Home > Documents > PRAKATA - UNUD

PRAKATA - UNUD

Date post: 16-Oct-2021
Category:
Author: others
View: 1 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 126 /126
Transcript
menunda keputusan karena adanya kekhawatiran jika ia mengambil keputusan yang salah dan akan membahaya- kan, baik bisnis maupun karirnya. Hal yang sama dijumpai dalam kehidupan pribadi kita. Banyak keputusan penting tidak berhasil diambil atau bahkan mengerjakan-ulang program atau kegiatan yang telah ada sebelumnya. Kurangnya wawasan dan pemahaman terhadap kecepatan dan kompleksitas kehidupan yang meningkat secara dramatis karena kompetisi yang sengit, globalisasi, dan pilihan-pilihan tanpa preseden adalah alasan umum mengapa orang-orang menunda membuat keputusan penting. Keberhasilan seorang deal maker dalam lingkungan yang kompleks seperti ini tergantung pada pengambilan keputusan yang cepat dan baik.
Selama tiga dekade terakhir, telah berkembang Interpretive Structural Modeling (ISM), yakni sebuah alat bantu manajemen untuk mengelola situasi kompleks yang dihadapi organisasi. Pada tahap awal, ISM hanya dipergunakan dalam lingkaran ekslusif para konsultan manajemen terpilih dan acap kali ada anggapan yang salah, yakni ISM dianggap sebagai esoteric tool yang tersedia untuk kaum profesional dan merupakan investasi yang signifikan dalam pemanfaatannya. Faktanya, ISM adalah simple practical tool yang menggambarkan banyak atribut berkenaan dengan bagaimana fungsi otak manusia dan mudah digunakan,
ii
sedemikian rupa sehingga seseorang yang terlibat dengan urusan pengambilan keputusan dapat meng- gunakan metode ini untuk berbagai situasi dan mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang masalah yang dihadapi, tanpa memandang domain apa yang menjadi fokus perhatiannya.
ISM adalah alat analisis dan alat pendukung keputusan yang memfasilitasi pemahaman menyeluruh situasi kompleks dengan mengkaitkan dan mengor- ganisir gagasan dalam sebuah peta visual. Perbedaan pokok ISM dengan alat analisis lain adalah bahwa ISM tidak perupaya memecah persoalan menjadi bagian- bagian yang lebih kecil, melainkan lebih pada koneksi gagasan dalam membangun sebuah model situasi. ISM adalah jantung dari metode Interactive Management (IM) yang memfokuskan pengetahuan kelompok partisipan untuk memperoleh hasil akurat dari sebuah proses yang valid dan relevan.
ISM dapat digunakan pada berbagai level abstraksi, mulai dari pengembangan pemahaman konseptual level tinggi sebuah masalah atau isu sampai dengan pengembangan desain detil dan rencana aksi. Setiap pekerja intelektual dapat menggunakan ISM untuk memproses dan menyusun ide dan membuat keputusan lebih baik, berbasis logika dan wawasan. Dalam lingkungan kelompok penyelesai masalah, ISM memperkokoh organisasi yang mengijinkan kelompok tersebut memfokuskan upayanya pada proses kreatif yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi organisasi.
iii
Tujuan utama buku ini adalah memberikan pembelajaran praktis dan membiasakan pembuat keputusan berkenaan dengan prinsip pokok yang mendasari ISM dan pada gilirannya, memungkinkan para pengguna mengaplikasikan ISM secara komprehensif sekaligus menemukan sendiri pendekatan baru.
Buku teks ini tidak mungkin hadir tanpa banyak pribadi mulia yang berperan penting dalam kehidupan profesional dan pribadi penulis. Penulis menyampaikan terimakasih yang tulus kepada I D G R Sarjana, MMA, J Putradi, MMA, F Sa’diyah, MMA, I G N A K Negara, MMA, dan I G A Premana, MMA, yang telah meningkatkan pemahaman penulis pada konsep awal buku ini. Penghargaan terdalam penulis sampaikan kepada Prof.Dr. Eriyatno, Dr. I G B Udayana, Dr. T Olviana dan A P Budi, MM yang menginspirasi penulis mewujudkan draft awal tulisan pengambilan keputusan terstruktur dengan ISM ini menjadi sebuah buku teks.
Akhirnya, penghargaan khusus penulis persem- bahkan kepada istri tercinta, Dra. Ni Made Rahadi dan kedua putra kami, dr.Aditya Prabawa dan Dwitya Aribawa,MBA atas segala pengertian dan dukungan yang tiada henti, tanpa semua itu buku teks ini tidak akan selesai.
Denpasar, 7 Januari 2017 Penulis
Email: [email protected]
iv
I don't know where I'm goin' But I sure know where I've been
Hanging on the promises in songs of yesterday David Coverdale & Bernie Marsden, Here I Go Again, Whitesnake, Saints &
Sinners Album, Geffen, 1982
Beethoven’s ninth 4.41-7.02
DAFTAR ISI Halaman
Prakata i Daftar Isi v Daftar Tabel vi Daftar Gambar vii 1. Pengantar 1 2. Mengelola sistem yang kompleks
dengan ISM 8 3. Metodologi ISM 24 4. Tinjauan literatur aplikasi ISM 46 5. ISM dan rekayasa tujuan organisasi 58 6. ISM dan perencanaan program 78 7. Penutup 94 Referensi 97 Biodata Penulis 114
vi
DAFTAR TABEL Tabel Teks Halaman 3.1 Pembandingan antara AHP, ANP, dan ISM
berbasis outstanding merit 29 3.2 Hubungan kontekstual dalam ISM 35 4.1 Aplikasi ISM dalam literatur lintas
klasifikasi, penulis dan tahun publikasi, serta isu strategis 48
5.1 Visi, misi, dan tujuan organisasi 59 5.2 Hubungan kontekstual variabel
"mengarah ke" 63 6.1 Hubungan kontekstual setiap elemen 86 6.2 Subelemen kunci untuk perencanaan
program 91 6.3 Klasifikasi subelemen untuk tujuan
program 92
Gambar Teks Halaman 2.1 Tinjauan konseptual ISM 15 2.2 Langkah-langkah fundamental
ISM 16 2.3 Sigma-5 untuk manajemen
interaktif 19 3.1 Metodologi untuk persiapan model ISM 33 3.2 Diagram alir untuk menyiapkan model
ISM 38 4.1 Kerangka tinjauan literatur 47 5.1 Structural Self-Interaction Matrix
(SSIM) 64 5.2 Initial Reachability Matrix 64 5.3 Final Reachability Matrix 65 5.4 Driver Power-Dependence Matrix (DP-
D Matrix) 66 5.5 Pengembangan directed graph (digraph) 68 5.6 Formasi Interpretive Structural
Modeling (ISM) 69 5.7 Pendekatan terintegrasi ISM dan ANP 74 6.1 Metodologi untuk penentuan hirarki
dan klasifikasi subelemen perencanaan program 82
6.2 Structural Self-Interaction Matrix (SSIM) untuk tujuan program 87
6.3 Reachability Matrix untuk tujuan program 87
6.4 Revisi Reachability Matrix untuk tujuan program 88
6.5 Interpretive Structural Modeling (ISM) 89
viii
Matrix untuk tujuan program 89
1
Selama tiga dekade terakhir, ISM mencapai kesuksesan fenomenal dalam hal memahami situasi dan menemukan solusi untuk masalah yang kompleks. ISM terbukti efektif dalam mendefinisikan masalah dan keterikatan, evaluasi dampak, dan mengidentifikasi hubungan antar sektor kebijakan. ISM yang pertama kali diusulkan oleh Warfield pada tahun 1973 merupakan proses pembelajaran dengan bantuan komputer (computer assisted learning process) yang memungkinkan individu atau kelompok solving/expert mengembangkan peta hubungan yang kompleks antar berbagai entitas/elemen yang terlibat dalam situasi yang kompleks. Dengan demikian, nilai sesungguhnya dari ISM terletak pada jalur atau benang pemikiran (paths or threads of thought) bahwa gagasan terbentuk dalam sebuah strategy map (Kaplan dan Norton, 2002).
2
ISM sering digunakan untuk memberikan pemahaman dasar situasi yang kompleks dan menyusun tindakan untuk memecahkan masalah. ISM telah digunakan di seluruh dunia oleh banyak organisasi bergengsi, termasuk National Aero- nautics and Space Administration (NASA) (Saxena et al., 1992; Lee, 2007; Attri et al., 2013).
Memahami proses di balik ISM akan membantu pembuat keputusan (decision maker) untuk menyederhanakan proses dan memperoleh lebih banyak sinergi dengan sistem. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi karena pembuat keputusan dapat memecahkan masalah lebih cepat dan dengan pemahaman yang lebih jelas. Penguasaan metode ISM akan membantu analis mengembangkan konsep perencanaan strategis (strategic planning). Flowers (2012) memberikan ilustrasi ringkas tentang penggelaran metodologi ISM: (a) ISM dimulai dengan isu atau masalah dengan elemen-elemen yang teridentifikasi; (b) pasangan elemen dibandingkan secara grafis atau dalam matriks, menggunakan tanda panah (arrow) untuk menunjukkan bahwa “elemen ini memberikan kontribusi lebih dari elemen itu (this element contributes more than that element)” dan menggambar representasi grafis dalam wujud digraph.
3
ISM bukan Esoteric Tool
ISM adalah simple practical tool, bukan esoteric Tool. ISM sangat sederhana dan mudah digunakan, sedemikian rupa sehingga seseorang yang terlibat dengan urusan pengambilan keputusan dapat menggunakan model ini untuk berbagai situasi dan mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang masalah ini, tanpa memandang domain apa yang diteliti. ISM dapat membantu pembuat keputusan untuk memahami hubungan-hubungan antar elemen sebaik pembuat keputusan menggunakannya secara seksama, bukan memanipulasinya untuk kepentingan menghasilkan foolproof.
ISM memperoleh popularitas dengan cepat dalam tiga dekade terakhir karena adanya fakta bahwa ISM adalah powerful tool. ISM telah digunakan oleh konsultan terlatih khusus untuk membantu klien mereka memahami situasi yang kompleks dan mencari solusinya. Para konsultan tidak ingin kompetensi inti mereka hilang dan oleh karenanya mereka mengunci metode ini dari lingkup publik. Alasan lain adalah bahwa software ISM terus berevolusi. Organisasi bisnis papan atas ersedia membayar ribuan dolar per hari untuk honor konsultan yang menawarkan solusi masalah dengan ISM. Sekarang perangkat canggih ini dapat dimiliki oleh pembuat keputusan untuk mengembangkan keunggulan kompetitif karir pribadi dan membantu organisasi dalam
4
perencanaan dan pemecahan masalah (planning and problem solving).
Acap kali, ISM secara keliru dianggap sebagai sebuah esoteric tool yang tersedia hanya bagi konsultan profesional yang mampu menjangkaunya dengan harga tinggi dan investasi yang signifikan dalam pelatihan (hal ini memang benar dijumpai pada pembuat keputusanan versi awal dari software ISM). Kenyataannya, ISM adalah alat sederhana dan praktis (simple and practical tool) yang mengacu pada banyak atribut tentang bekerjanya otak manusia (how the human brain works).
Telah diketahui, manajemen dianggap sebagai ilmu yang memuliakan akal sehat manusia dan ISM merupakan contoh yang tepat untuk membuktikan hal itu. Manusia selama berabad-abad mencoba untuk memahami bagaimana alam bekerja dan mencoba mensimulasikannya menjadi alat, teknik, dan proses untuk menghasilkan best practices. ISM merupakan upaya untuk memahami logika manusia ketika menghadapi masalah yang kompleks dan bagaimana memecahnya menjadi peta hubungan antar elemen.
ISM adalah well-proven method serta dapat diterapkan untuk berbagai masalah dan situasi. Para pengambil keputusan dan ilmuwan perlu belajar dan berlatih ISM agar mampu bergerak ke
5
level lebih tinggi dalam hal pemecahan masalah dan kemampuan analisis.
