Home > Documents > ppk igd.docx

ppk igd.docx

Date post: 08-Mar-2016
Category:
Author: sri-juliana-nasution
View: 589 times
Download: 220 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)

of 46

Transcript

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUTPENANGANAN PASIEN LUKA BAKAR / BURN

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 1

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Prosedur

V. Unit Terkait

Pasien luka bakar adalah pasien yang mengalami trauma termal yang menimbulkan gangguan hemostatik baik lokal maupun sistemik.

Sebagai acuan penanganan pasien luka bakar dengan cepat dan tepat.

Kebijakan Direktur Rumah Sakit Permata Madina mengenai triase di Instalasi Gawat darurat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1. Perbaikan keadaan umum, awasi tensi, nadi, suhu, respirasi 2. Tentukan luas derajat, derajat luka bakar untuk menentukan indikasi rawat atau tidak3. Berikan antibiotik dan analgesik4. Berikan toxoid 0,5 cc intramucular ; apabila luka kotor berikan juga ATS5. Luka bakar dengan indikasi rawat :a. Pasang infus Ringer Laktat 4 cc / Kg BB / % luas luka bakar / 24 jam 50 % dihabiskan dalam 8 jam I 50 % dihabiskan dalam 16 jam IIb. Pasang urine catheter untuk memonitor resusitasi cairanc. Periksa laboratorium Darah : Hb, Ht, Leukosit, Elektrolit, Ureum dan Creatinine, AGDA sesuai indikasid. Pasang NGT untuk mencegah muntah dan aspirasi

Perawatan Luka : Bulla yang masih utuh jangan dipecahkan karena merupakan penutup luka yang biologis Bulla yang besar diaspirasi secara steril Luka bakar dicuci dengan NaCl 0,9 % steril, diolesi dengan cream silver sulfadiazine ( Dermazine R/ ) dan ditutup kassa absorbent

1. IGD2. Laboratorium

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUTPENANGGULANGAN PENANGANAN PASIEN KASUS KERACUNAN

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 1

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Prosedur

V. Unit Terkait

Pasien kasus keracunan adalah pasien yang menunjukkan tanda-tanda dan gejala berbahaya bagi tubuh setelah terexpose dengan substansi tertentu baik melalui inhalasi, makanan / minuman, suntikan atau paparan melalui kulit atau mucosa.

Sebagai acuan langkah-langkah penanggulangan penanganan pasien dengan kasus keracunan agar dapat teratasi dengan sebaik-baiknya.

Kebijakan Direktur Rumah Sakit Permata Madina tentang triase di Instalasi Gawat darurat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1. Penilaian Umum :a. Anamnese teraturb. Pemeriksaan fisik teraturc. Mengidentifikasi bahan penyebab keracunan yang diambil dari ekskresi pasien2. Penatalaksanaan :a. Stabilisasi hemodinamik / perbaikan keadaan umum, maximalb. Pelihara jalan nafas, tetap dalam keadaan terbuka serta berikan O2c. Decontaminasi : Decontaminasi saluran cerna dengan emesis atau lavage lambung sesuai jenis penyebab keracunan. Activate charcaol (1 gr / kg BB) dapat diberi untuk mengurangi absorpsi racun oleh usus Decontaminasi permukaan kulit dengan melepaskan pakaian dan membersihkan kulit dengan air yang cukupd. Peningkatan eliminasi racun (baik dengan hemodialisis, diuretik, alkalinisasi urine) sesuai bahan keracunane. Pemberian bahan antidotumf. Pengobatan suportif dan rehabilitatifg. Pengambilan sampel muntahan dan urine untuk pemeriksaan toxicologi 3. Evaluasi Hasil Pengobatan :a. Derajat penyakit dan komplikasi yang terjadib. Kerjasama dengan disiplin lain4. Hal-hal lain yang belum tercakup dalam prosedur ini mengacu pada buku petunjuk

1. IGD2. Laboratorium3. Rekam Medik

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGANAN GASTRO ENTERITIS / DIARE AKUT

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 1

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Prosedur

V. Unit Terkait Gastro Enteritis akut adalah proses radang akut yang mengenai usus yang ditandai oleh diare disertai atau tidak dengan mual dan muntah.

Acuan dalam langkah-langkah penanganan diare akut pada pasien yang datang ke Instalasi Gawat darurat.

Kebijakan Direktur Rumah Sakit Permata Madina tentang triase di Instalasi Gawat darurat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1. Untuk dehidrasi ringan dan sedang dilakukan rehidrasi per oral, sedang untuk dehidrasi sedang dan berat dilakukan rehidrasi parental dengan infus cairan isotonik. Pemberian cairan harus diperhatikan pada pasien malnutrisi, gemuk, anemia dan kelainan jantung2. Terapi antimikroba : Untuk choleriform diarrhea, dapat diberikan : Tetrasiklin capsul 500 mg, 4 x 1 kapsul per hari Kotrimoxazol 2 x 2 tablet per hari Ampisilin tablet 4 x 1 kapsul per hari Untuk dysentriform diarrhea : Metronidazole tablet 500 mg 3 x 1 tablet per hari Tetrasiklin kapsul 500 mg 4 x 1 kapsul per hari Ampisilin tablet 500 mg 4 x 1 tablet per hari3. Rawat ke ruangan

IGD

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGANAN TRAUMA KEPALA

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 1

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Prosedur

V. Unit Terkait Penanganan trauma kepala yaitu pasien dengan trauma (benturan) kepala yang dapat menyebabkan terjadinya : Comotio Cerebri Contusio Cerebri Laserasi Cerebri (perdarahan cerebri) Fraktur Cervical

Sebagai acuan langkah-langkah penanganan pasien dengan trauma kepala lebih efisien, efektif dan tidak terjadi faktor pemberat.

Kebijakan Direktur Rumah Sakit Permata Madina mengenai triase di Instalasi Gawat darurat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Prosedur penatalaksanaan :1. Perhatikan kepala dan leher pasien pada waktu mengangkatnya (bila perlu pasang neck collar)2. Dokter melakukan triase dengan menilai :a. Tanda Vitalb. Tingkat Kesadaranc. Neurologis : pupil, reflek patologis, motorikd. Lakukan BHD dan atasi perdarahan (bila diperlukan)e. Berikan O2 infus, ringer solution, Nootropil drips atau bokis perlahan-lahanf. Konsultasi kepada dokter spesialis Neurologisg. Selalu dipantau tingkat kesadaran pasien (sebaiknya dirawat)h. Bila keadaan umum pasien dianggap perlu ditindaklanjuti ke dokter ahli

1. IGD2. Konsulen

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGGULANGAN KEJANG DEMAM

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 1

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Prosedur

V. Unit Terkait Kejang demam adalah bangkitan kejang yang ditimbulkan oleh panas tubuh dengan penyebab di luar susunan syaraf pusat (otak).

Sebagai acuan dalam penanggulangan kejang demam di Instalasi Gawat darurat.

Kebijakan Direktur Rumah Sakit Permata Madina tentang triase di Instalasi Gawat darurat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1. Bebaskan jalan nafas 2. Pasang Oksigen 1 2 liter / menit3. Pasang infus4. Turunkan panas dengan antipiretik5. Penanggulangan kejang : Valium 0,25 mg / Kg BB iV pelan (maximal 10 mg) Bila 10 menit belum ada respon : Valium 0,4 mg / Kg BB iV pelan (maximal 15 mg) Bila 20 30 menit belum ada respon : Valium 0,5 mg / Kg BB iV pelan (maximal 20 mg)Atau Valium per rektal :Berat badan 10 kg : 5 mgBerat badan 10 kg : 10 mg6. Perawatan antara kejang : Tidak diberikan anti konvulsan hanya observasi suhu dan keadaan umum Untuk profilaksis intermitent : Luminal 1 mg / Kg BB / hari Diazepam 0,5 mg / Kg BB / hari

IGD

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGANAN EPILEPSI

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 2

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Persiapan Alat

V. Prosedur

Epilepsi adalah suatu kedaruratan sistem saraf pusat dan ditandai dengan bangkitan kejang yang berlangsung cukup lama atau berulang dengan antara cukup pendek, tanpa diselingi keadaan sadar, serta bersifat umum atau lokal.

Supaya dokter dapat memberikan tindakan segera sebab bila berlangsung lama berakibat kerusakan neuron dan kematian.

Kebijakan Direktur Rumah Sakit Permata Madina mengenai triase di Instalasi Gawat darurat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1. Tabung Oksigen2. Karet Pengganjal3. Obat obatan anti kejang (anti konvulsef)3.1. Diazepam / Valium : injeksi I.V3.2. Golongan Fenobarbital Luminal : injeksi I.M3.3. Cairan Infus : 2A KCl, Dextrose 5%3.4. Antibiotik3.5. Kortikosteroid4. Seperangkat alat infus5. Kompres es atau alkohol6. Obat obatan Hibernasi

1. Untuk Anak anak :1.1. Jalan nafas harus terjaga bebas.1.2. Letakkan karet pengganjal diantara ke dua rahang agar lidah tidak tergigit.1.3. Pakaian ketat harus dilonggarkan.1.4. Letakkan tubuh penderita pada posisi dan tempat yang aman.1.5. Pasang Oksigen.1.6. Beri obat anti kejang secepatnya dengan dosis :1.1. Diazepam (Valium) injeksi I.V. selama 2 3 menit dosis 0,5 mg / kg BB.1.7. Observasi selama 20 menit, bila masih kejang suntikkan lagi dengan dosis yang sama secara I.V.1.8. Bila masih kejang lagi dalam observasi 20 menit, suntikkan lagi secara I.M. dengan dosis yang sama.1.9. Bila penderita sudah sadar, hentikan suntikkan. 1.10. Beri obat fenobarbital (Luminal) injeksi secara I.M. (Intra Musculer) supaya masa kerja obat lebih lama, dengan dosis awal : Neonatus : 30 mg 1 bln 1 thn : 50 mg 1 thn keatas : 75 mg

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGANAN ASMA BRONCHIALE

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 1

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Prosedur

V. Unit Terkait

Asma Bronchiale adalah suatu proses penyempitan jalan pernafasan diseluruh lapangan paru yang bersifat reversibel dan ditandai dengan mengi (wheezing).

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam penanganan asma di Instalasi Gawat darurat.

Kebijakan Direktur Rumah Sakit Permata Madina mengenai triase di Instalasi Gawat darurat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Pasien dibaringkan setengah duduk dengan tenang dan nyaman Pasien diberikan oksigenasi dosis tinggi melalui sungkup muka dan dipasang infus cairan Pengobatan : 1. Beta 2 agonist :a. Per inhaler dengan inhaler 2 agonist atau nebulizer 2 agonistb. Dengan suntikan subkutan terbutalin 0,25 mg 0,50 mg (3 4 kali / hari)2. Aminofilin 240 mg drips dalam dextrosa 5 % 10 20 gtt / menit3. Obat steroid parenteral : Dexametasone dosis : 0,1 mg / BB4. Obat mukolitik Jika dijumpai tanda-tanda gagal nafas, pasien dirujuk ke ICU untuk mendapat perawatan lebih lanjut

1. IGD2. ICU

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGANAN SHOCK

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 2

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Prosedur

Shock adalah keadaan dimana sirkulasi darah arterial tidak adekuat untuk menerima kebutuhan metabolisme jaringan.

Sebagai acuan dan penanganan tindakan pada penderita shock di Instalasi Gawat darurat Rumah Sakit Permata Madina Medan.

Kebijakan Direktur Rumah Sakit Permata Madina mengenai triase di Instalasi Gawat darurat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1. Shock Anafilaktik Pengobatan : Injeksi Adrenalin 1/1000 0,3 cc im / iv Injeksi Hidrocortison 100 mg / 6 jam im Injeksi Dexametasone 5 mg / 6 jam iv Tindakan : Stop pemberian obat, torniquet dipasang daerah proximal tempat masuk obat, posisi trandelenberg, pasang oksigen

2. Shock Hipovolemik Pengobatan : Tergantung penyebab untuk diare dengan dehidrasi hebat cairan infus diguyur (20 cc / BB) Untuk perdarahan stop penyebabnya, bila perlu transfusi dan setelah 2 bag, beri Calsium glukonas, 1 ampul Tindakan : Perdarahan : infus darah / whole blood, plasma darah, plasma expander Diare : infus cairan kristaloid (RL atau NaCl 0,9 %) volume sesuai cairan yang hilang Oksigenasi Cateterisasi Stop Perdarahan Pasang CVP Rawat ICU

3. Shock Neurogenik Pengobatan / Tindakan : Posisi terlentang Infus cairan kristaloid (ringer laktat) atau NaCl 0,9 % 1 liter dalam 20 40 menit Oksigenasi Kateterisasi untuk monitor diuresis Rawat ICU

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGANAN SHOCK

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman2 / 2

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

V. Unit Terkait

4. Shock KardiogenikPengobatan : Dopamin 5 10 mikrogram / kg BB / menit atau 200 milligram dalam 100 cc Dextrose 5 % atau NaCl 0,9 % 10 20 tetes mikro / menit (dewasa) Pethidin : 50 100 mg im Sedatif : Diazepam 3 x (2 10 mg) im / iv Tindakan : Oksigenasi 8 15 L / menit Infus dan intravenous fluid Pasang CVP Pasang kateter urine Rawat ICU

1. IGD2. ICU3. Rekam Medik

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGANAN HENTI NAFAS DAN HENTI JANTUNG

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 2

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Prosedur

Penanganan henti nafas dan henti jantung adalah suatu tindakan disaat pasien tiba-tiba tidak bernafas oleh karena kehilangan suplai O2 dijaringan otak, jantung dan organ lainnya dan ditandai dengan tidak terabanya nadi besar (carotis dan femoralis) yang disebabkan tidak adanya ventilasi fungsional dan tidak adanya curah jantung yang efektif.

Sebagai acuan langkah-langkah dalam penanganan henti nafas dan henti jantung dengan cepat.

Kebijakan Direktur Utama tentang pelaksanaan triase medis.

Dilakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP) yang mencakup :1. Pengendalian jalan nafas (Air Way Support)2. Memberikan nafas buatan (Breathing Support)3. Memberikan sirkulasi buatan (Circulation Support)

1. Pengendalian jalan nafas (Air Way Support) Nilai tingkat kesadaran dengan memanggilnya Respon (-) lakukan tindakan kode ABC bersama teman Amati tanda-tanda nafas spontan, buka mulut pasien dengan posisi menyilang (Cross Finger) dan pastikan tidak ada sumbatan benda asing Berikan posisi hirup (Sruffing Position) tekniknya : Manuver tengadah kepala / topang dagu dengan jalan nafas terbuka Manuver mendorong mandibula kedepan dengan cara memegang sudut-sudut rahang bawah penderita lalu diangkat dengan kedua tangan keatas Pastikan ada nafas spontan dengan cara mendekatkan telinga pada mulut dan hidung pasien untuk melihat : Suara nafas pasien Aliran udara dirasakan dipipi Gerakan turun-naiknya rongga dada Nafas spontan (-) maka lakukan tindakan Breathing Support ETT / Alat gudel dipakai untuk mengendalikan jalan nafas Penilaian nafas spontan atau tidak hanya dibutuhkan waktu 35 detik2. Pemberian nafas buatan (Breathing Support) Bila nafas spontan (-) segera beri ventilasi awal kali dengan laju inspirasi yang lambat (1 - 2 detik) Teknik pemberian nafas buatan : Mulut ke mulut atau mulut ke hidung (Pc O2 yang masuk ke pasien hanya 16-17 %) Ambubag ke mulut atau hidung atau ETT dengan volume bagi 800-1200 CC (Pc O2 100 %)

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGANAN HENTI NAFAS DAN HENTI JANTUNG

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiAHalaman2 / 2

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

V. Unit Terkait

Frekwensi 12 kali / menit (1 kali tiap 5 detik)3. Pemberian sirkulasi buatan (Circulation Support) Setelah ventilasi awal 2 kali, langsung nilai sirkulasi darah dengan cara meraba arteri carotis (5 10 detik) Jika tidak teraba langsung berikan massage jantung luar agar efektif dalam kompressi jantung dan pasien dalam posisi datar dengan alas yang keras (pakai papan resusitasi) Tekniknya : Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan / kiri sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum). Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih dua atau tiga jari keatas dari procesus xiphoideus. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi. Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan diatas telapak tangan lainnya, hindari jari-jari tangan menyentuh dinding dada korban atau pasien, jari-jari tangan dapat diluruskan atau menyilang. Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak lima belas kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1,5 2 inci. Tekanan dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan kembali mengembang ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian nafas adalah 15 : 2 dilakukan baik oleh satu atau dua penolong. Frekwensi 100 x / menit Gerakan kompresi / massage harus beraturan, berirama dan bukan disentak atau mendadak Fase kompresi dan relaksasi harus mempunyai jangka waktu yang sama, ini bertujuan untuk menimbulkan pengisian dan pengosongan jantung secara optimal Meraba denyut arteri carotis setelah menit pertama RJP (4 siklus kompresi ventilasi) Kompresi dada luar menghasilkan aliran darah arteri carotis

1. IGD

Rumah SakitP E R M A T AM A D I N AJl. Merdeka No. 155 PanyabunganTelp (0636)-20279, Fax (0636)-20712Kabupaten Mandailing Natal SUMUT PENANGANAN MCI (MYO CARD INFARK )

Prosedur TetapIGDNo. Dokumen

No. RevisiBHalaman1 / 3

Tanggal terbit

15 / 09 / 09DitetapkanDirektur RS. Permata MadinaPanyabungan

Roslenni Sitepu, S.Kp.MARS

I. Pengertian

II. Tujuan

III. Kebijakan

IV. Persiapan Peralatan

V. Prosedur

Myo Card Infark ( MCI ) adalah : suatu penyakit dimana terjadinya necrosis disebagian otot jantung oleh karena kurangnya suplai darah kebagian otot tersebut yang disebabkan oklusi atau trombosis, arteri coronaria sehingga menyebabkan angina akut atau syok kardiogenik yang bila tidak segera ditolong akan menimbulkan kematian.

Supaya dokter dan perawat IGD dapat lebih mengenal gejala-gejala MCI serta memberi tindakan yang cepat dan tepat, sehingga pasien dapat tertolong.

Direktur Rumah Sakit Permata Madina mengenai triase di Instalasi Gawat darurat sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1 Infus set2 Cairan Dextrose 5 % atau Nacl 0,9 %3 Obat-obat analgesik yang memiliki efek yang kuat untuk menghilangkan nyeri ( morfin atau petidin )4 Oksigen (O2)5 EKG6 Pemeriksaan Laboratorium darah

1 Meringankan kerja jantung, mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dan mengatasi komplikasi ( aritmia, payah jantung, syok kardiogenik ), meliputi :a. Bila nyeri : Morvin 5 10 mg SC / 30, sampai dosis maksimum 60 mg dan nyeri teratasi. ( Petidin ) 50 100 mg IM, tetapi tidak boleh diberikan bila frekuensi nafas < 12 x / menit.b. IV line dengan Dext 5 % atau Nacl 0,9 %c. O2 4 6 l / id. Istirahat fisik dan mental 2 3 minggu, bila perlu beri diazepam 5 10 mg IVe. Diet cukup sayur dan defikasi teratur, bila perlu beri laxantia.

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp.0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

1/2

SPOTanggal Terbit

DitetapkanDirektur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

PengertianHiperemesis gravidarum adalah keadaan dimana penderita muntah-muntah berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat, sehingga mengganggu kesehatan.

TujuanAgar pasien hiperemesis gravidarum mendapat penanganan yang optimal

Kebijakan Penatalaksanaan Hiperemesis Gravidarum berdasarkan standar pelayanan medis yang disusun oleh SMF RSUD EF. Kasus Hiperemesis Gravidarum dapat di tangani oleh Dokter Kandungan bila diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis lain yang terkait

Prosedur1. Kriteria diagnosis Hamil muda Muntah-muntah hebat setiap yang dimakan dan minum segera dimuntahkan kembali Keadaan umum lemah, dengan tanda-tanda dehidrasi seperti suara yang serak, turgor kulit yang menurun, mata cekung. Pemeriksaan obstetri menunjukkan tanda-tanda hamil muda2. Diagnosis bandinga. Hepatitis dalam kehamilan3. Pemeriksaan penunjang3.1. Urin 3.2. Fungsi hati 3.3. Ultrasonografi4. Konsultasi 4.1. Penyakit dalam 4.2. Penyakit5. Terapi 5.1 Pengobatan medikalPemberian cairan perinfus, larutan ringer dextrose, ditambah obat anti emetik atau diberikan 6-8 jam perbotol selama masih muntah pasien dipuaskan kemudian realimentasi bertahap dimulai dengan minum, makan cair, lunak sampai makan biasa

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp.0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

2/2

Prosedur6. Perawatan Rumah Sakit :6.1. Pasien perlu dirawat agar dapat diberi pengobatan dengan infus dan agar dapat beristirahat baik fisik maupun psikis.7. Penyulit :4.2. Dehidrasi.4.3. Gangguan fungsi heper4.4. Febris8. Informed consents : Perlu9. Lama perawatan : tergantung penyulit yang ada, antara 2 sampai 10 hari10. Masa pemulihan Sampai usia kehamilan mencapai 4 bulan11. Out Put12. Pada umumnya baik.13. Bila dalam penatalaksanaan tidak ada perbaikan DPJP dapat melakukan pengobatan sesuai dengan pengalamannya.

Unit Terkait1. Rekam Medik2. Komite Medik3. UGD4. SMF Bedah

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

No. DokumenNo. Revisi

Halaman

1/2

SPOTanggal Terbit

Direktur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

PengertianKehamilan ektopik adalah suatu keadaan dimana hasil konsepsi berinplantasi dan tumbuh diluar endometrium cavum uteri, seperti dirongga abdomen tiba fallopin, ovarium, komu, cervix.

TujuanAgar pasien kehamilan ektopik terganggu mendapat penanganan yang optimal

Kebijakan Penatalaksanaan kehamilan ektopik terganggu berdasarkan standar pelayanan medis yang disusun oleh SMF RSUD EF. Kasus kehamilan ektopik terganggu dapat di tangani oleh Dokter Kandungan bila diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis lain yang terkait.

Prosedur1. Kriteria diagnosis :1.1. Terlambat haid1.2. Sakit hebat tiba-tiba, kadang-kadang sampai pingsan (sinkop)1.3. Sakit perut bisa di daerah tertentu saja bisa menyeluruh 1.4. Sakit pada waktu flatus1.5. Perdarahan bercak pervagina yang tidak biasa 1.6. Pucat, sesuai dengan banyaknya perdarahan intra abdomial.1.7. Tekanan darah bisa normal bisa turun bahkan sampai syok1.8. Abdomen tegang, nyeri tekan, nyeri lepas dan nyeri ketok1.9. Pemeriksaan ginekologi :1.9.1. Porsio biru (livide), lunak, nyeri goyang korpus1.9.2. Uterus normal atau sedikit membesar kadang-kadang sulit diketahui karena nyeri perut yang hebat.2. Diagnosis banding :2.1. Methroragia akibat kelainan ginekologi ataupun hormonal.2.2. .Penyakit radang panggul2.3. Tumor ovarium (putaran tangkal, pecah atau terinfeksi) dengan atau tanpa kehamilan muda2.4. Appendicitis2.5. Abortus imminens3. Pemeriksaan penunjang :3.1. Laboratorium : Hb, Ht, Trombosit3.2. Pemeriksaan USG :3.2.1. Cairan di cavum douglasi3.2.2. Tidak terdapat kantong gestasi didalam rahim3.2.3. Ditemukan kantong gestasi diluar rahim

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

2/2

4.1. Pemeriksaan Kuldosentesis :4.1.1. Untuk membuktikan adanya darah di cavum douglasi.4.2. Pemeriksaan laproskopi4.2.1. Dapat melihat dengan jelas genitalia apakah ada infeksi tumor atau KET.4. Terapi 4.1. Perbaiki keadaan umum dengan pemberian cairan infus dan transfusi 4.2 Laparotomi segera setelah diagnosa dipastikan.4.3 Dilakukan salpingektomi, overektomi atau reparasi korna tergantung lokasi kehamilan4.4 Pada kehamilan abnormal apabila plasenta sulit diangkat, ditinggal saja dirongga abdomen dan dipasang drain pada dinding perut.5. Perawatan Rumah Sakit : Pasien perlu segera dirawat6. Konsultasi : Dokter ahli kebidanan7. Penyulit : syok yang irreversible8. Informed Consent : diperlukan untuk tindakan operasi9. Lama perawatan : Bila tidak ada penyakit lain, pasien dipulangkan sesudah hari keempat pasca operasi10. Masa pemulihan : masa pemulihan optimal 6 minggu11. Bila dalam penatalaksanaan tidak ada perbaikan DPJP dapat melakukan pengobatan sesuai dengan pengalamannya.

Unit Terkait1. Rekam Medik2. Komite Medik3. SMF Bedah4. UGD

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN PRE-EKLAMPSI/EKLAMPSI

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

1/4

SPOTanggal terbit

Direktur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

Pengertian1. Pre-eklampsi adalah timbulnya hipertensi, protenuria dan edem akibat kehamilan, setelah kehamilan > 20 minggu atau segerasetelahpersalinan.2. Eklamsi adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. Sebelum wanita hamil tadi menunjukkan tanda-tanda preklampsi.

TujuanAgar pasien Pre-eklampsi/ eklampsi mendapat penanganan yang optimal

Kebijakan Penatalaksanaan Pre-eklampsi/Eklampsi berdasarkan standar pelayanan medis yang disusun oleh SMF RSUD EF. Kasus kehamilan ektopik terganggu dapat di tangani oleh Dokter Kandungan bila diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis lain yang terkait.

Prosedur1. Kriteria diagnosis1.1. Hamil lima bulan atau lebih1.2. Kaki terasa bengkak1.3. Tekanan darah diatas normal1.4. Pemeriksaan obstetri : besar rahim sesuai dengan usia kehamilan, atau lebih kecil apabila ada PJT (pertumbuhan janin terlambat)1.5. Edem, proteimuria dan hipertensi.1.6. Pada eklampsi ditambah dengan kejang dan atau koma. 1.7. Pre-eklampsi ringan : didasarkan atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edem setelah kehamilan 20 minggu. 1.8. Pre-eklampsi berat : apabila ditemukan satu atau beberapa gejala dibawah ini : 1.8.1 Tekanan darah sistolik lebih atau sama dengan 160 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih atau sana dengan 110 mmHg.1.9. Pre-eklampsi ringan : didasarkan atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edem setelah kehamilan 20 minggu1.10. Oliguria, yaitu produk urine kurang dari 500 ml/ 24 jam yang disertai kenaikan kadar kreatinin plasma1.11. Gangguan visus atau cerebral1.12. Nyeri pada epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen1.13 Pertumbuhan janin intra uterine terlambat1.14. Ada sindrom HELLP (H : hemolysia, EL : Elevated) liver enzyne, LP : Low platelet count)1.15. Eklampsi : Kejang dan atau koma tanpa kelainan neurologik, pada wanita dalam kehamilan, persalinan atau nifas dengan tanda-tanda preklampsi berat lainnya.

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363PENANGANAN PRE-EKLAMPSI/ EKLAMPSI

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

2/4

2. Pemeriksaan penunjang :2.1. Laboratorium : Protein urin, Hb, Ht Trombosit, asam urat, fungsi ginjal dan fungsi hati.3. Diagnosa banding : 3.1. Hipertensi menahun, kelainan ginjal dan epilepsi.4. Terapi :4.1. Pre-eklampsi ringan 4.1.1. Rawat jalan4.1.1.1 Banyak istirahat dengan tidur miring4.1.1.2 Diet cukup protein, rendah karbohidrat, rendah lemak dan garam4.1.1.3 Sedativa ringan seperti luminal 3 X 30 mg atau valium 3 X 2 mg Kunjungan ulang setiap minggu 4.1.2. Rawat Inap4.2.1.1 Pada kehamilan pre-term (37 minggu) Bila tekanan darah normal selama perawatan, persalinan ditunggu sampai aterm 4.2.1.2 Bila tekanan darah turun tidak sampai normal, kehamilan diterminasi pada usia kehamilan 37 minggu4.2.1.3 Pada kehamilan aterm (37 minggu) persalinan ditunggu spontan atau dipersalinan pada tanggal taksiran persalinan. Persalinan dapat dilakukan spontan atau kalau perlu memperpendek partus kala II dengan ektraksi vakum. 4.2. Pre-eklampsi berat4.2.1 Segera dirawat dan ditentukan jenis perawatan tindakan yang akan diambil, aktif atau konservatif. 4.2.2 Tindakan aktif : kehamilan diakhiri bersama dengan pengobatan medisina.4.2.3 Tindakan konservatif : kehamilan tetap dipertahankan bersama dengan pengobatan medika mentosa.5. Perawatan :5.1. Perawatan aktif Indikasi : bila didapatkan satu atau lebih keadaan dibawah ini.5.1.1. Pada ibu :5.1.1.1. Kehamilan lebih dari 37 minggu5.1.1.2. Adanya tanda-tanda/ gejala impending eklampsi5.1.1.3. Kegagalan perawatan konservatif5.1.1.3.1. Dalam waktu 6 jam setelah pengobatan tekanan darah naik5.1.1.3.2. Setelah 24 jam pengobatan tidak ada perbaikan5.1.2. Pada janin :5.1.2.1. Adanya tanda-tanda gawat janin 5.1.2.2. Adanya tanda-tanda PJT (pertumbuhan janin terlambat).6. Laboratorium : 6.1 Ditentukan adanya sindrom HELLP

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN PRE-EKLAMPSI/ EKLAMPSI

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

3/4

7. Terapi7.1. Terapi medikamentosa :7.1.1. Infus dekstrose 5 %, tiap 500 ml ditambah valium 40 mg 20 tetes/ menit. 7.1.2 Anti hipertensi diberikan hanya bila tekanan darah diastolik > 110 mmHg, berupa tablet nifedipin 10 mg digerus dibawah lidah. 7.3.1 Anti hipertensi diberikan hanya bila tekanan darah diastolik > 110 mmHg, berupa tablet nifedipin 10 mg digerus dibawah lidah.7.3.2 Diuretika hanya diberikan bila ditemukan :7.3.2.1 Edem paru-paru7.3.2.2 Payah jantung kongesti7.3.2.3 Edem anasarka 7.3.3 Diet : cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam 7.2. Terapi Obstetrik : terminasi kehamilan dengan cara yang sesuai 7.2.1. Bila belum infartu :7.2.1.1. Induksi persalinan, 7.2.1.2. Kateter foley 7.2.1.3. Infus oksitosin7.2.1.4. Amniotomi. 7.2.2 Seksio Caesarea bila induksi persalinan gagal yaitu 12 jam sejak dimulai infus oksitosin belum masuk fase aktif 7.2.3. Bila sudah inpartu :7.2.3.1 Kala 1 : fase laten : Seksio Caesarea7.2.3.2 Fase aktif : Amniotomi, bila kemudian pembukaan belum lengkap, seksio caesarea.7.2.3.3 Kala II : Persalinan pervaginam, dibantu ekstrak vakum.7.3 Perawatan konservatif :7.3.1 Indikasi : kehamilan preterm (< 37 minggu) tanpadisertai tanda-tanda impending eklampsi dengan keadaan janin baik7.3.2 Pengobatan medikamentosa : sama dengan pengobatan pada perawatan aktif7.4 Pengobatan obstetri :7.4.1Selama perawatan konservatif dilakukan observasi dan evaluasi sama dengan perawatan aktif, hanya disini tidak dilakukan terminasi7.4.2 Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan dianggap pengobatan gagal dan dilakukan terminasi 7.5Perawatan Eklampsi :Pengobatan medikamentosa :7.5.1. Obat anti kejang infus dextrose 5 % ditambah dengan 40 mg Valium 20 tetes/ mnt, bila kejang diberikan injeksi valium secara bolus.1. Obat-obat lain seperti anti hipertensi, anti piratik, anti biotika, kardiotonik, diberikan apabila ada indikasi.2. Perawatan pada serangan jantung

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN DISTOSIA

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

1/1

SPOTanggal Terbit

Direktur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

PengertianDictosia adalah persalinan abnormal yang ditandai oleh kelambatan atau tidak adanya kemajuan proses persalinan dalam ukuran satuan waktu tertentu.

TujuanAgar pasien distosia mendapat pelayanan yang optimal .

Kebijakan Penatalaksanaan Distosia berdasarkan standar pelayanan medis yang disusun oleh SMF RSUD EF. Kasus Distosia dapat di tangani oleh Dokter Kandungan bila diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis lain yang terkait.

Prosedur1. Kriteria Diagnosis 1.1. Persalinan sudah berlangsung selama beberapa waktu, bayi baru lahir. 1.2. Kontraksi rahim bisa dirasakan kuat dan sering bisa juga tidak 1.3 Pemeriksaan obstetri, meliputi tinggi fundus uteri, letak dan presentasi janin, denyut jantung janin, kualitas his/ kontraksi rahim dan taksiran berat janin. 1.4 Periksa dalam vagina : keadaan serviks besarnya pembukaan keadaan selaput ketuban, turunnya bagian terbasah janin, posisi denominator.2. Pemeriksaan Penunjang2.1Ultrasonografi2.2Kardiotokografi3. Diagnosis banding3.1. Kelainan tenaga yaitu kurang kuatnya his.3.2. Kelainan janin : besar, bentuk, jumlah, letak, presentasi.3.3. Kelainan jalan lahir : kelainan tulang panggul atau jaringan lunak panggul4. Terapi4.1Disesuaikan dengan penyeban distosia, dengan memperhatikan indikasi, kontra indikasi dan komplikasi misalnya dengan melakukan :1.3. Akselerasi persalinan dengan memperbaiki his dengan oksitosin1.4. Mempercepat kala dua dengan ekstraksi pakum atau forsep1.5. Seksio Caesarea5. Konsultasi : tidak ada6. Perawatan rumah sakit ; diperlukan untuk pemulihan setelah dilakukan persalinan7. Penyulit7.1 Partus lama7.2 Infeksi Intra partun7.3 Ruptura uteri7.4 Perlukaan jalan lahir8. Bila dalam penatalaksanaan tidak ada perbaikan DPJP dapat melakukan pengobatan sesuai dengan pengalamannya.

Unit Terkait

1. Rekam Medik2. Komite Medik3. SMF Bedah

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446Fax.0778-36136

PENANGANAN PERDARAHAN ANTE PARTUM

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

1/2

SPOTanggal Terbit

DitetapkanDirektur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

PengertianDefinisi :Adalah terjadinya pengeluaran darah pervagina pada kehamilan lebih dari 20 minggu.

TujuanAgar penderita perdarahan Ante Partum mendapat pelayan yang optimal.

Kebijakan Penatalaksanaan Perdarahan ante partum berdasarkan standar pelayanan medis yang disusun oleh SMF RSUD EF. Kasus kehamilan ektopik terganggu dapat di tangani oleh Dokter Kandungan bila diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis lain yang terkait.

Prosedur

1. Kriteria diagnosis :a. Hamil 20 minggu atau lebihb. Perdarahan pervagina secara spontan disertai nyeri atau tanpa nyeri akibat kontraksi rahimc. Faktor-faktor predisposisi seperti :i. Riwayat solusi plasentaii. Perokokiii. Hipertensiiv. Multi paritas1.4. Pemeriksaan obstretrik :Periksa luar, tinggi fundus uteri, letak dan presentasi janin, masuknya bagian terbawah janin ke pintu atas panggul, konstraksi rahim, denyut jantung janin.Inspeculo : darah keluar dari osteum. 2. Pemeriksaan penunjang :2.1 Ultrasonografi : terutama untuk melihat letak, implementasi plasenta, usia gestasi dan keadaan janin.a. Laboratorium : Hb, Ht, Trombosit, waktu pembekuan darahb. Kardiotokografi : untuk menilai staus (kesejahteraan) janin 3. Diagnosa banding :3.1.Solutio plasenta : terlepasnya plasenta yang letaknya normal sebagian atau seluruhnya sebelum janin lahir.3.2Plasenta previa : plasenta yang letaknya tidak tidak normal sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir3.3Vasa previa : tali pusat berisensi pada selaput ketuban dimana pembuluh darahnya berjalan diantara lapisan amnio dan korion melalui pembukaan cervix

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariat

Jln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446Fax.0778-36136

PENANGANAN PERDARAHAN ANTE PARTUM

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

2/2

SPOTanggal Terbit

DitetapkanDirektur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

Prosedur 4. Terapi : 4.1. Tidak terdapat renjatan (syok) usia gestasi < 30 minggu atau taksiran berat janin < 250 gram 4.1.1. Solutio plasenta Ringan : Ekspesktatif bila ada perbaikan (perdarahanberhenti, kontraksi uterus tidak ada dan janin hidup) : tirah baring, pemeriksaan USG dan KTG. Tunggu persalinan spontan.Aktif bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus, konstraksi uterus berlangsung terus dan dapat mengancam ibu dan janin) dicoba partus pervagina dengan infus oksitosin dan amaiosintesis Bila perdarahan banyak dan skor pelvik 6 jam dilakukan seksiocaesare.Sedang berat :Resustasi cairan dan transfusi darah.Partus pervagina bila diperkirakan dapat berlangsung dalam 6 jam dengan amniotomi dan infus oksitosin. Partus perabdominan dipertimbangkan bila partus pervagina tak dapat berlangsung dalam 6 jam.i. Plasenta previa1. Perdarahan sedikit, dirawat sampai 36 minggu, mobilisasi bertahap. Bila ada kontaksi dilakukan tokolisis.2. Perdarahan banyak Resusitasi cairan dan atasi anemia (tranfusi darah) Seksio Caesareaii. Vasa previa :Janin mati : partus pervaginamJanin hidup : dipertimbangkan partus per abdominan5. Perawatan Rumah Sakit : Pasien perlu segera dirawat6 Konsultasi : dokter ahli bedah7. Penyulit : Syok yang irreversible8. Informed Consent : diperlukan untuk tindakan operasi9. Lama perawatan : Bila tidak ada penyulit pasien dipulangkan sesudah hari ke-empat pasca operasi.10. Masa pemulihan : masa pemulihan optimal 6 minggu11. Out put : Komplikasi diharapkan minimal Kesembuhan diharapkan sempurna12. Bila dalam penatalaksanaan tidak ada perbaikan DPJP dapat melakukan pengobatan sesuai dengan pengalamannya.

Unit terkait1. Rekam Medik2. Komite Medik3. SMF Bedah4. UGD

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN KETUBAN PECAH DINI

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

1/2

SPOTanggal Terbit

DitetapkanDirektur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

PengertianKetuban pecah dini adalah keadaan dimana selaput ketuban pecah sebelum waktunya.

TujuanAgar Pasien dengan ketuban pecah dini mendapat penaganan yang optimal.

Kebijakan Penatalaksanaan Ketuban pecah dini berdasarkan standar pelayanan medis yang disusun oleh SMF RSUD EF. Kasus ketuban pecah dini dapat di tangani oleh Dokter Kandungan bila diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis lain yang terkait.

Prosedur1. Kriteria diagnosis :1.1. Umur kehamilan lebih dari 20 minggu 1.2. Keluar air ketuban dari rahim a. Kontraksi mungkin ada mungkin tidakd. Pemeriksaan obstetri :1. Tinggi fundus uteri, letak dan presentasi janin, turunnya bagian terbawah janin, kontraksi rahim denyut jantung janin.2. Inspekulo (tampak cairan keluar dari ostium uteri eksternum).2 Pemeriksaan penunjang2.1. Laboratorium : lekosit > 15.000/cu.mm menunjukkan infeksia. USG : membantu menentukan usia kehamilan, letak janin, berat janin, letak dan gradasi plasenta dan jumlah air ketuban.b. CTG : untuk mendeteksi adanya gawat janin.3. Terapi 3..1. Konservatif 3.1.1. Rawat di Rumah Sakiti. Antibiotika kalau ketuban pecah > 6 jami. Bila umum kehamilan < 32 minggu, dirawat selama air ketuban tidak keluar lagi. Diberikan steroid selama 7 hari untuk mematangkan pertumbuhan janin. ii. Bila pada usia kehamilan 34 minggu masih keluar air ketuban maka pada usia kehamilan 35 minggu dipertimbangkan untuk terminasiiii. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, lekosit)

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN KETUBAN PECAH DINI

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

2/2

3.2. Aktifi. Kehamilan > 36 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio caesarea.ii. Bila ada indikasi seperti CPD atau letak lintang, seksio caesareai. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan kehamilan/ persalinan diakhiri :1. Bila skor pelvik < 3 diakhiri dengan seksio caesarea2. Bila skor pervik > 5 induksi dan partus pervaginam3. Bila infeksi berat seksio caesarea.4. Konsultasi : tidak ada5. Perawatan Rumah Sakit : Harus dirawat di Rumah Sakit sampai setelah perawatan dari tindakan terminasi kehamilan selesai6. Penyulit : infeksi sampai sepsis7. Informed Consent : Perlu bila akan diadakan tindakan operatif8. Lama perawatan :a. Konservatif : sangat tergantung dari usia kehamilan, lamanya air tuban keluar dan keadaan umum penderitab. Aktif : partus pervaginam 3-4 hari, seksio caesarea 4-5 hari9. Out Put : Sembuh total10. Patologi antomi : tidak ada11. Bila dalam penatalaksanaan tidak ada perbaikan DPJP dapat melakukan pengobatan sesuai dengan pengalamannya.

Unit terkait1. Rekam Medik2. Komite Medik3. SMF Bedah4. UGD

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN RETENSIO PLASENTAE

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

1/1

SPOTanggal Terbit

DitetapkanDirektur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

PengertianRetensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir.

TujuanAgar penderita Retensio Plasenta mendapat pelayanan yang optimal.

Kebijakan Penatalaksanaan Retensio placenta berdasarkan standar pelayanan medis yang disusun oleh SMF RSUD EF. Kasus retensio placenta dapat di tangani oleh Dokter Kandungan bila diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis lain yang terkait.

Prosedur1. Kriteria diagnosis 1.1. Plasenta belum lahir 1.2. Biasanya disertai perdarahana. Obstetri :1. Fundus uteri masih tinggi2. Inspekulo (tanpak tali pusat, darah keluar dari ostium uteri eksternum)2. Pemeriksaan penunjang :a. Laboratorium : Hemoglobin, masa perdarahan dan masaPembekuan3. Diagnosis bandinga. Atonia uterib. Luka jalan lahir4. Terapi : 4.1. Beri oksitosin drip 20 u 4.2. Setelah kontraksi rahim baik lakukan pelepasan plasenta secara manual 4.3. Setelah plasenta lepas seluruhnya, plasenta dilahirkan 4.4. Berikan Ergometri 0,2 mg im atau iv 4.5. Obat-obatan : Antibiotika, uterotonika, analgetik dan roburansia5. Informed Consent : Perlu bila akan diadakan tindakan plasenta manual6. Konsultasi : - 7. Perawatan Rumah Sakit harus segera dirawat8. Penyulit : Syok hipovolemik 9. Informed Consent : perlu untuk operasi 10. Lama perawatan 5 7 hari11. Out Put : baik12. Patologi anatomi : -13.Bila dalam penatalaksanaan tidak ada perbaikan DPJP dapat melakukan pengobatan sesuai dengan pengalamannya.

Unit Terkait1. Rekam Medik2. Komite Medik3. SMF Bedah4. UGD

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN ABORTUS

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

1/2

SPOTanggal Terbit

DitetapkanDirektur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

Pengertian Definisi :Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum minggu ke 20 atau bila berat fetus : 500 gr Jenis-jenis abortus :2.1. Abortus imminens Abortus Incipiens Abortus inkomplit Abortus komplit Miss abortion Abortus habitualis

TujuanAgar penderita dengan abortus mendapat penanganan yang optimal

Kebijakan1. Penatalaksanaan Abortus berdasarkan standar pelayanan medis yang disusun oleh SMF RSUD EF.2. Kasus Abortus dapat di tangani oleh Dokter Kandungan bila diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis lain yang terkait.

Prosedur1. Kriteria Diagnosa :1.1Riwayat terlambat haid1.2 Perdarahan pervaginam1.3 Nyeri supra public dan uterine cramping1.4 Hasil konsep dapat masih bertahan atau sudah keluar1.5 Hilangnya tanda-tanda kehamilan 1.6 Abortus immenens 1.6.1 Besarnya rahim sesuai dengan umur kehamilan 1.6.2 Ostium uteri tertutup 1.7. Abortus incipiens 1.7.1. Besarnya uterus sesuai dengan umur kehamilan1.7.2 Ostium uteri terbuka, teraba selaput ketuban 1.8. Abortus inkomplit 1.8.1. Rahim sedikit lebih kecil dari usia kehamilan 1.8.2. Ostium uteri terbuka dan teraba jaringan konspsi 1.9. Abortus komplit 1.9.1. Besarnya uterus lebih kecil dari usia kehamilan 1.9.2. Ostium uteri tertutup

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN ABORTUS

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

2/2

Prosedur2. Pemeriksaan penunjang : 2.1. Laboratorium Urine : test kehamilan Darah : Hb, Lekosit, BT, CT 2.2. Ultrasonografi3. Diagnosa banding : KET4. Penatalaksanaan : 4.1. Pada abertus incipiens dan atau abortus inkomplit Pasang infus Berikan Ab Kuretase 4.2. Pada abortus imminens Istirahat tempat tidur Medikamentosa 4.3. Pada abortus komplit, cukup dengan simptomatis saja.5. Konsultasi : -6. Perawatan rumah sakit Untuk abostus imminens pasien perlu dirawat Abortus incipies dan inkomplit pasien dirawat untuk pemulihan post kuretage Abortus komplit pasien tidak perlu dirawat7. Penyulit : Anemia, Infeksi dan pertorasi 8. Informed consent : Perlu bila akan dilakukan kuretase9. Lama perawatan : tergantung jenis abortus dan keadaan pasien10. Out put : Pada umumnya baik11. Bila dalam penatalaksanaan tidak ada perbaikan DPJP dapat melakukan pengobatan sesuai dengan pengalamannya.

Unit Terkait1. Rekam Medik2. Komite Medik3. SMF Bedah4. UGD

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN MOLAHIDATIDOSA

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

1/2

SPOTanggal Terbit

DitetapkanDirektur RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.KesPembina Utama MudaNIP : 19580912 198703 2 006

PengertianMolahidatidosa adalah keadaan patologi dari khorion dengan sifat degenerasi, kistik, tidak ada pembuluh darah janin dan proliferasi trofoblas

TujuanAgar penderita molahisatidosa mendapat penaganan yang optimal.

Kebijakan1. Penatalaksanaan Molahidatidosa berdasarkan standar pelayanan medis yang disusun oleh SMF RSUD EF.2. Kasus molahidatidosa dapat di tangani oleh Dokter Kandungan bila diperlukan konsultasi dengan dokter spesialis lain yang terkait.

Prosedur1. Kriteria diagnosis : Perdarahan pervaginam/ gelembung mola Gejala toksemia pada trimester I-II Hyperemesis gravidarum Mungkin juga ditemukan gejala tirotoksis Umumnya uterus lebih besar dari usia kehamilan Kista lutein Balotemen negatif Denyut jantung janin negatif2. Pemeriksaan penunjang 2.1. Laboratorium : urine untuk test kehamilan darah : Hb, Lekosit, BT, CT 2.2. USG 2.3. T3 dan T4 bila ada gejala Tirotoksikosis3. Diagnosa banding 3.1 Abortus 3.2. Kehamilan normal 3.3. Kehamilan ganda 3.4. Kehamilan dengan Myoma4. Penatalaksanaan 4.1. Koreksi dehidrasi, anemia 4.2. Evakuasi dengan kuretase 4.3. Kuretase kedua dilakukan apabila kehamilan > 20 minggu sesudah hari ke 7 4.4. Pemberian Uterotonika

RSUDEMBUNG FATIMAHSekretariatJln.R.Soeprapto Blok D 1 - 9Batu Aji 29432Telp. 0778-364446 Fax.0778-361363

PENANGANAN MOLAHIDATIDOSA

No. Dokumen

No. Revisi

Halaman

2/2

Prosedur5. Konsultasi : penyakit dalam6. Perawatan Rumah Sakit Pasien perlu dirawat agar dapat diperbaiki keadaan umum dan evakuasi segera dapat dilakukan bila semua persiapan sudah selesai.7. Penyulit :7.1 Karena penyakit :Perdarahan hebat, krisis tiroid, infeksi, perforasi, uterus, keganasan 7.2. Karena tindakan : Perforasi usus8. Inforned consent : Perlu9. Lama perawatan : 3-5 hari post evakuasi10. Masa pemulihan : 4-6 minggu dan pengawasan lanjut sampai minimal 2 tahun11. Out put : Pada umumnya baik12. Bila dalam penatalaksanaan tidak ada perbaikan DPJP dapat melakukan pengobatan sesuai dengan pengalamannya.

Unit Terkait1. Rekam Medik2. Komite Medik3. SMF Bedah4. UGD


Recommended