionatObat kontrasepsi baru yang disuntikan setiap bulan. Obat ini mengandung 25mg Medroksiprogesteron asetat plus 5 mg estradiol sipionat yang dipasarkan dengan nama Lunelle atau Cyclo-Provera.Mekanisme kerja obat ini dengan menghambat ovulasi dan menekan proliferasi endometrium. Kadar estrasdiol mencapai puncak pada 3 sampai 4 hari pascainjeksi dengan nilai yang setara dengan lonjakan praovulasi dalam siklus menstruasi ovulatorik normal. Kadar estradiol menetap setinggi ini selama sekitar 10-14 hari, dan penurunannya menyebabkan perdarahan lucut 10 sampai 20 hari pasca penyuntikan.Frekuensi penyuntikan merupakan masalah yang nyata. Timbulnya perdarahan yang tidak teratur, namun setelah 3 bulan pemakaian, ketidakteraturan perdarahan tampaknya menjadi lebih jarang terjadi dibandingkan dengan injeksi depomedroksiprogesteron asetat. Pulihnya kesuburan setelah penghentian berlangsung cepat, dengan hampir 83% wanita menjadi hamil dalam 12 bulan setelah penghentian. Angka pemulihan kesuburan jauh lebih cepat daripada penghentian dengan suntikan Depomedroksiprogesteron asetat.

METODE KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR) Memasukkan benda-benda atau alat ke dalam uterus untuk tujuan mencegah kehamilan, yang telah dikenal sejak zaman dahulu kala. Awalnya penggembala-penggembala unta bangsa Arab dan Turki berabad lamanya melakukan cara ini dengan memasukkan batu kecil yang bulat dan licin kedalam alat genital unta mereka, dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kehamilan dalam perjalanan jauh2 .Sejak itu banyak tulisan-tulisan ilmiah yang meneliti tentang efektivitasnya pada manusia, yang mana pada awalnya banyak mendapat pertentangan oleh karena dianggap sebagai sumber infeksi pada panggul (salpingitis, endometritis, parametritis, dll). Tapi sejak mulai diketemukannya antibiotik yang dapat mengurangi resiko infeksi, maka penerimaan AKDR semakin meningkat.Keuntungan-keuntungan AKDRAKDR mempunyai keunggulan terhadap cara kontrasepsi yang lain karena :1. Umumnya hanya memerlukan satu kali pemasangan dan dengan demikian satu kali motivasi2. Tidak menimbulkan efek sistemik3. Alat itu ekonomis dan cocok untuk penggunaan secara massal4. Efektivitas cukup tinggi 5. Reversibel6. Tidak ada pengaruh terhadap ASIEfek samping AKDR Perdarahan Masa haid dapat menjadi lebih panjang dan banyak, terutama pada bulan-bulan pertama pemakaian Rasa nyeri dan kejang di perut Gangguan pada suami Ekspulsi (pengeluaran sendiri)

Metode Kontrasepsi Mantap (Tubektomi)Tubektomi Tubektomi adalah suatu tindakan oklusi/ pengambilan sebagian saluran telur wanita untuk mencegah proses fertilisasi.3 Tindakan tersebut dapat dilakukan setelah persalinan atau pada masa interval. Setelah dilakukan tubektomi, fertilitas dari pasangan tersebut akan terhenti secara permanen. Waktu yang terbaik untuk melakukan tubektomi pascapersalinan ialah tidak lebih dari 48 jam sesudah melahirkan karena posisi tuba mudah dicapai dari subumbilikus dan rendahnya resiko infeksi. Bila masa 48 jam pascapersalinan telah terlampaui maka pilihan untuk tetap memilih tubektomi, dilakukan 6-8 minggu persalinan atau pada masa interval. Keuntungan tubektomi ialah : Motivasi hanya satu kali saja, tidak diperlukan motivasi yang berulang-ulang Efektivitas hampir 100% Tidak mempengaruhi libido seksualis Kegagalan dari pihak pasien tidak adaKerugiannya ialah bahwa tindakan ini dapat dianggap tidak reversibel, walaupun ada kemungkinan untuk membuka tuba kembali pada mereka yang masih menginginkan anak lagi dengan operasi Rekanalisasi.Indikasi dilakukannya tubektomi : Penghentian fertilitas atas indikasi medik Kontrasepsi permanenSyarat-syarat tubektomi : Syarat sukarela Syarat bahagia Syarat medikTindakan yang dilakukan sebagai tindakan pendahuluan untuk mencapai tuba falopii terdiri atas : pembedahan transabdominal seperti laparotomi, mini laparotomi, pembedahan transvaginal seperti kolpotomi posterior, kuldoskopi; dan pembedahan transservikal (transuterin) seperti penutupan lumen tuba histeroskopik.3-6

Faktor-faktor lain yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi1. UmurUmur adalah usia ibu yang secara garis besar menjadi indikator dalam kedewasaan dalam setiap pengambilan keputusan yang mengacu pada setiap pengalamannya. Umur dalam hubungannya dengan pemakaian KB berperan sebagai faktor intrinsik. Umur berhubungan dengan struktur organ, fungsi faaliah, komposisi biokimiawi termasuk sistem hormonal seorang wanita. Perbedaan fungsi faaliah, komposisi biokimiawi, dan sistem hormonal pada suatu periode umur menyebabkan perbedaan pada kontrasepsi yang dibutuhkan.Masa reproduksi (kesuburan) seorang wanita dibagi menjadi 3, yaitu:a. Masa menunda kehamilan (kesuburan)b. Masa mengatur kesuburan (menjarangkan)c. Masa mengakhiri kesuburan (tidak hamil lagi).Masa reproduksi (kesuburan) ini merupakan dasar pola penggunaan kontrasepsisecara rasional.a. Masa Menunda KehamilanSebaiknya istri menunda kehamilan pertama sampai umur 20 tahun.Ciri-ciri kontrasepsi yang sesuai:a. Kembalinya kesuburan yang tinggi artinya kembalinya kesuburan dapat dijamin 100%. Ini penting karena akseptor belum mempunyai anak.b. Efektifitas yang tinggi. Hal ini penting karena kegagalan akan menyebabkan tujuan KB tidak tercapai.Prioritas kontrasepsi yang sesuai:1. Pil2. AKDR3. Cara sederhana (kondom, spermisida)b. Masa Mengatur KesuburanUmur melahirkan terbaik bagi istri adalah umur 20 - 30 tahun.9Ciri-ciri kontrasepsi yang sesuai:a. Kembalinya kesuburan (reversibilitas) cukup.b. Efektifitas cukup tinggi.c. Dapat dipakai 2 - 4 tahun, sesuai dengan jarak kehamilan yang aman untuk ibu dan anak.d. Tidak menghambat produksi ASI (air susu ibu) . Ini penting karena ASI adalah makanan terbaik bagi bayi sampai umur 2 tahun. Penggunaan ASI mempengaruhi angka kesakitan bayi/anak.Prioritas kontrasepsi yang sesuai:1. AKDR2. Suntikan3. Mini pil4. Pil5. Cara sederhana6. Norplant (AKBK)7. Kontap ( jika umur sekitar 30 tahun)C. Masa Mengakhiri KesuburanPada umumnya setelah keluarga mempunyai 2 anak dan umur istri telah melebihi 30 tahun, sebaiknya tidak hamil lagi.

Ciri-ciri kontrasepsi yang sesuai:a. Efektifitas sangat tinggi. Kegagalan menybabkan terjadi kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak. Selain itu akseptor sudah tidak ingin mempunyai anak lagi.b. Dapat dipakai untuk jangka panjang.c. Tidak menambah kelainan/penyakit yang sudah ada. Pada masa umur tua kelainan seperti penyakit jantung, darah tinggi, dan metabolik meningkat. Oleh karena itu, sebaiknya tidak memberikan obat/kontrasepsi yang menambah kelainan/penyakit tersebut.Prioritas kontrasepsi yang sesuai:1. Kontap2. AKDR3. Norplant (AKBK)4. Suntikan5. Mini pil6. Pil7. Cara sederhana.2. Jumlah AnakJumlah anak yang dimaksud di sini adalah jumlah anak yang masih hidup yang dimiliki seorang wanita sampai saat wawancara dilakukan (BPS, 2009). Setiap anak memiliki nilai, maksudnya setiap anak merupakan cerminan harapan serta keinginan orang tua yang menjadi pedoman dari pola pikir, sikap maupun perilaku dari orang tua tersebut. Dengan demikian, setiap anak yang dimiliki oeh pasangan suami istri akan memberi pertimbangan tentang apakah mereka ingin memiliki anak dan jika ingin, berapa jumlah yang diinginkan.Jumlah anak berkaitan erat dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Pada keluarga dengan tingkat kesejahteraan tinggi umumnya lebih mementingkan kualitas anak daripada kuantitas anak. Sementara itu pada keluarga miskin, anak dianggap memiliki nilai ekonomi. Umumnya keluarga miskin memiliki banyak anak dengan harapan anak-anak tersebut dapat membantu orang tuanya bekerja. Jumlah anak juga dapat dipengaruhi oleh faktor kebudayaan setempat yang menganggap anak laki-laki lebih bernilai dari anak perempuan. Hal ini mengkibatkan pasangan suami istri berusaha untuk menambah jumlah anak mereka jika belum mendapatkan anak lakilaki.11-13 Jumlah anak berkaitan erat dengan program KB karena salah satu misi dari program KB adalah terciptanya keluarga dengan jumlah anak yang ideal yakni dua anak dalam satu keluarga, laki-laki maupun perempuan sama saja. Para wanita umumnya lebih menyadari bahwa jenis kelamin anak tidak penting sehingga bila jumlah anak sudah dianggap ideal maka para wanita cenderung untuk mengikuti program KB. Dengan demikian, jenis kontrasepsi yang banyak digunakan adalah jenis kontrasepsi untuk wanita.

3. PengetahuanSalah satu pelayanan yang tersedia dalam program KB adalah pelayanan kontrasepsi. Pelayanan kontrasepsi akan berhasil dengan baik bila masyarakat mengenal berbagai jenis kontrasepsi yang tersedia. Akan tetapi, pengenalan berbagai jenis kontrasepsi ini cukup sulit karena hal ini menyangkut pola pengambilan keputusan dalam masyarakat itu sendiri.13 Proses pengambilan keputusan untuk menerima suatu inovasi meliputi empat tahap yaitu tahap pengetahuan (knowledge), tahap persuasi (persuasion), tahap pengambilan keputusan (decision), dan tahap konfirmasi (confirmation) (Rogers, 1973, 79). Suatu inovasi dapat diterima maupun ditolak setelah melalui tahap-tahap tersebut. Inovasi ditolak bila inovasi tersebut dipaksakan oleh pihak lain, inovasi tersebut tidak dipahami, inovasi tersebut dinilai sebagai ancaman terhadap nilai-nilai penduduk (Spicer, 1952, hal 18 dalam Horton & Hunt, 1990, 224). Sementara itu, inovasi yang diterima tidak akan diterima secara menyeluruh tetapi bersifat selektif dengan berbagai macam pertimbangan (Horton & Hunt, 1990, 224). Identitas agen perubahan (inovator) juga akan mempengaruhi penerimaan atau penolakan terhadap suatu inovasi. Inovasi yang berasal dari orang yang berada pada puncak skala prestise dan sistem kekuasaan canderung menyebar ke bawah dengan cepat, sebaliknya inovasi yang bermula dari orang yang berstatus rendah cenderung mencapai bagian atas secara lambat dan sangan sulit terjadi (Horton & Hunt, 1990, 230). Tingkat pengetahuan masyarakat akan mempengaruhi penerimaan program KB di masyarakat. Studi yang dilakukan oleh Anne R Pebley dan James W Breckett (1982) menemukan bahwa Sekali wanita mengetahui tempat pelayanan kontrasepsi, perbedaan jarak dan waktu bukanlah hal yang penting dalam menggunakan kontraseps, dan mempunyai hubungan yang signifikan anatara pengetahuan tentang tempat pelayanan dan metode kontrasepsi yang digunakan. Wanita yang mengetahui tempat pelayanan kontrasepsi lebih sedikit menggunakan metode kontrasepsi tradisional. Pengetahuan yang benar tentang program KB termasuk tentang berbagai jenis kontrasepsi akan mempertinggi keikutsertaan masyarakat dalam program KB.

4. Dukungan SuamiPelaksanaan program KB di Indonesia harus memperhatikan hak-hak reproduksi, pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender sesuai dengan kesepakatan yang dibuat pada Konferensi Kependudukan dan Pembangunan di Kairo tahun 1994. Sosialisasi mengenai hak-hak reproduksi dan kesetaraan gender menjadi kegiatan yang selalu menjadi perhatian dalam pelaksanaan program, demikian pula halnya dalam pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.Isu gender adalah suatu kondisi yang menunjukkan kesenjangan wanita dan pria dalam berbagai bidang kehidupan. Pada umumnya kesenjangan ini dapat dilihat dari faktor akses, partisipasi, manfaat dan pengambilan keputusan (kontrol). Dalam pelaksanaan program keluarga berencana selama ini, isu gender yang sangat menyolok adalah :1. Akses pria terhadap informasi dan pelayanan KB masih sangat terbatas (hanya 39% pria tahu tentang vasektomi dan lebih dari 88% tahu tentang berbagai metode KB bagi wanita, serta menganggap KB sebagai urusan wanita).2. Peserta KB pria baru mencapai 1,3% dari total 58,3% peserta KB.3. Sampai saat ini pria yang mengetahui manfaat KB bagi diri sendiri dan keluarganya masih sangat sedikit.4. Masih dominannya suami dalam pengambilan keputusan KB dan kesehatan reproduksi.15,16Kesenjangan gender merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan hubungan antara pria dan wanita dalam pelaksanaan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, sehingga salah satu pihak merasa dirugikan karena tidak dapat berpartisipasi dan memperoleh menfaat dari pelayanan tersebut. Ada tidaknya kesenjangan dalam KB dan kesehatan reproduksi dapat dilakukan melalui proses analisis gender, antara lain dapat dilihat dari faktor akses (jangkauan), manfaat, partisipasi (keikutsertaan) serta pengambilan keputusan (kontrol). Berdasarkan uraian di atas, pria seolah terdiskriminasi dalam pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. Hal ini dapat dilihat dari : Keikutsertaan pria dalam KB saat ini baru mencapai 1,3% (SDKI 2002-2003) Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi bagi pria masih sangat terbatas Adanya anggapan yang salah tentang KB, KB dianggap sebagai urusan wanita Hanya sekitar 39% pria tahu tentang vasektomiHal ini terjadi karena beberapa alasan, antara lain : Pelaksanaan program KB masa lalu yang lebih diarahkan untuk mengatasi tingginya angka kematian ibu sehingga ibu menjadi sasaran pokok program Terbatasnya sarana pelayanan pria: hanya 4% tempat pelayanan yang melayani pria (studi Wibowo,2002) Rendahnya pengetahuan pria tentang KBdan kesehatan reproduksi antara lain karena masih sangat terbatasnya informasi tentang kontrasepsi pria dan kesehatan reproduksi Terbatasnya jenis kontrasepsi pria (hanya kondom dan vasektomi) menjadikan pria enggan untuk menjadi peserta KB. Anggapan masyarakat tentang KB merupakan urusan wanita Tingginya dominasi suami dalam pengambilan keputusan perencanaan jumlah dan jarak kelahiran Masih terbatasnya pengetahuan laki-laki dan perempuan mengenai kesetaraan dan keadilan gender dalam KB dan kesehatan reproduksi.Ketidaksetaraan gender dalam bidang KB dan kesehatan reproduksi akan berpengaruh pada keberhasilan program. Salah satu upaya untuk mengurangi ketidaksetaraan gender adalah suami atau istri diharapkan dapat menjadi motivator bagi suami atau istrinya untuk menjadi akseptor KB dan jika memungkinkan menjadi motivator bagi masyarakat luas.1-3

2.3 Kerangka Teori

AsupanPencernaanAbsorbsiMetabolismePengetahuanPendidikanUsiaPenghasilanMetode ber KBPenghasilanAbsorbsi

Status Gizi Ibu Akseptor KB

2.4 Kerangka Konsep

Usia

Metode ber-KBStatus Gizi Ibu akseptor KB

Pendidikan

Daftar Pustaka1. BKKBN. Hasil SDKI. Diunduh dari : file:///C:/Documents%20and%20Settings/Acer%20Indonesia/My%20Documents/Downloads/Laporan%20Pendahuluan%20SDKI%202012.pdf. 20132. Pusat Data dan Informasi Depkes RI. Glossarium data dan informasi kesehatan. Jakarata : Depkes ; 2005. h.92, 121.3. Saifuddin A B. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Edisi kedua. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.2006. h4. Cunningham F G, Gant NF. Williams Obstetri. Edisi ke-21.Volume 2. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2006. h.1695-1732.5. Wiknjosastro H. Ilmu Kandungan. Edisi kedua cetakan ketiga. Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2011.h.543-556. Mansyoer A, dkk. Kontrasepsi kapita kedokteran. Jilid 1, edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius: 2005.h. 350-68.7. Status gizi wanita usia subur I(http://repo.unair.ac.id/data/richfiles/abstrak%20EKSAK%2006-10%20_upload_(241).pdf). 6


Recommended