Home >Documents >PENUNTUN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Date post:12-Jul-2015
Category:
View:338 times
Download:4 times
Share this document with a friend
Transcript:

PENUNTUN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Penyusun: Nurlaely Mida R., M. Biomed Chris Adhiyanto, M.Biomed Endah W, M. Biomed

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

BAB I

KARBOHIDRATI. Uji Molish Tujuan: Untuk mengetahui adanya karbohidrat dalam suatu larutan. Teori singkat: Penarikan molekul air pada karbohidrat oleh asam sulfat pekat akan membentuk senyawa furfural dan turunannya. Furfural yang terbentuk bereaksi dengan -naftol membentuk senyawa yang berwarna ungu (cincin ungu). Bahan: 1. Pereaksi Molish 2. Asam sulfat pekat 3. Larutan pati 1% 4. Maltose, sukrosa, glukosa dan laktosa masing-masing 0,1 M Cara kerja: Bahan Larutan Pati 1% Larutan Maltosa 0,1 M Larutan Sukrosa 0,1 M Larutan Glukosa 0,1 M Larutan Laktosa 0,1 M Pereaksi Molish Asam sulfat pekat (melalui dinding tabung, JANGAN DIKOCOK) Hasil: Cincin ungu 1 2 mL 3 tetes 1 mL 2 2 mL 3 tetes 1 mL Tabung 3 4 2 mL 2 mL 3 tetes 3 tetes 1 mL 1 mL 5 2 mL 3 tetes 1 mL

Kesimpulan:

II.

Uji Barfoed Tujuan: Membedakan monosakarida dari disakarida

Teori Singkat: Reduksi pereaksi Barfoed oleh karbohidrat dapat terjadi dalam suasana asam. Pada reaksi positif, larutan akan berwarna biru tua setelah penambahan pereaksi warna fosfomolibdat. Reaksi ini positif untuk monosakarida.

Bahan: 1. Larutan Barfoed (pereaksi terdiri atas larutan kupriasetat dan asam laktat) 2. Pereaksi fosfomolibdat 3. Larutan laktosa dan glukosa masing-masing 1% Cara Kerja: Tabung 1 2 Larutan Barfoed 1 mL 1 mL Larutan Glukosa 0,1 M 1 mL Larutan Laktosa 0,1 M 1 mL Panaskan dalam air mendidih (100C) selama 3 menit, lalu dinginkan dalam air Pereaksi fosfomolibdat 1 mL 1 mL Hasil : Perhatikan warna yang terbentuk Bahan Kesimpulan:

III.

Uji Benedict Tujuan: Memperlihatkan sifat mereduksi dari beberapa macam sakarida Teori Singkat: Kuprisulfat didalam larutan tembaga alkali akan direduksi oleh sakarida yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas membentuk kuprooksida. Bahan: 1. Larutan Benedict (terdiri dari kuprisulfat, natrium karbonat, natrium sitrat) 2. Larutan glukosa, fruktosa, dan sukrosa masing-masing 1% Cara Kerja: Tabung 1 2 3 Larutan Benedict 2 mL 2 mL 2 mL Larutan Glukosa 1% 4 tetes Larutan Fruktosa 1% 4 tetes Larutan Sukrosa 1% 4 tetes Panaskan selama 8 menit dalam air mendidih (100C). lalu biarkan dingin perlahan Hasil: Ada/ tidaknya endapan merah bata Kesimpulan: Bahan

IV.

Uji Iodium Tujuan: Membedakan pati dari disakarida dan monosakarida Teori singkat: Molekul pati mempunyai struktur 3 dimensi berupa spiral. Molekul pati dapat mengikat iodium secara fisik, yaitu dengan menempatkannya di dalam spiral. Kompleks tersebut berwarna biru tua. Bila larutan pati dipanaskan, struktur spiral akan hilang, sehingga molekul pati tidak dapat lagi mengikat iodium. Dengan demikian warna biru tua akan hilang. Monosakarida dan disakarida bila direaksikan dengan iodium tidak memberikan warna biru tua. Bahan: 1. Larutan Lugol 2. Larutan Pati 1% 3. Larutan sukrosa dan glukosa 0,01 M Cara Kerja: Bahan Larutan Pati Larutan Sukrosa Larutan Glukosa Larutan Lugol Hasil: Warna biru tua 1 2 mL 1 tetes Tabung 2 2 mL 1 tetes 3 2 mL 1 tetes

Kesimpulan:

BAB II LEMAK DAN PROTEIN

Lemak adalah senyawa organic alamiah yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic seperti etanol, eter, aseton, kloroform, karbon tetraklorida, benzene, toluene, dan lain-lain. Secara kimia lemak terbagi tiga: 1. Lemak Sederhana Lemak jenis ini bila dihidrolisis akan menghasilkan alcohol, biasanya berupa gliserol, dan asam lemak. Contoh yang paling banyak ditemukan ialah triasil gliserol (TG), yang terdapat pada serum, minyak kelapa, dan berbagai minyak lain yang berasal dari mahluk hidup. Minyak adalah lemak berbentuk cair pada suhu kamar, dan bila berbentuk padat disebut lemak. Konsistensi cair atau padat dari lemak pada suhu kamar, ditentukan jumlah atom C penyusunnya. Makin panjang rantai C, makin padat. Konsistensi lemak juga ditentukan oleh kandungan ikatan rangkap. Semakin banyak ikatan rangkap. Semakin banyak ikatan rangkap, konsistensi semakin cair. Lemak yang banyak mengandung ikatan rangkap disebut asam lemak essential. 2. Lemak Majemuk Lemak jenuh ini bila dihidrolisis akan menghasilkan suatu alcohol, suatu asam lemak dan senyawa lain yang bukan alcohol maupun asam lemak. Senyawa yang ketiga ini dapat berupa asam fosfat, asam amino, basa organic seperti kolin. Pada umumnya lemak majemuk bermuatan listrik atau paling tidak mempunyai pengkutuban muatan dalam molekulnya, sehingga menjadi mudah berinteraksi dengan air. 3. Turunan Lemak Turunan lemak adalah berbagai senyawa yang diperoleh dari hidrolisis kedua jenis lemak terdahulu. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah kolesterol, gliserol (dan berbagai alcohol lain penyusun lemak), asam lemak dengan ikatan rangkap (asam lemak tak jenuh), asam lemak tanpa ikatan rangkap (asam lemak jenuh), dan berbagai macam senyawa steroid (kortisol, prednisone, estrogen, progesterone, testosterone, dan aldosterone). Protein adalah molekul organic yang terbanyak di dalam sel dan menjalankan berbagai fungsi dasar kehidupan, seperti enzim, protein kontraktil, protein pembawa pesan informasi dari luar ke dalam sel dan sebagai struktur bagian-bagian sel itu sendiri. Protein juga mengendalikan rangkaian reaksi sintesis suatu protein. Protein merupakan heteropolimer asam-asam amino yang terikat satu sama lain dengan ikatan peptide. Molekul protein dapat berinteraksi dengan air membentuk mantel koloid dalam air. Adanya sejumlah elektrolit dengan konsentrasi encer, dapat meningkatkan kelarutan protein (salting in). sifat ini dapat dimanfaatkan pemisahan protein. Pemisahan protein dapat dilakukan berdasarkan ukuran molekul dan muatannya. Salah satu tehnik yang paling mudah untuk identifikasi ada tidaknya protein dalam suatu larutan adalah dengan menggunakan uji biuret. Makromolekul lain seperti karbohidrat dan lipid yang tidak mempunyai ikatan peptide akan memberikan hasil yang negative. I. Uji Biuret Tujuan : Memperlihatkan bahwa protein mempunyai ikatan peptide.

Teori Singkat : Ikatan peptide yang menyusun protein dan polipeptida akan bereaksi dengan Cu2+ dalam suasana basa akan membentuk warna lembayung. Bahan: 1. Larutan albumin atau putih telur 2. Air liur 3. Larutan pati 1% 4. NaOH 10% 5. Larutan CuSO4 0,1% Cara Kerja : Bahan Larutan albumin atau putih telur Air liur Larutan pati 1% Air suling NaOH 10% Larutan CuSO4 Hasil: Warna lembayung/ungu 1 ml 1 ml 1-10 tts Tabung 1 1 ml 1 ml 1-10 tts 2 1 ml 1 ml 1-10 tts 3 1 ml 1 ml 1-10 tts 4

Kesimpulan:

II.

Salting Out/ Pengendapan protein dengan garam Tujuan : Protein sebagai makromolekul yang larut air dalam bentuk koloid, dapat dipisahkan dengan menggunakan larutan garam konsentrasi tinggi. Teori singkat : Untuk dapat larut dalam air, suatu molekul harus bisa berinteraksi dengan molekul air, yaitu dengan cara membentuk ikatan hydrogen. Molekul tersebut akan tersebar merata diantara molekul-molekul air. Muatan listrik pada molekul terlarut sangat membantu kelarutan, karena muatan yang sama akan saling menjauhi sehungga agregasi antar molekul tidak terjadi. Protein bersifat mudah larut dalam air, karena protein mempunyai gugus CO- dan NH- (ikatan peptide). Gugus ini dapat berinteraksi dengan molekul air melalui ikatan hydrogen. Rantai samping protein yang bersifat hidrofilik dan yang bermuatan, membantu kelarutan protein dalam air (salting in).

Setiap kondisi yang menyebabkan ditariknya air yang mengelilingi molekul protein, akan mengurangi kelarutan protein sehingga menyebabkan protein mengendap. Pemberian larutan garam berkonsentrasi tinggi akan menyebabkan molekul air yang mengelilingi molekul protein ditarik dan larutan garam konsentrasi tinggi juga akan menetralkan muatan listrik, sehingga kelarutan semakin berkurang. Pengendapan menggunakan garam berkonsentrasi tinggi tidak akan mengubah sifat kimia protein karena larutan ini hanya menarik air yang ada disekeliling molekul protein. Oleh karena itu, sifat pengendapan ini adalah reversible. Bahan: 1. Serum sapi/manusia 2. Larutan ammonium sulfat [(NH4)2SO4]jenuh 3. Larutan NaOH 10% 4. Larutan CuSO4 Cara Kerja: 5 ml +5 ml lar. Ammonium sulfat jenuh (saturasi 50%) Disaring

FILTRAT I + Kristal ammonium sulfat PRESIPITAT I (saturasi 100%) Disaring

FILTRAT II PRESIPITAT II Catatan : Filtrat I, Presipitat I, Filtrat II, dan Presipitat II diuji dengan uji biuret Hasil Pengamatan (UJI BIURET) Tabung Bahan Sampel Akuades Na OH 10% CuSO4 1% Hasil: Warna Larutan Kesimpulan: 1 (Filtrate I) 1 ml 1 ml 1-10 tts 2 (Presipit at I) Secukupn ya 1 ml 1 ml 1-10 tts 3 (Filtrat II) 1 ml 1 ml 1-10 tts 4 (Presipita t II) Secukupny a 1 ml 1 ml 1-10 tts

III.

Pemisahan protein dengan etanol absolute Tujuan : Memperlihatkan bahwa protein dapat dipisahkan dengan pemberian etanol absolute. Teori singkat: Etanol absolute bersifat sangat kuat menarik air (higroskopik). Penambahan etanol absolute pada suatu larutan mengandung protein, akan menyebabkan molekul air yang berinteraksi dengan molekul protein melalui ikatan hydrogen, ditarik oleh etanol. Akibatnya molekul-molekul proteinberagregasi satu sama lain dan mengendap. Bila agregat partikel protein tersebut dibiarkan bersentuhan dengan etanol dalam waktu yang lama, maka endapan yang terbentuk tidak dapat dilarutkan lagi sehingga denaturasi yang terjadi ireversibel. Bahan : 1. Albumin 2. Larutan albumin telur 3. Etanol absolute Cara Kerja: Bahan 1 Serum Larutan albumin telur Etanol absolute Presipitat Filtrate Hasil: Warna Larutan KESIMPULAN: 1ml 5ml SARING UJI BIURET UJI BIURET UJI BIURET UJI BIURET 1ml 5ml Tabung 2

IV.

Pengendapan dengan logam berat dan pereaksi alkaloid Tujuan: Bahwa logam berat dan pereaksi alkaloid dapat mengendapkan protein secara denaturasi ireversibel.

Embed Size (px)
Recommended