Home > Documents > PENGARUH SHALAWAT FATIH TERHADAP...

PENGARUH SHALAWAT FATIH TERHADAP...

Date post: 06-Feb-2018
Category:
Author: vongoc
View: 240 times
Download: 2 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 95 /95
i PENGARUH SHALAWAT FATIH TERHADAP AGRESIVITAS SISWA MADRASAH ALIYAH NEGERI LASEM SKRIPSI Disusun Guna Memenuhi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S.1) Dalam Ilmu Ushuluddin Jurusan Tasawuf Psikoterapi Oleh: ZAINUL MUTTAQIN 4104020 FAKULTAS USHULUDDIN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011
Transcript
  • i

    PENGARUH SHALAWAT FATIH TERHADAP AGRESIVITAS

    SISWA MADRASAH ALIYAH NEGERI LASEM

    SKRIPSI

    Disusun Guna Memenuhi Syarat

    Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S.1)

    Dalam Ilmu Ushuluddin

    Jurusan Tasawuf Psikoterapi

    Oleh:

    ZAINUL MUTTAQIN

    4104020

    FAKULTAS USHULUDDIN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

    SEMARANG

    2011

  • ii

    PENGARUH SHALAWAT FATIH TERHADAP AGRESIVITAS

    SISWA MADRASAH ALIYAH NEGERI LASEM

    SKRIPSI

    Disusun Guna Memenuhi Syarat

    Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S.1)

    Dalam Ilmu Ushuluddin

    Jurusan Tasawuf Psikoterapi

    Oleh:

    ZAINUL MUTTAQIN

    4104020

    Semarang, 31 Mei 2011

    Disetujui Oleh:

    Pembimbing I Pembimbing II

    Hj. Arikhah, M. Ag Fitriyati, S. Psi, M. Si

    NIP. 19691129 199603 2 002 NIP. 19690725 200501 2 002

  • iii

    PENGESAHAN

    Skripsi saudara Zainul Muttaqin dengan

    Nomor Induk Mahasiswa 4104020 telah

    dimunaqosahkan oleh Dewan Penguji

    skripsi Fakultas Ushuluddin Institut

    Agama Islam Negeri Walisongo

    Semarang pada tanggal: 15 Juli 2011.

    Dan telah diterima serta disahkan

    sebagai salah satu syarat guna

    memperoleh gelas sarjana (S.1) dalam

    ilmu Ushuluddin.

    Dekan Fakultas Ushuluddin/Ketua

    Sidang

    H. Hasyim Muhammad, M. Ag

    NIP. 19720315 199703 1 003

    Pembimbing I Penguji I

    Hj. Arikhah, M. Ag Dra. Hj. Fatimah Usman, M. Si

    NIP. 19691129 199603 2 002 NIP. 19560805 198503 2 001

    Pembimbing II Penguji II

    Fitriyati, S. Psi, M. Si Rohkmah Ulfah, M. Ag

    NIP. 19690725 200501 2 002 NIP. 19700513 199803 2 002

    Sekretaris Sidang

    Dr. Sulaiman Al-Kumayi, M. Ag

    NIP. 19730627 200003 1 003

  • iv

    MOTTO

    SABAR DALAM MENGATASI KESULITAN DAN

    BERTINDAK BIJAKSANA DALAM

    MENGATASINYA ADALAH SESUATU YANG

    UTAMA

  • v

    HALAMAN PERSEMBAHAN

    JIKA ADA YANG LEBIH PANTAS MENERIMA TAK AKAN

    KUPERSEMBAHKAN RASA SYUKURKU SELAIN KEPADA-MU

    Skripsi ini kupersembahkan kepada:

    Keluargaku terutama Bapak H. Abdul Halim dan Ibu Djuweni

    Mbak Muthoharoh

    Mas Muzakka (alm)

    Mbak Abidatul Muadhomah, S. E

    Adik Much. Dzulkifli, A. Md

    Adik Zaidatul Mubtasyiroh

    Puji Lestari

    Terima kasih atas doa, motivasi, inspirasi dan cinta kasihnya kepada

    penulis. Semoga Allah SWT membalas budi baiknya dan meridhoinya,

    Amien.....

  • vi

    DEKLARASI

    Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab penulis menyatakan bahwa skripsi

    tidak berisi materi yang pernah di tulis oleh orang lain atau diterbitkan. Demikian

    juga skripsi tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi yang

    terdapat dalam referensi yang dijadikan sebagai bahan rujukan.

    Semarang, 16 Juli 2011

    Deklarator

    Zainul Muttaqin

    NIM: 4104020

  • vii

    KATA PENGANTAR

    Bismillaahir Rahmaannir Rahiim

    Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,

    karena atas rahmat, hidayah, nikmat serta inayah-Nya, maka penulis dapat

    menyelsaikan skripsi ini.

    Skripsi yang berjudul Pengaruh Shalawat Fatih Terhadap Agresivitas

    Siswa Madrasah Aliyah Negeri Lasem ini disusun memenuhi salah satu syarat

    guna memperoleh gelar sarjana strata satu (S.I) pada jurusan Taswuf dan

    Psikoterapi di fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri Walisongo

    Semarang.

    Dalam penyusunan ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan saran-

    saran dari berbagai pihak, sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.

    Oleh karena itu penulis penyampaikan ucapan terima kasih kepada:

    1. Yang terhormat Bapak Dr. Nasihun Amin, M. Ag selaku Dekan Fakultas

    Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.

    2. Para dosen Fakultas Ushuluddin yang telah memberikan ilmu selama penulis

    belajar di Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.

    3. Yang terhormat Ibu Hj. Arikhah, M. Ag selaku pembimbing I dan Ibu

    Fitriyati, S. Psi, M. Si selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktu,

    tenaga, dan fikiran untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam

    penyusunan skripsi ini.

    4. Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Negeri Lasem Bapak Drs. H. Chudlori

    Supaat, M. Ag yang telah memberikan waktu dan izin kepada penulis untuk

    melakukan penelitian di MAN Lasem.

    5. Wakil Kepala bidang Humas bapak Nur Haqiqi, M. A dan Wakil Kepala

    bidang Kurikulum Ibu Bekti Kurniawati, M. Si yang telah memberikan

    informasi dan data kepada penulis.

    6. Bapakku, Ibuku, Kakakku, Adikku yang selama ini telah membantu dalam

    bentuk yang tidak mungkin terucap seluruhnya sehingga penulis dapat

    menyelesaikan program strata satu (S.I).

  • viii

    7. K. H Abdul Rozaq Iman yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

    8. K. H Drs. Dzikron Abdullah yang telah memberikan informasi dan data

    tentang shalawat fatih.

    9. K. H Soleh Basmalah yang telah memberikan informasi dan data tentang

    shalawat fatih.

    10. Para sahabat setiaku (mas Tholib, Mas Arif, Mas Prast, Mas Hakim) yang

    selalu memberi semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

    11. Sahabat-sahabat PMII Rayon Ushuluddin, Mas Nedy, Mas Jay, Mas Fuad,

    Evi, Nurul, Amir, Sulis, dan sebagainya yang selalu menjadi semangat dalam

    menyelesaikan skripsi.

    12. Anak-anak Panti Asuhan Arrodiyah yang selalu setia mendoakan penulis.

    Semoga segala amal baik bapak ibu serta semua pihak yang disebut diatas

    akan menjadi amal sholeh dan mendapatkan pahala yang setimpal dari Allah

    SWT. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini belum maksimal. Pada

    akhirnya penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat khususnya untuk penulis

    dan untuk pembaca pada umumnya.

    Semarang, 31 Mei 2011

    Penulis

  • ix

    ABSTRAKSI

    Dengan fenomena keterpurukan moral yang terjadi dikalangan pelajar

    sering menggagu para orangtua, sering kita melihat di media elektronik terjadi

    tawuran pelajar, pembunuhan dan sebagainya, kejadian tersebut juga bisa terjadi

    terhadap pendidikan yang berbasis agama, apalagi remaja merupakan generasi

    yang akan menjadi tulang punggu bangsa ini. Shalawat adalah cinta dalam bentuk

    peneladanan kepada beliau dengan cara yang sempurna dan melaksanakan

    sunnahnya dalam perilaku, sikap, dan perbuatan amal. Cinta ini juga mencakup

    pembelajaran tentang kehidupan beliau. Salah satu aspek terbesar cinta ini adalah

    meneladaninya dengan sikap tidak terlalu mencintai dunia secara berlebihan dan

    mengharapkan kehidupan akhirat yang kekal. Shalawat fatih juga merupakan

    salah satu kontrol diri yang dapat membentengi diri kita dari perilaku negatif

    dengan globalisasi dan perkembangan zaman, karena kontrol masyarakat dan

    pemerintah sekarang sudah sangat minim. Oleh karena itu penulis mengadakan

    penelitian yang berkaitan dengan shalawat terutama shalawat fatih sebagai bentuk

    penghayatan meneladani Nabi Muhammad SAW berpengaruh terhadap

    agresivitas siswa. Hal ini menarik penulis untuk melakukan penelitian dengan

    judul Pengaruh Shalawat Fatih Terhadap Agresivitas Siswa MAN Lasem.

    Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana pengaruh shalawat fatih terhadap

    agresivitas MAN Lasem.

    Peneltian ini adalah penelitian eksperimen dengan varibel tergantungnya

    agresivitas dan variabel bebasnya shalawat fatih. Metode pengumpulan data

    dengan angket yaitu skala agresivitas dan sampelnya para siswa MAN Lasem

    kelas XI dengan populasi 132 siswa yaitu IPA-1, IPA-2, IPS-3, dan IPS-5 terdiri

    dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sedangkan analisis datanya

    menggunakan Uji T dengan SPP 14.0. sebelum melakukan penelitian sebelumnya

    melakukan uji asumsi yaitu uji normalitas dan homoginitas dan hasil

    menunjukkan p>0.05. apabila ini tidak terpenuhi maka model analisisnya harus

    diganti.

    Dengan demikian hasil dari uji T dengan nilai t= -12,311menunjukan

    bahwa ada perbedaan perubahan agresivitas yang signifikan antara kelompok

    kontrol dan kelompok eksperimen, tetapi kelompok kontrol mengalami kenaikan

    agresivitas yang bisa dipengaruhi beberapa faktor lingkungan, teman, masalah di rumah atau masalah pribadi siswa sehingga perlu adanya monitoring secara total

    seperti menginap di sekolah, sehingga kita dapat mengetahui sebab dari naiknya

    kelompok kontrol. Untuk kelompok kontrol tanpa diberi perlakuan sedangkan

    kelompok eksperimen diberi perlakuan shalawat fatih.

  • x

    SISTEM TRANSLITERASI

    1. Konsonan

    2. Vokal pendek

    = = kataba

    suila = =

    yadzhabu = =

    3. Vokal panjang

    qaala = =

    qiila = =

    yaquulu = =

    No ARAB LATIN

    th 16

    z 17

    18

    gh 19

    f 20

    q 21

    k 22

    l 23

    m 24

    n 25

    w 26

    h 28

    , 29

    y 30

    No ARAB LATIN

    A 1

    B 2

    T 3

    Ts 4

    J 5

    H 6

    Kh 7

    D 8

    Dz 9

    R 10

    Z 11

    S 12

    Sy 13

    Sh 14

    Dl 15

  • xi

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ................................................................................... i

    HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ......................................... ii

    HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... iii

    HALAMAN MOTTO ................................................................................. iv

    HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................. v

    DEKLARASI .............................................................................................. vi

    KATA PENGANTAR ................................................................................ vii

    ABTRAKSI ................................................................................................. ix

    TRANSLITERASI ...................................................................................... x

    DAFTAR ISI ............................................................................................... xi

    BAB I: PENDAHULULUAN

    A. LATAR BELAKANG ................................................................ 1

    B. PENEGASAN JUDUL ............................................................... 9

    C. RUMUSAN MASALAH ........................................................... 10

    D. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN SKRIPSI ............... 10

    E. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 10

    F. METODOLOGI PENELITIAN ................................................. 12

    1. Metode Penelitian Eksperimen ........................................... 12

    2. Variabel Penelitian .............................................................. 12

    3. Metode Pengumpulan Data ................................................. 13

    4. Populasi dan Sampel ............................................................ 13

    5. Metode Analisis Data ......................................................... 13

    G. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI .................................. 14

    BAB II: LANDASAN TEORI

    A. AGRESIVITAS .......................................................................... 15

    1. Definisi Agresivitas ............................................................... 15

    2. Bentuk-Bentuk Agresivitas .................................................... 16

    3. Teori-Teori Tentang Agresivitas ........................................... 17

    4. Aspek-Aspek Agresivitas ...................................................... 19

    5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi ...................................... 22

    B. SHALAWAT FATIH ................................................................. 29

  • xii

    1. Shalawat ................................................................................. 29

    a. Definisi Shalawat ................................................................. 29

    b. Dalil-Dalil diisyariatkannya Shalawat ................................. 29

    c. Manfaat Shalawat ................................................................ 31

    d. Adab Bershalawat ................................................................ 32

    e. Macam-Macam Shalawat .................................................... 33

    2. Definisi Shalawat Fatih .......................................................... 34

    3. Manfaat Shalawat Fatih ......................................................... 34

    C. HIPOTESIS ................................................................................ 36

    BAB III: JALANNYA PENELITIAN

    A. PROSES PENELITIAN ............................................................. 37

    1. Identifikasi ........................................................................... 37

    2. Waktu dan Tempat Penelitian ............................................. 37

    3. Definisi Operasional Veriabel ............................................. 37

    4. Manipulasi ........................................................................... 38

    5. Subyek ................................................................................. 39

    6. Skala Agresivitas ................................................................. 40

    B. PELAKSANAAN PENELITIAN .............................................. 41

    1. Uji Normalitas ..................................................................... 42

    2. Uji Homogenitas .................................................................. 42

    C. RANCANGAN EKSPERIMEN................................................. 42

    D. CARA ANALISIS DATA .......................................................... 43

    E. UJI T ........................................................................................... 43

    BAB IV: HASIL UJI EKSPERIMEN SHALAWAT FATIH PENGARUHNYA

    TERHADAP AGRESIVITAS SISWA MADRASAH ALIYAH NEGERI

    LASEM ......................................................................................... 44

    BAB V: PENUTUP

    A. KESIMPULAN .......................................................................... 49

    B. SARAN ....................................................................................... 49

    C. PENUTUP .................................................................................. 50

    DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 51

  • xiii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran A:

    1. Jadwal Penelitian

    2. Daftar Ulama Yang dimintai Pendapat

    Lampiran B:

    3. Skala Agresivitas

    4. Skor Skala Agresivitas Pretest Kelompok Kontrol dan Eksperimen

    5. Skor Skala Agresivitas Postest Kelompok Kontrol dan Eksperimen

    Lampiran C:

    1. Hasil Uji Normalitas

    2. Hasil Uji Homoginitas

    Lampiran D:

    1. Hasil Uji T

    Lampiran E:

    1. Surat Izin Research dari Fakultas Ushuluddin

    2. Surat Keterangan Research dari MAN Lasem

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. LATAR BELAKANG

    Agresivitas adalah kecenderungan berperilaku yang ditunjukan pada

    makhluk hidup maupun benda mati dengan maksud melukai, menyakiti,

    mencelakakan atau merusak dengan menimbulkan kerugian secara fisik atau

    psikologis pada seseorang yang tidak ingin dirugikan atau mengakibatkan

    kerusakan pada benda.1

    Bentuk-bentuk agresivitas remaja yang sering kita dengar baik itu

    melalui surat kabar, televisi dan sebagainya. Hal ini sangat merisaukan

    masyarakat baik itu secara material maupun psikologis, Hal ini biasa kita lihat

    di masyarakat sekarang apabila ada perkelaian pelajar, mereka langsung

    melarikan diri untuk menyelamatkan diri.

    Peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan agresivitas siswa antara

    lain; Di jalan Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (6/10/2010),

    terdapat dua kelompok pelajar terlibat aksi saling lempar batu, bahkan ada

    yang berani membawa senjata tajam untuk melumpuhkan lawannya. Salah

    seorang pelajar dari SMK Bina Siswa, Kebon Jeruk, Thomas Jonathan (16)

    tewas setelah tertusuk oleh pelajar yang menjadi musuhnya. Melihat kondisi

    Thomas yang tergeletak di jalan dengan bersimbah darah, tiga orang rekannya

    berinisiatif membawa Thomas ke PUSKESMAS Cengkareng, karena luka

    parah Thomas akhirnya meninggal dunia karena mengalami luka tusuk pada

    lutut kiri, dada kiri, dan punggung belakang serta luka sabetan pada leher

    belakang. Saat ini jenazah korban dibawa ke RSCM untuk otopsi.2

    Jakarta - tawuran pelajar di sekitar kawasan Bulungan, Jakarta

    Selatan. Mengakibatkan, lalu lintas di jalan tersebut macet. Pengendara di

    minta waspada. Situs TMC Polda Metro Jaya, Jumat (03/12/2010),

    1 Baidi Bukhori, S.Ag., M.Si, Zikir Al-Asma Al-Husna Solusi atas Problem Agresivitas Remaja,

    Semarang: Syiar Media. 2008. hlm, 75. 2 http://www.detiknews.com/read/2010/10/07/103044/10/tawuran-pelajar-smk-bina-siswa-tewas-

    ditusuk/07 Oktober 2010.

    http://www.detiknews.com/read/2010/10/07/103044/10/tawuran-pelajar-smk-bina-siswa-tewas-ditusuk/07http://www.detiknews.com/read/2010/10/07/103044/10/tawuran-pelajar-smk-bina-siswa-tewas-ditusuk/07

  • 2

    memberikan informasi peristiwa ini terjadi sekitar pukul 20.01 WIB. Saat ini

    petugas kepolisian sudah berada di lokasi guna membubarkan tawuran dan

    mencegah aksi pelajar agar tidak menimbulkan korban jiwa. Para pengendara

    yang sedang melintas diimbau waspada atau mengalihkan kendaraannya ke

    ruas jalan lain. "Lalu lintas cukup padat, termasuk di Blok M," kata petugas

    TMC Polda, Briptu Seno, kepada detikcom.3

    Metrotvnews.com, Jakarta: Tawuran antara dua kelompok pelajar

    kembali terjadi di Jakarta, Kamis (21/1/2010). Perkelahian kali ini terjadi di

    Jalan Latumeten Raya, Jakarta Barat. Kedua kubu saling membawa senjata

    tajam, batu, dan benda-benda berbahaya. Kedua kubu nekat beraksi di dekat

    jalan raya yang ramai dilalui oleh pemakai jalan. Dalam tawuran terdapat,

    terdapat seorang pelajar yang jadi bulan-bulanan kubu lawan karena

    tertangkap hendak melarikan diri. Melihat hal tersebut secara cepat warga

    yang berada di sekitar kejadian langsung menyelamatkan pelajar dari

    keroyokan massa. Sementara pengendara memilih mengambil jalan lain

    untuk menghindari arena tawuran. Keributan baru berhenti setelah personel

    Kepolisian Sektor Tanjungduren tiba di lokasi kejadian.4

    Tawuran antar pelajar tidak hanya terjadi di kota besar saja seperti

    yang terjadi di Jakarta, namun hal itu juga terdapat di kota kecil seperti yang

    terdapat di Purwodadi letaknya di sekitar Bundaran Simpang Lima, Selasa

    (26/10). Ratusan pelajar yang terdiri dari siswa SMK Pembnas, SMA

    Pancasila dan SMA PGRI saling pukul dan lempar batu. Akibat insiden

    tersebut mengakibatkan lalu-lintas menjadi macet. Menurut beberapa pelajar

    yang ditemui Cakrawala, pertikaian tersebut merupakan permasalahan lama

    yakni permusuhan antara pelajar asal Sukolilo Pati dengan pelajar Purwodadi

    yang menamakan dirinya Pasukan Anti Kolilo. Kejadian ini bukan kali ini

    saja terjadi namun hampir tiap bulan ada tawuran di kota ini dan justru malah

    sudah bertahun-tahun lamanya. Hal tersebut ditandaskan pula oleh Sudarko

    3 http://www.detiknews.com/read/2010/12/03/205237/ada-tawuran-pelajar-di-bulungan-alin-

    macet.03 Desember 2010. 4http://metronews.com/index.phd/metromain/newscatvidio/metropolitan/2010/01/21/98193/tawura

    n-pelajar-latumenten.21 Januari 2010

    http://www.detiknews.com/read/2010/12/03/205237/ada-tawuran-pelajar-di-bulungan-alin-macet.03http://www.detiknews.com/read/2010/12/03/205237/ada-tawuran-pelajar-di-bulungan-alin-macet.03http://metronews.com/index.phd/metromain/newscatvidio/metropolitan/2010/01/21/98193/tawuran-pelajar-latumenten.21http://metronews.com/index.phd/metromain/newscatvidio/metropolitan/2010/01/21/98193/tawuran-pelajar-latumenten.21

  • 3

    seorang guru di salah satu SMA di Purwodadi yang ditemui oleh Cakrawala

    saat tawuran sedang terjadi, bahwa perkelahian antar anak-anak sekolah di

    Purwodadi dengan siswa asal sekolah dari salah satu di Sukolilo sering terjadi

    di sekolahnya. Namun pihaknya selalu mengambil tindakan tegas terhadap

    masalah ini, terhadap setiap pelaku perkelahian disekolahnya. Namun tidak

    lama kemudian bisa dikendalikan oleh beberapa petugas dari Polres

    Grobogan. Beberapa siswa yang diduga menjadi provokator berhasil

    ditangkap dan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Dari

    keterangan salah seorang petugas kepada Cakrawala menuturkan bahwa

    beberapa anak yang berhasil ditangkap tersebut di dalam tas sekolahnya

    ditemukan beberapa batu yang akan digunakan sebagai senjatanya.5

    Pada tahun 2002 terjadi tawuran siswa MAN Lasem sendiri yang

    disebabkan oleh salah siswa yang gagal dalam pencalonan ketua OSIS yang

    dikarenakan tidak terima dengan hasil pemilihan dan siswa tersebut

    menganggap ada kecurangan di dalam pemilihan ketua OSIS tahun

    2002/2003.

    Usia remaja memang merupakan usia yang penuh gejolak. Setiap

    remaja melakukan aktualisasi diri untuk menemukan jati dirinya. Pada masa

    ini remaja sangat rentang karena pada masa tersebut remaja dalam kondisi

    emosi yang tidak stabil dan mudah stress. Kesepakatan geng ikut

    mempengaruhi pelajar menemukan jati dirinya. Remaja putri yang seharusnya

    mempunyai kepribadian lembut dan santun berubah menjadi brutal dan

    membabi buta untuk mempertahankan eksistensi gengnya. Norma-norma

    kesopanan yang diberikan dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat

    tidak mampu membendung ekspresi berkelahi.6

    Bimbingan yang intensif dari semua pihak sangat diperlukan.

    Bimbingan yang diberikan juga menyesuaikan dengan keadaan mereka. Cara

    membimbing yang kurang tepat dapat menimbulkan kesalahpahaman dan

    ketidakpercayaan siswa kepada orang yang membimbing. Hal ini bisa

    5 http://cakrawalanews.com/indek.php/2010/10/26/98554/tawuran-pelajar-di-simpang-lima-

    purwodadi.26 oktober 2010. 6 http://sobatbaru.com/2009/01/tawuran-pelajar.21 januari 2009.

    http://cakrawalanews.com/indek.php/2010/10/26/98554/tawuran-pelajar-di-simpang-lima-purwodadi.26http://cakrawalanews.com/indek.php/2010/10/26/98554/tawuran-pelajar-di-simpang-lima-purwodadi.26http://sobatbaru.com/2009/01/tawuran-pelajar.21

  • 4

    memperkuat mereka merasa nyaman dilingkunganya. Tetapi dalam

    memperoleh hak-haknya, sepatutnya anak diarahkan pada hal-hal yang sesuai

    dengan akhlak mulia. Pihak yang patut memikirkan masa depan mereka

    bukan hanya orang tua, tetapi saudara, masyarakat sekitar bahkan pemerintah

    dan negara.

    Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal merupakan bagian dari

    masyarakat. Tanggung jawab sekolah juga besar untuk membentuk pribadi

    peserta didik. Pendidikan mencakup spiritual keagamaan, kecerdasan, akhlak

    mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara.

    Pendidikan yang dilakukan tidak hanya dari segi kecerdasan, tetapi juga

    menyangkut ketrampilan, keagamaan dan akhlak mulia. Taksonomi tujuan

    pendidikan menurut Bloom et al., ada tiga ranah yaitu kognitif, psikomotor

    dan afektif. Ranah kognitif meliputi kecerdasan terutama prestasi peserta

    didik secara akademik. Contoh ranah psikomotor adalah ketrampilan,

    sementara untuk ranah afektif misalnya akhlak mulia. Melihat apa yang di

    utarakan oleh Bloom et al terkait Pendidikan sepatutnya mengembangkan tiga

    ranah tersebut, sehingga dapat membentuk pribadi peserta didik yang

    tangguh.7

    Siswa berada di lingkungan sekolah hanya sekitar 6-8 jam dan sisa

    waktu selebihnya banyak dihabiskan di luar lingkungan sekolah.

    Dikhawatirkan waktu luang ini bisa memberikan kesempatan siswa untuk

    melakukan hal-hal yang tidak dianjurkan. Melihat waktu luang siswa yang

    masih banyak semacam ini, Orang tua, teman bermain dan masyarakat

    seharusnya ikut adil dalam membantu pelajar menemukan jati dirinya karena

    keberhasilan memerlukan kerjasama oleh semua pihak.

    Langkah perdana dalam upaya mengubah tingkah laku remaja yang

    sudah kompleks di atas dapat dilakukan dengan memberi penjelasan secara

    luas dan rinci kepada anak-anak remaja tentang beberapa aspek yuridis dan

    relevan terkait perbuatan-perbuatan nakal yang kerap kali mereka lakukan.

    Dengan dimikian, anak-anak remaja diharapkan dapat memiliki pemahaman

    7 http://sobatbaru. com/2009/01/tawuran-pelajar.21 januari 2009.

  • 5

    atau pengertian, penghayatan dan perilaku hukum yang sehat. Usaha untuk

    mencapai tingkat kesadaran hukum di kalangan remaja dapat dilakukan

    melalui beberapa aktivitas, akan tetapi yang paling sederhana dan lebih dekat

    dengan kehidupan remaja adalah melalui penyuluhan hukum yang dapat

    divisualisasikan dalam beragam bentuk dan jenisnya. Melalui beberapa

    pengejawantahan itu, kaum remaja akan mampu menginternalisasi dan

    mengembangkan nilai-nilai positif yang bermanfaat dalam kehidupan di

    tengah-tengah masyarakat dan lingkungannya.8

    Adanya kesadaran hukum di kalangan remaja dapat dibuktikan pada

    beberapa indikasi yang sangat mudah dan jelas untuk diidentifikasikan.

    Indikasi tersebut merupakan fenomena nyata dalam totalitas jumlah dari

    beberapa faktor kehidupan remaja. Tolak ukur indikasi tersebut dapat

    diderivasi melalui tingkat-tingkat tentang pengetahuan hukum, pemahaman

    kaidah-kaidah hukum, sikap terhadap norma-norma hukum, dan perilaku

    hukum. Kesadaran hukum yang paling sederhana dapat memalui tolak ukur

    pengetahuan hukum, sedangkan tingkat kesadaran hukum yang paling

    sempurna adalah melalui indikasi perilaku hukum. Proses naik dan

    menurunnya tingkat kesadaran hukum semata-mata bukan hanya mengikuti

    proses urut-urutan yang statis sebagaimana disebutkan diatas, akan tetapi

    proses tersebut secara dinamis masuk dalam bentuk lompatan tingkat. Hal ini

    dapat terjadi pada seorang anak remaja yang mencapai tigkat kesadaran

    hukum pada fase yang sempurna. Adanya tingkat yang paling sederhana

    hingga fase yang paling sempurna adalah petunjuk kesadaran hukum anak

    remaja yang diharapkan dapat mewujudkan keamanan, kedamaian, dan

    kesejahteraan hidup bermasyarakat dan lingkungan.9

    Disamping aspek kesadaran hukum di atas, masih ada aspek lain

    yang membimbing kaum remaja agar dapat menjadi anggota masyarakat

    dengan perilaku yang positif. Interbalisasi nilai-nilai kaidah sosial dan

    8 Drs. Sudarsono. S. H., M. Si., Kenakalan Remaja, Jakarta: Rineka Cipta, 1990, hlm. 5.

    9 Ibid, hlm., 5

  • 6

    internalisasi nilai-nilai norma agama juga mempunyai peran yang bermanfaat

    dalam mendidik kaum remaja agar memiliki rasa tanggung jawab

    kemasyarakatan dan memiliki penghayatan serta perilaku yang sesuai dengan

    perintah agama, sedangkan terhadap larangan agama yang dianutnya tetap

    dinggalkannya. Perspektif ini akan mampu memberi sumbangan positif bagi

    terwujudnya kehidupan social serta lingkungan yang sehat secara material

    maupun secara moral atau spiritual.10

    Agresivitas pelajar sudah menjadi momok buat masyarakat, dan kita

    perlu mencari solusi alternatif untuk menurunkan agresivitas mereka dengan

    melihat latar belakang mereka baik itu dari lingkungan keluarga, agama,

    pendidikan serta tempat tinggal. Dengan kita mengetahui masalah agresivitas

    remaja tersebut dengan melihat hal-hal terkait akan lebih cepat dalam kita

    menanganinya dan lebih afesien.

    Denga melihat kenyataan masyarakat sekarang yang mengalami

    kehampaan moral atau spiritual sehingga menjadikan mereka menjadi stress,

    depresi dan sebagainya. Agama Islam merupakan agama yang rahmatan lil

    alamin dan agama yang sempurna yang sejak awal telah mengajarkan dan

    memberikan pedoman dalam hidup, Islam mengajarkan kepada manusia

    untuk mampu berfikir dan bersikap serta bertingkah laku yang baik dalam

    memenuhi kebutuhan mengejar keselamatan, kebahagian, ketentraman, dan

    kesejahteraan hidup baik di dunia maupun akhirat nanti, ajaran islam

    mengandung banyak petunjuk dalam segala bidang kehidupan, diantaranya

    petunjuk tentang jalan terbaik manuju kehidupan yang tentram, bahagia, dan

    diridhoi Allah SWT yaitu kehidupan beriman, bertaqwa dan berakhlak terpuji

    sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat Ar-Rad (13) ayat: 28-29.11

    10

    ibid., hlm. 6 11

    Imam Fatkhurrahman, Dzikir Musabbaat al-Asyr dan Kesehatan Mental (Studi di Majlis Dzikir

    Al-Khidiriyyah Desa Mekarjati-Haurgeulis)), IAIN, 2008, hlm. 3-4.

  • 7

    Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram

    dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati

    menjadi tentram (28). Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan,

    mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik (29).12

    Surat Thaha (20) ayat: 130.

    Artinya: Maka bersabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka

    katakan, bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit, dan

    sebelum terbenam; dan bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan

    diujung siang hari, agar engkau merasa tenang.13

    Doa dan zikir dari sudut pandang ilmu kedokteran jiwa atau

    kesehatan jiwa merupakan terapi psikiatrik setingkat lebih tinggi dari pada

    psikoterapi biasa. Hal ini dikarenakan doa dan zikir mengandung unsur

    spiritual kerohanian atau keagamaan atau ketuhanan yang dapat

    membangkitkan harapan, rasa percaya diri pada diri seseorang yang sedang

    sakit, yang pada giliranya kekebalan tubuh meningkat sehingga mempercepat

    proses penyembuhan.14

    Zikir dalam hal ini diperlukan karena tidak sesuatupun ibadah yang

    dilakukan dengan lisan lebih afdhol setelah tilawah alquran dari pada

    berdzikir dengan ikhlas. Zikir pada dasarnya sangat berpengaruh terhadap

    perkembangan jiwa manusia bila dilakukan secara ikhlas di sertai kehadiran

    12

    Departemen Agama, Alquran dan Terjemahnya, Jakarta, PT. Sygma Examedia Arkanleema,

    2009. hlm. 252-253. 13

    Ibid., hlm. 221 14

    Imam Fatkhurrahman, op,. cit,. hlm. 3-4

  • 8

    hati15

    . Dengan zikir sebagaimana yang dituntunkan islam yang akan

    memberikan energi yang luar bisa atau dahsyat yaitu membawa ketenangan

    dalam batin. Karena munculnya energi Ilahi berupa hormon yang sehat

    menyelimuti seluruh tubuh.16

    Zikir sebagai sarana terealisasinya kesehatan (ketenangan) jiwa

    tetapi pada sisi lain merupakan perwujudan dari ketaatan manusia kepada

    Allah, dengan mengharap karunianya baik berupa ampunan, perlindungan,

    kekuatan, maupun kasih sayang-Nya dan semua harapan tersebut terangkum

    dalam kalimat Ath-Thoyyibah (kata-kata yang baik).17

    Kegiatan-kegiatan keagamaan yang sering kita dengar diantaranya

    mujahadah, zikir, dan shalawat yang keseluruhan itu hanya untuk memohon

    dan mengharap kepada Allah, bukan hanya itu tapi juga untuk mengaharap

    kasih sayang dan kebaikan Allah. Shalawat bermacam-macam variasinya ada

    yang paling pendek sampai yang sangat panjang dan shalawat itu sendiri

    merupakan rasa terima kasih kita kepada Rasulullah. Keutamaan shalawat

    membuat seseorang bersikap optimis dalam menemukan kebaikan dimana

    saja, Sehingga hal ini bisa digunakan sebagai control untuk menurunkan

    agresivitas seperti di Madrasah Aliyah Negeri Lasem.

    Dengan latar belakang terseut diatas penulis terdorong untuk

    meneliti permasalahan yang terjadi di atas dengan judul Pengaruh Shalawat

    Fatih Terhadap Agresivitas Siswa Madrasah Aliyah Negeri Lasem.

    B. PENEGASAN JUDUL

    Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami istilah yang

    digunakan dalam skripsi yang berjudul Pengaruh shalawat Fatih Terhadap

    Agresivitas Siswa Madrasah Aliyah Negeri Lasem, maka penulis perlu

    memberikan penjelasan tentang pengertian beberapa kata yang tercantum

    dalam judul skripsi, sehingga dapat diketahui makna yang dimaksud.

    15

    Al-Ghozali, Rahasia Zikir dan Doa. Terj. Ahsin Muhammad, Karisma, Bandung, 1996. Hlm 37. 16

    Baidi Bukhori, op., cit., hlm. xiii 17

    Yayasan Penyelanggara Penterjemah Alquran Departemen RI, Alquran dan Terjemahannya.

    C.V Gema Risalah Press. Bandung. 1993. Hlm. 373.

  • 9

    1. Shalawat adalah jamak dari kata shalat yang berarti doa, keberkahan,

    kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah18

    . Sedangkan secara terminologi

    shalawat adalah pengakuan kerasuluan Nabi Muhammad SAW serta

    memohon Allah agar Nabi Muhammad SAW serta keluarganya

    senantiasa mendapat perlindungan dan keselamatan.19

    Sedangkan

    shalawat fatih adalah;

    Artinya: Ya Allah berilah rahmat atas tuan kami Muhammad pembuka

    semua yang terkunci dan penutup semua yang terdahulu, penolong

    kebenaran dengan kebenaran dan petunjuk kejalan yang lurus dan atas

    keluarganya, dengan sebenar-benarnya derajat dan martabat beliau yang

    agung.

    2. Agresivitas adalah kecenderungan berperilaku yang ditunjukan pada

    makhluk hidup maupun benda mati dengan maksud melukai, menyakiti,

    mencelakakan atau merusak dengan menimbulkan kerugian secara fisik

    atau psikologis pada seseorang yang tidak ingin dirugikan atau

    mengakibatkan kerusakan pada benda.20

    C. RUMUSAN MASALAH

    Berdasarkan latar belakang maka penulis dapat merumuskan

    masalah-masalah sebagai berikut:

    1. Bagaimana pengaruh shalawat fatih terhadap agresivitas siswa Madrasah

    Aliyah Negeri Lasem?

    18

    Bambang Irawan, The Power of Shalawat, Solo: Tiga Serangkai, 2008, hlm. 65. 19

    Ibid. 20

    Baidi Bukhori, S.Ag., M.Si, op., cit. hlm, 75.

  • 10

    D. TUJUAN dan MANFAAT PENULISAN SKRIPSI

    Sesuai dengan perumusan masalah tersebut maka tujuan dalam

    penulisan sekripsi ini adalah:

    1. Menguji secara empiris tentang pengaruh shalawat fatih terhadap

    agresivitas siswa Madrasah Aliyah Negeri Lasem.

    Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah;

    1. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam hal

    penanganan agresivitas, khususnya shalawat fatih yang dapat

    menurunkan agresivitas.

    2. Apabila terdapat pengaruh shalawat fatih dapat menurunkan agresivitas,

    maka ini dapat digunakan sebagai salah satu solusi alternatif untuk

    menurunkan agresivitas.

    E. TINJAUAN PUSTAKA

    Dengan ini penulis akan menggunakan refensi sebagai bahan tinjuan

    pustaka dari beberapa buku dan literatur yang berkaitan dengan pembahasan

    sekripsi ini, yaitu;

    Buku karya Baidi Bukhori, S.Ag., M. Si yang berjudul Zikir Al-

    Asma Al-Husna Solusi atas Problem Agresivitas Remaja di dalam buku ini

    dijelaskan bahwa zikir asma al husna memberikan efek atau dapat

    menurunkan agresivitas pelajar tetapi di dalm buku itu juga disebutkan bahwa

    siswa yang tinggal di pondok pesantren maupun di luar pesantren dan antara

    laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan dan tidak mementukan

    perbedaan yang jelas antara siswa laki-laki dan perempuan dan juga antara

    siswa yang tinggal di pesantren dan yang tidak tinggal dipesantren.

    Buku karya Syekh Yusuf bin Ismail Annabani yang berjudul fadilah

    Shalawat Buku ini menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan shalawat.

    Diantaranya keutamaan Shalawat Fatih.

    Buku karya A. Sjinqithy Djamaluddin yang berjudul Kunci Rahmat

    Ilahi At Tijaniyah, Jawa Timur, 2000. A. Sjinqithy Djamaluddin didalam

  • 11

    bukunya ini berisi tentang pedoman untuk tarekat At-Tijaniyyah dan di buku

    juga menjelaskan tentang asal mula shalawat fatih.

    Selain buku, banyak juga ditemukan didalam karya-karya ilmiah

    lainya seperti sekripsi. Nasoka nim: 4102112 judul sekripsi Minat Terhadap

    Paly Station dan Agresivitas Anak (Studi Terhadap Santri TPQ Almuhajirin

    Perumnas Krapyak Semarang Barat), di dalam sekripsi tersebut penulis

    mengemukakan bahwa anak yang bermain play station bias mempengaruhi

    agresivitas anak hal ini dinyatakan oleh seberapa sering anak-anak TPQ

    bermain play station dan didalam sekripsi itu juga disebutkan bahwa

    agresivitas yang berbentuk agresif verbal dengan persentase 66 % dan agresif

    yang berbentuk fisik 34 % jadi anak-anak TPQ yang bermain play station suka

    meniru adegan-adegan yang ada didalam permainan play station dan

    agresivitas tidak hanya dipengaruhi permainan didalam play station tetapi juga

    dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu pola asuh orang tua dan juga pola

    asuh guru di dalam mendidik.

    Dari berbagai sumber acuan di atas terdapat perbedaan yang mendasar

    dari buku-buku dan skripsi tersebut dengan penelitian yang lakukan, baik dari

    aspek tema dan obyek penelitian buku-buku diatas tema yang diangkat bersifat

    umum sebatas kajian Islam sedangkan penelitian yang akan mengkaji tentang

    Pengaruh Shalawat Fatih Terhadap Agresivitas Siswa Madrasah Aliyah

    Negeri Lasem.

    F. METODOLOGI PENELITIAN

    1. Metode Penelitian Eksperimen

    Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang dilakukan

    dengan melakukan manipulasi yang bertujuan untuk mengetahui akibat

    manipulasi terhadap perilaku individu yang diamati.21

    Dalam penelitian kali ini, eksperimen dilakukan dengan membagi

    dua kelompok variabel, yaitu variabel eksperimental (kelompok

    perlakuan) dan variabel pembandingan yang disebut kelompok kontrol.22

    21

    Latipun, Psikologi Eksperimen, edisi kedua, Malang, UMM Press, 2004, hlm. 8.

  • 12

    Metode penelitian ini menggunkan metode eksperimen yaitu

    mendakan kegiatan percobaan untuk melihat suatu hasil.23

    2. Variabel Penelitian

    Variabel dalam penelitian kali ini adalah Shalawat Fatih dan

    Agresivitas Siswa.

    a. Variabel tergantung: Agresivitas

    b. Variabel bebas: Shalawat Fatih

    3. Metode Pengumpulan Data

    Dalam rangka memperoleh data dalam penelitian, penulis

    mengunakan beberapa metode, yaitu sebagai berikut;

    a. Metode Kuesioner atau Angket

    Metode yang digunakan untuk mengumpulkan informasi

    dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertulis dengan

    responden diharapkan dengan memberikan jawaban dari petanyaan

    tersebut.24

    Metode ini digunakan pada siswa Madrasah Aliyah Negeri

    Lasem, untuk mengetahui agresivitasnya sebagai akibat dari Shalawat

    Fatih. Dalam penelitian data ini peneliti menggunakan penyekoran

    nilai diantaranya;

    4 : jawaban sangat setuju

    3 : jawaban setuju

    2 : jawaban tidak setuju

    1 : jawaban sangat tidak setuju

    Seluruhnya untuk favourable item Unfavourable item maka

    sekornya sebaliknya. Sebelum angket digunakan untuk penelitian

    yang sesungguhnya maka akan dilakukan uji coba skala terhadap

    22

    Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research Social, Bandung, Mandar Maju, 1990, hlm.

    268. 23

    Prof. Dr. Winarno Surahmat, N.Sc, Ed, Pengantar PenelitianIlmiah DAsar, Metode Teknik,

    Bandung: Tarsino, 1994, hlm. 47 24

    Suharsimi Arikunto, Prosuder Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta, ,

    1993, hlm. 136.

  • 13

    siswa Madrasah Aliyah Negeri Lasem yang tidak ikut sertakan dalam

    penelitian untuk uji validitas dan reliabilitas.25

    4. Populasi dan Sampel

    Jumlah siswa XI Madrasah aliyah negeri lasem berjumlah 340

    siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah Madrasah Aliyah Negeri

    Lasem yaitu kelas XI yang berjumlah 130 siswa yang dibagi dalam dua

    jurusan yaitu IPA dan IPS. Dalam pengambilan sampel, penulis

    mengambil kelas IPS-3 dan IPS-5 sebagai kelompok kontrol, kelas IPA-1

    dan IPA-2 sebagai kelonpok eksperimen.

    5. Metode Analisis Data

    Pengelolahan data pada penelitian kali ini menggunakan ternik

    analisis statistik.26

    Jawaban yang diperoleh diberi simbol berupa angka.27

    Dalam pengelolahan data yang diperoleh juga menggunakan teknik Uji-

    T.28

    G. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI

    Dalam penulisan sekripsi kali ini terbagi menjadi lima bab, dengan

    perincian sebagai berikut:

    Bagian awal terdiri dari isi sampul, halamann judul, halaman

    persetujuan Pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman

    persembahan, kata pengantar, abstraksi, dan daftar isi.

    Bagian isi yang terdiri lima bab dengan penjabaran sebagai berikut;

    Bagian bab I Pendahuluan yang terdiri dari; Latar Belakang,

    penegasan istilah, pokok masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan

    pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penelitian sekripsi.

    Bagian bab II Landasan teori agresivitas dan shalawat fatih. Bab ini

    merupakan landasan teori dari permasalahan yang dikaji, yaitu akan dibahas

    25

    Agus Ardianto (4102051), Pengaruh Zikir (Ya Fattahu-Ya Alim) Terhadap Kecerdasan

    Spiritual Siswa Muslim SMA 8 Semarang, Semarang, 2007, hlm. 10. 26

    Sutrisno Hadi, Metodologi research, Andi Offset, Yogyakarta, 1989, hlm., 221. 27

    Sutrisno hadi, op., cit., hlm. 222 28

    Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta, 1989, hlm.,

    219.

  • 14

    mengenai agesivitas, shalawat fatih dan teori tentang hubungan agresivitas

    dengan shalawat fatih.

    Bagian bab III Proses penelitian, persiapan penelitian yang terdiri

    dari uji asumsi (uji normalitas dan uji homoginitas) dan pelaksanaan

    penelitian, Uji T.

    Bagian Bab IV Pengaruh shalawat fatih terhadap agresivitas siswa

    Madrasah Aliyah Negeri Lasem.

    Bagian Bab V Penutup yang berisi kesimpulan, saran-saran, dan

    penutup.

    Bagian akhir penulisan sekripsi ini adalah terdiri dari daftar pustaka,

    lampiran-lampiran dan biodata penulis.

  • 15

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. AGRESIVITAS

    1. Definisi Agresivitas

    Agesivitas menurut Baron berkowitz maupun Aronson (dikutip

    Koeswara, 1988, h. 5) adalah tingkah laku individu yang ditunjukan untuk

    melukai atau mencelakakan individu yang tidak menginginkan datangnya

    tingkah laku tersebut. Schneiders (Kiswarawati, 1992, h. 10)

    mendefinisikan agresi sebagai suatu bentuk respon yang mencari

    pengurangan ketegangan dan frustasi melalui perilaku yang banyak

    menunut, memaksa dan mengusai orang lain. Sementara itu Moore dan

    Fine (dikutip Koeswara, 1998, h. 5) mendefinisikan agresi sebagai tingkah

    laku kekerasan secara fisik ataupun secara verbal terhadap individu lain

    ataupun terhadap objek-objek.1

    Menurut Berkowitz (dalam Wastson, 1984, h. 204), agresivitas

    didefinisikan sebagai perilaku yang diarahkan untuk melukai orang lain.

    Hal ini berarti perilaku melukai orang lain karena kecelakaan atau

    ketidaksengajaan tidak dapat dikategorikan sebagai agresivitas apabila

    bertujuan melukai orang lain dan berusaha untuk melakukan hal ini

    walaupun usahanya tidak berhasil. Pendapat lain mengatakan bahwa

    agresivitas adalah perilaku yang memiliki potensi untuk melukai orang

    lain atau benda yang berupa serangan fisik (memukul, menendang,

    mengigit), serangan verbal (membentak, menghina) dan melanggar hak

    orang lain (mengambil dengan paksa).2

    Berdasarkan defnisi diatas, maka agresivitas pada remaja dapat

    diartikan sebagai tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun secara verbal

    yang dilakukan secara sengaja terhadap individu lain ataupun terhadap

    1 Fedela Herviantini, Sekripsi Agresivitas Pada Remaja Ditinjau Dari Intensitas Menonton Film

    Kekerasan Di Televisi, Semarang, Fakultas Psikologi, UNIKA, 2007. hlm 10. 2 Ibid,. hlm. 11.

  • 16

    objek-objek dengan maksud untuk melukai, menyakiti ataupun merusak

    yang mana orang yang dilukai tersebut berusaha untuk menghidarinya.

    2. Bentuk-Bentuk Agresivitas

    Byrne membedakan bentuk agresivitas menjadi dua yaitu agrsivitas

    fisik yang dilakukan dengan cara melikai atau menyakiti badan dan

    agresivitas verbal yaitu agresi yang dilakukan dengan mengucapkan kata-

    kata kotor atau kasar.3 Buss mengklasifikasikan agesivitas yaitu

    agresivitas secara fisik dan verbal, secara aktif maupun pasif, secara

    langsung maupun tidak langsung. Tiga kalsifikasi tersebutmasing-masing

    saling berinteraksi, sehingga menghasilkan bentuk-bentuk agresivitas.4

    Pendapat ini dikemukakan oleh Buss ada 8 agresivitas yaitu;5

    1. Agresivitas fisik aktif yang dilakukan secara langsung misalnya

    menusuk, memukul, mencubit.

    2. Agresivitas fisik aktif yang dilakukan secara tidak langsung misalnya

    menjebak untuk mencelakakn orang lain.

    3. Agresivitas fisik pasif yang dilakukan secara langsung misalnya

    memberikan jalan untuk orang lain.

    4. Agresivitas fisik pasif yang dilakukan secara tidak langsung misalnya

    menolak melakukan sesuatu.

    5. Agresivitas verbal aktif secara langsung misalnya mencaci maki orang

    lain menusuk, memukul.

    6. Agresivitas verbal aktif yang dilakukan secara tidak langsung misalnya

    menyebarkan gosip yang tidak benar kepada orang lain.

    7. Agresivitas verbal pasif yang dilakukan secara langsung misalnya

    tidak mau berbicara pada orang lain.

    8. Agresivitas verbal pasif fisik aktif yang dilakukan secar tidak langsung

    misalnya diam saja meskipun tidak setuju.

    3 Ibid,. hlm 13.

    4 Baidi Bukhori, S.Ag, M.Si, Zikir Al-Asma Al-Husna Solusi Problem Agresivitas Remaja,

    Semarang: Syiar MediaPublishing, 2008, hlm. 19. 5 Ibid,. hlm 13-14.

  • 17

    Berdasarkan uraian diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa

    bentuk-bentuk agresifitas adalah agresif verbal atau fisik terrhadap objek

    yang dilakukan secara langsung atau tidak langsung dengan intensitas

    secara aktif atau pasif.

    3. Teori-Teori Tentang Agresivitas

    Beberapa teori yang menjelaskan diantaranya adalah;

    a. Agresivitas sebagai perilaku bawaan.

    Menurut teori ini agesivitas merupakan instink makhluk

    hidup. Teori ini terbagi dalam tiga kelompok, yaitu teori

    psikoanalisis, teori etologi, dan teori sosiobiologi.6

    1. Teori Psikoanalisis

    Sigmund Freud, seorang tokoh psikoanalisis

    mengklasifikasikan instink individu ke dalam dua bagian, yaitu;

    instink kehidupan dan instink kematian. Instink kehidupan (life

    instinct atau disebut juga eros) mengandung energi konstruktif dan

    seksual, sedangkan instink kematian (death intinct atau disebut

    thanatos) mengandung energi destruktif.7

    Pengungkapan hasrat terhadap kematian dapat berupa

    agresi diri atau tindakan menyakiti diri sendiri sehingga bunuh

    diri. Meskipun demikian, karena pada diri manusia juga terdapat

    instink hidup maka hasrat terhadap kematian tidak serta merta

    diungkapkan secara langasung oleh individu. Pengungkapan lain

    hasrat terhadap kematian adalah ditujukan keluar dirinya, yaitu

    berujung agresi terhadap orang lain, baik itu berupa

    kecenderungan yang mengarah kepada tindakan atau perbuatan

    yang menyebabkan rasa sakit, melukai, merusak, dan tindakan

    lain yang merusak, yang membawa efek negatif bagi dirinya

    sendiri ataupun orang lain.8

    6 Ibid., hlm. 22

    7 Ibid,. hlm., 23

    8 Ibid,. hlm., 23

  • 18

    2. Teori Etologi

    Lorenz, sebagai tokoh etologi berpendapat bahwa

    agresivitas adalah instink berkelahi yang dimiliki oleh makhluk

    hidup yang ditujukan pada spesies yang sama. Perkelahian

    diantara anggota spesies tidaklah merupakan kejahatan, karena

    fungsinya untuk menyelamatkan kehidupan salah satu spesies

    terhadap gangguan atau ancaman dari spesies yang lain. Dengan

    demikian angresivitas yang merupakan perilaku naluriah

    memiliki nilai survival bagi organisme.9

    3. Teori Sosiobiologi

    Dalam pandangan teori sosiobiologi, dalam hal ini

    Barash menyatakan bahwa perilaku sosial, sama halnya dengan

    struktur fisik dipengaruhi oleh evolusi. Menurut teori ini,

    makhluk hidup dari berbagai spesies cenderung menunjukan

    pola-pola perilaku sosial tertentu demi kelangsungan hidupnya.

    Makhluk melakukan tindakan agresi karena fungsi tindakan

    tersebut sebagai usaha untuk penyesuaian dirinya.10

    b. Agresivitas sebagai ekspresi frustasi

    Agresivitas menurut kelompok ini tidak ada sangkut pautnya

    dengan masalah instink, tetapi ditentukan oleh kondisi-kondisi

    ekstenal (frustasi), sehingga kondisi tersebut akan menimbulkan motif

    yang kuat pada seseorang untuk bertindak agresi. Salah satu teori

    yang diajukan oleh kelompok ini adalah teori frustasi agresi, yang

    dipelopori oleh Dollard dan koleganya (1939). Menurut kelompok

    tersebut frustasi selalu meninmbulkan agresi dan agresi semata-mata

    adalah hasil dari frustasi. Oleh karena itu bila frustasi menigkat, maka

    agresivitas menigkat pula. Intensitas frustasi bergantung pada

    beberapa faktor, antara lain seberapa besar kemauan seseorang

    9 Ibid,. hlm., 24

    10 Ibid,. hlm. 24

  • 19

    menacapai tujuan, seberapa besar penghalang yang ditemui, dan

    seberapa banyak frustasi yang dialami.11

    Menurut Watson (1984) pada tahun 1941 Miller merevisi

    teorinya dengan menyatakan, bahwa frustasi menimbulkan sejumlah

    respon yang berbeda dan tidak selalu menimbulkan agresivitas. Jadi

    agresivitas hanyalah salah satu bentuk respon yang muncul.12

    c. Agresivitas sebagai akibat belajar sosial

    Menurut Bandura dan Wilters (dalam Koeswara, 1988)

    bahwa agresivitas dapat dipelajari melalui dua metode yaitu

    pembelajaran instrumental yaitu terjadi jika sesuatu perilaku di beri

    penguat atau diberi hadiah (reward), maka perilaku tersebut

    cenderung akan diulang pada waktu yang lain.13

    Dan pembelajaran

    observasional yaitu terjadi jika seseorang belajar perilaku yang baru

    melalui observasi atau pengamatan kepada orang lain yang disebut

    model.14

    d. Agresivitas sebagai hasil proses kognitif

    Dodge dan crick (1990) menyatakan bahwa ada hubungan

    yang kuat antara fungsi kognitif dan agresivitas yang dilakukan oleh

    seorang anak. Agresivitas terjadi akibat ketidakmampuan anak dalam

    memproses informasi sosial.15

    4. Aspek-Aspek Agresivitas

    Cara mengetahui agresivitas pada individu terhadap suatu obyek

    tertentu, kita perlu tau gejala-gejala atau aspek-aspek perilaku agresi yang

    dibagi manjadi 2 hal oleh Prawesti (2003 hlm. 14) yaitu agresi fisik, yaitu

    agresi yang dilakuakan dengan cara melukai atau menyakiti badan baik

    11

    Ibid,. hlm., 25 12

    Ibid,. hlm., 25 13

    Ibid,. hlm., 26 14

    Ibid,. hlm., 27 15

    Ibid,. hlm., 27

  • 20

    diri sendiri maupun orang lain seperti misalnya mencubit memukuk,

    menendang dasn sebagainya.16

    Bush dan Denny (1992) mengklasifikasikan agresivitas dalam

    empat aspek, yaitu agresi fisik, agresi verbal, kemarahan, dan permusuhan.

    Agresi fisik dan agresi verbal mewakili komponen motorik dalam

    agresivitas, sedangkan kemarahan dan permusuhan mewakili komponen

    afektif dan kognitifi dalam agresivitas.17

    a. Agresi fisik (Physical Agression) ialah bentuk perilaku agresif yang

    dilakukan dengan menyerang secara fisik dengan tujuan untuk

    melukai atau membahayakan seseorang. Perilaku agresif ini ditandai

    dengan terjadinya kontak fisik antara agresor dan korbannya.

    b. Agresi verbal (Verbal Agression) ialah agresivitas dengan kata-kata.

    Agresi verbal dapat berupa umpatan, sindiran, fitnah, dan sarkasme.

    c. Kemarahan (anger) ialah suatu bentuk indirect agression atau agresi

    tidak langsung berupa perasaan benci kepada orang lain maupun

    sesuatu hal atau karena seseorang tidak dapat mencapai tujuannya.

    d. Permusuhan (Hostility), merupakan komponen kognitif dalam

    agresivitas yang terdiri atas perasaan ingin menyakiti dan

    ketidakadilan.

    Agersi verbal yaitu agresi yang dilakukan denga mengucapkan

    kata-kata kotor maupun kata-kata kasar, contohnya menghina, mengumpat

    memfitnah dan sebagainya.18

    Menurut Sadli (dalam Adji, 2002 hlm. 13)

    mengemukakan tentang aspek-aspek perilaku agresif yaitu;19

    a. Pertahanan diri yaitu individu mempertahankan dirinya dengan cara

    menunjukkan permusuhan, pemberontakan, dan pengrusakan.

    b. Perlawanan disiplin yaitu individu melakukan hal-hal yang

    menyenagkan tetapi melanggar aturan.

    16

    Roni septrianto, Perilaku Agresif Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane

    Semarang Ditinjau Dari Religiusitas, Semarang, UNIKA. 2007. hlm. 14-15 17

    http://deejay-boedjanglapoek.blogspot.com/2011/04/tugas-penyusunan-skala-psikologi.html 18

    Roni Septrianto, op., cit., hlm., 15 19

    Ibid,. hlm 15

  • 21

    c. Egosentris yaitu individu mengutamakan kepentingan pribadi seperti

    yang ditunjukkan dengan kekuasaan dan kepemilikan. Individu ingin

    menguasai suatu daerah atau memiliki suatu benda sehingga

    menyerang orang lain untuk mencapai tujuannya tersebut, misalnya

    bergabung dalam kelompok tertentu.

    d. Superioritas, yaitu individu merasa lebih baik daripada yang lainnya

    sehingga individu tidak mau diremehkan, dianggap rendah oleh orang

    dan merasa dirinya selalu benar sehingga akan melakukan apa saja

    walaupun dengan menyerang atau menyakiti orang lain.

    e. Prangka yaitu memnadang orang lain dengan tidak rasional.

    f. Otoriter, yaitu seseorang yang cenderung kaku dalam memegang

    keyakinan, cenderung memegang nilai-nilai konvensional, tidak bisa

    toleran terhadap kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya sendiri

    atau orang lain dan selalu curiga.

    Schneiders (dalam Aman, 2004, hlm. 12) menjelaskan aspek-aspek

    perilaku agresif yaitu;20

    a. Otoriter yaitu orang memiliki ciri kepribadian kaku dalam memegang

    nilai-nilai konvensional dan tidak bisa toleransi terhadap kelemahan-

    kelemahan yang ada dalam diri sendiri maupun orang lain.

    b. Superior yaitu individu merasa yang paling baik di banding dengan

    individu lain.

    c. Egosentris yaitu individu mengutamakan keperluan pribadi tanpa

    memperhatikan kepentingan diri sendiri seperti yang ditunjukan

    dengan kekuasaan dan kepemilikan.

    d. keinginan untuk menyerang baik terhadap, benda maupun manusia,

    yaitu mempunyai kecenderungan untuk melampiaskan keinginannnya

    dan perasaanya yang tidak nyaman ataupun tidak puas pada

    lingkungan disekitarnya dengan melakukan penyerangan terhadap

    individu ataupun benda lain disekitarnya.

    20

    Ibid,. hlm., 16

  • 22

    Menurut allport dan adorno (dalam Koeswara, 1988, hlm. 121-144)

    agresif dibedakan menjadi dua aspek;21

    a. Prasangka (Thinking ill others)

    Definisi ini mengimplikasikan bahwa dengan prasangka

    individu atau kelompok menganggap buruk atau memandang negatif

    secara tidak rasional. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana individu

    berprasangka terhadap segala sesuatu yang dihadapinya.

    b. Otoriter yaitu orang-orang yang memiliki ciri-ciri kepribadian yang

    cenderung kaku dalam memegang keyakinannya, cenderung

    memegang nilai-nilai konvesional, tidak bisa tolirensi terhadap

    kelemahanyang ada dalam dirinya sendirimaupun dalam diri orang

    lain, cenderung bersifat menghukum, selau curiga dan sangat menaruh

    hormat dan pengabdian pada otoritas secara tidak wajar.

    Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek

    perilaku agresif terdiri dari pertahanan diri, perlawanan disiplin,

    egosentris, superior, keinginan untuk menyerang dan otoriter.

    5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

    Ada beberapa faktor yang memprngaruhi terjadinya agresivitas,

    antara lain; stres, deindividuasi, kekuasaan, efek senjata, provokasi,

    alkohol dan obat-obat, kondisi lingkungan, jenis kelamin, kondisi fisik,

    media massa, dan penyimpangan pemikiran.22

    a. Stres

    Menurut Crider, Goethals, Kavanough, dan Solomon (1983)

    bahwa stres merupakan reaksi terhadap ketidakmampuan untuk

    mengatasi gangguan fisik terhadap ketidak mampuan untuk mengatasi

    gangguan fisik dan psikis. Roediger, Rushton, Capaldi, dan Paris

    (1984) menyatakan bahwa stres muncul karena adanya ancaman

    terhadap kesejahteraan fisik dan psikis dan adanya perasaan bahwa

    individu tidak mampu mengatasinya. Munculnya stres selain

    21

    Ibid,. hlm., 16 22

    Baidi Bukhori. S. Ag, M. Si, op., cit., hlm., 35.

  • 23

    tergantung pada kondisi eksternalnya. Jadi sangat dimungkinkan

    adanya reaksi yang berbeda antara seseorang dengan yang lain

    meskipun mengalami kondisi stres yang sama.23

    b. Deindividuasi

    Pada saat individu diketahui identitasnya, maka akan

    beertindak lebih anti sosial. Menurut Koeswara (1988, h. 95)

    menyatakan bahwa deindividuasi bisa menagrahkan individu pada

    kekuasaan, dan perilaku agresif yang dilakukan menjadi lebih intens.

    Deindividuasi memiliki efek memperbesar keleluasaan individu untuk

    melakukan agresi, karena deindividuasi menyingkirkan

    ataumengurangi peranan beberapa aspek yang terdapat pada individu,

    yakni identitas diri atau personalitas individu perilaku maupun

    identitas diri korban agresi, serta keterlibatan emosional individu

    perilaku, agresi terhadap korban.24

    Dalam kondisi deindividuasi, individu menjadi kurang

    memperhatikan nilai-nilai perilakunya sendiri dan lebih memusatkan

    diri pada kelompok dan situasi. Deindividuasi mencangkup hilangnya

    tanggung jawab pribadi, dan menigkatnya kepekaan terhadap apa

    yang dilakukan kelompok. Dalam arti, setiap orang dalam kelompok

    beranggapan bahwa tindakan mereka adalah bagian dari perilaku

    kelompok (Koeswara, 1988). Hal ini menyebabkan orang kurang

    merasa bertanggung jawab atas tindakannya dan kurang menyadari

    konsekuensinya sehingga akan memberi kesempatan yang luas bagi

    munculnya agresivitas.25

    c. Kekuasaan

    Menurut Weber (dalam Koeswara) kekuasaan adalah

    kesempatan dari seseorang atau kelompok orang untuk merealisasikan

    keinginan-keinginannya dalam tindakan komunal bahkan meskipun

    23

    Ibid,. hlm., 35 24

    Angela Rahardian Yanita Utami, PerilakuMenonton Film Kartun Hero di Televisi Dengan

    Perilaku Agresi pada Anak-Anak Sekolah Dasar. UNIKA, Semarang, 2008, hlm.18-19. 25

    Baidi Bukhori, S. Ag, M. Si,. Op., cit., hlm., 36

  • 24

    harus berhadapan dengan perlawanan dari seseorang atau kelompok

    orang lainnya yang berpartisipasi dalam tindakan komunikasi itu.26

    Peranan kekuasaan sebagai pengarah kemunculan agresi

    tidak dapat dipisahkan dari salah satu aspek menunjang kekuasaan itu,

    yakni pengabdian dan kepatuhan (compliance). Para pemegang

    otoriter amat lazim mengeksploitasi kepatuhan pengikutnya untuk

    menyingkirkan oposan-oposan dalam rangka memelihara

    establishment kekuasaannya. Bahkan kepatuhan itu sendiri diduga

    memiliki pengaruh yang kuat terhadap kecenderungan dan intensitas

    agresi individu (koeswara, 1998).27

    d. Efek Senjata

    Terdapat dugaab bahwa senjata memainkan perana dalam

    agresi tidak saja karena fungsinya mengefektifkan dan

    mengefisiensikan pelaksanaan agresi, tetapi juga karena efek

    kehadirannya.28

    e. provokasi

    Mayor (1971) menyatakan bahwa provokasi bisa

    mencetuskan agresi karena provokasi itu oleh pelaku agresi dilihat

    sebagai ancaman yang harus dihadapi dengan respon agresif untuk

    meniadakan bahaya yang diisyaratkan oleh ancaman itu.29

    f. Alkohol dan Obat-Obat

    Menurut mayor (1971) bahwa alkohol akan mempertinggi

    potensi agresi karena menekan mekanisme syaraf pusat yang biasanya

    menghambat emosi untuk melakukan agresi.30

    Jadi alkohol dan obat-

    obatan psikoaktif akan melemahkan kendali diri dari pemakaianya.

    Oleh karena itu keduanya dapat berpengaruhi terhadap individu untuk

    melakukan agresi.

    26

    Ibid,.hlm,. 36 27

    Ibid,. hlm,. 36-37 28

    Ibid,. hlm,. 37 29

    Ibid,. hlm,. 37 30

    Ibid,. hlm,. 38

  • 25

    g. Kondisi Lingkungan

    Eksperimen Donnerstein dan Wison menunjukan bahwa

    dalam keadaan bising, ternyata individu memberikan kejutan listrik

    yang lebih banyak daripada dalam kondisi suara rendah atau tanpa

    suara.31

    Penelitian Griffit (1971) menemukan bahwa dalam waktu

    antra tahun 1967 dan 1971 hura-hura lebih sering terjadi di musim

    panas di saat udara panas menyengat daripada di musim gugur, musim

    dingin atau musim semi. Dengan demikian ada kaitan yang erat antara

    suhu udara dan peningkatan tidak kekerasan.32

    1. Kemiskinan

    Bila seorang anak dibesarkan dalam lingkungan

    kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami

    penguatan (Byod McCandless dalam Davidoff, 1991). Hal ini

    dapat kita lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari di ibukota

    Jakarta, di perempatan jalan dalam antrian lampu merah (Traffic

    Light) anda biasa didatangi pengamen cilik yang jumlahnya lebih

    dari satu orang yang berdatangan silih berganti. Bila anda

    memberi salah satu dari mereka uang maka anda siap-siap di

    serbu anak yang lain untuk meminta pada anda dan resikonya

    anda mungkin dicaci maki bahkan ada yang berani memukul

    pintu mobil anda jika anda tidak memberi uang, terlebih bila

    mereka tahu jumlah uang yang diberikan pada temannya cukup

    besar. Mereka juga bahkan tidak segan-segan menyerang

    temannya yang telah diberi uang dan berusaha merebutnya. Hal

    ini sudah menjadi pemandangan yang seolah-olah biasa saja.33

    Bila terjadi perkelahian dipemukiman kumuh, misalnya

    ada pemabuk yang memukuli istrinya karena tidak memberi uang

    31

    Ibid,. hlm,. 38 32

    Ibid,. hlm,. 38 33

    Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi. Faktor-Penyebab-Perilaku-Agresi, Jakarta, 10 Juni 2002.

  • 26

    untuk beli minuman, maka pada saat itu anak-anak dengan mudah

    dapat melihat model agresi secara langsung. Model agresi ini

    seringkali diadopsi anak-anak sebagai model pertahanan diri

    dalam mempertahankan hidup. Dalam situasi-situasi yang

    dirasakan sangat kritis bagi pertahanan hidupnya dan ditambah

    dengan nalar yang belum berkembang optimal, anak-anak

    seringkali dengan gampang bertindak agresi misalnya dengan

    cara memukul, berteriak, dan mendorong orang lain sehingga

    terjatuh dan tersingkir dalam kompetisi sementara ia akan berhasil

    mencapai tujuannya. Hal yang sangat menyedihkan adalah

    dengan berlarut-larut terjadinya krisis ekonomi & moneter

    menyebabkan pembengkakan kemiskinan yang semakin tidak

    terkendali. Hal ini berarti potensi meledaknya tingkat agresi

    semakin besar dan kesulitan mengatasinya lebih kompleks.34

    2. Anonimitas

    Kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota

    besar lainnya menyajikan berbagai suara, cahaya dan bermacam

    informasi yang besarnya sangat luar biasa. Orang secara otomatis

    cenderung berusaha untuk beradaptasi dengan melakukan

    penyesuaian diri terhadap rangsangan yang berlebihan tersebut.

    Terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif membuat dunia

    menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan

    orang lain tidak lagi saling mengenal atau mengetahui secara

    baik. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim

    (tidak mempunyai identitas diri). Bila seseorangmerasa anonim ia

    cenderung berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak

    lagi terikat dengan norma masyarakat dan kurang bersimpati pada

    orang lain.35

    34

    Ibid. 35

    Ibid.

  • 27

    3. Suhu udara yang panas

    Bila diperhatikan dengan seksama tawuran yang terjadi di

    Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik panas matahari,

    tapi bila musim hujan relatif tidak ada peristiwa tersebut. Begitu

    juga dengan aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada bentrokan

    dengan petugas keamanan yang biasa terjadi pada cuaca yang

    terik dan panas tapi bila hari diguyur hujan aksi tersebut juga

    menjadi sepi.36

    Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa suhu suatu

    lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku

    sosial berupa peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US Riot

    Comision pernah melaporkan bahwa dalam musim panas,

    rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa lebih banyak terjadi di

    Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya

    (Fisher et al, dalam Sarlito, Psikologi Lingkungan,1992).37

    h. Jenis Kelamin

    Telah banyak dikemukakan oleh para ahli, misalnya Lips dan

    Colwill (1978) yang menyatakan bahwa dalam berbagai segi

    psikologis ternyata terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

    Menurut Shaffer (1985) agresi bagi laki-laki biasanya stabil dari masa

    remaja samapi dewasa muda, tetapi tidak demikian pada perempuan,

    karena agresi laki-laki lebih ditolerir masyarakat daripada agresi

    perempuan. Perempuan dituntut lebih halus oleh budaya, sehingga

    agresivitasnya tidak terlalu tampak.38

    i. Kondisi Fisik

    Eksperimen yang dilakukan oleh Dollard dengan cara

    melarang subyek tidur semalam suntuk, tidak boleh merokok,

    membaca, berbicara, bermain dan lain-lain. Dalam waktu yang cukup

    lama semua obyek hanya boleh duduk saja sehingga mereka

    36

    Ibid. 37

    Ibid. 38

    Baidi Bukhori, S.Ag, M. Si,. op., cit., hlm,. 39

  • 28

    memendam penderitaan dan frustasi yang menghasilkan agresi

    terhadap peneliti, tetapi agresi itu tidak dapat diekspresikan secara

    langsung karena situasi sosialnya. Agresivitas yang ditampilkan

    subyek tampak ketika salah satu subyek menggambar luka yang

    mengerikan pada tubuh manusia. Ketika ditanya siapa manusia dalam

    gambar tersebut, maka subyek mengatakan bahwa itu adalah gambar

    para psikolog. Dan teman-temannya yang senasib itu semua terhibur.39

    j. Media Massa

    Media massa merupakan media informasi yang memberikan

    informasi kepada masyarakat. Namun demikian, media massa baik

    cetak maupun elektronik juga banyak menyajikan hal-hal yang

    bersifat agresif. Tayangan film dan iklan-iklan yang mempertontonkan

    adegann kekerasan secara tidak langsung maupun langsung dapat

    mempengaruhi penontonnya, bahkan menirukan dan mempraktekkan

    adegan yang pernah dilihatnya.40

    k. Penyimpangan Pemikiran

    Kemarahan terjadi karena individu mengalami penyimpangan

    pemikiran terhadap realitas, sehingga ia membuat kesimpulan yang

    tidak masuk akal, sehubungan dengan kemampuannya menghadapi

    lingkungan (burns, 1988). Hasil penelitian Nasby, Hayden, dan

    Depaulo (1979) menemukan bahwa bias atribusi positif-submisif

    (lawan dari bias atribusi permusuhan) berhubungan dengan

    menurunnya agresi. Dan bias atribusi negatif-dominan (bias atribusi

    permusuhan) berhubungan dengan meningkatnya agresi. Dengan

    demikian apabila terjadi penyimpangan pemikiran pada individu maka

    akan mengarahkannya pada emosi yang tidak menyinangkan dan akan

    menimbulkan agresivitas.41

    39

    Ibid,. hlm,. 40 40

    Ibid,. hlm,. 41 41

    Ibid,. hlm,. 42

  • 29

    B. SHALAWAT FATIH

    1. SHALAWAT

    a. Definisi Shalawat

    Shalawat adalah jamak dari kata shalat yang berarti doa,

    keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah. Arti bershalawat

    dapat dilihat dari pelakunya (subjeknya). Jika shalawat itu dari Allah

    SWT, maka memberi rahmat kepada makhluk. Sedangkan shalawat

    dari orang mukmin, maka suatu doa agar Allah SWT memberi rahmat

    dan kesejahteraan kepada nabi Muhammad SAW dan keluarganya.42

    Shalawat juga berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang

    banyak, maupun kepentingan bersama. Adapun shalawat sebagai

    ibadah adalah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah

    SWT serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang

    dijanjikan Nabi Muhammad SAW.

    Dengan demikian makna shalawat Allah kepada hamba-Nya di

    bagi menjadi dua yaitu umum dan khusus. Shalawat umum adalah

    shalawat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal

    sholeh. Sedangkan shalawat khusus adalah shalawat Allah kepada

    rasul-Nya, para nabi-Nya, teristimewa shalawat-nya kepada Nabi

    Muhammad SAW.43

    b. Dalil-Dalil diisyariatkannya Shalawat

    Surat Al-Ahzab ayat: 56

    Artinya: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya

    bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,

    42

    Bambang Irawan, The Power of Shalawat, Solo: Tiga Serangkai, 2008, hlm. 65. 43

    Bambang Irawan, op. cit. hlm., 65

  • 30

    bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam

    penghormatan kepadanya.

    Hadits dari Kaab ra;

    )

    (

    .

    Artinnya: dari Kaab yang berkata: ketika turun ayat Innallaha wa

    malaikathu yusholluna alan nabi, para sahabat bertanya, nabi

    Allah? Rasulullah SAW bersabda, Ucapkanlah, Allahumma sholli

    ala muhammadin wa ala ali muhammadin kama shollaita ala

    ibrahim wa ala ali ibrahim innaka hamidun majid, wa barik ala

    muhammadin wa ala ali muhammad kama barokta ala ibrahim wa

    ala ali innaka hamidun majid (H.R. Ahmad dari Kaab).44

    Hadits dari Abu Hurairah ra;

    : )

    (

    Artinya: dari abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda: Barang siapa

    membaca shalawat satu kali kepadaku, Allah merahmatinya

    sepuluh kali lipat (HR. Muslim).45

    44

    Abi Abdillah Abi Muhammad ibn Ibrahim ibn Al-Mughiroh ibn Bardibzah Al-Bukhari Al-

    Jufiy, Shahih Al-bukhari, juz 8, Sdemarang: Thaha Putra, t.th. hlm. 95. 45

    Al Imam Abi-Husain Muslim ibn Al-Hajaj ibn Muslim Al-qusyari Al-Nisaburi, Al-Jami Al-

    Shahih, juz 2, Semarang: Toha Putra, t.th. hal. 17.

  • 31

    Hadist dari Abu Thalhah ra;

    : :

    ( )

    Artinya: Dari Abu Thalhah ra, Nabi SAW bersabda: Pernah

    malaikat (Jibril) dating kepadaku berkata: Tidak senangkah engkau,

    pasti aku membacakan shalawat (memohonkan ampun) pula untuk

    dia sepuluh kali? Dan seseorang mendoakan kesejahteran pula

    untuk dia sepuluh kali (HR. Ibnu Hibbah).46

    Hadist dari Anas bin Malik;

    :

    )

    (

    Artinya: Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah SAW bersabda:

    Barang siapa membaca shalawat kepadaku satu kali, Allah

    melimpahkan shalawat (rahmat) kepadanya sepuluh kali, di hapus

    sepuluh kesalahannya, diangkat sepuluh derajatnya baginya dan

    dicatat sepuluh kebaikan baginya (HR. Ahmad, Bukhari Fil Adab,

    Nasaai, dan hakim).47

    c. Manfaat Shalawat

    Al-Hafizh As-Sakhawi memaparkan tentang manfaat yang

    bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai berikut;48

    46

    Anas ibn malik, Maktabatusy Syamilah Asdarul Tsani, juz 24, hlm. 105 47

    Abi Tholhah bin Sahal, Maktabatusy Syamilah Asdarul Tsani, juz 33, ham. 100 48

    Bambang Irawan, op. cit. hlm. 94 -95

  • 32

    1. Mandapat rahmat Allah SWT.

    2. Penghapusan kesalahan-kesalahannya.

    3. Penyucian amal perbuatannya.

    4. Kenaikan derajatnya.

    5. Pengampunan dosa-dosanya.

    6. Mendapatkan pahala dan ganjaran yang tiada batasnya.

    7. Kebahagian hidup di dunia dan akhirat.

    8. Keridhoan dan rahmat Allah SWT serta kesalamatan dari murka-

    Nya.

    9. Kesaksian Nabi Muhammad SAW sendiri terhadapnya.

    10. Jaminan syafaat Nabi Muhammad SAW.

    11. Shalawat menjadi zakat dan penyucian baginya.

    12. Shalawat merupakan amal yang dicintai Allah SWT.

    13. Shalawat membuat seseorang bersikap optimis dalam mememukan

    kebaikan di mana saja.

    14. Shalawat adalah cahaya yang membantu seseorang dalam melawan

    musuh-mushnya.

    15. Shalawat mendekatkan seseorang kepada Allah SWT dan kepada

    Nabi-Nya.

    16. Shalawat membersihkan hati seseorang dari kemunafikan dan

    kekotoran.

    17. Shalawat mencegah orang lain dari perkataan-perkataan yang baik.

    d. Adab Bershalawat

    Albanna (1994) menyatakan bahwa adab berzikir antara

    lain;49

    Kekhusukan dan kesopanan, menghadirkan makna kalimat-kalimat

    zikir, berusaha memperoleh kesan-kesannya, dan memperhatikan

    maksud-maksud serta tujuan-tujuannya.

    49

    Baidi Bukhori, op., cit., hlm. 53-54

  • 33

    Merendahkan suara sewajarnya disertai konsentrasi sepenuhnya

    dan kemauan secukupnya sampai tidak terkacau oleh sesuatu yang

    lain.

    Menyesuaikan zikir kita dengan suara jamah, kalau zikir itu dibaca

    secara berjamaah, maka tak seorangpun yang mendahului atau

    terlambat datang, tetapi ia harus memulai bersama mereka dari

    kalimat yang pertama kali ia dapatkan kemudian setelah selesai, ia

    harus mengganti zikir yang belum dibacanya. Hal ini dimaksudkan,

    agar tidak menyimpang dari bacaan yang semestinya, dan supaya

    tidak berlainan iramanya.

    Bersih pakaian dan tempat, serta memelihara tempat-tempat yang

    dihormati dan waktu-waktu yang cocok. Hal ini menyebabkan

    adanya konsentrasi penuh kejernihan hati dan keikhlasanniatnya.

    Setelah selesai berzikir dengan penuh penuh kekhusyukan dan

    kesopanan, di samping meninggalkan perkataan yang tidak berguna

    juga meninggalkan permainan yang dapat menghilangkan faedah

    dan kesan zikir sehingga efek zikir akan selalu melekat pada diri

    pengamal zikir

    e. Macam-Macam Shalawat

    Macam-macam shalawat sangat banyak jenisnya, sehingga penulis

    memberikan beberapa contoh shalawat yang sering di pakai oleh

    masyarakat, yaitu;50

    Shalawat Fatih

    Shalawat Kamilah (Nariyah-Tafrijiyyah)

    Shalawat Badriyah

    Shalawat Munjiyat

    Shalawat Saadah

    Shalawat Ulul Azmi

    Shalawat Mukafaah

    50

    Bambang Irawan, op., cit., hlm,. 113-134.

  • 34

    Shalawat Ibrahim Almabtuli

    Shalawat Abdul Qadir Jilaini

    Shalawat haibah

    2. Definisi Shalawat Fatih

    Syekh Ahmad Tijani ra menyebutkan bahwa Nabi Muhammad

    SAW memberi tahu beliau bahwa shalawat fatih bukan susunan Syekh

    Muhammad Al-Bakri. Syekh muhammad Al-Bakri ra memohon

    kepada Allah dalam waktu yang lama, agar dianugrahi suatu shalawat

    yang meliputi pahala dan sir semua shalawat kepada Nabi Muhammad

    SAW. Setelah lama waktu memohonnya, Allah mengabulkan doa

    syekh Muhmmad Al-Bakri yaitu malaikat datang membawa shalawat

    fatih ini, tertulis dalam sebuah lembaran nur.51

    Shalawat fatih adalah;

    Artinya Ya Allah berilah rahmat atas tuan kami Muhammad pembuka

    semua yang terkunci dan penutup semua yang terdahulu, penolong

    kebenaran dengan kebenaran dan petunjuk kejalan yang lurus dan atas

    keluarganya, dengan sebenar-benarnya derajat dan martabat beliau

    yang agung.

    3. Manfaat Shalawat Fatih

    Untuk manfaat shalawat fatih ini, penulis mengambil dari

    wawancara para pengamal shalawat fatih, yaitu;

    1. Pikiran dan hati menjadi tenang, sehingga di dalam menghadapi

    masalah kehidupan dengan baik.

    2. Sebagai kontrol diri dari perilaku buruk.

    3. Bisa bertemu dengan Rasulullah, apabila membaca dengan anjuran

    mursyid (guru).

    51

    A. Sjinqithy Djmaluddin, op., cit., hlm 68.

  • 35

    4. Dibukakan jalan menuju kebaikan.

    5. Akan melapangkan rezki.

    6. Dimudahkan segala urusan dan masalah yang dihadapi.

    D. HIPOTESIS

    Berdasarkan teori yang dikemukan sebelumnya maka disusun

    hipotesis sebagai berikut;

    1. Ada perbedaan perubahan agresivitas antara kelompok eksperimen dan

    kelompok kontrol. Kelompok eksperimen lebih besar perubahan

    dibanding kelompok kontrol.

  • 36

    BAB III

    JALANNYA PENELITIAN

    A. PROSES PENELITIAN

    1. Identifikasi

    Variabel bebas (sebab) dalam penelitian kali ini adalah shalawat fatih,

    sedangkan agresivitas sebagai variabel terikat (akibat).

    2. Waktu dan Tempat Penelitian

    Eksperimen dilaksanakan pada tanggal 11 April pukul 08.30 WIB sampai

    12.00 WIB. kelompok eksperimen ditempatkan di aula MAN Lasem dan

    kelompok kontrol ditempatkan di Mushola MAN Lasem. Semua subyek penelitian

    berjumlah 132 siswa yang diambil dari siswa MAN Lasem.

    3. Definisi Operasional Veriabel

    Definisi operasional dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghindari

    dari kesalahpahaman dalam menginterprestasikan suatu variabel secara

    spesifikasi agar variabel penelitian tersebut dapat diukur dengan alat ukur yang

    tepat.

    Agar tidak muncul salah pengertian permasalahan tidak menjadi meluas

    (bagi pembaca dalam memahami dan menafsirkan yang dimaksud dalam sekripsi

    ini) maka perlu adanya definisi operasional mengenai istilah-istilah yang

    digunakan dalam variabel-variabel diatas sebagai berikut:

    a. Shalawat fatih

    Shalawat adalah jamak dari kata shalat yang berarti doa,

    keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah1. Sedangkan secara

    terminologi shalawat adalah pengakuan kerasuluan Nabi Muhammad SAW

    serta memohon Allah agar Nabi Muhammad SAW serta keluarganya

    senantiasa mendapat perlindungan dan keselamatan.2 Sedangkan shalawat

    fatih adalah;

    1 Bambang Irawan, The Power of Shalawat, Solo: Tiga Serangkai, 2008, hlm. 65.

    2 Ibid.

  • 37

    Artinya Ya Allah berilah rahmat atas tuan kami Muhammad pembuka semua

    yang terkunci dan penutup semua yang terdahulu, penolong kebenaran

    dengan kebenaran dan petunjuk kejalan yang lurus dan atas keluarganya,

    dengan sebenar-benarnya derajat dan martabat beliau yang agung.

    b. Agresivitas

    Agresivitas adalah tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun secara

    verbal yang dilakukan yang dilakukan secara sengaja terhadap individu lain

    ataupun terhadap obyek-obyek dengan maksud untuk melukai, menyakiti

    ataupun merusak yang mana orang yang dilukai tersebut berusaha untuk

    menghindarinya.3

    4. Manipulasi

    Variabel yang akan digunakan didalam eksperimen ini adalah variabel

    shalawat fatih. Shalawat fatih merupakan salah satu dari shalawat yang ada.

    Shalawat fatih digunakan untuk menurunkan agresivitas siswa Madrasah Aliyah

    Negeri Lasem. Pemilihan shalawat fatih ini dilakukan dengan beberapa langkah,

    yakni;

    Pertama, berdasarkan penelaahan literatur yang dilaksanakan oleh peneliti

    terhadap buku-buku dan literatur yang membahas tentang shalawat fatih,

    ditemukan bahwa Syekh Yusuf bin Ismail Annabani (2005), Bambang Irawan

    (2007), yang menyatakan bahwa shalawat sangat beraneka ragam bentuknya baik

    itu yang panjang maupun yang pendek. Beberapa shalawat dianataranya adalah

    shalwat fatih merupaka shalawat yang memberikan manfaat kepada orang yang

    membacanya baik itu manfaat di dunia maupun di akhirat bukan hanya itu tetapi

    juga dapat keridhoan dari Allah SWT dan safaat Nabi Muhammad SAW.

    Kedua, meminta pendapat kepada beberapa ulama tentang shalawat fatih

    yang dapat digunakan untuk menurunkan agresivitas. Daftar ulama yang diminta

    3 Baidi Bukhori, S.Ag., M.Si, Zikir Al-Asma Al-Husna Solusi atas Problem Agresivitas Remaja, Semarang:

    Syiar Media. 2008. hlm, 75.

  • 38

    pendapat yaitu K.H Abdur Rozaq Iman , K. H. Dzikron Abdullah, K. H. Soleh

    Basmalah. Dari pendapat para ulama tersebut menyatakan bahawa shalawat fatih

    dapat digunakan untuk apapun tergantung dari niat orang tersebut, dan apabila

    digunakan untuk menurunkan agresivitas shalawat fatih bisa digunakan dan

    dibacanya setelah habis shalat fardu dan untuk berapa kali membacanya?

    Tergantung dari kemampuan dari orang tersebut (K. H Abdul Razaq Iman),

    Semua shalawat untuk nabi Muhammad SAW bagaimanapun bentuk dan bacanya

    dan dengan shalawat itu kita dapat menaladani beliau terutama didalam

    berkehidupan di masyarakat, sedangkan shalawat fatih juga sama untuk

    meneladani Nabi Muhammad SAW sehingga bisa digunakan sebagai kantrol diri (

    K. H Dzikron Abdullah), semua manfaat shalawat itu tidak bisa dijelaskan tetapi

    shalawat itu bisa dirasakan oleh semua orang yang membacanya, sedangkan

    shalawat fatih itu sebagai jalam untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bisa

    bertemu dengan Rasulullah sehingga dapat memberikan pengaruh positif terhadap

    diri kita (K. H Soleh Basmalah). Secara seluruhnya menyatakan bahwa shalawat

    fatih dapat digunakan untuk menurunkan agresivitas.

    TABEL 1. DAFTAR ULAMA

    NO NAMA KETERANGAN

    1 K.H Abdul Rozaq Iman Mursyid Tarekat At-Tijaniyah Rembang

    2 K.H Drs Dzikron Abdullah Pengasuh P. P Addainuriyah-2 Semarang

    3 K. H Soleh Basmalah Pengasuh P. P Darussalam Jatibarang Brebes

    5. Subyek

    Subyek penelitian ini adalah 340 siswa yang terdiri dari kelas XI-IPA dan

    IPS MAN Lasem, yang masih mengalami masa remaja tengah yang secara umum

    memiliki ciri-ciri antara lain berada dalam emosi meninggi, kebimbangan dan

    belum stabil serta kurang menguasai diri. Untuk mengatasinya salah satunya

    dengan melakukan shalawat fatih.

    Siswa MAN Lasem kelas XI berjumlah 340 siswa, masing-masing kelas

    terdiri dari dari IPA dua kelas dan IPS tujuh kelas. Untuk kelompok terdiri dari 66

    siswa dan 66 siswa untuk kelompok kontrol. Jadi untuk subyek penelitian ini

    berjumlah 132 siswa.

  • 39

    6. Skala Agresivitas

    Skala yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengadopsi dari

    Baidi Bukhori dan skala ini disusun berdasarkan konsep agresi yang dikemukakan

    oleh Buss dan Perry (1992) yang mengklasifikasikan agresivitas menjadi empat

    jenis yakni: agresivitas fisik, egresivitas verbal, kemarahan dan permusuhan.4

    Skala agresivitas dalam penelitian ini terdiri empat alternatif jawaban yaitu

    sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), sangat tidak sesuai (STS). Jenis

    item skala ada dua macam yaitu favorable dan unfavorable. Favorable adalah

    pertanyaan yang seiring dengan pernyataan, dan unfavorable adalah pertanyaan

    yang tidak seiring dengan pernyataan. Skor tiap item skala agresivitas antara 1

    sampai 4.

    TABEL 1. SKOR JAWABAN AITEM

    JAWABAN FAVORABEL UNFAVORABEL

    SS 4 1

    S 3 2

    TS 2 3

    STS 1 4

    Makin tinggi skor yang diperoleh subyek maka tinggi agresivitasnya

    sebaliknya makin rendah skor yang diperoleh subyek maka rendah pula

    agresivitasnya. Untuk mempermudah dalam penysunan skala agresivitas maka

    terlebih dahulu dibuat tabel spesifikasi skala agresivitas sebagaimana dalam tabel

    ini;

    TABEL 2. SPESIFIKASI SKALA AGRESIVITAS

    NO INDIKATOR NOMOR ITEM JUMLAH

    Favorable Unfavorable

    1 Agresivitas fisik 4, 12, 20, 25,

    30, 33, 38, 39,

    40

    - 9

    2 Agresivitas verbal 1, 5, 6, 11, 15,

    17, 19, 34, 37,

    2, 27 12

    4 Baidi Bukhori, S. Ag, M. Si, op., cit., hlm. 85.

  • 40

    41

    3 Kemarahan 14, 23, 28, 29,

    31, 32

    7, 22 8

    4 Permusuhan 3, 8, 9, 10, 18,

    21, 24, 26, 35,

    36

    13, 16, 42 13

    Jumlah 35 7 42

    B. PELAKSANAAN PENELITIAN

    Penelitian in adalah penelitian eksperimen, sebelum penelitian dilakukan

    peneliti mengambil MAN Lasem sebagai tempat penelitian, dengan pertimbangan

    karena peneliti merupakan alumni MAN Lasem. Langkah selanjutnya peneliti

    meminta izin kepada pihak sekolah yaitu kepala sekolah MAN Lasem. Setelah

    mendapat izin dari pihak sekolah peneliti meminta surat izin research kepada

    Fakultas Ushuludin dengan nomor: In.064/D/PP.009/236/2011 untuk diberikan

    kepada pihak sekolah.

    Kemudian peneliti berkoordinasi dengan pihak sekolah yaitu Wakil Kepala

    Bidang Kurikulum terkait dengan jadwal penelitian, dengan


Recommended