Home >Documents >PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF MELALUI PENGGUNAAN MEDIA

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF MELALUI PENGGUNAAN MEDIA

Date post:02-Oct-2021
Category:
View:0 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR PADA PESERTA DIDIK
KELOMPOK B PAUD TERPADU BUKIT PERMAI 2
KABUPATEN GOWA
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna memperoleh gelar sarjana
Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
2021
i
ii
iii
iv
v

Atas semua bantuan yang diberikan dengan ikhlas dalam mendukung
Penulis menggapai harapan menjadi sebuah kenyataan
viii
ABSTRAK
penggunaan media kartu bergambar pada peserta didik kelompok B PAUD
Terpadu Bukit Permai 2 Kabupaten Gowa. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru
Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultal Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas
Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Dr. Rusmayadi dan pembimbing II Sri
Sufliati Romba.
media kartu bergambar dapat meningkatkan kemampuan kognitif berpikir
simbolik pada peserta didik kelompok B PAUD Terpadu Bukit Permai 2
Kabupaten Gowa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan
kemampuan kognitif berpikir simbolik melalui penggunaan media kartu
bergambar pada peserta didik kelompok B PAUD Terpadu Bukit Permai 2
Kabupaten Gowa. Manfaat penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan
dalam bidang pembelajaran anak usia dini khususnya dalam meningkatkan
kemampuan kognitif berpikir simbolik dan diharapkan dapat bermanfaat bagi
peserta didik, guru dan sekolah. Metode pengumpulan data menggunakan
observasi dan dokumentasi, jenis penelitian tindakan kelas. Teknik analisis data
dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Lokasi penelitian PAUD
Terpadu Bukit Permai 2 karampang eja desa Kampili kacamatan Pallangga
Kabupaten Gowa.
pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga terlihat peningkatan tidak terlalu
signifikan, dari 10 peserta didik yang diteliti ada 6 anak memiliki kriteria Mulai
berkembang (MB) dan 4 anak memiliki kriteria Berkembang sesuai Harapan
(BSH) dan hasil pada siklus II setelah diberikan tindakan menunjukkan bahwa
peningkatan kemampuan kognitif berpikir simbolik dari 10 peserta didik yang
diteliti ada 4 peserta didik memiliki kriteria Berkembang Sesuai Harapan (BSH)
dan 6 peserta didik memiliki kriterian Berkembang Sangat Baik (BSB).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penggunaan
media kartu bergambar dapat meningkatkan kemampuan kognitif berpikir
simbolik peserta didik kelompok B PAUD Terpadu Bukit Permai 2.
Kata kunci: kemampuan kognitif, berpikir simbolik, media kartu bergambar
ix
Allah maha penyayang dan pengasih, demikian kata untuk mewakili atas
segala karunia dan nikmatnya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugrah pada
detik waktu denyut jantung, gerak langkah, serta rasa rasio padamu sang khalik.
Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkahmu.
Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi kadang
kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Kesempurnaan bagaikan
foto morgana yang semakin dikejar semakin menghilang dari pandangan, bagai
pelangi yang terlihat indah hari kejauhan, tetapi menghilang didekati. Demikian
juga tulisan ini, kehendak hati ini ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas
penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis dikerjakan untuk
membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan,
khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Muhammadiyah Makassar
Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perangpungan
tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis menucapkan terimah kasih kepada kedua
orang tua ayahanda saya Asikin dan ibunda Nurjannah yang telah berjuang berdoa
mengasuh membesarkan, mendidik, dan membiayai pendidik dalam proses
mencari ilmu. Demikian pula, penulis mengucapkan kepada para keluarga,
sahabat, serta teman- teman, yang tak hentinya memberi motivasi dan selalu
menemani dengan candaanannya. Kepada pembimbing I Dr. Rusmayadi,M.Pd
x
terima kasih atas bimbingannya.
Prof.Dr.H.Ambo Asse,M.Ag rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin
Akib,M.Pd.,Ph.D dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Makassar, Tasrif Akib,S.Pd.M.Pd ketua prodi Pendidikan Guru
Pendidikan Anak Usia Dini, serta seluruh dosen dan para staf, dalam lingkungan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar
yang telah membekali penulis dengan rangkaian ilmu pengetahuan yang sangat
bermanfaat bagi penulis.
Ucapan terimah kasih yang sebesar- besarnya juga penulis ucapkan kepada
Direktur, kepala sekolah, guru PAUD Terpadu Bukit Permai 2 Kabupaten Gowa
dan Mukhlis, S.Pd.M.Pd, Sri Sufliati Romba,S.Pd.M.Pd, Reni Endang Lestari,
S.Pd dan Ismawati,S.Pd yang telah memberikan izin dan bantuan untuk
melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada teman
seperjuangan Syahriani dan Zuriatina, dan sahabat-sahabatku terkasih Rezki,
Syahriani, Saleha, Ainun, Saripa, kak Isma dan kak Mirna yang selalu membantu
dan menemaniku dalam suka dan duka, teman-teman terkasih serta rekan seluruh
mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini angkatan 2016
atas segala kebersamaan, motivasi, saran, dan bantuannya kepada penulis yang
telah memberi pelangi dalam hidupku.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa
mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak selama saran dan kritikan
xi
tersebut sifatnya membangun Karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak
akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberi
manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis. Amin.
Makassar, 03 Juli 2021
A. Kajian Pustaka
A. Jenis Penelitian ................................................................................. 32
B. Lokasi Dan Subjek Penelitian........................................................... 32
D. Prosedur Penelitian ........................................................................... 33
E. Instrumen Penelitian ......................................................................... 36
H. Indikator Keberhasilan ..................................................................... 39
A. Hasil penelitian ................................................................................. 41
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 74
A. Kesimpulan ....................................................................................... 74
B. Saran ................................................................................................ 75
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 76
1.3 Hasil Observasi Dan Evaluasi Aktivitas Peserta Didik Peningkatan
Kemampuan Kognitif Berpikir Simbolik Peserta Didik Siklus I Pada
Pertemuan 1,2 dan 3 ........................................................................................ 52
1.4 Rekapitulasi Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Peserta Didik
Peningkatan Kemampuan Kognitif Berpikir Simbolik Peserta Didik
Siklus I Pada Pertemuan 1,2 dan 3 .................................................................. 53
1.5 Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I Pertemuan 1, 2 dan 3 ....................... 55
1.6 Hasil Observasi Dan Evaluasi Aktivitas Peserta Didik Peningkatan
Kemampuan Kognitif Berpikir Simbolik Peserta Didik Siklus II Pada
Pertemuan 1,2 dan 3 ........................................................................................ 67
1.7 Rekapitulasi Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Peserta Didik
Peningkatan Kemampuan Kognitif Berpikir Simbolik Peserta Didik
Siklus I Pada Pertemuan 1,2 dan 3 ................................................................... 68
1.8 Rekapitulasi Hasil Observasi dan Evaluasi Aktivitas Peserta Didik
Peningkatan Kemampuan Kognitif Berpikir Simbolik Peserta Didik
Siklus I Dan Siklus II ....................................................................................... 70
xv
4. Hasil Observasi Penilaian Guru
5. Dokumentasi
Lampiran 2
1) Surat Pengantar Penelitian Dari TU
2) Surat Izin Penelitian Dari LP3M
3) Surat Izin Penelitian Dari Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu
Satu Pintu Provinsi Sulawesi Selatan
4) Surat Izin Penelitian Dari Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu
Satu Pintu Kabupaten Gowa
5) Surat Keterangan Validasi
1
Pendidikan anak usia dini (PAUD) pada hakikatnya adalah pendidikan yang
diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan
perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan
seluruh aspek kepribadian anak. Oleh karena itu, PAUD memberi kesempatan
bagi anak untuk mengembangkan kepribadian dan potensi secara maksimal. Atas
dasar ini, lembaga PAUD perlu menyediakan berbagai kegiatan yang dapat
mengembangkan berbagai aspek perkembangan seperti kognitif, bahasa, sosial,
emosi, fisik dan motorik. Suyadi (2014: 22)
Sejalan dengan pendapat tersebut Sibak dan Vinter, (Madyawati, 2016)
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah pendidikan yang memberikan
pengasuhan, perawatan, dan pelayanan kepada anak usia dini adalah suatu upaya
pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga usia enam tahun yang
dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan
dalam memasuki sekolah dasar.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan upaya pembinaan
yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun
2
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak
memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk
penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan
dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi
motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta,
kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual), sosial emosional(sikap
dan perilaku), bahasa dan komunikasi sesuai dengan keunikan dan
tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Mengacu pada Undang-undang No. 20 tahun 2003 di atas bahwa
pentingnya pendidikan bagi anak usia dini. Pada usia 3-4 sampai 5-6 tahun, yang
disebut masa keemasan (the golden age) yang merupakan masa anak yang mulai
peka atau sensitif dalam menerima berbagai rangsangan. Pada masa ini anak
mulai memasuki masa prasekolah yang merupakan masa kesiapan untuk
memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar, masa ini juga
ditandai dengan masa peka terhadap segala stimulasi yang diterima melalui panca
indra. Masa peka memiliki arti penting bagi perkembangan setiap anak, masa
peka pada masing-masing anak berbeda, seiring dengan laju pertumbuhan dan
perkembangan anak secara individual. Masa peka adalah masa terjadinya
kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang berkaitan
dengan lingkungan. Masa ini juga merupakan masa untuk mengembangkan aspek-
aspek perkembangan anak yaitu kognitif, motorik, bahasa, sosial-emosional,
agama, dan moral.
Salah satu aspek kemampuan anak usia dini yang penting untuk
dikembangkan adalah kemampuan kognitif. kemampuan kognitif dapat diartikan
sebagai kemampuan dalam mengetahui sesuatu yang artinya anak dapat
3
memperoleh banyak ingatan dan menambah banyak pengalaman belajar tentang
sesuatu atau gambaran yang jelas.
Kemampuan kognitif bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
berpikir anak, agar dapat memperoleh hasil belajarnya, dapat menemukan
alternatif pemecahan masalah, membantu anak dalam mengembangkan
kemampuan logika matematika, pengetahuan ruang dan waktu, serta mempunyai
kemampuan untuk memilah-milah, mengelompokkan serta mempersiapkan
perkembangan kemampuan berpikir.
Menurut Permendikbud RI No. 137 Tahun 2014 tentang standar Nasional
Pendidikan Anak Usia Dini (pasal 10).
Kognitif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: belajar dan
pemecahan masalah, mencakup kemampuan pemecahan masalah
sederhana dalam kehidupan sehari-hari dengan cara fleksibel dan
diterima sosial serta menerapkan pengetahuan atau pengalaman
dalam konteks yang baru, berpikir logis yaitu mencakup berbagai
(perbedaan, klasifikasi, pola, berinisiatif, berencana, dan mengenal
sebab akibat), berpikir simbolik, mencakup kemampuan mengenal,
menyebutkan, dan menggunakan konsep bilangan, mengenal huruf,
serta mampu mempresentasikan berbagai benda dan imajinasinya
dalam bentuk gambar.
perkembangan kemampuan kognitif yang harus dicapai anak usia dini sesuai
dengan standar tingkat pencapaian perkembangan anak (STPPA) diantaranya
adalah belajar memecahkan masalah, berpikir logis, dan berpikir simbolik. Dari
ruang lingkup perkembangan kognitif anak usia dini, salah satu dari ketiga ruang
lingkup tersebut, yang tidak boleh diabaikan adalah berpikir simbolik
4
Menurut Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA).
Berpikir simbolik pada anak usia dini 5-6 tahun yaitu menyebutkan bilangan 1-10,
menggunakan lambang bilangan untuk menghitung, mencocokkan bilangan
dengan lambang bilangan, mengenal berbagai macam lambang huruf vokal dan
konsonan, mempresentasikan macam benda dan bentuk gambar atau tulisan.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti di PAUD
Terpadu Bukit Permai 2 pada peserta didik kelompok B pada hari senin tanggal
10 Agustus 2020, mengungkapkan bahwa dari hasil observasi yang dilakukan
oleh peneliti didapatkan permasalahan yaitu kemampuan kognitif berpikir
simbolik perserta didik masih rendah atau belum meningkat secara optimal. Hal
ini disebabkan karena kegiatan pembelajaran di sekolah kurang bervariasi,
cenderung menggunakan metode konvensional, tanya jawab dan pemberian tugas.
Sedangkan dalam proses kegiatan pembelajaran di PAUD, anak usia dini belajar
sambil bermain, mencermati hal tersebut perlu adanya perubahan dalam proses
pembelajaran yang dilakukan. Maka dari itu, diharapkan penggunaan media
pembelajaran dapat membantu proses kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan
kemampuan kognitif berpikir simbolik pada peserta didik.
Mencermati kondisi di atas, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan
kemampuan kognitif peserta didik yakni dengan memilih dan menggunakan
media pembelajaran yang tepat dengan memperhatikan kecenderungan belajar
peserta didik, materi ajar dan kesiapan guru. Adapun upaya yang dilakukan
5
pembelajaran yang menarik.
menggunakan media pembelajaran yang kreatif dan menarik bagi peserta didik,
yaitu dengan menggunakan media kartu bergambar, yang mana media tersebut
berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan kognitif berpikir simbolik peserta
didik dan efektif sebagai alat bantu dalam pelaksanaan interaksi antara guru dan
peserta didik selama proses belajar mengajar.
Kartu bergambar merupakan salah satu jenis dari media visual. Media
gambar adalah media umum yang sering digunakan pada proses pembelajaran,
karena media gambar mudah untuk di mengerti dan efektif digunakan dimana
saja, khususnya bagi peserta didik. Media gambar biasanya memerlukan
keterpaduan dalam pemakaiannya sehingga media tersebut menjadi efektif, selain
penggunaannya yang mudah media gambar juga memiliki beberapa jenis gambar
yang dapat diterapkan sebagai pilihan dalam menyampaikan materi ajar.
Berdasarkan uraian diatas, menunjukkan bahwa pentingnya penggunaan
alat bantu atau media ajar untuk meningkatkan kemampuan kognitif berpikir
simbolik anak usia dini. Maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Kemampuan Kognitif Dalam
Berpikir Simbolik Melalui Penggunaan Media Kartu Bergambar Pada
Peserta Didik Kelompok B PAUD Terpadu Bukit Permai 2 Kabupaten
Gowa”.
6
diidentifikasi masalah yang ditemukan, bahwa kemampuan kognitif berpikir
simbolik belum tercapai secara optimal pada peserta didik kelompok B PAUD
Terpadu Bukit Permai 2.
2. Alternatif Pemecahan Masalah
didik yaitu melalui penggunaan media kartu bergambar pada peserta didik
kelompok B PAUD Terpadu Bukit Permai 2.
3. Rumusan Masalah
meningkatkan kemampuan kognitif berpikir simbolik pada peserta didik
Kelompok B PAUD Terpadu Bukit Permai 2 Kabupaten Gowa?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah untuk meningkatkan kemampuan kognitif berpikir simbolik peserta didik
dari Belum Berkembang (BB) meningkat menjadi Berkembang Sangat Baik
(BSB) dengan menggunaan media kartu bergambar pada peserta didik kelompok
B PAUD Terpadu Bukit Permai 2 Kabupaten Gowa.
7
dalam meningkatkan kemampuan kognitif berpikir simbolik pada peserta
didik melalui penggunaan media kartu bergambar.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi anak, guru dan juga
sekolah, adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut;
a. Manfaat penelitian bagi anak yaitu: hasil penelitian ini diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik.
b. Manfaat penelitian ini bagi guru yaitu: dengan adanya penelitian ini
diharapkan dapat membantu guru menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan, mengembangkan kreativitas dan inovasi guru dalam
membuat media pembelajaran yang menarik.
c. Manfaat penelitian bagi sekolah: Dapat memberikan masukan yang berarti
dan bermakna pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran.
8
penelitian yang dilakukan peneliti, yaitu sebagai berikut:
a. Penelitian oleh Siti Sadidah (2012) judul: Penggunaan Media Kartu
Bergambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Mengenal
Konsep Bilangan Dan Lambang Bilangan 1-10 Pada Siswa kelompok A TK
Krisnamurti III Surabaya.
Madani Gampong Ateuk Jawo Kacamatan Baiturrahman Banda Aceh.
Dari penelitian terdahulu di atas memiliki persamaan dan perbedaan
dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti, antara lain:
No Judul Penelitian Persamaan Perbedaan
1
bahwa penggunakan media kartu bergambar dapat membantu dalam
meningkatkan kemampuan kognitif berpikir simbolik pada anak usia dini.
B. Kajian Teori
dari kata cognition yang artinya pengertian atau mengerti.” Pengertian dalam area
cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan.
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif ini menjadi populer sebagai
salah satu wilayah psikologi manusia atau satu konsep umum yang mencakup
semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan
dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka,
pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan,
pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.
Menurut Susanto (2012: 47) Kognitif adalah “suatu proses berpikir, yaitu
kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan
suatu kejadian atau peristiwa.” Proses kognitif berhubungan dengan tingkat
kecerdasan (inteligensi) yang menandai seseorang dengan berbagai minat
terutama sekali ditujukan kepada ide-ide dan belajar
Kognisi juga dapat diartikan dengan kemampuan belajar atau berpikir atau
kecerdasan, yaitu kemampuan untuk mempelajari keterampilan dan konsep baru,
keterampilan untuk memahami apa yang terjadi di lingkungannya, serta
10
Sementara itu dalam kamus besar bahasa Indonesia, kognitif diartikan sebagai
suatu hal yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan pengolahan
informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan
masalah dan merencanakan masa depan atau semua proses psikologi yang
berhubungan dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan,
mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai, dan memikirkan
lingkungannya.
individu untuk menghubungkan, menilai dan mempertimbangkan suatu kejadian
atau peristiwa, proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan
(intelegensi). Pengembangan kognitif dimaksudkan agar anak mampu melakukan
eksplorasi terhadap dunia sekitar melalui panca inderanya, sehingga dengan
pengetahuan yang didapatkannya anak akan dapat melangsungkan hidupnya dan
menjadi manusia yang utuh sesuai dengan kodratnya.
Berdasarkan definisi kognitif diatas dapat disimpulkan bahwa kognitif
adalah perubahan psikis yang berpengaruh pada proses berpikir atau kecerdasan,
yaitu kemampuan untuk mempelajari keterampilan dan konsep baru, keterampilan
untuk memahami apa yang terjadi di lingkungannya, serta keterampilan
menggunakan daya ingat dan menyelesaikan soal-soal sederhana.
b. Teori kognitif
perkembangan kognitif, anak secara terus menerus berinteraksi dengan dunia di
11
dan belajar pada waktu anak mengambil tindakan dalam menyelesaikan masalah
tersebut. Dengan demikian anak aktif membangun pengetahuannya sendiri.
Vigotsky (Patilima, 2015: 15-18), menyatakan “perkembangan mental,
bahasa, dan sosial didukung dan ditingkatkan oleh orang lain lewat interaksi
sosial”. Zona perkembangan proksimal, wilayah perkembangan masa anak dapat
diarahkan untuk berinteraksi dengan mitra yang lebih kompeten maupun baik
orang dewasa maupun teman sebaya, ini bukanlah ruang kelas yang muncul
dengan sendirinya dari aktivitas bersama atau itu sendiri. Namun, ini adalah
perbedaan antara apa yang dapat dicapai anak sendiri dan apa yang dapat ia capai
dengan kerjasama dengan orang lain yang lebih kompeten. Zona tersebut tercipta
dalam interaksi sosial.
seseorang tercermin pada kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang
menyangkut pemahaman dan penalaran. Potensi kognitif harus dimengerti sebagai
suatu aktivitas atau perilaku kognitif yang pokok, terutama pemahaman penilaian
yang menyangkut kemampuan berbahasa maupun kemampuan motoric.
Woolfolk (Susanto Ahmad 2014: 57) mengemukakan definisi kognitif
kepada tiga kategori, yaitu: 1) kemampuan untuk belajar; 2) keseluruhan
pengetahuan yang harus diperoleh; dan 3) kemampuan untuk beradaptasi dan
berhasil dengan situasi baru atau lingkungan yang baru. Woolfolk juga
mengemukakan bahwa kognitif merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk
12
dan beradaptasi dengan lingkungan.
Brunner (Nur’aeni 2004: 57), pada hakikatnya segala ilmu dapat diajarkan
pada semua anak dari semua usia, asal materinya benar-benar sesuai”. Itu
sebabnya menurut Brunner, peranan pendidikan sangat penting dalam hal lain.
Selanjutnya ia mengajukan tiga tingkat perkembangan:
1) Tingkat Enactiva
Bayi akan belajar dengan baik bila belajar ini dilakukan lewat hubungan
sensomotoriknya.
2) Ironis
Tahap ini terjadi pada saat anak telah menginjakkan kakinya di TK. Di sini
anak belajar lewat gambaran mental dan bayangan ingatannya.
3) Penggunaan Lambang
Pada saat anak telah duduk di SD atau SMP tingkat akhir anak secara prima
telah mampu menggunakan bahasa dan berpikir abstrak.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
perkembangan kognitif merupakan sebuah kemampuan berpikir, bertindak,
mengetahui dan memahami. Berpikir bagaimana seseorang mampu bertindak
dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi secara cepat ataupun lambat.
c. Tahap-tahap perkembangan kognitif
(ahli psikologi kognitif) berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif
manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir.” Bekal dan modal dasar
13
Tahap-tahap perkembangan kognitif menurut Piaget dalan (Nur’aeni,
2004: 52-57) adapun penjelasannya sebagai berikut:
1) Tahap Sensori Motorik (0-2 tahun)
2) Tahap pra operasional (2-7 tahun)
3) Tahap periode berpikir logis yang konkret (7-12 tahun)
4) Tahap berpikir formal (12-16 tahun)
Adapun penjelasannya mengenai tahap perkembangan kognitif menurut
Piaget sebagai berikut:
Perkembangan berpikir bayi pada periode ini masih amat sederhana,
merupakan reaksi refleks untuk mendapatkan pengertian dasar tentang
lingkungan. Pada periode ini ada 3 tahapan yaitu:
1) Anak-anak belajar bahwa mereka mempunyai 5 indra dan dapat digunakan
untuk memperoleh informasi. Mereka juga tahu bahwa mereka dapat
memperoleh informasi yang berbeda dari objek yang sama. Misalnya
dalam saat sama ia bisa mendengar dan melihat orang tuanya.
2) Tingkah laku yang terarah dan bertujuan mulai tampak pada tahap kedua
ini. Berbagai tingkah laku ia tunjukkan untuk meraih tujuan yang sama.
Misalnya ia akan berusaha keras untuk mendapatkan sebuah anak papan
teka-teki kayu dengan tujuan meletakkan kembali ke papannya. Berpikir
14
anak pada saat ini juga masih amat konkret. Merencanakan langkah lebih
jauh ke depan pada mereka ini masih amat sempit.
3) Pada tahap ketiga ini bayi mulai mengerti bahwa benda itu bersifat
permanen. Ia menjadi sadar bahwa benda itu walaupun lepas dari
pengamatannya masih tetap ada. Ini merupakan kekayaan yang pertama
yang paling penting bagi perkembangan berpikir anak. Dengan dasar
pengertian objek permanen ini anak akan mampu berpikir abstrak. Pada
usia dua tahun anak sudah dapat menghadirkan benda pada pikirannya,
walau benda itu tidak sedang dilihatnya, benda itu tidak berada di situ,
tetapi di tempat jauh. Anak pun kini telah mampu memecahkan masalah
sederhana.
Perkembangan berpikir abstrak semenjak dua tahun terus merambat maju.
Walaupun kadang-kadang masih kembali kepada hal-hal yang konkret. Disaat
praoperasional ini anak bahkan mampu menggunakan lambang. Bahasa sebagai
kumpulan lambang dan sebagai satu-satunya alat berpikir sudah mulai digunakan
sejak dini, meskipun masih amat sederhana. Kini anak mulai siap-siap untuk
berpikir logis. Sayang tahap berpikir praoperasional ini ditantang oleh berbagai
hambatan antara lain:
1) Sifat egosentris
“kemratu-ratu”. Artinya anak merasa dirinya seorang raja, menjadi pusat
semua yang ada di sekitarnya. Menurut Piaget perspektif anak berbeda dengan
15
semua orang yang ada di sekitarnya. Pendapat ini dibuktikan dengan
memberikan kepada anak sebuah boneka. Mula-mula ditunjukkan boneka ini
dari semua sisi. Kemudian anak diminta pendapatnya. Ternyata pendapatnya
sangat berlainan dengan kenyataan.
Belakangan pakar lain menentang pendapat piaget ini. Para pakar di…

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended