Home >Documents >Pengelolaan DAS Krukut

Pengelolaan DAS Krukut

Date post:17-Jan-2016
Category:
View:23 times
Download:4 times
Share this document with a friend
Description:
Tugas Kuliah
Transcript:

PENATAAN RUANG DAN ANALISIS PERTUMBUHAN KOTA

(Studi Kasus Kali Krukut di Kelurahan Bangka dan Kelurahan Cipete Utara)

ANDI YASSER FAUZAN(1406523673)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kota Jakarta merupakan ibukota negara yang memiliki perkembangan yang sangat pesat sebagai segala pusat kegiatan. Karena kemajuan Jakarta terutama dalam bidang ekonomi yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat di sekitarnya. Akibatnya jumlah penduduk yang tinggal di Jakarta semakain meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini berpengaruh terhadap meningkatnya kebutuhan penduduk akan hunian,perkantoran,sarana dan prasarana transportasi, serta fasilitas publik lainnya. Sehingga mengakibatkan perubahan peruntukan lahan yang semakin signifikan. Keadaan wilayah Jakarta yang sempit dengan penduduk yang melimpah menyebabkan banyak berdiri pemukiman-pemukiman yang terdapat di Jakarta sampai lahan yang seharusnya menjadi lahan terbuka hijau juga dibangun untuk pemukiman. Hal ini juga terjadi di wilayah Jakarta Selatan.

Jakarta Selatan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari wilayah Jakarta yang juga menjadi Ibukota negara Indonesia dituntut untuk terus menerus mengembangkan dirinya sesuai dengan dinamika pembangunan yang berkembang dan semakin maju. Jakarta Selatan juga dihadapkan pada berbagai persoalan ekonomi, sosial kependudukan, dan sarana prasarana kota yang memadai. Jakarta Selatan merupakan daerah pemukiman. Masih banyak ditemukan perkampungan alami yang terdiri dari mayoritas komunitas budaya asli Betawi. Dengan kondisi lingkungan yang hijau, teduh dan tenang, menjadikan wilayah ini sebagai pilihan golongan ekonomi atas dan warga asing untuk bermukim. Hal ini terlihat dari munculnya pemukiman golongan ini di berbagai bagian wilayah Jakarta Selatan, seperti Kebayoran Baru dan mampang Prapatan.Selain dari golongan ekonomi atas dan warga asing, terlihat juga beberapa pemukiman yang terletak dibantaran sungai. Dimana pada saat musim hujan di pemukiman tersebut sering terjadi banjir. Selain itu banyak permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kawasan lingkungan di perkotaan, seperti permasalahan sosial, ekonomi, dan dalam pemanfaatan ruang, termasuk degradasi lahan. Permasalahan-permasalahan yang timbul tersebut dapat mengancam pembangunan berkelanjutan yang telah dicanangkan dalam aturan atau disebut dengan RDTR juga berdampak pada lingkungan yang akan menjadi sumber masalah bagi kehidupan seperti timbulnya banjir, kekeringan, polusi air, tanah dan udara. Masalah tersebut seharusnya dapat ditanggulangi bersama untuk mewujudkan RDTR yang telah ditetapkan. Untuk menerapkan RDTR tersebut, baik pemerintah maupun masyarakat seharusnya bekerjasama untuk menjalankan program yang telah dibuat sehingga dapat terealisasi dengan baik dan tepat guna. Oleh sebab itu, pada daerah banjir perlu adanya pengelolaan disekitar bantaran sungai supaya banjir dapat ditangani dan lingkungan tetap terjaga sehingga memiliki fungsi yang baik untuk mahluk hidup disekitarnya. 1.2Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup wilayah kajian terletak pada kawasan DAS Kali Krukut di Bagian Selatan Jakarta yang meliputi daerah Kelurahan Bangka dan Kelurahan Cipete Utara.

