Home >Documents >PES Flu Burung

PES Flu Burung

Date post:14-Jan-2016
Category:
View:221 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
flu burung
Transcript:

PEMBERANTASAN PENYAKIT PES

Plague, disebut juga penyakit pes, adalah infeksi yang disebabkan bakteri Yersinia pestis (Y. pestis) dan ditularkan oleh kutu tikus (flea), Xenopsylla cheopis. Yersinia pestis penyebab pes berbentuk batang pendek, gemuk dengan ujung membulat dengan badan mencembung, berukuran 1,5 5,7 dan bersifat Gram positif. Kuman ini serirtutung menunjukkan pleomorfisme. Pada pewarnaan tampak bipolar, mirip peniti tertutup. Kuman tidak bergerak, tidak membentuk dari spora dan diselubu Selain jenis kutu tersebut, penyakit ini juga ditularkan oleh kutu jenis lain.

Faktor-faktor yang memepengaruhi penyakit pes

1. Faktor Agent: Bakteri Yersinia Pesti / Bakteriolog Perancis A.J.E Yersin. Dibawa oleh hewan pengerat (terutama tikus) dan ditularkan oleh kutu tikus. Penyakit ini menular melalui gigitan tikus.2. Faktor Host: Manusia3. Faktor Environment: rumah yang kotor atau tempat-tempat yang biasanya di huni sebagai sarang tikus4. Port op Entry and Exit: Kulit5. Tranmisi: Kontak dengan tubuh binatang yang terinfeksi, kontak fisik dengan penderita dan bisa terjadi dari percikan air liur oenderita yang terbawa oleh udara

Cara penularan:

1. Cara penularan pes melalui gigitan pinjal dari tikus

2. Masa penularan penyakit pes bubo atau pes kelenjar adalah 2-6 hari, sedangkan penyakit pes paru 1-3 hari.

Tanda dan Gejala Pes Bubo (pes Kelenjar) A. Lesu, sakit kepala, menggigil dan demam dan rasa sakit di daerah kelenjar limfe dan ditemukan pembengkakan kelenjar sebesar buah duku (bubp) pada daerah lipatan paha, ketiak dan leher. B. Septikemi Pes C. Septikemi pes merupakan perkembangan dari pes bubo yang infeksinya menjalar ke seluruh sistem organ tubuh manusia melalui darah dengan gejala demam tinggi, invaskular congulopathy, kegagalan pada organ tubuh dari pada orang dewasa adanya sindroma gangguan pernafasan. Komplikasinya meliputi: radang otak, radang mata karena pes, dan adanya abses pada hati atau secara umum adanya.

Pnemonik Pes (Pes paru)

A. Demam, batuk secara tiba-tiba dan keluar dahak, sakit dai dada, susah bernafas, kekurangan oxigen, muntah darah, dapat berakibat fatal (kematian). B. Apabila ada kejadian tersebut di atas terutama di daerah pes segera ke puskesmas dan rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.

Cakupan Program

Hasil Pemeriksaan Spesimen Pes pada Manusia Tahun 2004 2012a. Pencegahan

b. Sanitasi LingkunganPengawasan lingkungan meliputi pengawasan terhadap tikus dan membersihkan sampah, air, sarang tikus, bahan untuk membuat sarang tikus dan mengusahakan konstruksi bangunan anti tikus. c. Lingkungan rumah Makanan harus disimpan di tempat yang aman dan tertutup Tempat penyimpanan air harus ditutup rapat dan bagian bocor harus diperbaiki d. Disekitar rumah

Halaman rumah sebaiknya selalu dibersihkan dan bersih dari kumpulan sampah e. Di masyarakat tindakan yang tepat dilakukan: Sampah harus dikumpulkan dan dibuang dengan benar-benar terutama pada sampah- sampah industri termasuk kardus yang rusak dan bahan-bahan bangunan yang dapat menarik tikus Tutup dengan rapat saluran pembuangan air atau sistem sanitasi lainnya Pemberantasan

a. Keharusan melaporkan terjadinya penyakit pes oleh para dokter supaya tindakan pencegahan dan pemberantasan penyakit dapat dijalankan. Keharusan ini tercantum dalam undang-undang karantina danepidemi (UU Wabah 1962).b. Keharusan melaporkan adanya kematian sebelum mayat dikubur. Pada mayat itu dilakukan fungsi paru, limfa dan pada bubo. Pes paru primer dapat dinyatakan bila cairan paru pasitif dan pes cairan limpa negatif. Pes paru sekunder terjadi bila cairan paru dan cairan limpa positif. Pes septichaemi jika cairan paru negatif dan cairan limpa positif.c. Tindakan selanjutnya jika telah dinyatakan diagnosa pes adalah penderita pes paru (primer dan sekunder) harus diisolasi dan dirawat di rumah sakit. Penduduk di sekitar rumah pes divaksinasi. Rumah disemprot dengan DDT. Kemudian rumah itu dibuka atapnya agar matahari dapat masuk. Lalu rumah tersebut diperbaiki kembali.d. Suntikan anti pes secara umum.e. Pembasmian pinjal tikus dilakukan dengan bubuk DDT yang ditaruh pada tempat yang biasa dilalui oleh tikus. Bubuk DDT akan melekat pada bulu tikus sehingga akan membunuh pinjal-pinjal itu. Hal ini dapat pula dilakukan serangkaian pemberantasan nyamuk malaria melalui penyemprotan.f. Pembasmian tikus dengan racun, perangkap dan kucing.g. Pengawasan angkutan padi dan lain-lain dengan pikulan, gerobak, dan sebagainya agar tikus yang tertular pes tidak terangkut dari satu daerah ke daerah yang lain.h. Perbaikan rumah agar tikus tidak bersarang di dalam rumah.i. Tindakan kebersihan seperti menjemur alat-alat tidur setiap minggu. Jangan ada sisa-sisa makanan yang berhamburan dan menarik tikus.Pengobatan

Upaya pengobatan terhadap penderita penyakit pes, baik yang menularkan maupun yang tertular adalah sebagai berukut.a. Untuk tersangka pes1. Tetracycline 4x250 mg biberikan selama 5 hari berturut-turut atau2. Cholamphenicol 4x250 mg diberikan selama 5 hari berturut-turutb. Untuk Penderita Pes1. Streptomycine dengan dosis 3 gram/hari (IM) selama 2 hari berturut-turut, kemudian dosis dikurangi menjadi 2 garam/hari selama 5 hari berturut-turut.Setelah panas hilang.2. Dilanjutkan dengan pemberian :a) Tetracycline 4-6 gram/hari selama 2 hari berturut-turut,kemudian dosis diturunkan menjadi 2 gram/hari selama 5 hari berturut-turut ataub) Chlomphenicol 6-8 gram/hari selama 5 hari berturut turut, kemudian dosis diturunkan menjadi 2 gram/hari selama 5 hari berturut-turut.c. Untuk pencegahan terutama ditujukan pada:1. Penduduk yang kontak (serumah) dengan pendeita pes bobo.2. Seluruh penduduk desa/dusun/RW jika ada penderita pes paru.

Tetapi yang dianjurkan adalah dengan pemberian Tertracycline 500mg/hari selama 10 hari berturut-turut. PEMBERANTASAN PENYAKIT FLU BURUNG

Avian influenza adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A terutama H5N1 yang ditularkan oleh unggas.Virus influenza terdiri dari beberapa tipe yaitu A, B dan C. Influenza tipe A terdiri dari sub tipe yaitu: H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain.

I. Klasifikasi Kasus berdasarkan Tanda dan Gejala Flu Burung Kasus

AI H5N1 pada manusia diklasifikasikan dalam 3 jenis kasus sesuai perkembangan diagnosa, yaitu kasus suspek AI, kasus probable dan kasus konfirmasi. a. Kasus Suspek AI H5N1

Seseorang yang menderita demam panas 380 C disertai dengan satu atau lebih gejala berikut :a) Batuk b) Sakit tenggorokan

c) Pilek

d) Sesak nafas (nafas pendek)

Ditambah dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini :1. Pernah kontak dengan unggas sakit/ mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya serta produk mentahnya (telur, jeroan) termasuk kotoran dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala diatas. Yang dimaksud dengan kontak adalah merawat, membersihkan kandang, mengolah, membunuh, mengubur/ membuang/ membawa 2. Pernah tinggal di lokasi yang terdapat kematian unggas yang tidak biasa dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala diatas. Lokasi ditentukan dengan mobilisasi unggas yang mati 3. Pernah kontak dengan penderita AI konfirmasi dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala diatas 4. Pernah kontak dengan spesimen AI H5N1 dalam 7 hari sebelum timbul gejala diatas 5. Ditemukan adanya lekopenia ( N

