Home >Documents >PLTU TJB_Muhammad Yahya(21060112130092)

PLTU TJB_Muhammad Yahya(21060112130092)

Date post:16-Nov-2015
Category:
View:69 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Description:
Laporan kunjungan PLTU TJB
Transcript:
  • TUGAS TERMODINAMIKA

    Makalah Kunjungan PLTU Tanjung Jati B

    Disusun Oleh :

    Muhammad Yahya (21060112130092)

    UNIVERSITAS DIPONEGORO

    SEMARANG

    2014

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    2.1 Latar Belakang

    Seiring dengan perkembangan teknologi listrik telah menjadi salah satu

    kebutuhan pokok dalam menjalani kehidupan. Hampir semua aspek kehidupan

    manusia memerlukan energi listrik, di perkantoran, rumah tangga, dan perindustrian.

    Semakin banyaknya berdiri industri-industri baru yang memerlukan energi listrik

    dalam pengoperasiannya sehingga menyebabkan kebutuhan akan energi listrik terus

    meningkat setiap tahunnya.

    Dalam memenuhi kebutuhan akan energi listrik didirikan pembangkit-

    pembangkit yang baru. Pembangkit energi listrik ini biasanya berada di daerah yang

    jauh dari pusat beban. Agar energi listrik ini sampai ke pusat beban maka diperlukan

    saluran transmisi dan distribusi energi listrik. Pembangkit listrik di Indonesia umunya

    menggunakan saluran transmisi 150 kV. Masalah lain yang muncul adalah

    penyebaran pusat-pusat beban yang tidak merata. Sehingga pembangkit yang

    mempunyai kapasitas kecil seringkali harus digunakan untuk menyuplai beban yang

    besar, sedangkan pembangkit yang berkapasitas besar digunakan untuk menyuplai

    beban yang kecil. Untuk mengatasi hal ini, pusat pembangkit yang ada harus

    diinterkoneksikan, agar tenaga listrik dapat ditransmisikan sesuai dengan kebutuhan.

    Interkoneksi sistem ini bertujuan untuk menghubungkan pembangkit-pembangkit

    yang ada menjadi satu, sehingga pembangkit tenaga listrik yang ada dapat digunakan

    untuk menyuplai beban yang letaknya jauh dari lokasi tersebut.

  • 2.2 Tujuan

    1. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan pengetahuan tentang dunia

    kelistrikan.

    2. Meningkatkan dan memperluas pengetahuan tentang PLTU Tanjung Jati B

    Jepara.

    3. Memahami aspek-aspek usaha yang potensial dalam lapangan kerja, antara lain

    struktur organisasi usaha, asosiasi usaha, jenjang karier dan management usaha

    di PT PLN (persero).

    4. Memperoleh masukan dan umpan balik guna memperbaiki dan mengembangkan

    PT PLN (PERSERO) ke depannya.

  • BAB II

    DASAR TEORI

    2.1 Profil Umum Perusahaan

    PLTU Tanjung Jati B adalah pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang

    terletak di wilayah Jawa Tengah tepatnya di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang,

    Kabupaten Jepara.

    PLTU Tanjung Jati B merupakan sebuah produk strategi energi nasional

    Indonesia yang mendorong investasi internasional guna menyediakan keamanan dan

    ketersediaan energi listrik bagi rakyat Indonesia. PLTU ini memberikan keuntungan

    bagi infrastruktur jaringan listrik dan pembangkit-pembangkit listrik yang ada pada

    saat ini, dengan menyediakan 2640 MW tambahan energi listrik yang dapat

    diandalkan, ekonomis dan dalam lingkungan pengelolaan yang bertanggung jawab.

    Berikut adalah rincian profil dari PLTU Tanjung Jati B.