Gambar 1. Peta Kelurahan Cipete Utara dan Kelurahan Bangka1.2 Tujuan Penyusunan MakalahTujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memberikan gambaran pengembangan wilayah, guna mencapai tujuan penataan ruang baik dari aspek karakteristik sistem ekonomi dan karakteristik sistem ekologi. Karena kedua aspek tersebut diharapkan dapat menciptakan kualitas kehidupan yang optimal.BAB IIURAIAN PERATURAN

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1 Tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi menjelaskan bahwa Rencana Detail Tata Ruang adalah adalah rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah tingkat kecamatan yang dilengkapi dengan peraturan zonasi yang merupakan penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah 2011 2030 dengan peta skala 1: 5.000.

Pengembangan kawasan DAS Kali Krukut di wilayah Kelurahan Bangka dan Cipete Utara tidak bisa lepas dari Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta tersebut. Arahan pengembangannya secara detail dijelaskan pada Bagian Kedua Puluh Enam Pasal 334 dalam Perda No 1 Tahun 2014. Pada pasal tersebut dijelaskan tujuan penataan ruang Kecamatan Kebayoran Baru yaitu untuk:1. Terwujudnya pengembangan dan penataan kawasan strategis kepentingan sosial budaya di Kawasan Kebayoran Baru;

2. Terwujudnya pengembangan kawasan cagar budaya melalui upaya pelestarian kawasan permukiman pada Kawasan Kebayoran Baru;

3. Terwujudnya pengembangan sebagai Pusat Kegiatan Sekunder Kawasan Blok M sebagai terminal/stasiun terpadu dan titik perpindahan beberapa moda transportasi konsep TOD;4. Terwujudnya pengembangan sebagai Pusat Kegiatan Tersier Kawasan Kantor Walikota Jakarta Selatan sebagai pusat pemerintahan;5. Terwujudnya pengembangan sebagai pusat kegiatan sekunder Kawasan Majestik sebagai pusat perdagangan tekstil;6. Terwujudnya pengembangan kawasan permukiman berwawasan lingkungan melalui perbaikan dan/atau pemugaran lingkungan dilengkapi prasarana yang terintegrasi dengan angkutan umum massal; dan

7. Terwujudnya pembangunan rumah susun umum dilengkapi prasarana yang terintegrasi dengan angkutan umum massal.Berdasarkan rencana pengembangannya, DAS Kali Krukut yang masuk di kawasan Kecamatan Kebayoran Baru diperuntukkan:1. Rencana pengembangan dan/atau peningkatan prasarana air minum; dan

2. Rencana prasarana drainase yang berfungsi untuk mencegah banjir dan genangan air.

Namun pada perkembangannya, kawasan sempadan Kali Krukut di daerah ini dipenuhi oleh pemukiman yang kurang tertata.BAB IIIGAMBARAN UMUM KAWASANa. Kelurahan BangkaLuas wilayah Bangka adalah 3,30 km2 yang memiliki penduduk sebesar 24.740 jiwa dan terbagi menjadi 7843 Keluarga (KK), 65 RT, 5 RW. Penduduk yang mendiami Kelurahan Bangka didominasi oleh penduduk pendatang dan masih banyak juga warga asli (suku Betawi) yang mendiami kelurahan ini. Daru segi wilayah, di kelurahan Bangka termasuk kelurahan yang bervariasi dalam segi tingkat kesejahteraannya. Karena di kelurahan Bangka terdapat daerah Kemang dimana kawasan ini Di masa lalu, wilayah Kemang dikenal sebagai Kampung Kebon, dikarenakan banyaknya pohon-pohon besar yang tumbuh di wilayah tersebut. Sejalan dengan perkembangan kota, Kemang kini lebih dikenal sebagai suatu kawasan elit yang dihuni para ekspatriat. Kompleks perumahan elit yang pertama hadir di Kemang adalah komplek Pusri, yang dikuti oleh pusat belanja Hero dan Kemang Villas dan lain-lain. Wilayah ini semula diperuntukkan sebagai kawasan hunian, seperti juga kawasan Menteng di Jakarta Pusat. Namun pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso, kawasan Kemang diubah peruntukannya menjadi kawasan perumahan, bisnis dan bisnis hiburan malam. Namun sebagian wilayah Bangka lainnya ada yang masih tinggal di sepanjang kali Krukut dengan kondisi yang kumuh dimana kondisi ini yang jauh berbeda dari wilayah Kemang. Mata pencaharian penduduk di kawasan ini bervariasi karena sebagian besar bekerja sebagai karyawan hingga buruh dan pedagang.Di Kelurahan Bangka, beberapa RT yang sering terkena banjir terutama pemukiman yang letaknya juga berada di bantaran atau sempadan sungai. Beberapa RW tersebut adalah RW 2,3, dan 4. Banjir yang disebabkan oleh meluapnya aliran sungai krukut yaitu di RW 2, sedangkan untuk RW 3 dan 4 disebabkan oleh meluapnya dua sungai, yaitu sungai mampang dan krukut.Bagian lain dari Kelurahan Bangka adalah daerah Kemang, yang dikenal sebagai daerah tinggal para ekspatriat. Di masa lalu, wilayah Kemang dikenal sebagai Kampung Kebon, dikarenakan banyaknya pohon-pohon besar yang tumbuh di wilayah tersebut. Sejalan dengan perkembangan kota, Kemang kini lebih dikenal sebagai suatu kawasan elit yang dihuni para ekspatriat. Kompleks perumahan elit yang pertama hadir di Kemang adalah komplek Pusri, yang dikuti oleh pusat belanja Hero dan Kemang Villas dan lain-lain. Wilayah ini semula diperuntukkan sebagai kawasan hunian, seperti juga kawasan Menteng di Jakarta Pusat. Namun pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso, kawasan Kemang diubah peruntukannya menjadi kawasan perumahan, bisnis dan bisnis hiburan malam.b. Kelurahan Cipete Utara

Luas wilayah Cipete Utara adalah 1,83 km2 dan terdiri dari 12.054 Kepala Keluarga (KK), 104 RT, 11 RW. Penduduk yang mendiami Kelurahan Cipete Utara didominasi oleh penduduk pendatang dan masih banyak juga warga asli (suku Betawi) yang mendiami kelurahan ini. Penduduk yang berada di Kelurahan Cipete Utara memiliki tempat tinggal yang bervariasi, di pinggiran jalan pemukiman yang terlihat banyak terdapat pemukiman elit yang rata-rata penduduknya bekerja di kantoran. Disamping itu terdapat juga pemukiman kumuh yang letaknya lebih dalam dari komplek pemukiman mewah. Pemukiman kumuh tersebut banyak terdapat di bantaran sungai dengan sistem sosial yang masih sering berkumpul karena keadaan pemukimannya yang sangat padat. Mata pencaharian penduduk di kawasan ini rata-rata sebagai buruh. Lingkungan tempat tinggal mereka juga beberapa ada yang diatas tanah illegal, dimana tanah tersebut seharusnya milik pemerintah sebagai sepadan sungai maupun lahan terbuka hijau tetapi tetap didirikan bangunan sebagai tempat tinggal.Tingkat ekonomi penduduknya beragam. Di sebelah timur merupakan pemukiman penduduk dengan taraf ekonomi tinggi (Blok O dan P), sementara di sebelah barat merupakan pemukiman penduduk dengan taraf ekonomi lebih rendah (Blok A). Terdapat satu pasar tradisional yang cukup besar di sini yaitu Pasar Blok A Kebayoran Baru. Kantor Kepolisian Wilayah Metro Jakarta Selatan juga terletak di kelurahan ini. Tepat di sebelah selatannya terdapat menara air milik PT Palyja untuk memasok air minum daerah sekitarnya. Di sebelah timur terletak komplek perkantoran "Grand Wijaya". Gedung percetaka

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended