Home >Documents >Prop Training Ticketing by YBS

Prop Training Ticketing by YBS

Date post:27-Jun-2015
Category:
View:182 times
Download:2 times
Share this document with a friend
Transcript:

A. JUDUL PENINGKATAN KEMAMPUAN DAN KEMANDIRIAN USAHA MAHASISWA DAN ALUMNI MELALUI PELATIHAN RESERVASI DAN TICKETING AIRLINE BERBASIS WEB DENGAN AKSES RIIL BAGI SISWA/MAHASISWA JURUSAN USAHA PERJALANAN WISATA B. ANALISIS SITUASI Analisis Situasi Umum Krisis moneter yang melanda sistem perekonomian nasional yang dimulai pada pertengahan tahun 1997 telah membuat hampir semua sendi-sendi

perekonomian mengalami kemunduran. Disamping itu sejumlah kejadian yang tak menguntungkan bagi kepariwisataan seperti ketegangan politik, gejolak sosial dan faktor keamanan menyebabkan citra kepariwisataan Indonesia sebagai tujuan menjadi negatif dan berdampak pada berkurangnya minat wisatawan

mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Keadaan tersebut mengakibatkan penurunan kunjungan wisman secara drastis tahun 1998 sebesar 11,2 % dibanding tahun 1997. Sementara devisa pada tahun 1998 adalah US $ 4.332,1 juta atau turun 18,6 % dibanding tahun 1997 ( Data Statistik Pariwisata dalam angka Agustus 1998).\ Joop Ave (2000), sebelum terjadi krisis ekonomi pertengahan tahun 1997, sektor pariwisata menunjukkan pertumbuhan sangat pesat, sebagai penyumbang devisa terbesar ketiga setelah migas dan tekstil dengan nilai penerimaan sebesar 5,4 milyar dollar AS atau setara dengan Rp 18,9 trilyun pada kurs 1 dollar As = Rp 3.500,00. Penerimaan tersebut memberikan kontribusi sebesar 9,61% terhadap PDB nasional serta menyerap angkatan kerja nasional 8% (sebesar 6,6 juta tenaga kerja) Krisis yang hampir serupa kembali terjadi pada tahun 2008, dimana diawali dari resesi ekonomi Amerika, yang ditandai ambruknya sector riil, asuransi dan melemahnya sector perbankan Amerika Serikat dan melambungnya harga minyak dunia. Snowball effect dari krisis ekonomi Amerika Serikat mempengaruhi Eropa dan bergerak cepat pada seluruh penjuru dunia, dan sangat mempengaruhi daya beli yang pada akhirnyang pada akhirnya menekan sector riil untuk tumbuh bahkan banyak perusahaan terpaksa menutup operasi

2

perusaahaannya pada akhir 2008. Tahun 2009, meski diwarnai optimisme pasar namun tettap masih belum mampu mengangkat perekonomian dari dasar krisis. Berbagai analisis menyebutkan, pariwisata akan menjadi industri terbesar dengan pertumbuhan paling pesat dalam perekonomian jasa, dan akan menjadi penggerak utama (prime mover) perekonomian dunia abad ke 21 bersama-sama dengan industri telekomunikasi dan teknologi informasi. Terlebih lagi potensi wisata dan siklus perjalanan domestic, merupakan suatu potensi usaha dan penopang mobilitas ekonomi. Salah satu yang harus dipersiapkan untuk meningkatkan efek perjalanan dan pariwisata adalah kesiapan struktur dan juga SDM yang akan berpartisipasi didalamnya. Untuk mencetak sumber daya manusia yang diharapkan mampu menyajikan layanan dan produk diatas tentunya melalui pendidikan dan latihan pariwisata, karena pendidikan yang ada dalam pariwisata ini memberikan suatu kesatuan konsep yang terdiri dari: kognitif, psikomotorik dan afektif terhadap pola kerja aktifitas dalam industri pariwisata, guna meningkatkan ketrampilan konsepsional dan managerial. Pola pendidikan tinggi kejuruan pariwisata seperti pendidikan tinggi Diploma Pariwisata ini yang customer oriented sangatlah tidak mudah karena selain pendidikan itu harus mengetahui analisa permintaan atau kebutuhan, juga pendidikan tinggi tersebut harus bisa membuat suatu aktivitas manajemen yang sistematis dan komprehensif serta aplikasinya harus bisa efisien sesuai keahliannya yang didasarkan pada analisa permintaan didunia kerja. Hal tersebut memaksa setiap individu yang siap terjun juga harus memikirkan kemampuan dirinya untuk berwirausaha, dengan harapan selesainya perkuliahan tidak menghambat alumni terhambat, dan akan menjadi mandiri dengan usaha yang mandiri dan berkelanjutan. Sistem kurikulum pendidikan profesi formal pariwisata, saat ini merupakan gabungan dari konsep pengembangan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Hal tersebut dimaksudkan guna menjawab kebutuhan industri riil. Kompetensi inti ditentukan berdasar analisis kebutuhan industri, dan disusun suatu kerangka pembelajaran yang sistematis. Namun hal tersebut dirasa belum memadai karena kebutuhan industri saat ini adalah pegawai dengan kemampuan

3

teknis dan penguasaan lapangan berdasar kemampuan dan pengalaman empirik yang riil dari calon tenaga kerja tersebut. Situasi inilah yang mendorong konsep pelaksanaan kegiatan peningkatan kemampuan mahasiswa melalui program pelatihan teknis ticketing yang berbasis web dengan harapan hal tersebut merupakan suatu stimulus motivasi dan kreatifitas serta inovasi baru bagi terbentuknya usaha mandiri oleh mahasiswa (nantinya adalah alumni) yaitu dengan bekal kemampuan teknis dan teoritis yang diperoleh dari kampus dipadukan dengan situasi lapangan sekaligus proses pembelajaran pembentukan usaha mandiri. Besarnya pasar dan pola usaha Tours & Travel masih sangat memungkinkan terbentuknya usaha / biro perjalanan wisata yang baru, sehingga dengan kemampuan teknis dari pola pendidikan formal dan kemampuan operasional serta pembentukan jaringan dalam proses pelatihan ini diharapkan akan muncul wirausaha baru yang konsisten atas keilmuan dan usahanya. Materi pelatihan sangat memungkinkan seorang mahasiswa yang untuk menyerap informasi yang aktual, yang sifatnya bukan hanya keilmuan praktis, namun juga kesempatan membentuk jaringan, mengelola usaha, membuka pasar dan akses ke airline. Pemilihan system berbasis web (Web Base system) dalam pelatihan ini mengacu pada kondisi riil industry Tour n Travel sekarang dan operasional ticketing oleh hampir semua maskapai yang telah menggunakan web sebagai dasar penjualan dan proses ticketing. Tercatat, hingga saat ini pada tataran maskapai domestic hanya tinggal Sriwijaya Air saja yang masih belum memulai system reservasi dan ticketing berbasis web, sedangkan semua maskapai domestic, terlebih maskapai asing, sudah menerapkan aplikasi reservasi dan ticketing berbasis web. System berbasis web adalah suatu mekanisme dan proses reservasi serta ticketing ticket pesewat udara dengan menggunakan media website dengan display yang langsung dapat secara personal melakukan transaksi, tanpa harus melalui proses coding dan decoding. System ini menggunakan aplikasi internet dan tampilan pada website sebagai sarana bagi para penumpang yang ingin membeli tiket tanpa harus melalui prosedur reservasi berbasis program ticketing

4

sebagaimana pada era sebelumnya diterapkan sebagai media reservsi dan ticketing. Analisis situasi Siswa/Mahasiswa Ditinjau dari prospek usaha dalam skala kecil yang masih sangat terbuka, bidang usaha perjalanan wisata / tours & travel, namun hal tersebut tidak secara langssung akan dapat menstimulus siswa/mahasiswa untuk berwisara usaha, atau memiliki/memulai usaha mandiri. Sebagian besar pemilik atau pengelola usaha/biro perjalanan wisata telah merintis usaha termasuk dalam membangun jaringan sejak mereka masih berada dalam bangku pendidikan formal. Belum lagi kendala psikologis atas konsistensi usaha yang menuntut totalitas pengelolanya. Situasi psikologis tersebut seringkali membuat seseorang yang telah memiliki kemampuan teknis dan jaringan kesulitan memulai usaha mandiri, sehingga dengan pelaksanaan program magang diharapkan tidak hanya kemampuan teknis yang dimilikinya akan berkembang namun juga proses pembelajaran dalam memulai usaha mandiri. Kendala utama dalam pengembangan kemampuan dan memulai usaha mandiri adalah tidak adanya kemampuan teknis dasar produksi yang actual dan sesuai situasi riil serta customized atas permintaan pasar. Kendala lainnya adalah keterbatasan modal awal, yang meskipun secara empirik terbukti tidak besar, namun tetap saja hal tersebut bukan suatu hal yang mudah mengingat pada saat ini setiap pengeluaran harus diperhitungkan dengan cermat, terlebih lagi adalah masalah akses pada berbagai maskapai yang secara langsung bisa untuk transaksi sekaligus mendapatkan profit. Pergeseran pasar wisata menjadi pasar domestik, membuat kesempatan untuk terjun dalam bisnis dan usaha perjalanan wisata menjadi besar bagi para pemula. Dengan bekal jaringan, kemampuan teknis dasar produksi, bantuan barang promosional, dan pendampingan awal usaha, maka diharapkan mahasiswa dan alumni Jurusan Usaha Perjalanan Wisata dapat kembali meningkat gairah dan dinamisitas jurusan tersebut.

5

C. TUJUAN KEGIATAN Dalam bidang pariwisata, manajemen SDM senantiasa diarahkan pada kemampuan profesional yang secara mampu melayani konsumen secara kondusif dalam situasi apapun. Kondisi seperti itu dapat terbentuk melalui pembelajaran langsung dan pengamatan lapangan yangmana dalam hal ini dapat diperoleh melalui program pelatihan, dan pada akhir dalam mengelola usaha mandiri atau berwira usaha sudah memiliki sikap dan kemampuan yang baik dan memadai. Secara eksplisit tujuan dari kegitan ini dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1. Situasi industri perjalanan wisata saat ini berkembang menjadi industri yang tumbuh pesat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan jumlah travel setelah mengalami krisis regional akhir abad lalu. Pertumbuhan travel menyertai pertumbuhan dan fenomena booming industri penerbangan. Sebagai industri antara (intermediate) maka kebutuhan akan modal tidaklah sebesar industri hulu atau hilir. Usaha tours & travel dalam skala kecil dapat tetap memiliki core business sebagaimana tours & travel besar, namun hanya memiliki perputaran yang lebih kecil. Hal ini yang menjadi pemikiran dari pengembangan program dalam proposal ini yaitu pengembangan kemampuan teknis para alumni dan perluasan network karena dua hal inilah kunci dari dimulainya usaha tours & travel, sehingga mereka mampu membuat usaha mandiri, mengingat modal yang harus ditanamkan dalam usaha ini relatif tidak besar. 2. Selain berupaya menciptakan wirausaha mandiri, program pengembangan kemampuan teknis dan operasional yang produktif dan riil juga dapat menjadi sarana p