    Area : 150 ha Location : Desa Tubanan, Kec. Kembang, Jepara Jawa Fuel : Fuel Oil (start-up) and Coal Capacity : 4 x 660 MW Net Lessor : PT Central Java Power (Sumitomo group) Lessee : PT PLN (Persero) Operator : PT TJB Power Services & PT KPJB COD

    Unit 1 : 1 October 2006 Unit 2 : 1 November 2006 Unit 3 : 1st Sync : 15 Mei 2011 COD : 13 Oct 2011 Unit 4 : 1st Sync : 15 Ags 2011 COD : 1 Jan 2012

    Berikut ini adalah gambar PLTU Tanjung Jati B Jepara

  • Gambar 2.1 Penampakan PLTU Tanjung Jati B Jepara

    2.2 Pembangkit Listrik Tenaga Uap

    Prinsip Kerja Utama PLTU ditunjukan pada gambar dibawah.

    Gambar 2.2 Gambaran sistem kerja pada PLTU

    Dalam PLTU, energi primer yang dikonversikan menjadi energi listrik adalah

    bahan bakar. Bahan bakar yang digunakan dapat berupa batu bara (padat), minyak

    (cair), atau gas. Ada kalanya PLTU menggunakan Kombinasi beberapa macam bahan

    bakar.

  • Konversi energi tingkat pertama yang berlangsung dalam PLTU adalah

    konversi energi primer menjadi energi panas (kalor).Hal ini dilakukan alam ruang

    bakar dari ketel uap PLTU.Energi panas ini kemudian dipindahkan ke dalam air yang

    ada dalam ruang bakar dari ketel uap PLTU. Energi panas ini kemudian dipindahkan

    ke dalam air yang ada dalam pipa ketel untuk menghasilkan uap yang dikumpulkan

    dalam drum dari ketel. Uap dari drum ketel dialirkan ke turbin uap. Dalam turbin uap,

    energi (enthalpy) uap dikonversikan menjadi energi mekanis penggerak generator,

    dan akhirnya energi mekanis dari turbin uap ini dikonversikan menjadi energi listrik

    oleh generator.

    Proses pembakaran batu bara umumnya membutuhkan tempat penyimpanan

    dan peralatan penangannannya. Ukuran biji batu bara diperkecil dengan

    menggunakan mesin pemecah (pulverizer) dan disimpan di tempat terbuka sampai

    sekiranya dibutuhkan baru akan diambil. Conveyor bertugas menganggkut batubara

    menuju ke mesin pemecah (pulverizer). Pada umumnya batubara di hancurkan di

    mesin pulverizer dengan menggunakan variable speed coal feeders controlled untuk

    merespon perubahan beban. Batubara akan terbakar dengan mudah dan efisien seperti

    gas jika dibuat dalam serbuk halus. Di samping itu jika digunakan dalam bentuk

    serbuk, batubara akan mempunyai keuntungan-keuntungan antara lain dapat

    menanggapi perubahan beban dengan baik, kebutuhan akan kelebihan udara

    pembakaran (excess air) rendah sehingga konsumsi daya untuk kipas lebih rendah,

    suhu pembakaran lebih tinggi, efisiensi thermal lebih baik dan biaya operasi dan

    pemeliharaan rendah. Kemudian serbuk batu bara tersebut didorong oleh udara

    primer dari primary air fan (PAF) sampai ke pembakaran. Pembakar batu bara serbuk

    menerima serbuk batubara kering dan udara primer kemudian mencampurnya dengan

    udara pembakaran utama dari forced draft fan (FDF) sehingga timbullah nyala api di

    dalam.

  • Gambar 2.3 Sistem batu bara serbuk

    Dalam perhitungan neraca energi dan efisiensi perlu diketahui nilai kalor dari

    proses pembakaran batubara. Nilai kalor menunjukkan perpindahan panas dari suatu

    proses pembakaran batu bara yang didinginkan sampai suhu awak dari udara dan

    batu bara.

    Ada dua macam nilai kalor, yaitu nilai kalor Tinggi (HHV, High Heating

    Value) yaitu nilai kalor yang terjadi jika semua uap yang terbentuk telah

    terkondensasi, sehingga dalam hal ini termasuk kalor laten penguapan air. Selain

    HHV ada nilai lain yaitu Nilai Kalor Rendah (LHV, Low Heating Value) yaitu nilai

    kalor yang tidak termasuk nilai kalor laten untuk penguapan uap air. HHV dan LHV

    dalam kcal/kg dapat ditentukan dengan:

    HHV = [ 8,080C + 34.500 (H O/8) +2220 SJ]

    Dan

    LHV = HHV - 588,76 x W

  • Dimana:

    - C = Fraksi massa Karbon

    - H = Fraksi massa Hidrogen

    - O = Fraksi massa Oksigen

    - S = Fraksi massa Sulfur

    - W = Jumlah uap air yang terbentuk karena pembakaran 1 kg batu bara

    Dalam perhitungan neraca energi dan efisiensi digunakan HHV karena semua

    kandungan energi total harus diperhitungkan. Panas yang dihasilkan dalam kcal/hr

    dari pembakaran batubara di dalam Boiler sebesar:

    QBB= HHV x BB

    Dimana:

    - BB : Jumlah batubara yang dibakar di ketel dalam kg/hr

    Sedangkan untuk mencari kebutuhan udara yang dibutuhkan untuk pembakaran tiap

    kg batubara adalah :

    UOG = 11,5C +34,5

    8 + 4,325

    UOV =

    1,29

    Dimana :

    - UOG : kebutuhan udara teoritis (kgudara/kgbatubara)

    - UOV : kebutuhan udara teoritis (m3

    udara/kgbatubara)

    - C,H,O,S : fraksi C,H,O dan S dalam setiap kg batubara (%)

    Kebutuhan udara sebenarnya tiap kg batu bara memperhitungkan factor excessair

    (udara lebih) supaya pembakaran yang terjadi lebih sempurna. Factor udara lebih

    (excess air) dicari dengan menggunakan persamaan:

    m = 21/(21-O2)

    dimana:

    - m : Faktor udara lebih (excess air)

    - O2 : Kadar oksigen dalam gas buang (%)\

  • Kebutuhan udara sebenarnya adalah:

    U = m.Uo

    Dimana:

    - U = kebutuhan udara actual (kgudara/kgbatubara) atau (m3

    udara/kgbatubara)

    - Uo = kebutuhan udara teoritis (kgudara/kgbatubara) atau (m3

    udara/kgbatubara)

    Dari pembakaran tersebut dihasilkan gas buang yang dibuang ke atmosfer melalui

    cerobong. Untuk menghitung laju aliran dari gas buang ini digunakan persamaan :

    Gog = Uog + (1 A)

    Gg = m.Uog + (1 A)

    Gov = Uov+ 5,6

    8 +1,24W + 0,8 N

    Gv = (m-1) Uov +Gov

    Dimana:

    - Gog : berat gas asap teoritis (kggasasap/kgbatubara)

    - Gg : berat asap actual (kggasasap/kgbatubara)

    - A,W,N : fraksi asap, uap air, nitrogen dalam setiap kg batu bara (%)

    - Gov : volume gas asap teoritis (m3

    gasasap/kgbatubara)

    - Gv : volume gas asap actual (m3

    gasasap/kgbatubara)

    Laju aliran udara atau gas buang yang diperlukan atau dihasilkan oleh pembakaran

    sujumlah tertentu batu bara dalam kg/hr adalah:

    m = U.BB

    debit aliran fluida dalam m3/hr adalah :

    Q = m/

    Dimana adalah berat jenis fluida

  • BAB III

    PEMBAHASAN

    3.1 Komponen Utama PLTU Tanjung Jati B

    Pada PLTU Tanjung Jati B ini terdapat beberapa komponen utama dalam

    proses pembankitan daya listrik, seperti proses pembangkitan uap, proses

    pembangkitan daya listrik, peralatan bantu, dan penanganan limbah. Berikut ad

Embed Size (px)
Recommended