Silogisme Aristotle sampai algoritme digraph Warfield
Inferensi logis berdasarkan silogisme (proses pengambilan keputusan secara deduktif) ditemukan oleh Aristotle sekitar 350 BC. Sebagaimana yang digambarkan oleh Warfield (2002) pada bukunya Understanding Complexity: Thought and Behavior, hanya sedikit yang dilakukan untuk mengembangkan tiga proposisi (pernyataan) Aristotle, sampai Abelard mengkonversinya menjadi proposisi tunggal sekitar abad ke-13. Alhasil, Harary et al. (1965) menemukan bentuk matriks yang mengilus- trasikan keterkaitan antar sekumpulan silogisme. Harary juga menunjukkan cara mengkonversi bentuk matriks ke bentuk digraph.
Pada awal 1970an, John Nelson Warfield menemukan algoritme untuk mengkonstruksi directed graph (digraph) sebagai bagian dari sebuah proses kelompok partisipan yang diberi nama Interpretive Structural Modeling (ISM) (Warfield, 2003). Warfield (21 November 1925-17 November 2009) adalah seorang ilmuwan sistem Amerika Serikat yang merupakan profesor dan direktur the Institute for Advanced Study in the Integrative Sciences (IASIS) di George Mason
6
University dan presiden the Systems, Man, and Cybernetics Society (Warfield, 2003a dan 2003b).
Gagasan Warfield pertama kali disampaikan dalam sebuah monografi Battelle Memorial Institute pada 1974 dan kemudian dalam dituangkan dalam bukunya yang berjudul Societal Systems: Planning, Policy, and Complexity. Porsi matematis dipublikasi dalam bukunya The Mathematics of Structure (Warfield, 2003c).
Namun, Porter et al. (1980) berpendapat bahwa metode ISM memiliki beberapa kelemahan, yakni hanya mengidentifikasi hubungan statis (bukan hubungan dinamis), kualitatif (bukan kuantitatif), sederhana, dan tidak terlalu powerful. Tentu saja para pembuat keputusan yang fanatik dengan ISM tidak pernah setuju dengan kritik itu.
ISM dimanfaatkan untuk membuat struktur elemen dari masalah yang kompleks, katakanlah berbagai tujuan strategis organisasi atau sebuah perencanaan program yang terdiri atas beberapa elemen, mulai dari elemen sektor kemasyarakatan yang terpengaruh sampai dengan lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program. Dengan menggunakan ISM dapat dipahami bagaimana berbagai elemen itu saling terkait dan oleh karenanya dapat membantu organisasi membuat struktur tujuan-tujuan organisasi secara bermakna. Strukturisasi membantu organisasi memecahkan masalahnya dengan cara memecah- nya menjadi elemen-elemen yang lebih kecil
7
dengan pendekatan bottom-up. Hubungan antar elemen disimpan dalam kerangka matriks dan kemudian dikonversi menjadi sebuah digraph dengan bantuan software komputer (Thakkar et al., 2005; Thakkar et al., 2008a dan 2008b).
Buku ini didesain mambahas konsep dan teknik pemodelan ISM serta aplikasi ISM dalam literatur, baik terbaru maupun klasik di bidang ISM, termasuk kasus riil sehingga dapat memberikan dasar-dasar yang komprehensif dan panduan yang jelas bagi para pembuat keputusan dalam mengembangkan, mendefinisikan, serta mempresentasikan, baik agenda riset maupun kinerja intelektual lain berkenaan dengan implementasi metodologi ISM secara sistematis dan meyakinkan.
8
Berurusan dengan masalah kompleks
Tahap awal dalam setiap resolusi masalah atau desain sistem adalah definisi dari masalah itu sendiri. Warfield (1976 dan 2006) menunjukkan bahwa semakin kompleks permasalahan, semakin sulit untuk memahami dan mendefinisikannya. Warfield mengilustrasikan dua situasi masalah (two problem situations) untuk menunjukkan perbedaan antara masalah sederhana dan masalah kompleks, yaitu (a) masalah dalam genggaman pemecah masalah (the problem is in the grasp of the problem solver) dan (b) pemecah masalah dalam genggaman persepsi tertentu dari masalah (the problem solver is in the grasp of a certain perception of the problem).
Simbiosis manusia dan mesin
Warfield yang pada awal karirnya terlibat dalam desain dan konstruksi komputer melihat adanya peluang besar pada daya komputasi untuk memecahkan masalah yang kompleks dan merancang diagram yang merepresen- tasikan hubungan antara manusia dan komputer dalam proses baru yang dikembangkannya. Representasi fungsional yang menunjukkan potensi simbiosis manusia/mesin (man/machine) ini disebut Interpretive Structural Modeling (ISM).
9
Pada pertengahan 1970-an, metodologi ISM telah mantap dan digunakan untuk memecahkan masalah- masalah praktis. Sesi pertama ISM dijalankan pada 1973 untuk isu-isu perencanaan perkotaan di kota Cedar Rapids, Iowa (menariknya, sesi ISM pertama ini dijalankan oleh Robert James Waller, penulis novel ‘The Bridges of Madison County’ yang termasyur). Metodologi ini terbukti berguna dan produktif. Organisasi publik dan swasta pun mulai menaruh perhatian. Pada 1980 IBM telah menggunakan ISM dan terbukti sukses dalam menghemat waktu dan upaya kelompok problem solvers di IBM. Pada 1979-1982, Warfield menjadi konsultan paruh waktu untuk IBM. Warfield memperoleh sekitar 10 tahun pengalaman industri dengan perusahaan Wilcox Electric Company, Battelle Memorial Institute, dan Burroughs Corporation (Warfield, 1994 dan 1995).
Pengalaman industri Warfield, termasuk penelitian teoritis dan eksperimental, pengembangan elektronik dan pengujian keandalan peralatan navigasi untuk pesawat jet. Layanan Warfield, mencakup Battelle Memorial Institute 1968-1974. Warfield merupakan Senior Leader Research. Kemudian di Virginia dan George Mason University, Warfield mengembangkan the sociotechnology of Interpretive Structural Modeling (ISM) dan mengembangkan Interactive Management (IM) yang terkenal, bekerjasama dengan Alexander Christakis dari 1979 sampai 1989.
Pada tahun 2006, Warfield dianugerahi Joseph G. Wohl Award untuk Career Achievement pada pertemuan tahunan 2006 dari IEEE Systems, Man, and Cybernetics
10
Software ISM
Software pertama (ditulis dengan bahasa pemrograman Fortran) untuk proses ISM ini berfungsi pada 1973. Software berbasis Disk Operating System (DOS) untuk mengimplementasikan sistem ini diberikan secara cuma- cuma di situs: http://www.jnwarfield.com/software/ ism/ism_dos.zip. User’s guide yang menyertakan contoh, meskipun sederhana, tetapi dibahas dengan desain detil yang dalam juga tersedia di website George Mason University (GMU), Fairfax, Virginia. Sejumlah versi software untuk mengimplementasikan ISM telah dibuat oleh Battele Columbus Laboratories, sejak diluncurkannya software ISM yang pertama pada 1974.
Pada software versi Windows, algoritme ISM khas yang digunakan pada versi DOS juga diintegrasikan. Warfield telah banyak menulis tentang ISM dan mendistribusikan freeware DOS untuk memudahkan pengambilan keputusan terstruktur dengan ISM di situs George Mason University: http://www.gmu.edu/ depts/t-iasis/ism/ism.htm. Namun, software ini sangat tidak user friendly, dan hanya para “penggemar tantangan” saja yang masih menggunakannya. Kursus berkenaan dengan ISM juga diselenggarakan (lihat
11
http://www.bsu.edu) (Warfield, 1973a, 1973b, 1973c, 1974a, dan 1974b).
Pengembang software ISM, seperti Concept Star Professional menyediakan software yang mudah dipakai oleh para analis ISM, termasuk informasi yang disyaratkan untuk studi dan penggunaan metode pengambilan keputusan ISM secara efektif. Software ISM dirancang sebagai aplikasi yang sederhana dan praktis sejalan dengan human interface yang intuitif dan tampilan visual peta strategi antar elemen dengan urutan (order) dan arah (direction) yang jelas.
Beberapa buku teks tentang ISM telah memberikan pemaparan yang mendalam tentang penggunaan efektif proses ISM (Malone,1975; Lee, 2007). Dengan demikian, software ISM dapat digunakan oleh siapa saja yang berminat, tanpa membutuhkan pengetahuan lapang sebelumnya atau pelatihan profesional yang mahal.
Di Indonesia, keberadaan software ISM tidak banyak, salah satu yang populer dan didistribusikan pada sesi pelatihan khusus adalah dDSS v.1. Roni Wijaya ([email protected]), secara khusus meran- cang software dDSS v.1 untuk PRE-NET (Policy Research Expert Network) pada 2010. Software dDSS v.1. ini diberi label “Modul-modul Penunjang Keputusan Digital Pengarah Kebijakan Strategis”.
Software yang dapat membantu strukturisasi elemen sistem ini berisi menu: Home (tentang aplikasi dan konfigurasi terkait password) dan Modul (Intro, Pakar, Subelemen, serta Pendapat dan Hasil). Pada menu Modul juga terdapat icon: new, open, save, dan
12
options. Icon options berisi pilihan (a) Teknik Rata-rata Pendapat (aritmatik, boolean, geometrik, modus, serta kotak pilihan Optimistic boolean function) dan (b) Pattern Kode Subelemen (misalnya kode E untuk kode subelemen). Pada menu Modul ini juga terdapat icon untuk melihat pendapat individu dan agregat, serta run yang menampilkan tabel reachability dan revisi, grafik driver power-dependence matrix dan struktur digraph. Hasil pengolahan ISM VAXO tersebut dapat disimpan dan dibaca dengan Microsoft Word atau Excel.
Peta hubungan visual untuk memahami situasi dan menyusun rencana solusi
ISM adalah alat analisis dan alat pendukung keputusan (decision support tool) yang memfasilitasi pemahaman menyeluruh situasi kompleks dengan mengkaitkan dan mengorganisir gagasan dalam sebuah peta visual (visual map). Proses ISM mengembangkan tema pokok (subject- matter) melalui diskusi dan analisis. Pengetahuan pokok dikombinasikan dengan pemahaman terstruktur tentang sebuah permasalahan adalah sangat esensial dalam membuat keputusan yang kuat. Pengetahuan ini juga dibutuhkan ketika mengkomunikasikan sebuah keputusan kepada yang lain, termasuk rationale pengambilan keputusan tersebut.
ISM menguraikan isu kompleks dengan mengijinkan pengambil keputusan terfokus hanya pada dua ide setiap saat. Ide dan hubungannya dianalisis dalam kerangka isu yang dipelajari. Selanjutnya, software ISM tetap menelusuri hubungan-hubungan dan
13
menjamin bahwa semua ide secara metodis (methodically) berhubungan serta menggunakan informasi ini untuk menghasilkan peta hubungan visual (visual relationship map). Peta ini mengungkap konsep dan pola bagi para pengguna yang memfasilitasi analisis, melakukan diskusi, hingga akhirnya mengambil keputusan. Pada situasi yang tidak kompleks, teknik ISM, tentu saja, dapat diaplikasikan hanya dengan kertas dan pinsil saja.
Perbedaan pokok ISM dengan alat analisis lain adalah bahwa ISM tidak berupaya memecah persoalan/ situasi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, melainkan lebih pada koneksi ide dalam membangun sebuah model situasi. Karena kekhasan properti tersebut, ISM menjadi unggul dalam menyelesaikan permasalahan level tinggi, vis-a-vis analisis cause-root¸ definisi proses kompleks, atau hanya sebuah konsep. Aplikasi sederhana ISM, meliputi grouping dan sequencing, seperti yang digunakan dalam aktivitas budgeting.
Individu atau kelompok dapat menggunakan ISM untuk memahami dan membuat penyelesaian-ulang permasalahan yang kompleks. Dalam lingkungan kelompok penyelesai masalah, ISM menyebabkan kelompok tersebut lebih fokus dan menghasilkan struktur logis untuk keputusan. ISM telah menjadi andalan konsultan manajemen profesional dan para pekerja intelektual ketika mereka harus mengambil keputusan dalam lingkungan kompleks, tidak terstruktur dan khaostis.
14
ISM menggunakan ide analisis berpasangan (pair- wise) untuk mentransformasi isu kompleks. ISM melibatkan banyak ide ke dalam sebuah model hubungan terstruktur yang mudah dimengerti. Model ini kemudian digunakan untuk mengembangkan ide dan solusi masalah yang dihadapi. Model juga digunakan untuk perencanaan program dan berkenaan dengan area spesifik ruang-masalah (problem-space).
Dalam penggunaan yang melibatkan kelompok penyelesai masalah, ISM mengijinkan setiap partisipan dari kelompok untuk melakukan tinjauansemua segi (facets) ruang-masalah untuk berinteraksi, belajar, dan menganalisis masalah. ISM adalah alat inklusif yang bermakna tidak berkonsentrasi pada menolak/ menghilangkan gagasan. ISM mengijinkan ide yang bertentangan saling terkait dan dianalisis pada ruang solusi. Hal ini menghasilkan manfaat penting, yakni partisipan memperoleh ide dan solusi karena mereka menganalisis dan memahami situasi bersama-sama. ISM mengorganisir banyak elemen isu kompleks dan mensintesis model yang membuat situasi dapat dimengerti dan logis.
ISM (a.k.a relationship model) memberikan pemahaman konseptual situasi. ISM memfasilitasi pengambilan keputusan dan menyusun penyederhanaan perencanaan program dalam rangka menghasilkan solusi. ISM dapat digunakan secara luwes untuk masalah yang mengandung elemen-elemen, baik sedikit maupun banyak (bisa sampai ratusan elemen). Tidak ada pembatasan alami terkait masalah yang dianalisis.
15
Lee (2007) mengilustrasikan conceptual view ISM, seperti pada Gambar 2.1 sedangkan langkah fundamental penggunaan ISM disajikan seperti Gambar 2.2. Sebuah elemen dalam ISM dapat berupa kata atau frase (word or phrase) tetapi harus mengandung hanya satu ide utama.
Gambar 2.1 Tinjauan Konseptual ISM
Mengapresiasi kompleksitas sistem
ISM untuk elemen yang dipelajari, merupakan langkah maju dalam analisis sistem. Metodologi yang menghasilkan peringkat driver-power subelemen dari Reachability Matrix merupakan pengembangan studi hirarki subelemen, mengungkap merits dari teori binary matrices dan digraphs (Saxena et al., 1992), sekaligus mengapresiasi kompleksitas sistem dan evolusi strategi dan kebijakan yang tepat (correct policies and strategies).
15
Lee (2007) mengilustrasikan conceptual view ISM, seperti pada Gambar 2.1 sedangkan langkah fundamental penggunaan ISM disajikan seperti Gambar 2.2. Sebuah elemen dalam ISM dapat berupa kata atau frase (word or phrase) tetapi harus mengandung hanya satu ide utama.
Gambar 2.1 Tinjauan Konseptual ISM
Mengapresiasi kompleksitas sistem
ISM untuk elemen yang dipelajari, merupakan langkah maju dalam analisis sistem. Metodologi yang menghasilkan peringkat driver-power subelemen dari Reachability Matrix merupakan pengembangan studi hirarki subelemen, mengungkap merits dari teori binary matrices dan digraphs (Saxena et al., 1992), sekaligus mengapresiasi kompleksitas sistem dan evolusi strategi dan kebijakan yang tepat (correct policies and strategies).
16
16
17
Berdasarkan konsepnya sendiri dan gagasan yang berkembang dalam bidang sistem, Warfield memantapkan sesi ISM dan mengintegrasikan ke dalam desain proses baru pemecahan masalah yang kemudian dikenal luas sebagai Interactive Management (IM). Proses IM banyak digunakan dalam pengaturan kelompok parisipan atau group solving/expert yang dipandu komputer dan software ISM sebagai inti dari proses ini melalui pertanyaan-pertanyaan yang dimaksudkan untuk menentukan ruang lingkup masalah dan hubungan interdependensi antar gagasan.
IM merupakan sistem manajemen (system of management) yang diterapkan pada manajemen kompleksitas (management of complexity) agar organisasi mampu mengatasi masalah atau situasi yang dihadapi (Warfield and Cardenas, 1994). Warfield (1985) mengimplementasikan ISM sebagai jantung (core) dari IM dan IM merupakan cara inovatif menggabungkan komputer ke dalam meeting environment (Warfield, 1976 dan 1994). ISM dirancang untuk menghasilkan keputusan berbasis logika dan wawasan (logic and insight) untuk dunia yang lebih baik (Lee, 2007).
IM mengintegrasikan synergistic components dari kelompok pemecahan masalah dengan cara yang mengarah pada peningkatan efisiensi dan efektivitas. a. Kelompok knowledgeable participants yang mewakili
berbagai perspektif dalam menangani situasi.
18
b. Tim fasilitasi terlatih (trained facilitation team) yang mampu membantu kelompok bergerak melalui tahapan proses pemecahan masalah ketika terlibat dalam dialog yang terfokus dan terstruktur.
c. Jantung/inti (core) dari IM adalah sesi ISM, yakni satu set khusus metodologi konsensus yang dibantu komputer (computer-assisted consensus methodo- logies) yang dipilih dengan cermat untuk membantu kelompok menghasilkan ide-ide, strukturisasi ide-ide tersebut, dan membuat pilihan di antara ide-ide. Teknologi perilaku sensitif (behaviorally sensitive technologies) seperti ini dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja kelompok.
d. Lingkungan fisik yang dirancang khusus (specially designed physical environment), meliputi ruang tampilan visual untuk ide-ide dan struktur, dengan ketentuan untuk meningkatkan kenyamanan dan interaksi peserta.
Sigma-5: Dasar Manajemen Interaktif
Secara konsep, proses IM sangat unik dan dikembangkan dengan cermat sepanjang 1970-an. Pada dasarnya, IM adalah penggunaan teknologi dan teknik pemecahan masalah yang canggih (use of technology and sophisticated problem solving techniques) untuk memperjelas isu-isu atau masalah kompleks dan komponen-komponen penting yang ada di dalamnya (clarify complex problems and their essential
19
Ciri khas dari IM adalah metodologi "Sigma-5". Lima komponen yang digunakan bersama-sama untuk menyelesaikan masalah yang kompleks, yakni: fasilitator, demosophia, komputer, metodologi konsensus, dan group participan. Sigma-5 untuk Manajemen Interaktif diilustrasikan oleh Warfield (1994 dan 2006) seperti pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3. Sigma-5 untuk Manajemen Interaktif
19
Ciri khas dari IM adalah metodologi "Sigma-5". Lima komponen yang digunakan bersama-sama untuk menyelesaikan masalah yang kompleks, yakni: fasilitator, demosophia, komputer, metodologi konsensus, dan group participan. Sigma-5 untuk Manajemen Interaktif diilustrasikan oleh Warfield (1994 dan 2006) seperti pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3. Sigma-5 untuk Manajemen Interaktif
20
Beberapa teknik yang digunakan pada IM dikembangkan oleh Warfield dan koleganya serta memanfaatkan teori-teori terkemuka dalam bidang rekayasa sistem (systems engineering). Kombinasi dari beberapa metodologi sistem sangat khas untuk proses IM. System of System Methodologies (SOSM) dibuat agar dalam penggunaanya beberapa sistem yang diintegrasikan dapat saling melengkapi dan menghasil- kan informasi yang akurat.
Demosophia
Salah satu komponen kunci keberhasilan sesi IM adalah situation room yang disebut "Demosophia" (bahasa Latin untuk wisdom of the people). Perhatian yang cermat dicurahkan ke dalam setiap aspek desainnya. Kursi yang nyaman sangat penting untuk pertemuan yang mungkin akan berjalan selama beberapa hari. Ruang pertemuan berdinding lebar dan white boards diperlukan untuk memposting bahan-bahan untuk group review. Desain demosophia diinisiasi oleh Center for Interactive management, George Mason University, Fairfax, Virginia. Pada era 1970-an, sebelum munculnya wireless communication, Demosophia membutuhkan kabel panjang agar terhubung dengan komputer mainframe dan jejaring. Namun, pada 1990-an, laptop portabel mampu menangani komputasi IM. Demosophia merupakan salah satu fasilitas strategis di George Mason University dan organisasi-organisasi terkenal, seperti
21
Southwest Fisheries Science Center dan Ford Motor Company (Warfield, 1994).
Fasilitator
Sesi IM acap kali dijalankan selama beberapa hari dengan jadwal yang ketat. Dalam rangka efektivitas penggunaan waktu, keberadaan fasilitator terlatih sangat penting. Fasilitator diminta, tidak hanya memahami penggunaan metodologi yang kompleks, tetapi juga memiliki keterampilan komunikasi dan organisasi untuk memimpin pertemuan yang melibatkan pimpinan perusahaan dan pemerintah pada level puncak dengan dinamika value, beliefe, interes, dan persepsi masing- masing (Warfield, 1994).
Group partisipan
Driving engine di belakang sesi IM adalah group partisipan yang unik dan bekerja sama memecahkan masalah yang kompleks. Stakeholder kunci diidentifikasi oleh organisasi penyelenggara dan diharapkan mengalokasikan waktunya yang berharga untuk studi terfokus masalah yang dihadapi. Tidak seperti pertemuan pemecahan masalah yang umum, sesi IM mensyaratkan peserta bekerja dalam kerangka tanya- jawab terstruktur (structured framework of questions and answers) yang bertujuan agar semua pendapat didengar sekaligus mengeleminir maksud-maksud politis yang biasa terjadi dalam pertemuan umum (Warfield, 1994 dan 2006).
Metodologi konsensus
Selain kelompok peserta yang terlibat bersama dalam Demosophia dan dipimpin oleh fasilitator terlatih, faktor penting dalam keberhasilan memecahkan masalah yang kompleks adalah metodologi konsensus (consensus methodologies). Pemilihan metodologi ini untuk: generating, clarifying, structuring, interpreting, dan amanding gagasan ini dalam rangka memenuhi fase interaksi kelompok dan sesuai dengan situasi.
Ada empat group methodologies yang biasa digunakan dalam sesi IM, yakni (a) Nominal Group Technique (NGT) (Delbeq, Van De Ven, dan Gustafson, 1975), (b) Ideawriting (Warfield, 1990), (c) Field and Profile Representations (Warfield, 1994), dan (d) Interpretive Structural Modeling (ISM) (Warfield, 1994). Teknik-teknik tersebut memungkinkan kelompok partisipan mengembangkan rangkaian pernyataan yang mendefinisikan berbagai aspek dari masalah dan mendapatkan konsensus tentang makna (meaning) dari pernyataan tersebut.
Komputer
Warfield yang memiliki keahlian dalam bidang pengembangan komputer, memanfaatkan daya komputer (computing power) ketika ia mengembangkan IM. Warfield (1994 dan 2006) menggunakan penemuan sebelumnya, yakni Interpretive Structural Modeling (ISM) sebagai core dari cara baru menggabungkan komputer ke dalam meeting environment. Setelah kelompok peserta melaporkan masalah yang dihadapi secara lengkap, laporan itu diinput ke dalam software ISM.
23
The Problematique
Setelah berhari-hari ‘dikarantina’ dalam situation room, peserta sesi IM telah memiliki ‘senjata’ baru untuk memerangi masalah yang kompleks. Sering kali para peserta mengembangkan koneksi baru dalam organisasi yang memungkinkan kolaborasi lanjut pada masa depan. Proses metodologi konsensus yang memanfaatkan ISM memungkinkan peserta mendengarkan perspektif rekan- rekannya dan memperoleh perspektif baru terhadap masalah yang dihadapi (Warfield, 1994 dan 2006). Namun demikian, yang paling nyata dan unik dari hasil dari sesi IM adalah the problematique, yakni representasi grafis yang mengungkap secara jelas akar masalah (root causes of a problem) dari sebuah persoalan yang rumit.
24
3. METODOLOGI ISM Interpretive Structural Modeling (ISM) adalah metodologi yang mapan (well-established methodology) untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel tertentu yang mendefinisikan masalah atau isu (Sage,1977; Jharkharia dan Shankar, 2005). Pendekatan ini digunakan oleh banyak pekerja intelektual (knowledge work) untuk mewakili hubungan timbal-balik (inter- relationships) antar berbagai elemen yang terkait dengan masalah ini. Pendekatan ISM dimulai dengan identifikasi variabel yang relevan dengan masalah atau isu. Kemudian, dipilih hubungan subordinasi kontekstual yang relevan. Setelah memutuskan hubungan kontekstual, dikembang- kan Structural Self-Interaction Matrix (SSIM) berdasarkan perbandingan berpasangan (pairwise comparison) variabel. Setelah ini, SSIM diubah menjadi Reachability Matrix (RM) dan diperiksa pemenuhan aturan transitivitasnya. Setelah aturan transitivitas terpenuhi, didapatkan sebuah model matriks. Kemudian, diperoleh partisi dari elemen dan ekstraksi model struktural yang disebut ISM (Attri et al., 2013).
ISM adalah proses pembelajaran interaktif. Dalam teknik ISM ini, satu set elemen berbeda yang berhubungan langsung dan tidak langsung disusun ke dalam model sistematis komprehensif (comprehensive systematic model) (Sage, 1977;
25
Warfield, 1974a dan 1974b), sehingga model yang terbentuk menggambarkan struktur isu atau masalah kompleks dalam pola yang dirancang cermat (carefully designed pattern) dan menyiratkan grafis dan kata (graphics as well as words) (Singh, 2003; Raj et al., 2007; Ravi dan Shankar, 2005; Agarwal et al., 2006; Singh dan Kant, 2008; Raj dan Attri, 2011; Singh, 2011).
Untuk setiap masalah kompleks yang dipertimbangkan, sejumlah faktor mungkin terkait dengan isu atau masalah. Namun, hubungan langsung dan tidak langsung antar faktor menggambarkan situasi yang jauh lebih akurat dibandingkan dengan hanya mengisolasi faktor secara individu. Oleh karena itu, ISM mengem- bangkan wawasan hubungan tersebut menjadi pemahaman kolektif (develops insights into collective understandings).
Dalam pendekatan ini, aplikasi sistematis beberapa gagasan dasar dari graph theory digunakan, sedemikian rupa sehingga secara teoritis, konseptual, dan daya komputasi (theoretical, conceptual and computational leverage) tereksploitasi untuk menjelaskan pola kompleks hubungan kontekstual antar set variabel. ISM digunakan ketika ada keinginan memanfaatkan pikiran logis dan sistematis (systematic and logical thinking) sebagai pendekatan penyelesaian isu kompleks yang
26
Interpretive Structural Modeling adalah metode yang dibantu komputer (computer-aided method) untuk mengembangkan representasi grafis dari komposisi dan struktur sistem (system composition and structure). ISM berawal dari persepsi Warfield (1974a dan 1974b) akan kebutuhan menggunakan ilmu pengetahuan untuk kebijakan (couple science to policy). Menurut Warfield, "satu set alat komunikasi yang memiliki karakter ilmiah dan layanan sebagai sebuah mekanisme keterkaitan (linkage mechanism) antara ilmu pengetahuan dan publik, dan memiliki makna untuk seluruh pemangku kepentingan". ISM mampu mengkomunikasikan kesan holistik dari elemen-elemen dan hubungan antar elemen yang menentukan struktur sistem.
Warfield (1994 dan 1995) menetapkan satu set persyaratan untuk alat bantu manajemen, utamanya komunikasi ini, meliputi (a) ketentuan inklusi elemen ilmiah, (b) sarana mengungkapkan set relasi yang kompleks, (c) sarana menunjukkan set relasi kompleks yang memungkinkan dilakukan pengamatan terus-menerus, memper- tanyakan, dan modifikasi relasi, (d) kongruensi dengan pencetus persepsi dan proses analitis, dan (e) kemudahan pembelajaran bagi publik (atau inferensi, multidisiplin).
27
Model grafis atau lebih spesifik directed graphs (digraphs) muncul untuk memenuhi persyaratan ini. Dalam representasi seperti itu, elemen atau komponen dari sistem yang diwakili oleh “poin” dari grafik dan adanya hubungan tertentu antar elemen, ditandai dengan kehadiran segmen “garis terarah” (directed line). Ini merupakan konsep keterkaitan dalam konteks hubungan tertentu yang membedakan antara sebuah sistem dengan agregasi komponen belaka (Watson, 1978).
ISM adalah sebuah metode grafis-teoritis (graph-theoretic method) yang merupakan pendekatan yang dikategorikan pada famili pemetaan kausal (casual mapping family). ISM bisa juga tergolong pendekatan dari famili Soft Operations Research (SOR). ISM utamanya dimak- sudkan sebagai proses pembelajaran (learning process) kelompok partisipan, tetapi dapat juga digunakan secara individu. ISM adalah sebuah proses yang dapat membantu kelompok pakar (expert group) dalam strukturisasi pengetahuan kolektif mereka (Faisal et al., 2006; Faisal et al., 2007). Metodologi ISM adalah sebuah proses pembelajaran interaktif. Dalam hal ini, himpunan (set) hubungan elemen langsung dan tidak langsung dibuatkan strukturnya menjadi sebuah model sistematis yang komprehensif (compre- hensive systematic model).
28
Model yang dikembangkan dengan ISM menggambarkan struktur isu yang kompleks dari sebuah sistem studi lapang dalam pola desain yang cermat menggabungkan grafik dan kata (graphics as well as words). Metodologi ISM mem- bantu menentukan urutan (order) dan arah (direction) hubungan yang kompleks antar elemen dari sebuah sistem yang spesifik (Sage,1977). ISM dapat diandalkan untuk menyelesaikan masalah- masalah yang kompleks dan subjektif.
Telah diketahui, dalam literatur decision science, dikenal tiga teknik kontemporer yang digunakan secara luas dalam pemodelan dan Multi Criteria Decision Making (MCDM) (Chung et al., 2005; Darmawan, 2013), yaitu (a) Interpretive Structural Modeling (ISM), (b) Analytic Hierarchy Process (AHP), dan (c)Analytic Network Process (ANP). Thakkar et al. (2008) membandingkan ketiga teknik ini dan intisari pembandingannya ditampilkan pada Tabel 3.1. Pembandingan itu bertujuan untuk menampilkan outstanding merits dari ISM.
Umumnya, individu atau kelompok problem solving mengalami kesulitan menangani isu-isu atau sistem yang kompleks. Kompleksitas masalah atau sistem disebabkan oleh eksistensi sejumlah elemen sistem dan interaksi antar elemen-elemen tersebut. Kehadiran elemen- elemen yang terkait langsung atau tidak langsung mempersulit artikulasi struktur sistem. Oleh
29
Analytic Hierarchy Process (AHP)
Analytic Network Process (ANP)
Interpretive Structural Modeling (ISM)
b. Mengasumsikan independensi fungsional hierarki bagian atas dibandingkan dengan yang lebih rendah (arah anak panah dari atas ke bawah).
c. Gagal menyelesaikan masalah dunia nyata (real world) yang kompleks.
d. Memiliki kemampuan moderat dalam menangkap kompleksitas dinamis.
a. Menawarkan jejaring longgar.
c. Bermanfaat dalam memecahkan masalah dunia nyata yang non- linear.
d. Memiliki kemampuan lebih rendah dalam menangkap kompleksitas.
a. Melibatkan set kriteria yang saling berhubungan.
b. Menetapkan hubungan kontekstual mengarah ke (leads to) antar kriteria.
c. Menangkap kompleksitas masalah dunia nyata.
d. Memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menangkap kompleksitas yang dinamis.
30
ISM didefinisikan sebagai proses yang bertujuan untuk membantu umat manusia lebih memahami apa yang dipercaya dan mengenali dengan jelas apa yang tidak diketahui. Fungsinya yang terpenting adalah organisasional. Nilai tambahnya adalah model struktural yang dihasilkan (Farris dan Sage, 1975).
Karakteristik ISM
Metodologi ISM ini adalah interpretif karena penilaian kelompok memutuskan apa dan bagaimana berbagai elemen yang berbeda terkait. ISM adalah struktur berbasis hubungan mutual. Dalam sesi ISM, struktur keseluruhan diekstrak dari set kompleks elemen. ISM adalah teknik pemodelan karena hubungan yang spesifik dan struktur keseluruhan digambarkan dalam model digraph. ISM membantu menetapkan urutan dan arah pada kompleksitas hubungan antar berbagai elemen dalam suatu sistem (Singh et al., 2003). ISM utamanya dimaksudkan sebagai sebuah group learning process, tetapi individu juga dapat menggunakannya.
Metodologi untuk Persiapan Model ISM
Warfield adalah pakar yang menginisiasi ISM pada 1973 (Warfield 1976 dan 2006). ISM sering digunakan untuk memperoleh pemahaman dasar bagi situasi yang rumit sekaligus membuat action plan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
31
ISM memungkinkan para peneliti mengem- bangkan peta strategi (strategy map) yang rumit antar banyak elemen yang terlibat dalam situasi pengambilan keputusan yang rumit (Thakkar et al., 2008; Pramod dan Banwet, 2010). Proses ISM mentransformasi hal yang tidak jelas, model mental terartikulasi buruk dari sistem (unclear, poorly articulated mental models of systems) menjadi model yang tampak jelas dan terdefinisi dengan baik (visible and well-defined models) (Ravi et al., 2005; Kim dan Watada, 2009). Metodologi ISM adalah metodologi interpretif. Dalam hal ini, kelompok pakar memutuskan apakah dan bagaimana elemen-elemen itu terkait, terstruktur, berbasis hubungan indikator penggerak (enebler/driver) dan yang digerakan (dependent).
Metodologi ISM mengekstrak struktur menyeluruh dari kumpulan variabel yang kompleks dan mendemonstrasikan pemodelan yang menggambarkan hubungan spesifik dan terstruktur secara menyeluruh dalam sebuah model digraph. ISM merupakan sebuah alat bantu pengambilan keputusan menetapkan urutan dan arah hubungan antar variabel yang rumit (Sharma et al., 1995). ISM adalah aplikasi sistematis dari beberapa teori grafis elementer, sedemikian rupa sehingga keunggulan teoritis, konseptual, dan komputasi dimanfaatkan untuk menjelaskan pola kompleks hubungan konseptual antar variabel (Charan et al., 2008).
32
Eryatno (2003) menyebutkan, metodologi dan teknik ISM dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu komposisi hirarki dan klasifikasi subelemen. Setiap elemen dari program yang dianalisis diklarifikasi menjadi beberapa subelemen. Langkah-langkah metodologi ISM dijelaskan pada paragraf berikut (Ravi et al., 2005; Warfield, 1976; Anukul dan Deshmukh, 1994), sedangkan aliran logis dalam implementasi ISM ditunjukkan pada Gambar 3.1 dengan penjelasan sebagai berikut. a. ISM dimulai dengan isu yang kuat atau
permasalahan yang penting untuk dipecahkan. b. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi
elemen-elemen yang membentuk konteks isu. Salah satu dari teknik berikut ini dapat digunakan untuk identifikasi elemen-elemen: teknik group-solving (seperti brain storming dan teknik nominal group) atau dengan melakukan survei atau dari literatur (Ravi et al., 2005; Warfield, 1976). Anukul dan Deshmukh (1994) menggunakan Delphi untuk mengidentifikasi elemen-elemen, sedangkan Ravi et al. (2005), Thakkar et al. (2008), Gorvett dan Liu (2007), dan Faisal et al. (2007) menggunakan survei literatur. Jharkharia dan Shankar (2004) serta Sanjay dan Shangkar (2005) menggunakan industrial survey untuk membuat daftar elemen-elemen.
33
33
34
c. Selanjutnya, ditentukan hubungan kontekstual antar variabel yang teridentifikasi. Untuk mengembangkan sebuah hubungan kontekstual, perlu keterlibatan group-solving atau kelompok pakar (group of experts). Pasangan elemen (pairs of elements) dibandingkan secara grafis atau dalam matriks hubungan, menggunakan hubungan kontekstual yang sebagian besar merupakan kata kerja atau frase kata kerja (verb or verb phrase). Kata kerja generik khas yang digunakan untuk membandingkan pasang elemen tersebut adalah sebagai berikut.
1) Mempengaruhi (influences). 2) Menyebabkan (causes). 3) Mengarah ke (leads to). 4) lebih penting daripada (more important than).
Setelah menyeleksi hubungan kontekstual, dibangun representasi grafis dari model mental. Ada lima jenis hubungan kontekstual dalam ISM (Eriyatno, 2003) seperti pada Tabel 3.2.
d. Diagram hubungan kontekstual menyediakan sarana visual pemetaan kausal dan/atau hubungan asosiasi dalam pengembangan sebuah teori koheren. Mengembangkan Structural Self-Interaction Matrix (SSIM) dari elemen-elemen yang menunjukkan hubungan berpasangan (pairwise relationship) antar elemen-elemen sebuah sistem.
e. Mengembangkan Reachability Matrix dari SSIM, dan memeriksa transitivitasnya. Transitivitas hubungan kontekstual adalah asumsi dasar dalam ISM yang
35
menyatakan bahwa jika elemen A terkait dengan B dan B terkait dengan C, maka A terkait dengan C.
Tabel 3.2. Hubungan kontekstual dalam ISM Jenis Interpretasi
Perbandingan A lebih penting/besar daripada B Pernyataan A atribut B
A termasuk dalam B Pengaruh A menyebabkan B
A sebagian penyebab B A mengembangkan B A menggerakkan B A meningkatkan B
Keruangan A selatan/utara B A di atas B A di sebelah kiri B
Kewaktuan A mendahului B A mengikuti B A merupakan prioritas lebih dari B
f. Partisi Reachability Matrix ke level yang berbeda. g. Berbasis hubungan di atas, directed graph (digraph)
digambar dan tautan transitif dihilangkan. h. Membangun model ISM dan memeriksa
ketidakkonsistenan konseptual (conceptual inconsistency), serta modifikasi yang diperlukan. Model ISM final disajikan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Langkah fundamental pengembangan model ISM
Warfield (1974) mengembangkan metodologi berkenaan dengan penggunaan aplikasi sistematis dari beberapa gagasan dasar teori grafik (graph theory) dan aljabar Boolean, sedemikian rupa sehingga ketika diimple-
36
mentasikan dalam mode interaktif manusia/mesin (man/machine interactive mode), teoritis, konseptual dan daya ungkit komputasi, dapat dimanfaatkan untuk membangun directed graph (representasi dari hirarkis struktur sistem). Metodologi ini memiliki, setidaknya dua sifat yang diinginkan jika dibandingkan dengan pendekatan lain, yaitu (a) kesederhanaan (simplicity) dalam arti tidak membutuhkan, misalnya sudut pandang pengetahuan matematik unggul (advance mathematical knowledge) dari pengguna dan (b) efisiensi, utamanya dalam hal penghematan waktu komputasi (Ochuchi et al., 1986). Berbagai langkah dalam pemodelan ISM adalah sebagai berikut. a. Mengidentifikasi unsur-unsur yang relevan dengan
masalah yang dipertimbangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan teknik survei atau pemecahan masalah kelompok (group problem solving).
b. Membangun hubungan kontekstual antar elemen berkenaan dengan pasang elemen (pairs of elements) yang akan diperiksa.
c. Mengembangkan Structural Self-Interaction Matrix (SSIM) dari elemen. Matriks ini menunjukkan hubungan berpasangan (pairwise relationship) antara elemen sistem. Matriks ini perlu diperiksa transitivitasnya.
d. Mengembangkan Reachability Matrix dari SSIM. e. Partisi Reachability Matrix ke level yang berbeda. f. Mengkonversi Reachability Matrix ke bentuk conical. g. Menggambar digraph berbasis pada hubungan dalam
Reachability Matrix dan menghapus link transitif.
37
h. Mengkonversi digraph yang dihasilkan menjadi model berbasis ISM dengan mengganti node elemen dengan pernyataan (statements).
i. Review model untuk memeriksa conceptual inconsistency dan membuat modifikasi yang diperlukan.
Enam langkah yang mengarah pada pengem- bangan model ISM, diilustrasikan dengan jelas oleh Attri et al. (2013) (Gambar 3.2).
Step 1: Structural Self-Interaction Matrix (SSIM)
Metodologi ISM mengusulkan penggunaan opini pakar (expert opinions) berbasis berbagai teknik manajemen, seperti brain storming dan nominal group technique dalam mengembangkan hubungan kontekstual antar variabel (Ravi et al., 2005; Barve et al., 2007; Hasan et al., 2007). Untuk tujuan tersebut, para pakar, baik industriawan maupun akademisi harus berkonsultasi untuk mengidentifikasi sifat hubungan kontekstual antar faktor. Para industriawan dan akademisi harus fasih dengan masalah yang dipertimbangkan. Untuk menganalisis faktor, hubungan kontekstual leads to atau influences harus dipilih. Ini berarti bahwa salah satu faktor mempengaruhi faktor lain.
Atas dasar ini, dikembangkan hubungan kontekstual antar faktor-faktor yang diidentifikasi. Berikut ini empat simbol yang digunakan untuk menunjukkan arah hubungan antara dua faktor (i dan j).
38
38
39
a. V untuk hubungan dari faktor i ke faktor j (faktor i akan mempengaruhi faktor j).
b. A untuk hubungan faktor j ke faktor i (faktor i akan dipengaruhi oleh faktor j).
c. X untuk hubungan dua arah (faktor i dan j akan mempengaruhi satu sama lain).
d. O untuk tidak ada hubungan antar faktor (faktor i dan j tidak berhubungan).
Berdasarkan hubungan kontekstual terse- but, SSIM dikembangkan. Untuk mendapatkan konsensus, SSIM harus dibahas lebih lanjut oleh kelompok pakar (group of experts). Atas dasar tanggapan para pakar tersebut, SSIM dapat diselesaikan.
Step 2: Reachability Matrix
Langkah berikutnya dalam ISM adalah mengembangkan initial reachability matrix dari SSIM. Untuk ini, SSIM diubah menjadi initial Reachability Matrix dengan menggantikan empat simbol (V, A, X, atau O) dari SSIM dengan 1 atau 0 dalam initial Reachability Matrix.Aturan untuk substitusi ini adalah sebagai berikut. a. Jika entri (i, j) dalam SSIM adalah V, maka
entri (i, j) dalam reachability matrix menjadi 1 dan entri (j, i) menjadi 0.
b. Jika entri (i, j) dalam SSIM adalah A, maka entri (i, j) dalam matriks menjadi 0 dan entri (j, i) menjadi 1.
40
c. Jika entri (i, j) dalam SSIM adalah X, maka entri (i, j) dalam matriks menjadi 1 dan entri (j, i) menjadi 1.
d. Jika entri (i, j) dalam SSIM adalah O , maka entri (i, j) dalam matriks menjadi 0 dan entri (j, i) menjadi 0.
Mengikuti aturan-aturan ini, initial Reachability Matrix disiapkan. Entri 1* dimasukkan untuk menyertakan transitivitas guna mengisi kesenjangan (jika ada) dalam pengumpulan opini selama pengembangan Structural Self-Instruct- ional Matrix (SSIM). Setelah menyertakan konsep transitivitas, diperoleh final Reachability Matrix.
Step 3: Level partitions
Dari final Reachability Matrix untuk setiap faktor, diperoleh set reachability dan set anteseden. Set reachability terdiri atas faktor itu sendiri dan faktor lain yang mungkin mempengaruhi, sedangkan set anteseden terdiri atas faktor itu sendiri dan faktor lain yang dapat mempeng- aruhinya. Selanjutnya, diperoleh interseksi set untuk semua faktor dan ditentukan level faktor yang berbeda. Faktor-faktor dengan reachability dan interseksi set yang sama menempati top level dalam hirarki ISM. Faktor top-level adalah faktor- faktor yang tidak akan menggerakkan faktor- faktor lain di atas level faktor top-level itu sendiri dalam hirarki. Setelah faktor top-level teridentifikasi, maka akan dihapus dari pertim-
41
bangan. Kemudian, proses yang sama diulang untuk mengetahui faktor-faktor pada level berikutnya. Proses ini berlanjut sampai level masing-masing faktor ditemukan. Level tersebut membantu membangun diagraph dan model ISM.
Step 4: Conical matrix
Conical Matrix dikembangkan dengan cara clustering faktor pada tingkat yang sama lintas baris dan kolom dari final Reachability Matrix. Drive power faktor diperoleh dengan menjumlahkan angka satu pada baris sedangkan dependence power dengan menjumlahkan angka satu pada kolom (Raj et al., 2012; Attri et al., 2012a; Attri et al., 2012b). Selanjutnya, peringkat drive power dan dependence power dihitung dengan memberikan peringkat tertinggi untuk faktor-faktor yang memiliki jumlah maksimum angka satu pada baris dan kolom.
Step 5: Digraph
Berbasis bentuk conical dari Reachability Matrix, diperoleh digraph awal, termasuk link transitif. Hal ini dihasilkan oleh node dan garis (Raj dan Attri, 2011).
Setelah menghapus tautan (link) tidak langsung, dikembangkan digraph final. Digraph mewakili elemen-elemen dan interdependensinya dalam node dan garis atau dengan kata lain digraph adalah representasi visual dari elemen-
42
elemen dan interdependensinya (Raj dan Attri, 2010; Dev et al., 2012). Dalam perkembangan ini, faktor top level diposisikan di atas digraph dan faktor second level ditempatkan pada posisi kedua dan seterusnya, sampai ke bottom level yang ditempatkan pada posisi terendah dalam digraph.
Step 6: ISM Model
Digraph diubah menjadi model ISM dengan mengganti simpul (node) faktor dengan pernyataan (statement).
Keunggulan pendekatan ISM
untuk mempertimbangkan semua kemung- kinan pasangan hubungan (all possible pairwise relations) elemen sistem, baik secara langsung dari respons partisipan maupun dengan inferensi transitif.
b. Prosesnya efisien. Tergantung konteksnya, penggunaan inferensi transitif dapat mengurangi jumlah relational queries yang dibutuhkan sebesar 50%-80%.
c. Tidak ada pengetahuan tentang proses yang mendasarinya yang diperlukan dari kelompok peserta. Mereka hanya perlu memiliki pemahaman yang cukup tentang sistem objek untuk merespon serangkaian pertanyaan
43
relasional (relational queries) yang dihasilkan oleh komputer.
d. Memandu dan mencatat hasil musyawarah kelompok pada isu-isu kompleks dengan cara yang efisien dan sistematis.
e. Menghasilkan model terstruktur atau representasi grafis dari situasi masalah original yang dapat dikomunikasikan secara lebih efektif kepada orang lain.
f. Meningkatkan kualitas komunikasi inter- disipliner dan interpersonal dalam konteks situasi masalah dengan memfokuskan perhatian partisipan pada satu pertanyaan tertentu pada suatu waktu.
g. Mendorong analisis masalah dengan memungkinkan peserta mengeksplorasi kecukupan daftar yang diusulkan dari elemen sistem atau pernyataan masalah untuk menjelaskan situasi tertentu.
h. Berfungsi sebagai alat pembelajaran dengan memaksa partisipan untuk mengembangkan pemahaman dalam arti dan makna dari daftar elemen tertentu dan hubungannya.
i. Memungkinkan aksi atau analisis kebijakan dengan membantu peserta mengidentifikasi area tertentu untuk aksi kebijakan yang menawarkan keunggulan atau daya ungkit (advantages or leverage) untuk mencapai tujuan yang ditentukan.
44
Mungkin ada banyak variabel untuk masalah atau isu kompleks. Peningkatan jumlah variabel untuk masalah atau isu tersebut meningkatkan kompleksitas metodologi ISM. Jadi kita perlu dilakukan pembatasan jumlah (limited number) variabel dalam pengembangan model ISM. Variabel yang diyakini kurang mempengaruhi masalah atau isu tidak dipertimbangkan dalam pengembangan model ISM. Diperlukan bantuan ahli dalam menganalisis kekuatan variabel driving dan dependence dari masalah atau isu yang dihadapi. Model ini secara statistik tidak divalidasi. Structural Equation Modeling (SEM) yang dikenal sebagai pendekatan hubungan struktural linear memiliki kemampuan pengujian validitas model hipotetis seperti itu.
MICMAC
Matrice d’Impacts Croises-Multiplication Appliqúe an Classment (cross-impact matrix multiplication applied to classification) dan disingkat sebagai MICMAC. Tujuan analisis MICMAC adalah untuk menganalisis kekuatan drive power dan dependence berbagai faktor. Prinsip MICMAC berbasis pada sifat perkalian matriks (Sharma et al., 1995). Hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang meng- gerakan sistem dalam berbagai kategori. Berdasarkan kekuatan drive power dan depend-
45
ence, faktor-faktor diklasifikasikan ke dalam empat kategori, yaitu (a) autonomous factors, (b) linkage factors, (c) dependent factors, dan (d) independent factors dengan penjelasan sebagai berikut. a. Autonomous factors. Faktor-faktor ini memiliki
kekuatan drive power lemah dan daya dependence lemah. Faktor-faktor ini relatif terputus dari sistem. Faktor-faktor tersebut memiliki sedikit link, tetapi mungkin sangat kuat.
b. Linkage factors. Faktor-faktor ini memiliki drive power yang kuat serta dependence yang kuat pula. Faktor-faktor ini tidak stabil (unstable). Setiap aksi terhadap faktor ini akan memiliki efek pada yang lainnya dan efek umpan-balik (feedback effect) pada faktor itu sendiri.
c. Dependent factors. Faktor-faktor ini memiliki drive power lemah tetapi dependence yang kuat.
d. Independent factors. Faktor-faktor ini memiliki drive power yang kuat tetapi dependence lemah. Faktor dengan drive power yang sangat kuat (a.k.a key factor) termasuk dalam kategori faktor independent.
46
Upaya yang sistematis telah dilakukan untuk meninjau literatur secara kritis dalam rangka penggelaran ISM dalam berbagai bidang. Meskipun survei literatur yang dilakukan belum memadai (not exhaustive), kegiatan tinjauan literatur tersebut berfungsi meletakkan dasar- dasar yang kuat dan panduan yang jelas bagi pengambilan keputusan dalam mengembangkan, mendefinisikan, dan mengidentifikasi research gap/agenda atau knowledge work terkait aplikasi metodologi ISM secara sistematis dan meyakin- kan.
Buku ini mengulas literatur terseleksi, mulai dari literatur klasik sampai yang terbaru dalam aplikasi ISM. Tinjauan literatur meng- ungkapkan bahwa hanya sedikit literatur komprehensif tentang aplikasi Interpretive Structural Modeling (ISM) yang tersedia Shahabadkar. Kerangka tinjauan literatur disajikan pada Gambar 4.1. Tujuan utama dari tinjauan literatur ini adalah untuk mendaftar, mengklasifikasikan, dan mengkaji literatur untuk aplikasi metodologi ISM, utamanya dalam bidang manajemen yang dapat dilacak dan diringkas. Aplikasi ISM dalam Literatur lintas klasifikasi aplikasinya, penulis dan tahun publikasi, serta isu strategis disajikan pada Tabel 4.1.
47
47
48
Tabel 4.1. Aplikasi ISM dalam literatur lintas klasifikasi, penulis dan tahun publikasi, serta isu strategis
Klasifikasi Penulis dan tahun publikasi
Isu strategis yang diangkat
Linstone et al. (1979)
ISM merupakan alat yang tepat untuk pemodelan ketika variabel-variabel bersifat subjektif.
Lendris (1980)
ISM adalah alat yang potensial untuk pemodelan sistem untuk sejumlah besar variabel.
ISM pada manajemen vendor
Thakkar et al. (2008)
49
Isu strategis yang diangkat
Mohammed et al. (2008)
Mengembangkan road map intervensi untuk menciptakan rantai nilai yang flex-lean- agile melalui outsourcing.
Yan dan Kafeng (2002)
Anukul dan Dashmukh (1994)
Lin et al. (2011)
ISM digunakan untuk memberikan pemahaman tentang keterkaitan kausal di dalam kerangka evaluasi kinerja vendor yang rumit. Penelitian ini dilakukan untuk industri semikonduktor Taiwan.
ISM pada manajemen risiko Udayana (2010)
Pendekatan ISM digunakan untuk pemodelan manajemen risiko agroindustri biodiesel berbasis kelapa sawit.
Faisal et Mengkaji manajemen risiko dalam rantai
50
Isu strategis yang diangkat
Pendekatan berbasis ISM digunakan untuk memodelkan hal-hal yang menggerakan dan menghambat mitigasi risiko rantai pasok.
Devinder dan Shankar (2006)
Khurana et al. (2010)
Thakkar dan Deshmukh (2008)
ISM diaplikasikan untuk memastikan adopsi dan implementasi penggerak SI/TI pada UKM di India.
Sarmah et al. (2006)
51
Isu strategis yang diangkat
Aplikasi metodologi ISM untuk mengidentifikasi penghambat dalam menggerakan SI/TI rantai pasokan untuk industri besar seperti, auto industri, FMCG, dan industri proses.
Jharkharia dan Shankar (2004)
ISM pada pengukuran kinerja rantai pasok
Charan et al.(2008)
52
Isu strategis yang diangkat
Pendekatan berbasis ISM digunakan untuk model reverse logistics pada rantai pasok hardware komputer.
ISM pada rantai pasok industri jasa
Pramod dan Banwet (2010)
Joshi et al. (2009)
Penggunaan ISM untuk memodelkan penghambat rantai dingin untuk perishable goods di India.
ISM pada integrasi rantai pasok
Singh (2011) Pemodelan struktural interpretif digunakan untuk pemodelan penggerak koordinasi dalam rantai pasok.
ISM pada manajemen limbah
Sharma et al. (1995)
53
Isu strategis yang diangkat
dibutuhkan untuk mencapai tujuan masa depan pengelolaan limbah di India.
ISM pada industri jasa Gorvett dan Liu (2007)
Pendekatan berbasis ISM digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur risiko interaktif pada perusahaan asuransi.
ISM pada manajemen pendidikan
ISM pada manajemen projek Ahuja et al. (2009)
Pendekatan berbasis ISM digunakan untuk memodelkan manfaat kolaboratif adopsi SI/TI untuk manajemen projek.
ISM pada bisnis outsourcing software
Wang (2015)
ISM pada bisnis perbankan Salimifard et al. (2010)
ISM digunakan untuk pemodelan dan menganalisis hubungan antar faktor
54
Isu strategis yang diangkat
ISM untuk manajemen risiko dalam projek kemitraan pemerintah- swasta
Iyer dan Sagheer (2010)
Pendekatan berbasis ISM digunakan untuk manajemen risiko pada projek kemitraan antara pemerintah-swasta.
ISM untuk implementasi six-sigma
Soti et al. (2010)
ISM pada industri pangan Sagheer et al.(2009)
ISM digunakan untuk mengidentifikasi dan memantapkan hubungan antar faktor- faktor penting yang mempengaruhi kepatuhan standar dan level pengaruhnya dalam industri pangan di India.
55
Isu strategis yang diangkat
Hasan et al. (2008)
ISM untuk konservasi energi Saxena et al. (1992a)
ISM diaplikasikan untuk pemodelan variabel konservasi energi pada industri semen di India.
ISM pada proses inovasi Yrd D (2010)
ISM diaplikasika untuk pemodelan dan membentuk hubungan antar penghalang yang dihadapi dalam proses inovasi. Model yang dikembangkan akan membantu dalam mengatasi penghambat inovasi di Turki.
ISM pada manajemen pengetahuan
Singh et al. (2003)
Reza et al. (2010)
56
Isu strategis yang diangkat
ISM pada manajemen ekowisata mangrove
Darmawan (2009)
Aplikasi ISM untuk manajemen kawasan ekowisata mangrove dalam rangka pengelolaan sumberdaya pesisir berke- lanjutan.
Darmawan dan Putradi (2010)
ISM pada manajemen kinerja agroindustri sapi potong
Olviana et al. (2014)
Sistem pemasaran sayuran Sarjana (2007)
ISM digunakan untuk membuat struktur sistem pemasaran agribisnis sayuran daerah dingin.
ISM untuk pengembangan kawasan agropolitan
Negara (2006) ISM diaplikasikan untuk pemodelan kawasan agropolitan.
57
Isu strategis yang diangkat
Sa’diyah (2009)
ISM untuk program community development wilayah pesisir
Permana (2010)
ISM untuk daya tahan bisnis koperasi
Susilowati et al. (2015)
58
Perkembangan terkini dalam sistem pengukuran kinerja (performance measurement system) menunjukkan bahwa organisasi perlu mengem- bangkan sebuah manajemen pengukuran kinerja dalam wujud peta strategi (strategy maps) (Thurstone, 1959; Kaplan dan Norton, 2002; Olviana, 2015) dan mendefinisikan hubungan antar unsur penggerak (drivers) menggunakan data pengukuran kinerja historis (Rucci et al., 1998; Najjar dan Neely, 1998). Di sini, seorang manajer diberikan satu set pengungkit untuk mengelola organisasi. Keyakinan terhadap unsur pengungkit (lever)/penggerak (driver) ditingkatkan melalui pengembangan hubungan logis (logical relationships) antar indikator/variabel berdasar- kan pengalaman dan intuisi (experience and intuitions) dari seorang manajer. Pada bagian ini, dikembangkan hubungan antar tujuan organisasi dengan menggunakan metodologi ISM yang mengarah pada identifikasi berbagai ukuran kinerja.
Tujuan strategis organisasi Pasar Lelang Agricultural Produce Bali Indonesia yang diinisiasi PUM Netherlands Senior Experts bekerjasama dengan Magister Agribisnis Universitas Udayana (Tabel 5.1, kolom 3), sebagai kasus real life company, tidak independen satu sama lain.
59
Misalnya, motivasi tinggi outlet penjualan dapat lebih meningkatkan penjualan dan pada gilirannya dapat meningkatkan pangsa pasar. Demikian pula, manajemen kualitas yang tepat pada berbagai tingkatan rantai pasok akan mengarah pada kualitas layanan terhadap pelanggan yang lebih baik dan hal tersebut dapat memperbesar pangsa pasar.
Tabel 5.1. Visi, misi, dan tujuan organisasi
Visi Misi Tujuan (1) (2) (3)
Ekspansi bisnis melalui peningkatan layanan kepada pelanggan dan integrasi formasi rantai pasok yang tepat
Mengefektifkan fungsi rantai pasok dengan memotivasi produsen, outlet penjualan dan mempekerjakan kontraktor (third party logistics) yang handal
1. Memulihkan investasi mesin dan infrastruktur melalui peningkatan pertumbuhan penerimaan
2. Meningkatkan layanan kepada pelanggan melalui aliran kontinyu produk dengan kualitas lebih baik dan harga stabil yang logis dan terjangkau (affordable and reasonably stable prices)
3. Memotivasi dan mengidentifikasi sumber produsen baru
4. Memantapkan hubungan jangka panjang dengan
60
produsen 5. Memotivasi para
6. Mempertahankan dan memantau kualitas pada setiap level rantai pasok (produsen, prosesor, dan pelanggan)
7. Memotivasi pemerintah untuk memperluas dan menumbuhkan sektor yang membidangi organisasi itu
8. Memperluas bisnis di luar wilayah organisasi
9. Memantapkan kontrak jangka panjang dengan kontraktor baru (third party logistics)
10. Memotivasi SDM outlet penjualan untuk lebih meningkatkan penjualan produk
11. Meningkatkan pangsa pasar
61
dan infrastruktur 13. Meningkatkan fungsi
pemasaran dalam rangka membangun brand image di pasar
Jadi ada hubungan "mengarah ke" (leads to) di antara tujuan-tujuan tersebut. Pemahaman manajer terhadap hubungan ini sangat membantu dalam menghasilkan ukuran kinerja yang tepat melalui diagram sebab dan akibat (cause and effect diagram). Upaya pertama (first attempt) yang dilakukan untuk menganalisis hubungan antar tujuan strategis organisasi adalah dengan menggunakan metodologi ISM.
Interpretive Structural Modeling (ISM) adalah metodologi untuk mengidentifikasi dan meringkas hubungan antar tujuan-tujuan strategis (strategic objectives) tertentu yang menentukan isu-isu atau masalah. ISM menyediakan sarana bagi para manajer untuk membuat permasalahan yang kompleks menjadi terstruktur. Dengan ISM, kelompok pakar dimungkinkan memastikan urutan dalam kerumitan performance indicator items (Mandal dan Deshmukh, 1994). ISM menyediakan berbagai keuntungan berikut. a. Mencakup penilaian subjektif (subjective
judgments) para pakar berbasis nilai,
62
keyakinan, minat, dan persepsi mereka dengan cara yang paling sistematis.
b. Memberikan kesempatan untuk melakukan revisi penilaian.
c. Upaya komputasi yang dilibatkan sedikit, (berkisar antara 10-15 variabel) dan merupakan alat yang bermanfaat untuk aplikasi kehidupan nyata (real life applications).
Beberapa artikel berharga dari teknik ISM ini telah dilaporkan pada tinjauan literatur (Saxena et al., 1992; Mandal and Deshmukh, 1994; Sharma et al. 1995; Singh et al., 2003; Singh et al., 2008). Prosedur langkah demi langkah (step-by-step) untuk mengembangkan sebuah model ISM, meliputi (a) Structural Self- Interaction Matrix (SSIM), (b) Reachability Matrix (RM), (c) Klasifikasi kriteria, (d) Level Partition dan Conical Matrix, serta (e) pengembangan digraph dan formasi ISM.
Structural Self-Interaction Matrix (SSIM)
Untuk menganalisis tujuan-tujuan yang diguna- kan untuk pengembangan ukuran-ukuran dan pembobotannya, dipilih jenis hubungan konteks- tual "mengarah ke" (leads to) yang berarti bahwa satu variabel mengarah ke yang lain. Dengan mengingat hubungan kontekstual setiap variabel, selanjutnya dapat ditanyakan bagaimana eksistensi hubungan antara dua sub-variabel (i
63
dan j) dan arah hubungan tersebut. Simbol VAXO digunakan untuk menggambarkan hubungan kontekstual antar dua variabel (Warfield, 1976) (Tabel 5.2).
Tabel 5.2. Hubungan kontekstual variabel “mengarah ke”
V untuk hubungan dari i ke j tetapi tidak untuk kedua arah
A untuk hubungan dari j ke i tetapi tidak untuk kedua arah
X untuk kedua arah, hubungan dari i ke j dan j ke i O jika tidak muncul hubungan yang valid antara
variabel
Reachability Matrix (RM)
Berdasarkan hubungan kontekstual ini, melalui proses manajemen interaktif, dikembangkan SSIM awal (initial SSIM) (Gambar 5.1). SSIM yang telah memenuhi aturan transitivitas dikonversi menjadi matriks biner (binary matrix) disebut dengan initial Reachability Matrix (RM) (Gambar 5.2), dengan mengganti kode VAXO dengan angka 1 dan 0. Kemudian, diperiksa ketransitifannya (artinya, jika elemen i mengarah ke elemen j dan elemen j mengarah ke elemen k, maka elemen i harus mengarah ke elemen k (Mandal dan Deshmukh, 1994) dan Reachability Matrix akhir (Final Reachability Matrix) yang diperoleh disajikan pada Gambar 5.3.
64
Gambar 5.2. Initial Reachability Matrix
64
Gambar 5.2. Initial Reachability Matrix
65
Kriteria Klasifikasi
Berbagai tujuan diklasifikasikan menjadi empat sektor (Mandal dan Deshmukh 1994, Warfield, 1976), yaitu Autonomous, Dependent, Linkage, dan Independent (ADLI) berdasarkan daya penggerak dan dependensi (driver power and dependence). Driver Power-Dependence Matrix (DP-D Matrix) disajikan pada Gambar 5.4 dengan penjelasan sebagai berikut. a. Autonomous, artinya variabel di sektor ini
umumnya tidak berkaitan dengan sistem dan mungkin mempunyai hubungan kecil meskipun hubungan tersebut bisa saja kuat.
b. Dependent merupakan variabel weak driver strongly dependent. Variabel pada sektor ini pada umumnya tidak bebas.
65
Kriteria Klasifikasi
Berbagai tujuan diklasifikasikan menjadi empat sektor (Mandal dan Deshmukh 1994, Warfield, 1976), yaitu Autonomous, Dependent, Linkage, dan Independent (ADLI) berdasarkan daya penggerak dan dependensi (driver power and dependence). Driver Power-Dependence Matrix (DP-D Matrix) disajikan pada Gambar 5.4 dengan penjelasan sebagai berikut. a. Autonomous, artinya variabel di sektor ini
umumnya tidak berkaitan dengan sistem dan mungkin mempunyai hubungan kecil meskipun hubungan tersebut bisa saja kuat.
b. Dependent merupakan variabel weak driver strongly dependent. Variabel pada sektor ini pada umumnya tidak bebas.
66
c. Linkage adalah variabel strong driver-strongly dependent. Variabel pada sektor ini harus dikaji secara hati-hati sebab hubungan antar variabel tidak stabil. Artinya, setiap tindakan pada variabel tersebut akan berdampak terhadap variabel lainnya dan umpan-balik pengaruhnya dapat memperbesar dampak tersebut.
66
c. Linkage adalah variabel strong driver-strongly dependent. Variabel pada sektor ini harus dikaji secara hati-hati sebab hubungan antar variabel tidak stabil. Artinya, setiap tindakan pada variabel tersebut akan berdampak terhadap variabel lainnya dan umpan-balik pengaruhnya dapat memperbesar dampak tersebut.
67
d. Independent merupakan variabel Strong Drive- Weak Dependent. Variabel pada sektor ini merupakan bagian sisa dari sistem dan disebut variabel bebas.
Level Partisi dan Matriks Conical
Dari matriks reachability, ditemukan set reachability dan set antecedent (Warfield, 1976, 1994, dan 1995) untuk masing-masing tujuan. Set reachability terdiri atas elemen itu sendiri dan elemen-elemen lain yang mungkin dicapai, sedangkan set antecedent terdiri atas elemen- elemen itu sendiri dan elemen-elemen lain yang mungkin dicapai. Kemudian, dibuat interseksi set tersebut untuk semua elemen. Elemen-elemen dipertimbangkan sebagai elemen top-level ketika himpunan reachability dan interseksi adalah sama. Secara fisik, elemen-elemen top-level hirarki tidak akan mencapai lebih tinggi dari levelnya sendiri. Untuk mendapatkan elemen level berikutnya, elemen top-level dipisahkan dari elemen-elemen lain dan proses yang sama diulang. Seluruh proses partisi didasarkan atas pembentukan hubungan precedence dan pengaturan elemen-elemen menurut topologi (Thakkar et al., 2005). Akhirnya, reachability matrix dikonversi menjadi format conical (lower triangular) dengan menyusun elemen-elemen menurut level masing-masing.
68
Pengembangan Digraph dan Pembentukan ISM
Dari matriks kanonik, dihasilkan model struktural dengan teknik Vertices or Nodes and Lines of Edges. Jika ada hubungan antara elemen i dan j akan ditunjukkan oleh tanda panah (arrow) yang menunjuk dari i ke j. Grafik ini disebut directed graph (digraph) (Gambar 5.5). Selanjutnya, deskripsi elemen atau tujuan-tujuan strategis ditulis dalam digraph dan disebut ISM (Gambar 5.6).
Gambar 5.5. Pengembangan directed graph (digraph)
68
Pengembangan Digraph dan Pembentukan ISM
Dari matriks kanonik, dihasilkan model struktural dengan teknik Vertices or Nodes and Lines of Edges. Jika ada hubungan antara elemen i dan j akan ditunjukkan oleh tanda panah (arrow) yang menunjuk dari i ke j. Grafik ini disebut directed graph (digraph) (Gambar 5.5). Selanjutnya, deskripsi elemen atau tujuan-tujuan strategis ditulis dalam digraph dan disebut ISM (Gambar 5.6).
Gambar 5.5. Pengembangan directed graph (digraph)
69
69
70
menunjukkan bahwa tujuan strategis (strategic objective¸ SO) mendorong pemerintah membuat regulasi (tujuan 7) adalah kriteria kunci (a.k.a key element) dengan kekuatan daya penggerak maksimal. Selanjutnya, tujuan memotivasi dan mengidentifikasi sumber produsen baru (tujuan 3). Organisasi bekerja di bawah pengawasan langsung dari pemerintah. Ketidakpastian politik dan komunikasi yang buruk acap kali menunda pelaksanaan inisiatif baru dan oleh karenanya perlu dibangun strategi komunikasi yang tepat dengan pemerintah dan dinas terkait.
b. Driver Power-Dependence Matrix (Gambar 5.4) mengilustrasikan tujuan strategis pemanfaatan mesin dan fasilitas yang lebih baik (tujuan 12) dan tujuan memotivasi outlet penjualan (10) adalah variabel Autonomous dalam daftar tujuan organisasi. Aspek-aspek ini berada dalam kendali langsung organisasi dan hanya membutuhkan pemantauan berkala dan peninjauan ukuran kinerja untuk mempra- karsai tindakan korektif pada saat yang tepat.
71
c. Variabel-variabel Dependent, meliputi tujuan strategis memulihkan investasi (tujuan 1), meningkatkan layanan pelanggan (tujuan 2), ekspansi bisnis (8), hubungan jangka panjang dengan kontraktor (9), dan meningkatkan pangsa pasar (tujuan 11). Atribut ini adalah penggerak yang lemah (weak driver) tetapi sangat dependen. Isu ini menentukan profitabilitas jangka panjang dan pertumbuhan organisasi. Perhatian yang tidak tepat pada variabel ini menyebabkan berbagai efek samping, seperti citra buruk pasar, saluran distribusi terganggu, layanan pelanggan yang kurang memuaskan, dan terbatasnya pertumbuhan bisnis.
d. Tidak ada variabel Linkage diidentifikasi dan tidak ditemukan variabel penyebab kerusakan yang tidak dapat diprediksi pada sistem.
e. Variabel memotivasi produsen (tujuan 3), hubungan jangka panjang dengan produsen (tujuan 4), rantai pasok yang kontinyu (5), menjaga dan memantau kualitas (6), mendorong pemerintah membuat regulasi (7), dan meningkatkan fungsi pemasaran (tujuan 13) adalah penggerak yang kuat (strong driver). Variabel yang mengkondisikan seluruh sistem seperti ini disebut dengan variabel penggerak sistem (driver) atau variabel Independent.
Tujuan strategis Dependent (tujuan 1, 2, 8, 9, dan 11) muncul di bagian atas hirarki ISM (top
72
of ISM hierarchy) dan tujuan-tujuan itu penting untuk mempertahankan business performance status quo.
Tujuan-tujuan strategis Driver (tujuan 3, 4, 5, 6, 7, dan 13) muncul di dasar hirarki (base of hierarchy). Tujuan-tujuan strategis tersebut perlu diukur untuk pertumbuhan futuristik. Variabel- variabel driver juga meningkatkan kualitas dan menghasilkan kesadaran yang lebih besar tentang potensi produk di pasar.
Tujuan strategis driver perlu diukur lebih sering. Jika hubungan sebab dan akibat antara leading indicator (driver/independent) dan lagging indicator (dependent) yang diharapkan tidak dapat diamati, perlu dilakukan penyesuaian terhadap variabel driver, dan/atau inisiatif yang difokuskan pada variabel driver. Dalam hal ini, variabel driver adalah variabel yang lebih dinamis (more dynamic) dan bersifat relatively temporary.
Informasi lebih lanjut tentang hal ini dilaporkan oleh van Aken dan Garry (2002). Pengembangan ISM untuk tujuan organisasi memberikan perspektif baru pada hubungan antar tujuan-tujuan strategis yang berbeda (different strategic objectives). Pengembangan ISM untuk tujuan organisasi menambah wawasan (insights) tentang hubungan antar tujuan-tujuan yang berbeda.
73
Hybrid approach Sejumlah studi kasus melaporkan fakta bahwa organisasi telah berupaya menghasilkan ukuran kinerja dari strategi berdasarkan cause-and-effect reasoning, tetapi klaim hubungan antar strategi dan ukuran kinerja dalam analisis tampaknya masih lemah (Malmi, 2001). Pada bagian ini diinisiasi dasar pengintegrasian tujuan strategis organisasi dan pengidentifikasian ukuran kinerja untuk pengembangan balanced scorecard (BSC).
Olviana et al. (2015) mengusulkan penggunaan pendekatan inovatif (innovative approach) untuk pengembangan sistem pengukuran kinerja (development of performance measurement system) dan memberikan kerangka balanced scorecard (workable framework of balanced scorecard). Pendekatan ini merangkum filosofi peta strategi (encapsulates the philosophy of strategy maps) menggunakan pendekatan terintegrasi Interpretive Structural Modeling (ISM) dan Analytic Network Process (ANP) (hybrid approach). Pendekatan baru ini merupakan campuran pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mix of quantitative and qualitative approach) untuk kasus kehidupan nyata kinerja agroindustri.
Hasil model ISM digunakan sebagai masukan untuk model Analytic Network Process (ANP) (dengan software Super Decisions sebagai pendukungnya) untuk merekayasa peta strategis
74
Gambar 5.7. Pendekatan terintegrasi ISM dan ANP
ANP merupakan sebuah pendekatan relatif baru dalam sistem Multiple Criteria Decision Making (MCDM) (Lee dan Kim, 2000). ANP memungkinkan pengambil keputusan memasuk- an seluruh faktor dan kriteria, baik yang kasat
74
Gambar 5.7. Pendekatan terintegrasi ISM dan ANP
ANP merupakan sebuah pendekatan relatif baru dalam sistem Multiple Criteria Decision Making (MCDM) (Lee dan Kim, 2000). ANP memungkinkan pengambil keputusan memasuk- an seluruh faktor dan kriteria, baik yang kasat
75
mata maupun tidak, yang memiliki peran penting untuk menghasilkan keputusan terbaik (Meade dan Sarki, 1999; Saaty, 2006).
ANP memungkinkan adanya interaksi dan feedback elemen-elemen, baik dalam klaster itu sendiri (inner dependence) maupun antar klaster (outer dependence) (Harrell et al., 2003; Astiti et al., 2014). Feedback seperti ini mampu menang- kap dengan baik pengaruh rumit interaksi dalam masyarakat, terlebih lagi ketika melibatkan risiko dan ketidakpastian (Niemira dan Saaty, 2004).
Peta strategi
Digraph hubungan driver-dependent antar tujuan strategis (strategic objective) yang dihasilkan model ISM digunakan sebagai input untuk menyusun peta strategi (strategy map) pada model ANP. Strategy maps mengandung jejaring tujuan strategis yang memiliki hubungan dependensi dan umpan-balik (feedback), baik inter sebuah perspektif ukuran kinerja (inner dependence) maupun antar perspektif ukuran kinerja (outer dependence). Peta strategi yang diusulkan merupakan inisiatif yang relatif baru dalam merancang sistem pengukuran kinerja di Indonesia. Peta strategis hasil integrasi model ISM dan model ANP terkontrol melalui mekanisme yang cukup matang untuk pengembangan sistem pengukuran kinerja yang efisien.
76
Peta strategi pengembangan yang diusulkan oleh organisasi mempunyai ciri khas sebagai berikut. a. Mendemostrasikan secara visual penggunaan
pendekatan inovatif untuk mengembangkan sistem atau manajemen pengukuran kinerja.
b. Meringkas filosofi peta strategi menggunakan pendekatan terintegrasi ISM dan ANP.
c. Peta strategi tersebut merupakan peta hubungan logis antar tujuan-tujuan strategis yang dikelompokkan ke dalam tujuan strategis driver dan dependence (disebut juga leading dan lagging indicators) dalam perspektif balanced scorecard.
d. Memberikan sebuah cara pandang terhadap prioritas scorecard dan fokus pada tujuan strategis kunci pengembangan organisasi.
Meskipun demikian, pendekatan terintegrasi yang diusulkan memiliki keterbatasan berkenaan dengan validitas peta strategis yang berisi hubungan logis antar tujuan-tujuan strategi jika diterapkan dalam lingkungan bisnis yang selalu berubah dalam jangka pendek (short-run future goal), utamanya jika terjadi perubahan yang bermakna dalam hal trend eksternal, kapabilitas internal, dan sumberdaya organisasi (Mason dan Mitroff, 1981). Eksistensi dari suatu proses evolusi manajemen kinerja organisasi membutuhkan adaptasi yang efektif dan penyesuaian program yang terus-menerus setiap kali terjadi perubahan
77
78
6. ISM DAN PERENCANAAN PROGRAM Analisis sistematis sebuah perencanaan program (program planning) secara menyeluruh (as a whole) penting dilakukan supaya implementasinya efektif dan bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, saat ini dan yang akan datang. Untuk tujuan itu, sebuah perencanaan program dibagi menjadi sembilan elemen, sebagaimana yang digambarkan oleh Hill dan Warfield (1972) sebagai berikut. a. Sektor kemasyarakatan yang terpengaruh (societal
sectors affected). b. Kebutuhan program (needs of the program). c. Kendala utama (major constraints). d. Perubahan yang dimungkinkan (alterables which
could be altered). e. Tujuan program (objectives of the program). f. Ukuran tujuan untuk mengevaluasi masing-masing
tujuan (objective measures to evaluate each objective). g. Kegiatan yang dibutuhkan untuk rencana aksi
(activities needed for the action plan). h. Ukuran kegiatan untuk mengevaluasi hasil yang
dicapai dari masing-masing kegiatan (activity measures to evaluate the results achieved from each activity).
i. Lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program (agencies involved in execution of the program).
Setiap elemen dibagi lagi menjadi beberapa subelemen yang dianggap memadai. Studi tentang keterkaitan perencanaan program (program planning
79
linkages) memberikan pemahaman menyeluruh (thorough understanding) tentang isu yang terlibat berkenaan dengan berbagai elemen yang dipertimbangkan, peran lembaga, dan apresiasi persoalan dan mengembangkan sebuah pendekatan terpadu (integrated approach) yang mengarah pada solusi yang lebih baik dan dapat diterima (better and acceptable solution). Namun demikian, keefektivitas metodologinya masih perlu dikembangkan karena pertimbangan adanya hubungan hirarkis antar berbagai subelemen dari sebuah elemen (Hawthrone et al., 1975; Waller,1980; Saxena et al., 1992 ).
Pemahaman tentang hirarki, driver power dan dependence, serta klasifikasi subelemen ke dalam berbagai kategori variabel yang mewakili karakteristik elemen program merupakan hal yang penting untuk mengapresiasi secara mendalam masalah rumit yang dihadapi. Interpretive Structural Modeling (ISM) menyediakan dasar untuk analisis seperti ini. Informasi yang tersedia dari analisis ini sangat berguna untuk menghasilkan rumusan kebijakan dan perencanaan strategi bisnis (policy formulation and business strategic planning) (Saxena et al., 1992; Sarkis, 1999).
ISM untuk program planning
Identifikasi struktur dalam sebuah sistem merupakan hal yang penting ketika para pengambil keputusan terlibat dengan sistem secara efektif dan mengambil keputusan yang lebih baik. Model struktural, mencakup matriks interaksi dan grafik (Warfield, 1973), intent
80
structures (Warfield, 1972 dan 1973b), delta charts (Warfield, 1971), dan signal flow graphs.
Model-model struktural tersebut masih minim interpretasi berkenaan dengan objek teramati atau sistem representasi. Interpretive Structural Modeling berkaitan dengan interpretasi sebuah objek atau representasi sistem menggunakan aplikasi iteratif sistematis dari teori grafik, menghasilkan sebuah directed graph untuk sistem yang kompleks dalam hubungan kontekstual tertentu antar satu set elemen.
Sage (1977) mendefinisikan Interpretive Structural Modeling sebagai proses yang mengubah model mental dari sistem (mental models of systems) yang tidak jelas dan diartikulasikan dengan buruk menjadi model yang jelas dan terdefinisikan yang bermanfaat bagi tujuan organisasi. Dengan menggunakan metodologi ISM, Sage (1977) mempresentasikan metodologi pengembangan hirarki antar elemen untuk hubungan kontekstual tertentu.
Namun demikian, metodologi tersebut tidak menyediakan informasi tentang variabel kunci (key variables) dan peringkat yang jelas (clear ranks) berbagai subelemen. Mengacu pada metodologi yang disarankan oleh Sage sebagai dasar untuk pengembangan hierarki antara elemen, selanjutnya dikembangkan hirarki antar subelemen.
81
Metodologi yang diusulkan (Gambar 6.1) memiliki dua bagian: (a) pengembangan hirarki dan (b) klasifikasi subelemen.
Pengembangan hierarki
Pemenuhan aturan transitivitas (transitivity rule) Reachability Matrix (dihasilkan dari SSIM) perlu diperiksa. Jika transitivity rule tidak terpenuhi, dilakukan peninjauan-ulang dan modifikasi SSIM oleh tim pakar dengan memberikan umpan-balik yang spesifik terkait hubungan transitif tersebut. Reachability Matrix yang telah direvisi (revised) diuji kembali pemenuhan aturan transitivitasnya. Proses ini diulang sampai Reachability Matrix memenuhi persyaratan aturan transitivitas. Reachability Matrix diubah ke dalam format Lower Triangular Reachability Matrix untuk mengembangkan digraph dan Interpretive Structural Model.
82
82
83
Reachability Matrix juga tergantung pada proses partisi level untuk menentukan level. Subelemen yang sesuai diatur pada level yang berbeda dan saling- terhubung dengan menghilangkan hubungan transitivitas. ISM yang dikembangkan mungkin memiliki siklus pada level tertentu dan umpan-balik lintas level antar subelemen.
Dalam keadaan normal, umpan-balik dan siklus dihilangkan untuk menghasilkan ISM, berbasis minimum edge digraph. Akan tetapi, hal yang sama harus dipertahankan dalam matriks jika tujuannya adalah untuk mempelajari lebih lanjut pengaruh hubungan tidak langsung antar subelemen. Oleh karena itu, metodologi di atas diadopsi dengan maksud untuk mempelajari hubungan tidak langsung (Saxena et al., 1989, 1990a, 1990b, dan 1992) sebagai perpanjangan dari studi hubungan langsung melalui ISM.
Tujuan bagian ini adalah untuk mendapatkan struktur masalah yang paling representatif dari sudut pandang pemahaman partisipan dalam hal subelemen aktual dari inklusi subelemen dummy untuk menghasilkan kerangka digraph hirarkis. Driver power subelement diperoleh dari jumlah aritmatik dari jumlah interaksi dalam baris dan dependence element dihasilkan dari jumlah aritmatik interaksi dalam kolom Reachability Matrix. Berdasarkan driver power dan dependence, ditentukan peringkat (rank) masing-masing subelemen. Peringkat driver-power mewakili hirarki antar subelement. Subelement peringkat pertama adalah
84
Klasifikasi subelemen
Berbagai subelemen dalam suatu elemen kemudian digambarkan dalam driver power-dependence matrix (Godet, 1985). Untuk tujuan klasifikasi subelemen, driver power-dependence matrix dibagi menjadi empat sektor berikut. a. Sector I: autonomous. Driver lemah dan variabel
dependen lemah (titik dekat origin); kelompok yang disebut autonomous variables. Variabel ini adalah faktor yang relatif terputus dari sistem (disconnected from the system); variabel ini hanya memiliki beberapa link, meskipun link ini bisa menjadi sangat kuat.
b. Sector II: dependent. Variabel driver lemah dan sangat dependen. Variabel ini utamanya variabel dependen.
c. Sector III: linkage. Variabel driver yang kuat dan sangat dependen. Variabel ini harus dipelajari lebih hati-hati. Variabel linkage ini tidak stabil. Setiap tindakan pada variabel-variabel ini akan berdampak pada variabel lain dan memiliki efek umpan-balik pada variabel itu sendiri untuk memperkuat atau mendukung dorongan awal (initial pulse).
d. Sector IV: independent. Variabel driver kuat dan dependen lemah. Variabel ini merupakan

Recommended