Home > Documents > Perjuangan Rakyat Jawa Barat Melawan Penjajah Setelah Proklamasi Kemerdekaan Ri

Perjuangan Rakyat Jawa Barat Melawan Penjajah Setelah Proklamasi Kemerdekaan Ri

Date post: 08-Jul-2015
Category:
Author: gilang-nurdiansyah-koswara
View: 978 times
Download: 3 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)

of 60

Transcript

PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT MELAWAN PENJAJAH SETELAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI

PERTEMPURAN KONVOY BOJONG KOKOSAN SUKABUMI 1945-1946

Masa revolusi fisik yang berlangsung dalam kurun waktu tahun 1945 hingga tahun 1949 merupakan sebuah masa dalam perjalanan sejarah Indonesia yang sarat dengan warnawarni perjuangan untuk mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan. Kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 ternyata tidaklah serta merta segera mengubah situasi dari bangsa yang terjajah menjadi bangsa merdeka. Menjelang berakhir perang Dunia ke-II mulai Juli 1945 wilayah Indonesia masuk kedalam Komando South East Asia Command (SEAC) dibawah pimpinan Panglima sekutu LORD L. MOUNTBATTEN yang berkedudukan di Colombo Srilangka. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu Inggris diberi tugas RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Interneers) yaitu pengurusan dan pemulangan tawanan perang dan interniran Sekutu di Indonesia. Dalam pelaksanaan tugasnya di Indonesia Sekutu mengalami hambatan dari pejuang-pejuang Indonesia yang militan yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945. Diantara hambatan yang dialami Sekutu (Inggris) antara lain peristiwa Pertempuran Konvoy Bojong Kokosan. Uraian berikut peristiwa Bojong Kokosan dibagi dalam tiga pokok bahasan Yaitu : Pertempuran ke I, Masa gencatan senjata (Cease Fire) dan Pertempuran ke II.

PENGANTAR

Pertempuran Ke-I / Penghadangan pertama. (9 Desember 1945 s/d 12 Desember 1945) Menjelang bulan Desember 1945, suhu situasi kondisi di Jawa Barat juga semakin memanas. Perjuangan Rakyat Jawa Barat yang semula, lebih banyak dipengaruhi oleh sikap perjuangan diplomasi dari Pemerintah Pusat. Maka pada saat itu mulai kehilangan kepercayaannya terhadap netralitas pimpinan Tentara Sekutu, yang nampaknya semakin condong untuk membantu pihak Belanda, dalam rangka menegakan kembali kekuasaannya di bumi Indonesia. Sejak Tentara Sekutu menduduki kota Bandung, maka pergerakan lalulintas, baik personil maupun perlengkapan logistik antara Jakarta-Bandung, mereka upayakan dengan segala cara. Mula-mula untuk memenuhi kebutuhan akan perbekalan dan perlengkapan 60.000 anggota APWI di Bandung. Mereka mencoba mengirimkan barang-barang tersebut dengan mempergunakan kereta api dari Jakarta ke Bandung sebanyak 20 gerbong, yang dikawal oleh serdadu-serdadu Ghurka, melalui jalur utara. Akan tetapi karena tidak ada koordinasi dengan Pasukan-pasukan TKR yang bertugas di daerah Dawuan, ialah Batayon Priatna dari Resimen - 5 TKR. Pengawal-pengawal perjalanan kereta api yang hanya dilakukan oleh 10 orang serdadu Ghurka dalam tempo sekejap sudah bisa dilumpuhkan, 4 orang tertembak mati, sedangkan 6 orang menyerahkan diri sebagai tawanan. Isi ke 20 gerbong tersebut disita, yang terdiri dari makanan kalengan, seperti nasi goreng, kornet, sardencis, susu, keju, coklat dan sebagainya. Juga terdapat sejumlah besar pakaian dan selimut. Dengan demikian pada saat itu Resimen-5 TKR memperoleh rezeki nomplok, bahkan rakyat penduduk setempatpun ikut menikmatinya. Namun ternyata insiden ini menjadi berkepanjangan pula. Tentara Sekutu mengajukan protes keras kepada Menteri Amir Sjarifoeddin. Minta agar perbekalan dan perlengkapan yang disita tersebut dikembalikan. Selanjutnya juga Menteri Amir Sjrifoeddin memberikan tegoran kepada Komandan Resimen - 5 TKR, ialah Mayor Moefreni untuk mengembalikan barang rampasan tersebut. Namun Mayor Moefreni menolak. Hanya para tawanan serdadu Ghurka yang bisa dikembalikan, itupun harus ditukar dengan para pejuang yang menjadi tawanan Tentara Sekutu di Jakarta. Akhirnya Mayor Kawilarang diperintahkan Panglima Komandemen 1 TKR, Mayjen Didi Kartasasmita di Purwakarta, untuk melakukan tukar-menukar, 6 orang tawanan serdadu Ghurka, dengan pembebasan 8 orang para pejuang Republik Indonesia yang ditawan oleh Tentara Sekutu di Rumah Penjara Cipinang. Diantaranya ialah Mr. Soepangat dan Chairil Anwar. Setelah insiden tersebut maka diperoleh kesepakatan antara Pemerintah RI dengan pihak Tentara Sekutu. Bahwasanya setiap pengiriman perlengkapan dan perbekalan bagi Tentara Sekutu di Bandung harus dikawal oleh TKR-RI. Dengan demikian maka sejak tanggal 11 Desember 1945, pengawalan kereta api yang membawa perbekalan dan perlengkapan Tentara Sekutu dari Jakarta ke Bandung dilaksanakan oleh para Taruna dari Akademi Militer Tanggerang. Selama kurang lebih satu bulan pada waktu itu, telah dilakukan tiga kali pengiriman perbekalan dan perlengkapan Tentara Sekutu dari Jakarta ke Bandung. Perjalanan

pertama dikawal oleh 20 orang Taruna Akademi Militer Tanggerang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot. Perjalanan kedua dipimpin oleh Mayor Kemal Idris, Sedangkan perjalanan yang ketiga dipimpin oleh Kapten Islam Salim. Semua pengiriman perbekalan ini berjalan mulus tanpa hambatan apapun. Akan tetapi kebutuhan Tentara Sekutu untuk melakukan operasinya di kota Bandung rupanya tidak hanya sebatas perbekalan dan perlengkapan saja. Namun memerlukan juga dukungan peralatan dan persenjataan berat lainnya, dari Pasukan-pasukan Kavaleri, Artileri, Zeni dan sebagainya, yang mungkin dapat diangkut dengan kereta api. Maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut pihak Tentara Sekutu juga menyelenggarakan konvoy kendaraan-kendaraan di jalan raya secara periodik, yang dikawal ketat oleh mobil-mobil lapis baja dan tank-tank tempur. Dengan demikian sejak saat itu, maka setiap 1 atau 2 minggu sekali, akan terlihat iring-iringan kendaraan-kendaraan Tentara Sekutu di jalan raya antara Bandung-Jakarta pp. Rupanya atas pertimbangan keamanan Tentara Sekutu lebih cenderung memilih jalur Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung pp, untuk perjalanan konvoynya. Sedangkan lewat jalur Puncak, risikonya akan cukup besar, karena tanjakannya yang terlalu terjal untuk dilewati tank-tank dan mobil lapis baja yang sangat berat. Pada awal bulan Maret 1946, Kolonel A.H. Nasution Panglima Divisi III pernah dipanggil Panglima Komandemen Jawa Barat Mayjen Didi Kartasasmita. Pada pertemuan tersebut diceritakan pula oleh Mayjen Didi Kartasasmita, bahwa suatu ketika mobil yang ditumpanginya pernah terjepit oleh konvoy Tentara Sekutu, ditengah perjalanan. Beliau betul-betul merasa tidak berdaya tatkala itu, namun masih untung juga, bahwa mereka tidak mengetahui, bahwa yang berada di dalam mobil tersebut adalah Panglima TKR Komandemen Jawa Barat. Nampaknya Mayjen Didi Kartasasmita memahami betul, bahwa pada saat itu situasi kondisi di seluruh Jawa Barat meningkat semakin genting. Pertempuranpertempuran telah berkecamuk diseluruh penjuru tanah air. Bahkan didalam kota Bandung, yang pernah menyandang gelar kota diplomasi, karena telah berhasil memisahkan antara dua kubu yang berseteru, ialah kubu Sekutu dengan antek-anteknya, disebelah utara rel kereta api dan kubu para pejuang disebelah selatan. Namun sungguhpun demikian, setiap hari pertempuran terus berkecamuk disetiap penjuru kota. Sampai-sampai muncul kata pemeo : di Bandung tiada hari tanpa pertempuran. Pada saat itu juga Panglima Komandemen TKR Jawa Barat mengeluarkan perintah, untuk menyerang konvoy-konvoy di jalan-jalan raya dalam wilayah Divisi III. Hubungan lalu-lintas personil dan logistik mereka, harus diputuskan selama mungkin. Namun demikian serangan harus dilakukan di tempat-tempat yang jauh dari perkampungan rakyat. Yaitu di daerah-daerah pegunungan dan hutan-hutan. Sebelum keluar perintah Serang konvoy dari Panglima Komandemen TKR pada waktu itu. Sebetulnya Komandan Resimen-3 TKR di Sukabumi, ialah Letkol Eddy Sukardi juga sudah merasa jengkel dengan simpang-siurnya konvoy-konvoy kendaraan Tentara Sekutu yang melalui daerah komandonya, dari sejak Ciawi-Sukabumi-Cianjur. Oleh karena itu kekuatan Resimen-3 TKR, sebanyak 4 Batalyon sudah digelar disepanjang jalur ini, sebagai berikut :

Batalyon I, dibawah komando Mayor Yahya Bahram Rangkuti, dengan kekuatan 4 Kompi, ialah ; 1) Kompi Kapten Tedjasukmara, 2) Kompi Kapten Kusbini, 3) Kompi Kapten Murad Idrus dan 4) Kompi Kapten Mochtar Kosasih. Batalyon ini menempati lokasi sepanjang 18 KM, membentang dari Cigombong sampai Cibadak. Batalyon II, dibawah komando Mayor Harry Sukardi, dengan kekuatan 4 Kompi, ialah; 1) Kompi Kapten Madsachri, 2) Kompi Kapten Husein Alexsyah, 3) Kompi Kapten Juanda dan 4) Kompi Kapten Dasuki. Batalyon ini menempati lokasi sepanjang 18 KM, dari sejak Cibadak sampai Sukabumi Barat. Batalyon IV. Dibawah komando Mayor Abdurrachman, dengan kekuatan 4 Kompi, ialah ; 1) Kompi Kapten Djahidi, 2) Kompi Kapten Sabir, 3) Kompi Kapten Madsari dan 4) Kompi Kapten Kabul Sirodz. Batalyon ini Menempati lokasi sepanjang 15 KM, membentang dari Sukabumi Timur sampai Gekbrong. Batalyon III, dibawah komando Kapten Anwar, dengan kekuatan 4 Kompi, ialah; 1) Kompi Kapten Saleh Opo, 2) Kompi Kapten Dasuni Zahid, 3) Kompi Kapten Musa Natakusumah dan 4) Kompi yang dipimpin langsung oleh Komandan Batalyon. Batalyon ini menempati jalur yang paling panjang sekitar 30 KM, ialah dari mulai Gekbrong-Cianjur-Ciranjang. Disamping Pasukan TKR ini, terdapat pula Pasukan atau Barisan Pejuang Rakyat, yang terdiri dari : Barisan Hizbullah dibawah pimpinan Suryana, pasukan Kelasykarannya dipimpin oleh M. Abdullah, Nawawi Bakri dan Hamami. Barisan Sabilillah dibawah pimpinan Sasmita Atmadja dan A. Basarah, pasukan Kelasykarannya dipimpin oleh Dadi Abdullah. Barisan Banteng RI, dipimpin Suradiradja dan Lunadi, pasukan Kelasykarannya dipimpin oleh Tubagus Ahmad Kurtubi. Barisan Pemuda Proletar, dibawah pimpinan Sambik, pasukan Kelasykarannya dipimpin oleh Mujana, Karim dan Dadang Sukatma. Lasykar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), dipimpin oleh Felix Kalesaran. Barisan Pemuda Sosialis Indonesia (PESINDO), dibawah pimpinan S. Waluyo, Ismail dan Bakri.

Pertempuran-pertempuran antara Tentara Sekutu dengan TKR dan Barisan Pejuang di Bandung, semakin meningkat. Melalui pertempuran-pertempuran tersebut semakin banyak pula senjata-senjata dan perlengkapan lainnya dari Tentara Sekutu yang jatuh ke Tangan para pejuang kita, juga jumlah pelarian-pelarian pribadi serdadu-serdadu India Muslim ke Pihak Republik Indonesia semakin meningkat. Nampaknya Brigadier Mc. Donald selaku Komandan Brigade ke 37 Tentara Sekutu di Bandung, memerlukan bantuan dari Jakarta, tidak hanya perbekalan dan Pasukan Infanteri saja yang bisa diangkut melalui jalur udara, tetapi juga memerlukan, Pasukan Kendaraan Lapis Baja dan Meriam, serta perbekalan dan alat-peralatan lainnya yang harus didatangkan melaluli jalur darat. Kemungkinan bantuan-bantuan Tentara Sekutu melalui jalur darat ini, rupanya juga sudah menjadi perkiraan para pejuang di Bandung, oleh karena secara pribadi, mereka menyarankan agar para pejuang, yang berada disekitar jalur antara Bandung-Jakarta untuk mengganggu lalu-lintas kendaraan-kendaraan musuh tersebut. Seruan pribadi dari para pejuang di Bandung ini segera mendapat tanggapan dari teman-teman seperjuangannya, terutama yang berada di wilayah kekuasaan Resimen - 3 TKR, yang membentang melalui jalan raya BogorSukabumi-Cianjur. Sebenarnya sejak Brigade ke-37 Tentara Sekutu memasuki kota Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945, lalu-lintas konvoy Tentara Sekutu yang membawa perbekalan, melalui jalur Bogor-Sukabumi-Cianjur itu, sudah beberapa kali terjadi. Namun karena suasana perjuangan pada saat itu masih sangat samar tanpa ada ketegasan, antara perjuangan diplomasi dan perlawanan dengan senjata. Maka sikap para pejuangpun penuh dengan keragu-raguan. Adapun gangguan yang dilakukan para pejuang pada waktu itu, hanyalah sebatas dilakukan dengan memasang rintangan-rintangan pepohonan yang sederhana, ataupun tembakan-tembakan pribadi sekedar melampiaskan rasa kesal dan jengkel. Gangguan-gangguan tersebut pada umumnya tidak sampai menghambat perjalanan konvoy. Namun pada tanggal 29 Nopember 1945, pernah terjadi peristiwa, beberapa truk yang memuat serdadu-serdadu Jepang dan Gurkha, mencoba memasuki jalur jalan antara Bogor-Sukabumi. Dihadang dengan barikade-barikade, dan diserang oleh Barisan Rakyat di daerah Cicurug dan Parungkuda. Dilaporkan 4

orang musuh tewas oleh Barisan Rakyat dan truk-truk kembali ke Bogor. Sedangkan pada hari itu juga sebanyak 124 buah truk Inggris dicegat rintanganrintangan Barisan Rakyat di Ciranjang dan Gekbrong, tanpa diketahui kerugian dari kedua pihak. Karena gangguan-gangguan para pejuang diperjalanan darat antara BogorSukabumi-Bandung, maka 1 batalyon Mahratta untuk memperkuat pendudukan Tentara Sekutu di Bandung, diangkut dari Jakarta ke Bandung dengan mempergunakan 12 buah pesawat terbang Dakota. Sedangkan pada tanggal 5 Desember 1945, bertolak lagi ke Bandung, pasukan-pasukan tank dan meriam, yang dikirim oleh markas Tentara Sekutu di Jakarta. Menjelang bulan Desember 1945, semenjak operasi penghadangan ini menjadi kebijakkan komando atasan TKR, maka segala persiapanpun dilaksanakan dengan cara-cara yang lebih baik, dan dikoordinasikan langsung oleh Komandan-Komandan Resimen TKR. 4 Batalyon kekuatan Pasukan Resimen - 3 TKR, yang sudah digelar disepanjang jalur jalan raya mulai dari Ciawi-Sukabumi-Cianjur, langsung dipimpin dan dikoordinasikan oleh Letkol Eddy Sukardi dan Kepala Bagian Siasat Resimen Kapten Achmad Kosasih. Rencana penghadangan dimulai dengan pemasangan rintangan-rintangan untuk menghambat gerak laju konvoy, ditempat-tempat yang bisa menguntungkan untuk melakukan penyergapan. Sepanjang jalan raya yang berkelok-kelok tajam, dan naik turun antara Cicurug-Bojong Kokosan-Parungkuda, juga disisi kanan-kiri jalan terdapat tebing-tebing yang cukup terjal. Maka kondisi medan yang demikian ini, akan sangat menguntungkan untuk melakukan penyergapan. Lebih-lebih lagi pada saat itu daerah ini masih merupakan hutan belukar. Di daerah ini dipasang barikade dengan menumbangkan pohon-pohon pelindung yang besar-besar dipinggir jalan, dipasang saling melintang, untuk merintani jalannya kendaraan-kendaraan. Sedangkan pada tempat-tempat tertentu, digali lubang-lubang yang besar- besar, yang cukup dalam untuk dijadikan perangkap kendaraan tank dan lais baja. Pada dasar lubang-lubang tersebut dipasangi juga ranjau-ranjau darat yang dapat melumpuhkan kendaraan lapis baja dan tank. Di atas tebing disisi kanan-kiri jalan dibuat pula lubang-lubang perlindungan bagi para prajurit yang akan melakukan penyerangan, secara serentak pada waktunya. Mereka dipersenjatai dengan senjata-senjata api seadanya, termasuk granat-granat tangan dan bom-bom Molotov, hasil buatan pabrik senjata Braat milik Resimen 3 sendiri di Sukabumi, dibawah pimpinan Kapten Saleh Norman. Karena persediaan amunisi terbatas, maka tidak mungkin untuk bisa melayani dan menangkis serangan balas dari musuh, secara frontal dalam waktu yang cukup lama. Rencana penyergapan akan dilakukan dengan taktik Hit and run . Sergap dan hancurkan, pada kesempatan yang paling baik, dan segera menghilang untuk menghemat senjata, hemat pasukan, aman dan menang.

Hari Minggu tanggal 9 Desember 1945, Kapten Achmad Kosasih Kepala Bagian Siasat Resimen 3 di Jl. Kerkhof Sukabumi bersama Komandan Resimen dan Dokter Resimen, ialah Dr. Hasan Sadikin. Saat itu dikejutkan dengan dering telefon dari Pos Cigombong, Komandan Pos Cigombong melaporkan bahwa : Dua tank Sherman kawal depan konvoy Tentara Sekutu, telah memasuki Cigombong . Laporan selanjutnya menyatakan bahwa, jumlah iring-iringan konvoy sekitar 150 buah truk, dikawal oleh 1 batalyon serdadu Sekutu, dimulai dengan tank-tank Sherman, sebagai kawal depan, kemudian sejumlah kendaraan berlapis baja, selanjutnya iringiringan truk, dan diselang-seling dengan kendaraan-kendaraan brencarrier. Komandan Resimen 3 TKR, memerintahkan, agar pos-pos Cigombong dan Cicurug tidak menyerang terlebih dahulu, sebelum kawal depan konvoy memasuki daerah killing ground , ialah daerah perbukitan Bojong Kokosan. Dengan maksud, bahwa setelah kepalanya dipukul baru badannya diserang, diberbagai daerah. Di daerah Bojong Kokosan, konvoy dihadang dengan barikade pepohonan yang malang melintang di tengah jalan. Tank-tank Sherman mencoba mendorong-dorong rintangan. Tank pertama terperosok masuk kedalam lubang jebakan, maka terdengarlah ledakan ranjau darat, dan rantai-rantai roda tankpun lepas terburai. Iring-iringan konvoy dibagian dibelakang memberhentikan, kendaraannya secara mendadak, maka terjadilah tabrakan-tabrakan beruntun. Susunan konvoy menjadi kacau balau, tidak terkendalikan lagi. Maka pada momen inilah, serangan penyergapan dimulai. Tembakantembakan gencar dilakukan dari tebing-tebing di kiri-kanan jalan, menyambut serdadu-serdadu Sekutu yang berloncatan turun dari atas truk. Mereka berusaha menyusun formasi tempur, akan tetapi terus-menerus dihujani granat dan bom-bom molotov. Bagian tengah konvoy tidak bisa bergerak maju, tertahan oleh bagian depan yang sedang menghadapi sergapan serentak dari prajurit-prajurit TKR dan Barisan Pejuang Rakyat. Mereka berusaha bergerak mundur, namun terhambat pula oleh bagian ekor yang baru sampai di Cigombong. Akhirnya susunan konvoy yang panjangnya kurang lebih 12 KM itu terpenggal-penggal menjadi beberapa bagian. Sementara serdadu-serdadu Tentara Sekutu dari Batalyon Jats yang mengawal konvoy tersebut terus menerus ditembaki dari tebing-tebing pinggir jalan, bahkan anak-anak panah dan kelereng sebagai peluru, ketepelpun ikut berperan menghujani serdadu-serdadu musuh, dalam peristiwa penyergapan tersebut. Mobil ambulans simpang siur memberikan pertolongan terhadap serdaduserdadu Sekutu yang cidera dan tewas. Ternyata Komandan Batalyon 5/9 Jats yang naik kendaraan lapis baja juga terkena sasaran granat, ia menderita cidera berat. Demikian ia keluar dari mobil lapis baja, segera digotong, dan diangkut dengan ambulans. Sesaat setelah mereka sempat menyusun kekuatannya lagi, mereka berusaha, untuk menyingkirkan kendaraan lapis baja dan truk-truk yang rusak ke pinggir jalan. Kemudian mereka juga mulai membuka tembakan ke arah

persembunyian para pejuang. Kendaraan-kendaraan lapis baja memuntahkan peluru senapan mesin kaliber 12,7 mm, ke arah tebing-tebing yang menjadi kubu-kubu pertahanan kita. Tank Sherman mulai beraksi dengan menembaki kubu-kubu pertahanan kita, di lerenglereng tebing dengan menggunakan meriam. Ada kejadian yang sangat mengenaskan, ialah sewaktu 12 orang prajurit TKR yang bertahan di sebuah kubu dihantam ledakan peluru meriam, kubu pertahanan tersebut hancur, dan ke-12 orang prajurit TKR tersebut berjatuhan tergusur longsoran, dan gugur bersama. Karena sudah kehabisan amunisi pertempuran di Bojong Kokosan dihentikan. Maka konvoypun bergerak maju lagi dengan meninggalkan sejumlah truk perbekalan yang rusak disepanjang jalan antara Cigombong dan Cicurug. Antara Cibadak-Cikukulu formasi masih acak-acakan, terpenggal-penggal, namun tank Sherman, mobil lapis baja dan brencarrier memaksa konvoy untuk bergerak maju lagi. Di jalan raya Karangtengah konvoy berpapasan dengan kendaraan Staf Resimen 3, tanpa kompromi, senapan mesin 12,7 mm mobil lapis baja memberondong mobil Staf Resimen 3 tersebut, dan tak ayal lagi 9 orang prajurit TKR, gugur seketika. Di daerah Cikulu tank Sherman, mobil lapis baja dan brencarrier, terpaksa berhenti dahulu untuk menunggu susunan formasi konvoy yang tertinggal jauh di belakang. Sementara itu, peluru senapan, granat dan bom-bom molotov dari pasukan-pasukan TKR di daerah itu menghujani mereka. Hambatan selanjutnya terjadi lagi tatkala memasuki kota Sukabumi, satu truk berisi perbekalan persenjataan dapat dirampas. Demikian pula setelah masuk kota di Jalan Degung-Cipelang, disambut lagi dengan hujan peluru, granat dan bom Molotov. Pada jam 24.00 Komandan Batalyon Herry Sukardi mendapat perintah dari Komandan Resimen untuk menghentikan penghadangan. Dan untuk selanjutnya diserahkan kepada Batalyon Mayor Abdurrachman, yang diposisikan untuk mempertahankan daerah Sukabumi selatan-Gekbrong. Konvoy yang berangkat dari Jakarta pada tanggal 9 Desember 1945 baru tiba di Bandung pada tanggal 12 Desember 1945, dalam keadaan babak belur, itupun setelah dibantu oleh serangan udara habis-habisan dari RAF, terhadap posisi pertahanan kita. Sedangkan pada hari yang sama telah tiba juga di Bandung pengiriman perbekalan serta peralatan milik Sekutu dari Jakarta yang dikawal oleh pasukan TKR, ialah para Taruna Akademi Militer Tanggerang dengan selamat. Sungguh sulit untuk dimengerti, sikap perjuangan bangsa Indonesia, dalam rangka menegakkan dan mempertahankan kemerdekaannya saat itu. Disatu sisi melawan kekuatan asing yang mencoba untuk berkuasa lagi di tanah air dengan perlawanan bersenjata habis-habisan. Sedangkan disisi yang lain masih juga mengulurkan tangan untuk membuka perundingan-perundingan diplomasi dengan baik-baik. Ternyata bahwa konvoy Tentara Sekutu yang dihadang oleh Pasukan TKR Resimen 3 pada tanggal 9 sampai dengan tanggal 11 Desember 1945 itu, terdiri dari kurang lebih 150 buah kendaraan yang dikawal oleh Tentara Sekutu dari Batalyon 5/9 Jats, yang baru untuk pertama kalinya bertempur di Pulau Jawa. Pihak Sekutu mengalami cukup banyak kerugian, 9 buah truk dan 2 jeep jatuh ke tangan kita. Sedangkan kerugian pihak kita juga cukup besar, TKR

kehilangan 60 prajurit, disamping kurban dari pihak Barisan Pejuang Rakyat lebih banyak lagi, demikian pula dari penduduk daerah Cibadak yang menjadi kurban pemboman dan tembakan mitralyur dari pesawat udara. Peristiwa tersebut dicatat oleh Letkol A.J.F. Doulton dalam Sejarah Militer Inggris The fighting cock , tertulis pada Chapter 24, the turn of the year 1945/1946 , sebagai berikut: An up convoy, escorted by 5/9 Jats, who were newcomers to Java, had begun the long climb through the hills when the leading rehicles were halted by a road-block. The hillside was alive with Indonesians, many of them, in the Japanese fashion occupying fox-holes, from which they lobbed an andless supply of Molotov coctail on the vehicles. It is no easy task to fight out of an ambush where an unseen foe commands the high ground and the infantry escort is spread over eight miles of road; moreover nightfall was not many hours away. The Jats C.O. was seriosly wounded in the first brush, one vehicle was ablaze, several others were badly damaged and number of drivers had slumped over their wheels, either dead or grievously hit. (Doulton, 1951:183) (Sebuah konvoy dikawal oleh Batalyon 5/9 Jats, pendatang baru di Pulau Jawa, mulai bergerak lama mendaki perbukitan-perbukitan. Kendaraan pendahulu berhenti dihadang perintang jalan. Diatas perbukitan dipenuhi orang-orang Indonesia. Banyak diantaranya yang bersembunyi di lubang-lubang pertahanan ala Jepang, dan mulai melempari kendaraan-kendaraan kami dengan bom-bom molotov tanpa habis-habisnya. Tidaklah mudah untuk keluar dari suatu penghadang yang dilakukan oleh musuh yang tidak nampak, yang menempati ketinggian-ketinggian, lebih-lebih keadaan sudah mendekati gelap malam. Ditambah lagi pengawal terpencar di jalanan sepanjang 10 km. Pimpinan pasukan Jats sudah terluka parah pada awal serangan. Satu kendaraan terbakar, sejumlah lainnya rusak berat dan sejumlah pengemudi terlungkup diatas kemudi, entah mati atau terkena tembakan yang mengenaskan). GENCATAN SENJATA / CEASE FIRE (13 DESEMBER s/d 9 MARET 1946) Setibanya Sekutu di Sukabumi diatas pukul 21.00 terpaksa bermalam di Sukabumi sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Bandung. Di Kota Sukabumi dicapai kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata (gencatan senjata lokal). Gencatan senjata ini dihadiri dari pihak Inggris mengirimkan Mayor Rawin Singh utusan khusus dari Bogor dan dari pihak RI yang hadir adalah Walikota dan Komandan Resimen-3 TKR. Gencatan senjata ini selama kurang lebih 3 bulan disebut NOWAR, NOPEACE. Setelah terjadi gencatan ini Konvoi Inggris tidak melalui Sukabumi, Personil dan Peralatan Inggris di angkut melalui udara. Baru mulai bulan Febuari 1946 lalu Sukabumi dipergunakan lagi, tapi pihak kita tidak bisa mengganggu karena terikat perjanjian Cease Fire, keadaan terus berlaku hingga 9 Maret 1946, tercapai selama gencatan senjata gangguan penembakan oleh rakyat terus berjalan, aksi-aksi perlawanan terhadap pergerakan Sekutu dan penghadangan lanjutan ini pada dasarnya diakibatkan pula oleh ulah Tentara Sekutu Sendiri yang melanggar kesepakatan yang telah di buat antara lain dengan melakukan pemboman ke kota Cibadak dan

sekitarnya dilakukan pemboman dan penembakan udara menggunakan senjata otomatis kaliber besar dengan pesawat tempur dan pembom Mosquito. Serangan udara balas dendam ini dalam dokumentasi Inggris diakui sebagai yang paling dasyat dalam perang Jawa (while the R.A.F. delivered the heaviest air strike of the Java war ) (Doulton, 1951:284 The Fighting Cock). Intensitas pertempuran antara para pejuang diwilayah Sukabumi dengan Sekutu pada akhirnya semakin mempertebal rasa senasib seperjuangan, baik diantara TKR dan badan-badan perjuangan maupun antara TKR dan badan-badan perjuangan dengan rakyat Sukabumi pada umumnya. Kondisi tersebut pada akhirnya semakin meningkatkan kekohesifan diantara semua elemen masyarakat yang ada di Sukabumi. Selama Cease Fire korban pihak kita minim dan korban pihak Sekutu kurang lebih 50 orang tapi tidak diakui Inggris. Pertempuran Ke-II / Penghadangan yang kedua (10 MARET s/d 14 MARET 1946) Pada tanggal 10 Maret 1946 sekitar jam 15.00, suatu konvoy besar Sekutu sudah memasuki wilayah Resimen 3 TRI (sejak tanggal 24 Januari 1946, TKR sudah diresmikan sebagai Tentara Repubrik Indonesia disingkat TRI). Menyambut kedatangan konvoy ini, Resimen 3 TRI Sukabumi telah merencanakan operasi penghadangan dengan satuan-satuan kecil TRI, bersama Barisan-Barisan Pejuang Rakyat, seperti Hizbullah, Sabilillah, Banteng, PESINDO dan barisanbarisan pejuang lainnya. Penghadangan akan dilakukan secara estafet, sepanjang jalan raya Cigombong sampai Cibadak. Sejak konvoy memasuki jalur ini disambut dengan gema takbir, yang disusul dengan letusan-letusan senapan, hujan anak panah dan peluru ketepel, serta senjata-senjata tradisional lainnya dari balik bukit-bukit dan lubang perlindungan di tebing kiri-kanan jalan. Tentara Sekutu tidak mengira bahwa jalur Bogor-Sukabumi yang sudah dinyatakan aman sejak pertempuran tanggal 13 Desember 1945, ternyata menjadi rawan kembali. Penghadangan dilakukan dengan taktik Hit and run yang sulit untuk diladeni. Kali ini konvoy Sekutu yang cukup besar ini, dikawal oleh Batalyon Patiala, dibawah komando Letkol Bikram Dev Singh Gill. Batalyon Patiala ini adalah satuan-satuan serdadu bayaran dari suku Patiala yang berasal dari Propinsi Punjabi. Sebagian besar mereka memakai ikat kepala (ubel-ubel). Di daerah Cikukulu tank Sherman, mulai tertumbuk barikade, demi barikade dari pohonpohon perintang jalan. Dua buah tank Sherman bersama-sama mendorong barikade tersebut, tapi yang satu justru terperosok kedalam lubang jebakan, disusul dengan suara ledakan dahsyat dari ranjau darat. Menjelang sore hari kawal depan konvoy sudah hampir memasuki kota Sukabumi, tiba-tiba tank Sherman, mobil lapis baja dan brencarrier mendapat gempuran dahsyat dari pasukan TRI yang dipimpin langsung oleh Komandan Batalyon Mayor Harry Sukardi. Dalam kegelapan malam Letkol Bikram Dev. Singh Gill berusaha menyusun formasi tempur, namun saat itu juga terus-menerus mendapat serangan gencar dari pasukan Kompi Kapten Juanda yang berada di lokasi Situ Awi.

Bagian tengah konvoy terpenggal, mereka terpaksa mundur, namun akibatnya juga bertabrakan dengan susunan konvoy dibelakang. Serdadu-serdadu Batalyon Patiala berlompatan ke jalan raya, dan pada saat itu juga disambut dengan hujan granat, bom-bom molotov dan peluru berbagai jenis senapan. Sedangkan bagian ekor konvoy terjepit oleh serangan serempak pasukan Kompi Kapten Kabul Sirodz dari Batalyon IV yang juga bertugas untuk mengkordinir serangan BarisanBarisan Hizbullah, Sabilillah, Banteng, dan PESINDO. Di pusat kota Sukabumi, malam itu menjadi marak oleh benderangnya pijarpijar api, yang diletuskan dan diledakan berbagai jenis senjata. Tidak ubahnya sepeti layaknya pesta kembang api. Hanya bedanya, kalau pesta kembang api disambut dengan hati yang meriah, sedangkan semaraknya kembang api malam ini, diikuti rasa ngeri, kalau-kalau hidup itu hanya sampai malam itu. Pertempuran tersebut baru reda menjelang waktu subuh, menurut catatan Letkol A.J.F. Doulton, sebagai berikut: When dawn came, the Patialas had lost eight killed and had twentyfive wounded. The events of the 11th were depressing. The Patialas with the main convoy advanced only eight mile, battling hard the whole way. (Doulton, 1951:295) (Ketika fajar menyingsing, pasukan Patiala, telah kehilangan 8 orang mati dan 25 orang terluka. Peristiwa tanggal 11 Maret 1946 menyurutkan semangat. Pasukan Patiala dengan konvoy utamanya hanya melaju sejauh 8 mil, bertempur dengan sengit sepanjang jalan). Suatu hal yang menguntungkan, bahwa pada tanggal 11 Maret 1946 pagi dan siang mereka tidak mengadakan operasi militer. Mereka hanya sibuk memperbaiki kendaraan-kendaraan yang rusak. Serdadu-serdadunya dikonsinyir, tidak boleh meninggalkan barak-barak darurat mereka dipinggir jalan. Namun pada hari itu juga telah disebarkan pamflet oleh pihak Sekutu dengan pesawat udara di sekitar daerah Sukabumi, yang isinya sebagai berikut: Jika penyerangan tidak dihentikan pada 1 jam dari sekarang, maka kita akan mempergunakan tank, pesawat tempur udara, meriam dan senjata perang lain, untuk menggempur dengan tanpa ampun. SERANGAN MALAM Pada tanggal 11 Maret 1946, malam hari tiba-tiba lampu didalam kota dipadamkan pihak GBO (PLN). Ternyata Pasukan Resimen 3 TRI, bersama Barisan-Barisan Pejuang Rakyat kembali bergerak mengepung konvoy serdadu Batalyon Patiala dalam keadaan kurang siap tidak bisa berbuat banyak kecuali mempertahankan diri dengan tembakan yang membabi buta dari tempat mereka. Pada tanggal 12 Maret 1946, berita dari Cigombong mengatakan 12 buah tank Sherman sebagai alat bala-bantuan dari Bogor sedang menuju Sukabumi. Demikian pula bala-bantuan pihak Sekutu dari Bandung juga mulai bergerak, serta dilindungi oleh pesawat-pesawat terbang. Dari Bogor didatangkan tank-tank Sherman dari Squadron 13 Lancer. Namun begitu memasuki daerah disekitar jalan raya Cikukulu-Cisaat, diserang secara bersama oleh 4 kompi TRI, ialah Kompi Kapten Tedjasukmana, Kompi Kapten Kusbini, Kompi Kapten Murad Idrus, dan Kompi Kapten Husein Alexsyah.

Tank Sherman Squdron 13 Lancer dalam rangka mempertahankan diri sampaisampai kehabisan peluru, namun segera memperoleh supply lagi melalui dropping dari pesawat terbang RAF. Untuk menyelamatkan pasukan tank Sherman Squadron 13 Lancer, terpaksa Batalyon Patiala kembali bergerak keluar dari kota Sukabumi, untuk memberikan pertolongan. Yang akan ditolong malah akhirnya jadi menolong. Pada tanggal 12 Maret 1946 dari Bandung juga pihak Sekutu mengirimkan balabantuan, ialah Batalyon 5/6 Rajputana Rifles, mereka adalah serdadu-serdadu bayaran yang berasal dari Propinsi Rajasthan. Batalyon III TRI, dibawah pimpinan Kapten Anwar, yang ditempatkan di sekitar Cianjur, demikian mengikuti berita pertempuran-pertempuran di Sukabumi, sudah mengira bahwa bala-bantuan Sekutu juga akan didatangkan dari Bandung. Oleh karena itu batalyon ini juga sudah berada dalam keadaan siap siaga. Kapten Anwar sekalipun ia Komandan Batalyon tapi ia juga langsung memegang senapan mesin watermantel yang sangat disayangi dan dibanggakannya, hasil rampasan dari serdadu Gurkha Rifles pada pertempuran yang lalu. Senapan mesin ini diberi nama Si Ronggeng. Pada saat konvoy pendahulu dari batalyon Rajputana Rifles memasuki jembatan Cisokan di daerah Ciranjang. Pasukan Kompi Kapten Dasuni Zahid langsung membuka tembakan dari atas tebing. Pada saat itu juga sebuah tank Sherman meledak terkena ranjau darat ketika melewati jembatan. Memasuki kota Cianjur konvoy mendapat serangan dari pasukan Kompi Kapten Saleh Opo, bekerja-sama dengan Barisan Pejuang Rakyat. Pasukan para pejuang melakukan serangan dari balik bangunan-bangunan pertokoan dan pepohonan dengan taktik hit and run. Dijalan raya Belendung Batalyon Rajputana Rifles, kembali mendapat serangan gencar, sebuah tank Sherman, roda depannya menggilas ranjau darat, meledak terpental ke udara. Tidak lama kemudian sebuah tank Sherman lagi ketika melewati jembatan Cikaret, roda depannya menggilas ranjau darat, tank terseok-seok masuk jurang. Pada saat itu terjadi kesibukan yang luar biasa untuk menolong menyelamatkan penumpang tank tersebut. Yang ternyata salah satunya adalah Komandan Batalyon Rajputana Rifles. Nampaknya dia terluka parah, yang kemudian segera diselamatkan oleh regu penolong. Di daerah Warung Kondang tank-tank Sherman kembali dihambat barikade-barikade dari pepohonan yang silang-melintang di tengah jalan. Konvoy terpaksa berhenti, serdaduserdadu dari Batalyon Rajputana Rifles diperintahkan turun untuk menyingkirkan batangbatang pohon tersebut. Tapi pada momen itu tiba-tiba dari kiri-kanan jalan mendapat serangan mendadak, dengan berbagai macam senjata, maka suara-suara ledakan granatpun mengguncang suasana kampung yang sepi didaerah tersebut. Menjelang daerah Gekbrong, terjadi lagi pertempuran yang seru, dan berlangsung cukup lama. Sebuah tank Sherman mogok diwaktu mendaki suatu tanjakan. Pengemudinya terpaksa harus turun, tapi begitu kepalanya nonggol disambut dengan tembakan bedil beaumont, maka pelurunya langsung memecahkan kepala serdadu tersebut.

Beberapa truk berusaha untuk menyalip tank yang mogok, akan tetapi salah satu truk yang nekad menggilas ranjau darat, truk meledak terlontar ke udara. Serdadu-serdadu yang berada di atas truk hancur porak poranda. Salah satu sepatu serdadu Batalyon Rajputana Rifles, jatuh tepat didepan wajah salah seorang prajurit pasukan Kompi Kapten Musa Natakusumah. Memperhatikan sepatu yang masih lengkap berisi sepotong kaki yang berlumuran darah, prajurit tersebut menyeringai sambil sambil bergidik. Ternyata bahwa pihak Sekutu selain mendatangkan bala-bantuan dari Bogor yang melalui Cigombong-Cibadak, mereka juga mengirim bantuan pasukan yang diperkuat dengan pasukan tank-tank tempur, kendaraan lapis baja dan brencarrier yang lewat CiawiPuncak-Cianjur. Ketika prajurit-prajurit dari Batalyon 3 TRI, melakukan serangan terhadap sepenggal iring-iringan konvoy musuh, tiba-tiba datang iring-iringan musuh yang lain, ialah bala bantuan dari Bogor yang melalui Puncak. Muncul dari arah Cugenang. Dalam pertempuran ini dari pihak kita telah gugur 11 orang perajurit, sedangkan dari pihak lawan menderita kerugian beberapa truk telah hancur dan seorang serdadu musuh tertawan. Jumlah yang tewas dan luka-luka dari pihak musuh tidak diketahui. Karena dianggap beresiko tinggi Tentara Sekutu tidak jadi untuk menduduki Sukabumi. Setelah mengalami pertempuran 3 hari, mereka melangsungkan gerakannya ke arah Cianjur. Di daerah Sukaraja, kembali mendapat serangan dari Batalyon Field Preparation (FP) Resimen 3 TRI dibawah komando Kapten Effendy Pandjipurnama, bersama dengan Barisan Pejuang Rakyat setempat. Pada tanggal 13 Maret 1946, Komandan Divisi ke-23 Tentara Inggris di Bandung juga memerintahkan Brigadier N.D.Wingrove untuk membantu kelancaran jalannya konvoy dari Sukabumi menuju Bandung dengan kekuatan pasukan Brigade I, yang terdiri dari 2 Kompi Pasukan Zeni tempur, disertai dengan satuan-satuan pengawalnya. Sepanjang rute perjalanan menuju Bandung pertempuran terus berkecamuk di sekitar Cisokan, Citarum dan Purabaya. Asrama-asrama pasukan kita ditembaki dengan meriam. Di daerah Padalarang musuh mengadakan pembersihan sampai jauh sekelilingnya. Beberapa perwira TRI tertawan antara lain Mayor Sidik Brotoatmojo. Kepala Staf Resimen 9. Brigade ke-37 Tentara Sekutu yang berada di Bandung melakukan aksi besarbesaran, mulai dari Cimahi sampai Padalarang, menyerang kedudukankedudukan kita. Keadaan menjadi kacau-balau, hubungan antara pasukan kita menjadi terputus, yang diketahui hanyalah telah terjadi pertempuran yang terus menerus antara daerah Ciranjang dan Padalarang. Kerugian di pihak musuh tidak jelas, namun kabarnya mereka menderita kerugian sampai ratusan serdadunya telah tewas. Hubungan Bogor-Sukabumi-Cianjur, akhirnya dibatalkan. Mereka lebih mengutamakan hubungan Bogor-Cianjur melalui Puncak. Mereka mendirikan pos-2 pengamanan sepanjang jalan ini. Sedangkan di Cianjur telah ditempatkan kurang lebih 1 Batalyon Tentara Sekutu untuk mengamankan daerah tersebut. Serangan malam hari terhadap Tentara Sekutu di kota Sukabumi, telah menimbulkan korban di pihak mereka : Pada hari pertama, tewas 2 orang

opsir Inggris dan 26 serdadu India. Pada hari kedua tewas 3 orang opsir Inggris, 1 orang opsir India dan 37 orang serdadu India. Konvoy besar Tentara Sekutu, yang berangkat tanggal 10 Maret 1946, dari Jakarta, dengan pengawalan dari Batalyon Patiala, dibawah pimpinan Letkol Bikram Dev Singh Gill, tiba di Bandung pada tanggal 15 Maret 1946, dalam keadaan porak poranda, kendaraan-kendaraanya banyak yang rusak, truktruknya pada bolong-bolong, akibat tembakan para pejuang kita disepanjang perjalanan. Baiklah kita simak lagi catatan dari Letkol A.J.F. Doulton, sebagai berikut : Happily for us, this battle was the end of jeavy casualties, but it was no final strom which left the air clear and there was not much rest for the troops. (Syukurlah, ini adalah jumlah korban besar yang terakhir yang kami alami dalam pertempuran, namun ini bukan badai terakhir dan pasukan tidak cukup mendapat istirahat) PENUTUP Peristiwa Bojong Kokosan bukan peristiwa pertempuran satu-satunya melawan Sekutu yang terjadi di Jawa Barat yang melibatkan TKR dan badanbadan perjuangan. Namun demikian peristiwa Bojong Kokosan merupakan aksi pembuka melawan mesin-mesin perang Sekutu yang relatip bersekala besar yang kemudian, langsung atau tidak langsung mempengaruhi lahirnya peristiwa-peristiwa pertempuran lain, baik di wilayah Sukabumi maupun diluar wilayah Sukabumi. Keteladanan akan kegigihan perjuangan untuk menegakan kemerdekaan, keteladanan untuk menjaga harga diri dan martabat bangsa dan kesewenangwenangan kekuatan Asing telah ditunjukan oleh TKR dalam peristiwa Bojong Kokosan. Semoga bermanfaat.

BANDUNG LAUTAN API

BANDUNG LAUTAN BESERTA IMPLIKASINYA

API DARI

(BLA) SEGI MILITER

PENGANTAR Marilah kita mengingat sejarah perjuangan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan heroik. Nilai-nilai perjuangan bangsa yang besar dan heroik. Nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia pada perjuangan fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia mengandung nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia yang menjadi landasan dalam mengisi kemerdekaan telah mengalami pasang surut sesuai dinamika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semangat perjuangan bangsa sesuai dengan dinamika perjalanan kehidupan telah mengalami penurunan pada titik yang kritis, hal ini disebabkan antara lain oleh pengaruh globalisasi yang membawa dampak kuatnya pengaruh lembagalembaga kemasyarakatan internasional, negara-negara maju yang ikut mengatur percaturan perpolitikan, perekonomian, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, seperti yang dialami Indonesia sekarang. Bila kita merenung sejenak, bahwa kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu telah dibayar mahal dengan pengorbanan jiwa dan harta benda yang tidak sedikit, buktinya tiap-tiap wilayah diseluruh bumi Nusantara terhampar Makam Pahlawan, berdirinya tugu-tugu perjuangan antara lain di Jawa Barat salah satunya adalah tugu perjuangan rakyat Jawa Barat pada saat kita menghadapi penjajah dilakukan dengan pembuni hanguskan kota Bandung dan dikenang sebagai BANDUNG LAUTAN API (BLA) yang tugunya berada di lapangan Tegallega. Kini tugu tersebut berada dalam kondisi yang sangat menyedihkan dan tidak terawat dengan baik karena tidak dikelola oleh pengelola yang professional untuk ini akan disampaikan sekilas bagaimana kisah

BLA secara singkat dituturkan dalam uraian berikut dengan urutan Prolog, peristiwa BLA itu sendiri dan Epilognya. PROLOG PERISTIWA BANDUNG LAUTAN API Pada Perang Dunia ke-II sedang berkecambuk antara sekutu melawan fasis Jepang, kota Hirosyima dan Nagasaki dijatuhi bom Atom oleh Amerika Serikat, menandakan berakhirnya Perang Dunia ke-II. Kota Hirosyima dijatuhi Bom yang dinamai Little boy panjangnya 3 M yang dijatuhkan oleh pesawat pembom B-29 yang diberi nama Enola Gay, telah menghancurkan kota Hirosyima rata dengan tanah dan pada tanggal 6 Agustus 1945, 3 hari kemudian 9 Agustus 1945, bom atom yang ke 2 diberi nama Fat man di jatuhkan dan meledak diatas kota Nagasaki pukul 11.02, meski tempat jatuh meleset 4 km dari sasaran karena kabut, tak urung kota itu hancur berantakan dan menimbulkan korban puluhan ribu jiwa manusia Atas peristiwa itu maka untuk menyelamatkan Negara dan rakyatnya pada tanggal 15 Agustus 1945 Kaisar Hirohito menyatakan menyerah bertekuk lutut kepada sekutu yang diwakili oleh Jenderal Douglas Mc Arthur. Di Indonesia pada waktu itu terjadi kevacuman pemerintahan karena : 1. Pasukan sekutu yang akan menyelesaikan administrasi belum datang 2. Jepang dinyatakan sebagai bangsa yang kalah perang. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945 yang merupakan titik kluminasi perjuangan bangasa Indonesia merebut kemerdekaan yaitu : 1. Diproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 2. Dikibarkan bendera Merah Putih diseluruh Nusantara 3. Dikumandangkan lagu Indonesia Raya ke seluruh pelosok Nusantara melalui Radio. Secara jujur dan berdasarkan Fakta sejarah bahwa bangsa Indonesia yang telah memproklamirkan Kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945 tidak berjalan dengan mulus sesuai harapan segenap anak bangsa Indonesia, sampai kini di era reformasi. Secara Global akar permasalahan di infentalisir sbb: 1. Pemimpin Nasional cenderung arogan dan tidak tanggap terhadap aspirasi Grassroot dan KKN tumbuh subur. 2. Intrik antar Parpol cenderung Suudhon terhadap bawah partainya. 3. Pressure Group yang melakukan gerakanya uot of Control / kebabaslan lebih-lebih di era demokrasi yang membuka peluang untuk itu 4. Kaum intelektual memanfaatkan massa demi kepentingannya. 5. Suksesi kepemimpinan tidak dipersiapkan oleh penguasa sehingga menimbulkan setiap pergantian pemimpin tidak berjalan mulus. 6. Masyarakat dididik menjadi Vandalisme dan brutal seperti saat ini (Demonstrasi yang berlebihan, merusak asset negara dll.) Mudah-mudahan segenap anak bangsa Indonesia segera sadar terhadap akar permasalahan tersebut diatas dan mengambil langkah-langkah yang positif untuk perbaikan kehidupan bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedatangan tentara Dai Nippon ke wilayah Nusantara, Jepang berhasil mendaratkan kakinya dikepulauan Nederlands-Indie, Bangsa Indonesia (rakyat

Indonesia) menyambut kedatangan Bala Tentara Jepang sebagai pembebas. Kurun waktu sampai dengan 17 Agustus 1945 Jepang dapat bertahan di Indonesia selama 1264 hari, 15 Agustus 1945 Jepang kalah dan menyerah kepada sekutu, namun pasukan-pasukan Inggris dari tentara sekutu dibawah pimpinan Letjen Sir Philips Christison baru dapat mendarat di Jakarta pada akhir September 1945. Dalam kerangka perjuangan kemerdekaan Indonesia kondisi tersebut diatas merupakan suatu periode yang telah banyak membawa perubahan radikal di dalam perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia menuju Indonesia Merdeka dan Berdaulat. Adapun perubahan-perubahan radikal dapat dirinci sebagai berikut : 1. Untuk mengisi kekurangan personil di Indonesia, Jepang telah membentuk pembantu Tentara Jepang (Heiho) berdasarkan Keputusan Tokyo tanggal 23 September 1942 melalui Riku-a-mitsu No. 3636 untuk melatih pemuda-pemuda pribumi menjadi ptajurit-prajurit pembantu (di Indonesia tercatat + 42.000 orang Heiho). 2. Jepang telah melatih rakyat Indonesia dalam bentuk organisasi seperti Seinendan, Keibodan, Hisbulloh dan lain-lain sedangkan didesa-desa dibentuklah Toranikumi untuk mengkoordiner kegiatan ketangguhan desa dalam pertahanan. 3. Jepang telah membentuk Pembela Tanah Air (PETA) atas permintaan Gatot Mangunpraja yang tanggal 3 Oktober 1943 lahirlah undang-undang Bala Tentara Jepang dengan nama Osamu Sirei No. 44, yang menjelaskan Peta adalah pasukan sukarela untuk membela Tanah Air sebagai pelaksana pembentukan Peta oleh Korps Tentara ke-XVI Bala tentara Jepang. 4. Latihan militer yang diberikan kepada pemuda-pemuda Indonesia oleh Jepang memberikan hikmah yang tiada taranya bagi Negara Indonesia sebagai embriyo lahirnya TNI, yang secara kronologis diuraikan sebagai berikut : a. Tanggal 22 Agustus 1945 Panitya Persiapan Kemerdekaan Indonesia memutuskan pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang semula merupakan bagian dari Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP). Disamping TKR dibentuk juga Lasykar Rakyat sebagai Organisasi Perlawanan Rakyat untuk melaksanakan pertahanan dan keamanan Negara RI, Lasykar Rakyat pada garis besarnya terdiri dari dua golongan yaitu : 1) Lasykar yang dijiwai oleh sesuatu idiologi politik partai antara lain yang termasuk golongan ini adalah : Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Tentara Pelajar (TP), Front Pelajar (FP), Corps Mahasiswa (CM), Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI), Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Tentara Genie Pelajar (TPG) dan lain-lain 2) Lasykar yang dijiwai oleh sesuatu idiologi politik partai adalah lasykar yang dibentuk oleh partai-partai politik sebagai akibat maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang pembentukan partai-partai dan anjuran untuk membentuk lasykar partai, seperti Hizbulloh, Barisan Banteng dan Pesindo. b. Berdasarkan Penetapan Pemerintah No. 2 s/d tanggal 2 Januari 1946 Tentara Keamanan Rakyat dirubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, yang

bertugas menyelamatkan Negara Republik Indonesia dari bahaya ancaman penjajah. c. Berdasarkan Penetapan No. 4 s/d tanggal 25 Januari 1946 TKR dirubah menjadi Tentara Republik Indonesia yang terdiri dari unsure TRI Darat, unsur TRI Udara dan Unsur TRI Laut. d. Dengan Penetapan Presiden RI tanggal 5 Mei 1947 lasykar dan barisan rakyat bersenjata dan unsur-unsurnya bergabung menjadi Angkatan Darat (ADRI), Angkatan Laut (ALRI) dan angkatan Udara (AURI) Selanjutnya ketiga Angkatan itu menjadi APRI kemudian menjadi APRIS dan berdasarkan Keputusan Kasad No. 83/KASAD/PNTP/50 tanggal 20 Juni 1950 APRIS kembali menjadi APRI. Demikian tonggak sejarah tentang kelahiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang telah berjasa mengamankan berbagai peristiwa kemelut yang merongrong kedaulatan NKRI. e. Berdasarkan Kepres RI No. 52 tanggal 1 Juli 1969 AKRI menjadi Polri, maka kekuatan bersenjata RI terdiri dari ADRI, ALRI, AURI dan POLRI disebut Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) f. Berdasarkan Tap MPR No. VI/2000 tentang pemisahan kembali antara TNI dan Polri, TNI bertugas tentang masalah Pertahanan Negara sedangkan Polri bertugas tentang masalah Keamanan, TNI bertugas untuk keamanan Dalam Negeri sedangkan Polri bertugas untuk keamanan dan ketertiban masyarakat. Akhir September 1945, kota Jakarta telah dipenuhi oleh tentara sekutu termasuk tentara Belanda yang berlindung dibelakang sekutu dan tentara RI dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Bentrokan-bentrokan berdarah sering terjadi, sejak para mantan APWI mulai bebas berkeliaran di kota Jakarta ditambah lagi oleh munculnya petugas-petugas NICA dan pasukan KNIL. Mereka ini berhadapan dengan para pejuang Republik Indonesia, yang sebagian besar dipelopori para pemuda pejuang serta TKR. Hampir setiap hari terjadi pertempuran-pertempuran di dalam kota, baik siang maupun malam. Penduduk yang menghuni kota Jakarta bercampur dengan penduduk sipil, baik sipil Republik, penduduk sipil kulit putih mantan interniran, kota Jakarta menjadi tidak aman bagi semua penghuninya. Bentrokan-bentrokan yang menimbulkan kekacauan ini semakin memusingkan pihak sekutu. Tidak mengherankan bila sekutu kemudian meminta pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan pasukan-pasukan bersenjata RI dari kota Jakarta, dengan alasan kota Jakarta adalah kota diplomasi yang sering digunakan untuk perundingan-perundingan internasional antara Indonesia , Belanda dan Inggris, sehingga memerlukan ketenangan. Atas kekalahan Jepang sekutu (Inggris) ditugaskan untuk : melindungi dan mengungsikan tawanan-tawanan perang dan orang inteniran, melucuti tentara Jepang dan mengembalikan mereka ke Jepang, memelihara ketertiban dan keamanan umum agar tugas tersebut terlaksana dengan sebaik-baiknya. Ternyata tugas sekutu tadi tidak berjalan dengan mulus, terbukti dengan terjadinya pertempuran konvoi Sukabumi Cianjur sepanjang 81 km, yang berlanjut dengan peristiwa Bandung Lautan Api di kota Bandung. Semula daerah Sukabumi Cianjur di jaga oleh Resimen 3 TRI dengan pimpinan Letkol

Edy Soekardi bersama Resimen 2 Bogor dari Letkol Husein Sastranegara termasuk divisi 1 Banten. Perimbangan kekuatan Inggris terdiri dari 4 YONIF, 3 SATBAN didukung oleh Royal Air Force jumlah personil + 4.000 orang. Indonesia terdiri dari 4 YONIF didukung lasykar-lasykar rakyat a.l. Hizbulalh dari Bandung, YON YAHYA, YON HARI SOEKARDI, YON-ABDULRAHMAN dan YON ANWAR PADMA jumlah personil + 5.000 orang.

Korban dari kedua belah pihak Inggris : Gugur 44, Luka-luka 95, ditawan Indonesia : Gugur 92, Luka-luka 94, ditawan 30 Sebelum terjadi peristiwa Bandung Lautan Api sekutu mengalihkan route pengiriman logistik untuk pasukannya yang berada di Bandung dari rute yang melalui jalan utara tapi trayek ini dapat gangguan oleh pertempuranpertempuran di Klender, Kranji dan Bekasi dan terakhir satu angkutan lengkap diserobot oleh Resimen 6 di Cikampek sehingga TKR memperoleh sejumlah makanan awet Inggris yang terkenal dengan nama Kompo kemudian sekutu mengalihkan rute logostik melalui Bogor, Sukabumi, Bandung dan terjadi peristiwa Bojong Kokosan. Dengan diawali penghadangan di Fokkersweg (Jl.Garuda sekarang) mulailah peristiwa Bandung Lautan Api. Kota Bandung dikuasai Tentara sekutu. Sebagaimana kota Jakarta maka kota Bandung pun harus dikuasai oleh sekutu tanpa menguasai kedua kota tersebut, pekerjaan sekutu untuk membebaskan dan memulangkan APWI akan terganggu terus menerus oleh insiden-insiden dan bentrokan-bentrokan dengan para pejuang atau tentara Republik. Saat sekutu menguasai kota Bandung juga tidak berjalan mulus, sebelum terjadi peristiwa Bandung Lautan Api didahului peristiwa-peristiwa yang secara kronologis sebagai berikut :

1. Insiden Cikampek Pada saat pengangkutan perbekalan untuk 60.000 APWI di Bandung melalui kereta api dengan rangkaian 20 gerbong, yang dikawal sepasukan kecil berkekuatan 10 tentara Inggris asal Gurkha, tentara Inggris kurang memperhitungkan resiko yang bakal terjadi dan mereka akan melintasi daerah kekuasaan Republik. Rangkaian kereta api disergap di daerah Dawuan yang dilakukan oleh Batalyon Priatna, ketika pengawal Gurkha menolak untuk diperiksa terjadilah tembak menembak yang berakhir dengan menyerahnya pasukan Gurkha kepada TKR, karena kekuatan TKR lebih besar. Kereta api itu meneruskan perjalanan ke Bandung dalam keadaan kosong. 2. Insiden Bekasi Tanggal 23 Nopember 1945, sebuah pesawat Dakota Inggris dalam penerbangannya ke Semarang harus melakukan pendaratan darurat disuatu tempat di Bekasi karena rusak mesin pesawat tersebut membawa 18 tentara Kumaon dan 5 awak pesawat. Tentu saja karena tempat tersebut berada dalam kekuasaan Republik, maka seluruh penumpang pesawat dan awaknya ditawan oleh pasukan setempat yaitu pasukan lasykar dari Banteng Hitam kemudian mereka dibunuh. 3. Berbagai insiden yang akhirnya membuat sekutu (Inggris) jengkel sehingga tanggal 27 Nopember 1945 Brigjen Mac Donald mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah Indonesia untuk mengosongkan kota Bandung bagian utara dari pejuang republik dengan dibatasi oleh jalan Kereta Api sehingga garis demarkrasi. 4. Diawali penghadangan di Fokkersweg (Jalan Garuda) pencegatan pengiriman perbekalan dari Sukabumi, Cianjur tanggal 20 Maret 1946 serangan terhadap kedudukan sekutu di Bandung Utara dengan menggunakan senjata mortir. Serangan ini membuat sekutu murka dan Mayjen Hawthorn mengeluarkan ultimatum, agar seluruh Pasukan Indonesia harus sudah mengosongkan Bandung Selatan tanggal 24 Maret 1946 sebelum pukul 24.00 inilah awal dari peristiwa Bandung Lautan Api. BANDUNG LAUTAN API DITINJAU DARI TAKTIK, KAMPANYE DAN STRATEGI MILITER Sebelum uraian berlanjut ada baiknya disampaikan beberapa makna yang berkaitan dengan istilah perang, dalam hal ini akan disampaikan makna dan pengertian tentang azas perang, taktik dan strategi militer serta macam operasi TNI, dengan disampaikannya pengertian tersebut diatas maka memudahkan persepsi pembaca dalam kaitan dengan judul diatas : 1. Azas perang adalah kebenaran fundamental yang berlaku dalam cara pelaksanaan perang dan mempunyai pengaruh tetap terhadap kesudahan dari persengketaan bersenjata. Kegunaan azas perang sebagai pedoman dan dasar untuk melakukan tindakan dan bukan hukum atau peraturan yang harus ditaati secara membuta. Azas perang itu merupakan suatu peringatan, bahwa mengabaikannya berarti mengundang resiko yang memberi keuntungan kepada musuh. Mengindahkan azas perang merupakan suatu factor untuk memenangkan suatu perang. Hal lain yang disebut kekuatan relatif atau daya tempur relatif. Yang dimaksud dengan kekuatan relatif adalah :

a. Kualitas dan kapabilitas komandan. b. Kualitas dan kapabilitas pasukan. c. Moril. d. Sumber (resource), baik tenaga manusia maupun bahan. Azas perang yang bersifat universal ialah : a. Memegang teguh tujuan. b. Ofensif. c. Pemusatan. d. Penghematan tenaga. e. Kerja sama. f. Keamanan. g. Pendadakan. h. Daya gerak. Azas perang khusus Indonesia adalah : a. Perlawanan teratur secara terus menerus. b. Tidak kenal menyerah. c. Keutuhan dan kesatuan ideology dan politik. d. Kekenyalan dalam pikiran dan tindakan. e. Penyebaran untuk menghindari permusnahan. 2. Strategi Militer a. Pengertian Strategi Dulu : Ilmu siasat/ilmu perang/tipu muslihat untuk mencapai kemenangan. Sekarang : Cara mencapai sesuatu dengan sarana yang tersedia. b. Perkembangan Perang. 1) Jaman tradisional, perang dilakukan karena dianggap sebagai tradisi. 2) Jaman budaya, perang dilakukan dengan alas an untuk membela diri. 3) Jaman modern, perang dilakukan dengan alas an untuk melindungi dan menjamin kelangsungan hidup bangsa agar tidak hancur. c. Berbagai pendapat tentang strategi. Banyak pakar ahli strategi mengemukakan tentang pengertian strategi yaitu Sun Tsu, Clausewitz, Napoleon, Burne, Jomini, Liddel Hart, Andre Beaufre, Scholovski dan Mao Tse tung. Diantara rumusan yang cocok atau mendekati dengan kondisi bangsa Indonesia Mao Tse Tung lah yang penulis pakai tentang pengertian strtegi, Mao Tse Tung berpendapat : Strategi dan taktik mempunyai hubungan dengan ruang dan waktu, dan memainkan peran yang sangat penting dalam pelaksanaan perang berlarut atau gerilya. Waktu dan ruang harus dapat digunakan untuk menciptakan situasi perang yang menguntungkan antara strategi, kampanye dan taktik hanya terletak pada ruang lingkupnya saja. d. Diantara macam-macam operasi tempur yang dilakukan oleh TNI-AD ialah antara lain Operasi Tempur Pemunduran atau Mars Meninggalkan Musuh (MMM). Mars Meninggalkan Musuh dilakukan apabila : 1) Menghindari pertempuran Pemunduran dalam kondisi yang sedang berlaku dengan melakukan lepas libat sesuai rencana dan tanpa tekanan musuh. 2) Dilakukan sebagai kelanjutan lepas libat atau bila tidak ada kontak dengan musuh.

3) Bila didahului lepas libat, Mars Meninggalkan Musuh dimulai setelah pasukan utama memutuskan kontak dan setelah kolone Mars terbentuk. Demikian sekedar pengantar tentang taktik, kampanye dan strategi militer dengan uraian yang dibatasi pada hal-hal penulis anggap perlu, agar para pembaca memhami bagaimana peristiwa Bandung Lautan Api ditinjau dari ketiga masalah tersebut diatas, yang pada saat itu TRI belum memhaminya selengkapnya seperti masa kini, namun sudah mampu melaksanakan perang modern. Sekutu pada saat itu menghadapi tugas yang berat dihadapkan pada fenomena yang harus diselesaikan yaitu : 1. Tugas pokoknya mengurus / menyelesaikan masalah RAPWI. 2. Berada di Negara yang baru merdeka. 3. Tugas yang terkandung adalah menghadapi pejuang bangsa Indonesia yang Militan.

Oleh karena itu tiada pilihan lain bagi sekutu selain mengeluarkan ultimatum, untuk menyelamatkan misinya. Sebaliknya pihak Republik juga menhadapi dilema dengan ultimatum tersebut yaitu atas dasar tuntutan Inggris supaya 25 Maret 1946 Bandung dikosongkan dari semua orang pasukan bersenjata dalam radius 11 km. Kolonel A.H. Nasution selaku Komandan Divisi III telah berupaya supaya ultimatum itu diperingan namun tidak berhasil dan sekutu tetap ngotot. Walikota Syamsuridzal telah memberi tahukan pada Kolonel A.H. Nasution, bahwa Jendral Howthorn pernah berkata ; I dont trust colonel Nasution. Akhirnya Komandan Divisi III dihadapkan pada 3 perintah yang berbeda perintah itu adalah : 1. Dari P.M. Syahrir pada pertemuan di Pegangsaan beliau berkata lebih kurang kerjakan saja, TRI kita adalah modal yang harus dipelihara jangan sampai hancur dulu. Harus kita bangun untuk kelak melawan NICA. Pemerintah Sipil supaya tetap bertugas di posnya yang sekarang karena kalau pergi, pasti

NICA akan menggantikannya jangan diadakan pembakaran dan sebagainya, karena yang rugi rakyat kita sendiri juga dan yang harus membangunnya kelak kita juga. Saya sendiri orang yang tidak punya. 2. Dari Jendral Didi Kartasasmita selaku penasehat militer setelah ditanya pak Nas, beliau menjawab : Handelen naar gelang de omstandigheden. Als er nog geknokt wordt, telefooner mij, dan kom ik bij jou. (artinya laksanakan saja sesuai kebutuhan situasi dan kondisi kalau terjadi sesuatu teleponlah saya, dan saya akan datang menemuimu). 3. Dari Markas Besar Tentara di Yogya mengirimkan kawat tanpa nama si pengirim bunyinya : Tiap sejengkal tumpah darah harus dipertahankan. Dari 3 perintah yang bertentangan Komandan Divisi mengadakan rapat kilat di Regentweg dengan komandan-komandan, Staf, MPPP, Pemerintah Sipil dan tokoh-tokoh KNI, pihak sipil meminta penundaan batas waktu dengan alasan untuk mententramkan perampokan. Akan tetapi permintaan itu ditolak oleh pihak sekutu. Panglima Inggris tidak bersedia memperanjang waktu. Dalam rapat itu Mayor Rukana, Komandan Polisi Tentara mengusulkan untuk membumihanguskan dan kemudian menutup terowongan kali Citarum diperbatasan barat dengan ledakan dinamit, katanya sudah diramalkan Bandung akan menjadi Lautan Api dan Lautan Air. Komandan Resimen dan lain-lain Perwira ingin bertempur terus, namun kemudian Wakil Persatuan Perjuangan bapak Kamran dan bapak Sutoko mempertimbangkan agar kita bersama rakyat keluar saja, akan tetapi Bandung harus dibakar. Komandan Divisi sangat sulit untuk menentukan sikap karena dihadapkan pada : 1. Three conflict order (dari pusat, Penasehat Militer dan MBT). 2. Dihadapkan pada pertimbangan kekuatan yang tidak seimbang yaitu sekutu dengan kekuatan Divisi India 12.000 orang dengan persenjataan lengkap, ditunjang dengan kendaraan tempur (tank) dan meriam-meriam yang berbanjar serta truk di Jl. Sumatra dengan garis demarkasi yang sudah siap apabila TRI menyerang. Sedangkan kekuatan TRI hanya 4 batalyon dengan 100 pucuk senjata senapan seluruhnya takan mampu menangkis kekuatan musuh, andai kata TRI melawan itu bunuh diri namanya. Tentara sekutu disamping tugas pokok untuk menyelesaikan tugas RAPWI mengemban pula tugas sampingan yang diutamakan yaitu melaksanakan persetujuan Civil Affair Agreement tanggal 24 Agustus 1945 dengan Belanda, dimana Inggris berjanji untuk mempergunakan badan-badan Netherland Indies Civil Administration (NICA) dalam urusan pemerintahan dan untuk selekasnya memulihkan kekuasaan Belanda di Indonesia. Kemudian setelah Inggris menyerahkan kekuasaan atas Indonesia dengan kelicikan Belanda untuk mengadudombakan antar penduduk asing (Cina, Arab, India) dengan penduduk Cina (Kuomintang) Belanda membentuk barisan Cina dengan nama Po An Tui padahal negara Cina Kuomintang bersimpati kepada Barisan Keamanan Gerakan Kemerdekaan Indonesia. 3. Pemerintah Sipil Menyatakan ketaatannya kepada Perdana Menteri St. Syahrir. Dari situasi yang mencekam itu Pak Nasution selaku Komandan Divisi dengan naluri militernya, maka pada pukul 14.00 dikeluarkan perintah :

1. Semua pegawai dan rakyat harus keluar kota sebelum pukul 24.00 2. Tentara melakukan bumi hangus terhadap semua bangunan yang ada. 3. Sesudah matahari terbenam, supaya Bandung Utara diserang dari pihak utara dan dilakukan pula sedapat bisa. Begitu dari selatan harus ada penyusupan ke Utara. 4. Pos Komando saya pindahkan ke Kulalet (Dayeuh Kolot). Pukul 20.00 komandan Divisi bersama Mayor Rukana berdiri disebuah bukit memerikasa pelaksanaan perintah Komandan. Berangsur-angsur kedengaran dentuman-dentuman dan kelihatan kebakaran semakin hebat mulai dari Cimahi sampai Ujungberung. Serangan-serangan dilakukan sekitar bekas KMA, Ciumbuleuit, Sukajadi dan lain-lainnya. Gedung-gedung yang besar hancur oleh dinamit. Tembakan-tembakan tersembunyi dilakukan di bagian Utara. Pukul 21.00 Komandan berdua kembali masuk kota untuk memeriksa dari dekat. Sangat sedih hati melihat lebih kurang 100.000 rakyat keluar kota dengan berjalan kaki, memikul dan menggendong anak-anak serta barang sekedarnya. Banyak yang menangis. Hujan rintik-rintik menimpa mereka. Komandan meronda dalam kota dan membantu sendiri membakar disana-sini. Setelah pukul 24.00 kota praktis sudah kosong dari manusia akan tetapi api masih menyala terus. Bagaimana tindakan Inggris, hanya terdengar tembakantembakan sebentar jauh dari Utara. Sesudah kejadian tersebut dari luar kota TRI mengatur terus infitrasi-infitrasi setiap malam untuk mengacaukan musuh. Segala kejadian dilaporkan ke MBT, yang lalu menyetujui tindakan yang telah diambil. Memang berat penderitaan rakyat Bandung, akan tetapi mereka ikhlas memberikan pegorbanan dengan keyakinan kemerdekaan akan tetap selamanya. Dengan keyakinan bahwa pengorbanan mereka takan sia-sia, dan kemerdekaan akan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan yang telah diimpikan dan dijanjikan oleh pemimpin-pemimpinnya. Setelah Bandung dibumi hanguskan, surat kabar membuat berita tentang Bandung dalam kotak-kotak hitam, tanda berkabung dengan kalimat-kalimatnya yang melukiskan kemurkaan bercampur duka cita karena bumi hangus demooiste stad van Java dan Parijs van Java menjadi rusak. Pak Nasution dianggap sebagai Penjahat Perang dan untuk itu beliau dimintai pertanggung jawabannya. Namun pada bulan Mei 1946 Jenderal Urip Sumoharjo dengan resmi menerangkan di Purwakarta, bahwa yang dilakukan oleh Komandan Divisi (Kol. A.H. Nasution) mengenai Bandung Lautan Api, adalah keputusan yang baik. Setelah Komandan Divisi III (Kol. A.H. Nasution) dengan stafnya pindah ke Kulalet (Dayeuh Kolot). Akibat peristiwa Bandung Lautan Api, kita (Indonesia) dan pihak sekutu (Inggris, Belanda) masing-masing sedang mengadakan konsolidasi. Komandan Divisi III mengirim nota ke MBT dan pernah langsung menghadap kepada Panglima Besar (pak Dirman) untuk mengadakan siasat menyeluruh agar seluruh Jawa mengadakan Serangan Umum dalam arti implikasi gerilya untuk terus menghangatkan kota. Namun misi Komandan Divisi III tidak mendapat respon yang baik dari MBT, hal ini bisa dimaklumi karena

posisi MBT saat itu lebih bersifat koordinator dari pada Komando tertinggi tentara pada dewasa itu. Implikasi peristiwa BANDUNG LAUTA API ditinjau dari kampanye militer adalah : 1. Dari segi Taktik Militer. Meskipun semangat tempur dan moril tinggi, tetapi pertimbangan kekuatan tidak seimbang alangkah dungunya seorang Komandan menggerakan Pasukannya untuk melakukan pertempuran, ini namanya bunuh diri, Setelah dilakukan pemunduran diperintahkan untuk melakukan penyerangan yang dilakukan oleh pejuang TRI antara lain : a. Penghadangan terhadap musuh yang berada di jalan raya antara Puncak dan Bandung. b. Pertempuran sejak dari Cianjur sampai Rajamandala c. Beberapa kolone dicegat rakyat di Cikarang dan Pacet. d. Penghadangan terhadap konvoi di Tugu dan Cipayung. e. Tak ada tempat yang sepi insiden, mulai dari Sukamiskin sampai Cimahi, Padalarang, Cipatat, Ciranjang, Cianjur dan Puncak. Dapat disimpulkan disini bahwa dari segi taktik penyerangan-penyerangan dengan kekuatan kecil menghindari korban yang besar, tetapi merugikan dipihak musuh. Pelaksanaan BLA menggunakan suatu taktik kombinasi dari serangan, pertahanan dan hambatan dengan berpegang kepada perang memegang teguh tujuan. 2. Dari segi Kampanye Militer. BLA merupakan rangkaian operasi militer yang berhubungan dengan yang lain dengan tujuan untuk menyelesaikan suatu sasaran bersama, dalam waktu dan ruang tertentu. Musuh tidak bisa memanfaatkan asset selain puing-puing dan menyalurkan musuh ke dalam situasi yang tidak menguntungkan baginya. 3. Dari segi Strategi Militer. BLA ditinjau dari segi strategi Militer sesuai rumusan strategi yang dikemukakan oleh Mao Tse Tung yaitu BLA memainkan peranan yang penting dalam pelaksanaan perang berlarut atau gerilya. Ruang dikorbankan untuk memperoleh waktu yaitu menghindari pertempuran-pertempuran yang menentukan. BLA ditinjau dari operasi Militer merupakan suatu gerakan kebelakang meninggalkan musuh dengan tujuan mengorbankan ruang untuk memperoleh waktu, yang diperlukan untuk persiapan-persiapan gerakan selanjutnya berupa serangan, penghadangan atau perang gerilya. HIKMAH DARI BANDUNG LAUTAN API

Kegagalan sekutu sewaktu mengirimkan perbekalan ke Bandung, yang terkenal dengan peristiwa Cikampek, mendesak sekutu untuk minta bantuan pengawalan kepada TKR, yang pernah dilakukan Taruna Akademi Militer Tanggerang selama tiga kali antara Desember 1945 s/d Januari 1946. Rentetan peristiwa/bentrokan antar TKR dan sekutu (Inggris) sampai terjadinya peristiwa heroik BLA merupakan masukan untuk penyusunan doktrin dan macam-macam operasi militer, yang merupakan segala usaha, kegiatan dan tindakan militer berdasarkan suatu rencana untuk mencapai tujuan, dalam hubungan ruang dan waktu yang ditetapkan atas dasar perintah dari fihak yang berwenang dalam rangka mencapai tujuan perang ataupun tujuan Hankamnas. Khusus untuk Siliwangi BLA telah menghasilkan system Pertahanan Garis Hantar Kuning sampai system Pertahanan dan keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Kepercayaan sekutu kepada TKR sekaligus merupakan pengakuan terhadap eksistensinya TKR secara de facto. Tugu BLA yang terletak dilapangan Tegallega keadaanya tidak terawat dan sangat menyedihkan, kini Tugu BLA sudah dibersihkan, tinggal menunggu perbaikan dan pelestariannya sekaligus pemanfaatannya sebagai tugu dan musium perjuangan Rakyat Jawa Barat. PENUTUP Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Perjalanan bersejarah bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah telah mengorbankan jiwa harta benda yang tidak terhingga. 2. Tiap daerah mempunyai perang sendiri-sendiri dalam upaya mempertahankan kemerdekaannya seperti Rakyat Jawa Barat dalam epos Bandung Lautan Api yang telah memberikan saham yang besar dalam membela bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia.

3. Semangat pengorbanan Rakyat Jawa Barat luar biasa besarnya dan mencerminkan kesatuan dan persatuan bangsa dalam membela bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia. 4. Meskipun TKR baru lahir tapi dalam peristiwa BLA telah mampu melakukan kegiatan militer yang bersifat taktis dan strategis, berkat naluri militer dari Komandannya yaitu Kol. A.H. Nasution (sekarang alm. Jenderal Besar), yang memberi andil besar dalam menyusun macam-macam operasi militer di Indonesia sampai dengan Sistem Pertahanan dan keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Kesan dan pesan dari peristiwa Bandung Lautan Api 1. Kesatuan dan persatuan nasional yang erat bahu membahu tidak membedakan asal daerah suku dan agama. Mereka datang dari delapan penjuru angin terdiri dari suku Sunda, Jawa, Batak, Padang, Riau, Jambi, Palembang, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku ikut berjuang membela Jawa Barat dalam peristiwa Bandung Lautan Api. 2. Kemanunggalan Tentara dan Rakyat dalam kerjasama : a. Bantuan logistik dengan dapur umumnya b. Peranan lasykar wanita baik di depan dan di belakang front c. Penerimaan asrama (akomodasi) dengan istilah Pastur (tepas batur) d. Rakyat ikut bertempur al. tukang becak yang bernama Emen berhasil menghancurkan tank musuh di jalan Waringin. 3. Disiplin tinggi yang bersifat nasional TRI/pejuang bersenjata tetap menolak untuk mundur tetapi selaku prajurit yang harus taat kepada perintah atasan/pemerintah, dengan rela menerima perintah itu demi keutuhan bangsa dan tanah air, penuh kesadaran menurut memenuhi perintah. 4. Kerelaan berkorban untuk kemerdekaan Indonesia dengan mengorbankan harta benda maupun jiwa raga mereka. 5. Kejujuran hati tidak mementingkan diri sendiri, melainkan lebih mementingkan, mengutamakan kepentingan umum terutama kepentingan kemerdekaan Indonesia. 6. Sepi ing pamrih rame ing gawe berjuang tidak mengharapkan upah/gaji bayaran, penghargaan dan penghormatan. Demikian tulisan BANDUNG LAUTAN API BESERTA IMPLIKASINYA DARI SEGI MILITER, dengan harapan semoga masyarakat Jawa Barat menghargai para pejuang terdahulu dan memiliki sense of belonging pada Tugu Bandung Lautan Api yang terletak di Tegallega, Amiin.

LONG MARCH SILIWANGI

PENGANTAR Kemajuan-kemajuan yang mempesona dari gerakan tentara Belanda yang modern itu, dalam perang Kemerdekaan ke-I secara psikologis telah sangat memukul moril prajurit-prajurit RI. Akan tetapi tidak semua adalah gejala sementara. Dengan gerilya sementara bahu membahu dengan rakyat prajurit Siliwangi telah berhasil menguasai keadaan ini diakui oleh pihak Belanda bahwa perlawanan pasukan-pasukan RI di Jawa Barat dan Jawa Tengah makin meningkat saja. Atas desakan DK PBB dan dengan bantuan Komisi jasa-jasa baik diadakanlah perundingan antara Indonesia dan Belanda, di kapal Amerika Renville di pelabuhan Tanjung Priok yang kemudian melakukan Persetujuan Renville yang ditanda tangani tanggal 17 Januari 1948. Inti dari Persetujuan Renville itu antara lain mengharuskan Divisi Siliwangi harus pindah ke Jawa Tengah ke daerah Republik, yang waktu itu sudah semakin ciut. Perintah hijrah itu dilaksanakan tanggal 1 Februari 1948 dan berakhir tanggal 22 Februari 1948. Setelah prajurit Siliwangi berada di Jawa Tengah, disamping melawan Belanda, Siliwangi telah berhasil menumpas pemberontakan PKI MUSO tanggal 18 September 1948. Republik Indonesia meramalkan akan adanya gerakan militer Belanda berikutnya, ternyata ramalan itu benar, tanggal 19 Desember 1948 Belanda melakukan aksi militer ke-II. Atas serangan perang Kemerdekaan itu, Panglima Besar Sudirman mengeluarkan perintah kilat antara lain Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata. Oleh karena itu Angkatan Perang RI menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda. Instruksi Panglima Besar No.1 terkenal dengan nama Perintah Siasat No. 1 tentang cara pelaksanaan perlawanan terhadap Agresi Belanda, dan khusus untuk Siliwangi, untuk menembus, menyusup ke kedudukan semula di Jawa Barat dengan sebutan yang terkenal LONG MARCH SILIWANGI.

Dalam kisah berikut akan disampaikan kisah Siliwangi dalam Hijrah dan Long March.

HIJRAH Disaat perjuangan perlawanan terhadap Belanda di Jawa Barat sedang memuncak dan inisiatif serangan berada di pihak pasukan Siliwangi, pihak Belanda berupaya memaksa dilakukannya perundingan RENVILLE (Perundingan yang dilakukan diatas Kapal Renville). Persetujuan yang ditanda tangani tanggal 17 Januari 1948 sangat merugikan pihak RI, salah satu isinya memutuskan tentara RI harus meninggalkan kantongkantong Gerilya, termasuk didalamnya pasukan Siliwangi harus meninggalkan kampung halamannya Jawa Barat dan segera melakukan hijrah ke Jawa Tengah sebagai satu-satunya daerah yang masih dikuasai Pemerintah RI. Pada tanggal 22 Februari 1948 sekitar 29.000 orang pasukan Siliwangi terpaksa meninggalkan kantong-kantong gerilyanya di Jawa Barat. Pelaksanaan perpindahan ke Jawa Tengah dilakukan dengan cara sebagian diangkut dengan Kereta api dan sebagian lagi menggunakan Kapal laut dan diturunkan di daerah Rembang Jawa Tengah. Penderitaan pertama yang dirasakan pasukan Siliwangi setelah berada di Jawa Tengah ialah diharuskannya reorganisasi dan rasionalisasi (RERA), sehingga sebagian dari mereka yang turut hijrah terpaksa tidak dapat masuk formasi dan akhirnya hidup terkatung-katung di tanah rantau. Dalam masa hijrahnya pasukan Siliwangi menghadapi ujian berat, selain menghadapi Tentara Belanda, juga pada saat yang bersamaan tanggal 18 September 1948 PKI Muso pun melakukan pemberontakan terhadap Pemerintahan RI dengan dipimpin oleh Amir Syarifudin SH. Yang menamakan dirinya sebagai Perdana Menteri PKI. Namun berkat kegigihan, keuletan, ketabahan serta keberanian pasukan Siliwangi secara gemilang berhasil menumpas pemberontakan PKI Muso dan membunuh Muso sendiri di daerah Ponorogo dan Amir Syarifudin di daerah Cepu / Blora. LONG MARCH SILIWANGI Pada tanggal 9 Nopember 1948 Panglima Besar Soedirman mengeluarkan Instruksi No. 1 yang dikenal dengan PERINTAH SIASAT NO. 1 yang

memerintahkan pasukan Siliwangi untuk bergerak dari kedudukannya guna melakukan gerakan Militer kembali ke Jawa Barat. Belum lagi pasukan Siliwangi melepaskan lelahnya setelah melaksanakan operasi penumpasan terhadap PKI Muso, tiba-tiba saja pihak Belanda melancarkan agresi Militer ke II terhadap Ibu Kota RI Yogyakarta. Pihak Belanda mengatakan kepada Komisi Jasa PBB, bahwa pihaknya mulai tanggal 19 Desember 1948 pukul 00.00 waktu Jakarta, tidak lagi merasa terikat oleh perjanjian Renville yang sebenarnya telah begitu menguntungkan pihaknya. Pada tanggal 19 Desember 1948 sekitar pukul 05.30 lapangan terbang Maguwo dibom oleh pesawat-pesawat pembom MITCHEL B-25 yang diikuti penerjunan satu Batalyon Pasukan Baret Hijau Belanda yang ditugaskan untuk merebut lapangan tersebut. Belanda mengerahkan sejumlah kurang lebih 135.600 orang Tentara dengan perlengkapan modern bantuan dari Marshal Plan Amerika-Serikat. Tujuan agresi Belanda ke-II itu adalah untuk menghancurkan segala potensi Republik atau melumpuhkannya. Untuk menghadapi taktik licik Belanda tersebut Panglima Besar Soedirman mengeluarkan instruksi. Instruksi Panglima Besar No. 1 yang memerintahkan pasukan Siliwangi segera bergerak dari kedudukannya masing-masing menuju ke daerah masing-masing yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Adanya perintah untuk bergerak kembali ke kampung halamannya yang sudah sekian lama ditinggalkan dan dirindukan maka keadaan tersebut disambut dengan penuh kegembiraan diselingi rasa keharuan yang sangat mendalam sekali. Dengan demikian pada akhir tahun 1948 mulai bergeraklah si Anak Rantau Siliwangi ke tempat asalnya di Jawa-Barat. Pada tanggal 19 Desember 1948 bergeraklah si Anak Rantau Siliwangi kembali ke Jawa Barat, peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan Long March Siliwangi, suatu perjalanan yang penuh dengan duka derita, tetapi penuh nuansa heroik-patriotik. Dalam perjalanan kembali ke Jawa Barat, pasukan Siliwangi tidak memiliki bekal makanan sedikitpun, jadi untuk makan sekian banyaknya orang, hanya mengandalkan pemberian penduduk yang dengan secara ikhlas mau membantu memberikan makanan apa adanya seperti nasi tambah sambel goang, ubi/ singkong atau oyek. Rencana Long March Siliwangi telah disusun rapih dan sudah disalurkan berupa perintah hingga tingkat Batalyon sebagai berikut : 1. Brigade Sadikin menuju Jawa Barat sebelah utara. 2. Brigade Syamsu menuju daerah Tasikmalaya, Garut dan Ciamis. 3. Brigade Kusno Utomo menuju daerah Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor. 4. Batalyon Ahmad Wiranatakusumah bertugas sebagai pengawal Staf Divisi Siliwangi dan berangkat paling akhir. Namun karena keadaan medan Jawa Barat tidak mengijinkan ditambah akibat adanya pengacauan oleh yang menamakan dirinya Darul Islam Kartosuwiryo maka tujuan yang telah ditetapkan itu, tidak dapat dipertahankan.

Sehingga pada akhirnya Batalyon Sitorus kembali ke daerah Garut, Batalyon Ahmad Wiranatakusumah di Bandung Selatan, Batalyon Kemal Idris di daerah Kabupaten Cianjur. Batalyon Kosasih ke daerah Sukabumi dan Bogor, Batalyon Roekman ke daerah Cirebon dan Kuningan, Batalyon Abdulrachman (Yon Taruma Negara) ke daerah Sumedang. Komandan Batalyon Mayor Abdulrachman gugur ditembak Baret Hijau Belanda dan Danyon diganti oleh Mayor Amir Mahmud, nama Batalyon diganti jadi Yon 11 April. Batalyon Dharsono ke daerah Karawang, Batalyon Lucas Kustaryo ke daerah Cikampek, Batalyon Sudirman ke daerah Tasikmalaya utara, Batalyon Nasuhi ke daerah Ciamis dan Batalyon Rivai ke daerah Majalaya hingga perbatasan Garut. Pada umumnya Batalyon-Batalyon Siliwangi itu kembali ke daerah-daerah gerilya mereka sebelum mereka hijrah. 1. Tanggal 22 Desember 1948, di daerah Sukowaluh (masuk wilayah Purworejo) Sepasukan Tentara Belanda dari Kesatuan Batalyon Anjing NICA berhasil menangkap Letkol Daan Jahja Kepala Staf Divisi Siliwangi, dan selaku penanggung jawab gerakan Long March dari seluruh divisi beserta Mayor Daeng Mohamad-Komandan Batalyon Guntur, Kapten Pirngadi Perwira Staf Siliwangi, dan Sersan Mayor Soemitro Ajudan Komandan Batalyon Guntur. Letnan Resdan Komandan Peleton Pengawal Staf Batalyon Guntur beserta beberapa orang prajurit gugur, saat melakukan perlawanan. 2. Kolonel T.B. Simatupang selaku Wakil II KSAP, yang kebetulan saat itu berada ditengah-tengah lingkungan Divisi Siliwangi langsung menunjuk perwira staf yang tertua ialah, Letkol Sadikin selaku Pj. Panglima Divisi Siliwangi. Sedangkan Kolonel Nasoetion sebagai Panglima Komando Jawa, yang menerima berita beberapa hari kemudian tentang tertangkapnya Letkol Daan Jahja, juga langsung menunjuk Letkol Abimanjoe sebagai Pj. Panglima Divisi Siliwangi, dan diperintahkan untuk segera berangkat ke Jawa Barat menyusul perjalanan Divisi Siliwangi. Sedangkan Kapten Sitoroes ditunjuk sebagai pengganti Mayor Daeng Mohamad selaku Komandan Batalyon Guntur. Masalah adanya Panglima Divisi Siliwangi yang kembar ini, kemudian diselesaikan secara musyawarah, dengan mengadakan pembagian wilayah operasi Divisi Siliwangi di Jawa Barat sebagai berikut : a. Panglima I, Letkol Sadikin bertanggungjawab atas medan atau wilayah Jawa-Barat bagian selatan. b. Panglima II, Letkol Abimanjoe bertanggungjawab atas medan atau wilayah Jawa-Barat sebelah utara. 3. Penyergapan Tentara Belanda terhadap Kompi Sjafei di daerah Arjasari Banjaran, meminta kurban 36 orang gugur, diantaranya yang menjadi kurban ada 2 orang Komandan Peleton, ialah Letnan Saragih dan Letnan Affandi, dan seorang sersan ialah Sersan Hutabarat. 4. Mayor Oetara selaku Perwira Staf Brigade XIV/ Siliwangi, menerima perintah atasan untuk mengadakan perundingan dengan pihak DI-TII di daerah Cigalontang. Beliau dikawal oleh satu regu prajurit Siliwangi, dan diantar oleh Adah Djaelani Bupati DI-TII. Perundingan berlangsung dengan SM. Kartosoewirjo yang didampingi oleh Oni

dan Sjaefullah pembantu-pembantu dekat SM. Kartosoewirjo. Ternyata perundingan gagal, tidak mencapai kesepakatan untuk bekerjasama mengusir Tentara Belanda. Satu regu TNI pengawal Mayor Oetarja dilucuti senjatanya, sedangkan Mayor Oetarja sendiri ditahan, yang kemudian dieksekusi, dengan cara ditelanjangi terlebih dahulu, yang kemudian ditebas kepalanya didepan lubang lahat yang sudah disediakan oleh 2 orang anggota DI-TII yang bernama Eman dan Komar (keterangan diperoleh dari Prajurit TNI O. Soedrajat, bekas pengawal Mayor Oetarja pada saat itu, atas pengakuan langsung dari para eksekutor). Dalam perjalanan kembali ke kampung halamannya di Jawa-Barat, pasukan Siliwangi mendapatkan hambatan dari DI-TII Kartosuwiryo. Di Priangan Timur banyak prajurit Siliwangi yang jatuh dalam jebakan pasukan DI-TII, baik yang kena sergap atau diracun untuk dibunuh atau ditawan setelah melalui penganiyaan yang tidak berperikemanusiaan. ROUTE Pada umumnya gerakan kembali ke Jawa Barat, dimulai dari garis Demarkasi dan melalui 3 jalur menyusuri pantai Utara, pantai selatan dan jalur tengah. a. Jalur pantai Utara : Mulai dari Wonosobo, Banjarnegara, Gunung Slamet, daerah Slawi, Salam, Subang Kuningan, Gunung Ciremai, Majalengka, Sumedang, Subang, Purwakarta, Karawang dan Bekasi. b. Jalur Tengah : Mulai dari Wonosobo, Banjarnegara, daerah Purwokerto, Bumi Ayu, Rancah, Kawali, Sindangbarang, Pagerageng, Gunung Galunggung, Kab. Garut, Kab. Bandung, Kab. Cianjur, Kab. Sukabumi dan Bogor. c. Jalur pantai Selatan : Mulai dari daerah Yogya, Wates, Purworejo, Kebumen, Gombong, Kab. Cilacap daerah Kalipucang, daerah Ciamis, daerah Salopa, Kab. TasikmalayaSingaparna, Taraju Garut, daerah Majalaya, Cianjur, Sukabumi dan Bogor.