RhonkiTidak adaAda

LeukopeniTidak adaAda

KontakTidak adaAda

Jumlah

Skor :

6 7 = Evaluasi ketat, apabila meningkat (>7) diberikan oseltamivir > 7 = diberi oseltamivir. Batas frekuensi napas di atas normal berdasarkan usia :

< 2bl = > 60 x/ menit 2 bl - < 12 bl = > 50 x/ menit > 1 thn - < 5 thn = > 40 x /menit 5thn12 thn = > 30 x/ menit Pada Fasilitas yang tidak ada pemeriksaan leukosit maka pasien dianggap sebagai leukopeni (skor = 2) Pasien ditangani sesuai dengan kewaspadaan standar. VII. Cara Pencegahana) Petugas yang berhubungan langsung dengan sumber penularan memakai masker, kaca mata, sarung tangan tebal, gaun pelindung, sepatu bot karet b) Lingkungan peternakan harus bersih c) Semua orang yang kontak langsung harus cuci tangan dengan desinfektan, alkohol 70% d) Semua orang yang terpapar harus diperiksa ke fasilitas kesehatan (puskesmas/rumah sakit), pengobatan simtomatik, roborantina, diobati atas rekomendasi dokter dengan antiviral oseltamivir pada kasus tersangka e) Menjaga kondisi badan agar tetap prima f) Rencana imunisasi dengan vaksin H5N1 strain Indonesia (A/Indonesia/05/2005)

VIII. Pengendalian Penyakit Flu Burung

a. Tujuan

1. Mencegah perkembangan flu burung ke tahap berikutnya 2. Penanganan sebaik-baiknya pasien/korban flu burung pada manusia dan hewan 3. Meminimalkan kerugian akibat perkembangan flu burung 4. Pengelolaan pengendalian flu burung secara berkelanjutan 5. Mengefektifkan kesiapsiagaan nasional menghadapi pandemi influenza

b. Prinsip Dasar 1. Mengutamakan keselamatan manusia 2. Mempertimbangkan faktor ekonomi 3. Menekankan upaya terintegrasi seluruh komponen bangsa 4. Mengacu kesepakatan nasional dan internasional, dan 5. Kesiapsiagaan dan kewaspadaan dalam mengantisipasi pandemi influenza . c. Strategi Pengendalian Flu Burung 1. Pengendalian Penyakit pada Hewan 2. Penatalaksanaan kasus pada manusia 3. Perlindungan kelompok resiko tinggi 4. Surveilans epidemiologi pada hewan dan manusia 5. Restrukturisasi sistem industri perunggasan 6. Komunikasi, Informasi dan Edukasi 7. Penguatan dukungan peraturan 8. Peningkatan kapasitas 9. Penelitian kaji tindak 10. Monitoring dan evaluasi d. Strategi Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Human Influenza) 1. Penguatan Manajemen Berkelanjutan 2. Penguatan Surveilans Pada Hewan dan Manusia 3. Pencegahan dan Pengendalian

4. Penguatan Kapasitas Respon Pelayanan Kesehatan

5. Komunikasi, Informasi dan EdukasiIX. Simulasi penanggulangan episenter pandemi influenzaEpisenter Pandemi Influenza adalah lokasi pertama tempat ditemukannya sinyal epidemiologis dan sinyal virologis pandemi Influenza.Sinyal Epidemiologis episenter pandemi influenza adalah adanya klaster/kelompok penderita atau kematian karena pneumonia (radang paru) yang tidak jelas penyebabnya dan terkait erat dalam faktor waktu dan tempat dengan rantai penularan yang berkelanjutan, atau adanya klaster penderita Flu Burung dengan dua generasi/turunan penularan atau lebih tanpa hubungan darah antar generasi dan atau adanya penularan kepada petugas kesehatan yang merawat penderita.Sinyal epidemiologis ini merupakan sinyal yang paling sensitif dan dapat dipercaya untuk segera memulai tindakan penanggulangan sebelum diperoleh konfirmasi virologis.Yang dimaksud dengan dua generasi penularan atau lebih adalah apabila kasus awal menularkan kepada orang kedua, dan orang kedua menularkan ke orang ketiga dan seterusnya. Dalam hal ini tidak ada sumber paparan lain yang dapat dibuktikan atau tidak ada selang waktu (interval) antara orang yang berkontak.Sinyal virologis episenter pandemi influenza adalah hasil pemeriksaan virologis isolat virus H5 yang berasal dari penderita yang terkait dengan sinyal epidemiologis episenter pandemi influenza dengan metoda complete genetic sequencing / pemeriksaan gen (pembawa sifat baka) secara lengkap. Episenter Pandemi Influenza terjadi karena adanya: Mutasi adaptif (perubahan genetik yang terjadi karena penyesuaian virus) yang awalnya ditularkan dari binatang menjadi virus yang mempunyai kemampuan menular dengan mudah dan cepat antar manusia, dan dapat menyebabkan timbulnya Pandemi Influenza. Reassortment (penggabungan gen) antara virus influenza burung dan virus influenza manusia, sehingga terjadi virus influenza baru yang merupakan virus influenza manusia baru, yang mudah dan cepat menular antar manusia dan dapat menyebabkan timbulnya Pandemi Influenza.Pandemi Influenza mendatang tidak dapat diperkirakan, pandemi dapat timbul sewaktu-waktu dan kemungkinan akan menjangkiti semua negara di dunia termasuk Indonesia dengan jumlah kesakitan dan kematian yang besar. Pelayanan kesehatan tidak akan mencukupi. Kekacauan sosial dan ekonomi akan muncul dalam skala besar. Karena itu setiap negara harus mengantisipasi kemungkinan datangnya pandemi Influenza ini. Indonesia telah memiliki Rencana Strategi Nasional untuk Pengendalian Avian Influenza dan Kesiapsiagaan Pandemi Influenza.

Upaya Yang Telah Dilakukan Dalam Penanggulangan Fb

Menteri kesehatan melalui Surat Keputusannya Nomor. 1371/Menkes/SK/IX/2005 telah menetapkan Flu burung (Avian Influenza) sebagai penyakit yang berpotensi dapat menimbulkan wabah serta mengeluarkan pedoman untuk pengendaliannya.

Kemudian melalui Surat Keputusan Nomor. 1372/Menkes/SK/IX/2005 Menteri Kesehatan juga menetapkan Kondisi Kejadian Luar Biasa Flu Burung (Avian Influenza).

Sebagai langkah lanjut Indonesia telah membentuk Komisi Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor. 7 Tahun 2006.

Telah disusun sepuluh strategi nasional dalam upaya pengendalian AI di Indonesia. Kesepuluh strategi tersebut merupakan gabungan dari strategi Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan yang difasilitasi oleh BAPPENAS.

Kesepuluh strategi nasional pengendalian AI adalah sebagai berikut :

1. Pengendalian penyakit pada hewan

2. Penatalaksanaan kasus pada manusia

3. Perlindungan kelompok risiko tinggi

4. Surveilans epidemiologi pada hewan dan manusia

5. Restrukturisasi sistem industri perunggasan

6. Komunikasi risiko, edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat

7. Penguatan dukungan peraturan

8. Peningkatan kapasitas (capacity building)

9. Penelitian kaji tindak

10. Monitoring dan Evaluasi. Dari sepuluh strategi nasional tersebut, diprioritaskan atau lebih difokuskan pada:

1. Surveilans epidemiologi pada hewan dan manusia secara terpadu.

2. Penatalaksanaan kasus pada manusia dan pengendalian penyakit pada hewan.

3. Komunikasi risiko, edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.

4. Peningkatan kapasitas. Penyusunan kebijakan tentang pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza, yaitu :

1. Setiap kasus Flu Burung dilakukan investigasi dan pengawasan ketat.

2. Setiap kasus Flu Burung yang dirawat di Rumah Sakit dibebaskan dari pembiayaan.

3. Setiap Puskesmas, RSUD dan RS Rujukan disediakan oseltamivir.

4. Ditetapkan 8 laboratorium regional dan 34 sub regional yang dapat memeriksa spesimen Flu Burung.