Home > Documents > PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN …staff.ui.ac.id/system/files/users/liche/publication/... ·...

PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN …staff.ui.ac.id/system/files/users/liche/publication/... ·...

Date post: 06-Feb-2018
Category:
Author: phamdat
View: 251 times
Download: 13 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 56 /56
PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA Ali Nina Liche Seniati Pidato pada Upacara Pengukuhan sebagai Guru Besar Bidang Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Depok, 28 Oktober 2009
Transcript
  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    Ali Nina Liche Seniati

    Pidato pada Upacara Pengukuhan sebagai Guru Besar Bidang Psikologi

    Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Depok, 28 Oktober 2009

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    1

    Yang terhormat,

    Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia

    Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

    Ketua dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia

    Ketua dan Anggota Senat Akademik Universitas Indonesia

    Ketua dan Anggota Dewan Guru Besar Universitas Indonesia

    Rektor dan para Wakil Rektor Universitas Indonesia

    Para Dekan dan Wakil Dekan di lingkungan Universitas Indonesia

    Ketua dan Wakil Ketua Program Pascasarjana Universitas Indonesia

    Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

    Ketua dan Anggota Senat Akademik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

    Ketua dan Anggota Dewan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

    Para Staf Pengajar Universitas Indonesia

    Para Undangan, Handai Taulan, dan Hadirin yang saya hormati,

    Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

    Di hari yang berbahagia ini, pertama-tama perkenanlah saya dengan segala kerendahan hati menyampaikan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga kita semua dapat berkumpul di sini dalam keadaan sehat. Terima kasih saya sampaikan kepada Ibu, Bapak, dan para undangan yang telah meluangkan waktu dan meringankan langkah untuk menghadiri upacara pengukuhan saya sebagai Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

  • Ali Nina Liche Seniati

    2

    Peristiwa istimewa pada hari ini merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan bagi saya pribadi, keluarga besar saya, serta keluarga besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Para hadirin yang saya hormati,

    Pada kesempatan ini, perkenankanlah saya membaca pidato pengukuhan saya yang berjudul:

    PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    Pengantar

    Judul pidato ini saya pilih karena dalam beberapa tahun terakhir ini, pembahasan tentang Universitas Kelas Dunia merupakan topik hangat yang sedang menjadi perhatian sebagian besar perguruan tinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Sekarang ini, perguruan tinggi yang belum mendapat posisi dalam peringkat Universitas Kelas Dunia terlihat seperti perguruan tinggi yang sangat tertinggal dan harus segera bergegas untuk menata dirinya. Peringkat Universitas Kelas Dunia saat ini seperti menjadi primadona yang merupakan salah satu nilai jual perguruan tinggi. Berbagai usaha dilakukan oleh setiap perguruan tinggi agar dapat masuk dapat peringkat Universitas Kelas Dunia.

    Di Indonesia, usaha-usaha menuju Universitas Kelas Dunia juga mendapat dukungan dari Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA, yang secara tegas menyatakan mendorong Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di seluruh Indonesia berlomba meningkatkan kualitas pendidikannya. Dengan demikian Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta diharapkan segera naik statusnya menjadi Universitas Kelas Dunia. Menurut Mendiknas, tiga kunci menuju Universitas Kelas Dunia adalah keberhasilan merekrut sumber daya manusia (dosen, karyawan, dan mahasiswa) terbaik, kemampuan perguruan tinggi dalam menghimpun dana dengan sukses, serta tata kelola yang baik (jpnn.com, 04 Juli 2009).

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    3

    Dukungan Mendiknas dalam mempersiapkan Universitas Kelas Dunia juga terlihat dalam situs resmi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional yang menuliskan 50 perguruan tinggi di Indonesia yang diunggulkan menjadi Universitas Kelas Dunia.

    Dapat menduduki posisi yang tinggi dalam peringkat Universitas Kelas Dunia memang menjadi dambaan dari hampir semua universitas di dunia. Meskipun terlihat seperti mimpi bagi beberapa perguruan tinggi, bukan tidak mungkin mimpi tersebut dapat terwujud. Yang perlu kita sadari adalah diperlukan usaha yang kuat, konsisten, dan bersinambung dari pimpinan dan sivitas akademika perguruan tinggi untuk mencapai hal tersebut. Profesor Kai-Ming, konseptor Universitas Kelas Dunia di Universitas Hongkong, dalam konferensi jarak-jauh dengan jajaran Dirjen Dikti Depdiknas pada tanggal 13 Februari 2008, menyatakan bahwa membangun Universitas Kelas Dunia bukanlah pekerjaan yang dapat selesai semalam, namun harus dimulai. Jika tidak, kita tidak akan pernah mencapainya (Irwandi, 2008).

    Para hadirin yang saya hormati,

    Peringkat Universitas Kelas Dunia

    Dari penilaian tiga lembaga besar yang menentukan peringkat Universitas Kelas Dunia, yaitu THE-QS (The Times Higher Education-Quacquarelli Symonds) World University Ranking, ARWU (Academic Rangking of World Universities), dan RWWU (Ranking Web of World Universities), beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia berhasil masuk dalam peringkat dunia, walaupun berada di antara peringkat 200 dan 2000. Adapun peringkat utama dipegang oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi terkemuka di Amerika dan Inggris yang memang telah memiliki sejarah panjang dalam bidang pendidikan dan penelitian. Pada Tabel 1 dan 2 di bawah ini disajikan nama-nama perguruan tinggi yang masuk ke dalam peringkat Universitas Kelas Dunia.

  • Ali Nina Liche Seniati

    4

    Tabel 1 Peringkat Utama Universitas Kelas Dunia

    Peringkat THE-QS 2008 ARWU 2008 RWWU 2009 THE-QS 2009

    1 Harvard University

    Harvard University

    Massachusetts Institute of Technology (MIT)

    Harvard University

    2 Yale University Stanford University

    Harvard University

    University of Cambrige

    3 University of Cambrige

    University of California, Berkeley

    Stanford University

    Yale University

    4 University of Oxford

    University of Cambrige

    University of California, Berkeley

    UCL (University College London)

    5 California Institute of Technology

    Massachusetts Institute of Technology (MIT)

    Cornell University

    Imperial College London

    Tabel 2 Peringkat Tiga Besar Perguruan Tinggi di Indonesia

    Nama Perguruan Tinggi

    THE-QS 2008

    RWWU 2009

    THE-QS 2009

    RWWU 2009-Asteng

    THE-QS 2009-Asteng

    Universitas Indonesia

    287 1010 201 21

    5

    Universitas Gadjah Mada

    316 572 250 8 8

    Institut Teknologi Bandung

    315 727 351 13 13

    Keterangan:THEQS:TheTimesHigherEducationQSWorldUniversityRankingARWU:AcademicRankingofWorldUniversitiesRWWU:RankingWebofWorldUniversitiesAsteng:PeringkatUniversitasdiAsiaTenggara

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    5

    Para hadirin yang saya hormati,

    Usaha perguruan tinggi untuk masuk dalam peringkat Universitas Kelas Dunia memang merupakan langkah yang harus dilakukan agar perguruan tinggi menjadi terkenal di tingkat dunia. Dengan masuk ke dalam peringkat Universitas Kelas Dunia, perguruan tinggi membuktikan dirinya memiliki kualitas internasional, yang pada akhirnya memberikan nilai tambah pada dirinya. Namun, pertanyaannya adalah: Apa karakteristik Universitas Kelas Dunia?, Apa kriteria untuk masuk peringkat Universitas Kelas Dunia?, Apa saja yang perlu diperhatikan, dipersiapkan, dan dilakukan perguruan tinggi agar dapat menjadi Universitas Kelas Dunia?, Bagaimana peran pimpinan perguruan tinggi untuk mencapai Universitas Kelas Dunia?, Bagaimana tingkah laku yang seharusnya ditampilkan oleh sumber daya manusia dalam perguruan tinggi, khususnya dosen sebagai ujung tombak perguruan tinggi, agar menjadi Universitas Kelas Dunia?,

    Pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang sangat menggelitik karena cukup banyak diskusi dan komentar mengenai kesiapan perguruan tinggi di Indonesia untuk menjadi Universitas Kelas Dunia. Hal ini terlihat dalam diskusi sehari-hari antardosen dalam perguruan tinggi, dalam berbagai milis dosen, serta dalam berbagai situs yang memuat pembahasan mengenai Universitas Kelas Dunia. Berdasarkan pengalaman pribadi dan pengamatan di beberapa perguruan tinggi, diskusi dengan beberapa pejabat fakultas dan perguruan tinggi lain, serta diskusi dengan rekan-rekan sesama dosen, kondisi yang dapat saya simpulkan adalah: beberapa perguruan tinggi belum mampu menerjemahkan kriteria Universitas Kelas Dunia secara jelas dan konkret. Hal ini berakibat pada kesimpangsiuran mengenai apa yang harus dilakukan perguruan tinggi untuk menjadi Universitas Kelas Dunia dan bagaimana melakukannya.

    Kesimpangsiuran yang muncul dalam perguruan tinggi mengenai apa yang harus dilakukan untuk menjadi Universitas Kelas Dunia, antara lain, disebabkan pimpinan perguruan tinggi belum mampu menerjemahkan visi dan misi perguruan tinggi

  • Ali Nina Liche Seniati

    6

    menjadi langkah konkret yang sejalan dengan pencapaian perguruan tinggi menjadi Universitas Kelas Dunia. Hal ini, pada akhirnya menyebabkan pimpinan perguruan tinggi belum mampu secara konsisten dan terarah menjalankan rencana kegiatan menuju Universitas Kelas Dunia, belum mampu mempersiapkan sarana dan prasarana yang mendukung pencapaian Universitas Kelas Dunia, serta belum mampu menetapkan target dan aturan kerja yang pasti bagi pimpinan, dosen, dan staf pendukung untuk mencapai kriteria Universitas Kelas Dunia. Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, saya menilai psikologi, sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan faktor-faktor yang menyebabkan tingkah laku tersebut, berperan penting dalam membantu perguruan tinggi untuk menata, mempersiapkan diri, dan pada akhirnya mengembangkan diri menjadi Universitas Kelas Dunia.

    Dalam pidato pengukuhan ini, saya mencoba menawarkan konsep baru yaitu Psikologi Perguruan Tinggi. Konsep ini saya ajukan karena perguruan tinggi adalah suatu organisasi yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi pada umumnya. Selain itu, sumber daya manusia dalam perguruan tinggi, khususnya dosen, memiliki sifat pekerjaan yang berbeda dengan pekerjaan lain. Dengan demikian, belum tentu semua teori yang berlaku pada organisasi lain dapat diberlakukan dalam perguruan tinggi. Psikologi Perguruan Tinggi ini saya harap dapat berkembang menjadi cabang baru dalam psikologi, karena sampai saat ini belum ada bidang psikologi yang secara khusus menangani tentang pengelolaan perguruan tinggi. Psikologi Perguruan Tinggi ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan perguruan tinggi khususnya dalam mengelola sumber daya manusianya. Dalam Psikologi Perguruan Tinggi akan dibahas tentang penerapan psikologi kognitif, psikologi belajar, psikometri, serta psikologi industri dan organisasi, yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya manusia dan tingkah laku keorganisasian dalam perguruan tinggi. Melalui Psikologi Perguruan Tinggi ini diharapkan semua bentuk perguruan tinggi dapat mengelola institusinya agar mampu menembus peringkat utama Universitas Kelas Dunia.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    7

    Para hadirin yang saya hormati,

    Dalam upaya menjadi Universitas Kelas Dunia, tentunya perguruan tinggi pertama kali harus mengenali karakteristik Universitas Kelas Dunia. Ada berbagai karakteristik Universitas Kelas Dunia yang diberikan oleh tokoh yang berbeda. Salmi (2009) menyatakan ada tiga karakteristik utama Universitas Kelas Dunia, yaitu (1) perhatian yang tinggi terhadap talenta dosen dan mahasiswa, (2) sumber daya yang banyak untuk menyediakan lingkungan belajar yang kaya dan untuk melakukan penelitian-penelitian yang canggih, dan (3) tata kelola yang mendorong pada visi yang strategis, inovatif, dan fleksibel sehingga membuat perguruan tinggi mampu membuat keputusan dan mengelola sumber daya tanpa dibebani oleh masalah birokrasi. Pada gambar 1 di bawah ini diperlihatkan tiga karakteristik utama Universitas Kelas Dunia.

    Gambar 1. Karakteristik Universitas Kelas Dunia. Dikutip dari J.

    Salmi, 2009, The Challenge of Establishing World-Class Universities, The World Bank.

  • Ali Nina Liche Seniati

    8

    Kai-Ming Cheng (dalam Irwanto, 2008) mengatakan empat hal yang harus ada dalam Universitas Kelas Dunia adalah reputasi internasional, prestasi penelitian, lulusan yang terkemuka, dan partisipasi internasional. Menurut Kai-Ming Cheng, jika keempat hal ini belum terpenuhi, jangan bermimpi dulu menjadi Universitas Kelas Dunia. Karakteristik lain tentang Universitas Kelas Dunia dikemukakan oleh Wang (2001), yaitu (1) Universitas Kelas Dunia harus berciri internasional, dalam arti merekrut dosen peringkat utama dan menerima mahasiswa dari seluruh dunia, (2) Universitas Kelas Dunia harus terbuka, di mana mahasiswa, dosen, karyawan, dan anggota universitas lainnya memperlakukan satu sama lain secara setara dan saling tukar menukar ide tanpa ada batasan, serta terbuka terhadap dunia luar perguruan tinggi, (3) Universitas Kelas Dunia harus kritis dalam menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru, dan (4) Universitas Kelas Dunia harus inklusif, dalam arti meliputi semua bidang ilmu dan juga bersifat lintas-ilmu. Dari berbagai karakteristik ini, saya menyimpulkan bahwa Universitas Kelas Dunia haruslah memiliki kualitas internasional dari sisi mahasiswa, dosen, dan peneliti; memiliki sumber daya yang mendukung pelaksanaan penelitian tingkat dunia, serta adanya tata kelola yang baik dalam perguruan tinggi.

    Para hadirin yang saya hormati,

    Kriteria Universitas Kelas Dunia

    Selain karakteristik Universitas Kelas Dunia, perlu kita perhatikan pula kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perguruan tinggi masuk ke dalam peringkat Universitas Kelas Dunia. Tiga lembaga besar pemberi peringkat Universitas Kelas Dunia memberikan kriteria yang berbeda satu dengan yang lain, karena masing-masing memberikan perhatian dan mengukur aspek-aspek yang berbeda. Dalam Tabel 3, 4, dan 5 berikut ini akan disajikan kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh ketiga lembaga tersebut.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    9

    Tabel 3 Kriteria Penentuan Peringkat Universitas Kelas Dunia menurut THE-QS (The Times Higher Education-QS World University Ranking)

    Kritera Indikator Bobot

    Mitra Bestari Akademik Skor yang diperoleh dari survei penilaian mitra bestari (yang dibagi dalam 5 bidang ilmu)

    40%

    Penilaian Pemberi Kerja Skor berdasarkan respons terhadap survei pemberi kerja

    10%

    Rasio Dosen : Mahasiswa

    Skor berdasarkan rasio dosen dan mahasiswa

    20%

    Kutipan per Dosen Skor berdasarkan unjuk kerja penelitian yang dibandingkan dengan jumlah keseluruhan penelitian

    20%

    Dosen Internasional Skor berdasarkan proporsi dosen internasional

    5%

    Mahasiswa Internasional

    Skor berdasarkan proporsi mahasiswa internasional

    5%

    Tabel 4 Kriteria Penentuan Peringkat Universitas Kelas Dunia menurut ARWU (Academic Ranking of World Universities)

    Kritera Indikator Bobot

    Kualitas Pendidikan Jumlah alumni yang memenangi hadiah Nobel dan medali dalam bidangnya

    10%

    Kualitas Dosen Jumlah dosen yang memenangi hadiah Nobel dan medali dalam bidangnya

    Jumlah peneliti yang tulisannya dikutip dalam 21 kategori bidang ilmu pengetahuan

    20%

    Keluaran Penelitian Jumlah artikel yang dipublikasikan dalam jurnal Nature and Science*

    Jumlah artikel yang di-indeks-kan dalam Science Citation Index dan Social Science Citation Index

    20%

    Unjuk Kerja per Kapita Unjuk kerja dosen per kapita 10%

    *: Untuk institusi yang memiliki spesialisasi dalam bidang sosial humaniora, jurnal Nature and Science tidak diperhitungkan, bobot untuk jurnal tersebut dialokasikan untuk indikator lain

  • Ali Nina Liche Seniati

    10

    Tabel 5 Kriteria Penentuan Peringkat Universitas Kelas Dunia menurut RWWU (Ranking Web of World Universities)

    Kriteria Indikator Bobot

    Websize Jumlah halaman yang ditemukan oleh mesin pencari: Google, Yahoo, Live Search, dan Exalead

    20%

    Rich File Banyaknya file dalam bentuk: Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc), dan Microsoft Powerpoint (.ppt) yang ditemukan oleh mesin pencari

    15%

    (Google) Scholar Jumlah makalah, laporan, dan naskah akademis lainnya yang dikutip

    15%

    (Link) Visibility Jumlah jaringan eksternal yang terkandung dalam situs perguruan tinggi

    50%

    Para hadirin yang saya hormati,

    Mengamati ketiga kriteria penilaian di atas jelas terlihat bahwa setiap lembaga menilai dari aspek-aspek yang berbeda. Untuk dapat menduduki peringkat yang tinggi pada setiap lembaga penilai, perguruan tinggi harus memenuhi semua kriteria yang dituntut oleh lembaga penilai. Yang menjadi masalah utama adalah: Bagaimana perguruan tinggi dapat menuntut setiap orang yang ada dalam perguruan tinggi untuk memenuhi semua tuntutan tersebut?.

    Dari berbagai kriteria yang ada, satu kriteria yang berlaku sama pada ketiga lembaga penilai adalah jumlah publikasi penelitian dari dosen perguruan tinggi yang dikutip oleh peneliti lain. Dengan demikian, masalah publikasi penelitian ini merupakan faktor penting yang perlu ditangani secara serius oleh perguruan tinggi. Untuk mendukung perguruan tinggi menjadi Universitas Kelas Dunia, antara lain dalam ukuran publikasi penelitian, perlu penelaahan yang cukup mendalam mengenai tingkah laku sumber daya manusia yang berkaitan dengan publikasi penelitian.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    11

    Sumber daya manusia terpenting dalam publikasi penelitian adalah dosen, yang salah satu tugas utamanya adalah melakukan penelitian dan mempublikasikan hasil penelitiannya. Dari berbagai pendekatan dalam pengelolaan sumber daya manusia, saya melihat bahwa perguruan tinggi perlu menggunakan pendekatan pengelolaan sumber daya manusia sebagai human capital, dengan memperhatikan pengetahuan, keterampilan, talenta, kompetensi, yang dimiliki dosen; serta memperhatikan pula persepsi dan sikap dosen terhadap dirinya dan lingkungan kerjanya. Pada dasarnya setiap dosen memiliki potensi dan mampu untuk berkembang. Adalah tugas perguruan tinggi untuk menggali dan mengembangkan potensi tersebut, sehingga setiap dosen mampu menjadi mutiara yang memancarkan kilaunya sesuai dengan keunggulan pribadi dosen yang sejalan dengan keunggulan perguruan tinggi.

    Para hadirin yang saya hormati,

    Rendahnya Kualitas dan Kuantitas Penelitian di Indonesia

    Tidak dapat dipungkiri bahwa jumlah penelitian yang dilakukan di Indonesia masih sangat sedikit, dan lebih sedikit lagi yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah atau disajikan dalam seminar nasional dan internasional. Menurut Siti Meiningsih, Peneliti pada Pusat Penelitian Perkembangan Iptek (Pappiptek) LIPI, publikasi penelitian di Indonesia dalam kurun waktu 2004-2008 hanya berjumlah 2.874, jauh di bawah Malaysia yang mencapai 8.000 publikasi, Thailand yang hampir mencapai 15.000, dan Singapura yang mempublikasi lebih dari 30.000 penelitian (ANTARA News, 23 Desember 2008). Dengan demikian, perhatian utama perguruan tinggi di Indonesia adalah meningkatkan jumlah penelitian dan publikasi ilmiah yang berkualitas.

    Meskipun beberapa tahun terakhir ini terlihat adanya peningkatan dalam jumlah penelitian, yang antara lain terlihat dari jumlah dana penelitian DIKTI yang diserap oleh dosen dan peneliti di Indonesia, peningkatan yang menonjol belum terlihat

  • Ali Nina Liche Seniati

    12

    dalam jumlah publikasi yang berkualitas. Hal ini juga dialami oleh Jurnal Makara Seri Sosial Humaniora yang dikelola oleh Direktorat Riset dan Pengabdian pada Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia. Sebagai salah satu jurnal yang kembali mendapatkan akreditasi nasional pada bulan Juni 2008, Jurnal Makara Seri Sosial Humaniora boleh dikatakan kebanjiran artikel. Sayangnya, kebanyakan artikel memiliki kualitas yang kurang memadai. Hal ini, antara lain, terlihat dari ketidaksesuaian judul dengan pembahasan dan kesimpulan, metode penelitian yang kurang tepat untuk menjawab masalah atau menguji hipotesis penelitian, atau analisis yang terlalu sederhana. Akibatnya, banyak artikel yang ditolak atau harus banyak direvisi. Di sisi lain, mitra bestari yang dipilih pengelola jurnal untuk menilai artikel yang masuk, seringkali membutuhkan waktu yang lama dalam melakukan penilaian. Hal ini mengakibatkan pengelola Jurnal Makara harus bekerja keras untuk menjaring artikel berkualitas dari berbagai perguruan tinggi, berulang kali mengingatkan kembali para mitra bestari untuk menyelesaikan tugas menilai artikel, serta mengedit kembali artikel sesuai dengan tuntutan kualitas Jurnal Makara.

    Para hadirin yang saya hormati,

    Sebagaimana analisis psikologi terhadap berbagai tingkah laku manusia, analisis terhadap tingkah laku dosen dalam melakukan penelitian dan mempublikasikan hasil penelitian dapat dilihat dari faktor pribadi dan faktor lingkungan perguruan tinggi. Pembahasan dari sudut faktor pribadi tentunya berkaitan dengan diri dosen itu sendiri, seperti jenis kelamin, masa kerja, tingkat pendidikan, serta kepribadian. Adapun faktor lingkungan secara keseluruhan meliputi nilai, budaya, dan iklim organisasi; dan secara khusus meliputi pimpinan perguruan tinggi, rekan kerja, sarana dan prasarana, serta pengelolaan sumber daya manusia dalam organisasi. Faktor-faktor lingkungan ini akan berkaitan dengan kepuasan kerja, komitmen dosen pada perguruan tinggi serta tingkah laku-tingkah laku keorganisasian lainnya yang mendukung pencapaian Universitas Kelas Dunia.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    13

    Dalam beberapa jurnal internasional, khususnya Research on Higher Education, sebenarnya cukup banyak penelitian mengenai perguruan tinggi ditinjau dari sudut pandang psikologi. Namun, penelitian tersebut masih bersifat spesifik mengenai hal tertentu. Di Indonesia, juga masih sedikit ditemukan hasil penelitian mengenai perguruan tinggi. Sampai saat ini saya belum menemukan teori-teori dan penelitian-penelitian psikologi yang secara komprehensif membahas tentang dosen atau pemimpin perguruan tinggi dalam kaitannya dengan Universitas Kelas Dunia. Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya banyak mendasarkan diri dari pengalaman pribadi serta hasil diskusi dengan rekan-rekan dosen dari berbagai fakultas dan perguruan tinggi di Indonesia.

    Berdasarkan pengalaman saya dan para manajer riset di lingkungan Universitas Indonesia, salah satu alasan klasik yang sering dikemukakan berkaitan dengan rendahnya kuantitas dan kualitas penelitian adalah kurangnya kemampuan dosen dan adanya ketakutan dosen untuk melakukan penelitian. Hal ini juga diperkuat dengan adanya persepsi yang salah bahwa penelitian adalah sesuatu yang sulit dan berat untuk dilakukan. Selain itu, cukup banyak dosen yang memiliki keyakinan negatif bahwa dirinya tidak menguasai metode penelitian dan statistik sehingga merasa tidak mampu untuk melakukan penelitian. Hal ini membuat dosen semakin tidak berani untuk mencoba menulis proposal dan melakukan penelitian. Untuk mengatasi hal tersebut, perguruan tinggi harus secara rutin melakukan kegiatan yang memancing minat untuk meneliti dan mengasah keterampilan dosen dalam penelitian, antara lain dengan memberikan pelatihan yang berisi materi tentang metode penelitian dan analisis data, latihan menulis proposal, latihan menganalisis data kuantitatif maupun kualitatif, serta mengadakan seminar ilmiah yang membahas proposal penelitian dan hasil penelitian.

    Dari sudut psikologi kognitif, yang menganalisis tingkah laku manusia berdasarkan proses informasi dalam diri manusia, salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah penelitian adalah mengubah persepsi yang salah tersebut

  • Ali Nina Liche Seniati

    14

    dan membentuk persepsi baru yang lebih positif mengenai penelitian. Mulai sekarang, dalam diri setiap dosen harus ditanamkan persepsi baru bahwa melakukan penelitian bukanlah hal yang sulit dan berat. Sering kali, kesulitan pertama yang dirasakan oleh dosen dan menghambat dosen untuk melakukan penelitian adalah sulitnya mencari topik penelitian. Hal ini seharusnya tidak boleh dijadikan alasan tidak dapat melakukan penelitian. Sebenarnya topik penelitian selalu ada di hadapan kita, dalam lingkungan kita sehari-hari. Yang dibutuhkan adalah kepekaan dan ketajaman mata, telinga, dan hati kita untuk melihat apa yang menarik dan dapat diteliti. Untuk menjadi seorang peneliti, yang diperlukan adalah kemauan dan ketertarikan untuk mengamati berbagai gejala yang ada di sekitar kita, keinginan untuk mempelajari berbagai metode penelitian dan teknik analisis data, ketekunan membaca hasil-hasil penelitian serta teori-teori yang berkembang, serta kegigihan untuk menyatakan pendapat dan menyampaikan hasil pemikiran dalam bentuk tulisan.

    Untuk membentuk dan meningkatkan keinginan meneliti dalam diri dosen, perguruan tinggi perlu melakukan modifikasi tingkah laku dosen dengan menggunakan prinsip belajar operan, yang dikembangkan Edward Thorndike. Prinsip belajar operan ini menekankan adanya law of effect, di mana konsekuensi yang diterima individu atas tingkah laku yang ditampilkannya akan mengarahkan kemungkinan munculnya kembali tingkah laku tersebut di masa yang akan datang (Lahey, 2007). Perguruan tinggi dapat menerapkan tiga cara pemberian konsekuensi, yaitu pemberian penguatan positif (positive reinforcement), penguatan negatif (negative reinforcement), dan hukuman (punishment). Ketiga bentuk konsekuensi ini digunakan untuk tujuan yang berbeda. Untuk meningkatkan tingkah laku dosen dalam penelitian, konsekuensi yang dapat digunakan adalah pemberian penguatan positif dan penguatan negatif. Di sisi lain, untuk mengurangi tingkah laku yang tidak diharapkan, yaitu malas melakukan penelitian dan membuat publikasi, maka dapat digunakan hukuman.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    15

    Pemberian penguatan positif dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan kepada para dosen yang telah berusaha untuk menulis proposal, melakukan penelitian, dan mempublikasikan hasil penelitiannya. Dengan adanya penghargaan ini, diharapkan dosen akan lebih produktif dalam meneliti dan mempublikasikan hasil penelitian. Pemberian penghargaan dengan cara ini, pada awalnya memang menjadi motivasi ekstrinsik bagi para dosen untuk melakukan penelitian. Diharapkan kemudian dosen memiliki motivasi intrinsik untuk melakukan penelitian karena merasakan kepuasan tersendiri dari hasil penelitian yang dilakukan. Di Universitas Indonesia, pemberian penghargaan dalam bidang penelitian selalu diberikan pada saat Dies Natalis Universitas Indonesia, antara lain dalam bentuk pemilihan peneliti muda terbaik dan peneliti terbaik, serta pemberian penghargaan kepada peneliti yang menerima hak paten dan peneliti yang mempublikasikan penelitiannya pada jurnal internasional.

    Cara lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah penelitian dan publikasi ilmiah adalah dengan menggunakan penguatan negatif yang membuat dosen berusaha menghindar dari situasi yang dirasakan negatif atau kurang menyenangkan. Situasi negatif ini sebenarnya tanpa disadari sudah dialami oleh mereka yang tidak terlalu produktif dalam penelitian, yang terlihat dari lambatnya kenaikan pangkat dosen karena kurangnya nilai kumulatif untuk bidang penelitian. Namun, bagi kebanyakan dosen, kenaikan pangkat ini sering kali juga bukan merupakan hal yang dianggap sesuatu yang negatif sehingga tidak mendorong dosen untuk banyak meneliti dan membuat publikasi. Ini berarti, perguruan tinggi perlu menentukan situasi seperti apa yang dirasakan sebagai situasi yang negatif dan membuat dosen merasa tidak nyaman jika tidak melakukan penelitian dan publikasi.

    Cara ketiga yang dapat diterapkan oleh perguruan tinggi untuk mengurangi kemalasan dosen dalam penelitian adalah memberikan hukuman kepada dosen. Sebagai suatu konsekuensi negatif, hukuman ini harus benar-benar dirasakan dampaknya

  • Ali Nina Liche Seniati

    16

    negatifnya oleh dosen. Untuk menentukan bentuk hukuman apa yang dirasakan paling tepat untuk meningkatkan penelitian dapat dilakukan survei kepada para dosen, baik melalui kuesioner ataupun diskusi kelompok terfokus. Dengan menentukan sendiri target penelitian dan bentuk hukuman yang sungguh-sungguh dirasakan sebagai hukuman, akan menimbulkan motivasi intrinsik dalam diri dosen untuk melakukan penelitian dan mempublikasi hasil penelitian.

    Para hadirin yang saya hormati,

    Alasan klasik berikutnya yang seringkali dikemukakan dosen berkaitan dengan rendahnya jumlah publikasi adalah kurangnya keterampilan dosen dalam mempublikasikan hasil penelitian. Untuk mengatasi hal tersebut, Dirjen Dikti Depdiknas telah menyediakan anggaran yang cukup besar dan menyelenggarakan pelatihan penulisan ilmiah untuk jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Kegiatan ini seringkali diadakan oleh Dirjen Dikti Depdiknas dengan bantuan Universitas Indonesia melalui Direktorat Riset dan Pengabdian pada Masyarakat. Dari daftar hadir peserta, sebenarnya cukup banyak yang mengikuti kegiatan tersebut. Sayangnya, sering kali kegiatan tersebut tidak sampai pada hasil akhir dalam bentuk publikasi artikel dalam jurnal ilmiah nasional ataupun internasional. Selain itu, masalah yang sering kali dialami oleh para peneliti bidang sosial humaniora adalah sulitnya menembus jurnal internasional. Hal ini menuntut adanya peran serta dari pimpinan perguruan tinggi untuk membina kerja sama dengan para pengelola jurnal ilmiah internasional dalam bentuk pelatihan penulisan artikel ilmiah internasional dan memberi kesempatan pada peneliti Indonesia untuk memasukkan tulisannya dalam jurnal tersebut.

    Kurangnya waktu untuk meneliti dan menulis artikel karena padatnya kesibukan mengajar adalah alasan klasik lain yang dikemukakan dosen. Alasan ini merupakan hal yang menarik untuk dianalisis lebih jauh dan dicarikan solusinya sehingga tidak dijadikan alasan yang dapat menghambat

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    17

    perguruan tinggi untuk mencapai peringkat Universitas Kelas Dunia. Berkaitan dengan faktor keterbatasan waktu perlu ditelaah kembali bagaimana beban kerja pengajaran dari setiap dosen dalam perguruan tinggi. Sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, pekerjaan dosen haruslah meliputi kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat. Oleh karena itu, pimpinan fakultas harus mampu mengatur beban kerja setiap dosen agar setiap dosen mampu menjalankan ketiga tugas tersebut secara baik sehingga menghasilkan prestasi kerja yang baik pula.

    Para hadirin yang saya hormati,

    Alasan menjadi Dosen dan Publikasi Penelitian

    Mengamati rendahnya publikasi penelitian dan alasan klasik yang dikemukakan berkaitan dengan hal tersebut, saya tertarik untuk membahasnya berdasarkan hasil penelitian Seniati (2002) pada dosen Universitas Indonesia. Pada penelitian tersebut, ditemukan bahwa alasan utama dosen untuk memilih bekerja sebagai dosen di Universitas Indonesia adalah karena memiliki minat yang tinggi pada pendidikan dan pengajaran serta ingin mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan. Adapun alasan menjadi dosen karena menyenangi penelitian hanya diberikan oleh sebagian kecil dosen.

    Melihat temuan tersebut, sangatlah masuk akal bahwa dosen lebih senang mengajar dan berbagi ilmu dengan mahasiswa di kelas. Hal ini juga terlihat dengan banyaknya dosen yang selalu rajin untuk datang mengajar, tetapi setelah itu menghilang entah ke mana. Selain itu, masuk akal juga bahwa akhirnya jumlah penelitian di Universitas Indonesia hanya sedikit. Kenyataan juga menunjukkan bahwa mereka yang mengajukan proposal penelitian, mendapat dana penelitian, dan kemudian mempublikasikan hasil penelitian adalah orang yang itu-itu juga. Mereka itulah yang memang menyukai penelitian dan mengembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan penelitian, bukan hanya berdasarkan

  • Ali Nina Liche Seniati

    18

    membaca buku dan kemudian menyampaikannya kembali di dalam kelas.

    Kembali pada semangat menjadi Universitas Kelas Dunia, faktor alasan menjadi dosen merupakan isu penting yang harus dicermati oleh perguruan tinggi. Dari hasil penelitian Seniati (2002), diduga alasan menjadi dosen ini akan mempengaruhi komitmen dosen pada perguruan tinggi. Dosen yang bekerja di perguruan tinggi karena alasan lebih tertarik pada bidang pengajaran diduga kurang memiliki keinginan yang kuat untuk meneliti dan turut mengembangkan perguruan tinggi sebagai suatu organisasi.

    Para hadirin yang sangat hormati,

    Komitmen Dosen terhadap Universitas

    Mimpi setiap perguruan tinggi untuk menjadi Universitas Kelas Dunia barulah dapat terwujud jika setiap dosen dalam perguruan tinggi memiliki komitmen yang tinggi terhadap perguruan tinggi. Dengan kata lain, diharapkan dosen memiliki komitmen organisasi yang tinggi, yaitu keterikatan yang tinggi kepada organisasi tempat ia bekerja. Allen dan Meyer (1990) menyatakan bahwa komitmen organisasi terdiri dari komitmen afektif, komitmen kontinuans, dan komitmen normatif.

    Komitmen afektif adalah keterikatan emosional dosen pada perguruan tinggi, identifikasi dosen pada perguruan tinggi, serta keterlibatan dosen pada berbagai kegiatan dalam perguruan tinggi. Dosen yang memiliki komitmen afektif yang tinggi memiliki keinginan untuk peduli terhadap perkembangan perguruan tinggi, mau terlibat dalam kegiatan-kegiatan perguruan tinggi, dan mau memberikan yang terbaik untuk perguruan tinggi. Komitmen kontinuans adalah keterikatan dosen pada perguruan tinggi yang didasarkan pada pertimbangan keuntungan yang didapat jika bertahan dalam perguruan tinggi, serta kerugian yang akan diperoleh jika meninggalkan perguruan tinggi. Adapun komitmen normatif adalah keterikatan dosen pada

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    19

    perguruan tinggi lebih karena merasa ada kewajiban untuk tetap setia bekerja di perguruan tinggi.

    Setiap dosen dapat memiliki tingkat komitmen yang bervariasi pada ketiga komponen di atas. Dari ketiga komponen komitmen organisasi tersebut, yang diharapkan ada pada setiap dosen adalah komitmen afektif yang tinggi. Dengan demikian, dosen bekerja dan terus bertahan dalam perguruan tinggi memang karena ingin bekerja dan secara emosional mencintai perguruan tingginya, bukan karena merasa rugi jika meninggalkan perguruan tinggi, atau karena kesetiaan saja tanpa usaha untuk mengembangkan perguruan tinggi.

    Komitmen organisasi merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan oleh perguruan tinggi yang sedang mengembangkan diri menjadi universitas kelas dunia. Komitmen organisasi yang dimiliki dosen memang bukanlah indikator terukur yang menjadi kriteria langsung dari penentuan peringkat Universitas Kelas Dunia, namun komitmen ini memegang peran penting sehubungan dengan berbagai tingkah laku keorganisasian lainnya yang memberikan dampak terhadap pencapaian harapan perguruan tinggi menjadi Universitas Kelas Dunia.

    Dari berbagai penelitian mengenai komitmen organisasi yang dilakukan pada organisasi bisnis, ditemukan bahwa komitmen organisasi mempengaruhi tingkah laku keorganisasian lainnya seperti tingkat kehadiran, produktivitas kerja, keinginan untuk berkorban bagi organisasi, serta intensi untuk tetap bekerja pada organisasi (Angle & Perry, 1981; Caldwell, Chatman, & OReilly, 1990; Greenberg & Baron, 2000; Mowday, Porter & Steers, 1982). Meskipun belum banyak penelitian yang secara khusus melihat hal ini pada dosen perguruan tinggi, saya menduga pengaruh yang sama akan muncul dalam perguruan tinggi sebagai organisasi pendidikan tinggi.

    Dampak dari komitmen terhadap perguruan tinggi dapat terlihat antara lain dari prestasi yang dicapai dosen dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi serta intensi untuk terus menjadi dosen. Penelitian Narimawati (2007) menemukan

  • Ali Nina Liche Seniati

    20

    bahwa semakin tinggi kepuasan kerja dan komitmen organisasi dalam diri dosen, maka semakin rendah keinginannya untuk meninggalkan perguruan tinggi. Selain itu juga ditemukan bahwa kepuasan kerja dan komitmen organisasi merupakan faktor yang berperan penting dalam kinerja dosen dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat.

    Para hadirin yang saya hormati,

    Kepuasan Kerja dan Komitmen Dosen pada Perguruan tinggi

    Dari berbagai hasil penelitian mengenai komitmen dosen pada perguruan tinggi, saya menyimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan satu faktor penting yang berperan dalam membentuk komitmen dosen pada perguruan tinggi. Adapun salah satu aspek kepuasan kerja yang paling menentukan komitmen dosen pada perguruan tinggi adalah kepuasan kerja pada pimpinan perguruan tinggi. Selain itu, beberapa aspek kepuasan kerja secara konsisten ditemukan memiliki pengaruh terhadap komitmen dosen pada perguruan tinggi (Seniati, 2002; Seniati, 2004; Ambrose, Houston, & Norman, 2005). Dengan demikian, perguruan tinggi perlu memberikan perhatian pada beberapa aspek kepuasan kerja yang mempengaruhi komitmen dosen pada perguruan tinggi. Untuk itu akan saya kemukakan berbagai hasil penelitian mengenai aspek-aspek kepuasan kerja yang mempengaruhi komitmen dosen pada perguruan tinggi.

    Dalam penelitian Seniati (2002) pada dosen Universitas Indonesia ditemukan bahwa aspek-aspek kepuasan dosen yang mempengaruhi komitmen dosen pada perguruan tinggi adalah kepuasan terhadap pimpinan universitas, komunikasi dalam universitas, rekan kerja, serta kondisi lingkungan kerja. Pada penelitian yang dilakukan pada dosen-dosen perguruan tinggi negeri di Jakarta, Bogor, dan Jogjakarta ditemukan bahwa komitmen dosen pada perguruan tinggi dipengaruhi oleh kepuasan dosen terhadap pimpinan perguruan tinggi, kesempatan promosi dan melanjutkan pendidikan, pekerjaan sebagai dosen,

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    21

    imbalan dan tunjangan, serta kondisi lingkungan kerja (Seniati, 2004). Sementara itu, hasil penelitian Ambrose, Huston, dan Norman (2005) pada dosen-dosen di Amerika menemukan bahwa gaji; hubungan kolegial; pembimbingan bagi dosen muda; proses penugasan kembali, promosi, dan kepangkatan; serta dukungan dari kepala departemen adalah aspek-aspek kepuasan kerja yang membuat dosen tetap bertahan bekerja di perguruan tinggi. Dari berbagai aspek kepuasan kerja ini, aspek yang cukup konsisten muncul adalah kepuasan terhadap pimpinan, gaji, kesempatan promosi, dan lingkungan kerja.

    Peran Pemimpin dalam Universitas Kelas Dunia

    Hasil-hasil penelitian di atas secara konsisten menemukan bahwa pimpinan perguruan tinggi merupakan faktor penting yang berperan dalam membentuk komitmen dosen pada perguruan tinggi. Dalam situasi kerja perguruan tinggi yang bersifat kolegial, saya berpendapat bahwa pemimpin yang mampu menyampaikan visi dan misi perguruan tinggi dan fakultas; berkomunikasi dan berinteraksi dengan dosen, mengatasi masalah yang terjadi tanpa menimbulkan masalah baru; mengambil keputusan yang tepat; membagi tugas dan beban kerja secara adil, serta menilai dosen berdasarkan kompetensi dosen bukan berdasarkan senioritas dan pertemanan, adalah pemimpin yang mampu membentuk, meningkatkan dan mempertahankan komitmen dosen pada perguruan tinggi.

    Dalam upaya memperoleh peringkat yang tinggi sebagai Universitas Kelas Dunia, pimpinan perguruan tinggi seharusnya juga mampu menampilkan ciri-ciri pemimpin dengan kualitas kepemimpinan global. Mengutip Setiadi (2008) mengenai ciri kepemimpinan global, pemimpin perguruan tinggi seharusnya adalah seseorang yang visioner dan inspiratif, memiliki integritas sehingga dapat dipercaya oleh orang-orang dalam lingkungan perguruan tinggi, memiliki nilai menghargai martabat manusia dan mendahulukan kepentingan yang lebih besar, serta memiliki kepekaan lintas budaya dan budaya lokal. Ciri yang terakhir ini penting dimiliki pimpinan perguruan tinggi karena seorang

  • Ali Nina Liche Seniati

    22

    pemimpin perguruan tinggi yang baik harus menyadari bahwa perguruan tinggi yang dipimpinnya memiliki karakteristik yang berbeda dengan perguruan tinggi lain, baik dengan perguruan tinggi di dalam maupun di luar negeri, serta memiliki keunggulannya tersendiri yang harus dikembangkan sehingga mampu menjadi Universitas Kelas Dunia. Dengan memperhatikan budaya lokal, pimpinan perguruan tinggi akan mampu menyusun rencana strategis, visi, misi, dan sasaran kerja yang sesuai dengan ciri khas perguruan tinggi Indonesia. Dengan demikian, sivitas akademika yang akan menjalankan kegiatan-kegiatan yang ditetapkan tidak akan merasa asing dalam dunia kerjanya sendiri.

    Berbicara mengenai kepemimpinan, berdasarkan pengamatan saya dan rekan-rekan dosen dari berbagai perguruan tinggi, satu kondisi yang umumnya terjadi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia adalah berubahnya sasaran dan rencana kerja ketika terjadi pergantian pemimpin perguruan tinggi. Ada kecenderungan pemimpin baru ingin menciptakan dan melakukan hal baru, yang berbeda dari pemimpin sebelumnya. Kecenderungan lain adalah kurangnya keinginan untuk melihat apa yang telah dicapai dan belum dapat dicapai oleh pemimpin sebelumnya sehingga dapat meneruskan yang sudah baik dan memperbaiki yang kurang. Seorang pemimpin perguruan tinggi seharusnya memiliki komitmen yang tinggi untuk menjalankan perguruan tinggi sesuai dengan visi, misi, dan rencana strategis yang telah ditetapkan. Untuk menunjang keberhasilan perguruan tinggi, seharusnya pimpinan perguruan tinggi juga memiliki ciri-ciri seorang peneliti, antara lain, kritis, selalu ingin tahu, dan mau belajar dari orang lain. Hal ini, antara lain, ditunjukkan dengan keinginan untuk mempelajari laporan dari pemimpin sebelumnya, membiasakan diri untuk melakukan penelitian dalam perguruan tinggi mengenai masalah-masalah yang ada sebelum membuat keputusan. Dengan kata lain, pemimpin yang baik seharusnya mampu untuk melihat masalah secara objektif dan akurat, serta tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pembicaraan dan perdebatan semata tanpa didukung data yang kuat.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    23

    Berkaitan dengan salah satu kunci utama menuju Universitas Kelas Dunia yang disebutkan oleh Mendiknas, yaitu tata kelola, maka peran pemimpin juga bisa dilihat dari efektivitasnya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pimpinan. Tata kelola ini berkaitan dengan kemampuan manajerial yang seharusnya dimiliki oleh pimpinan fakultas dan perguruan tinggi. Penelitian Heck, Johnsrud, dan Rosser (2000) menemukan tujuh kemampuan manajerial yang seharusnya dimiliki oleh pimpinan perguruan tinggi yang efektif. Ketujuh dimensi tersebut adalah keterampilan komunikasi, dukungan terhadap perbedaan institusional, manajemen unit kerja, penetapan visi dan tujuan, hubungan interpersonal, kualitas pendidikan dari unit kerja, serta usaha yang keras dalam penelitian dan profesionalisme.

    Berdasarkan pengamatan saya, kemampuan manajerial ini merupakan salah satu hal yang perlu dikembangkan pada pimpinan fakultas dan perguruan tinggi sekarang ini, sehingga mampu memimpin perguruan tinggi yang memiliki hubungan kerja yang lebih kolegial. Karakteristik perguruan tinggi yang berbeda dengan karakteristik organisasi pada umumnya menuntut adanya pimpinan fakultas dan perguruan tinggi yang dapat merencanakan tujuan-tujuan strategis perguruan tinggi sesuai ciri dan keunggulan perguruan tinggi, serta mampu mengelola berbagai kegiatan jangka pendek maupun jangka menengah yang sejalan dengan tujuan strategis tersebut.

    Para hadirin yang saya hormati,

    Pengembangan Diri Dosen

    Kemampuan perguruan tinggi menjadi Universitas Kelas Dunia sangat ditentukan oleh dosen-dosen yang ada dalam perguruan tinggi. Oleh karena itu, salah satu kriteria Universitas Kelas Dunia yang digunakan oleh The Times Higher Education adalah kualitas dosen, yang diukur melalui hadiah Nobel atau medali yang diraih oleh dosen dan alumni perguruan tinggi, serta publikasi penelitian dosen yang dikutip orang lain. Saat ini, meraih Nobel ataupun

  • Ali Nina Liche Seniati

    24

    medali kelas dunia tampaknya masih sulit dicapai oleh dosen-dosen Indonesia, meskipun demikian, hal itu bukan hal yang tidak mungkin diraih. Untuk dapat memperoleh penghargaan dan menghasilkan publikasi yang berkualitas sehingga dikutip orang, dosen haruslah memiliki kualitas diri yang baik. Kualitas ini, antara lain, diperoleh melalui pendidikan sampai jenjang yang tertinggi. Menurut Siti Meiningsih (dalam ANTARA News, 23 Desember 2008), saat ini jumlah peneliti perguruan tinggi negeri di Indonesia yang mencapai pendidikan S3 hanya sekitar 18,9%, padahal persyaratan universitas riset adalah jumlah peneliti dengan gelar doktor harus di atas 75%. Dengan semakin banyaknya jumlah dosen yang memiliki jenjang pendidikan tertinggi, diharapkan perguruan tinggi juga mampu menghasilkan penelitian-penelitian yang berkualitas.

    Berbicara mengenai pendidikan S3 atau program doktor yang harus dijalani oleh dosen, berarti juga berbicara mengenai perencanaan karir dan pengembangan diri seorang dosen. Meskipun tidak menjadi kriteria dalam menentukan peringkat Universitas Kelas Dunia, perencanaan karir dan pengembangan diri dosen merupakan suatu hal yang perlu dan harus diperhatikan oleh perguruan tinggi. Satu kriteria implisit dalam pengertian Universitas Kelas Dunia adalah perguruan tinggi yang berkualitas. Pengertian berkualitas tidak hanya berarti perguruan tinggi memiliki sarana dan prasarana fisik yang baik, tetapi juga memiliki dosen yang berkualitas. Hal terakhir inilah yang kadang sulit dipersiapkan dan disediakan oleh perguruan tinggi. Sekarang ini, secara sempit banyak perguruan tinggi menganggap calon dosen yang sudah lulus program doktor saat mendaftar menjadi dosen sudah merupakan dosen yang berkualitas. Hal itu bukan tidak benar, namun dosen yang berkualitas bukan hanya ditempa oleh pendidikan formal, melainkan oleh pengalaman yang diperolehnya selama menjadi dosen dan memang dipersiapkan oleh perguruan tinggi untuk memiliki kepakaran dalam bidang tertentu.

    Sebenarnya, tidak ada sekolah atau program pendidikan untuk dosen. Yang tersedia adalah pogram pendidikan untuk

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    25

    menjadi sarjana, magister, atau doktor dalam bidang ilmu tertentu. Kualitas dosen yang profesional diperoleh selama ia bekerja sebagai menjadi dosen. Ini berarti, untuk menjadi dosen yang berkualitas, dosen perlu menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat dan perlu terus mengembangkan diri. Menurut saya, satu hal yang perlu diingat oleh perguruan tinggi adalah pengembangan diri dosen bukanlah sepenuhnya tanggung jawab dari dosen itu sendiri, melainkan menjadi tanggung jawab perguruan tinggi. Untuk melakukan kegiatan pengembangan diri dosen dapat digunakan pendekatan Psikologi Humanistik yang dikembangkan oleh Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Viktor Frankl. Psikologi Humanistik menyatakan bahwa setiap individu memiliki potensi yang baik untuk berkembang. Namun, untuk berkembang dengan baik, dosen harus berada dalam lingkungan yang mendukung dirinya untuk berkembang. Adalah tugas pimpinan untuk merencanakan pengembangan diri setiap dosen dalam perguruan tingginya, dalam kegiatan pembinaan, pelatihan dan pengembangan, serta perencanaan karir.

    Sebagai bagian dari kegiatan pengelolaan Sumber Daya Manusia, kegiatan pembinaan dosen, khususnya dosen muda, juga perlu dilakukan di setiap program studi. Hal ini, antara lain, dilakukan dengan penempatan dosen muda di bawah bimbingan satu dosen senior yang ditunjuk oleh program studi. Dari pengalaman pribadi dan pengamatan di beberapa perguruan tinggi, terlihat kadang tidak ada usaha khusus dilakukan perguruan tinggi bagi para dosen muda. Mereka sering kali dibiarkan mencari sendiri dosen senior yang akan mereka jadikan model bagi mereka untuk belajar dan menimba ilmu. Hal ini dapat berakibat kurang baik untuk pengembangan perguruan tinggi dalam jangka panjang karena mereka akan merasa program studi tidak pernah mengajak mereka masuk menjadi anggota keluarga perguruan tinggi dan membiarkan mereka berkembang sendiri. Keadaan ini, pada akhirnya akan membuat mereka memiliki komitmen yang rendah pada perguruan tinggi dalam bentuk ketidakpedulian terhadap perkembangan perguruan tinggi, terhadap pimpinan, dan juga terhadap rekan kerja.

  • Ali Nina Liche Seniati

    26

    Para hadirin yang saya hormati,

    Evaluasi Kinerja Dosen Menuju Universitas Kelas Dunia

    Peran psikologi sebagai ilmu tentang perilaku manusia juga terlihat dalam evaluasi kinerja dosen. Dalam kriteria peringkat Universitas Kelas Dunia, salah satu bentuk evaluasi dilakukan melalui jumlah publikasi penelitian yang dimasukkan ke dalam jurnal penelitian ilmiah internasional dan dalam seminar ilmiah internasional. Publikasi ini juga harus dapat ditemukan melalui mesin pencari data, seperti Google, Yahoo, Live Search, dan Exalead. Dilihat dari berbagai kriteria untuk menentukan peringkat Universitas Kelas dunia, banyak hal lain yang dapat dijadikan kriteria untuk mengevaluasi kinerja dosen.

    Sesuai dengan kegiatan utama seorang dosen, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat, evaluasi juga seharusnya dilakukan terhadap ketiga kegiatan tersebut. Evaluasi terhadap pengajaran tentu mudah dilakukan oleh mahasiswa. Masalahnya, perguruan tinggi harus menentukan kualitas kerja seperti apa yang merepresentasikan kualitas dosen kelas dunia. Pada dasarnya, seorang dosen kelas dunia harus memenuhi kriteria dosen profesional, yang antara lain: menguasai materi yang diajarkan, mampu menyampaikan materi dan menjawab pertanyaan dengan baik, mampu berkomunikasi dengan mahasiswa, bertanggung jawab, terbuka terhadap masukan, dan mau terus belajar (Seniati & Silalahi, 2001). Evaluasi terhadap pengajaran ini sebenarnya dapat dilakukan oleh banyak penilai dengan menerapkan prinsip penilaian 360o, artinya penilaian dilakukan dari banyak sudut. Dengan kata lain, penilaian dapat dilakukan oleh mahasiswa, rekan-rekan dosen, dosen pengampu mata kuliah, atau staf ahli dari unit penjaminan mutu akademik.

    Evaluasi terhadap kinerja dosen dalam penelitian dapat dilakukan terhadap kualitas penelitian. Menerapkan prinsip penilaian 360o, evaluasi dapat dilakukan oleh rekan kerja, dosen senior, mahasiswa, serta penilai eksternal. Sebagai orang yang bekerja dalam struktur organisasi profesional yang menekankan

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    27

    pada kolegialitas, evaluasi dosen juga harus berkaitan dengan kemampuan dosen untuk bekerja sama dengan rekan kerja, terutama kemampuan untuk bekerja dalam kelompok, kemampuan untuk menyampaikan pendapat, keterlibatan dalam kegiatan di program studi. Adapun kegiatan pengabdian pada masyarakat dapat dievaluasi melalui partisipasi dosen dalam kegiatan penyuluhan dan seminar bagi masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.

    Penghargaan terhadap Kinerja Dosen

    Sebagaimana organisasi lain pada umumnya, evaluasi terhadap kinerja dosen berkaitan dengan bentuk penghargaan yang diberikan kepada dosen. Bentuk penghargaan yang tentunya diharapkan dosen adalah adanya imbalan finansial yang sesuai dengan kinerja yang ditampilkannya. Saat ini, masih banyak keluhan mengenai kurang memadainya imbalan finansial bagi dosen, yang berakibat pada kurang terpenuhinya kesejahteraan dosen secara ekonomis. Bagi hampir sebagian besar dosen di Indonesia, kesejahteraan ekonomi ini masih merupakan hal utama yang harus dipenuhi agar dosen dapat bekerja dengan optimal dan menghasilkan kinerja yang baik.

    Di sisi lain, penghargaan terhadap kinerja dosen seharusnya juga ditampilkan dalam imbalan non-finansial yang berkaitan dengan kualitas kehidupan-kerja (quality of worklife). Mengutip Rosser (2005), beberapa kualitas kehidupan-kerja yang perlu disediakan oleh perguruan tinggi adalah (1) pengembangan profesional, yang meliputi kesempatan untuk mengikuti seminar-seminar ilmiah nasional dan internasional, sabbatical leave, serta cuti dari kegiatan pengajaran dan pembimbingan; (2) adanya dukungan administrasif yang berlaku setara yang semua dosen, meliputi fasilitas pelayanan perpustakaan dan kesediaan terhadap sumber informasi dan sumber penelitian; serta (3) adanya dukungan teknis dan integrasi teknologi yang menunjang dosen untuk bekerja secara profesional.

  • Ali Nina Liche Seniati

    28

    Pemberian penghargaan dalam bentuk imbalan finansial dan non-finansial bagi dosen akan menimbulkan kepuasan kerja terhadap gaji, yang kemudian berkaitan dengan komitmen dosen pada perguruan tinggi, dan pada akhirnya mempengaruhi prestasi kerja dosen dalam melaksanakan kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi.

    Para hadirin yang saya hormati,

    Trait Kepribadian Dosen Universitas Kelas Dunia

    Telah dikemukakan sebelumnya, bahwa untuk menjadi Universitas Kelas Dunia, dosen-dosen dalam perguruan tinggi harus memiliki komitmen organisasi yang tinggi. Telah diuraikan juga bahwa komitmen organisasi dipengaruhi oleh faktor pribadi, antara lain kepribadian dosen. Seniati (2002) menemukan bahwa salah satu faktor pribadi yang mempengaruhi komitmen dosen pada universitas adalah trait kebaikan hati (kindness), yang tampil dalam bentuk memberi perhatian pada orang lain dan bersedia menolong orang lain. Hal ini berarti, dosen yang baik hati kepada orang lain juga akan memiliki keterikatan yang kuat dengan universitas. Trait kebaikan hati yang ditampilkan dosen, khususnya saat mengajar dan membimbing mahasiswa, merupakan sesuatu yang diperlukan mahasiswa agar mahasiswa dapat merasa nyaman saat belajar bersama dosen. Namun, menurut saya, trait kebaikan hati saja tidaklah cukup bagi keberhasilan universitas ditinjau dari prestasi universitas, khususnya dalam bidang penelitian.

    Dalam upaya mengembangkan diri menjadi dosen kelas dunia, seorang dosen seharusnya juga memiliki trait keterbukaan terhadap pengalaman (openness to experience) dan trait kesadaran diri (conscientiousness) yang tinggi. Trait keterbukaan pada pengalaman akan mendorong dosen untuk berpikir kreatif, imajinatif, selalu ingin tahu, memiliki pemikiran bebas dan orisinal, menyukai variasi, serta peka terhadap seni. Selain itu, mereka juga terbuka terhadap pendapat dan masukan orang lain,

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    29

    terhadap pemikiran-pemikiran baru, sehingga tidak mudah merasa diserang oleh orang lain yang memiliki pendapat berbeda dengan dirinya. Adapun trait kesadaran diri ditampilkan dalam bentuk: menjalankan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, bertanggung jawab, tekun, teratur, tepat waktu, ambisius, mau bekerja keras, serta berorientasi pada keberhasilan. Kesemua ciri yang ditampilkan dari kedua trait tersebut merupakan ciri-ciri yang umumnya dimiliki seorang peneliti. Oleh karena itu, perguruan tinggi yang berusaha untuk menjadi Universitas Kelas Dunia haruslah memiliki dosen dengan ciri-ciri kepribadian seperti disebutkan di atas. Untuk memperoleh dosen dengan trait kebaikan hati, keterbukaan pada pengalaman baru, dan kesadaran diri tentunya dibutuhkan proses seleksi yang tepat.

    Seleksi Calon Dosen Universitas

    Dalam menjaring calon dosen yang memiliki kualitas kelas dunia, diperlukan proses seleksi calon dosen yang berbeda dari yang umumnya dilakukan. Selama ini, khususnya untuk dosen perguruan tinggi negeri, alat tes yang digunakan untuk seleksi calon dosen adalah alat tes baku seperti TPA (Tes Potensi Akademik), Bahasa Inggris, serta Pengetahuan Umum mengenai Pendidikan Nasional. Alat tes ini tidak tepat untuk seleksi calon dosen karena sebenarnya alat tes tersebut tidak memiliki validitas prediktif yang baik. Dalam arti, alat tes ini tidak mampu memprediksi prestasi kerja dosen, apalagi prestasi kerja yang dikaitkan dengan Tridharma Perguruan Tinggi, yang meliputi kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat.

    Melihat banyaknya buku-buku di pasaran yang berisi mengenai berbagai alat tes yang biasa digunakan dalam proses seleksi calon karyawan, termasuk calon dosen, seharusnya perguruan tinggi mampu membuat alat tes yang berlaku khusus untuk dosen, yang dikaitkan dengan pekerjaan dosen yang memiliki karakteristik berbeda dengan pekerjaan karyawan pada umumnya. Dalam perguruan tinggi, dosen adalah seorang profesional dengan kompleksitas kerja dan otonomi kerja yang

  • Ali Nina Liche Seniati

    30

    tinggi, memiliki hubungan kerja yang bersifat kolegial, dan memiliki jam kerja yang tidak dapat ditentukan secara pasti. Hal ini menuntut alat tes yang tepat agar mampu memprediksi kemampuan calon dosen dalam menjalankan pekerjaannya sebagai dosen.

    Dari sudut psikologi industri dan organisasi serta pengelolaan sumber daya manusia, seleksi calon dosen juga harus dilakukan secara ketat dan didasarkan pada kriteria yang dituntut dari seorang calon dosen. Dalam seleksi calon dosen perguruan tinggi, diperlukan alat tes psikologi yang mengukur kemampuan intelektual, kepribadian, dan minat dosen sehingga benar-benar dapat dipilih calon dosen yang memang memiliki karakteristik pribadi dan sikap kerja yang sesuai untuk pekerjaan dosen, serta memiliki minat dan kemampuan yang tinggi dalam penelitian dan publikasi ilmiah.

    Berkaitan dengan alasan untuk menjadi dosen seperti yang telah ditemukan oleh Seniati (2002), dalam wawancara calon dosen, pewawancara tidak boleh puas dengan alasan calon dosen bahwa memilih menjadi dosen karena memiliki cita-cita mulia mencerdaskan kehidupan bangsa atau karena senang mengajar dan berbagi ilmu pada mahasiswa. Pewawancara calon dosen harus meminta jawaban yang pasti dan konkret mengenai apa alasan calon memilih bekerja sebagai dosen, memilih menjadi dosen di perguruan tinggi yang sekarang dilamarnya, kegiatan apa yang akan dilakukannya sebagai dosen, serta bagaimana rencana pengembangan dirinya sebagai dosen.

    Seperti telah ditentukan dalam salah satu kriteria Universitas Kelas Dunia, yaitu publikasi penelitian, maka pewawancara juga harus mampu menanyakan bagaimana persepsi calon dosen mengenai Universitas Kelas Dunia, bagaimana persepsi dosen mengenai penelitian dan publikasi penelitian, apa yang ia persiapkan untuk menjadi dosen kelas dunia, serta perilaku konkret seperti apa yang akan dilakukannya agar dapat memenuhi tuntutan publikasi penelitian, terutama publikasi penelitian kelas dunia.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    31

    Selain wawancara, seleksi calon dosen perlu dilakukan dengan menggunakan metode assessment centre. Melalui metode seleksi ini, calon dosen dapat diberi simulasi mengenai tugas dosen. Misalnya untuk kegiatan penelitian, calon dosen diberikan tugas untuk menulis proposal penelitian sederhana berdasarkan masalah yang telah ditetapkan. Dari sini dapat dinilai apakah dosen memiliki kepekaan untuk mengamati suatu masalah dan menjadikannya suatu topik penelitian. Calon dosen juga dapat diberikan simulasi tugas mengajar satu topik tertentu yang dia kuasai serta membuat alat evaluasi terhadap materi pengajaran yang diberikan. Dengan demikian dapat dilihat potensi kemampuannya untuk merencanakan kegiatan pengajaran, menyampaikan pengetahuan dan pendapatnya kepada mahasiswa, serta melakukan penilaian terhadap hasil belajar mahasiswa. Selain itu, untuk menilai kemampuan calon dosen untuk bekerja dalam kelompok, dapat diberikan simulasi tugas menjadi panitia penyelenggara kegiatan seminar ilmiah. Pada proses seleksi dalam organisasi pada umumnya, metode asssessment centre ini terbukti efektif untuk seleksi serta memiliki objektivitas, validitas prediktif, dan reliabilitas yang cukup tinggi (Dessler & Tan, 2006; Edratna, 2008; Munandar, 2001; Riggio, 2009; Schultz & Schultz, 2010). Saya yakin metode assessment centre ini akan menjadi metode yang tepat untuk seleksi calon dosen perguruan tinggi.

    Para hadirin yang terhormat,

    Mempersiapkan dan Mengembangkan Universitas Kelas Dunia

    Saat ini, langkah menuju Universitas Kelas Dunia merupakan suatu langkah yang harus diambil oleh perguruan tinggi mana pun di Indonesia. Ketika langkah ini sudah dimulai, harapannya tak ada kata mundur atau berbalik. Sebagai organisasi pendidikan tinggi, semua perguruan tinggi memiliki karakteristik yang berbeda dengan organisasi pada umumnya. Untuk itu, perguruan tinggi perlu menerapkan prinsip-prinsip psikologi dalam

  • Ali Nina Liche Seniati

    32

    mengelola perguruan tingginya, khususnya mengelola sumber daya manusia dalam perguruan tinggi.

    Penerapan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia merupakan hal yang penting dalam perguruan tinggi karena pada dasarnya tingkah laku manusia dalam perguruan tinggi, baik pimpinan perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, maupun karyawan, merupakan sesuatu yang kompleks dan dipengaruhi oleh kepribadian manusia dan lingkungan sekitar manusia. Konsep baru mengenai Psikologi Perguruan Tinggi kiranya menjadi sesuatu yang tepat untuk digunakan dalam rangka menyiapkan dan mengembangkan perguruan tinggi menjadi Universitas Kelas Dunia.

    Langkah pertama dari penerapan Psikologi Perguruan Tinggi adalah mempersiapkan pemimpin perguruan tinggi menjadi pemimpin yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap perguruan tinggi, memiliki kualitas kepemimpinan global, memiliki keterampilan manajerial yang baik, dan mampu mengajak setiap individu dalam perguruan tinggi bergerak bersama menuju Universitas Kelas Dunia. Mempersiapkan pimpinan perguruan tinggi sebagai langkah awal didasari pemikiran bahwa pimpinan perguruan tinggi memegang peran utama dalam menentukan tujuan apa yang akan dicapai oleh perguruan tinggi dan bagaimana perguruan tinggi mencapai tujuan tersebut.

    Langkah kedua adalah memberikan perhatian pada para dosen yang saat ini sudah ada dan berperan aktif dalam perguruan tinggi. Faktor utama yang perlu diperhatikan oleh pimpinan perguruan tinggi adalah kepuasan kerja yang dirasakan dosen. Pimpinan harus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kepuasan kerja dosen karena kepuasan kerja sangat berperan dalam menentukan komitmen dosen pada perguruan tinggi, yang pada akhirnya berpengaruh pula pada kinerja dosen. Aspek-aspek kepuasan kerja yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan oleh perguruan tinggi adalah kepuasan terhadap pimpinan, gaji, kesempatan promosi, dan lingkungan kerja.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    33

    Langkah berikutnya adalah melakukan berbagai kegiatan pengelolaan sumber daya manusia. Kegiatan ini terdiri dari kegiatan pengembangan diri dosen, evaluasi terhadap kinerja dosen, serta pemberian penghargaan sesuai dengan kinerja dosen. Kegiatan pengembangan dosen meliputi perencanaan karir, pembinaan dosen muda, dan pemberian pelatihan, khususnya terkait dengan penulisan proposal penelitian dan penulisan laporan penelitian.

    Langkah lain yang harus dilakukan adalah memilih calon dosen yang memiliki karakteristik dosen kelas dunia. Beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk memilih calon dosen adalah calon dosen memiliki intelektualitas yang tinggi; memiliki trait kepribadian kebaikan hati, keterbukaan pada pengalaman, dan kesadaran diri yang tinggi; memiliki minat dan semangat yang tinggi dalam bidang penelitian; serta menjadikan penelitian sebagai dasar dalam kegiatan pengajaran dan pengabdian pada masyarakat.

    Satu semboyan dalam Psikologi Perguruan Tinggi yang perlu dimiliki dan dijalankan perguruan tinggi menuju Universitas Kelas Dunia adalah Bersatu dalam Karya Nyata. Dalam semboyan ini terkandung arti bahwa untuk menghasilkan sesuatu yang berharga, perguruan tinggi tidak bisa bekerja sendiri. Mimpi menjadi Universitas Kelas Dunia akan terwujud jika semua sivitas akademika dalam perguruan tinggi bersatu dan berjalan bersama menuju arah yang jelas dan menampilkan tingkah laku-tingkah laku nyata dalam kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi. Sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Indonesia, saya juga bertekad untuk melaksanakan semboyan tersebut. Semoga tekad dan semangat ini juga muncul dalam diri rekan-rekan dosen lainnya di Indonesia.

    Ucapan Terima Kasih

    Para hadirin yang saya hormati, akhirnya perkenankanlah saya pada akhir pidato ini memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Baik atas segala rahmat dan berkat yang telah

  • Ali Nina Liche Seniati

    34

    dilimpahkan kepada saya selama ini. Ya Tuhan, segala sesuatu telah Engkau rencanakan bagi diriku, dari Engkaulah segala warna dan riak kehidupan yang kuperoleh, dan hanya Engkaulah yang membuat segala sesuatu indah menurut waktu-Mu. Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan segala sembah dan sujudku. Ya Tuhan yang Maha Kudus, pimpinlah aku, agar segala sesuatu yang aku lakukan adalah demi kemuliaan nama-Mu

    Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah membantu saya dalam perjalanan hidup dan karier saya, serta mendorong saya untuk menjadi guru besar. Dengan penuh hormat, pertama-tama saya sampaikan terima kasih kepada Dewan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Dewan Guru Besar Universitas Indonesia yang telah menyetujui pengusulan saya menjadi Guru Besar dalam bidang Psikologi.

    Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Menteri Pendidikan Nasional yang telah mengangkat saya menjadi Guru Besar pada Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, serta kepada Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. der Soz. Gumilar Rusliwa Somantri dan kepada Dewan Guru Besar Universitas Indonesia yang telah mengukuhkan saya pada hari ini dan berkenan menerima saya dalam lingkungan akademik yang sangat terhormat ini. Semoga saya dapat memenuhi harapan serta menjalankan peran dan tanggung jawab yang terkait dengan jabatan terhormat ini dengan sebaik-baiknya.

    Terima kasih yang tulus juga saya sampaikan kepada Dr. Ilsiana Jatiputra dan Prof. Dr. Jeanette Murad yang telah menilai berkas-berkas pengusulan kepangkatan saya. Kepada Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, Prof. Dr. Ediasri T. Atmodiwirjo, Prof. Dr. Soetarlinah Sukadji, dan Prof. Hera Lestari Mikarsa, Ph.D., secara khusus saya sampaikan terima kasih karena senantiasa mendorong saya untuk mengurus kepangkatan saya dan mengajarkan saya berbagai hal dalam kehidupan akademik, kehidupan keluarga, dan kehidupan bermasyarakat.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    35

    Kepada Dr. Tjut Rifameutia, M.A., Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, terima kasih yang tulus saya sampaikan atas dukungan beliau dalam pengurusan guru besar saya dan penulisan pidato ini. Senyumnya yang hangat, sapaannya yang ramah, dan masukannya yang sangat berarti pada saat-saat akhir penulisan pidato ini merupakan sesuatu yang sangat berharga dan tidak ternilai bagi saya.

    Terima kasih yang setinggi-tingginya juga saya sampaikan kepada Dra. Dharmayati Utoyo Lubis, M.A., Ph.D., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia periode 2004-2008, serta kepada Dr. Wilman Dahlan Mansoer, M.Org.Psy., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia periode 2008-2012, atas segala dukungannya sehingga pengurusan kepangkatan saya dapat berjalan dengan lancar.

    Apa yang saya peroleh saat ini adalah karena kasih sayang dan bimbingan dari para guru saya sejak di taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas, serta para dosen saya di program sarjana hingga progam doktor. Dari beliau-beliaulah saya belajar mengenal kata, menulis, membaca, melakukan analisis dan sintesis, menyatakan dan menerima pendapat, hingga akhirnya saya mampu merangkai kata untuk pidato pengukuhan dan menyampaikannya di hadapan para hadirin pada hari ini. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya ucapkan terima kasih kepada semua guru dan dosen saya yang tercinta.

    Dalam kesempatan ini saya juga mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada Prof. Bernadette N. Setiadi, Ph.D., yang telah menjadi pembimbing saya sepanjang kehidupan akademik saya sejak saya masih menjadi mahasiswa hingga saya menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Ibu Bernadette adalah teladan hidup saya untuk menjadi pribadi yang tangguh, penuh dedikasi, namun juga perhatian pada orang lain. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Dra. Erniza B. Joewono, M.Si., pembimbing akademik saya ketika saya menjadi mahasiswa program sarjana. Dukungan beliau sejak saya kuliah sampai saat ini merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi saya. Kepada Dra. Farida Haryoko, M.Psi., saya sampaikan juga terima

  • Ali Nina Liche Seniati

    36

    kasih yang hangat karena beliau telah mengajar saya mengelola berbagai hal yang berkaitan dengan bidang hubungan masyarakat, yang tidak pernah saya peroleh dari mata kuliah apa pun selama belajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Kepada Alm. Prof. Dr. Ashar Sunyoto Munandar, yang telah menjadi pembimbing tesis dan pembimbing disertasi, saya ucapkan terima kasih atas kesempatan untuk belajar lebih dalam mengenai Psikologi Industri dan Organisasi. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Alm. Dr. Meithy Djiwatampu, yang selalu menjadi tempat berbagi cerita selama beliau aktif di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Semoga kiranya di atas sana beliau berdua merasa bangga dan bahagia atas apa yang telah saya capai saat ini.

    Pengalaman hidup menjadi anak, adik, dan kakak, saya dapatkan dari keluarga Psikologi Umum dan Eksperimental yang telah menerima saya menjadi anggota keluarga pada bulan September 1991. Terima kasih yang tulus saya sampaikan atas segala perhatian dan dukungan, serta untuk diskusi-diskusi panjang yang senantiasa memancing pemikiran kritis dan usaha pengendalian emosi. Kepada Dra. Derry Busriati, M.Psi., saya sampaikan terima kasih atas segala dukungan beliau untuk pengurusan kepangkatan saya selama beliau menjadi Kepala Bagian Psikologi Umum dan Eksperimental. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Dr. Ilsiana Jatiputra, Dr. Guritnaningsih, Dra. Julia S. Chandra, M.A., M.A., Ph.D., Dra. Dyah Triarini Indirasari, M.A., Dewi Maulina, M.Psi., dan Aries Yulianto, M.Si., atas persahabatan yang indah dan tanpa memandang generasi.

    Pidato pengukuhan yang saya sampaikan ini merupakan hasil pemikiran atas pengalaman saya sebagai akademisi dan juga masukan yang berarti dari rekan-rekan akademisi dari berbagai perguruan tinggi lain, dalam bentuk sumbangan pemikiran dan saran-saran yang kontruktif untuk pidato saya. Untuk itu, dengan hormat saya sampaikan terima kasih kepada Prof. Tian Po Oei, Ph.D., FAPS dari University of Queensland; Prof. Dr. Andreas Budiarjo dari Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya; Dr. Ir. Maslina W. Hutasuhut, M.M., Rektor Institut Ilmu Sosial dan Ilmu

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    37

    Politik Jakarta; Prof. Dr. Juke R. Siregar, M.Pd., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran; Dr. Silverius Y. Soeharso, S.E., M.M., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila; Dr. Seger Handoyo, M.Si., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga; Dr. V. Herru Hariyanto, M.Si. dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya, Dra. Fajrianthi, M.Si. dari Universitas Airlangga, serta Prof. Bernadete N. Setiadi, Ph.D. dan Dr.phil. Hana Panggabean dari Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya.

    Tak lupa pula terima kasih yang mendalam saya sampaikan kepada rekan-rekan manajer riset di lingkungan Universitas Indonesia: Drg. Risqa Rina Darwita, Ph.D. dari Fakultas Kedokteran Gigi, Dr. Surastini Fitriasih, S.H., M.H. dari Fakultas Hukum, Dr. Ir. Bondan T. Sofyan, M.Si. dari Fakultas Teknik, dan Dr.rer.nat. Yasman, M.Sc. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Terima kasih yang hangat juga saya sampaikan kepada Daly Erni, S.H., M.Si. dan Dra. Ratna Djuwita, Dipl. psych. dari Direktorat Sumber Daya Manusia Universitas Indonesia, serta kepada Dra. Indra Lestari, M.Si., seorang kakak dan rekan kerja yang baik, penuh perhatian, dan selalu memberi dukungan dalam segala hal.

    Kepada Dr. Boen S. Oemarjati; Prof. Drs. Adrianus E. Meliala, M.Si., M.Sc., Ph.D.; Prof. Dr. Enoch Markum; Prof. Hera Lestari Mikarsa, Ph.D.; Dr. Ilsiana Jatiputra; Urip Mokoginta, Ph.D.; Dr. R.W. Matindas; Dr. Guritnaningsih; Corina Debora Silalahi, M.Com.; Adi Respati, M.Si.; Dewi Maulina, M.Psi.; dan Aries Yulianto, M.Si., terima kasih yang tulus saya sampaikan atas kesediaannya untuk membaca draft pidato saya serta memberikan komentar dan masukan yang sangat berarti bagi penulisan akhir pidato ini.

    Kepada adik-adik rekan dosen: Edward Andriyanto Soetardhio, M.Psi., Ivan Sujana, M.Psi., Adityawarman Menaldi, M.Psi., dan Kornelius Fabian Limandibrata, S.Psi., M.Ed., terima kasih banyak atas segala bantuannya dalam mencari dan memberikan informasi yang sangat saya butuhkan untuk penulisan pidato ini. Kepada Mellia Christia, M.Psi., Sherly Saragih Turnip, M.Psi., M.Phil., dan Fitri Fausiah, M.Psi., M.Phil.,

  • Ali Nina Liche Seniati

    38

    terima kasih atas masukannya yang sangat tepat saat saya menguntai kata demi kata untuk pidato ini.

    Terima kasih yang hangat juga saya sampaikan kepada Drs. Bagus Riyono, M.A. dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan Dra. Emi Zulaifah, M.Sc. dari Universitas Islam Indonesia, pasangan akademisi yang kritis dan penuh perhatian, yang telah memberikan masukan yang berarti untuk pidato ini dan menjadi sahabat yang baik selama saya melakukan studi literatur di Long Island, New York. Semoga persahabatan yang manis di antara kita akan terus berlanjut.

    Semangat dan dorongan untuk menjadi guru besar, saya peroleh dari para dosen senior, rekan-rekan dosen, adik-adik dosen, rekan-rekan alumni, mahasiswa, dan karyawan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, serta khususnya dari Angkatan 86 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Semoga jabatan terhormat yang akhirnya berhasil saya dapatkan ini menjadi wujud terima kasih saya dan semakin memacu semangat sivitas akademika untuk berusaha mencapai pendidikan yang tertinggi serta berhasil menduduki jabatan yang tertinggi dalam pekerjaan.

    Meskipun saya tidak pernah mengenal orang-orang yang telah bekerja keras dalam media komunikasi saat ini, perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih atas segala kecanggihan berbagai bentuk media komunikasi yang mereka kembangkan. Hampir sebagian besar diskusi, pencarian informasi, dan penelusuran hasil penelitian mengenai pendidikan tinggi saya lakukan melalui telepon, layanan pesan pendek, surat elektronik, chatting, dan mesin-mesin pencari. Kecanggihan teknologi ini sungguh merupakan bagian dari kualitas kehidupan-kerja saya sebagai pengajar dan peneliti, serta menjadi pendorong bagi saya untuk berusaha menulis pidato ini dengan sebaik-baiknya.

    Terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada Papa Ali Hasan Nagar serta kepada adik-adikku Miche Muliati dan Iskandar serta Fiche Murniati dan Harumman, yang selalu memberi perhatian dan dukungan kepada saya dengan caranya masing-masing. Kepada Mama Mertua Lina Suryani serta seluruh

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    39

    keluarga besar Alm. Papa Mertua Ahmad Saidjan, terima kasih banyak saya ucapkan atas segala dukungannya selama ini.

    Untuk Chairy tercinta dan tiga permata hati mama tersayang: Natasya, Andreas, dan Olivia, terima kasih atas kasih sayang, pengertian, kesabaran, dan dukungannya selama ini. Semoga jabatan terhormat ini, menjadi pendorong bagi kita semua untuk selalu tekun dalam belajar dan bekerja, menampilkan yang terbaik dari diri kita, namun tetap rendah hati dan perhatian pada orang lain.

    Penghargaan yang setinggi-tingginya saya sampaikan kepada Panitia Upacara Pengukuhan Guru Besar, baik panitia dari Universitas Indonesia maupun dari Fakultas Teknik dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, serta khususnya kepada Dr.-Ing. Nandy S. D. Putra, selaku ketua panitia, yang telah sibuk bekerja sejak persiapan hingga terlaksananya upacara hari ini. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan Anda semua, tidaklah mungkin upacara ini dapat berjalan dengan baik.

    Untuk sahabat baru saya, Prof. Dr.-Ing. Kalamullah Ramli, M.Eng., yang dikukuhkan bersama saya pada hari ini, saya mengucapkan selamat, semoga sukses selalu, dan terima kasih atas kerjasama yang baik dalam persiapan dan penyelenggaraan upacara ini. Semoga upacara pengukuhan kita hari ini menjadi langkah awal bagi kegiatan-kegiatan interdisiplin antara Fakultas Teknik dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Akhir kata saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para hadirin yang telah datang dan mengikuti upacara pengukuhan pada hari ini. Semoga Tuhan yang Maha Kuasa membalas budi baik Bapak dan Ibu sekalian. Saya juga menyampaikan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kekeliruan dan kekhilafan dalam pidato pengukuhan saya, dan jika ada yang kurang berkenan di hati dalam penyelenggaraan upacara hari ini.

  • Ali Nina Liche Seniati

    40

    DAFTAR PUSTAKA

    Ambrose, S., Huston, T., & Norman, M. (November 2005). A qualitative method for assessing faculty satisfaction. Research in Higher Education, 46(7), 803-830. doi: 10.1007/s11162-004-6226-6. Diunduh dari http://www.springerlink.com/content/x52h122g0u722428/?p=ab53fa8e709f42e88d9863042164d7ac&pi=2.

    Angle, H.L., & Perry, J.L. (1981). An empirical assessment of organizational commitment and organizational effectiveness. Administrative Science Quarterly, 27, 1-14.

    Allen, N.J., & Meyer, J.P. (1990). The measurement and antecedents of affective, continuance, and normative commitment to organization. Journal of Occupational Psychology, 63, 1-18.

    Caldwell, D.F., Chatman, J.A., & OReilly, C.A. (1990). Building organizational commitment: A multifirm study. Journal of Occupational Psychology, 63, 245-261.

    Dessler, G., & Tan, C.H. (2006). Human resource management: An Asian perspective. Singapore: Pearson Prentice Hall.

    Edratna. (2008). Penggunaan assessment centre untuk pengembangan SDM. Diunduh dari http://edratna.wordpress.com/2008/01/22/penggunaan-assessment-center-untuk-pengembangan-sdm.

    Greenberg, J., & Baron, R.A. (2000). Behavior in organizations: Understanding and managing the human side of work (7th Ed.). Upper Sadle River, NJ: Prentice Hall.

    Heck, R.H., Johnsrud, L.K., & Rosser, V.J. (2000). Administrative effectiveness in higher education: Improving assessment procedures. Research in Higher Education, 41(6), 663-684. diunduh dari http://www.springerlink.com/content/hmnr32v1390h71x1/?p=a026dfe7671647d8ae110af235cc9115&pi=0.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    41

    Irwandi. (2008). World class university are not build overnight. Diunduh dari http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=152&Itemid=13.

    Lahey, B. (2007). Psychology: An introduction (9th Ed.). New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

    Munandar, A.S. (2001). Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI Press).

    Mowday, R.T., Porter, L.W., & Steers, R.M. (1982). Employee-organization linkage: The psychology of commitment, absenteeism, and turnover. New York: Academic Press.

    Narimawati, S.E.U. (2007). The influence of work satisfaction, organizational commitment and turnover intention toward the performance of lecturers at West Javas private higher education institution. Journal of Applied Sciences Research, 3(7), 549-557. Diunduh dari http://www.insinet.net/jasr/2007/549-557.pdf.

    Riggio, R.E. (2009). Introduction to industrial/organizational psychology (5th Ed.). Upper Sadle River, NJ: Pearson Prentice Hall, Pearson International Edition.

    Rosser, V.J. (2005). Measuring the change in faculty perceptions over time: An examination of their worklife and satisfaction. Research in Higher Education, 46(1), 81-105. doi: 10.1007/s 11162-004-6290-y. Diunduh dari http://www.springerlink.com/content/v7101670u1236285/?p=2b234ae51aca400eae83f8f08fdd1883&pi=3.

    Salmi, J. (2009). The challenge of establishing world-class universities. Washington, DC: The World Bank.

    Schultz, D., & Schultz, S.E. (2010). Psychology and work today: An introduction to industrial and organizational psychology (10th Ed.). Upper Sadle River, NJ: Pearson.

  • Ali Nina Liche Seniati

    42

    Seniati, A.N.L. (2002). Pengaruh masa kerja, trait kepribadian, kepuasan kerja, dan iklim psikologis terhadap komitmen dosen pada Universitas Indonesia. (Disertasi Doktor tidak diterbitkan). Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok.

    Seniati, L. (Maret, 2004). Hubungan kepuasan kerja dan karakteristik personal dengan komitmen organisasi dosen perguruan tinggi negeri. Makalah disampaikan dalam Temu Ilmiah Psikologi Indonesia: Era Baru Psikologi di Indonesia, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok.

    Seniati, A.N.L., & Silalahi, C.D. (2001). Persepsi mahasiswa dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengenai kualitas dosen yang profesional. Makara: Jurnal Penelitian Universitas Indonesia, 5(1), 18-25.

    Setiadi, B.N. (2008). Relevansi psikologi lintas-budaya dalam memahami kepemimpinan global. Pidato disampaikan pada Upacara Pengukuhan sebagai Guru Besar Psikologi di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

    Wang, Y. (2001). Building the world-class university in a developing county: Universal, uniqueness, and coooperation. Asia Pacific: Education Review, 2(2), 3-9.

    Academic Ranking of World Universities. Ranking Methodology. Diunduh dari http://www.arwu.org/rank2008/ARWU2008Methodology(EN).htm.

    Academic Ranking of World University. Top 1000. Diunduh dari http://www.arwu.org/rank2008/ARWU2008_TopAsia(EN).htm.

    Rangking Web of World Universities: July 2009. About the ranking. Diunduh dari http://www.webometrics.info/about_rank.html.

    Ranking Web of World Universities: July 2009. Top 6000. Diunduh dari http://www.webometrics.info/top6000.asp.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    43

    Ranking Web of World Universities: July 2009. Top South East Asia. July 2009. Diunduh dari http://www.webometrics.info/top100_continent.asp?cont=SE_Asia.

    The Times Higher Education - QS World University Rankings 2008. Top Universities. Diunduh dari http://www.topuniversities.com/worlduniversityrankings/results/2008/overall_rankings/fullrankings/.

    The Times Higher Education - QS World University Rankings 2009. Top Universities. Diunduh dari http://www.topuniversities.com/university-rankings/world-university-rankings/2009/results/.

    The Times Higher Education QS World University Rankings 2009. Asian University Rankings. Diunduh dari http://www.topuniversities.com/university-rankings/asian-university-rankings.

    The Times Higher Education QS World University Ranking. Methodology: A simple overview. Diunduh dari http://www.topuniversities.com/worlduniversityrankings/methodology/simple_overview/.

    Mendiknas dorong universitas kelas dunia. Sabtu, 04 Juli 2009. Diunduh dari http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=19443

    Publikasi internasional penelitian Indonesia masih lemah. ANTARA News, Selasa, 23 Desember 2008. Diunduh dari http://www.antara.co.id/view/?i=1230022517&c=NAS&s=

  • Ali Nina Liche Seniati

    44

    RIWAYAT HIDUP

    Data Pribadi

    Nama Lengkap : Ali Nina Liche Seniati

    NIP : 19670123 199203 2 001 (NIP Lama: 131 998 622)

    Jabatan : Guru Besar Tetap/1 Juli 2009

    Pangkat - Golongan : Pembina IV/a

    Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 23 Januari 1967

    Nama Suami : Dr. Ir. Chairy, S.E., M.M.

    Nama Anak-anak : 1. Natasya Clarissa 2. Andreas Toshiro Nathaniel 3. Olivia Clarincia

    Alamat Rumah : Jl. Joe No. 34 Rt 007/Rw 08, Pasar Minggu Jakarta 12520

    Alamat Kantor : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424 Telp. 021-7863520, pes. 1312; Fax. 021-7863526

    Alamat Email : [email protected]

    Riwayat Pendidikan

    1979 : Lulus SD Jaya Sakti, Jakarta

    1982 : Lulus SMP Cahaya Sakti, Jakarta

    1985 : Lulus SMA Cahaya Sakti, Jakarta

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    45

    1986 Agt 1991 : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok

    1992 Feb 1996 : Program Magister, Kekhususan Psikologi Industri dan Organisasi,

    Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Depok

    1997 Jan 2002 : Program Doktor, Program Pascasarjana Fakultas Psikologi

    Universitas Indonesia, Depok

    Riwayat Kepegawaian/Kepangkatan/Jabatan

    Jabatan Fungsional Kepangkatan, Golongan Ruang

    1 Mar 1992 Pengajar 1 Mar 1992 CPNS, III/a

    1 Jul 1994 Asisten Ahli Madya 1 Nov 1993 Penata Muda, III/a

    1 Agt 1996 Asisten Ahli 1 Okt 1996 Penata Muda Tk. I, III/b

    1 Sep 1998 Lektor Muda 1 Okt 1998 Penata, III/c

    1 Jan 2001 Lektor 1 Mar 2003 Penata Tk. I, III/d

    1 Nov 2002 Lektor Kepala 1 Apr 2005 Pembina, IV/a

    1 Jul 2009 Guru Besar

    Riwayat Pekerjaan 1991 sekarang : Dosen Fakultas Psikologi Universitas

    Indonesia.

    1990 1995 : Staf Experd-Konsultan Sumber Daya Manusia.

    1996 1999 : Kepala Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3), Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

  • Ali Nina Liche Seniati

    46

    2000 2002 : Person in Charge of Developing and Implementing Educational Management System - QUE Project, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Feb 2000 Agt 2002 : Staf Wakil Dekan Bidang Akademis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Feb 2002 Agt 2002 : Staf Wakil Dekan Bidang Administrasi dan Sumber Daya Manusia, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Des 2004 Feb 2006 : Sekretaris Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Des 2006 Nov 2007 : Koordinator Penelitian, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Des 2007 Okt 2008 : Manajer Riset dan Pengabdian pada Masyarakat, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    Juli 2006 Juli 2007 : Anggota Dewan Editor, Jurnal Makara Seri Sosial Humaniora, Direktorat Riset dan Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Indonesia.

    Juli 2007 Sekarang : Ketua Dewan Editor, Jurnal Makara Seri Sosial Humaniora, Direktorat Riset dan Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Indonesia.

    Nov 2008 Sekarang : Dosen Inti Penelitian, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

  • PERAN PSIKOLOGI DALAM MENGEMBANGKAN UNIVERSITAS KELAS DUNIA

    47

    Pengalaman Mengajar

    Pada Program Sarjana, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia:

    - Psikologi Umum 2 - Logika dan Penulisan Ilmiah - Konstruksi Alat Ukur Psikologis - Metode Penelitian Eksperimental - Metodologi Penelitian dan Statistik

    Pada Program Magister Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia:

    - Statistik Lanjut - Pengambilan Keputusan Kreatif - Metodologi Penelitian Kuantitatif - Teori-teori Psikologi Industri dan Organisasi

    Pada Program Doktor, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia:

    - Konstruksi Alat Ukur Penelitian

    Program Magister Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara:

    - Statistik Lanjut - Metodologi Peneitian Kuantitatif

    Program Magister Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

    - Pengembangan Alat Ukur Psikologis

    Penelitian 1991 : Perbandingan Peran Jenis Kelamin dan Fear of Success

    Antar Dua Generasi Wanita: Studi Penjajagan terhadap Sejumlah Wanita di Jakarta. Penelitian Skripsi.

    1992 : Kepuasan Kerja Karyawan Perusahaan X di Jakarta.

  • Ali Nina Liche Seniati

    48

    1994 : Komitmen Karyawan pada Organisasi: Penelitian pada Beberapa Perusahaan. Penelitian bersama dengan Bernadette N. Setiadi, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

    : Pengembangan Alat Ukur Psikologi di


Recommended