Home >Documents >Pneumothorax, Wana Referat

Pneumothorax, Wana Referat

Date post:20-Jan-2016
Category:
View:48 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Transcript:

PNEUMOTHORAXI. PendahuluanIstilah Pneumothorax pertama kali dicetuskan oleh seorang dokter berkebangsaan Perancis bernama Itard pada tahun 1803.(1) Pneumothorax adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura. Pada keadaan normal, rongga pleura tidak berisi udara agar paru-paru dapat leluasa mengembang di dalam rongga dada. Pneumothorax dapat dibagi menjadi pneumothorax spontan dan traumatik. Pneumothorax spontan dibagi menjadi primer dan sekunder. Pneumothorax primer jika penyebabnya tidak diketahui dan sekunder jika terdapat penyakit paru yang mendasarinya. Sedangkan pneumothorax traumatik dibagi lagi menjadi pneumothorax traumatik iatrogenik dan non iatrogenik.(2)II. Insiden dan EpidemiologiInsiden pneumothorax sulit diketahui karena episodenya banyak yang tidak diketahui, pria lebih banyak dari wanita dengan perbandingan 5:1. Pneumothorax spontan primer (PSP) sering juga dijumpai pada individu sehat, tanpa riwayat penyakit paru sebelumnya. Pneumothorax spontan primer banyak dijumpai pada pria dengan usia antara dekade 3 dan 4. Salah satu penelitian menyebutkan sekitar 81% kasus PSP berusia kurang dari 45 tahun. Seaton dkk, melaporkan bahwa pasien tuberkulosis aktif mengalami komplikasi pneumothorax sekitar 1,4% dan jika terdapat kavitas paru komplikasi pneumothorax meningkat lebih dari 90%.(2)Di Olmested Country, Minnesota, Amerika, Melton et al melakukan penelitian selama 25 tahun (tahun 1950 - 1974) pada pasien yang terdiagnosis sebagai pneumothorax atau pneumomediastinum, didapatkan 75 pasien karena trauma, 102 pasien karena iatrogenik dan sisanya 141 pasien karena pneumothorax spontan. Dari 141 pasien pneumothorax spontan tersebut 77 pasien PSP dan 64 pasien pneumothorax spontan sekunder (PSS). Pada pasien-pasien pneumothorax spontan didapatkan angka insidensi sebagai berikut : PSP terjadi pada 7,4 8,6/100.000 per tahun untuk pria dan 1,2/100.000 per tahun untuk wanita; sedangkan insidensi PSS 6,3/100.000 per tahun untuk pria dan 2,0/100.000 per tahun untuk wanita.(2)III. Klasifikasi dan EtiologiTerdapat beberapa klasifikasi pneumothorax yaitu pneumothorax berdasarkan penyebabnya, volume udara yang mengisi rongga pleura, jenis fistula yang menghubungkan antara saluran pernapasan dengan rongga pleura, dan frekuensi serangan.(2, 3, 4) 1. Pneumothorax berdasarkan penyebabnya1) Pneumothorax spontan yaitu pneumothorax yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab (trauma ataupun iatrogenik), ada 2 jenis yaitu :a. Pneumothorax spontan primer, suatu pneumothorax yang terjadi tanpa ada riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya. Umumnya terjadi pada individu sehat, dewasa muda, tidak berhubungan dengan aktivitas fisik yang berat tetapi justru terjadi saat istirahat dan sampai sekarang belum diketahui penyebabnya.

b. Pneumothorax spontan sekunder, suatu pneumothorax yang terjadi karena penyakit paru yang mendasarinya (tuberkulosis paru, PPOK, asma bronkial, pneumonia, tumor paru, dan sebagainya).(2)2) Pneumothorax traumatik yaitu pneumothorax yang terjadi akibat suatu trauma baik trauma penetrasi maupun yang bukan dan menyebabkan robeknya pleura, dinding dada, maupun paru-paru. Beberapa penyebab trauma penetrasi pada dinding dada adalah luka tusuk, luka tembak, akibat tusukan jarum maupun pada saat dilakukan kanulasi vena sentral.a. Pneumothorax traumatik iatrogenik, suatu pneumothorax yang terjadi akibat komplikasi dari tindakan medis. Pneumothorax jenis inipun masih dibedakan menjadi 2 yaitu :i. Pneumothorax traumatik iatrogenik aksidental yaitu pneumothorax yang terjadi akibat tindakan medis karena kesalahan atau komplikasi dari tindakan tersebut, misalnya pada tindakan parasentesis dada, biopsi pleura, biopsi transbronkial, biopsi paru perkutaneus, dan kanulasi vena sentralis.

ii. Pneumothorax traumatik iatrogenik artifisial yaitu pneumothorax yang sengaja dilakukan dengan cara mengisi udara ke dalam rongga pleura melalui jarum dengan suatu alat Maxwell box. Biasanya untuk terapi tuberkulosis (sebelum era antibiotik) atau untuk menilai permukaan paru.

b. Pneumothorax traumatik non iatrogenik adalah pneumothorax yang terjadi karena jejas kecelakaan misalnya jejas pada dinding dada baik terbuka maupun tertutup.(2)2. Pneumothorax berdasarkan volume udara yang mengisi rongga pleura

1) Pneumothorax partialis, yaitu udara yang masuk rongga pleura hanya mengisi sebagian rongga thorax saja, artinya masih ada bagian paru yang mengembang, walaupun sudah tidak sepenuhnya lagi.

2) Pneumothorax totalis, yaitu paru sudah mengalami kolaps total karena terdesak udara dalam rongga pleura yang cukup banyak dengan tekanan yang cukup besar.(3,4)3. Pneumothorax berdasarkan jenis fistulanya1) Pneumothorax terbuka (open pneumothorax), yaitu suatu pneumothorax yang terjadi akibat adanya luka terbuka pada dinding dada sehingga saat inspirasi udara dapat keluar melalui luka tersebut.2) Pneumothorax tertutup (simple pneumothorax) adalah pneumothorax dengan tekanan udara di rongga pleura yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan pleura pada sisi hemithorax kontralateral tetapi tekanannya masih lebih rendah dari tekanan atmosfer. Pada jenis ini tidak didapatkan defek atau luka terbuka pada dinding dada.

3) Tension pneumothorax (pneumothorax ventil) merupakan pneumothorax yang terjadi akibat mekanisme check valve yakni pada saat inspirasi udara masuk ke dalam rongga pleura namun saat ekspirasi udara dalam rongga pleura tidak dapat keluar. Semakin lama tekanan udara di dalam rongga pleura akan semakin meningkat dan melebihi tekanan atmosfer. Udara yang terkumpul dalam rongga pleura ini dapat menekan paru sehingga sering menimbulkan gagal napas.(2)4. Pneumothorax berdasarkan frekuensi serangan1) Pneumothorax residif, yaitu apabila serangan pneumothorax ini sudah terjadi beberapa kali di tempat sama.2) Pneumothorax habitual, yaitu apabila serangan pneumothorax ini sudah terjadi beberapa kali di tempattempat yang berbeda.(4)IV. Anatomi dan Fisiologi1. Anatomi

Traktus respiratorius umumnya dibagi menjadi bagian atas dan bawah. Traktus respiratorius atas berhubungan dengan kavum nasi, nasofaring, dan laring sedangkan bagian bawah berhubungan dengan trakea, bronkus, dan paru-paru.(5)1) Pleura

Pleura terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan viseralis yang melekat pada paru dan lapisan parietalis yang membatasi aspek terdalam dinding dada, diafragma, serta sisi pericardium dan mediastinum. Pada hilus paru kedua lapisan pleura ini berhubungan. Hubungan ini bergantung dengan ligamentum pulmonale. Adanya ligamentum ini memungkinkan peregangan vv. pulmonalis dan pergerakan struktur hilus selama respirasi. Rongga pleura mengandung sedikit cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas untuk mengurangi pergesekan antara kedua pleura. Pleura parietalis sensitif terhadap nyeri dan raba (melalui n. interkostalis dan n. frenikus). Pleura viseralis hanya sensitif terhadap regangan (melalui serabut aferen otonom dari pleksus pulmonalis).(5)

Gambar 1 : Anatomi pleura. (dikutip dari kepustakaan 12)

2) Paruparu

Paruparu memiliki area permukaan alveolar kurang lebih seluas 40 m2 untuk pertukaran udara. Tiap paru memiliki apeks yang mencapai ujung sternal kosta pertama dan basis yang terletak di atas diafragma. Paru kanan terbagi menjadi lobus atas, tengah, dan bawah oleh fisura oblikus dan horizontal. Paru kiri hanya memiliki fisura oblikus sehingga tidak ada lobus tengah. Segmen lingular merupakan sisi kiri yang ekuivalen dengan lobus tengah kanan. Namun, secara anatomis lingual merupakan bagian dari lobus atas kiri. Struktur yang masuk dan keluar dari paru-paru melewati hilus paru yang diselubungi oleh kantong pleura yang longgar.(5)

Gambar 2 : Anatomi paru-paru. (dikutip dari kepustakaan 13)2. FisiologiSistem pernapasan melaksanakan pertukaran udara antara atmosfer dan paru melalui proses ventilasi. Pertukaran O2 dan CO2 antara udara dalam paru dan darah dalam kapiler paru berlangsung melalui dinding kantung udara, atau alveolus, yang sangat tipis. Saluran pernapasan menghantarkan udara dari atmosfer ke bagian paru tempat pertukaran gas tersebut berlangsung. Paru terletak di dalam kompartemen thorax yang tertutup, yang volumenya dapat diubah-ubah oleh aktivitas kontraktil otototot pernapasan.(6)Udara cenderung bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah, yaitu menuruni gradien tekanan. Udara mengalir masuk dan keluar paru selama proses bernapas dengan mengikuti penurunan gradien tekanan yang berubah berselang-seling antara alveolus dan atmosfer akibat aktivitas siklik otot-otot pernapasan. Terdapat tiga tekanan berbeda yang penting pada ventilasi :1. Tekanan atmosfer adalah tekanan yang ditimbulkan oleh berat udara di atmosfer terhadap bendabenda di permukaan bumi. Di ketinggian permukaan laut, tekanan ini sama dengan 760 mmHg.

2. Tekanan intra-alveolus atau intrapulmonalis adalah tekanan di dalam alveolus. Karena alveolus berhubungan dengan atmosfer melalui saluran pernapasan, udara dengan cepat mengalir mengikuti penurunan gradien tekanan setiap kali terjadi perbedaan antara tekanan intra-alveolus dan tekanan atmosfer; udara terus mengalir sampai tekanan keduanya seimbang (ekuilibrium).3. Tekanan intrapleura adalah tekanan di dalam kantung pleura. Tekanan ini juga dikenal sebagai tekanan intrathorax, yaitu tekanan yang terjadi di luar paru di dalam rongga thorax. Tekanan intrapleura biasanya lebih kecil daripada tekanan atmosfer, rata-rata 756 mmHg saat istirahat. Tekanan intrapleura tidak diseimbangkan dengan tekanan atmosfer atau intra-alveolus, karena tidak terdapat hubungan langsung antara rongga pleura dan atmosfer atau paru. Karena kantung pleura adalah suatu kantung tertutup tanpa lubang, udara tidak dapat masuk atau keluar walaupun terdapat gradien konsentrasi antara kantung itu dengan sekitarnya.(6)Kohesivitas cairan intrapleura dan gradien tekanan transmural menjaga dinding thorax dan

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended