Home >Documents >PERAN TRANSFORMASI BUDAYA SEKOLAH TERHADAP...

PERAN TRANSFORMASI BUDAYA SEKOLAH TERHADAP...

Date post:01-Feb-2018
Category:
View:229 times
Download:2 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • PERAN TRANSFORMASI BUDAYA SEKOLAH

    TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA

    SMP (TAMAN DEWASA) TAMANSISWA BEKASI

    Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk

    Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

    Oleh:

    PUSPA TRESNA HANA YUGA

    1111018200008

    JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN

    FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2017

  • i

    ABSTRAK

    Puspa Tresna Hana Yuga. NIM 1111018200008. Peran Transformasi Budaya

    Sekolah Terhadap Aktivitas Belajar Siswa SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa

    Bekasi. Skripsi Program Strata Satu (S-1), Jurusan Manajemen Pendidikan,

    Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah Jakarta 2017.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan peran

    transformasi budaya sekolah terhadap aktivitas belajar siswa SMP (Taman

    Dewasa) Tamansiswa Bekasi. Adapun metode yang digunakan adalah metode

    deskriptif kuantitatif dalam bentuk survei terbatas. Teknik pengumpulan data yang

    digunakan meliputi teknik angket dengan menggunakan skala likert untuk siswa

    dengan 5 alternatif jawaban dan sebagai data pembanding menggunakan studi

    dokumen seperti tata tertib sekolah, point pelanggaran dan data point penghargaan

    yang berlaku disekolah, serta menggunakan wawancara, dengan mewawancarai 1

    kepada kepala sekolah, 2 pamong (guru) pelajaran. Yang menjadi sampel dalam

    penelitian ini adalah populasi terjangkau, yaitu seluruh siswa kelas VIII yang

    berjumlah 66 orang. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini bahwa Peran

    Transformasi Budaya Sekolah Terhadap Aktivitas Belajar Siswa di SMP (Taman

    Dewasa) Tamansiswa Bekasi terlaksana dengan baik dengan memperoleh nilai

    persentase 77%.

    Rekomendasi yang dapat diberikan agar transformasi budaya sekolah

    terhadap aktivitas belajar siswa dapat berjalan maksimal: Pertama, kepala sekolah

    lebih optimal dalam memotivasi siswa. Kedua, guru bidang studi harus lebih

    kreatif dan inovatif. Ketiga, pelatih/pembina ekskul harus bisa maksimal dalam

    mengasah minat dan bakat peserta didik. Keempat, perbaikan dalam pelaksanaan

    program-program sekolah yang harus konsisten.

    Kata Kunci: Transformasi, Budaya Sekolah, Aktivitas Belajar

  • ii

    ABSTRACT

    Puspa Tresna Hana Yuga. NIM 1111018200008. Peran Transformasi Budaya

    Sekolah Terhadap Aktivitas Belajar Siswa SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa

    Bekasi. Skripsi Program Strata Satu (S-1), Jurusan Manajemen Pendidikan,

    Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah Jakarta 2017.

    This study aims to determine and describe the role of a cultural

    transformation of the schools to junior high school students learning activities

    (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi. The method used is descriptive quantitative

    method in the form of a limited survey. Data collection techniques used include

    engineering questionnaire using Likert scale for students with five alternative

    answers and as comparative data using the study documents such as school rules,

    point violations and data points awards that apply in school, as well as the use of

    interviews, interviewing 1 to the principal , two officials (teachers) lessons. The

    sample in this study is the population of affordable, that all students in grade VIII

    totaling 66 people. The results found in this study that the Role of Cultural

    Transformation Against School Activities Student Learning at SMP (Taman

    Dewasa) Tamansiswa Bekasi done well to obtain a percentage value of 77%.

    Recommendations can be given that the transformation of school culture on

    student learning activities can run up: First, the principal is more optimal in

    motivating students. Second, the subject teachers to be more creative and

    innovative. Third, trainers / coaches ekskul should be maximum in honing

    students' interests and talents. Fourth, improvements in the implementation of

    school programs that have to be consistent.

    Keywords: Transforming, School Culture, Learning Activities

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat,

    anugerah dankarunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-

    baiknya. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa kemampuan dan pengetahuan

    penulis sangat terbatas, namun dengan adanya bimbingan dan arahan serta

    motivasi dari berbagai pihak, sangat membantu penulis dalam menyelesaikan

    skripsi ini. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati, dalam kesempatan ini melalui

    skripsi penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada :

    1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

    Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    2. Dr. Hasyim Asyari, M.Pd. Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan, Fakultas

    Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

    Jakarta.

    3. Drs. Rusydy Zakaria, M.Ed, M.Phil, Dosen pembimbing I yang selalu

    meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, nasehat,

    motivasi, ilmu, kritik serta saran yang sangat berarti bagi penulis sehingga

    skripsi ini bisa terselesaikan dengan baik.

    4. Dr. Fathi Ismail, MM, Dosen pembimbing II yang selalu meluangkan

    waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan, nasehat, motivasi, ilmu,

    kritik serta saran yang sangat berarti bagi penulis sehingga skripsi ini bisa

    terselesaikan dengan baik.

    5. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan khususnya jurusan

    Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas

    Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

    6. Majelis Cabang Perguruan Tamansiswa Bekasi yang dengan ramah telah

    menerima dan membantu penulis dalam melakukan penelitian.

    7. Ki Setiyaka, S.Ag. Kepala Sekolah SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa

    Bekasi yang dengan ramah telah menerima dan membantu penulis dalam

    melakukan penelitian.

  • iv

    8. Nyi Dra. Dendang Hernawati, Nyi Dra. Euis Setiawati, dan Ki Wana Sapto

    Ajie, S.Pd. Pamong SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi yang dengan

    ramah telah membantu penulis dalam melakukan penelitian.

    9. Seluruh siswa/i SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi yang telah

    bersedia memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan.

    10. Papah dan mamah (Una Ranuwijaya dan Isur Suryani). Orang tua tercinta

    yang telah memberikan motivasi baik moril dan materil serta selalu

    mendoakan penulis dalam penyusunan skripsi ini.

    11. Kakak-kakakku, Andhika Ranja Sena, S.Kom; Pinuji Prawita Dikjaya, S.Pd;

    Yuyun Gumilar, A.Md dan Nur Habzah, S.I. yang selalu memberikan support

    sehingga terselesaikannya skripsi ini.

    12. Sahabat-sahabatku, Fajrin Kurniawan, S.E; Anis Novi Setia Dewi; Anna

    Rahmawati; Ari Handiningsih, S.Pd; Bahrul Alam, S.Pd; Dede Syukrillah

    Rifai, S.Pd; Gilang Putra Prasetyo, S.Pd; Madyana Nur Azizah, S.Pd; Sastria

    Dewantara Putra, S.Pd; Affan Setiadi, S.Pd. dan Rekan-rekan Manajemen

    Pendidikan 2011 yang telah membantu dan memotivasi dalam pembuatan

    skripsi ini.

    Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan

    masih banyak kekurangan baik dari segi penyajian, pengkajian materi, bahasa

    maupun tata cara penulisan, karenanya penulis dengan lapang hati menanti kritik

    dan saran yang membangun dari semua pihak sehingga dapat menjadi lebih baik

    lagi.

    Jakarta, 13 Oktober 2016

    Penulis

  • v

    DAFTAR ISI

    ABSTRAK.............................................................................................................

    ABSTRACT..........................................................................................................

    KATA PENGANTAR..........................................................................................

    DAFTAR ISI.........................................................................................................

    DAFTAR TABEL.................................................................................................

    DAFTAR GAMBAR............................................................................................

    DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................

    i

    ii

    iii

    v

    vii

    ix

    x

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah.........................................................................

    B. Identifikasi Masalah.................................................................................

    C. Batasan Masalah......................................................................................

    D. Rumusan Masalah....................................................................................

    E. Tujuan dan Manfaat Penelitian..............................................................

    1

    4

    4

    4

    5

    BAB II KAJIAN TEORI

    A. Transformasi.............................................................................................

    1. Pengertian Transformasi......................................................................

    2. Tujuan Transformasi...........................................................................

    3. Ruang Lingkup Transformasi..............................................................

    B. Budaya Sekolah........................................................................................

    1. Pengertian Budaya Sekolah.................................................................

    2. Tujuan dan Manfaat Budaya Sekolah.................................................

    3. Proses Pembentukkan dan Pengembangan Budaya Sekolah..............

    4. Jenis-jenis Budaya Sekolah.................................................................

    5. Bentuk-bentuk Budaya Sekolah..........................................................

    6

    6

    7

    8

    9

    9

    11

    13

    15

    15

    C. Aktivitas Belajar.......................................................................................

    1. Pengertian Aktivitas Belajar................................................................

    2. Prinsip-prinsip Belajar.........................................................................

    3. Tujuan dan Manfaat Belajar................................................................

    4. Bentuk-bentuk Belajar.........................................................................

    17

    17

    20

    22

    24

  • vi

    D. Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Aktivitas Belajar.......................

    E. Penelitian Relevan...................................................................................

    F. Kerangka Berpikir...................................................................................

    G. Hipotesis Penelitian..................................................................................

    25

    27

    28

    30

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN

    A. Tempat dan Waktu Penelitian................................................................

    B. Metode Penelitian.....................................................................................

    C. Populasi dan Sampel................................................................................

    D. Teknik Pengumpulan Data......................................................................

    E. Teknik Pengolahan Data .........................................................................

    F. Teknik Analisis Data ...............................................................................

    G. Uji Hipotesis..............................................................................................

    H. Instrumen Penelitian................................................................................

    31

    31

    31

    32

    34

    36

    39

    39

    BAB IV HASIL PENELITIAN

    A. Gambaran Umum....................................................................................

    1. Sejarah Singkat SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi.............

    2. Visi, Misi, Strategi, dan Motto SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa

    Bekasi..................................................................................................

    3. Profil SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi..............................

    4. Struktur SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi..........................

    5. Tenaga Pendidik..................................................................................

    6. Tata Tertib SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi.....................

    7. Sarana dan Prasarana...............................................................................

    B. Deskripsi dan Interprestasi Data...........................................................

    C. Pengujian Hipotesis..................................................................................

    43

    43

    43

    46

    47

    47

    48

    49

    49

    94

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan...............................................................................................

