Home >Documents >Pernikahan Adat Batak

Pernikahan Adat Batak

Date post:03-Oct-2015
Category:
View:289 times
Download:21 times
Share this document with a friend
Description:
x
Transcript:

Pernikahan Adat Batak

by :Fanny MagdalenaS 1 Manajemen PerhotelanPernikahan Adat Batak

Pernikahan Adat BatakMARSIBUHA BUHAIPROSESI MASUK TEMPAT ACARA ADATPENYERAHAN TANDA MAKANAN ADATPENYERAHAN DENGKEACARA PERCAKAPAN ADAT

Pernikahan Adat BatakPENYERAHAN PANGGOHI / KEKURANGAN SINAMOTPENYERAHAN PANANDAIONPENYERAHAN TINTIN MARUNGKUPPEMBERIAN ULOSMANGUNJUNGI ULAON

MARSIBUHA BUHAI Pagi hari sebelum dimulai pemberkatan/catatan sipil/pesta adat, acara dimulai dengan penjemputan mempelai wanita di rumah disertai dengan makan pagi bersama dan berdoa untuk kelangsungan pesta pernikahan,biasanya disini ada penyerahan bunga oleh mempelai pria dan pemasangan bunga oleh mempelai wanita dilanjutkan dengan penyerahan Tudu-tudu Ni Sipanganon dan menyerahkan dekke lalu makan bersama, selanjutnya berangkat menuju gereja untuk pemberkatan.

Tamu VIP (Keluarga/Kerabat terdekat)

PROSESI MASUK TEMPAT ACARA ADATRaja Parhata/Protokol Pihak Perempuan = PRWRaja Parhata/Protokol Pihak Laki-laki = PRPSuhut Pihak Wanita = SWSuhut Pihak Pria = SP

PRW meminta semua dongan tubu/semaraganya bersiap untuk menyambut dan menerima kedatangan rombongan hula-hula dan tulangPRW memberi tahu kepada Hula-hula, bahwa SP sudah siap menyambut dan menerima kedatangan Hula-hulaSetelah hula-hula mengatakan mereka sudah siap untuk masuk, PRW mempersilakan masuk dengan menyebut satu persatu, hula-hula dan tulangnya secara berurutan sesuai urutan rombongan masuk nanti

PENYERAHAN TANDA MAKANAN ADAT.(Tudu-tudu Ni Sipanganon) Tanda makanan adat yang pokok adalah: kepala utuh, leher (aliang), rusuk (somba-somba) , pangkal paha (soit), punggung dengan ekor (upasira), hati dan jantung ditempatkan dalam baskom/ember besar.

PENYERAHAN TANDA MAKANAN ADAT.(Tudu-tudu Ni Sipanganon)

PENYERAHAN TANDA MAKANAN ADAT.(Tudu-tudu Ni Sipanganon)Tanda makanan adat diserahkan SP beserta Isteri didampingi saudara yang lain dipandu PRP, diserahkan kepada SW dengan bahasa adat, yang intinya menunjukkan kerendahan hati dengan mengatakan walaupun makanan yang dibawa itu sedikit/ala kadarnya semoga ia tetap membawa manfaat dan berkat jasmani dan rohani hula-hula SW dan semua yang menyantap nya, sambil menyebut bahasa adat : Sitiktikma si gompa, golang golang pangarahutna, tung so sadia (otik) pe naung pinatupa i, sai godangma pinasuna.

PENYERAHAN DENGKE/IKAN

Aslinya ikan yang diberikan adalah jenis ihan atau ikan Batak, sejenis ikan yang hanya hidup di Danau Toba dan rasanya memang manis dan khas. Ikan ini mempunyai sifat hidup di air yang jernih (tio) dan kalau berenang/berjalan selalu beriringan (mudur-udur) , karena itu disebut ; dengke sitio-tio, dengke si mudur-udur (ikan yang hidup jernih dan selalu beriringan)

PENYERAHAN DENGKE/IKAN OLEH SWSimbol inilah yang menjadi harapan kepada pengantin dan keluarganya yaitu se-ia sekata dan murah rejeki.Tetapi sekarang ihan sudah sangat sulit didapat, dan jenis ikan mas sudah biasa digunakan. Ikan Mas ini dimasak khas Batak yang disebut naniarsik ikan yang dimasak (direbus) dengan bumbu tertentu sampai airnya berkurang pada kadar tertentu dan bumbunya sudah meresap kedalam daging ikan itu.

ACARA PERCAKAPAN ADATMEMPERSIAPKAN PERCAKAPAN1.RPW menanyakan apakah sudah siap memulai percakapan kepada Suhut2.Masing-masing PRW dan PRP menyampaikan kepada pihaknya dan hula-hula serta tulangnya bahwa percakapan adat akan dimulai, dan memohon kepada hula-hulanya agar berkenan memberi nasehat kepada mereka dalam percakapan adat nantiMEMULAI PERCAKAPAN (PINGGAN PANUNGKUNAN) .

Pinggan Panungkunan, adalah piring yang didalamnya ada beras, sirih, sepotong daging (tanggo-tanggo) beserta uang. Piring dengan isinya ini adalah sarana dan simbol untuk memulai percakapan adat.

ACARA PERCAKAPAN ADATPRP meminta seorang borunya mengantar Pinggan Panungkunan itu kepada PRWPRW, menyampaikan telah menerima Pinggan Panungkunan dengan menjelaskan apa arti semua isi yang ada dalam beras itu. Kemudian PRW mengambil uang itu, dan kemudian meminta salah seorang borunya untuk mengantar piring itu kembali kepada PRPPRW membuka percakapan dengan memulainya dengan penjelasan makna dari tiap isi pinggan panungkunan (beras, sirih, daging dan uang)Akhir dari pembukaan percakapan ini, keluarga Suhut mengatakan bahwa makanan dan minuman pertanda pengucapan syukur karena berada dalam keadaan sehat, dan tujuan Suhut adalah menyerahkan kekurangan sinamot , dilanjutkan adat yang terkait dengan pernikahan anak mereka

PENYERAHAN PANGGOHI/KEKURANGAN SINAMOTDalam percakapan selanjutnya, setelah PRW meminta PRP menguraikan apa/berapa yang mau mereka serahkan , PRP memberi tahukan kekurangan sinamot yang akan mereka serahkan adalah sebesar RpJuta, menggenapi seluruh sinamot Rp.Juta.

PENYERAHAN PANANDAIONTujuan acara ini memperkenalkan keluarga pihak perempuan agar keluarga pihak pria mengenal siapa saja kerabat pihak perempuan sambil memberikan uang kepada yang bersangkutan

Secara simbolis, yang diberikan langsung hanya kepada 4 orang saja, yang disebut dengan patodoan atau suhi ampang na opat ( 4 kaki dudukan/pemikul bakul) yang merupakan symbol pilar jadinya acara adat itu. Dengan demikian biarpun hanya yang empat itu yang dikenal/menerima langsung, sudah mewakili menerima semuanya. (Mungkin dapat dianalogikan dengan pemberian tanda penghargaan massal kepada pegawai PNS yang diwakili 4 orang, masing-masing 1 orang dari tiap golongan I sampai golongan IV)Kepada yang lain diberikan dalam satu amplop saja yang nanti akan dibagikan kepada yang bersangkutan.

PENYERAHAN TINTIN MARANGKUPDiberikan kepada tulang penganten pria (saudara laki ibu penganten pria). Yang menyerahkan adalah orang tua penganten perempuan berupa uang dari bagian sinamot ituSecara tradisi penganten pria mengambil boru tulangnya untuk isterinya, sehingga yang menerima sinamot seharusnya tulangnya Dengan diterimanya sebagian sinamot itu oleh Tulang Penganten Pria yang disebut titin marangkup, maka Tulang Pria mengaku penganten wanita, isteri ponakannya ini, sudah dianggapnya sebagai boru/putrinya sendiri walaupun itu boru dari marga lain.

PEMBERIAN ULOSDalam Adat Batak tradisi lama atau religi lama, ulos merupakan sarana penting bagi hula-hula, untuk menyatakan atau menyalurkan sahala atau berkatnya kepada borunya, disamping ikan, beras dan kata-kata berkat.

PEMBERIAN ULOSKarena itu pemberian ulos, baik yang memberi maupun yang menerimanya tidak sembarang orang , harus mempunyai alur tertentu, antara lain adalah dari Hula-hula kepada borunya, orang tua kepada anak-anaknya. Dengan pemahaman iman yang dianut sekarang, ulos tidak mempunyai nilai magis lagi sehingga ia sebagai simbol dalam pelaksaan acara adat.Ujung dari ulos selalu banyak rambunya sehingga disebut ulos siganjang/sigodang rambu)

PEMBERIAN ULOS

MANGUNJUNGI ULAON (Menyimpulkan Acara Adat)Manggabei (kata-kata doa dan restu) dari pihak SW berupa kata-kata pengucapan syukur kepada Tuhan bahwa acara adat sudah terselenggara dengan baik:a. Ucapan terima kasih kepada dongan tubu dan hula-hulanyab. Permintaan kepada Tuhan agar rumah tangga yang baru diberkatidemikian juga orang tua pengenten dan saudara Batubara yanglainnyaMangampu (ucapan terima kasih) dari pihak SPUcapan terima kasih kepada semua pihak baik kepada hula-hula SW maupun kepada SP atas terselenggaranya acara adat ini.

MANGUNJUNGI ULAON (Menyimpulkan Acara Adat)Mangolopkon (Mengaminkan) oleh Tua-tua/yang dituakan di Kampung ituKedua suhut, menyediakan piring yang diisi beras dan uang ( biasanya ratusan lembar pecahan Rp1.000 yang baru) kemudian diserahkan kepada Raja Huta yang mau mangolopkon Raja Huta berdiri sambil mengangkat piring yang berisi beras dan uang olop-olop itu.

MANGUNJUNGI ULAON (Menyimpulkan Acara Adat)Dengan terlebih dahulu menyampaikan kata-kata ucapan Puji Syukur kepada Tuhan Karen kasih-Nya cara adat rampung dalam suasana damai (sonang so haribo-riboan) serta restu dan harapan kemudian diahiri , dengan mengucapkan : olop olop, olop olop, olop olop sambil menabur kan beras keatas dan kemudian membagikan uang olop-olop itu.Ditutup dengan doa / ucapan syukurAkhirnya acara adat ditutup dengan doa oleh Hamba Tuhan.Sesudah amin, sam-sama mengucapkan: horas ! horas ! horas ! Kemudian bersalaman untuk pulang.

Thank You

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended