Home >Documents >Peny. Ss Perifer Bell Spalsy

Peny. Ss Perifer Bell Spalsy

Date post:02-Feb-2016
Category:
View:31 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
patologi neuromuskularby.npy
Transcript:

Penyakit pada sistem saraf Perifer BELL SPALSY

Penyakit pada sistem saraf PeriferBELL SPALSYNUR PURNAMASARI YUSUFDIV FISIOTERAPI ( PO.714.241.141.029 )POLTEKKES KEMENKES MAKASSARApa itu penyakit Bell Spalsy ???Bells Palsy adalah suatu kelumpuhan akut nervus facialis perifer yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik). Penyakit ini biasanya hanya mengenai satu sisi wajah (unilateral), tetapi dapat pula mengenai kedua sisi wajah yang sehat dengan bilateral Bells Palsy( Jimmi Sabirin, 1996).

Anatomi dan fisiologiUntuk dapat mengetahui kasus dan permasalahan yang terjadi pada kondisi Bells palsy maka terlebih dahulu harus diketahui tentang stuktur anatomi wajah yang terdiri dari (1) miologi otot-otot wajah (2) persyarafan wajah.

a. Miologi Otot Wajah1) Sifat-sifat fisiologis ototSeperti halnya otot rangka, otot wajah juga memiliki sifat-sifat fisiologis sebagai berikut (1) iritabilitas, yaitu kemampuan otot untuk menerima rangsang, (2) konduktifitas, yaitu kemampuan otot meneruskan rangsang ke seluruh sel-sel otot, (3) kontraktilitas, yaitu kemampuan berkontraksi, (4) elastisitas, yaitu kemampuan otot untuk kembali seperti semula setelah mengalami penguluran dan (5) ekstensibilitas, yaitu kemampuan otot untuk diulur tanpa mengalami kerusakan.

Lanjutan...b. Persyarafan wajah

Nervus fasialis atau saraf otak ke VII tersusun dari dua bagian yaitu saraf motorik dan saraf sensorik yang sering disebut dengan saraf intermedius. Inti motorik yang merupakan penyusun utama saraf fasialis terletak di pons. Serabutnya mengitari inti nervus VI dan keluar di bagian lateral pons, sedangkan saraf intermedius keluar di permukaan lateral pons. Kedua saraf ini kemudian bersatu membentuk berkas saraf yang berjalan dalam kanalis fasialis dan terus menuju os mastoid. Setelah melewati os mastoid kedua saraf keluar dari tulang tengkorak melalui foramen stilomastoideus dan bercabang untuk mensarafi otot-otot wajah.

Namun selain mensyarafi otot-otot ekspresi wajah , saraf fasialis juga membawa serabut parasimpatis ke kelenjar ludah dan air mata dan selaput mukosa rongga mulut dan hidung, menghantar berbagai jenis sensasi, termasuk sensasi eksteroseptif dari daerah gendang telinga, sensasi pengecapan dari 2/3 bagian depan lidah (Lumbantobing, 1998).

Inti nervus fasialis juga dapat dibagi menjadi kelompok atas dan bawah. Inti bagian atas mensarafi otot wajah bagian atas dan inti bagian bawah mensarafi otot wajah bagian bawah. Inti nervus fasialis bagian bawah mendapat innervasi kontralateral dari korteks somatomotorik dan inti nervus fasialis bagian atas mendapat inervasi dari kedua belah korteks somatomotorik. Oleh karena itu, pada paresis nervus fasialis UMN (karena lesi di korteks atau kapsula interna) otot wajah bagian bawah saja yang jelas paretik, sedangkan otot wajah atas tidak jelas lumpuh. Sebaliknya, pada kelumpuhan nervus fasialis LMN (karena lesi infranuklearis), baik otot wajah atas maupun bawah, kedua-duanya jelas lumpuh.EtiologiSampai saat ini penyebab Bells palsy masih belum diketahui, menurut Hardi Pranata, penyebab Bells palsy yakni angin yang masuk ke dalam tengkorak atau foramen stylomastoideum. Angin dingin ini membuat saraf di sekitar wajah sembab lalu membesar. Pembengkakan saraf fasialis ini mengakibatkan pasokan darah ke saraf tersebut terhenti. Hal itu menyebabkan kematian sel sehingga fungsi menghantar impuls atau rangsangnya terganggu. Akibatnya, perintah otak untuk mnenggerakkan otot-otot wajah tidak dapat diteruskan. Syaraf fasialis ini terjepit hingga akhirnya kelumpuhan terjadi.

Namun ada beberapa teori yang secara umum diajukan sebagai penyebab Bells palsy,yaitu:a. Teori Ischemia VaskulerTeori ini menjelaskan bahwa telah terjadi gangguan regulasi sirkulasi darah ke saraf fasialis. Gangguan ini menyebabkan vasokonstriksi arteriole dan adanya statis vena.b. Teori Infeksi VirusTeori ini menjelaskan bahwa Bells palsy dapat disebabkan oleh karena virus herpes simplek.c. Teori HerediterTeori ini menjelaskan bahwa Bells palsy bisa disebabkan karena keturunan, dimana kelainannya berupa kanalis fasialis yang sempit dan system enzim.Patofisiologi

Pada kasus Bells palsy, seperti telah dikemukakan diatas, apapun etiologi awal pada kondisi ini proses akhir yang dianggap sebagai proses patologis terjadinya Bells palsy adalah proses oedema yang menyebabkan kompresi pada saraf VII. Sebagaimana saraf perifer lainnya, proses patologi pada kasus Bells palsy yang sesuai dengan tingkat kerusakan saraf perifer adalah

(1) neuropraksia, yaitu suatu paralysis dimana saraf hanya tertekan sehingga terjadi hambatan aliran impuls, tanpa kerusakan atau degenerasi pada akson dan selubung myelin Sehingga apabila tekanan ini hilang maka fungsi saraf akan kembali sempurna dengan cepat. Keadaan ini sering disebut dengan blockade aksonal fisiologik. Disini ketiga unsur serabut saraf (akson, selubung myelin dan neurilema) tidak mengalami kerusakan, (2) aksonotmesis, yaitu suatu paralysis dimana saraf mengalami penekanan yang cukup kuat sehingga akson disebelah distal lesi akan mengalami kematian atau degenerasi, pada kondisi ini yang mengalami kerusakan hanya aksonnya saja sedangkan selubung myelinnya masih utuh, (3) neuronotmesis, yaitu suatu paralysis dimana seluruh batang saraf terputus, pada kondisi ini seluruh unsur serabut saraf di distal lesi mengalami kerusakan.Tanda dan gejala Pada pasien Bells palsy tanda dan gejala klinisnya biasanya timbul secara mendadak, pada awalnya pasien merasakan kelainan pada mulutnya saat bangun tidur , menggosok gigi, berkumur, minum, atau berbicara. Terdapat nyeri yang bervariasi di sekitar telinga atau styloid dan mastoid ipsilateral, kemudian diikuti kelemahan otot-otot wajah dalam waktu beberapa jam atau hari. Terjadi ganguan pengecapan lidah ( manis, asin, asam ) ( Setiawan, 2007 ). Biasanya mulut menjadi tertarik ke sisi sehat, kelopak mata pada sisi lesi tidak dapat menutup rapat, dan tidak dapat mengangkat alis mata pada sisi lesi serta hilangnya ekspresi wajah (Griffith, 1994).

KomplikasiKomplikasi yang sering terjadi pada kasus Bells palsy antara lain:

a. Kontraktur otot-otot wajah Kontraktur dapat terlihat jelas pada wajah saat berkontraksi, keadaan ini ditandai dengan lebih dalamnya lipatan nasobial dan lebih rendahnya alis mata sisi yang lesi bila dibandingkan dengan sisi yang sehat (Widowati, 1992).

b. Clonic facial (hemificial spasm)Clonic facial spasm yaitu terjadinya gerakan secara spontan dari otot-otot wajah, baik pada sisi wajah yang lumpuh maupun pada sisi wajah yang sehat. Namun bila mengenai kedua sisi wajah maka tidak terjadi bersama-sama pada kedua sisi (Sabirin, 1996).

c. Synkinesis Synkinesis merupakan gerakan asosiasi yang terjadi secara involunter karena regenerasi serabut saraf mencapai serabut otot yang salah. Pada kondisi ini otot tidak dapat digerakkan satu per satu, sebagai contoh bila pasien disuruh memejamkan mata maka otot orbicularis oris pun ikut berkontraksi dan sudut mulut terangkat (Lumbantobing, 1998).

d. Crocodile tear phenomenonCrocodile tear phenomenon adalah keluarnya air mata pada saat pasien makan. Fenomena ini dapat terjadi sebagai akibat dari regenerasi yang salah dari serabut otonom. Pada kondisi normal serabut otonom seharusnya menuju ke kelenjar saliva, namun karena regenerasi yang salah serabut otonom menuju ke kelenjar lakrimalis (Sabirin, 1996).

Diagnosis Banding Untuk menegakkan diagnosis Bells palsy kita harus mengetahui beberapa kondisi yang dapat menjadi diagnosis banding untuk kasus ini, yaitu:

Herpes Zoster OtikusTerjadi infeksi herpes zoster pada ganglion genikuli.Gambaran penyakit ini dikuasai seluruhnya oleh adanya gelembung herpes di daun telinga.Beberapa hari setelah vesikel-vesikel tersebut timbul, tanda-tanda paresis fasialis perifer dan tinitus serta tuli perseptif dapat dijumpai pada sisi ipsilateral juga (Sidharta, 1999).Otitis Media Supurativa dan mastoiditisOstitis Media bisa menyebabkan paresis fasialis apabila terjadi kerusakan tulang yang mendidingi kanalis fasialis. Dan keadaan ini selalu menimbulkan nyeri di dalam kepala ( Sidharta, 1999).

TraumaTrauma juga dapat menimbulkan paresis fasialis, hal ini terutama terjadi pada kondisi trauma capitis, yang hampir selamanya mengenai kanalis fasialis, yaitu fraktur os temporal yang tidak selalu dapat diperlihatkan oleh foto rongent. Perdarahan dan likwor mengiringi paresis fasialis perifer traumatik (Sidharta,1999).

Facial palsy tipe sentralPada kelumpuhan wajah tipe ini terliht jelas bahwa otot-otot bagian bawah tampak lebih lumpuh dari pada bagian atasnya. Sudut mulut sisi yang lesi terlihat lebih rendah, lipatan nasolabial sisi yang lumpuh lebih mendatar, otot wajah bagian dahi tidak menunjukkan kelemahan yang berarti selain itu juga tidak dijumpai adanya tanda dari bell (Sidharta,1999).

Sindroma Guillain Barre dan Miastenia GravisPada kedua penyakit ini, paresis fasialis hampir selamanya bilateral.Perjalanan kedua penyakit ini adalah khas.Lagi pula, pada kedua penyakit itu kelumpuhan otot wajah tidak berdiri sendiri.Otot-otot bulber dan otot-otot okuler sering timbul bersama-sama dengan paresis fasialis.Prognosis

Bells palsy memang merupakan kondisi yang tidak berbahaya, namun kebanyakan pasien merasa cukup terganggu. Luasnya jaringan saraf yang rusak menentukan lamanya proses penyebuhan. Perbaikan berlangsung secara bertahap dan bervariasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis yang baik adalah umur relatif muda, masa awitan pendek serta tes eksibilitas yang menunjang(Widowati, 1993).Sedangkan menurut Peitersen 85% penderita menunjukkan tanda kemajuan pertama pada tonus dan gerak otot di dalam 3 minggu pertama. 15% sisanya dengan degenerasi komplit, 11% menunjukkan tanda perbaikan sesudah 3 bulan, 3% pada bulan ke-4, 1% pada bulan ke-5 dan seorang penderita sesudah 6 bulan dari onset (Thamrinsyam, 1991)

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended