Home >Documents >Prak_Maria Windayani_13.70.0043_D3_UNIKA SOEGIJAPRANATA

Prak_Maria Windayani_13.70.0043_D3_UNIKA SOEGIJAPRANATA

Date post:03-Dec-2015
Category:
View:11 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Description:
Praktikum surimi ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan surimi yang merupakan produk "perantara" dalam industri pengolahan ikan. Serta untuk mengetahui kualitas dari surimi yang bagus dan pengaruh bahan tambahan dan proses pembuatan surimi terhadap kualitas yang dihasilkan
Transcript:

SURIMI

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNOLOGI HASIL LAUT

Disusun oleh:Maria Windayani(13.70.0043)Kelompok : D3

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGANFAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIANUNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATASEMARANG

Acara I2015

11. MATERI DAN METODE

1.1. Alat dan Bahan1.1.1. AlatAlat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pisau, talenan, timbangan analitik, kain saring, plastik, penggiling daging, freezer,texture analyzer, alat pengepres daging.

1.1.2. BahanBahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah daging ikan, garam, gula pasir, polifosfat, dan es batu.

1.2. Pencucian ikanMetode

Pembuangan kepala, sirip, ekor dan isi perut (Fillet daging ikan)

Fillet ikan ditimbang dan diambil 100 gr

1

Penggilingan fillet menggunakan alat penggiling daging dengan ditambah es batu

Pencucian daging giling dengan es batu sebanyak 3 kali

Penyaringan daging giling hingga kering (tidak menggumpal)

Penambahan sukrosa sebanyak 2,5% (kelompok 1,2); 5% (kelompok 3, 4, 5), garam sebanyak 2,5% dan polifosfat sebanyak 0,1% (kelompok 1); 0,3% (kelompok 2, 3); 0,5% (kelompok 4, 5)

Pembekuan selama 1 malam di dalam freezer

2

Thawing

Pengujian sensori meliputi kekenyalan dan aroma

Uji hardness menggunakan texture analyzer

Surimi dipress menggunakan presser untuk mengetahui WHC

3

Hasil press digambar di milimeter blok

Penghitungan WHC :

42.

3. HASIL PENGAMATANHasil pengamatan surimi berdasarkan uji hardness, WHC dan uji sensori dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengamatan SurimiKel.PerlakuanHardness (gf)WHC(mg H2O)Sensori

KekenyalanAroma

1Sukrosa 2,5% + garam 2,5% + polifosfat 0,1%108,24188832,63++ +

2Sukrosa 2,5% + garam 2,5% + polifosfat 0,3%121,52216793,25++ + +

3Sukrosa 5% + garam 2,5% + polifosfat 0,3%188,05130435,97+ ++ + +

4Sukrosa 5% + garam 2,5% + polifosfat 0,5%103,44271751,05+ ++ +

5Sukrosa 5% + garam 2,5% + polifosfat 0,5%91,87273975,32+ + ++ +

Keterangan :Kekenyalan Aroma +: tidak kenyal +: tidak amis + +: kenyal + +: amis+ + +: sanagat kenyal + + +: sanagat amis

Pada tabel 1 dapat dilihat hasil pengamatan dari surimi dengan pemberian perlakuan yang berbeda-beda tiap kelompoknya. Untuk kelompok D1 diberi perlakuan sukrosa 2,5%, garam 2,5% dan polifosfat 0,1%, kelompok D2 sukrosa 2,5%, garam 2,5% dan polifosfat 0,3%, kelompok D3 diberi sukrosa 5%, garam 2,5% dan polifosfat 0,3% dan kelompok D4 serta D5 diberi perlakuan yang sama yaitu ditambahkan sukrosa 5%, garam 2,5% dan polifosfat 0,5%. Nilai dari pengukuran hardness didapatkan hasil kelompok D3 memiliki nilai paling besar yaitu 188,05 gf dan paling kecil pada kelompok D5 sebesar 91,873 gf. Hasil dari pengukuran WHC didapatkan hasil niilai tertinggi pada kelompok D5 yaitu 273975,32 mg H20 dan nilai paling kecil pada kelompok D3 yaitu sebesar 130435,97 mg H20. Hasil uji sensori tingkat kekenyalan didapatkan hasil kelompok D1 dan D2 yaitu tidak kenyal, D3 dan D4 kenyal dan kelompok D5 sangat keyal. Dari segi aroma didapatkan hasil kelompok D1,D4 dan D5 yaitu aroma amis dan kelompok D2 dan D3 didapatkan aroma surimi yang sangat amis.

54. PEMBAHASANSurimi merupakan konsentrat protein miofibrial yang terkandung dalam daging ikan yang mengalami pencucian dengan menggunakan air panas (Stein, 2012). Menurut Lanier,(1986) dalam jurnal Comparisons of the Properties of Whitemouth Croaker (Micropogonias furnieri) Surimi and Mechanically Deboned Chicken Meat Surimi-Like Material, surimi dikenal sebagai bahan perantara bagi produk ikan yang digunakan dalam pembuatan sosis serta produk daging lainnya. Pada proses pembuatan surimi menggunakan bahan baku fillet daging ikan yang diberi senyawa krioprotektan lalu dibekukan sehingga akan terjadi pengikatan air dan membentuk gel (Okada 1992). Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan surimi dengan bahan baku ikan bawal.

Metode yang dilakukan yaitu ikan bawal dicuci dengan air mengalir sampai bersih. Tujuan dari proses pencucian yaitu untuk menghilangkan kotoran yang ada dibagian kulit dari ikan. Proses selanjutnya ikan difillet dengan cara membuang sisik, kepala, sirip, ekor, isi perut dan kulit. Menurut Martn-Sanchez, (2009) dalam jurnalnya Alternatives for Efficient and Sustainable Production of Surimi: A Review proses pemfilletan ikan yaitu pemisahan daging dari kulit, kepala, isi perut, dan tulang yang bertujuan untuk menghilangkan sumber kontaminasi seperti enzim edogenous dan protease yang terdapat di bagian isi perut dan kulit. Selanjutnya daging ditimbang sebanyak 100 gram, kemudian daging digiling dengan ditambahkan es batu yang berguna untuk menjaga suhu agar tetap rendah. Proses pengilingan ini memiliki tujuan untuk membuat daging ikan menjadi lebih lunak. Penambahan es batu menurut Buckle et al., (1978) bertujuan untuk menjaga daging ikan dari denaturasi protein. Hasil penggilingan diletakkan dalam kain saring, kemudian dicuci dengan menggunakan air es sebanyak 3 kali. Stine, et al., (2012) dalam jurnalnya Recovery And Utilization Of Protein Derived From Surimi Wash-Water menyatakan bahwa proses pencucian daging ikan menggunakan air es ini bertujuan untuk menghilangkan protein sakroplasma, lemak, menghilangkan bau dan rasa dari produk protein miofibril dan komponen larut air.

Langkah berikutnya daging ikan disaring menggunakan kain saring sampai kering. Proses selanjutnya ditambahkan sukrosa 2,5% untuk kelompok D1 dan D2, 5% untuk 6kelompok D3,D4, dan D5, lalu ditambah polifosfat sebanyak 0,1% untuk D1, 0,3% untuk D2 dan D3 serta 0,5% untuk D4 dan D5. Menurut Reynolds, et al ( 2002) dalam jurnal Alternatives for Efficient and Sustainable Production of Surimi: A Review penggunaan bahan tambahan makanan dalam pembuatan surimi ini bertujuan untuk menjaga kualitas dari surimi yang dihasilkan. Penambahan polifosfat dan sukrosa berguna untuk menjaga kualitas pembentukan gel setelah surimi dithawing. Selain itu, polifosfat memiliki kemampuan untuk meningkatkan kapasitas pengikatan air (WHC). Buckle et al., (1978) menambahkan bahwa penambahan sukrosa berguna untuk mencegah denaturasi protein dan menjaga kualitas surimi selama proses penyimpanan pada suhu rendah.

Proses selanjutnya ditambahkan juga garam sebanyak 2,5% untuk semua kelompok. Tujuan penambahan garam ini menurut Winarno et al.,(1980) yaitu sebagai bumbu penyedap rasa dan dapat membantu melepaskan miosin dari serat-serat daging ikan sehingga dapat mempermudah pembentukan gel. Adanya penambahan garam akan menentukan jenis dari surimi yang dibuat. Jenis surimi dibagi menjadi 3 yaitu dengan penambahan garam dan pembekuan (nu-en surimi), dengan penambahan garam dan pembekuan (ka-en surimi) dan tanpa pembekuan (na-na en surimi) seperti teori Suzuki (1981). Berdasarkan teori tersebut dalam praktikum ini dilakukan pembuatan jenis ka-en surimi karena adanya penambahan garam dan proses pembekuan. Kemudian daging ikan yang telah diberi bahan tambahan dimasukkan dalam kantong plastik bening, lalu dibekukan dalam freezer selama 1 malam. Tujuan dari penyimpanan dingin yaitu untuk menjaga kekuatan gel dari produk surimi (Moreno, et al., 2008).

7Surimi yang telah dibekukan kemudian dithawing lalu diuji sensorinya dari kekenyalan dan aroma. Surimi diukur juga hardnessnya dengan alat texture analyzer. Caranya yaitu sampel surimi yang sudah di uji sensori disiapkan kemudian diletakkan diatas bulatan kemudian tungkas diturunkan, selanjutnya data nilai hardness akan keluar dimonitor komputer. Metode pengujian ini sudah sesuai dengan teori Bourne (2002) yaitu untuk menguji tekstur bahan makanan menggunakan texture analyzer yang memiliki satuan gf. Diukur juga nilai WHC dengan cara sampel surimi dibuat menjadi lepengan tipis

menggunakan alat lalu dijiplak diatas milimeter blok lalu diukur luasnya untuk mendapatkan nilai WHC.

Pada hasil pengamatan diperoleh nilai WHC yang berbeda-beda tiap kelompok. Untuk kelompok D1 yaitu 188832,63 mg H20, D2 sebesar 216793,25 mg H20, D3 sebesar 130435,97 mg H20, D4 yaitu 271751,05 mg H20 dan kelompok D5 sebesar 273975,32 mg H20 Nilai tertinggi terdapat pada kelompok D5 yaitu 273975,32 mg H20 dengan perlakuan sukrosa 5%, garam 2,5% dan polifosfat 0,5%. Untuk nilai yang paling kecil terdapat pada kelompok D3 dengan perlakuan sukrosa 5%, garam 2,5% dan polifosfat 0,3%. yaitu sebesar 130435,97 mg H20. Nilai WHC dihitung dengan menggunakan formula Simpson yaitu dengan cara membagi panjang dari bahan pangan yang telah diletakkan diatas kertas milimeter menjadi beberapa bagian yang sama panjang sehingga didapatkan luas area dari surimi (Zayas, 1997).

8Ada beberapa bahan tambahan yang mempengaruhi hasil dari WHC yaitu polifosfat, sukrosa dan garam. Reynolds, et al (2002) dalam jurnal Alternatives for Efficient and Sustainable Production of Surimi: A Review menjelaskan bahwa penambahan polifosfat dapat meningkatkan kapasitas pengikatan air (WHC). Sukrosa juga memiliki peran dalam meningkatan kemampuan pengikatan air dari surimi (Shaviklo et al., 2010). Sementara penambahan garam menurut Lertwittayanon, et al. (2013) dalam jurnalnya Effect of Different Salts on Dewatering and Properties of Yellowtail Barracuda Surimi memiliki fungsi untuk membantu pembentukan gel. Hal ini dikarenakan molekul Na+ dan Cl penyusun garam dapat mengikat muatan dari asam amino yang ada didalam daging, sehingga gaya-gaya antar proteinnya lemah dan jaringannya menjadi terbuka. Keadaan ini akan menyebabkan banyak air yang terperangkap didalamnya sehingga terjadi peningkatan nilai WHC. Semakin banyak konsentrasi polifosfat, sukrosa dan garam yang ditambahkan dapat meningkatkan nilai WHC. Pemberian garam pada semua kelompok sama yaitu 2,5% sehingga yang mempengauhi nilai WHC adalah konsentrasi polifosfat dan sukrosa yang berbeda. Hasil pengamatan yang diperoleh tidak sesuai dengan teori yang ada. Seharusnya nilai WHC terkecil didapatkan oleh kelompok D1 dengan kandungan polifosfat 0,1% dan sukrosa 2,5% namun hasil yang didapatkan nilai terkecil ada pada kelompok D3 dengan

kandungan polifosfat 0,3% dan sukrosa 5%. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan berat yang diperoleh setelah melalui proses penyaringan sehingga proses pengikatan air menjadi berbeda-beda jumlahnya. Hal ini didukung oleh teori Hultin, et al., (2005) dalam jurnal Alternatives for Efficient and Sustainable Production of Surimi: A Review yang menyatakan bahwa jumlah protein ikan akan banyak hilang pada saat proses pencucian. Oleh karena itu setelah proses pencucian selesai berat daging ikan yang didapatkan menjadi lebih sedikit sehingga mempengaruhi nilai WHC yang didapatkan.

Berdasarkan uji sensori kekenyalan didapatkan hasil untuk kelompok D1 dan D2 tidak kenyal, D3 dan D4 kenyal serta untuk kelompok D5 didapatkan hasil sangat kenyal. Menurut Djazuli, (2009) tingkat kekenyalan dipengaruhi oleh niai WHC yang diperoleh karena semakin banyak air yang diserap maka tekstur dari surimi akan semakin kenyal. Oleh sebab itu faktor yang mempengaruhi tingkat kekenyalan sama dengan WHC yaitu konsentrasi pemberian sukrosa, polifosfat, garam, dan proses pencucian. Hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan teori, namun terdapat hasil menyimpangan yaitu pada kelompok D3 dan D4 yang memiliki tingkat kekenyalan yang sama yaitu kenyal, padahal penambahan polifosfatnya berbeda yaitu masing-masing 0,3% dan 0,5% sehingga tidak sesuai dengan teori yang ada. Hasil menyimpang ini dapat terjadi karena tingkat kekenyalan juga dipengaruhi oleh proses fillet ikan. Hal ini didukung oleh Martn-Sanchez, (2009) dalam jurnalnya Alternatives for Efficient and Sustainable Production of Surimi: A Review menyatakan bahwa proses pemisahan daging dari bagian perut, kulit, daging dan tulang ini memiliki efek terhadap pembentukan gel dan kualitas dari surimi. Hal ini dikarenakan proses pemisahan bertujuan untuk menghilangkan mikroorganisme kontaminan yang berada diisi perut dan pengotor lainnya yang akan mempengaruhi pembentukan gel.

9Pada sensori aroma didapatkan hasil untuk kelompok D1, D2 dan D5 mendapatkan hasil yang sama yaitu beraroma amis dan untuk kelompok D2 dan D3 memiliki aroma yang sangat amis. Surimi yang memiliki kualitas yang baik menurut Peranginangin, dkk., (1999) yaitu tidak memiliki bau amis. Namun hasil yang diperoleh pada semua kelompok memiliki bau yang amis, hasil ini dikarenakan pada saat proses pencucian

tidak bersih menyeluruh. Hal ini didukung oleh pernyataan Stine, et al., (2012) dalam jurnalnya Recovery And Utilization Of Protein Derived From Surimi Wash-Water yaitu proses pencucian bertujuan untuk menghilangkan bau amis dari ikan.

Hasil yang didapatkan pada pengujian hardness dengan menggunakan texture analyzer yaitu kelompok D1 sebesar 108,24 gf, kelompok D2 sebesar 121,52 gf, kelompok D3 188,05 gf, kelompok D4 yaitu 103,44 dan kelompok D5 sebesar 91,873 gf. Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa surimi kelompok D3 memiliki tingkat kekerasan yang paling besar yaitu 188,05 gf dan tingkat kekerasan yang paling kecil yaitu kelompok D5 sebesar 91,873 gf. Hasil ini sesuai dengan teori dari Lawless & Heymann, (1999) yang menjelaskan prinsip texture analyzer yaitu berdasarkan resistensi sampel terhadap tekanan yang diberikan, sehingga semakin keras produk maka semakin tinggi pula hasil yang didapatkan. Nilai hardness yang diperoleh juga dipengaruhi oleh nilai WHC yang didapatkan. Pada saat nilai WHC rendah berarti kemampuan pengikatan airnya juga rendah maka gel yang terbentuk sedikit dan mempengaruhi tingkat kekerasan dari surimi (Zayas, 1997) Sehingga saat nilai WHCnya menurun maka surimi yang dihasilkan akan lebih keras. Hal ini yang menyebabkan nilai hardness pada kelompok D3 nilainya paling tinggi karena nilai WHCnya paling kecil.

Surimi yang memiliki kualitas yang baik yaitu memiliki warna putih, dapat membentuk gel yang baik sehingga didapatkan surimi yang kenyal dan elastis seperti teori dari Winarno, (1993). Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas surimi, yang utama adalah kualitas ikan yang digunakan. Menurut Tan et al., (1988) ikan yang memiliki kualitas yang baik, daging ikan masih segar dan memiki kandungan lemak yang rendah merupakan syarat yang utama untuk mendapatkan produk surimi yang berkualitas tinggi. Penambahan senyawa krioproktetan juga mempengaruhi kualitas dari surimi yang dihasilkan. Menurut Mallett, (1993) senyawa krioproktetan memiliki fungsi yaitu untuk melindungi produk surimi dari kehilangan air dari struktur proteinnya sehingga menghindari denaturasi protein. Contoh senyawa krioproktektan yang digunakan dalam praktikum ini adalah polifosfat, garam dan sukrosa.

10

Proses yang dilakukan pada saat pembuatan surimi juga sangat mempengaruhi hasil akhir dari produk surimi. Pada jurnal Alternatives for Efficient and Sustainable Production of Surimi: A Review dibahas bahwa proses penyiangan ikan untuk mengambil dagingnya dan proses pencucian akan mempengaruhi kualitas daging dari segi kekenyalan ,elastisitas, berat produk yang didapatkan serta kebersihan dari daging teresebut. Selain itu Lee, (1984) menambahkan besar pertikel dari surimi, kualitas air yang digunakan, temperatur pada saat pembekuan dan peralatan yang digunakan dapat mempengaruhi kualitas dari surimi itu sendiri. Berdasarkan Ducept et al., (2012) dari jurnal Influence of the mixing process on surimi seafood paste properties and structure menjelaskan bahwa proses pencampuran bahan-bahan tambahan dapat mempengaruhi kualitas dari surimi. Proses pencampuran betujuan untuk membuat serat dari daging menjadi larut bersama protein tanpa mengalami denaturasi. Saat jaringan-jaringan protein membuka lebar akibat proses pencampuran akan membuat air masuk kedalamnya sehingga membentuk gel yang sempurna Namun proses pencampuran yang terlalu lama akan menyebabkan gel protein menjadi kehilangan kekuatannya dan viskositasnya menjadi turun. Hal ini akan menyebabkan surimi yang dihasilkan kualitasnya jelek.11

5. KESIMPULAN

Surimi merupakan bahan perantara yang terbuat dari daging ikan halus yang ducicu dengan air dingin lalu diberi bahan tambahan dan dibekukan. Biasanya surimi digunakan untuk industri pembuatan sosis. Ikan yang digunakan dalam pembuatan surimi harus memiliki tingkat kesegaran yang tinggi dan kandungan lemaknya rendah. Proses pencucian dengan air dingin berguna untuk menghilangkan protein sakroplasma, lemak, bau dan rasa dari produk protein myofibril. Bahan tambahan pangan yang ditambahkan dalam pembuatan surimi dapat menjaga kualitas surimi yang dihasilkan. Garam berguna untuk menambah rasa dan membantu pembentukan gel. Polifosfat berguna untuk meningkatkan kapasitas pengikatan air (WHC). Penambahan sukrosa bertujuan untuk meningkatkan nilai WHC dan meningkatkan kekenyalan pada surimi. Faktor yang mempengaruhi nilai WHC konsentrasi sukrosa,garam dan polifosfat.Proses pemfillettan akan mempengaruhi nilai WHC dan pembentukan gel. Nilai WHC akan mempengaruhi tingkat kekenyalan dan hardness. Surimi yang berkualitas baik tidak memilki aroma yang amis. Kualitas surimi dipengaruhi oleh bahan baku, bahan tambahan dan cara dalam pembuatan surimi.

Praktikan:Asisten Dosen

Maria Windayani (13.70.0043) Yusdhika Bayu S.

12

6. 177. DAFTAR PUSTAKA Bourne, M.C. (2002). Food Texture and Viscosity Concept and Measurement Second Edition. Academic Press. London.

Buckle KA, Edwards RA, Eleet GH, Wootton. (1978). Ilmu Pangan. Purnomo Hdan adiono, penerjemah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Cortez-Vega, William Renzo, Gustavo Graciano Fonseca, Carlos Prentice. (2012). Comparisons of the Properties of Whitemouth Croaker (Micropogonias furnieri) Surimi and Mechanically Deboned Chicken Meat Surimi-Like Material. Food and Nutrition Sciences, 2012, 3, 1480-1483

Djazuli, N. (2009). Modifikasi Teknologi Pengolahan Surimi Dalam Pemanfaatan By-Catch Pukat Udang di Laut Arafura.Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. Institut Pertanian Bogor.

F.Ducept, T de Broucker, J.M. Souli, G. Trystram, G. Cuvelier. (2012). Influence of the mixing process on surimi seafood paste properties and structure. Journal of Food Engineering 108 (2012) 557562

Hultin HO, Kristinsson HG, Lanier TC, Park JW. (2005). Process for recovery of functional proteins by pH shifts. In: Park JW, editor. Surimi and surimi seafood. 2nd ed. Boca Raton, Fla.: Taylor & Francis Group. p 10739.

Lawless., H. T. & H. Heymann (1999). Sensory Evaluation of Food Principle and Practies. Kluer Academic Publishers. New York.

Lee CM. 1984. Surimi process technology. Journal Food Techonology 38 (11) :69-80.

Lertwittayanon, K., S. Benjakul, S. Maqsood, A. B. Encarnacion. (2013). Effect of Different Salts on Dewatering and Properties of Yellowtail Barracuda Surimi. International Aquatic Research, 5:10.

Mallet, C.P. (1993). Frozen Food Technology, Birds Eye Walls Ltd. Surrey.

Martn-Sanchez, A.M., C. Navarro, J.A. Perez-Alvarez, and V. Kuri. (2009). Alternatives for Efficient and Sustainable Production of Surimi: A Review. Institute of Food Technologists.Vol. 8, 2009-Comprehensive Reviews In Food Science And Food Safet.

13Moreno HM, Carballo J, Borderas AJ. 2008. Influence of alginate and microbial transglutaminase as binding ingredients on restructured fish muscle processed at low temperature. J Sci Food Agric 88(9):152936.

Okada, M. 1992. History of surimi technology in Japan. Di dalam Lanier TC, Lee CM (eds). Surimi Technology. Marcel Dekker Inc., New York. p 3-21

Peranginangin R, Wibowo S, Nuri Y, Fawza. 1999. Teknologi Pengolahan Surimi. Jakarta: Instalasi Penelitian Perikanan Laut Slipi, Balai Penelitian Perikanan Laut.

Reynolds J, Park JW, Choi YJ. 2002. Physicochemical properties of Pacific whiting surimi as affected by various freezing and storage conditions. J Food Sci 67(6):20728.

Stine, et all. (2012). Recovery And Utilization Of Protein Derived From Surimi Wash-Water. Wiley Periodicals, Inc.Journal of Food Quality 35 (2012) 4350.

T. C. Lanier, Functional Properties of Surimi, Food Technology, Vol. 40, No. 3, 1986, pp. 107-114.

Tan, S.M.Ng.M.C., T. Fujiwara , H. Kok Kuang and H. Hasegawa. 1988. Handbook on the Processing of Frozen Surimi and Fish Jelly Products in South East Asia. Marine Fisheries Research Department-South East Asia Fisheries Development Centre, Singapore.

Winarno FG, Fardiaz S, Fardiaz D. (1980). Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta: PT. Gramedia.

Winarno FG. 1993. Pangan Gizi, Teknologi dan Konsumen. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Zayas, J.F. (1997). Functionality of Proteins in Food. Springer-Verlag, Berlin. 358 pp.

14

8. LAMPIRAN

8.1. PerhitunganRumus:

Kelompok D1

Kelompok D2

Kelompok D3

15

Kelompok D4

Kelompok D5

8.2. Laporan Sementara8.3. Diagram Alir8.4. Abstrak Jurnal16

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended