Home >Documents >Portofolio Skabies Poli

Portofolio Skabies Poli

Date post:22-Dec-2015
Category:
View:65 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Description:
portofolio dokter internsip skabies
Transcript:

PortofolioNama Peserta: dr. Winny Anggreni Korayan

Nama Wahana: RS Prof.Dr. V.L. Ratumbuysang Manado

Topik: Scabies

Tanggal (kasus): 29 Desember 2014

Nama Pasien: Ny. RM

Tanggal Presentasi: 30 Januari 2015Nama Pendamping: dr. Janny I. Adam

Tempat Presentasi: RS Prof.Dr. V.L. Ratumbuysang Manado

Obyektif Presentasi:

KeilmuanKeterampilanPenyegaranTinjauan Pustaka

DiagnostikManajemenMasalahIstimewa

NeonatusBayiAnakRemajaDewasaLansiaBumil

Deskripsi: Perempuan, 44 tahun, gatal pada tangan, perut, punggung, dan kaki yang semakin bertambah pada malam hari.

Tujuan:mencari dan mengatasi penyebab, mencegah terjadinya infeksi sekunder, memberikan edukasi tentang higiene pribadi dan lingkungan, melakukan pengobatan semua anggota keluarga.

Bahan bahasan:Tinjauan PustakaRisetKasusAudit

Cara membahas:DiskusiPresentasi dan diskusiEmailPos

Data pasien:Ny. RM, 44 tahunNomor Registrasi: -

Nama RS: RS Prof.Dr. V.L. Ratumbuysang ManadoTelp: -Terdaftar sejak: 29 Desember 2014

Data utama untuk bahan diskusi:

1. Diagnosis:

Scabies

Gambaran Klinis:Gatal pada tangan, perut, punggung, dan kaki. Keluhan dirasakan sejak 1 bulan yang lalu. Awalnya gatal dirasakan pada sela-sela jari tangan kiri dan meluas ke tangan kanan. Gatal kemudian menjalar ke daerah perut, punggung, dan kedua kaki. Keluhan gatal semakin bertambah pada malam hari.

2. Riwayat Pengobatan:Belum ada

3. Riwayat kesehatan/Penyakit:

Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Pasien menyangkal adanya riwayat alergi terhadap makanan maupun obat-obatan.

4. Riwayat keluarga:

Suami dan kedua anaknya memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

5. Riwayat pekerjaan:

Ibu rumah tangga

6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN): Pasien tinggal bersama suami dan kedua anaknya di rumah pribadi. Pasien tidur bersama suami dan kedua anaknya dalam 1 kamar dan menggunakan handuk secara bersama-sama.

7. Lain-lain : Pemeriksaan Fisik

Status Generalis:Keadaan Umum: Baik

Kesadaran: Compos Mentis

Tekanan Darah: 110/70 mmHgNadi: 84 x/menitRespirasi: 18 x/menit

Suhu: 36,5 C

Status Dermatologis:Distribusi: RegionalAd Regio: Torakalis Posterior, Abdominalis, Palmaris et Dorsalis Manuset Pedis Bilateral, Interdigitalis Manus et Pedis Bilateral.

Efloresensi: papul eritematosa, multiple, diskret, pustul, ekskoriasi, skuama halus.

Pemeriksaan Laboratorium : - (tidak tersedia)

Daftar Pustaka:

1. Handoko RH. Skabies. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Ed 5. Jakarta: FKUI; 2007, Hal 122-5.2. Burkhart CN, Burkhart CG. Scabies, other mites, and Pediculosis. In: Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, et al., editors. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 8th ed. New York: McGraw Hill; 2012, P 2569-78.3. James WD, Berger TG, Elston DM, editors. Andrews Diseases of the Skin Clinical Dermatology, 11th. Elsevier; 2011, P 442-4.4. Schneiderman PI, Grossman ME. A Clinicians Guide to Dermatologic Differential Diagnosis Volume 2 The Atlas. United Kingdom: Informa; 2006.5. Siregar RS. Penyakit Kulit karena Parasit dan Insekta. Dalam: Siregar RS. Atlas Berwarna saripati Penyakit Kulit, Ed 2. Jakarta: EGC; 2005, Hal 164-7.

Hasil Pembelajaran:

1. Penegakkan diagnosa scabies.2. Penatalaksanaan scabies.3. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang higiene pribadi dan lingkungan.4. Pengobatan semua anggota keluarga.

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio1. SUBYEKTIF:

Keluhan Utama: Gatal pada tangan, perut, punggung, dan kaki yang dirasakan menghebat pada malam hari.Keluhan Tambahan : -

Gatal pada tangan, perut, punggung, dan kaki. Keluhan dirasakan sejak 1 bulan yang lalu. Awalnya gatal dirasakan pada sela-sela jari tangan kiri dan meluas ke tangan kanan. Gatal kemudian menjalar ke daerah perut, punggung, dan kedua kaki. Keluhan gatal semakin bertambah pada malam hari. Suami dan kedua anak pasien mengalami keluhan yang sama seperti pasien. Pasien tidur dan menggunakan handuk secara bersama dengan suami dan anak-anaknya. Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Pasien menyangkal adanya riwayat alergi terhadap makanan maupun obat-obatan.

2. OBJEKTIF:

Status Generalis

Keadaan Umum: BaikKesadaran: Compos Mentis

Tekanan Darah: 110/70 mmHg

Nadi: 84x/menit

Respirasi: 18 x/menitSuhu: 36,5 oC

Status Dermatologis :

Distribusi: RegionalAd Regio: Torakalis Posterior, Abdominalis, Palmaris et Dorsalis Manuset Pedis Bilateral, Interdigitalis Manus et Pedis Bilateral.

Efloresensi: papul eritematosa, multiple, diskret, pustul, ekskoriasi, skuama halus.

3. ASSESSMENT (Penalaran Klinis):

Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi tungau Sarcoptes Scabiei var hominis dan produknya pada tubuh. Penyakit ini disebut juga the itch, seven year itch, Norwegian itch, gudikan, gatal agogo, budukan atau penyakit ampera.Epidemiologi :

Terdapat banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografi serta ekologik. Scabies dapat digolongkan dalam Penyakit akibat Hubungan Seksual. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan. Penyakit ini juga sering menyerang orang yang tinggal secara bersama-sama di suatu tempat yang relatif sempit, seperti orang-orang yang tidur bersama di satu tempat tidur, asrama, serta fasilitas umum yang dipakai bersama. Tidak terdapat perbedaan frekuensi pada pria dan wanita, serta menyerang semua umur dan ras. Prevalensi bervariasi terutama pada beberapa negara berkembang dengan prevalensi 4% sampai 100% dari populasi keseluruhan.Etiopatogenesis :

Scabies muncul sebagai akibat infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var hominis dan produknya. Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida , ordo Ackarina, super famili Sarcoptes. Secara morfologik tungau ini berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata, translusen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Betina berukuran 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan jantan berukuran lebih kecil, yaitu 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa memiliki 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki lainnya pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.

Setelah kopulasi yang terjadi diatas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Tungau betina yang sudah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan mempunyai larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidup mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu sekitar 8-12 hari dan siklus tersebut akan terulang lagi. Terowongan-terowongan yang lama akan menyebuh, sedangkan ditempat yang lain akan terbentuk terowongan-terowongan baru. Terowongan- terowongan tampak sedikit meninggi, keabu-abuan, garis berkelok-kelok pada kulit. Bekas terowongan-terowongan tersebut akan meninggalkan gambaran hiperpigmentasi dan tidak berskuama.

Erupsi kulit bervariasi, tergantung pada lamanya infestasi, sensitisasi sebelumnya, dan pengobatan sebelumnya. Selain itu bergantung pula pada iklim dan status imunologis hospes. Likenifikasi, impetigo, dan furunkulosis dapat terlihat. Lesi bulosa dapat mengandung banyak eosinofil, serupa dengan pemfigoid bulosa. Temuan imunofloresens positif juga harus dicatat. Scabies juga dapat serupa dengan histiosis sel langerhans. Misdiagnosis dapat menuntun pada pengobatan sistemik dengan agen-agen toksik.

Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau scabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.

Scabies dapat menular melalui kontak langsung misalnya berjabat tangan, tidur bersama dan kontak seksual; kontak tidak langsung misalnya melalui pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain. Penularan biasanya terjadi oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Terdapat pula Sarcoptes scabiei var animalis yang kadang-kadang dapat menulari manusia, terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang seperti anjing. Scabies biasanya didapat dengan kontak personal dekat.Skrining untuk penyakit menular seksual juga dapat dilakukan. Sensitisasi dimulai sekitar 2-4 minggu setelah onset infeksi. Selama waktu ini parasit dapat terdapat pada kulit dan mulai menggali terowongan tanpa menyebabkan gatal maupun rasa tidak nyaman. Gatal hebat mulai dengan sensitisasi hospes. Pada reinfeksi, gatal dimulai dalam beberapa hari dan reaksi dapat lebih intens. Gatal mulai menghebat pada malam hari, dimana selama siang hari gatal dapat ditolerir meskipun persiste