SELATAN Pergerakan hijrah pasukan Siliwangi dari Jawa Tengah ke Jawa Barat yang meliputi kekuatan 3 Brigade dan 14 Batalyon bersama keluarga selama 11

PERGERAKAN JALUR TENGAH DAN

bulan, dapat diuraikan berikut routenya sebagai berikut : 1. Rute Brigade XII (Letkol Kusno Utomo) berikut Batalyon-batalyon (lihat lampiran 1) a. Rute Brigade XII (Letkol Kusno Utomo) + 405 Km (Mendut s/d Parigi). b. Rute Batalyon (Mayor R.A. Kosasih) + 450 Km (Magelang s/d Bogor). Diperbatasan Magelang terjadi pertempuran melawan Belanda. Pemboman oleh pesawat terbang Belanda di Salem. Penjebakan yang gagal oleh DI-TII di Bantarujeg/Lemah Putih. Pengintaian/pertempuran melawan Belanda di Cileunyi. Pengintaian/pertempuran melawan Belanda di Banjaran. c. Rute Batalyon II/ Kalahitam (Mayor Kemal Idris) + 420 Km (Yogya s/d Cianjur). Pemboman oleh pesawat terbang Belanda di Bantar Kawung. Pemboman oleh pesawat terbang Belanda di sekitar Gunung Ciremai. Penjebakan yang gagal oleh DI-TII di Lemahputih Pengintaian/pertempuran melawan Belanda di Leles/Cicalengka. Pengintaian/pertempuran melawan Belanda di Ciwidey. d. Rute Batalyon (Mayor Achmad Wiranatakusumah) + 465 Km.(Solo s/d Malabar). Sebagai Pasukan Pengawal Staf Divisi Siliwangi. Solo Prambanan = Jalan kaki Prambanan Bandung = Jalan kaki. Pertempuran melawan Belanda Tiba di Tasikmalaya menuju basis Gunung Puntang. e. Rute Batalyon IV (Mayor Daeng) + 375 Km (Yogya s/d Bandung). Pertempuran melawan Belanda di Wonosobo - Pertempuran melawan Belanda di Kawali.

2. Rute Long March Siliwangi Brigade XIII (Letkol Sadikin) Berikut Batalyon-batalyonnya. a. Rute Brigade XIII Siliwangi (Letkol Sadikin) + 285 Km Wonosobo s/d Surian Sumedang. b. Rute Batalyon Tajimalela (Mayor Lukas K) + 540 Km (Widodaren s/d Cikampek). - Setelah gagal dalam Operasi Penyerangan Sungai di Jembatan Kebasen

Rawalo kembali mengambil rute lewat Gunung Slamet menuju Jawa Barat. Pertempuran melawan Belanda di Gunung Slamet. Konsolidasi Batalyon sebelum Operasi Penyebrangan. Posko Batalyon di Ciseuti. c. Rute Batalyon II/Tarumanegara (Mayor Abdurrahman) + 285 Km (Wonosobo s/d Sumedang). - Pertempuran Si 1 / Ki 1 dari Kr. Kobar, Ki 2 didesa Kedawung, Ki 4 di Cinusa dan Si 1 di Cinusa. Serangan udara Belanda di Kaligus Gunung Slamet. Kanonade sebelum Bantarkawung. Menyerang Pos Belanda di Lemah Putih yang berkekuatan 1 Kompi lengkap dan diperkuat beberapa brencarrier. Belanda terdesak mundur dan menderita korban mati dan luka. Posko Batalyon di Finish Babakan Pari Sumedang. d. Rute Batalyon 301 / Prabu Kiansantang. + 360 Km (Banjarnegara / Purwakarta). T. Pertempuran melawan Belanda - X. Posko Batalyon.

3. Rute Long March Siliwangi Brigade XIV (Letkol Syamsu) berikut Batalyon-batalyonnya. a. Rute Brigade XIV Siliwangi (Letkol Syamsu) + 315 Km (Magelang s/d Ciparay Kab. Bandung). b. Rute Batalyon Nasuhi (Mayor Nasuhi) + 300 Km (Magelang s/d Malangbong Garut). Dibombardir di Wonosobo (17 anggota hilang). - Pertempuran melawan Belanda di Cijolang beberapa anggota gugur/likaluka, di Rancah (1 regu gugur), Ki A melawan Belanda di Teluk Jambe, di Sukamatri Panjalu Ciamis (Kapten Musad Idris dan Letnan Neman / pembawa Panji Siliwangi gugur). c. Rute Batalyon 2 (Mayor Sudarman) + 195 Km (Magelang s/d Banjar Ciamis) Pertempuran melawan Belanda. d. Rute Batalyon 3 / Garuda Hitam (Mayor Rivai) + 315 Km (Magelang s/d

Majalaya Kab. - Pertempuran melawan Belanda.

Bandung

).

PERGERAKAN JALUR UTARA Perlu juga diketahui, Batalyon Rukman adalah perintis Long March Divisi Siliwangi, serta satu-satunya Batalyon yang sebelum Aksi Kedua berhasil menyusup ke daerah pendudukan (Jawa Barat bagian Utara), menerobos garis demarkasi yang dijaga ketat oleh Divisi Tentara Belanda Pasukan Batalyon Rukman ini berhasil menduduki daerah yang luas di Keresidenan Cirebon, menyatu dengan Rakyat dan menjadi beach-head pada waktu terjadi peristiwa Long March. Daerah kekuasaan Batalyon Rukman dijadikan tempat kedudukan Gubernur Jawa Barat yang dijabat oleh Ir. Ukar Bratakusumah, serta markas Kolonel Abimanyu (Komandan Divisi Siliwangi yang diangkat oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman). Batalyon Rukman berkembang menjadi tiga Batalyon, yaitu Batalyon Mustopa berkedudukan di Kuningan, Batalyon Machmud Paksya berkedudukan di Cirebon (termasuk didalam kota) dan Batalyon Sentot, berkedudukan di Indramayu. Ketiga Batalyon inilah yang menjadi Brigade A, dengan Komandan Brigade Letnan Kolonel Rukman..

SAHAM MAUNG SILIWANGI DALAM MEMBASMI PKI-MUSO DI MADIUN Pada waktu Pemerintah RI mengambil kembali Suripno dari Cekoslowakia, ternyata ia Pulang bersama-sama dengan seorang Tokoh PKI yang telah bertahun-tahun bermukim di Uni Sovyet, ialah Muso, setibanya mereka di Indonesia, diadakanlah oleh mereka pembicaraan dengan pimpinan PKI, Partai Sosialis (Amir Syarifuddin), Partai Buruh serta pemimpin-pemimpin lainya yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR). FDR tersebut kemudian menjadi sub-organ dari pada PKI. Kekacauan-kekacauan mulai timbul dimana-mana dan berpusat di Surakarta. Pada tanggal 13-16 September 1948 di Sala terjadi insiden antara TNI-AD dengan Tentara Laut RI yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Yadau yang menjadi pengikut setia dari pada PKI yang dikuasai oleh Muso. PESINDO (Pemuda Sosialis Indonesia) yang tergabung dalam FDR, pada tanggal 14 September tiba-tiba menyerang barisan Banteng di Sala karena Dr. Muwardi, Pemimpin barisan Banteng, dengan tegas menolak untuk bergabung dengan PESINDO. Insideninsiden itu baru dapat dihentikan setelah Putera-putera Siliwangi turun tangan dan menganjurkan kedua-belah pihak untuk mentaati TNI. Anjuran ini di terima dengan baik oleh Barisan Banteng, akan tetapi ditolak oleh pihak PESINDO. Bahkan mereka telah bertindak lebih lanjut lagi dengan membangkang terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pihak Siliwangi yang terpaksa mengambil tindakan-tindakan yang tegas dengan mengakhiri semua aktifitas dari PESINDO. Berdasarkan dokumen-dokumen yang berhasil disita oleh pihak Republik Indonesia ternyata, bahwa dengan perantara orang-orang yang berkedudukan tinggi pihak PKI dengan FDR-nya telah lama berusaha untuk mempengaruhi Angkatan Perang Republik Indonesia. Dalam usaha mempengaruhi anggotaanggota Angkatan Perang RI, penghasut-penghasut PKI itu menggunakan sentimen yang ada didalam Angkatan Perang (seperti ketidak-puasan mengenai RE/RA) serta keadaan ekonomi yang kurang memuaskan ketika itu.

Bila pasukan-pasukan TNI berhasil mereka pengaruhi, maka mereka akan dipergunakan sesuai dengan rencana yang telah mereka buat, ialah merebut kekuasaan dari tangan Pemerintahan Republik Indonesia yang syah. Setelah pihak PKI berhasil untuk mengalihkan perhatian Pemerintah RI serta umum kepada kota Sala dimana sering kali terjadi insiden-insiden bersenjata, maka dengan tiba-tiba sekali Kolonel Sumarsono yang berpihak kepada PKIMuso, mengambil kesempatan dari kekeruhan suasana itu dengan memproklamasikan terbentuknya apa yang mereka namakan Sovyet Republik pada tanggal 18 September 1948 di Madiun, dengan mendapat backing dari batalyon Brigade 29. Pemberontakkan dilakukan pada 02.00 sedangakan batalyon-batalyon yang turut dalam penghianatan itu adalah : a. Batalyon Musyofa di kota Madiun b. Batalyon Mursid di Saradan c. Batalyon Darmintoaji di Ngawi d. Batalyon Panjang Jokopriono di Ponorogo e. Batalyon Abdulrakhman dan susulan dari Kediri f. Batalyon Maladi Yusuf yang beroperasi Ponorogo dan Sumoroto Dalam gerakannya di kota Madiun, mereka memusatkan serangannya terhadap Markas CPM Siliwangi di Jalan Dr, Cipto yang menyebabkan gugurnya seorang Mayor CPM setelah terjadi perlawanan sengit. Pada tanggal 19 September 1949 pukul 09.00 pihak pemberontak berhasil menguasai markas-markas SPDT, STM Madiun, Batalyon CPM dan tangsi Polisi. Setelah itu mereka menangkapi para Perwira TNI-AD serta pemimpin-pemimpin lainnya yang menjadi lawan mereka. Satuan-satuan TNI-AD yang tetap setia kepada RI di Ponorogo dan Ngawi, berhasil untuk kemudian mengatur siasat lebih lanjut guna menghantam pihak pemberontak. Pasukan-pasukan TNI-AD yang berada di Magetan pun meloloskan diri dari ancaman pihak komunis untuk kemudian bersama-sama dengan kadet-kadet dari Akademi Militer yang berada di Sarangan membentuk suatu pertahanan yang mengurung keresidenan Madiun di lereng Gunung Lawu. Para pemimpin Pamongpraja yang berhasil ditangkap oleh pihak PKI, dibunuh di luar batas perikemanusiaan. Nasib yang sama dialami pula oleh pemimpin-pemimpin partai Golongan Agama dan Nasional. Studio RRI Madiun berhasil diduduki oleh kaum pemberontak dan dipergunakan sebagai corong propaganda kaum pemberontak. Radio Gelora Pemuda milik PESINDO dijadikan pula trompet kaum komunis. Pada tanggal 19 September 1948, Amir Syarifuddin dan Suripno telah mengadakan pidato-pidato melalui Radio Gelora Pemuda itu, bahkan dalam kesempatan itu jenderal Mayor (PKI) Joko Suyono telah melakukan suatu panggilan/seruan kepada para Komandan Pasukan TNI-AD yang akan membebaskan Madiun dari cengkeraman pihak Komunis untuk datang ke Madiun guna berunding dengan jaminan Kemerdekaan. Akan tetapi tipu muslihat kaum pem


Recommended