    B. Saran..........................................................................................................

    97

    97

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • vii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1

    Tabel 3.2

    Tabel 3.3

    Tabel 3.4

    Tabel 3.5

    Tabel 4.1

    Tabel 4.2

    Tabel 4.3

    Tabel 4.4

    Tabel 4.5

    Tabel 4.6

    Tabel 4.7

    Tabel 4.8

    Tabel 4.9

    Tabel 4.10

    Tabel 4.11

    Tabel 4.12

    Tabel 4.13

    Tabel 4.14

    Tabel 4.15

    Tabel 4.16

    Tabel 4.17

    Tabel 4.18

    Tabel 4.19

    Tabel 4.20

    Tabel 4.21

    Jumlah Peserta Didik SMP Tamansiswa Bekasi 2015-2016.......

    Skala Penilaian.............................................................................

    Katagori Interpretasi....................................................................

    Kisi-kisi Instrumen Penelitian Angket.........................................

    Kisi-kisi Wawancara....................................................................

    Jumlah Guru.................................................................................

    Peran kepala sekolah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa...

    Peran pamong (guru) dalam mengembangkan kepekaan sosial..

    Peran Kepala sekolah membentuk pribadi siswa yang berbudi

    pekerti...........................................................................................

    Interpretasi Data Transformasi.....................................................

    Alasan bersekolah di SMP Tamansiswa Bekasi..........................

    Kepala sekolah menunjukkan perilaku disiplin waktu................

    Peran kepala sekolah menumbuhkan perilaku disiplin................

    Peran kepala sekolah dalam mengingatkan sikap sopan santun..

    Mensosialisasikan tata tertib sekolah...........................................

    Disiplin mematuhi tata tertib pemakaian seragam sekolah..........

    Disiplin kehadiran siswa..............................................................

    Disiplin waktu..............................................................................

    Peran polisi siswa terhadap kedisiplinan dan ketertiban..............

    Minat siswa mengunjungi perpustakaan sekolah rendah.............

    Minat membaca buku siswa rendah.............................................

    Kelas jurnalistik untuk menyalurkan bakat dan minat menulis

    siswa.............................................................................................

    GKS sebagai wadah kreatifitas siswa..........................................

    Peran sekolah dalam mengembangkan bakat minat dan

    keterampilan siswa.......................................................................

    Kesiapan siswa dalam menghadapi kesulitan belajar..................

    Kegiatan untuk mendorong siswa dalam berkompetisi...............

    32

    35

    38

    40

    42

    47

    50

    51

    52

    53

    56

    56

    57

    58

    59

    60

    61

    62

    63

    64

    65

    65

    66

    67

    68

    69

  • viii

    Tabel 4.22

    Tabel 4.23

    Tabel 4.24

    Tabel 4.25

    Tabel 4.26

    Tabel 4.27

    Tabel 4.28

    Tabel 4.29

    Tabel 4.30

    Tabel 4.31

    Tabel 4.32

    Tabel 4.33

    Tabel 4.34

    Tabel 4.35

    Tabel 4.36

    Tabel 4.37

    Tabel 4.38

    Tabel 4.39

    Tabel 4.40

    Tabel 4.41

    Tabel 4.42

    Tabel 4.43

    Kerja keras siswa dalam belajar...................................................

    Sikap cerdas dalam belajar...........................................................

    Sikap Ikhlas..................................................................................

    Memberi penghargaan terhadap siswa.........................................

    Memberi teguran terhadap siswa.................................................

    Kejujuran siswa dalam belajar.....................................................

    Interpretasi Data Budaya Sekolah................................................

    Peran kepala sekolah dalam mendukung kegiatan siswa.............

    Peran kepala sekolah dan pamong dalam memotivasi siswa.......

    Keterlibatan siswa saat pelajaran berlangsung.............................

    Rendahnya minat siswa mengikuti GKS.....................................

    Penerimaan siswa terhadap metode belajar yang variatif............

    Sikap siswa dalam menghadapi kesulitan belajar........................

    Tanggung jawab siswa mengerjakan pekerjaan rumah................

    Disiplin belajar siswa di rumah....................................................

    Kewajiban siswa hadir tepat waktu..............................................

    Kewajiban siswa mentaati peraturan tata tertib belajar...............

    Pamong (guru) melakukan kegiatan mental.................................

    Kesiapan siswa menghadapi test yang diberikan pamong...........

    Kewajiban pamong (guru) mengajar dengan kreatif ...................

    Interpretasi Data Aktifitas Belajar...............................................

    Interpretasi Data Peran Transformasi Budaya Sekolah

    Terhadap Aktivitas Belajar di SMP (Taman Dewasa)

    Tamansiswa Bekasi......................................................................

    70

    71

    72

    73

    74

    75

    76

    81

    82

    83

    83

    84

    85

    86

    87

    88

    89

    89

    90

    91

    92

    94

  • ix

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1

    Gambar 2.2

    Gambar 4.1

    Model dalam Membangun Budaya Sekolah................................

    Kerangka Berpikir........................................................................

    Struktur SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi...................

    14

    30

    47

  • x

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran.1

    Lampiran.2

    Lampiran.3

    Lampiran.4

    Lampiran.5

    Lampiran.6

    Lampiran.7

    Lampiran.8

    Lampiran.9

    Lampiran.10

    Lampiran.11

    Lampiran.12

    Lampiran.13

    Lampiran.14

    Lampiran.15

    Pedoman Angket......................................................................

    Data Hasil Angket....................................................................

    Uji Validitas dan Reliabilitas....................................................

    Rangkuman Data Peran Transformasi Budaya Sekolah

    Terhadap Aktivitas Belar Siswa.................................................

    Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa di Kelas................

    Hasil Wawancara......................................................................

    Profil SMP Tamansiswa Bekasi...............................................

    Prestasi Non-Akademik Siswa SMP Tamansiswa Bekasi........

    Peraturan Tata Tertib Siswa SMP Tamansiswa Bekasi............

    Tata Tertib Pembiasaan Siswa di Kelas....................................

    Tindakan dan Sanksi Pelanggran Tata Tertib Siswa SMP

    Tamansiswa Bekasi...................................................................

    Tata Tertib Guru/Pamong SMP Tamansiswa Bekasi................

    Peraturan Penghargaan Terhadap Siswa Berprestasi................

    Peraturan Penghargaan Terhadap Pengabdian Guru

    Berprestasi................................................................................

    Dokumentasi.............................................................................

    1

    5

    8

    11

    13

    14

    25

    28

    29

    31

    32

    34

    36

    37

    38

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Pendidikan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup manusia.

    Melalui pendidikan manusia akan memperoleh ilmu yang mampu

    menentukan perilaku dalam kehidupannya yang akan diwariskan

    kegenerasi berikutnya melalui proses belajar. Tapi yang terjadi pendidikan

    Indonesia saat ini memiliki suatu masalah yang serius, yaitu rendahnya

    mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Banyak pihak

    yang berpendapat bahwa rendahnya mutu pendidikan merupakan salah

    satu faktor yang menghambat penyediaan sumber daya manusia yang

    memiliki keahlian, keterampilan dan budi pekerti. Ini terbukti dengan

    semakin tingginya krisis moral dikalangan siswa dan masyarakat. Oleh

    karena itu salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan

    menanamkan budi pekerti. Budi pekerti sangat perlu untuk ditanamkan

    kembali pada dunia pendidikan, ini sesuai dengan pernyataan yang

    dikemukakan oleh Trias Kuncahyo dalam Tribun News, menurutnya:

    Pendidikan budi pekerti sangat mendesak untuk ditanamkan kembali

    pada dunia pendidikan. Kita semua bertanggung jawab atas masa depan

    Indonesia yang bermartabat, berbudaya dan sekaligus berakhlak.

    Mengembalikan pendidikan budi pekerti ke sekolah setidaknya akan

    menjamin Indonesia dengan masa depan yang lebih baik. Tidak adanya

    budi pekerti dalam tata pergaulan atau tata komunikasi menjadikan para

    mahasiswa menjadi pemimpin yang tidak profesional, haus kekuasaan

    dan tidak memiliki hati.1

    Oleh karena itu perlu adanya penanaman kembali budi pekerti sebagai

    upaya peningkatan mutu pendidikan agar terjadinya peningkatan kualitas

    manusia Indonesia secara menyeluruh.

    Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek yang sangat

    berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni proses belajar mengajar,

    1Trias Kuncahyo, Mendesak, Pendidikan Budi Pekerti Dikembalikan ke Kurikulum Pendidikan Sekolah, Tribun News, Jakarta, 2015. (http://tribunnews.com)

  • 2

    kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah.2 Oleh sebab

    itu, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya didukung oleh

    sarana prasarana, guru berkualitas dan input siswa yang baik, tetapi juga

    budaya sekolah. Budaya sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah,

    kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri dan

    profesional.3 Karena pada prinsipmya budaya sekolah yang efektif akan

    memberikan efek positif bagi semua unsur dalam sekolah.

    Budaya sekolah merupakan jiwa sebuah sekolah yang memberikan

    makna dan mempengaruhi kegiatan kependidikan sekolah tersebut.

    menurut Depdikbud, secara eksplisit faktor-faktor yang mempengaruhi

    keberhasilan proses pembelajaran di dalam kelas antara lain adalah

    kompetensi guru, metode pembelajaran yang dipakai, kurikulum, sarana

    dan prasarana, serta lingkungan pembelajaran baik lingkungan alam,

    psikososial dan budaya.4 Ini dapat dipahami bahwa budaya sekolah

    berpengaruh baik langsung ataupun tidak terhadap proses kegiatan

    pembelajaran yang dilakukan siswa.

    Budaya sekolah memerlukan perubahan perilaku individu. Prilaku

    individu siswa yang sangat bergantung dengan perilaku yang diperlihatkan

    oleh orang-orang di sekitarnya terutama pemimpin sekolah. Dalam hal ini

    bisa perilaku kepala sekolah dalam memperlakukan para siswa dan

    melaksanakan kegiatan pembelajaran. Sebagai pemimpin, selain membuat

    perencanaan, pengorganisasian, pengesahan dan pengawasan. Kepala

    sekolah memegang peranan sebagai penggerak dinamika sekolah yang

    dipimpinnya dan memajukan bertumbuhnya budi pekerti. Untuk mencapai

    hal ini Tamansiswa menggunakan sitem pendidikan yang dinamakan

    sistem among dengan berpedoman pada patrap triloka, serta tetap

    2 Suprapto. dkk,. Budaya Sekolah dan Mutu Pendidikan: Pengaruh Budaya Sekolah dan

    Motivasi Belajar Terhadap Mutu Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Pena Citasatria, 2008), h. 17.

    3 Daryanto dan Hery Tarno, Pengelolaan Budaya dan Iklim Sekolah, (Yogyakarta: Gava Media,

    2015), h.7.

    4 Ibid., h. 26.

  • 3

    mempertahankan kurikulumnya yang lebih menekankan aspek mendidik

    siswa agar memiliki budi pekerti luhur.

    Untuk menjadikan kebiasaan positif terpelihara dan tumbuh dalam diri

    seluruh warga sekolah, maka kepala sekolah dapat menentukan budaya

    sekolah apa yang dapat ditransfer kepada seluruh siswa dan seluruh warga

    sekolah selama itu sesuai dengan visi, misi dan tujuan sekolah yang

    diwujudkan dalam perilaku sehari-hari dengan metode among, secara

    konsisten dan dibutuhkan adanya rasa memiliki terhadap sekolah dalam

    diri kepala sekolah sebagai manajemen puncak sehingga bisa

    menyampaikan dan mentransfer kepada personil sekolah tentang

    bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan yang kemudian dapat

    mempengaruhi seluruh anggota sekolah untuk sama-sama memiliki rasa

    cinta terhadap sekolah.

    Selain itu, dengan didukung oleh budaya sekolah yang kuat, intim,

    kondusif dan bertanggung jawab akan memberikan dampak bagi individu

    atau kelompok lain, yaitu:

    a. Meningkatkan kepuasan kerja; b. Pergaulan lebih akrab; c. Disiplin meningkat; d. Pengawasan fungsional bisa lebih ringan; e. Muncul keinginan untuk selalu berbuat proaktif, dan f. Belajar dan berprsetasi terus, serta g. Selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga,

    orang lain dan diri sendiri.5

    Berdasarkan uraian di atas, maka penulis mencoba mengangkat suatu

    permasalahan yang akan dianalisis dan diteliti oleh penulis dengan judul

    PERAN TRANSFORMASI BUDAYA SEKOLAH TERHADAP

    AKTIVITAS BELAJAR SISWA SMP (TAMAN DEWASA)

    TAMANSISWA BEKASI

    5 Ibid., h. 13.

  • 4

    B. Identifikasi Masalah

    Identifikasi merupakan pengenalan atau penemaan masalah secara

    spesifik. Dari latar belakang masalah di atas maka dapat diidentifikasikan

    permasalahannya sebagai berikut :

    1. Belum optimalnya penerapan visi sekolah.

    2. Kurang optimalnya disiplin siswa.

    3. Belum optimalnya penerapan budi pekerti.

    4. Masih rendahnya tingkat prestasi siswa.

    5. Peran lingkungan luar sekolah yang belum optimal.

    6. Program pengajaran belum optimal.

    C. Batasan Masalah

    Mengingat luasnya pembahasan tentang peran transformasi budaya

    sekolah dengan aktivitas belajar siswa, dan berdasar dari identifikasi

    masalah di atas, maka penulis membatasi permasalahan pada rendahnya

    budaya disiplin di kalangan siswa dan prestasi siswa.

    D. Rumusan Masalah

    Berdasarkan pembatasan masalah di atas, rumusan masalah yang

    akan dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah;

    1. Bagaimana peran transformasi terhadap siswa SMP (Taman Dewasa)

    Tamansiswa Bekasi?

    2. Bagaimana keadaan budaya sekolah SMP (Taman Dewasa)

    Tamansiswa Bekasi?

    3. Bagaimana aktivitas belajar SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa

    Bekasi?

  • 5

    E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    1. Tujuan Penelitian

    Penelitian yang penulis lakukan memiliki tujuan untuk dapat

    menjelaskan peran transformasi budaya disiplin di kalangan siswa

    dalam aktivitas belajar.

    2. Manfaat Penelitian

    Hasil penelitian diharapkan dapat memiliki manfaat yaitu:

    a. Manfaat Teoritis:

    Dapat mengembangkan pemikiran dalam bidang manajemen

    pendidikan, menambah ilmu pengetahuan melalui penelitian yang

    dilaksanakan sehingga dapat memberikan konstribusi pemikiran

    bagi pengembangan ilmu dan sebagai bahan pemahaman untuk

    penelitian selanjutnya.

    b. Manfaat Praktis:

    1) Bagi Penulis

    a) Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan

    pengetahuan yang berhubungan dengan transformasi

    budaya sekolah dan aktivitas belajar siswa;

    b) Memberi kesempatan pada penulis untuk mengaplikasikan

    ilmu dan teori yang telah dipelajari.

    2) Bagi Sekolah

    a) Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan

    masukan yang berarti bagi kepala sekolah atau sekolah guna

    mengambil langkah yang tepat dalam rangka

    mengembangkan budaya sekolah;

    b) Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan

    manfaat bagi sekolah atau kepala sekolah dalam

    mengembangkan budaya sekolah agar mampu

    melaksanakan aktivitas belajar siswa sesuai tujuan

    pendidikan yang hendak dicapai.

  • 6

    BAB II

    KAJIAN TEORI

    A. Transformasi

    1. Pengertian Transformasi

    Banyak pendapat ahli tentang pengertian Transformasi. Berikut

    ini akan dikemukakan beberapa pendapat mengenai pengertian

    transformasi. Transformasi merupakan kata yang berasal dari kata

    Transform atau Transformation yang berarti perubahan bentuk

    atau pergantian bentuk.1 Begitu juga dengan yang tertera di dalam

    Kamus Bahasa Indonesia, bahwa transformasi adalah perubahan

    rupa atau bentuk, sifat dan sebagainya.2 Berdasarkan pengertian

    tersebut, maka dipahami bahwa transformasi dan perubahan adalah

    dua hal yang memiliki kesaaman makna, yaitu bentuk pergantian

    menuju keadaan yang lebih baik.

    Sedangkan menurut Wibowo, perubahan adalah transformasi

    dari keadaan sekarang menuju keadaan yang diharapkan di masa

    yang akan datang, suatu keadaan yang lebih baik. Transformasi atau

    perubahan merupakan suatu tanda dalam kehidupan yang selalu

    berlangsung secara tetap.3 Pernyataan tersebut sesuai dengan yang

    dikemukakan oleh Potts and La Mars dalam Wibowo bahwa

    perubahan merupakan pergeseran dari keadaan sekarang suatu

    organisasi menuju pada keadan yang diinginkan di masa depan.

    Transformasi atau perubahan dari keadaan sekarang dilihat dari

    sudut struktur, proses, orang, dan budaya.4 Kedua pernyataan ini

    bermakna bahwa transformasi dilakukan untuk menjadikan sebuah

    1 John M. Echols dan Hasan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka

    Utama, 2005), cet. 26, h. 601

    2 Nur Azman (kord.), Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Bandung: Penabur Ilmu, 2008), h.

    487.

    3 Wibowo, Manajemen Perubahan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), Cet. III, h. 1.

    4 ------------, Manajemen Perubahan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), h. 87.

  • 7

    sistem atau kondisi menjadi lebih baik dari yang sebelumnya bagi

    seluruh aspek di dalam organisasi.

    2. Tujuan Transformasi

    Sebelum melakukan transformasi atau melakukan perubahan

    haruslah terlebih dahulu mengetahui mengapa perlu melakukan

    sebuah perubahan. Berikut merupakan beberapa pendapat ahli

    mengenai tujuan dari perubahan.

    Transformasi atau perubahan merupakan kebutuhan bagi setiap

    organisasi agar dapat selalu menyesuaikan diri dengan dunia di

    luarnya untuk dapat survive dan mengembangkan diri.5 Menurut

    Robbins dalam Wibowo, tujuan perubahan adalah untuk

    memperbaiki kemampuan organisasi untuk menyesuaikan diri

    dengan perubahan lingkungan dan di sisi lain mengupayakan

    perubahan perilaku karyawan.6 Kedua pernyataan ini memaknai

    tujuan transformasi atau perubahan sebagai sebuah upaya untuk

    menghadapi segala tantangan yang hadir dalam organisasi. Dengan

    sifat dinamis yang dimiliki oleh organisasi, maka sebuah organisasi

    dan aspek-aspek yang terdapat di dalamnya haruslah mampu

    mengikuti segala macam kondisi untuk menghadapi perubahan-

    perubahan di lingkungan organisasi.

    Menurut Musa Ali, usaha transformasi dilakukan untuk

    menjamin survival organisasi. Selain itu juga untuk memastikan

    kecakapan dan keberkesanan organisasi dalam menyampaikan

    perkhidmatan atau pengeluarannya.7 Pernyataan ini mengartikan

    bahwa transformasi atau perubahan dilakukan sebagai upaya

    mempertahankan diri dari keadaan tertentu yang bersifat buruk, dan

    5 Ibid., h. 115

    6 Ibid., h. 90.

    7 Musa Ali, Transformasi Organisasi: Konsep dan Teknik Pelaksanaan, (Malaysia: Universiti

    Sains Malaysia, 2015), Cet. II., h. 2.

  • 8

    juga untuk memastikan kecakapan dan efektivitas organisasi dalam

    memberikan layanan.

    Transformasi atau perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat

    dihindari oleh sebuah organisasi, bahkan pada kondisi tertentu

    transformasi atau perubahan sangat perlu dilakukan dengan berbagai

    macam cara tetapi memiliki tujuan pasti, yaitu menjadikan kinerja

    organisasi lebih baik sehingga organisasi lebih bertahan dengan

    setiap kondisi yang berlangsung disekitarnya. Dengan kemampuan

    organisasi bertahan maka akan menjadikan organisasi tetap ada dan

    diakui.

    3. Ruang Lingkup Transformasi

    Upaya transformasi atau perubahan dalam organisasi terjadi

    pada beberapa area atau objek seperti yang dikemukakan oleh

    beberapa ahli. Menurut Wibowo, sasaran atau objek suatu

    perubahan dapat diarahkan pada struktur organisasi, teknologi,

    pengaturan fisik, proses, orang, dan budaya dalam suatu organisasi.

    Namun sasaran transformasi atau perubahan tersebut pada umumnya

    tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan kombinasi karena diantaranya

    saling memengaruhi.8

    Sama halnya dengan yang dikemukakan oleh Wibowo. Daft dan

    Marcic dalam Ismail Solihin, kemudian menambahkan dua area lain

    di dalam organisasi yang perlu mengalami perubahan, yakni: strategi

    (strategy) dan produk (products).9 Perubahan dilakukan untuk

    memperbaiki kondisi organisasi dengan rencana baru ketika kondisi

    organisasi berada dalam kondisi yang membahayakan

    keberlangsungan organisasi. Yang secara tidak langsung akan

    berdampak terhadap perubahan pada hasil kerja organisasi.

    8 Wibowo, op. cit., h. 93.

    9 Ismail Solihin, Pengantar Manajemen, ( Jakarta: Erlangga, 2009), h. 119.

  • 9

    Dari ulasan diatas mengenai transformasi atau perubahan penulis

    menyimpulkan bahwa transformasi atau perubahan terjadi pada semua

    bagian dalam organisasi tanpa bisa dihindari dan dapat terjadi kapan

    saja. Saat melakukan transformasi atau perubahan haruslah melihat

    pengalaman transformasi atau perubahan yang terjadi sebelumnya

    untuk mengetahui apa saja yang menyebabkan keberhasilan dan

    kegagalan dari transformasi atau perubahan yang dilakukan.

    B. Budaya Sekolah

    1. Pengertian Budaya Sekolah

    Menurut Aan Komariah dan Cepi Triatna, Bedasarkan asal usul

    katanya (etimologis), bentuk jamak dari budaya adalah kebudayaan

    yang berasal dari bahasa sansekerta budhayah yang merupakan bentuk

    jamak dari budi yang artinya akal atau segala sesuatu yang

    berhubungan dengan akal pikiran manusia.10

    Sedangkan menurut Koentjaraningrat dalam Daryanto dan Hery

    Tarno, budaya sebagai keseluruhan sistem gagasan tindakan dan

    hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang

    dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Kemudian

    Koentjaraningrat dalam Daryanto dan Hery Tarno membagi

    kebudayaan dalam tiga wujud, yaitu:

    a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas dari ide-ide,

    gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan lain-lain;

    b. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleksitas aktivitas

    kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan;

    c. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.11

    10 Aan Komariah dan Cepi Triatna, Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif, (Jakarta:

    Bumi Aksara, 2005), h. 96.

    11

    Daryanto dan Hery Tarno, Pengelolaan Budaya dan Iklim Sekolah, (Yogyakarta: Gava

    Media, 2015), h.1.

  • 10

    Sehingga budaya atau kultur dapat diartikan sebagai suatu

    kualitas kehidupan dalam sebuah kelompok atau organisasi yang

    diwujudkan dalam aturan-aturan atau norma, tata kerja, hasil karya,

    pengalaman, gaya kepemimpinan seorang atasan maupun bawahan,

    tradisi yang mengakar dan mempengaruhi sikap perilaku setiap orang

    yang ada dalam kelompok termasuk mempengaruhi nilai, sikap dan

    perilaku yang ada di lingkungan sekolah sebagai cerminan

    kepribadian sekolah yang ditunjukkan oleh prilaku individu dan

    kelompok dalam komunitas sekolah. Hal ini sesuai dengan yang

    dikemukakan oleh Aan Komariah dan Cepi Triatna, yaitu: budaya

    sekolah sebagai karakteristik khas sekolah yang dapat diidentifikasi

    melalui nilai yang dianutnya, sikap yang dimilikinya, kebiasan-

    kebiasaan yang ditampilkannya, dan tindakan-tindakan yang

    ditunjukkan oleh seluruh personel sekolah yang membentuk satu

    kesatuan khusus dari sistem sekolah.12

    Beberapa pendapat mengenai budaya sekolah yang senada dengan

    yang dikemukakan di atas juga dikemukakan oleh beberapa ahli,

    diantaranya: Budaya sekolah/madrasah merupakan sesuatu yang

    dibangun dari hasil pertemuan antara nilai-nilai (values) yang dianut

    oleh kepala sekolah/madrasah sebagai pemimpin dengan nilai-nilai

    yang dianut oleh guru-guru dan para karyawan yang ada dalam

    sekolah/madrasah tersebut.13

    Menurut Suprapto, budaya sekolah

    sebagai keseluruhan nilai-nilai dan norma-norma yang dianut oleh

    sekolah yang meliputi visi, misi, dan tujuan sekolah, etos belajar,

    integrasi, norma agama, norma hukum dan norma sosial.14

    Dari beberapa pengertian budaya sekolah di atas dapat

    disimpulkan bahwa budaya sekolah adalah sekumpulan norma, nilai

    12 Aan Komariah dan Cepi Triatna, op.cit., h.102

    13

    Muhaimin, Sutiah, dan Sugeng Listiyo Prabowo, Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam

    Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah, (Jakarta: Kencana, 2012), Cet. IV, h. 48.

    14

    Suprapto, dkk., Budaya Sekolah dan Mutu Pendidikan: Pengaruh Budaya Sekolah dan

    Motivasi Belajar Terhadap Mutu Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Pena Citasatria, 2008), h. 17.

  • 11

    dan tradisi yang dibangun oleh semua warga sekolah dalam semua

    aktivtas sekolah yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran oleh

    seluruh warga sekolah secara bersama-sama sebagai cara hidup di

    sekolah yang kemudian membentuk karakter sekolah akibat dari

    adanya kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam sekolah dengan

    jangka waktu yang lama.

    2. Tujuan dan Manfaat Budaya Sekolah

    Berikut ini akan dipaparkan pandangan beberapa ahli tentang tujuan

    dan maanfaat dari adanya budaya sekolah.

    Daryanto dan Hery Tarno mengungkapkan bahwa tujuan dari

    pengembangan budaya sekolah, yaitu:

    Hasil pengembangan budaya sekolah adalah meningkatkan perilaku

    yang konsisten dan untuk menyampaikan kepada personil sekolah

    tentang bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan untuk

    membangun kepribadian mereka dalam lingkungan sekolah yang

    sesuai dengan iklim lingkungan yang tercipta di sekolah baik itu

    lingkungan fisik maupun iklim kultur yang ada.15

    Kemudian Rohiat juga mengutarakan tujuan dari pengembangan

    budaya sekolah, yaitu:

    Sasaran (tujuan jangka pendek atau tujuan situasional) dari

    pengembangan budaya sekolah adalah terwujudnya budaya sekolah

    yang kondusif serta dan bermutu untuk mendukung proses

    pembelajaran di sekolah sehingga program-program yang dapat

    dikembangkan antara lain (1) penyosialisasian budaya mutu di

    sekolah, (2) peningkatan perencanaan program pengembangan

    budaya mutu sekolah, (3) peningkatan implementasi budaya mutu

    sekolah, (4) peningkatan supervisi, monitoring dan evaluasi dalam

    program budaya mutu sekolah, (5) peningkatan manajemen

    program budaya mutu sekolah, (6) dan sebagainya.16

    Pernyataan ini dapat dipahami bahwa, budaya sekolah secara

    sederhana dalam jangka waktu yang singkat dapat menjadikan sekolah

    15 Daryanto dan Hery Tarno, op.cit., h. 11.

    16

    Rohiat, Manajemen Sekolah: Teori Dasar dan Praktik, (Bandung: Refika Aditama, 2010), h.

    94.

  • 12

    memiliki mutu pembelajaran melalui pengembangan program-

    program yang dianggap mampu meningkatkan mutu sekolah.

    Menurut Mulyasa, iklim dan budaya sekolah yang kondusif

    diharapkan dapat menunjang proses pembelajaran yang efektif,

    sehingga semua pihak yang terlibat didalamnya, khususnya peserta

    didik merasa nyaman belajar.17

    Dengan demikian kegiatan

    pembelajaran lebih efektif dan menyenangkan yang secara tidak

    langsung akan membangkitkan potensi-potensi peserta didik.

    Sedangkan menurut Daryanto dan Hery Tarno, manfaat yang akan

    diperoleh dari pengembangan budaya dan iklim sekolah yang kuat,

    intim, kondusif dan bertanggung jawab adalah:

    a. Menjamin kualitas kerja yang lebih baik b. Membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan

    level baik komunikasi vertikal maupun horisontal.

    c. Lebih terbuka dan transparan. d. Menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi. e. Meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan. f. Jika menemukan kesalahan akan segaera dapat diperbaiki. g. Dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan

    IPTEK.18

    Manfaat dari adanya budaya sekolah tidak hanya dirasakan

    sekolah dan lingkungannya, tetapi juga dapat dirasakan oleh masing-

    masing individu dan kelompok dimana saja karena terbentuknya

    norma pribadi dan bukan akibat dari aturan yang kaku dengan

    berbagai hukuman. Menurut Daryanto dan Hery Tarno Manfaat

    budaya sekolah bagi individu dan kelompok, antara lain;

    a. Meningkatkan kepuasan kerja b. Pergaulan lebih akrab c. Disiplin meningkat d. Pengawasan fungsional bisa lebih ringan e. Muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif f. Belajar dan berprestasi terus

    17 Mulyasa, Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h.

    92.

    18

    Daryanto dan Hery Tarno, op.cit., h.13.

  • 13

    g. Selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri.

    19

    Ini menjelaskan, bahwa dengan adanya budaya sekolah

    memungkinkan untuk menjadikan seriap induvidu mengalami

    perubahan ke arah yang lebih baik sehingga meningkatkan kualitas

    dirinya.

    3. Proses Pembentukkan dan Pengembangan Budaya Sekolah

    Setiap sekolah haruslah memiliki budaya sebagai identitas bagi

    lembaganya dan sebagai nilai hidup seluruh individu di dalamnya.

    Namun budaya sekolah haruslah dibentuk dan dikembangkan agar

    budaya sekolah dapat diterima dan bermanfaat bagi individu dalam

    organisasi dan bagi organisasi itu sendiri. Berikut ini adalah beberapa

    cara pembentukkan dan pengembangan budaya sekolah menurut

    beberapa ahli.

    Menurut Aan Komariah cara yang dapat dilakukan untuk

    membentuk sebuah budaya organisasi/sekolah bisa melalui tiga cara,

    yaitu sebagai berikut:

    a. Seleksi Menekankan sejak awal terhadap pegawai-pegawai bahwa

    hanya pegawai-pegawai yang memenuhi kriteria organisasi yang

    dapat diterima.

    b. Manajemen Puncak Pimpinan menjadi pendorong kuat bagi tumbuhnya perilaku

    bawahan. Pemimpin mesti menetapkan norma-norma perilaku

    yang dapat diikuti bawahannya. Disamping itu apa yang

    dilakukan atasan dapat diobservasi dan dinilai oleh bawahannya.

    c. Sosialisasi Penanaman norma-norma yang ditetapkan organisasi dapat

    dilakukan dengan cara membicarakannya dalam rapat-rapat,

    pertemuan-pertemuan, atau bahkan dengan alat/media khusus.20

    19 Ibid.

    20

    Aan Komariah dan Cepi Triatna, op.cit., h.113.

  • 14

    Dalam bukunya, Dryanto dan Hery Tarno menjelaskan tentang

    bagaimana membangun sebuah budaya sekolah melalui gambar/

    model seperti berikut;

    Gambar 2.1 Model dalam Membangun Budaya Sekolah21

    Model tersebut menggambarkan bahwa budaya dan iklim sekolah

    merupakan kumpulan niali-nilai, norma dan perilaku yang mengontrol

    interaksi warga sekolah dengan orang-orang di luar sekolah. Budaya

    sekolah merupakan hasil interaksi nilai-nilai yang dianut individu di

    dalam sekolah dan di luar sekolah secara sadar untuk mewujudkan

    visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolah.

    21 Daryanto dan Hery Tarno, op.cit., 16.

    Pemberdayaan Sekolah

    Budaya Lingkungan

    Fisik Sekolah

    Pemberdayaan

    Sekolah

    a. Nilai

    b. Norma

    c. Perilaku

    a. Keindahan

    b. Keamanan

    c. Ketentraman

    d. Kebersihan

    a. Berbasis Mutu

    b. Kepemimpinan Kepala

    Sekolah

    c. Disiplin dan Tata Tertib

    d. Penghargaan dan

    Insentif

    e. Harapan Berprestasi

    f. Akses Informasi

    g. Evaluasi

    h. Komunikasi Intensif

    dan Terbuka

    Budaya dan Iklim Sekolah

  • 15

    Budaya sekolah yang positif akan mendukung peningkatan mutu

    pendidikan yang positif dan sejalan dengan pelaksanaan manajemen

    berbasis sekolah. Oleh sebab itu maka melalui kompetensi yang

    dimiliki oleh kepala sekolah, kepala sekolah diharapkan dapat

    memberikan konstribusi yang positif dalam pengembangan budaya

    sekolah sehingga secara maksimal mampu mendukung peningkatan

    mutu pendidikan.

    4. Jenis-jenis Budaya Sekolah

    Budaya sekolah secara umumnya didefinisikan sebagai cara hidup

    di sekolah yang sebenarnya dihasilkan oleh pelajar dan sebagian guru.

    Budaya sekolah yang berlangsung sangatlah beranekaragam dan

    setiap sekolah memiliki budaya yang berbeda antara sekolahnya

    dengan sekolah lain. Berikut ini adalah jenis-jenis budaya sekolah.

    Budaya sekolah berdasarkan jenisnya, menurut Daryanto dan

    Hery Tarno terdapat dua jenis budaya sekolah, yaitu budaya formal

    dan budaya informal. Budaya formal ini mementingkan pencapaian

    akademik dan manfaat untuk mencapai tersebut. Budaya informal

    ialah apa saja selain untuk mencapai kepentingan budaya formal

    sekolah seperti budaya bertutur kata, berpakaian, dan lain-lain.22

    Kedua jenis budaya sekolah pada dasarnya sama-sama untuk

    meningkatkan perilaku positif yang konsisten agar dapat menunjang

    program sekolah secara kuat dan menjadikan siswa serta guru

    memiliki kualitas dan prestasi dengan budaya formal yang dimiliki.

    5. Bentuk-bentuk Budaya Sekolah

    Budaya sekolah merupakan komponen penting untuk memajukan

    sekolah, oleh karena itu sekolah haruslah menanamkan budaya

    sekolah secara tepat dan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut sekolah.

    Bentuk-bentuk budaya sekolah yang diterapkan tiap-tiap sekolah pun

    22 Ibid., h. 5.

  • 16

    berbeda-beda. Berikut ini adalah bentuk-bentuk budaya sekolah yang

    diterapkan oleh sekolah menurut beberapa ahli.

    Balitbang Kemendikbud dalam Albertin Dwi Astuti memaparkan

    aspek-aspek mengenai budaya utama (core culture) yang

    direkomendasikan untuk dikembangkan sekolah, yakni: (a) Budaya

    jujur, (b) Budaya saling percaya, (c) Budaya kerja sama, (d) Budaya

    membaca, (e) Budaya disiplin dan efisien, (f) Budaya bersih, (g)

    Budaya berprestasi, dan (h) Budaya memberi penghargaan dan

    menegur.23

    Sedangkan menurut Daryanto dan Hery Tarno, kegiatan budaya

    sekolah yang masing sering dilakukan di sekolah, diantaranya yakni:

    (a) Budaya salam, (b) Majalah sekolah yang dibuat oleh siswa untuk

    melatih jurnalistiknya, (c) Dialog interaktif dengan para pakar

    dibidangnya, (d) Lintas juang, (e) Studi kepemimpinan siswa, (f)

    Budaya disiplin, (g) Budaya kerja keras, cerdas dan ikhlas, (h) Budaya

    kreatif.24

    Salah satu bentuk budaya sekolah yang selalu ada dan harus

    menjadi fokus utama yaitu budaya disiplin. Disiplin merupakan salah

    satu faktor penting dalam upaya untuk membentuk tingkah laku sesuai

    dengan yang sudah ditetapkan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik

    dan diharapkan. Dengan disiplin para siswa bersedia untuk tunduk dan

    mengikuti peraturan dan selalu menjauhi hal-hal yang tidak baik.

    Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa budaya sekolah

    merupakan pola dari nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah

    untuk menuntun kebijakan sekolah terhadap semua komponen sekolah.

    Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan

    norma-norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan

    23 Albertin Dwi Astuti, Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Karakter Siswa Kelas X Jurusan

    Tata Boga SMK N 3 Klaten, Skripsi pada Strata Satu UNY, Yogyakarta, 2015, h. 12,

    dipublikasikan. (http://eprints.uny.ac.id)

    24

    Daryanto dan Hery Tarno, op.cit., h. 8.

  • 17

    penuh kesadaran sebagai prilaku alami yang dibentuk oleh lingkungan

    dengan pemahan yang sama diantara seluruh komponen sekolah dan

    semua yang memiliki keterhubungan dengan sekolah.

    Setiap sekolah harus memiliki budaya sekolah sebagai identitas

    sekolah. Setiap sekolah akan memiliki budaya sekolah yang berbeda satu

    dengan lainnya, inilah yang menjadikan budaya sekolah sebagai sebuah

    identitas diri bagi sekolah. Sehingga dapat dikatakan bahwa budaya

    sekolah merupakan komponen penting dalam memajukan sekolah

    meskipun tidak selalu berdampak positif. Budaya sekolah banyak

    bergantung kepada kepemimpinan kepala sekolah dan harus diperhatikan

    oleh kepala sekolah mengenai keberadaan budaya sekolah tersebut

    karena kepala sekolah merupakan seseorang yang memiliki kekuasaan

    dalam membentuk budaya sekolah yang dipimpinnya. Selain dengan

    berpedoman kepada visi dan misi sekolah, dalam menciptakan budaya

    sekolah positif juga perlu dibarengi oleh rasa saling percaya dan saling

    memiliki yang besar terhadap sekolah. Salah satu sekolah atau perguruan

    yang memiliki budaya yang sangat kuat dan terus-menerus dijadikan nilai

    hidup hingga saat ini adalah Taman Siswa.

    C. Aktivitas Belajar

    1. Pengertian Aktivitas Belajar

    Sebelum mengetahui apa yang dimaksud dengan aktivitas belajar,

    terlebih dahulu harus diketahui pengertian aktivitas dan belajar

    menurut beberapa ahli.

    a. Pengertian Aktivitas

    Kata aktivitas dalam Kamus Bahasa Indonesia memiliki

    pengertian sebagai kegiatan, kerja atau kesibukan, keaktivan.25

    Sehingga dapat dipahami bahwa aktivitas adalah kerja atau salah

    25 Nur Azman (kord.), op. cit., h. 12.

  • 18

    satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian di dalam

    organisasi.

    Aktivitas dapat dipahami sebagai sebuah kegiatan yang

    dialakuakan dengan maksud untuk mencapai tujuan yang

    direncanakan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan

    tersebut. Aktivitas manusia ataupun tingkah laku manusia di dalam

    sebuah interaksi dengan lingkungannya selalu berorientasi pada

    masa depan.

    b. Pengertian Belajar

    Belajar merupakan suatu proses yang tidak akan pernah bisa

    dilepaskan dari kehidupan manusia. Menurut Suyono dan

    Hariyanto, belajar adalah sebagai suatu aktivitas atau suatu proses

    untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan,

    memperbaiki prilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian.26

    Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Sudarwan

    Danim, menurutnya belajar merupakan proses menciptakan nilai

    tambah kognitif, afektif, dan psikomotor bagi siswa. Nilai tambah

    itu tercermin dari perubahan perilaku siswa menuju kedewasaan.27

    Sedangkan Muhibbin Syah membagi pengertian belajar

    kedalam tiga ranah, yaitu secara kuantitatif, institusional dan

    kualitatif.

    Secara kuantitatif (ditinju dari sudut jumlah), belajar berarti

    kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif

    dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini

    dipandang dari sudut banyaknya materi yang dikuasai siswa.

    Secra institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang

    sebagai proses validasi atau pengabsahan terhadap

    penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti

    institusional yang menunjukkan siswa telah belajar dapat

    diketahui sesuai proses mengajar. Ukurannya, semakin baik

    26 Suyono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar, (Bandung:

    Remaja Rosdakarya, 2011), h. 9.

    27

    Sudarwan Danim dan Khairil, Psikologi Pendidikan: Dalam Perspektif Baru, (Bandung:

    Alfabeta, 2010), h. 93.

  • 19

    mutu guru mengajar akan semakin baik pula mutu perolehan

    siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor. Secara

    kualitatif (tinjauan mutu), belajar ialah proses memeroleh arti-

    arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan

    dunia disekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini

    difokuskan pada terciptanya daya pikir dan tindakan yang

    berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan

    nanti dihadapi siswa.28

    Dari penjelasan di atas, maka dapat dipahami bahwa belajar

    merupakan sebuah proses yang terus berlangsung sepanjang

    kehidupan seseorang secara sadar untuk memenuhi kebutuhannya

    dan akan membantunya memahami kemampuannya dan

    mengembangkannya dengan melibatkan pengalaman, sehingga

    menjadikan dirinya lebih berkualitas untuk menjalani

    kehidupannya dengan baik dan cara yang benar.

    c. Pengertian Aktivitas Belajar

    Menurut William, aktivitas belajar adalah interaksi yang

    spesifik antara pembelajaran dengan orang lain menggunakan alat-

    alat dan sumber daya tertentu demi mencapai hasil tertentu.29

    Kemudian Sardiman mengartikan aktivitas belajar sebagai

    aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dalam proses belajar

    kedua aktivitas itu harus saling berkait.30

    Lebih lanjut lagi, Piaget

    menerangkan dalam buku Sardiman bahwa seorang anak itu

    berfikir sepanjang ia berbuat. Tanpa Perbuatan berarti anak itu

    tidak berfikir.31

    Dapat dipahami, bahwa aktivitas belajar merupakan segala

    kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi siswa yang intens

    dengan guru dan seluruh warga sekolah. Aktivitas belajar yang baik

    28 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan: Dengan Perspektif Baru, (Bandung: Remaja

    Rosdakarya, 2014), cet. XIX, h. 90.

    29

    William, Tiga Tahun Dari Sekarang, (Jakarta: Feliz Books, 2013), h. 155.

    30

    Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,

    2014), cet. XXII, h. 100.

    31

    Ibid.

  • 20

    harus melibatkan psikologi dan fisik peserta didik, baik jasmani

    maupun rohani sehingga perubahan perilaku peserta didik sebagai

    hasil belajar dapat terjadi secara cepat, tepat, mudah, dan benar,

    baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik peserta didik

    yang tentunya akan menjadikan peserta didik jauh lebih berkarakter

    dan memperbesar kemungkinan tercapainya tujuan belajar dan

    pendidikan.

    2. Prinsip-prinsip Belajar

    Banyak teori mengenai prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan

    oleh beberapa ahli dalam bidang pendidikan yang masing-masing

    memiliki persamaan dan perbedaan.

    Dalam bukunya, Dimyati dan Mudjiono menyebutkan tujuh

    prinsip-prinsip belajar, yakni: (a) Perhatian dan motivasi, (b)

    Keaktifan, (c) Keterlibatan langsung/berpengalaman, (d) Pengulangan,

    (e) Tantangan, (f) Balikan dan penguatan, serta (g) Perbedaan

    individual.32

    Kemudian Sukmadinata menyampaikan mengenai prinsip umum

    belajar yang telah dikembangkannya sebagai berikut: (a) Belajar

    merupakan bagian dari perkembangan, (b) Belajar berlangsung

    seumur hidup, (c) Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor

    bawaan, lingkungan, kematangan, serta usaha dari individu secara

    aktif, (d) Belajar mencangkup semua aspek kehidupan, (e) Kegiatan

    belajar berlangsung disembarang tempat dan waktu, (f) Belajar

    berlangsung baik dengan guru maupun tanpa guru, (g) Belajar yang

    terencana dan disengaja menuntut motivasi yang tinggi, (h)

    Pembentukkan belajar bervariasi dari yang paling sederhana sampai

    dengan yang sangat kompleks, (i) Dalam belajar dapat terjadi

    32 Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Cet. IV, h.

    42.

  • 21

    hambatan-hambatan, dan (j) Dalam hal tertentu belajar memerlukan

    adanya bantuan dan bimbingan dari orang lain.33

    Selanjutnya Nanang dan Cucu mengemukakan prinsip-prinsip

    belajar yang sama dengan Sukmadinata dan menambahkan tiga

    prinsip-prinsip belajar, yaitu:

    a. Belajar dimulai dari yang faktual menuju konseptual.

    b. Belajar dari yang kongkret menuju yang abstrak.

    c. Belajar merupakan bagian dari perkembangan.34

    Prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan

    yang tepat dan mengembangkan sikap yang diperlukan dalam

    menunjang peningkatan belajar peserta didik. Selain itu, aktivitas

    belajar harus dilaksanakan dengan penuh kedisiplinan, baik

    kedisiplinan guru terhadap teori dan prinsip-prinsip belajar ataupun

    kedisiplinan siswa terhadap kebijakan sekolah dan disiplin dalam

    belajar. Ini karena disiplin menjadi salah satu faktor yang dapat

    mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar. Pernyataan ini diperkuat

    dengan penelitian yang dilakukan Moedjiarto dalam Dryanto dan Hery

    Tarno. Moedjiarto mengungkapkan bahwa karakteristik dan tata

    tertib dan kebijakan disiplin sekolah mempunyai hubungan yang

    signifikan dengan prestasi akademik siswa.35

    Secara umum Daryanto dan Hery Tarno mengartikan disiplin

    sebagai suatu bentuk ketaatan pada peaturan dan sanksi yang berlaku

    dalam lingkungan sekolah.36

    Disiplin belajar merupakan salah satu

    yang mempengaruhi kegiatan belajar. Menurut Bambang Sumantri,

    Disiplin belajar siswa bisa terjadi di rumah dan di sekolah:

    Disiplin belajar di rumah, antara lain meliputi: belajar setiap hari,

    mengerjakan pekerjaan rumah, membuat laporan, belajar

    berkelompok dan sebagainya. Sedangkan disiplin belajar di sekolah

    33 Suyono dan Hariyanto, op.cit., h. 128.

    34

    Hanafiah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran, (Bandung: Refika Aditama,

    2012),Ccet. III, h. 18.

    35

    Daryanto dan Hery Tarno, op.cit., h. 83.

    36

    Ibid., h. 22.

  • 22

    antara lain meliputi: ketepatan waktu datang ke sekolah, keaktifan

    mengikuti pelajaran di kelas, ketaatan mengikuti peraturan di kelas

    maupun sekolah, menggunakan waktu luang dan sebagainya.37

    Dengan adanya disiplin belajar siswa akan belajar hidup dengan

    pembiasaan yang baik dan bermanfaat bagi dirinya dan

    lingkungannya. Selain itu siswa akan memiliki kecakapan mengenai

    cara belajar yang baik. Pada dasarnya kedisiplinan merupakan

    kesadaran dan kepatuhan dari seseorang untuk mentaati segala

    peraturan yang ada. Sehingga kedisiplinan tidak dapat dilepaskan dari

    masalah tata tertib.

    3. Tujuan dan Manfaat Belajar

    Belajar pada hakekatnya adalah proses kegiatan secara

    berkelanjutan dalam rangka perubahan perilaku peserta didik dengan

    perbaikan dan pembinaan. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang

    Sistem pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang menyatakan:

    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

    suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

    aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

    spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,

    dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

    masyarakat, bangsa, dan negara.38

    Dave dalam Eveline Siregar, dkk. Mengemukakan lima jenjang

    tujuan belajar pada ranah psikomotor, yakni: (a) Meniru, (b)

    Menerapkan, (c) Memantapkan, (d) Merangkai, (e) Naturalisasi.39

    Pernyataan ini bermakna bahwa, dengan adanya aktivitas belajar

    siswa akan merespon apa yang dia amati dengan tepat dan

    mengkordinasikannya dengan fisik dan psikisnya.

    37 Bambang Sumantri, Pengaruh Disiplin Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI

    SMK PGRI 4 Ngawi Tahun Pelajaran 2009/2010, Media Prestasi, Vol. VI. No. 3 Desember 2010,

    2016, h. 119. (http://jurnal.stkipngawi.ac.id).

    38

    Sekretariat Negara RI, Undang-undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB 1 Pasal 1 ayat 1, 2015 (http://www.setneg.go.id)

    39

    Evelin Siregar dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: UNJ, 2007), h. 9.

  • 23

    Kemudian secara sederhana Sardiman membagi tujuan belajar

    menjadi tiga jenis, yaitu: (a) Untuk mendapatkan pengetahuan, (b)

    Penanaman konsep dan keterampilan, dan (c) Pembentukkan sikap.40

    Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa, tujuan belajar adalah untuk

    memperoleh pengetahuan, keahlian dan kepribadian yang sesuai

    dengan nilai-nilai norma yang berlaku.

    Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana juga menjelaskan bahwa

    aktivitas belajar dapat memberikan nilai tambah (added value) bagi

    peserta didik, berupa hal-hal berikut ini:

    a. Peserta didik memiliki kesadaran (awareness) untuk belajar sebagai wujud adanya motivasi internal untuk belajar sejati.

    b. Peserta didik mencari pengalaman dan langsung mengalami sendiri, yang dapat memberikan dampak terhadap

    pembentukan pribadi yang integral.

    c. Peserta didik belajar dengan menurut minat dan kemampuannya.

    d. Menumbuh kembangkan sikap disiplin dan suasana belajar yang demokratis di kalangan peserta didik.

    e. Pembelajaran dilaksanakan secara konkret sehingga dapat menumbuh kembangkan pemahaman dan berfikir kritis serta

    menghindarkan terjadinya verbalisme.

    f. Menumbuh kembangkan sikap kooperatif dikalangan peserta didik sehingga sekolah menjadi hidup, sejalan dan serasi

    dengan kehidupan di masyarakat di sekitarnya. 41

    Dari penjabaran di atas, maka dapat dipahami bahwa dari

    kegiatan belajar tidak hanya menjadikan seseorang memiliki

    kecerdasan akademik, tetapi juga kecerdasan dalam mengolah pikiran

    dan sikapnya. Disepanjang hidupnya manusia akan terus

    mengahadapai kondisi dan proses kehidupan yang sadar dan tanpa

    disadari, manusia melakukan belajar untuk memenuhi dan

    melaksanakan kehidupannya secara mandiri. Karena untuk

    melaksanakan kehidupannya secara mandiri manusia haruslah

    memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap yang baik. Dan semua itu

    40 Sardiman A. M., Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,

    2012), Cet. XXI h. 25.

    41

    Hanafiah, Nanang & Cucu Suhana, op.cit., h. 24.

  • 24

    dapat diperoleh dari kegiatan belajar yang dilakukan mausia secara

    terus-menerus.

    4. Bentuk-bentuk Belajar

    Begitu banyak aktivitas belajar yang dapat dilakukan dan diterima

    peserta didik di dalam kelas. Berikut merupakan bentuk-bentuk

    aktivitas belajar yang bisa dilakukan.

    Gage dalam Ratna Wilis Dahar mengungkapkan ada lima bentuk

    belajar, yaitu: (a) Belajar Responden, (b) Belajar Kontiguitas, (c)

    Belajar Operant, (d) Belajar Observasional, dan (e) Belajar Kognitif.42

    Kemudian Nanang & Cucu Suhana mengungkapkan, bahwa

    aktivitas belajar dibagi ke dalam delapan kelompok, yaitu sebagai

    berikut: (a) Kegiatan-kegiatan visual, (b) Kegiatan-kegiatan lisan

    (oral), (c) Kegiatan-kegiatan mendengarkan, (d) Kegiatan-kegiatan

    menulis, (e) Kegiatan-kegiatan menggambar, (f) Kegiatan-kegiatan

    metrik, (g) Kegiatan-kegiatan mental, dan (h) Kegiatan-kegiatan

    emosional.43

    Bentuk-bentuk kegiatan belajar yang dilakukan disekolah sangat

    ditentukan oleh model-model pengajaran yang diberikan oleh guru.

    Pada dasarnya bentuk belajar disesuaikan dengan model pembelajaran

    guru dan mengaktifkan indera yang dimiliki siswa sehingga membuat

    siswa lebih terlatih.

    Aktivitas belajar adalah seluruh aktivitas siswa dalam proses belajar,

    mulai dari kegiatan fisik dan psikis yang berprinsip dengan perhatian dan

    motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung atau berpengalaman,

    pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan

    individu. Dalam kegiatan belajar banyak terdapat macam-macam

    kegiatan yang berbeda satu dengan yang lainnya dan selalu berubah

    sesuai dengan kebutuhan dan kondisi manusia yang melakukan belajar.

    42 Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Erlangga, 2011), h. 4.

    43

    Hanafiah, Nanang & Cucu Suhana, loc. cit.

  • 25

    Pada dasarnya bentuk belajar disesuaikan dengan model pembelajaran

    guru. Tujuannya tetap sama, yaitu untuk mendapatkan pengetahuan,

    untuk penanaman konsep dan keterampilan, serta untuk pembentukkan

    sikap dan upaya mencapai prestasi siswa.

    D. Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Aktivitas Belajar

    Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal merupakan tempat

    kegiatan belajar mengajar yang bertujuan meningkatkan kualitas anak

    didik. Tidak hanya menjadikan seseorang memiliki kecerdasan

    akademik, tetapi juga kecerdasan dalam mengolah pikiran dan sikapnya.

    Kecerdasan selalu diidentikkan dengan prestasi belajar. Prestasi belajar

    sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya seperti yang

    dikemukakan oleh Muhibbin Syah. Menurutnya, ada tiga faktor yang

    dapat mempengaruhi belajar siswa, yaitu:

    a. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa;

    b. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa;

    c. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang

    digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-

    materi pelajaran.44

    Kondisi lingkungan sekolah bisa dipengaruhi oleh budaya sekolah

    yang berlangsung. Budaya sekolah merupakan hal yang tidak dapat

    dipisahkan dari sekolah sebab merupakan suatu yang dapat menjelaskan,

    menggambarkan, dan mengidentifikasi mengenai sekolah tersebut.

    Pentingnya membangun budaya sekolah berkenaan dengan upaya

    pencapaian tujuan pendidikan sekolah dan peningkatan kinerja sekolah.

    Jika dikaitkan dengan prestasi dalam aktivitas belajar, budaya

    sekolah memiliki sumbangan yang sangat berharga dalam menunjang

    aktivitas belajar. Melalui budaya positif yang diterapkan disekolah,

    seperti budaya jujur, budaya saling percaya, budaya kerja sama, budaya

    44Muhibbin Syah, op.cit., h.145.

  • 26

    membaca, budaya disiplin dan efisien, budaya bersih, budaya berprestasi,

    serta budaya memberi penghargaan dan menegur siswa akan terlibat

    langsung dalam pelakasanaannya yang secara perlahan akan merubah

    cara hidup, berpikir siswa dalam melaksanakan aktivitas belajar yang

    positif dan memperoleh hasil belajar berupa prestasi belajar yang positif

    juga.

    Pembelajaran positif hanya berlangsung dalam budaya yang positif.

    Sekolah yang sehat akan mempengaruhi kesuksesan banyak siswa dan

    guru. Ini diperkuat dengan pernyataan dari Sudarwan Danim dan Khoril,

    menurutnya Kultur sekolah yang positif mendorong orang dapat

    membangun komitmen kuat untuk mencapai sesuatu yang menarik secara

    bersama. Sebaliknya kultur sekolah yang negatif dapat mengganggu

    hubungan antarkomunitas sekolah.45

    Kemudian Suyono dan Hariyanto juga nyatakan, bahwa:

    Pembudayaan adalah suatu proses di mana seseorang belajar tentang

    sesuatu yang diperlukan oleh budaya yang mengelilingi

    kehidupannya, sehingga dia memperoleh nilai-nilai dan perilaku yang

    sesuai dan diperlukan dalam budaya semacam itu. Pengaruh orang tua,

    orang dewasa lain seperti guru serta temen sebaya akan membantu

    pembentukkan individu dalam enkulturasi. Jika pengaruh ini

    berlangsung secara sukses, maka akan menghasilkan peningkatan

    kompetensi siswa dalam penguasaan bahasa, nilai-nilai yang

    dipegang, serta berbagai ritual terkait budaya tersebut, termasuk

    pemahaman dan peraktiknya dalam menghayati agama.46

    Pernyataan bahwa budaya sekolah memiliki peran dalam aktivitas

    dan prestasi belajar siswa juga diperkuat dengan pernyataan yang

    dikemukakan oleh Daryanto dan Hery Tarno. Menurutnya siswa yang

    memiliki budaya mutu memiliki motivasi belajar, komitmen dan

    keranjinan yang tinggi dan sebaliknya menolak cara-cara yang tidak fair,

    seperti menyontek, dan sebagainya.47

    45 Sudarwan Danim dan Khairil, op.cit., h. 225.

    46

    Suyono dan Hariyanto, op.cit., h. 135.

    47

    Daryanto dan Hery Tarno. op.cit., h. 40.

  • 27

    Dari pernyataan di atas maka dapat dipahami bahwa, budaya sekolah

    memiliki peran penting terhadap keputusan dan pelaksanaan pendidikan

    yang berlangsung di sekolah asalkan sekolah mampu secara konsisten

    melaksanakan budaya sekolah yang telah menjadi cara hidup masyarakat

    sekolah. Dengan demikian maka peningkatan mutu sekolah yang

    diharapkan dapat tercapai. Karena jika budaya positif sudah ditransfer

    dan ditanamkan dalam aktivitas belajar, maka seluruh bagian dalam

    sekolah akan bergerak untuk berprestasi.

    E. Penelitian Relevan

    Di bawah ini akan dikemukakan hasil penelitian yang relevan dengan

    penelitian ini, antara lain:

    1. Hasil penelitian mengenai budaya sekolah yang dilakukan oleh Desi

    Widiasari dalam skripsi Universitas Negeri Malang (2013) dengan

    judul Transformasi Budaya Disiplin Peserta Didik di SMKPGRI 3

    Malang menunjukkan bahwa peran warga sekolah dalam

    transformasi budaya disiplin peserta didik adalah karena adanya

    komitmen dari warga sekolah untuk mematuhi peraturan, guru yang

    memberikan teladan, guru wali yang memberikan konseling, orang tua

    menjadi kendali untuk anaknya ketika dirumah. Hubungan yang

    dimaksud adalah semakin besar peran lingkungan sekitar siswa dalam

    menerapkan disiplin, semakin tinggi pula nilai positif siswa.

    2. Hasil penelitian mengenai budaya sekolah yang dilakukan oleh Ana

    Purnama dalam skripsi Universitas Indonesia (2013) dengan judul

    Peran Budaya Sekolah Dalam Mendukung Prestasi Belajar Siswa

    menunjukkan bahwa budaya sekolah yang dimiliki oleh SMA Sugar

    Group yang berperan sebagai pendukung prestasi belajar siswa, yaitu

    budaya private study time (PST) dan budaya berbahasa inggris.

    Budaya sekolah yang berperan sebagai pendukung prestasi belajar

    siswa lemah dan tidak sepenuhnya murni hasil proses sosialisasi dan

  • 28

    internalisasi pihak sekolah. Daya dukung prestasi belajar pun lemah.

    Hubungan yang dimaksud adalah semakin baik penerapan budaya

    sekolah, maka semakin baik pula prestasi belajar siswa.

    3. Hasil penelitian mengenai budaya sekolah yang dilakukan oleh

    Albertin Dwi Astuti dalam skripsi Universitas Negeri Yogyakarta

    (2015) dengan judul Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Karakter

    Siswa Kelas X Jurusan Tata Boga SMK Negeri 3 Klaten

    menunjukkan bahwa budaya sekolah terhadap karakter siswa sebesar

    30,2% yang termasuk dalam kategori cukup sehingga bisa

    disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang cukup signifikan antara

    budaya sekolah terhadap karakter siswa. Hubungan yang dimaksud

    adalah semakin positif budaya sekolah yang diterapkan maka semakin

    positif pula karakter siswa yang terbentuk.

    F. Kerangka Berpikir

    Lingkungan belajar merupakan hal yang penting bagi individu

    sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu atau pengetahuan. Lingkungan

    belajar terdiri dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Apabila

    ketiga macam lingkungan tersebut mendukung dan mendorong dalam

    proses belajar seorang siswa maka akan berdampak baik bagi prestasi

    belajar individu. Namun pada nyatanya tidak semua lingkungan belajar

    dalam kondisi yang kondusif, baik kondisi fisik maupun pelaksanaan

    aktivitas pendidikannya. Nyatanya penerapan visi sekolah, disiplin siswa,

    budi pekerti, lingkungan luar sekolah dan program pengajaran belum

    optimal. Serta masih rendahnya tingkat prestasi siswa dan kompetisi

    siswa. Jika kondisi seperti ini terus saja berlangsung tentunya dapat

    mempengaruhi prestasi belajar individu, harapan dan efektivitas aktivitas

    pendidikan di sekolah tersebut.

    Sekolah sebagai lembaga pendidikan tentunya memiliki harapan

    untuk mampu berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan

  • 29

    membentuk lulusan yang berkarakter disiplin dan berprestasi sehingga

    siap untuk berkompetisi dalam segala hal. Oleh sebab itu sekolah perlu

    membangun karakter siswa dan warga sekolah secara serius. Salah

    satunya dengan budaya sekolah, karena lembaga pendidikan tidak hanya

    perlu didukung oleh sarana prasarana, guru berkualitas dan input siswa

    yang baik, tetapi budaya sekolah sangat berperan terhadap peningkatan

    keefektifan sekolah.

    Dilihat dari kondisi yang berlangsung disekolah ini, maka dapat

    dipahami bahwa masalah yang muncul ada pada rendahnya disiplin dan

    prestasi siswa dalam menghadapi kompetisi. Maka seharusnya disiplin

    dan berprestasi di sekolah ini harus ditingkatkan dan diterapkan secara

    sungguh-sungguh dan terus-menerus dalam kegiatan sehari-hari warga

    sekolah sehingga menjadi kebiasaan positif yang terpelihara dalam diri

    warga sekolah sebagai suatu budaya.

    Upaya yang dapat dilakukan sekolah untuk memperbaiki kondisi

    yang berlangsung, yaitu dengan mensosialisasikan nilai visi dan misi

    sekolah di dalam berbagai program sekolah, menanamkan budaya

    disiplin dan efesiensi kepada seluruh warga sekolah, menciptakan budaya

    positif dalam diri siswa, meningkatkan mutu melalui berbagai inovasi

    dan kreativitas program, memfasilitasi siswa dengan kebutuhan proses

    pembelajaran, manajemen sekolah/madrasah yang lebih efektif,

    mengadakan diklat secara berkala kepada tenaga pendidik dan

    kependidikan. Jika cara-cara tersebut bisa terlaksana dengan baik dan

    menjadi sebuah budaya sekolah yang positif tentunya akan memberikan

    dampak positif terhadap aktivitas pendidikan di sekolah ini, yang

    tentunya juga akan mempengaruhi kualitas out put yang dihasilkan.

    Untuk memperjelas kerangka berpikir, maka dibuatkan gambar

    kerangka pemikiran sebagai berikut:

  • 30

    Gambar 2.2 Kerangka Berpikir

    G. Hipotesis Penelitian

    Peneliti memandang perlu untuk memberikan gambaran tentang dugaan serta jawaban

    sementara terhadap rumusan masalah pada penelitian ini, sebagai berikut;

    1 Peran transformasi terhadap siswa paling tinggi 85% dari yang diharapkan.

    2 Keadaan budaya sekolah paling sedikit 75% dari yang diharapkan.

    3 Aktivitas belajar di SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi sama dengan 65% dari

    yang diharapkan.

    Keadaan Nyata

    1. Belum optimalnya penerapan visi

    sekolah.

    2. Kurang optimalnya disiplin siswa.

    3. Belum optimalnya penerapan budi

    pekerti.

    4. Masih rendahnya tingkat prestasi

    siswa.

    5. Peran lingkungan luar sekolah yang

    belum optimal.

    6. Program pengajaran belum optimal.

    INPUT

    Masalah

    Penerapan

    budaya

    disiplin dan

    prestasi

    belajar siswa

    yang belum

    optimal.

    Strategi

    1. Mensosialisasikan nilai visi dan misi

    sekolah di dalam

    berbagai program

    sekolah.

    2. Menanamkan budaya disiplin dan efesiensi

    kepada seluruh warga

    sekolah.

    3. Menciptakan budaya positif dalam diri

    siswa dan tenaga

    pengajar.

    4. Meningkatkan mutu melalui berbagai

    inovasi dan kreativitas

    program.

    5. Manajemen sekolah/madrasah

    yang lebih efektif.

    6. Mengadakan diklat secara berkala kepada

    tenaga pendidik dan

    kependidikan.

    Hasil Hasil

    Hasil

    Terbentuknya

    lulusan yang

    memiliki

    karakter

    disiplin dan

    berprestasi

    dalam

    berkompetisi.

    PROSES OUTPUT

    FEEDBACK

  • 31

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Tempat dan Waktu Penelitian

    1. Tempat Penelitian : SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi yang

    beralamatkan di Jln. Selecta Raya No. 2 Blok VI

    Pengasinan, Perum. Bumi Bekasi Baru-

    Rawalumbu, Bekasi.

    2. Waktu Penelitian : Penelitian dilaksanakan pada bulan November

    2015 sampai Juni 2016.

    B. Metode Penelitian

    Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kuantitatif

    deskriptif dalam bentuk survei terbatas. Informasi yang diperoleh dari

    penelitian ini dilakukan pada populasi atau survei sample mengenai peran

    transformasi budaya sekolah terhadap aktivitas belajar siswa dengan

    menggunakan metode kuesioner yang diajukan melalui angket dengan

    alternatif jawaban menggunakan skala likert sebagai alat pengumpul data

    dan didukung dengan menggunakan metode wawancara. Pengolahan data

    dilakukan dengan proses editing, coding dan skoring tabulating. Sedangkan

    untuk mengetahui kualitas data maka akan dilakukan uji validitas data dan

    realibilitas data. Selanjutnya, data yang diperoleh dari kuesioner akan

    dianalisis dengan analisa frekuensi untuk mengetahui kondisi gambaran

    variabel yang diteliti berdasarkan tanggapan responden.

    C. Populasi dan Sampel

    Untuk keperluan penelitian ini, yang menjadi populasi target dalam

    penelitian ini adalah seluruh siswa SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa

    Bekasi tahun pelajaran 2015-2016 yang berjumlah 194 peserta didik.

    Sedangkan yang menjadi sampel adalah populasi terjangkau, yaitu siswa

  • 32

    kelas VIII dengan tidak memasukkan siswa kelas VII dan IX dengan alasan

    siswa kelas VIII dipilih karena sudah menerima dan masih dalam masa

    mentransformasikan nilai-nilai budaya dalam sekolah dan sebagai karakter

    dalam dirinya selama tiga semester. Oleh karena itu sampel yang ditetapkan

    adalah purposive sampling.

    Tabel 3.1

    Jumlah Peserta Didik SMP Tamansiswa Bekasi 2015-20161

    Jumlah Peserta Didik

    Kelas VII 2 Rombel 63 Siswa

    Kelas VIII 2 Rombel 66 Siswa

    Kelas IX 2 Rombel 65 Siswa

    Total 6 Rombel 194 Siswa

    Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah

    purposive sampling kelas VIII yang berjumlah 66 siswa, karena sampel

    kurang dari 100 atau relatif kecil. Maka seluruh populasi dijadikan sebagai

    sampel penelitian, sehingga penelitian ini termasuk dalam penelitian populasi

    (sensus) atau disebut juga sebagai sampel jenuh.

    D. Teknik Pengumpulan Data

    Pengumpulan data merupakan proses pengadaan data untuk keperluan

    suatu penelitian yang merupakan langkah penting dalam metode ilmiah. Oleh

    karena itu pengumpulan data diperlukan sekali dalam suatu penelitian.

    Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data ini antara lain:

    1. Observasi

    Serangkaian pengumpulan data yang dilakukan secara langsung

    terhadap subjek atau objek penelitian. Dengan mengamati fakta-fakta

    fisik dari objek atau subjek yang diteliti seperti mengamati sikap dan

    prilaku disiplin siswa yang terjadi di lapangan kemudian dijadikan

    sebagai data awal dalam penelitian ini.

    1 Dokumen Perguruan Tamansiswa Cabang Bekasi, Rekapitulasi Jumlah Siswa dan

    Rombongan Belajar SMP Tamansiswa Cabang Bekasi Tahun 2016.

  • 33

    2. Kuesioner (Angket)

    Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan

    dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis

    kepada responden untuk dijawab.2 Angket disebarkan ke seluruh siswa/i

    kelas VIII SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa yang merupakan

    responden dalam penelitian untuk memperoleh data mengenai

    kedisiplinan belajar dikalangan peserta didik sebagai budaya sekolah dan

    aktivitas belajar peserta didik. Adapun data yang ingin digali meliputi

    informasi dari reponden tentang pendapat pribadinya, atau hal-hal yang

    diketahui responden tentang budaya sekolah dan aktivitas belajar.

    3. Studi Dokumen

    Studi dokumen dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk

    memperoleh data yang berkaitan dengan data-data yang diperlukan dan

    data yang dianggap penting, serta memiliki keterkaitan terhadap data

    yang diperlukan dalam penelitian. Data yang diperlukan dalam penelitian

    ini, yaitu data hasil prestasi siswa, tata tertib sekolah, point pelanggaran

    dan data point penghargaan yang berlaku disekolah.

    4. Wawancara

    Dalam penelitian ini peneliti menggunakan wawancara sebagai

    teknik pengumpulan data tambahan dengan melakukan wawancara

    kapada kepala sekolah sebagai pelaksana utama transformasi budaya

    sekolah. Teknik ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang

    pemahaman dan pendapat pribadi narasumber, atau hal-hal yang

    diketahui nara sumber tentang peran transformasi budaya sekolah yang

    berlangsung di SMP (Taman Dewasa) Tamansiswa Bekasi.

    2 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), cet. XIV., h.142.

  • 34

    E. Teknik Pengolahan Data

    Dalam melakuan pengolahan data penulis menempuh cara sebagai berikut:

    1. Editing

    Editing atau mengedit adalah memeriksa kelengkapan jawaban

    dalam daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh responden. Tahap

    ini merupakan langkah awal setelah angket disebar dan diisi oleh

    peserta didik yang menjadi responden. Jadi, setelah angket diisi oleh

    responden dan diserahkan kepada penulis, kemudian penulis

    memeriksa, melakukan pengecekkan satu persatu angket tersebut

    meliputi kelengkapan pengisian, penjelasan penulisan angket dan

    kebenaran pengisian angket. Bila terdapat jawaban yang meragukan

    atau tidak dijawab, penulis akan menghubungi responden yang

    bersangkutan untuk menyempurnakan jawaban. Tujuan dari editing

    adalah mengurangi kesalahan yang ada pada daftar pertanyaan yang

    telah diselesaikan.

    2. Coding

    Coding ialah suatu proses mengklasifikasikan jawaban responden

    menurut macamnya dengan memberikan kode pada jawaban responden.

    Hal ini agar data atau jawaban responden dapat tersusun secara jelas

    sehingga mempermudah dalam pengumpulan dan pengolahan data yang

    telah diisi oleh peserta didik yang menjadi responden.

    3. Scoring

    Scoring adalah tahap pemberian skor atau nilai pada setiap butir

    pertanyaan yang terdapat dalam angket. Dalam penelitian ini

    menggunakan skala likert tujuannya untuk mengukur sikap, pendapat

    dan persepsi seseorang atau sekelompok tentang kejadian dan keadaan

    yang berlangsung. Pemberian skor ditentukan oleh pernyataan positif

    dan negatif, jika pernyataan positif maka skor yang diberikan mulai dari

    5, 4, 3, 2, 1, sedangkan jika pernyataan negatif maka skor dimulai dari

  • 35

    1, 2, 3, 4, 5 dan skor 0 untuk peryataan yang tidak dijawab. Dalam skala

    penelitian ini terdapat lima pilihan alternatif jawaban, yaitu: sangat

    setuju, setuju, kurang setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju. Sehingga

    variasi jawaban responden atas pernyataan yang diajukan semakin

    terpusat.

    Tabel 3.2

    Skala Penilaian

    4. Tabulating

    Tabulating merupakan langkah memasukkan data pada tabel-tabel

    tertentu dan mengatur angka-angka serta menghitungnya. Penulis

    menggunakan tabel data untuk mendeskripsikan data sehingga

    memudahkan penulis dalam memahami struktur dari sebuah data.

    Rumus yang digunakan untuk mendeskripsikan hasil penelitian dengan

    rumus angka persentase yaitu sebagai berikut:

    P =

    x 100%

    Keterangan:

    P = Angka Persentase

    F = Frekuensi Jawaban

    N = Jumlah Responden3

    3 Annas Sudjono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), cet.

    XXII, h. 43.

    Alternatif Bobot Nilai

    Positif Negatif

    Sangat Setuju 5 1

of 171/171
PERAN TRANSFORMASI BUDAYA SEKOLAH TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA SMP (TAMAN DEWASA) TAMANSISWA BEKASI Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Oleh: PUSPA TRESNA HANA YUGA 1111018200008 JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2017
Embed Size (px)
Recommended