Home >Documents >PERANG KESABARAN DI AFGHANISTAN · berlangsung, kapan akan berakhir, bagaimana garis waktunya,...

PERANG KESABARAN DI AFGHANISTAN · berlangsung, kapan akan berakhir, bagaimana garis waktunya,...

Date post:03-Nov-2019
Category:
View:14 times
Download:8 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • K.�MUSTAROMK.�MUSTAROM

    PERANG�KESABARAN�DI�AFGHANISTAN

    KEMENANGAN�IMARAH�ISLAM�AFGHANISTAN�ATAS�AMERIKA

  • K. Mustarom

    Laporan Edisi 2 / Februari 2019

    ABOUT US

    Laporan ini merupakan sebuah publikasi dari Lembaga Kajian Syamina (LKS). LKS merupakan sebuah lembaga kajian independen yang bekerja dalam rangka membantu masyarakat untuk mencegah segala bentuk kezaliman. Publikasi ini didesain untuk dibaca oleh pengambil kebijakan dan dapat diakses oleh semua elemen masyarakat. Laporan yang terbit sejak tahun 2013 ini merupakan salah satu dari sekian banyak media yang mengajak segenap elemen umat untuk bekerja mencegah kezaliman. Media ini berusaha untuk menjadi corong kebenaran yang ditujukan kepada segenap lapisan dan tokoh masyarakat agar sadar realitas dan peduli terhadap hajat akan keadilan. Isinya mengemukakan gagasan ilmiah dan menitikberatkan pada metode analisis dengan uraian yang lugas dan tujuan yang legal. Pandangan yang tertuang dalam laporan ini merupakan pendapat yang diekspresikan oleh masing-masing penulis.

    Untuk komentar atau pertanyaan tentang publikasi kami,

    kirimkan e-mail ke:

    [email protected]

    Seluruh laporan kami bisa didownload di website:

    www.syamina.org

    SYAMINA

    PERANG KESABARAN DI AFGHANISTANKemenangan Imarah Islam Afghanistan atas Amerika

  • SYAMINA Edisi 2 / Februari 2019

    3

    DAFTAR ISI

    DAFTAR ISI — 3

    EXECUTIVE SUMMARY — 4

    Janji Allah atau Janji Amerika? — 6

    Jalan Buntu Amerika di Afghanistan — 8

    Kekalahan Amerika dalam Perang Propaganda — 14

    Biaya Mahal Perang Afghanistan — 15

    Perang Kesabaran — 18

    Kesimpulan — 20

  • SYAMINAEdisi 2 / Februari 2019

    4

    Kata-kata di atas terus menghantui Amerika. Dan kata-kata tersebut sangat mewakili bagaimana Amerika dan Taliban menyikapi perang di Afghanistan saat ini. Para pejuang Taliban sangat yakin bahwa Allah bersama mereka. Mereka menjalani perjuangan dengan penuh kesabaran. Waktu bersama mereka,

    detail-detail yang lain pun seolah tidak lagi relevan: sudah berapa lama perang

    berlangsung, kapan akan berakhir, bagaimana garis waktunya, beban ekonomi,

    keuangan, dan politik yang sehari-hari terus menguras tenaga dan pikiran pembuat

    kebijakan Amerika. Para pejuang Taliban tidak terlalu tertarik dengan angka dan

    statistik. Mereka hanya fokus pada kemenangan yang mereka yakini akan mereka

    capai.

    Taliban yakin, bahwa Amerika lah yang pertama kali akan keluar dari peperangan.

    “Ketika pasukan Amerika datang ke sini, mereka mulai menyalakan stopwatch.

    Menghitung setiap detik, menit, dan jam hingga mereka pulang kembali ke rumah,”

    tutur mantan menteri Imarah Islam Afghanistan.

    EXECUTIVE SUMMARY

    “Kalian memang punya jam tangan, tapi kami punya waktu. Batere jam kalian akan habis, namun waktu kami dalam perjuangan

    ini tidak akan pernah berakhir. Dan kami akan menang.”

    —Mujahid Rahman, Pejuang Imarah Afghanistan—

  • SYAMINA Edisi 2 / Februari 2019

    5

    Tidak seperti tentara Amerika, Taliban muda memiliki tidak terlalu rindu

    dengan kenyamanan hidup. "Pejuang muda kami memiliki kehidupan yang ideal

    hanya dengan sepeda motor, AK-47, RPG, rambut panjang, dan tujuan suci untuk

    diperjuangkan," katanya. "Mereka tidak memikirkan waktu dan konsekuensi, hanya

    perjuangan tanpa akhir untuk meraih kemenangan."

    Tujuh belas tahun sejak perang dideklarasikan, Amerika semakin kesulitan untuk

    menjalani perang di Afghanistan. Sumpah Bush untuk menumpas Taliban dan Al-

    Qaeda, misi utama saat mendeklarasikan Perang Global Melawan Teror, semakin

    jauh dari kenyataan. Hampir semua taktik dan strategi sudah pernah dicoba, mulai

    dari serangan masif bergelombang dengan ratusan ribu pasukan sekutu, hingga

    pendekatan lunak nation building. Dana yang sudah dikeluarkan juga tidak sedikit,

    hingga triliunan dollar. Belum lagi biaya psikologis dan beban para veteran.

    Harga dari invasi dan penjajahan tersebut adalah 50 jurnalis terbunuh, 400

    pekerja kemanusiaan terbunuh, 38.000 warga sipil Afghanistan terbunuh, 59.000

    pasukan Afghanistan terbunuh, 4.000 pasukan bayaran Amerika terbunuh, 2.400

    pasukan Amerika tewas, dan 20.000 pasukan Amerika terluka. Untuk inikah Amerika

    berperang?

    Triliunan dollar pajak rakyat Amerika dihabiskan untuk mengebom, merampas,

    dan menyiksa rakyat Afghanistan. Triliunan dollar lainnya harus dikeluarkan untuk

    merawat para vetaran yang terluka.

    Namun, para pakar di Amerika sendiri merasa mereka sedang menuju kekalahan,

    atau paling tidak masih sangat kesulitan untuk menang, melawan pejuang Imarah

    Islam Afghanistan. Dengan biaya yang begitu besar, baik dari segi ekonomi,

    psikologis, hingga jiwa manusia, mereka belum juga mampu membawa hasil yang

    diharapkan. Dalam perang generasi keempat, tidak menangnya pasukan yang jauh

    lebih kuat adalah sebuah kekalahan.

    Tak hanya itu, Afghanistan juga menunjukkan bagaimana Amerika kehilangan

    posisi moralnya di hadapan dunia. Anda tidak akan bisa menampilkan diri sebagai

    bangsa yang beradab disaat Anda menginvasi negara miskin, menculik rakyatnya,

    menyiksanya dalam sebuah kamp kematian, serta memanjakan bandit-bandit lokal.

    Kini, mereka harus memelas. Memohon pada Imarah Islam Afghanistan untuk

    bernegosiasi. Satu hal yang tidak pernah terbersit di benak Amerika Serikat saat

    mengawali serangan ke Afghanistan. Afghanistan, bumi yang selama ini menjadi

    kuburan para imperium, perlahan mengancam nasib Amerika. Kekhawatiran ini

    diungkapkan oleh mantan pejabat militer Amerika, Letkol Scott Mann, “Jika kita

    tidak membuat perubahan signifikan dari pendekatan yang dilakukan selama ini,

    Amerika kan menjadi batu nisan berikutnya dari kuburan imperium di Afghanistan.”

    Jadi, mengapa Amerika kalah di Afghanistan? Menurut Ted Ral, terlalu gampang

    menjawabnya: Afghanistan adalah kuburan imperium. Kekalahan Amerika sudah

    terjadi bahkan sebelum perang dimulai.

  • SYAMINAEdisi 2 / Februari 2019

    6

    PERANG KESABARAN DI AFGHANISTANKemenangan Imarah Islam Afghanistan atas Amerika

    Janji Allah atau Janji Amerika?

    “Allah menjanjikan kemenangan kepada kami, sedang Amerika menjanjikan

    kekalahan kami. Kita akan lihat, janji yang mana dari keduanya yang akan

    terpenuhi.”

    —Mullah Muhammad Umar—

    Sautu hari, di bulan september 2001, Mullah Muhammad Umar diwawancarai

    oleh Voice of America. Dalam wawancara tersebut, si jurnalis memberi tahu bahwa

    Amerika sudah mendeklarasikan perang melawan terorisme dan akan menyerang

    Afghanistan. Mendengar pertanyaan tersebut, ia menjawab,

    Saya mempertimbangkan dua janji. Yang satu adalah janji Allah, yang lain

    adalah janji Bush. Janji Allah adalah bahwa tanah saya sangat luas. Jika kita

    memulai perjalanan di jalan Allah, kita dapat tinggal di mana saja di bumi ini dan

    akan dilindungi ... Janji Bush adalah bahwa tidak ada tempat di bumi ini di mana

    kita dapat bersembunyi [dari Amerika]. Kita akan melihat, mana dari kedua janji

    yang akan terpenuhi.

    VOA: Tapi bukankah tidakkah khawatir dengan nasib rakyat Anda, diri Anda

    sendiri, Taliban, negara Anda?

  • SYAMINA Edisi 2 / Februari 2019

    7

    Mullah Umar: Allah Yang Mahakuasa ... membantu orang-orang beriman dan

    Muslim. Allah berkata Dia tidak akan pernah ridla dengan orang-orang kafir. Dalam hal

    urusan duniawi, Amerika sangat kuat. Namun, meski mereka dua kali lebih kuat atau

    dua kali lipat dari itu, semua itu tidak akan cukup kuat untuk mengalahkan kami. Kami

    yakin bahwa tidak ada yang dapat membahayakan kami jika Allah menyertai kami.

    VOA: Anda memberi tahu saya bahwa Anda tidak khawatir, tetapi orang Afghanistan

    di seluruh dunia khawatir.

    Mullah Umar: Kami juga prihatin. Masalah besar ada di depan. Tetapi kami

    bergantung pada rahmat Allah. Pertimbangkan sudut pandang kami: jika kita

    memberikan Usamah hari ini, Muslim yang sekarang memohon untuk melepaskannya

    akan mencerca kami karena melepaskannya ... Semua orang takut pada Amerika dan

    ingin menyenangkannya. Tetapi orang Amerika tidak akan dapat mencegah tindakan

    seperti yang baru saja terjadi karena Amerika telah mengambil Islam sebagai sandera.

    Jika Anda melihat negara-negara Islam, orang-orang putus asa. Mereka mengeluh

    bahwa Islam hilang. Tetapi orang-orang tetap teguh dalam keyakinan Islam mereka.

    Dalam rasa sakit dan frustrasi mereka, beberapa dari mereka melakukan tindakan

    bunuh diri. Mereka merasa tidak ada ruginya.

    VOA: Apa maksud Anda dengan mengatakan Amerika telah menyandera dunia

    Islam?

    Mullah Umar: Amerika mengendalikan pemerintah negara-negara Islam. Rakyat

    meminta untuk mengikuti Islam, tetapi pemerintah tidak mendengarkan karena

    mereka berada dalam cengkeraman Amerika Serikat. Jika seseorang mengikuti jalan

    Islam, pemerintah menangkapnya, menyiksanya atau membunuhnya. Inilah yang

    dilakukan Amerika. Jika [Amerika] berhenti mendukung pemerintah-pemerintah itu

    dan membiarkan rakyat berurusan dengan mereka, maka hal-hal seperti itu tidak akan

    terjadi. Amerika telah menciptakan kejahatan yang menyerangnya sendiri. Kejahatan

    tidak akan hilang bahkan jika saya mati dan Usamah mati dan yang lain mati. AS harus

    mundur dan meninjau kebijakannya. Ia harus berhenti berusaha untuk memaksakan

    imperiumnya di seluruh dunia, terutama di negara-negara Islam.

    VOA: Jadi Anda tidak akan menyerahkan Usamah bin Laden?

    Mullah Umar: Tidak. Kita tidak bisa melakukan itu. Jika kita melakukannya, itu

    berarti kami bukan Muslim ... bahwa Islam sudah selesai. Jika kami takut diserang,

    kami bisa menyerahkannya pada kali terakhir kami diancam dan diserang. Jadi, suatu

    saat, Amerika bisa memukul kami lagi, dan saat itu kami bahkan tidak punya teman.

    VOA: Jika Anda ingin melawan Amerika dengan sekuat tenaga, bisakah Taliban

    melakukan itu? Tidakkah Amerika akan mengalahkanmu dan tidakkah rakyatmu akan

    semakin menderita?

    Mullah Umar: Saya sangat yakin bahwa hasilnya bukan seperti itu. Harap perhatikan:

    tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain bergantung pada Allah yang Maha Kuasa. Jika

    seseorang melakukannya, maka ia yakin bahwa Yang Mahakuasa akan membantunya,

    merahmatinya dan ia akan berhasil.

  • SYAMINAEdisi 2 / Februari 2019

    8

    Wawancara tersebut kini seolah menjadi “ramalan” yang menjadi kenyataan.

    Sejak awal, Imarah Islam Afghanistan yakin bahwa mereka akan menang. Tujuh

    belas tahun sejak perang dideklarasikan, Amerika semakin kesulitan untuk menjalani

    perang di Afghanistan. Sumpah Bush untuk menumpas Taliban dan Al-Qaeda, misi

    utama saat mendeklarasikan Perang Global Melawan Teror, semakin jauh dari

    kenyataan. Amerika kalah, atau paling tidak masih sangat kesulitan untuk menang,

    melawan pejuang Imarah Islam Afghanistan. Dengan biaya yang begitu besar, baik

    dari segi ekonomi, psikologis, hingga jiwa manusia, mereka belum juga mampu

    membawa hasil yang diharapkan. Dalam perang generasi keempat, tidak menangnya

    pasukan yang jauh lebih kuat adalah sebuah kekalahan.

    Kini, mereka harus memelas. Memohon pada Imarah Islam Afghanistan1 untuk

    bernegosiasi. Satu hal yang tidak pernah terbersit di benak Amerika Serikat saat

    mengawali serangan ke Afghanistan. Afghanistan, bumi yang selama ini menjadi

    kuburan para imperium, perlahan mengancam nasib Amerika. Kekhawatiran ini

    diungkapkan oleh mantan pejabat militer Amerika, Letkol Scott Mann, “Jika kita tidak

    membuat perubahan signifikan dari pendekatan yang dilakukan selama ini, Amerika

    kan menjadi batu nisan berikutnya dari kuburan imperium di Afghanistan.”2

    Jalan Buntu Amerika di Afghanistan

    “Jadi, mengapa Amerika kalah di Afghanistan? Terlalu gampang menjawabnya:

    Afghanistan adalah kuburan bagi imperium.”

    —Ted Ral, Japantimes—

    Bicara Afghanistan, Amerika Serikat sudah mencoba segalanya untuk

    memenangkan peperangan. Hasilnya adalah: Tidak ada yang berhasil, begitu

    kesimpulan Bret Stephens dalam tulisannya di New York Times.3

    Amerika telah mencoba "jejak kaki ringan." Sejak tahun 2001 hingga 2007, jumlah

    pasukan AS bulanan tidak pernah melebihi 25.000.4

    Hasilnya: Taliban terbentuk kembali, kepemimpinan mereka aman di Pakistan,

    dan membuat terobosan ke lebih dari separuh Afghanistan.5

    Amerika telah mencoba jejak besar. Barack Obama mencalonkan diri sebagai

    presiden dengan menyebut Afghanistan sebagai "perang yang harus kita menangi."

    1 Pihak Taliban dalam beberapa pernyataannya menyebut diri mereka sebagai Imarah Islam Afghanistan dalam rilis pernyataan maupun dalam forum-forum internasional. Dalam artikel ini, keduanya digunakan.

    2 https://smallwarsjournal.com/jrnl/art/bypassing-the-graveyard-a-new-approach-to-stabilizing-afghanistan#_edn26

    3 https://www.nytimes.com/2017/08/24/opinion/on-afghanistan-theres-no-way-out.html4 https://www.militarytimes.com/news/your-military/2016/07/06/a-timeline-of-u-s-troop-levels-in-

    afghanistan-since-2001/5 https://www.theguardian.com/world/2007/nov/22/afghanistan.richardnortontaylor

  • SYAMINA Edisi 2 / Februari 2019

    9

    Setelah menjabat sebagai presiden, ia memerintahkan lonjakan jumlah tentara

    hingga mencapai angka 100.000, bersama dengan puluhan ribu pasukan NATO.6

    Hasilnya: Taliban sempat tersingkir dari banyak benteng mereka, yang diambil

    alih di bawah kendali pemerintah Kabul. Tetapi, karena gelombang serangan itu

    memiliki tenggat waktu yang telah ditentukan, Taliban tahu mereka bisa menunggu.

    "NATO memiliki semua arloji, tetapi kami memiliki semua waktu," tutur salah satu

    pejuang Taliban.

    Amerika telah mencoba program pembangunan bangsa (nation building).

    Setidaknya, hingga tahun 2014, Amerika Serikat telah menghabiskan dana $ 104

    miliar untuk bantuan dan rekonstruksi Afghanistan, sebagian besar diantaranya

    untuk keamanan. Hampir $ 30 miliar dialokasikan untuk "pemerintahan dan

    pengembangan".7

    Hasilnya: Pada 2015, tiga dari lima warga Afghanistan tetap buta huruf.8 Pasukan

    keamanan Afghanistan kehilangan 4.000 anggota per bulan, sebagian besar karena

    desersi.9 Negara ini berada di peringkat 169 dari 176 negara dalam Indeks Persepsi

    Korupsi versi Transparency International.

    Amerika sudah mencoba melakukan pembunuhan. Banyak sekali yang

    sudah dibunuh oleh Amerika di Afghanistan. Sebanyak 42.000 pejuang Imarah

    Islam Afghanistan dan gerilyawan lainnya tewas dan 19.000 lainnya cedera dalam

    pertempuran sejak 2001.10 Amerika Serikat juga telah melakukan lebih dari 400

    serangan pesawat tak berawak di Pakistan, bahkan membunuh Usamah bin Ladin.11

    Tahun 2016, sebuah serangan drone diluncurkan untuk membunuh pemimpin

    Imarah Islam Afghanistan, Mullah Akhtar Muhammad Mansour.

    Hasilnya: Jumlah pejuang Imarah Islam Afghanistan pada tahun 2005 diperkirakan

    antara 2.000 dan 10.000 pejuang.12 Dalam satu dekade berikutnya, jumlah itu telah

    berkembang menjadi sekitar 60.000 pejuang.13

    Amerika sudah mencoba taktik sticks and carrots terhadap Pakistan. Pada tahun

    2011, Washington memberikan bantuan $ 3,5 miliar kepada Islamabad.

    Hasilnya: pertengahan 2017, menteri pertahanan waktu itu, James Mattis,

    menahan $ 50 juta bantuan lainnya karena Departemen Pertahanan tidak dapat

    menyatakan bahwa Pakistan telah "mengambil tindakan yang cukup terhadap

    jaringan Haqqani," meskipun Islamabad mengklaim sebaliknya.14 Pengaruh Amerika

    6 http://www.nato.int/isaf/placemats_archive/2011-06-06-ISAF-Placemat.pdf7 http://watson.brown.edu/costsofwar/files/cow/imce/papers/2015/US%20Reconstruction%20Aid%20

    for%20Afghanistan.pdf8 http://data.worldbank.org/indicator/SE.ADT.LITR.ZS?locations=AF9 https://www.stripes.com/news/middle-east/tide-of-desertions-among-highest-in-recent-history-strains-

    afghan-forces-1.366071#.WZ3WtJOGNGN10 http://watson.brown.edu/costsofwar/files/cow/imce/papers/2015/War%20in%20Afghanistan%20and%20

    Pakistan%20UPDATE_FINAL.pdf11 https://www.nytimes.com/2015/04/25/world/asia/cia-qaeda-drone-strikes-warren-weinstein-giovanni-lo-

    porto-deaths.html?mcubz=3&_r=0&module=inline12 http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2005/06/21/AR2005062101728.html13 https://www.cfr.org/interactives/tal iban?cid=marketing_use-tal iban_infoguide-012115#!/

    taliban?cid=marketing_use-taliban_infoguide-01211514 http://www.cnn.com/2017/07/21/politics/us-withhold-funds-pakistan-haqqani-taliban/index.html

  • SYAMINAEdisi 2 / Februari 2019

    10

    di Pakistan semakin menurun karena investasi Cina di negara itu melonjak, mencapai

    $ 62 miliar di tahun 2017.

    Amerika sudah mencoba upaya diplomasi. Membawa Imarah Islam Afghanistan

    ke meja perundingan adalah salah satu ambisi utama John Kerry sebagai menteri

    luar negeri waktu itu. Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan pendahulunya, Hamid

    Karzai, keduanya menegaskan bahwa mereka ingin mengakomodasi Imarah Islam

    Afghanistan.

    Hasilnya: Imarah Islam Afghanistan meluncurkan serangan roket yang ditujukan

    pada Kerry selama kunjungannya ke negara itu tahun 2016.15 Mereka bersikukuh

    hanya akan berunding jika pasukan asing mau keluar dari Afghanistan.

    Lalu, bagaimana dengan dua opsi lain yang "belum dicoba"? Serangan

    bergelombang, dengan pasukan yang lebih besar dari apa yang sudah dilakukan

    Obama tetapi tidak dibatasi oleh tenggat waktu atau aturan keterlibatan yang

    membatasi; atau, sebagai alternatif, penarikan pasukan secara total?

    Tapi pilihan itu juga sudah pernah dicoba sebelumnya. Pasukan Soviet di

    Afghanistan pada 1980-an mempraktikkan pendekatan bumi hangus, termasuk

    penggunaan senjata kimia. Mereka mencurahkan daya dan upaya selama satu dekade,

    dan pada akhirnya kalah. Amerika juga pernah meninggalkan wilayah tersebut pada

    tahun 1990-an. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Taliban merebut Kabul pada

    tahun 1996; Usamah bin Laden kembali pada tahun yang sama. Pakistan dan India

    menguji senjata nuklir dua tahun kemudian.

    Kemudian datang 11 September 2001. Donald Trump mungkin berpikir dia

    sedang mencoba sesuatu yang baru dengan kebijakan Afghanistannya. Tapi

    sebenarnya bukan. Obama sudah membunuh banyak warga Afghanistan. George W.

    Bush mengupayakan pendekatan "berbasis kondisi", tanpa tanggal target penarikan.

    Keduanya sering bersikap tegas terhadap Pakistan. Keduanya melakukan tinjauan

    kebijakan intensif. Trump juga mungkin berpikir dia akan "menang" di Afghanistan.

    Tapi itu semua belum pernah terwujud, setidaknya hingga saat ini. Kesimpulannya,

    menurut Stephens, tidak ada jalan keluar bagi Amerika Serikat di Afghanistan.

    “Di Amerika, hampir semua orang ingin lepas tangan dari perang ini, terutama

    di Pentagon dan Gedung Putih,” kata Anthony Cordesman, pakar keamanan

    nasional Amerika yang cukup berpengaruh. “Mereka membiarkannya hilang dari

    pandangan.”16

    Seiring berlalunya waktu, sejarawan dan analis kebijakan luar negeri banyak yang

    membandingkan Afghainstan dengan Vietnam. Benjamin Hopkins, profesor di bidang

    internasional dan sejarah di Universitas George Washington, mengatakan bahwa

    para pembuat kebijakan terus terbayang-bayang dengan kekalahan memalukan di

    Vietnam saat mereka berusaha menyelesaikan konflik di Afghanistan.

    Dalam konteks ini, bagi Hopkins, tidak mengherankan jika pemerintah AS tidak

    terlalu terbuka tentang keadaan perang di Afghanistan. "Sejak awal pemerintahan

    15 http://www.cnn.com/2016/04/10/politics/kerry-afghanistan-taliban-rockets/index.html16 https://www.businessinsider.sg/the-us-is-losing-in-afghanistan-but-the-trump-admin-wont-admit-it-2018-

    9/?r=US&IR=T

  • SYAMINA Edisi 2 / Februari 2019

    11

    Obama, telah ada konsensus di antara pemerintah AS dan para politisi Amerika untuk

    mengecilkan perang ini," kata Hopkins. "Kapan terakhir kali Afghanistan menjadi

    headline? Padahal ia adalah perang terpanjang dan, dengan memperhitungkan

    inflasi, salah satu perang paling mahal dalam sejarah Amerika. Dan kita sedang

    menuju kekalahan, bahkan mungkin sudah kalah," tambah Hopkins.

    Selain Vietnam, perang Afghanistan merepresentasikan kegagalan terbesar

    dalam sejarah militer Amerika. Indikator paling signifikan bahwa perang Amerika di

    Afghanistan berujung pada kegagalan adalah keinginan mereka untuk secara terbuka

    bernegosiasi dengan musuhnya. Ingat, tujuan militer dari Operasi Kebebasan Abadi

    (Operation Enduring Freedom) adalah untuk menghancurkan Taliban dan mencegah

    Afghanistan sebagai tempat perlindungan teroris. Namun, kini Amerika justru

    berusaha mengakhiri perang dengan bernegosiasi dengan Taliban. Ini, menurut

    sejarawan Andrew J. Bacevich adalah pengakuan kegagalan secara de facto.

    Perang Amerika di Afghanistan bermula dari sebuah ilusi: bahwa sudah menjadi

    tugas Amerika untuk membebaskan dan mentransformasi negara tersebut. Namun,

    seiring dengan waktu, perang Amerika di Afghanistan berakhir dengan rasa malu,

    sebagaimana berakhirnya perang Vietnam.

    Harga dari invasi dan penjajahan tersebut adalah 50 jurnalis terbunuh, 400

    pekerja kemanusiaan terbunuh, 38.000 warga sipil Afghanistan terbunuh, 59.000

    pasukan Afghanistan terbunuh, 4.000 pasukan bayaran Amerika terbunuh, 2.400

    pasukan Amerika tewas, dan 20.000 pasukan Amerika terluka. Untuk inikah Amerika

    berperang?

    Triliunan dollar pajak rakyat Amerika dihabiskan untuk mengebom, merampas,

    dan menyiksa rakyat Afghanistan. Triliunan dollar lainnya harus dikeluarkan untuk

    merawat para vetaran yang terluka.

    Tak hanya itu, Afghanistan juga menunjukkan bagaimana Amerika kehilangan

    posisi moralnya di hadapan dunia. Anda tidak akan bisa menampilkan diri sebagai

    bangsa yang beradab disaat Anda menginvasi negara miskin, menculik rakyatnya,

    menyiksanya dalam sebuah kamp kematian, serta memanjakan bandit-bandit lokal.

    Haroun Mir menyimpulkan bahwa "rakyat Afghanistan telah kehilangan

    kepercayaan terhadap proses politik demokratis. Terlepas dari intimidasi Taliban,

    mereka sudah memboikot pendaftaran pemilih yang sedang berlangsung di seluruh

    negeri."17

    Proses "demokratis" macam apa yang ingin dibangun Amerika di sana? Penipuan

    menyebar luas dalam pemilihan presiden dan parlemen. “Semua orang curang di

    TPS saya. Hanya 10 persen yang memilih, tetapi mereka mendaftarkan partisipasi

    100 persen. Satu orang membawa lima buku surat suara, masing-masing berisi

    100 suara, dan memasukkannya ke dalam kotak setelah pemilihan berakhir, ”kata

    seorang pejabat pemilu Afghanistan pada 2009.18

    17 http://www.atimes.com/what-has-gone-wrong-in-afghanistan/'18 https://www.theguardian.com/world/2009/sep/18/afghanistan-election-fraud-evidence

  • SYAMINAEdisi 2 / Februari 2019

    12

    Jadi, mengapa Amerika kalah di Afghanistan? Menurut Ted Ral, terlalu gampang

    menjawabnya: Afghanistan adalah kuburan imperium. Kekalahan Amerika sudah

    terjadi bahkan sebelum perang dimulai, tambah Ted Ral.19

    Menduduki dan mengelola Afghanistan adalah tugas yang sangat sulit. Sangat

    sedikit sekali imperium yang berhasil melakukannya.

    Dalam tulisannya di the Atlantic, Peter Beinart menggambarkan perang

    yang dipimpin AS di sana sebagai hal yang sia-sia: Taliban tidak mungkin untuk

    menurunkan nilai tawar karena waktu berada di pihak mereka.20 Mereka hanya harus

    menunggu sampai Amerika Serikat memutuskan untuk pergi. Amerika Serikat sudah

    terlibat di Afghanistan selama hampir 17 tahun, menjadikannya sebagai konflik

    terpanjang dalam sejarah Amerika (kecuali Vietnam, tergantung pada bagaimana

    kita menafsirkan kronologi konflik tersebut). Meskipun telah menghabiskan lebih

    banyak waktu untuk Afghanistan daripada untuk membangun kembali Eropa setelah

    Perang Dunia II, tak banyak kemajuan yang telah dibuat.21

    Afghanistan adalah negara yang terkenal sulit untuk ditaklukkan. Imperium

    demi imperium, negara demi negara gagal menaklukkan apa yang sekarang menjadi

    wilayah modern Afghanistan. Membuatnya dijuluki "Kuburan Imperium," meskipun

    terkadang imperium-imperium tersebut memenangkan beberapa pertempuran awal

    dan membuat terobosan ke wilayah tersebut. Jika Amerika Serikat dan sekutunya

    memutuskan untuk meninggalkan Afghanistan, mereka hanya akan menjadi pengisi

    barisan selanjutnya dalam rangkaian panjang negara yang pernah melakukannya.

    Pertanyaannya, mengapa Afghanistan begitu sulit ditaklukkan oleh kekuatan

    superpower para imperium?

    Seperti yang dipelajari Inggris dalam perang pada tahun 1839-1842 di Afghanistan,

    sering kali lebih mudah berbisnis dengan penguasa lokal yang mendapat dukungan

    rakyat daripada mendukung pemimpin yang didukung oleh kekuatan asing; biaya

    untuk menopang pemimpin semacam itu pada akhirnya sangat besar. Dalam

    sejarah, imperium yang paling mendekati kemampuan untuk mengendalikan

    Afghanistan adalah Kesultanan Mughal. Mereka mengadopsi pendekatan ringan.

    Mereka melakukannya dengan mengendalikan wilayah tersebut secara longgar,

    dengan membujuk berbagai suku, atau memberi mereka otonomi. Upaya untuk

    melakukan kontrol terpusat, meskipun oleh pemerintah asli Afghanistan, sebagian

    besar berujung pada kegagalan.

    Pilalamari menyimpulkan ada beberapa faktor yang membuat Afghanistan

    sangat sulit ditaklukkan.22

    Pertama, karena Afghanistan terletak di jalur darat utama antara Iran, Asia

    Tengah, dan India, mereka telah berkali-kali diserbu dan dihuni oleh banyak suku.

    Banyak diantara mereka yang saling bermusuhan satu sama lain dan dengan pihak

    luar.

    19 https://www.japantimes.co.jp/opinion/2019/01/29/commentary/world-commentary/u-s-lost-afghanistan-war/

    20 https://www.theatlantic.com/international/archive/2017/05/trump-afghanistan-surge/526161/21 https://thediplomat.com/2014/08/why-the-us-spent-more-on-afghanistan-than-on-the-marshall-plan/22 https://thediplomat.com/2017/06/why-is-afghanistan-the-graveyard-of-empires/

  • SYAMINA Edisi 2 / Februari 2019

    13

    Kedua, karena frekuensi invasi dan prevalensi kesukuan di wilayah tersebut,

    situasinya mengarah ke situasi di mana hampir setiap desa atau rumah dibangun

    seperti benteng.

    Ketiga, medan di Afghanistan membuat penaklukan dan pemerintahan menjadi

    sangat sulit. Ditambah lagi dengan kecenderungan kesukuannya. Afghanistan

    didominasi oleh beberapa gunung tertinggi dan bergerigi di dunia.

    Gambar 1. Rangkaian pegunungan Hindu Kush yang membentang dari Afghanistan

    hingga bagian utara Pakistan

    Sebagaimana pengalaman yang didapatkan oleh Inggris dan Rusia, mungkin

    para penjajah bisa menguasai wilayah di Afghanistan untuk sementara waktu, dan

    mengalahkan orang-orang Afghanistan secara militer dalam pertempuran terbuka,

    namun hampir tidak mungkin untuk menguasai wilayah tersebut dalam waktu lama,

    ketika mereka dipenuhi dengan gerilyawan, suku, dan benteng yang secara konstan

    menekan kekuatan asing.

    Orang-orang Afghanistan dapat terus berjuang seumur hidup mereka, sebuah

    kemewahan yang tidak dimiliki pihak lain. Amerika Serikat harus belajar dari

    sejarah Afghanistan, dan memahami bahwa meningkatkan eskalasi perang tidak

    akan berdampak banyak pada hasilnya. Pillalamarri menyimpulkan, pendudukan

    permanen akan berdampak sangat buruk bagi Amerika. Mahal dan sangat berdarah.

    Satu-satunya cara yang tersisa, menurutnya, adalah dengan menerima Taliban,

    dengan imbalan stabilitas dan janji untuk tidak menjadi tuan rumah bagi organisasi

    teroris. Alternatifnya adalah perang yang tidak dapat dimenangkan dan tidak akan

    pernah berakhir.23

    23 idem

  • SYAMINAEdisi 2 / Februari 2019

    14

    Kekalahan Amerika dalam Perang Propaganda"Dalam sejarah, pemberontakan dimenangkan atau kalah dalam tiga tahun

    pertama. Tiga tahun pertama itu justru adalah saat-saat terburuk pesan budaya

    kita, karena kita sama sekali tidak memiliki pengetahuan budaya."

    —Thomas Johnson, Taliban Narratives—

    Perang 17 tahun Amerika di Afghanistan tidak akan pernah dimenangkan

    oleh para tentara yang meledakkan segalanya, tetapi dengan memenangkan

    pertempuran narasi, tulis Johnson, profesor di Naval Postgraduate School. Siapa pun

    yang memiliki narasi terbaik akan menang. Kampanye operasi informasi yang efektif

    dapat mendorong orang untuk menafsirkan suatu peristiwa dengan cara tertentu.

    Taliban mampu menggunakan syair untuk meyakinkan masyarakat Afghanistan

    bahwa AS dan sekutunya adalah para penjajah. Sebaliknya, Amerika tidak mampu

    meyakinkan rakyat Afghanistan kenapa pasukan asing diperlukan di sana.

    Narasi mereka sering berubah-ubah dan tidak sensitif dengan kultur masyarakat

    Afghanistan, tulis Thomas Johnson dalam bukunya Taliban Narratives: The Use and

    Power of Stories in the Afghanistan Conflict.

    Pada tahun 2009, Johnson berbicara di depan pimpinan militer Amerika. Ia

    meminta mereka menuliskan tiga tema yang bisa digunakan untuk meyakinkan

    rakyat Afghanistan bahwa Amerika Serikat bukanlah bangsa penjajah. Hasilnya?

    Satu ruangan terdiam. Dari situ Johnson menyimpulkan bahwa perang Afghanistan

    sudah berakhir dan Amerika kalah. “Kita kalah dalam perang narasi di Afghanistan,

    dan kita tidak bisa melakukan pemulihan.”24

    Kampanye propaganda berteknologi tinggi yang digunakan oleh AS kalah dalam

    perang demi hati dan pikiran melawan teknik-teknik Taliban yang lebih murah.

    “Saya pikir Taliban mampu mengontrol situasi... Saya pikir mereka telah menang,”

    sambung Johnson.25

    Menurut Johnson, ada dua faktor utama yang menyebabkan kekalahan

    propaganda Amerika.

    Pertama, AS tidak cukup tahu tentang Afghanistan sebelum melakukan invasi.

    AS hanya sedikit memiliki pakar tentang Afghanistan atau penutur bahasa lokal

    pada tahun 2001 dan sangat bergantung pada orang-orang Afghanistan yang sudah

    lama tidak berada di negara tersebut. "Dalam sejarah, pemberontakan dimenangkan

    atau kalah dalam tiga tahun pertama," kata Johnson. "Tiga tahun pertama itu justru

    adalah saat-saat terburuk pesan budaya kita, karena kita tidak memiliki pengetahuan

    budaya."

    Beberapa hari setelah 9/11, Johnson membantu merancang selebaran

    propaganda yang menjelaskan kepada warga Afghanistan mengapa tentara Amerika

    datang. Johnson, yang saat itu bekerja untuk Menteri Pertahanan, mengusulkan

    desain yang menyoroti kekerasan pemerintahan Taliban. Kemudian dia melihat

    produk akhir yang disampaikan oleh Pasukan Khusus Amerika: selebaran ditulis

    24 https://www.wbur.org/onpoint/2018/02/02/afghanistan-war-recover25 idem

  • SYAMINA Edisi 2 / Februari 2019

    15

    dalam bahasa yang salah. Mereka menggunakan bahasa Dari, meskipun semua

    orang di wilayah itu berbicara bahasa Pashto.

    Di antara 80 juta selebaran yang dijatuhkan di Afghanistan, bendera Afghanistan

    salah cetak, dengan memberinya garis-garis horizontal, bukannya garis-garis vertikal.

    Selebaran juga mempertontonkan wanita dengan wajah terbuka atau kata-kata dari

    Al-Quran yang ditempelkan pada seekor anjing, yang dianggap penistaan agama

    bagi kalangan warga Afghanistan. Sementara itu, Taliban mengulangi beberapa

    pesan sederhana, kata Johnson. Taliban menggunakan tema yang sama dengan

    yang digunakan ketika negara itu memerangi Rusia. Tema tentang kemerdekaan

    dari penjajah asing, pengabdian kepada Allah, negara dan keluarga dipercaya oleh

    kebanyakan orang Afghanistan, apa pun pandangan mereka tentang Taliban dan

    Amerika.

    Johnson menyimpulkan Taliban banyak menggunakan puisi dan nasyid.

    Afghanistan adalah negara yang mencintai puisi. Syair-syair Taliban—tentang

    burung bulbul yang berduka atas hilangnya kebun mereka dan sejenisnya-- bergaung

    di antara orang-orang Afghanistan pedesaan. Hasil yang sama gagal dicapai Amerika

    dengan propagandanya.

    Biaya Mahal Perang Afghanistan"Ia merasa Tuhan tidak akan memaafkannya... Ia merasa ia akan masuk neraka…

    Dia tidak bisa hidup dengan itu lagi.”

    —Ashley Hagemanns, Istri Veteran perang Amerika—

    Perang Afghanistan bukanlah perang yang murah bagi Amerika. Harga yang

    harus dibayar sangat mahal, baik dari sisi ekonomi maupun psikologis. Perang yang

    dimulai pada 2001 tersebut telah menelan biaya sebesar $ 1,07 triliun, menurut

    Kimberly Aamadeo dalam majalah the Balance. Dengan dalih perang melawan teror,

    Amerika meluncurkan serangan ke Afghanistan pada tahun 2001.26

    Perang panjang ini telah memasuki dekade kedua, dan Barat masih kesulitan

    mencari solusi. Kekuatan militer mereka yang dianggap superpower menemui jalan

    buntu.

    Harga dari perang ini telah memengaruhi semua orang; baik dari Amerika sebagi

    pihak yang melakukan penjajahan, maupun warga sipil tak berdosa di wilayah

    AfPak. Di internet, jika kita sedikit lebih rajin melakukan penjelajahan, kita akan

    mendengarkan suara rintihan dan jeritan keluarga yang terkena dampak. Kita juga

    mungkin bisa melihat aliran air mata dan darah yang mengalir keluar dari mata

    yang berlinangan air mata; Anda mungkin dapat merasakan kepedihan dan derita

    keluarga yang hancur oleh drone, yang menghantui seluruh masyarakat FATA

    dan Afghanistan, dengan dengungan suaranya yang telah menciptakan penyakit

    psikologis insomnia, khususnya anak-anak dan perempuan.

    26 https://www.thebalance.com/cost-of-afghanistan-war-timeline-economic-impact-4122493

  • SYAMINAEdisi 2 / Februari 2019

    16

    Jika kejadian yang sama terjadi di London dan Washington, mungkin hasilnya

    serupa. Biarkan seseorang menerbangkan drone yang jelek selama dua jam per

    malam, sambil memastikan bahwa drone ini tidak dipersenjatai. Biarkan orang-orang

    tersebut diberitahu bahwa drone tersebut bersenjata dan hanya akan menyerang

    teroris yang sembunyi di suatu tempat di kota-kota tersebut. Untuk menambah

    realita, mungkin bisa ditambah dengan simulasi suara serangan drone dua kali per

    malam.

    Pada akhir minggu pertama, mungkin lebih dari 70 persen penduduk kota London

    dan Washington akan bermigrasi ke kota-kota lain atau memblokir Trafalgar Square

    dan jalan-jalan di sekitar Capitol Hill untuk menuntut penggulingan pemerintah.

    Biaya Perang Panjang di wilayah AfPak tidak dapat diukur hanya dalam dolar dan

    rupee, tetapi bisa juga dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait: Apa dampak

    serangan pesawat tak berawak pada keterpaduan sistem keluarga di Afghanistan dan

    FATA, terutama bagi keluarga-keluarga yang penopang perekonomian keluarganya

    terbunuh? Apa dampak psikologis dari serangan pesawat tak berawak di desa

    tertentu, berapa banyak anak-anak dan perempuan menderita insomnia, gangguan

    stres dan kecemasan pasca-trauma?

    Biaya psikologis juga ditanggung oleh pasukan Amerika Serikat. Tentara AS

    menemukan mayat Staf Sersan Jared Hagemanns di area pelatihan Pangkalan

    Bersama Lewis McChord. Istri Jared Hagemanns, Ashley Hagemanns, mengatakan

    bahwa suaminya melakukan bunuh diri. Sebelumnya, ia sering menangis. Ashley

    mengatakan Jared mencoba memahami apa yang telah dilihatnya dan dilakukan

    pada saat penempatan di Irak dan Afghanistan. "Ia merasa Tuhan tidak akan

    memaafkannya... Ia merasa ia akan masuk neraka," kata Ashley. "Dia tidak bisa hidup

    dengan itu lagi.”

    Tentara AS dan veteran yang tewas karena bunuh diri lebih banyak daripada

    tewas karena perang selama sepuluh tahun terakhir. Degradasi psikologis para

    penjajah terlihat jelas dari blog para veteran dan prajurit Amerika.

    Sebuah video yang menayangkan mantan veteran tentara Inggris yang tidur di

    jalanan, menjadi viral. Ia dengan susah payah menjelaskan penderitaan hidupnya

    sebagai gelandangan. Ia mengatakan bahwa para prajurit dikirim ke medan perang

    untuk mati demi Ratu dan pemerintah Inggris, tetapi ketika mereka menjadi veteran,

    mereka ditinggalkan di jalan-jalan untuk tidur di jalan setapak, di tengah cuaca

    dingin.

    Kembali ke Kimberly Aamadeo, ia mengingatkan para pejabat di Gedung Putih,

    “Biaya sejati dari Perang Afghanistan sebenarnya lebih dari $ 1,07 triliun. Pertama,

    dan yang paling penting, adalah biaya yang ditanggung oleh 2.350 tentara AS yang

    tewas, 20.092 tentara yang menderita luka-luka, dan keluarga mereka yang harus

    hidup dengan konsekuensinya.27

    Lebih dari 320.000 tentara dari Afghanistan dan Irak mengalami cedera otak

    traumatis yang menyebabkan disorientasi dan kebingungan. Dari mereka, 8.237

    27 https://www.defense.gov/casualty.pdf

  • SYAMINA Edisi 2 / Februari 2019

    17

    menderita cedera otak parah atau invasif. Selain itu, 1.645 tentara kehilangan seluruh

    atau sebagian anggota badan. Lebih dari 138.000 memiliki kelainan stres pasca-

    trauma. Mereka mengalami kewaspadaan berlebih dan sulit tidur.28

    Rata-rata, 20 veteran bunuh diri setiap hari menurut sebuah studi Veterans

    Affairs (VA) pada tahun 2016.29 Veteran Irak dan Afghanistan Amerika menemukan

    bahwa 47 persen anggotanya mencoba bunuh diri setelah kembali dari tugas aktif.

    Kelompok itu menganggap bunuh diri di kalangan veteran sebagai masalah nomor

    satu.30

    Biaya pembayaran medis dan disabilitas veteran selama 40 tahun ke depan akan

    lebih dari $ 1 triliun. Menurut Linda Bilmes, seorang dosen senior di bidang keuangan

    publik di Harvard’s Kennedy School of Government. "Biaya merawat veteran perang

    biasanya memuncak pada 30 hingga 40 tahun atau lebih setelah konflik," kata Bilmes.31

    Rangkuman Biaya Perang Afghanistan (dalam Milyar Dollar)32

    Laporan Guardian pada September 2018 dengan judul, 'Keadaan darurat

    nasional: lonjakan angka bunuh diri di kalangan veteran muda AS' membenarkan

    28 https://fas.org/sgp/crs/natsec/RS22452.pdf29 https://www.va.gov/OPA/pressrel/includes/viewPDF.cfm30 https://www.washingtonpost.com/news/federal-eye/wp/2014/03/24/veterans-group-to-launch-suicide-

    prevention-campaign/?noredirect=on&utm_term=.455e8af65a7931 https://csbaonline.org/about/news/iraq-war-lives-on-as-second-costliest-u-s-conflict-fuels-debt32 idem

  • SYAMINAEdisi 2 / Februari 2019

    18

    angka yang diberikan oleh The Balance. Lebih dari 6.000 veteran bunuh diri setiap

    tahun sejak 2008, menurut data VA. Tidak kalah mengkhawatirkan, 30% dari semua

    veteran menganggap bunuh diri sebagai pilihan untuk mengatasi gangguan stres

    pascatrauma (PTSD) mereka.

    Biaya psikologis perang ini tidak dapat dihitung dengan model matematika.

    Namun, untuk melakukan analisis, ia membutuhkan hati manusia.

    Perang Kesabaran “Kalian memang punya jam tangan, tapi kami punya waktu. Batere jam kalian

    akan habis, namun waktu kami dalam perjuangan ini tidak akan pernah berakhir.

    Dan kami akan menang.”

    —Mujahid Rahman, Pejuang Imarah Afghanistan—

    Kata-kata di atas terus menghantui Amerika. Dan kata-kata tersebut sangat

    mewakili bagaimana Amerika dan Taliban menyikapi perang di Afghanistan saat ini.

    Para pejuang Taliban sangat yakin bahwa Allah bersama mereka. Mereka menjalani

    perjuangan dengan penuh kesabaran. Waktu bersama mereka, detail-detail yang lain

    pun seolah tidak lagi relevan: sudah berapa lama perang berlangsung, kapan akan

    berakhir, bagaimana garis waktunya, beban ekonomi, keuangan, dan politik yang

    sehari-hari terus menguras tenaga dan pikiran pembuat kebijakan Amerika. Para

    pejuang Taliban tidak terlalu tertarik dengan angka dan statistik. Mereka hanya fokus

    pada kemenangan yang mereka yakini akan mereka capai.

    Ketika Mullah Mohammed Omar dan para santri meluncurkan pertempuran

    mereka melawan para panglima perang di negara itu pada tahun 1994, mereka tidak

    menetapkan tanggal target untuk menguasai Kabul. Yang terjadi kemudian, hanya

    perlu dua tahun bagi mereka untuk menguasai ibu kota. Lima tahun kemudian,

    ketika Amerika menyerang, mereka tidak kalah terkejut dengan seberapa cepat

    Imarah Islam mereka runtuh. Tetapi mereka mulai membangun kembali gerakan

    mereka yang hancur, masih tanpa kerangka waktu yang ditentukan. "Kami tidak

    pernah memiliki kalender, jam tangan, atau kalkulator seperti yang dilakukan orang

    Amerika," kata seorang mantan menteri Imarah Islam Afghanistan "Dari sudut

    pandang Taliban, waktu bahkan belum dimulai."33

    Taliban yakin, bahwa Amerika lah yang pertama kali akan keluar dari peperangan.

    “Ketika pasukan Amerika datang ke sini, mereka mulai menyalakan stopwatch.

    Menghitung setiap detik, menit, dan jam hingga mereka pulang kembali ke rumah,”

    tutur mantan menteri tersebut.

    Tidak seperti tentara Amerika, Taliban muda memiliki tidak terlalu rindu dengan

    kenyamanan hidup. "Pejuang muda kami memiliki kehidupan yang ideal dengan

    sepeda motor, AK-47, RPG, rambut panjang, dan tujuan suci untuk diperjuangkan,"

    katanya. "Mereka tidak memikirkan waktu dan konsekuensi, hanya perjuangan

    tanpa akhir untuk meraih kemenangan." Dia mengatakan bahwa kalaupun para

    33 https://www.newsweek.com/10-years-afghan-war-how-taliban-go-68223

  • SYAMINA Edisi 2 / Februari 2019

    19

    pejuang muda mengukur waktu, itu hanya berdasarkan panjang rambut mereka:

    "Dibutuhkan sekitar satu tahun bagi rambut mereka untuk tumbuh hingga setengah

    meter."

    Gambar 2. Sepeda motor dan AK47 cukup menjadi kenyamanan hidup bagi

    pemuda Taliban

    Para pejuang yang tak henti-hentinya membanggakan tentang daya tahan

    mereka mungkin terdengar seperti propaganda, tetapi jika dilihat dari poin tersebut,

    para pejuang memiliki jawaban yang meyakinkan: terlepas dari semua kematian dan

    cedera, panjangnya penjara, kurangnya dana, makanan, dan perawatan medis, dan

    jauhnya mereka dari orang yang mereka cintai, relatif sedikit pasukan Taliban yang

    pernah membelot.

    Tidak ada satu pun komandan senior yang beralih pihak atau menyerah

    dalam pertempuran, dan hanya beberapa pejuang tingkat rendah yang bergabung

    dengan program amnesti dan reintegrasi pemerintah Kabul. "Jika Taliban khawatir

    tentang panjangnya perang dan berapa lama lagi mereka bisa berkorban, akan ada

    pembelotan besar," kata mantan menteri tersebut. “Itu belum terjadi. Dan kami

    masih mendapatkan semua rekrutan baru yang kami butuhkan.”

    Kekejaman Amerika dengan berbagai serangan drone yang tidak

    bertanggungjawab menjadikan para pemuda banyak yang bergabung dengan

    Taliban. Sebagian besar dari mereka tidak tahu apa-apa tentang sejarah terkini dan

    tidak tertarik pada masa lalu atau masa depan. "Enam puluh persen pejuang kami

    terlalu muda untuk mengingat 11 September atau keruntuhan Taliban," kata seorang

    pejabat senior Taliban yang dikenal sebagai Zabibullah.

    "Mereka hanya tahu bahwa ada penjajah dan boneka mereka yang menduduki

    tanah kami, dan bahwa mereka harus dikalahkan tidak peduli berapa lama waktu

    yang diperlukan." Sikap itulah yang membuat pemberontakan terus berjalan.

    Ia menambahkan: jika Taliban khawatir tentang berapa lama perjuangan akan

    berlangsung dan betapa jauhnya perbandingan kekuatan persenjataan dengan

  • SYAMINAEdisi 2 / Februari 2019

    20

    musuh mereka, pemberontakan akan runtuh beberapa tahun yang lalu. "AS tidak

    pernah percaya kita mampu bertahan lama melawan B-52, drone, serangan

    komando SEAL, dan pasokan dolar yang tak berkesudahan yang diarahkan kepada

    kami oleh negara terkaya di muka bumi," katanya. "Jika kami memikirkan peluang

    dan kerangka waktu, kami akan selesai."

    Cerita lain muncul dari Jabar, pejuang Taliban berusia 26 tahun yang tinggal di

    desa dekat perbatasan Pakistan, di mana ia dirawat karena migrain dan tangan kiri

    yang lumpuh sebagian. Ia sudah kehilangan tiga jarinya. Namun, semua itu tidak

    menghentikannya, bersama dengan tujuh temannya, terlibat dalam baku tembak

    dengan pasukan AS dan Afghanistan. "Hanya Allah yang tahu berapa kali kami telah

    menyergap dan menyerang musuh selama beberapa tahun terakhir," katanya. "Saya

    hanya bisa mengingat selusin dari mereka." Dia bergabung dengan Taliban segera

    setelah janggutnya tumbuh. Ia ingat, hadir sebagai rekrutan baru di sebuah pidato

    yang dilakukan oleh komandan senior Mullah Dadullah Akhund, tak lama sebelum

    beliau terbunuh pada tahun 2007. "Tidak ada batasan waktu untuk memenangkan

    perang ini," kata Dadullah, yang kehilangan kaki kirinya melawan Soviet pada 1980-

    an.

    Jabar mengatakan, dia belum melihat istri dan tiga anaknya, sejak setahun

    yang lalu. Saat itu, Marinir AS mengusirnya, bersama teman-temannya, keluar dari

    Marja, distrik asalnya. Kadang-kadang dia menelepon ke rumah, tetapi dia tahu

    dia mengambil risiko: panggilan itu mungkin akan membuat posisinya diketahui

    dan memicu serangan drone. Saat menelepon putra sulungnya, Jabar mengatakan

    bahwa jika ia gugur dalam pertempuran ia berharap bocah itu akan tumbuh

    untuk menggantikan posisinya di jajaran Taliban. "Aku yakin kami masih akan

    tetap bertarung ketika putraku tumbuh dewasa," kata Jabar. "Dia akan bangga

    menggantikan tempatku."

    KesimpulanSejarah memberikan bayangan panjang pada mereka yang tidak menghargai

    sejarah Afghanistan dan nilai-nilai rakyatnya yang kokoh. Kuburan imperium itu

    berjalan jauh dan dalam, yang berasal dari nilai-nilai kemuliaan yang mereka miliki.

    Bangsa yang tidak mau ditindas, merdeka dan tidak terlalu rindu dengan kenyamanan

    hidup.

    Dalam sebuah perang panjang, bukan persenjataan dan kecanggihan teknologi

    yang menentukan. Bukan jam yang suatu saat kehabisan batere, tapi kesabaran

    menjalani waktu hingga tercapai tujuan. Dan inilah yang dimiliki Imarah Islam

    Afghanistan, dan tidak dimiliki oleh Amerika Serikat. Bahkan bagi mereka, waktu

    belum dimulai.

    Mereka adalah bangsa yang rela menghabiskan umurnya dalam perjuangan.

    Demi tercapainya tujuan mereka, tegaknya hukum Allah di muka bumi.

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended