Home > Documents > PENGARUH PENGGUNAAN MODEL QUANTUM LEARNING/Pengaruh... · adalah dengan uji t. Simpulan penelitian...

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL QUANTUM LEARNING/Pengaruh... · adalah dengan uji t. Simpulan penelitian...

Date post: 07-Jan-2020
Category:
Author: others
View: 2 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 94 /94
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user PENGARUH PENGGUNAAN MODEL QUANTUM LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI SE-DABIN I POLOKARTO KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh : Indah Dwi Hastuti K7108159 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Juni 2012
Transcript
  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    1

    PENGARUH PENGGUNAAN MODEL QUANTUM LEARNING

    TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

    PADA SISWA KELAS V SD NEGERI SE-DABIN I POLOKARTO

    KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2011/2012

    SKRIPSI

    Oleh :

    Indah Dwi Hastuti

    K7108159

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    Juni 2012

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    2

    ii

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    3

    PENGARUH PENGGUNAAN MODEL QUANTUM LEARNING TERHADAP

    HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA SISWA

    KELAS V SD NEGERI SE-DABIN I POLOKARTO KABUPATEN

    SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2011/2012

    Oleh :

    INDAH DWI HASTUTI

    K7108159

    Skripsi

    Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan

    Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

    Jurusan Ilmu Pendidikan

    FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    Juni 2012

    iii

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    4

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    5

    iv

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    6

    ABSTRAK

    Indah Dwi Hastuti. PENGARUH PENGGUNAAN MODEL QUANTUM

    LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN

    KEWARGANEGARAAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI SE-DABIN

    I POLOKARTO KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN AJARAN

    2011/2012. Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas

    Maret Surakarta, Juni 2012.

    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh

    yang berarti dari penggunaan model quantum learning terhadap hasil belajar

    Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas V SD Negeri Se-Dabin I

    Polokarto Kabupaten Sukoharjo Tahun Ajaran 2011/2012.

    Jenis penelitian ini adalah Kuantitatif dengan pendekatan eksperimental.

    Desain penelitiannya adalah Pretest-Posttest Control Group Design. Populasi

    penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Negeri Se-Dabin I Polokarto

    Kabupaten Sukoharjo Tahun Ajaran 2011/2012. Teknik Pengambilan sampel

    dilakukan dengan Cluster Random Sampling. Teknik Cluster Random Sampling

    digunakan untuk memilih sekolah secara acak yang berfungsi sebagai kelompok

    kelas eksperimen dan kelompok kelas kontrol. Kelas eksperimen dalam penelitian

    ini adalah kelas V SD Negeri Polokarto 03 dan kelas kontrol adalah kelas V SD

    Negeri Mranggen 03. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode

    tes, observasi, dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan

    adalah dengan uji t.

    Simpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh postif yang signifikan

    dari penggunaan model quantum learning terhadap hasil belajar Pendidikan

    Kewarganegaraan pada siswa kelas V SD Negeri Se-Dabin I Polokarto Kabupaten

    Sukoharjo Tahun Ajaran 2011/2012. Hal ini terbukti dengan nilai rerata pada

    kelas eksperimen 75,17 sedangkan rerata pada kelas kontrol 69,12 selain itu hasil

    perhitungan dengan uji t diperoleh harga statistik thitung = 2,251 dengan daerah

    kritik DK = {t | t < -2,021 atau t > 2,021}, karena thitung = 2,251 Є DK maka H0

    ditolak, berarti terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang diberi model

    quantum learning dengan siswa yang diberi pembelajaran langsung.

    Kata kunci : Model Quantum Learning, Pendidikan Kewarganegaraan dan

    Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan

    vi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    7

    ABSTRACT

    Indah Dwi Hastuti. THE INFLUENCE OF THE QUANTUM LEARNING

    MODEL USING FOR THE RESULT OF LEARNING CIVICS

    EDUCATION FOR THE 5TH

    GRADERS OF SD NEGERI SE-DABIN I

    POLOKARTO, SUKOHARJO REGENCY ACADEMIC YEAR OF

    2011/2012. Thesis, Faculty of Education Sebelas Maret University, Juni 2012.

    The objective of this research is to know how much the influence of the

    quantum learning model using for the result of learning civics education of the 5th

    graders of SD Negeri Se-Dabin I Polokarto, Sukoharjo regency academic year of

    2011/2012.

    This research is quantitative research by experimental approach. The

    design of this research is Pretest-Posttest Control Group Design. The population

    of this research is all of the 5th

    graders of SD Negeri Se-Dabin I Polokarto,

    Sukoharjo regency academic year of 2011/2012. The technique of sample taking

    is using Cluster Random Sampling. Cluster Random Sampling technique is used

    to choose the school randomly which is functioned as the experiment class group

    and control class group. The experiment class of this research is the 5th

    graders of

    SD Negeri Polokarto 03 and the control class is SD Negeri Mranggen 03. Data

    collection techniques are; test method, the observation, documentation and

    interview. Data analysis technique is t-test.

    The result of this research is there is a positive and significant influence

    from the using quantum learning model for the result of learning civics education

    of the 5th

    graders of SD Negeri Se-Dabin I Polokarto, Sukoharjo regency

    academic year 2011/2012. It is proven by the average mark of the experiment

    class is 75,17 meanwhile the average mark of the control class is 69,12, besides

    the calculation result by t test is statistic price thitung = 2,251 with the critic area

    DK = {t | t < -2,021 atau t > 2,021}, because of thitung = 2,251 Є DK, therefore H0

    is rejected, it means that there is a different of learning result from the students

    with quantum learning model and the students which is given the material

    directly.

    Key words : Quantum Learning model, The Civics Education and learning

    result of Civics Education

    vii

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    8

    MOTTO

    “Cari kebenaran, dengarkan kebenaran, ajarkan kebenaran, cintai kebenaran,

    patuhi kebenaran, dan pertahankan kebenaran sampai pada kematian”

    “Terima apa yang terjadi dengan rasa ikhlas, dengan keikhlasan hidup akan

    terasa lebih indah”

    “Tidak ada kata terlambat untuk belajar, dengan belajar kita akan lebih

    mudah memahami arti hidup yang sesungguhnya”

    viii

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    9

    PERSEMBAHAN

    Teriring syukurku pada-Mu, kupersembahkan karya ini untuk:

    “ Bapak dan Ibu”

    Terima kasih untuk semua do’amu yang tiada terputus, teladan yang telah

    engkau berikan, kerja keras tiada henti dan kasih sayang yang tiada

    terbatas. semoga Allah SWT memberikan kebaikan dan kemuliaan di

    dunia dan akhirat.

    “Keluarga Besar”

    Terima kasih untuk semua do’a dorongan dan semangat dalam

    menyelesaikan skripsi ini

    “Al-Esa Hanafi”

    Terima kasih yang senantiasa memberikan motivasi dan dorongan dengan

    penuh perhatian dan semangat.

    “Teman-temanku”

    Terima kasih untuk Eky, Rimba, Ina, Mbk.Ya, Jon, Mi2 dll yang telah

    memberi motivasi dan semangat.

    “ Teman-Teman Kelas C PGSD Angkatan 2008”

    Terima kasih atas dukungan dan do’anya.

    “Almamater”

    ix

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    10

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur Alhamdulillah, dipanjatkan kehadirat Allah SWT, atas

    rahmat dan karunia-Nya, taufiq dan hidayahNya, Sehingga penulis dapat

    menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul: PENGARUH PENGGUNAAN

    MODEL QUANTUM LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR

    PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA SISWA KELAS V SD

    NEGERI SE-DABIN I POLOKARTO KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN

    AJARAN 2011/2012. Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat mendapatkan

    Gelar Sarjana Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

    Sebelas Maret Surakarta.

    Dalam penyusunan skripsi ini tentunya penulis tidak terlepas dari

    bantuan berbagai pihak, oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan

    terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

    1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

    Surakarta yang telah memberikan ijin untuk dapat memulai penyusunan

    skripsi ini.

    2. Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

    Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan pelayanan

    yang baik dalam pengurusan surat-surat untuk kelancaran penelitian dalam

    penyusunan skripsi ini.

    3. Ketua Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah memberikan

    kelancaran dan kemudahan dalam penyusunan skripsi ini.

    4. Drs. Sadiman, M.Pd selaku pembimbing akademik yang selalu

    memberikan motivasi kepada penulis.

    5. Drs. Chumdari, M.Pd selaku pembimbing I yang selalu memberikan

    arahan dan dukungan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat selesai.

    6. Idam Ragil, M.Si selaku pembimbing II yang selalu sabar dalam

    memberikan bimbingan dan motivasi kepada penulis sehingga skripsi ini

    dapat diselesaikan.

    x

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    11

    7. Kepala sekolah SD Negeri Polokarto 03, SD Negeri Mranggen 03, dan

    sekolah SD Negeri Jatisobo 03 yang telah memberikan ijin untuk

    melakukan penelitian.

    8. Guru kelas V di SD Negeri Polokarto 03, SD Negeri Mranggen 03, dan

    sekolah SD Negeri Jatisobo 03 yang telah membantu untuk kelancaran

    dalam penelitian ini.

    9. Siswa kelas SD Negeri Polokarto 03, SD Negeri Mranggen 03, dan

    sekolah SD Negeri Jatisobo 03.

    10. Almamater PGSD Uns angkatan 2008 yang telah memberikan motivasi

    untuk menyelesaikan skripsi ini

    11. Semua pihak yang telah membantu penulis untuk kelancaran penulisan

    skripsi ini.

    Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penulisan skripsi

    ini. Oleh sebab itu penulis mengaharapkan kritik dan saran yang bersifat

    membangun guna perbaikan. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat

    memberikan manfaat bagi majunya ilmu pendidikan di sekitar kita, khususnya

    bagi kemajuan Pendidikan Kewarganegaraan.

    Surakarta, Juni 2012

    Penulis

    Indah Dwi Hastuti

    xi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    12

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

    HALAMAN KEASLIAN TULISAN .............................................................. ii

    HALAMAN PENGAJUAN ............................................................................. iii

    HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... iv

    HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... v

    ABSTRAK ....................................................................................................... vi

    ABSTRACK .................................................................................................... vii

    HALAMAN MOTTO ...................................................................................... viii

    HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... ix

    KATA PENGANTAR ..................................................................................... xi

    DAFTAR ISI .................................................................................................... xii

    DAFTAR TABEL ............................................................................................ xvi

    DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xvii

    DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... . xviii

    BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

    A. Latar Belakang Masalah .................................................................. 1

    B. Identifikasi Masalah ........................................................................ 3

    C. Pembatasan Masalah........................................................................ 4

    D. Perumusan Masalah ......................................................................... 4

    E. Tujuan Penelitian ............................................................................. 5

    F. Manfaat Penelitian ........................................................................... 5

    BAB II KAJIAN PUSTAKA ....................................................................... 7

    A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan ............................. 7

    1. Hakikat Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan ................. 7

    a. Pengertian Belajar .................................................................. 7

    b. Pengertian Hasil Belajar ......................................................... 8

    c. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan .............................. 8

    d. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V SD ..... 9

    e. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan.................................... 10

    xii

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    13

    f. Materi Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V SD ................. 11

    g. Media Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan .............. 13

    h. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan .......... 15

    i. Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan .......................... 17

    2. Hakikat Model Quantum Learning ............................................. 17

    a. Pengertian Model Pembelajaran ............................................ 17

    b. Macam – Macam Model Pembelajaran.................................. 19

    c. Pengertian Quantum Learning ............................................... 20

    d. Prinsip Quantum Learning ..................................................... 22

    e. Karakteristik Quantum Learning ........................................... 23

    f. Kerangka Perencanaan Quantum Learning ........................... 25

    g. Model Quantum Learning dalam Pembelajaran

    Pendidikan Kewarganegaraan ................................................ 26

    3. Hakikat Model Pembelajaran Langsung .................................... 27

    a. Pengertian Model Pengajaran Langsung ................................ 27

    b. Tahap – Tahap Pengajaran Langsung .................................... 28

    c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pengajaran Langsung ..... 29

    d. Model Pengajaran Langsung dalam Pembelajaran

    Pendidikan Kewarganegaraan ................................................ 30

    e. Perbedaan Model Quantum Learning dan

    Model Pengajaran Langsung .................................................. 31

    4. Hasil Penelitian Yang Relevan ................................................... 33

    B. Kerangka Berpikir ........................................................................... 35

    C. Hipotesis .......................................................................................... 36

    BAB III METODE PENELITIAN ............................................................... 37

    A. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................ 37

    1. Tempat penelitian ...................................................................... 37

    2. Waktu penelitian ........................................................................ 37

    B. Rancangan Penelitian....................................................................... 37

    C. Populasi dan Sampel ........................................................................ 39

    D. Teknik Pengambilan sampel ............................................................ 39

    xiii

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    14

    E. Teknik Pengumpulan Data .............................................................. 40

    1. Oservasi ..................................................................................... 40

    2. Tes ............................................................................................ 40

    3. Wawancara ................................................................................ 41

    4. Dokumentasi.............................................................................. 41

    F. Validasi Instrumen Penelitian .......................................................... 42

    1. Uji Validitas Instrumen ............................................................ 42

    2. Uji Reliabilitas ........................................................................... 43

    3. Uji Daya Beda ........................................................................... 44

    4. Uji Tingkat Kesukaran............................................................... 45

    G. Analisis Data ................................................................................... 46

    1. Uji Prasyarat Analisis Data ......................................................... 46

    a. Uji Normalitas ........................................................................ 46

    b. Uji Homogenitas .................................................................... 47

    2. Uji Keseimbangan ....................................................................... 48

    3. Uji Hipotesis ............................................................................... 49

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 51

    A. Deskripsi Data ................................................................................. 51

    1. Penyajian Data Hasil Pre-test Kelas Eksperimen dan

    Kelas Kontrol .............................................................................. 51

    2. Penyajian Data Hasil Post-test Kelas Eksperiman dan

    Kelas Kontrol.............................................................................. 53

    B. Pengujian Keseimbangan Kemampuan Awal ................................. 62

    1. Uji Prasyarat Awal

    a. Uji Normalitas Kemampuan Awal (Pre-test)......................... 62

    b. Uji Homogenitas Kemampuan Awal (Pre-test) ...................... 63

    2. Uji Keseimbangan ....................................................................... 64

    C. Uji Prasyarat Hipotesis................................................................ ... 64

    1. Uji Prasyarat Hipotesis

    a. Uji Normalitas Hasil Belajar (Post-test)................................ . 64

    b. Uji Homogenitas Hasil Belajar (Post-test)............................. 65

    xiv

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    15

    2. Uji Hipotesis........................................................................... ..... 65

    D. Pembahasan Hasil Penelitian ........................................................... 66

    BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN ....................................... 68

    A. Simpulan .......................................................................................... 68

    B. Implikasi .......................................................................................... 68

    1. Implikasi Teoritis ........................................................................ 68

    2. Implikasi Praktis ......................................................................... 69

    C. Saran ............................................................................................... 70

    1. Kepada Pihak Guru ..................................................................... 70

    2. Kepada Pihak Sekolah ................................................................ 70

    3. Kepada Pihak Siswa.................................................................... 70

    4. Kepada Peneliti Lain................................................................... 70

    DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 72

    LAMPIRAN ..................................................................................................... 75

    xv

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    16

    DAFTAR TABEL

    Tabel Halaman

    Tabel 2.1 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran

    Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V Semester II ........................ 10

    Tabel 2.2 Alur Pengajaran Model Pengajaran Langsung dalam

    Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan................................... 31

    Tabel 2.3 Perbedaan Model Quantum Learning dan

    Model Pengajaran Langsung ........................................................... 32

    Tabel 3.1 Jadwal Penelitian.............................................................................. 75

    Tabel 3.2 Pola Rancangan Penelitian ............................................................... 38

    Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Nilai Pre-test Pendidikan Kewarganegaraan

    Kelas Eksperimen ............................................................................ 51

    Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Nilai Pre-test Pendidikan Kewarganegaraan

    Kelas Kontrol................................................................................... 52

    Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Nilai Post-test Pendidikan Kewarganegaraan

    Kelas Eksperimen............................................................................. 57

    Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Nilai Post-test Pendidikan Kewarganegaraan

    Kelas Kontrol............................................... .................................... 61

    Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Data Pre-test................................................... 63

    Tabel 4.6 Hasil Uji Homogenitas Data Pre-test.......................... .................... 63

    Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas Data Post-test.............................................. ... 64

    Tabel 4.8 Hasil Uji Homogenitas Data Post-test............................................. 65

    Tabel 4.9 Hasil Analisis Uji t........................................................................... 65

    xvi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    17

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar Halaman

    Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran yang Dikembangkan ................................... 36

    Gambar 4.1 Histogram Nilai Pre-test Kelas Eksperimen dan Kontrol ............ 53

    Gambar 4.2 Histogram Nilai Post-test Kelas Eksperimen dan Kontrol........... 62

    xvii

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    18

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran Halaman

    Lampiran 1. Tabel Jadwal Penelitian ............................................................... 75

    Lampiran 2. Silabus Sekolah Dasar Kelas V .................................................. 76

    Lampiran 3. RPP Kelas Eksperiman dan Kelas Kontrol ................................. 86

    Lampiran 4. Lembar Kerja Siswa .................................................................... 153

    Lampiran 5. Kisi-Kisi Pre-test ......................................................................... 187

    Lampiran 6. Soal Pre-test ................................................................................ 189

    Lampiran 7. Uji Validitas Pre-test ................................................................... 198

    Lampiran 8. Kisi-Kisi Post-test ....................................................................... 202

    Lampiran 9. Soal Post-test ............................................................................... 204

    Lampiran 10. Uji Validitas Post-test ............................................................... 213

    Lampiran 11. Analisis Butir Soal dan Uji Reliabilitas Soal Pre-test ............... 217

    Lampiran 12. Analisis Butir Soal dan Uji Reliabilitas Soal Post-test ............. 227

    Lampiran 13. Data Nilai Pre-test ..................................................................... 237

    Lampiran 14. Uji Normalitas Data Pre-test ..................................................... 238

    Lampiran 15. Uji Homogenitas Data Pre-test ................................................. 240

    Lampiran 16. Uji Keseimbangan ..................................................................... 242

    Lampiran 17. Data Nilai Post-test .................................................................... 243

    Lampiran 18. Uji Normalitas Data Post-test .................................................... 244

    Lampiran 19. Uji Homogenitas Data Post-test ................................................ 246

    Lampiran 20. Uji Hipotesis .............................................................................. 248

    Lampiran 21. Hasil Wawancara ....................................................................... 250

    Lampiran 22. Hasil Observasi .......................................................................... 261

    Lampiran 23. Foto Dokumentasi....................................................................... 267

    xviii

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Pendidikan kewarganegaraan memegang peran yang sangat strategis

    dalam upaya mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Sebab tujuan

    pendidikan kewarganegaraan adalah untuk membentuk warga negara yang baik

    yaitu yang sanggup melaksanakan hak dan kewajibannya dalam kehidupan

    berbangsa dan bernegara sesuai UUD 1945. Oleh karena itu, pendidikan nilai,

    moral, dan norma perlu ditanamkan secara terus menerus melalui mata pelajaran

    Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga warga negara yang baik lekas terwujud.

    Terlebih jika mengingat bahwa bangsa Indonesia sekarang sedang mengalami

    krisis jati diri, sehingga nilai moral dan norma menjadi hal yang penting untuk

    membentengi kekrisisan jati diri bangsa ini.

    Dilihat dari peranan pelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam upaya

    mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional sudah seharusnya kita sebagai

    calon guru memberikan perhatian lebih. Permasalahan pendidikan di sekolah

    khususnya yang berhubungan dengan proses pembelajaran pendidikan

    kewarganegaraan pada dasarnya ada dua faktor yaitu yang berhubungan dengan

    siswa dan yang berhubungan dengan pengajaran atau guru.

    Terdapat beberapa permasalahan yang muncul pada mata pelajaran

    pendidikan kewarganegaraan yang berhubungan dengan siswa. Masalah tersebut

    antara lain: (1) siswa jika mengikuti proses belajar mengajar kurang konsentrasi,

    (2) tidak semua anak memiliki buku penunjang, (3) jika diberi pertanyaan hanya

    beberapa siswa yang mampu menjawab, (4) jika diberi kesempatan bertanya tidak

    ada yang angkat tangan.

    Masalah tersebut muncul dikarenakan guru dalam menyampaikan materi

    masih menggunakan metode konvensional yang minim variasi. Maksud dari

    pembelajaran yang konvensional tersebut antara lain: (1) menyandarkan pada

    hafalan, (2) siswa secara pasif menerima informasi dari guru, (3) pembelajaran

    sangat abstrak dan teoritis, (4) waktu belajar siswa hanya mendengarkan ceramah,

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    mencatat setelah itu siswa mengerjakan buku tugas dan diberi latihan soal, (5)

    kurang optimalnya penggunaan media dalam pembelajaran.

    Permasalahan tersebut mengakibatkan hasil belajar pendidikan

    kewarganegaraan siswa kurang memuaskan. Hal ini nampak pada hasil tes awal

    (lampiran 13 hlm. 237) yang dilaksanakan tanggal 10 Maret 2012 dan 19 Maret

    2012, masih terdapat beberapa siswa yang nilainya dibawah KKM. Dari hasil tes

    awal tersebut menyatakan bahwa siswa kelas V SD Negeri 03 Polokarto terdapat

    10 dari 23 siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM, artinya hampir 44 % dari

    jumlah siswa tersebut yang belum menguasai mata pelajaran pendidikan

    kewarganegaraan sehingga hasil belajarnya rendah. Sedangkan hasil tes awal

    siswa kelas V SD Negeri 03 Mranggen terdapat 12 dari 25 siswa yang nilainya

    dibawah KKM, artinya 48% dari keseluruhan siswa kelas V SD Negeri 03

    Mranggen belum menguasai mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang

    diajarkan oleh guru. Kriteria ketuntasan minimum mata pelajaran pendidikan

    kewarganegaraan untuk kedua sekolah tersebut adalah 65.

    Tugas guru selain menyampaikan materi juga menciptakan suasana belajar

    yang kondusif serta menarik bagi siswa untuk lebih antusias dalam mengikuti

    proses pembelajaran. Guru perlu menerapkan model pembelajaran yang baik dan

    tepat sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Penelitian menunjukkan bahwa

    lingkungan sosial atau suasana kelas adalah penentu psikologis utama yang

    mempengaruhi belajar akademis (Walberg dan Greenberg, 1997, dalam DePorter,

    Reardon, & Nourie 2005: 19).

    Model quantum learning merupakan salah satu model pembelajaran yang

    dilakukan dengan adanya penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di

    dalam dan di sekitar situasi belajar antara lain dengan menciptakan suasana

    belajar yang menyenangkan sehingga dapat merangsang minat siswa.

    Kemampuan atau keterampilan baru akan berkembang jika diberikan lingkungan

    model yang sesuai (Gazzaniga, 1992, dalam Deporter, Reardon, & Nourie 2005:

    11). Selain itu quantum learning juga memiliki juga memiliki lima prinsip utama

    dalam pembelajarannya. Lima prinsip utama itu antara lain segalanya berbicara,

    segalanya bertujuan, pengalaman mendahului penanaman, akuilah setiap usaha

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    yang dilakukan dalam pembelajaran, sesuatu yang layak dipelajari layak pula

    dirayakan. Kelebihan dari model ini adalah pendidik mampu menyatu dan

    membaur pada dunia peserta didik sehingga pendidik bisa lebih memahami

    peserta didik dan ini menjadi modal utama untuk mewujudkan proses belajar-

    mengajar yang lebih menyenangkan. Selain itu Penyajian materi pelajarannya

    yang secara alami merupakan proses belajar yang paling baik yaitu terjadi ketika

    siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa

    yang mereka pelajari. Tetapi selain kelebihan yang dimiliki oleh model quantum

    learning tersebut, model ini juga menuntut keahlian dan keterampilan guru lebih

    khusus. Selain itu memerlukan proses perancangan dan persiapan pembelajaran

    yang cukup matang dan terencana dengan cara yang lebih baik. Maka dari itu

    diperlukan guru yang profesional dan sebelum mengajar guru harus benar-benar

    menguasai materi serta mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam

    pembelajaran dengan matang.

    Dengan penggunaan model quantum learning yang memadukan metode

    pembelajaran yang variatif serta pengkondisian suasana belajar yang

    menyenangkan dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan akan dapat

    merangsang minat dan kecerdasan emosi siswa. Dengan demikian setelah

    diterapkan model quantum learning hasil belajar siswa akan meningkat.

    Berdasarkan latar belakang di atas perlu dilakukan penelitian untuk

    mengetahui pengaruh penggunaan model quantum learning terhadap hasil belajar

    pendidikan kewarganegaraan pada siswa kelas V SD Negeri se-Dabin I Polokarto

    Kabupaten Sukoharjo Tahun Ajaran 2011/2012.

    B. Identifikasi Masalah

    Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, dapat diidentifikasi

    beberapa permasalahan sebagai berikut:

    1. Hasil belajar pendidikan kewarganegaraan siswa masih kurang memenuhi

    harapan.

    2. Guru dalam menyampaikan materi pembelajaran masih menggunakan model

    konvensional yang kurang menarik perhatian siswa.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    3. Belum digunakannya model pembelajaran yang dapat mempermudah

    pemahaman siswa terhadap materi pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan

    yang mampu meningkatkan keaktifan siswa.

    4. Partisipasi siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar mata pelajaran

    pendidikan kewarganegaraan belum aktif.

    C. Pembatasan Masalah

    Agar permasalahan yang diteliti tidak terlalu luas, maka peneliti dalam hal

    ini membatasi permasalahan sebagai berikut:

    1. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah quantum

    learning yang merupakan salah satu model pembelajaran yang dilakukan

    dengan adanya penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam

    dan di sekitar situasi belajar antara lain dengan menciptakan suasana belajar

    yang menyenangkan sehingga dapat merangsang minat siswa.

    2. Materi pembelajaran pendidikan kewarganegaraan yang digunakan dalam

    penelitian ini dibatasi pada materi kebebasan berorganisasi dan mengahargai

    keputusan bersama kelas V semester II.

    3. Hasil belajar pendidikan kewarganegaraan yang dimaksud dalam penelitian ini

    adalah hasil belajar pendidikan kewarganegaraan materi kebebasan

    berorganisasi dan menghargai keputusan bersama siswa kelas V SD Negeri se-

    Dabin I Polokarto dengan skala penilaian 0 – 100.

    D. Perumusan Masalah

    Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, maka

    rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh

    penggunaan model quantum learning terhadap hasil belajar pendidikan

    kewarganegaraan pada siswa kelas V SD Negeri Se-Dabin I Pololokarto

    Kabupaten Sukoharjo Tahun Ajaran 2011/2012?

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    E. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai

    dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh

    penggunaan model quantum learning terhadap hasil belajar pendidikan

    kewarganegaraan pada siswa kelas V SD Negeri se-Dabin I Polokarto Kabupaten

    Sukoharjo Tahun Ajaran 2011/2012.

    F. Manfaat Penelitian

    Hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat baik bersifat teoritis

    maupun praktis sebagai berikut:

    1. Manfaat Teoritis

    a. Dapat memberikan kontribusi dalam ilmu pendidikan mengenai upaya

    peningkatan hasil belajar siswa dengan digunakannya beberapa model

    pembelajaran, salah satunya model quantum learning.

    b. Mendorong adanya penelitian lanjutan guna pengembangan konsep dan

    teori tentang pembelajaran dengan model quantum learning.

    2. Manfaat Praktis

    a. Bagi Siswa

    1) Meningkatkan ketertarikan siswa mengikuti pembelajaran Pendidikan

    Kewarganegaraan sehingga tercipta rasa senang dalam mengikuti

    proses pembelajaran.

    2) Memotivasi siswa untuk belajar lebih giat sehingga hasil belajar

    Pendidikan Kewarganegaraan terutama materi mengenai kebebasan

    berorganisasi dan mengahargai keputusan bersama meningkat.

    b. Bagi Guru

    1) Memberikan alternatif model pembelajaran yang mampu

    meningkatkan minat belajar pada siswa, sehingga akan tercipta proses

    pembelajaran yang aktif, kreatif dan efektif.

    2) Meningkatkan kualitas komunikasi dengan siswa dalam proses

    pembelajaran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    3) Meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan guru dalam

    mengajarkan pendidikan kewarganegaraan.

    c. Bagi Sekolah

    1) Sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah dengan peningkatan mutu

    pendidikan dalam mengambil kebijakan untuk meningkatkan kualitas

    pembelajaran melalui penggunaan model quantum learning.

    2) Untuk mendorong sekolah melaksanakan pembelajaran yang inovatif

    salah satunya dengan menggunakan model quantum learning.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

    A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan

    1. Hakikat Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan

    a. Pengertian Belajar

    Banyak sekali definisi yang dapat ditemukan tentang belajar.

    “Learning is a change in organism due to experience which can affect the

    organism’s behavior” (Hintzman, 1978 dalam Muhibbin Syah, 2010: 88).

    Artinya belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme

    (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat

    mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Hal ini diperkuat oleh

    pendapat Slavin (1997: 151) “learning is a change in an individual that

    results from experience”. Artinya belajar adalah suatu perubahan individu

    yang berasal dari sebuah pengalaman.

    Belajar merupakan usaha yang dilakukan untuk merubah perilaku

    pada individu yang belajar (Purwanto, 2008: 44). Hal ini diperkuat dengan

    pendapat Muhibbin Syah (2010: 68) yang menjelaskan belajar sebagai

    tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu sebagai hasil pengalaman

    dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

    Martinis Yamin (2010: 96) mengemukakan belajar merupakan

    proses seseorang memperoleh kecakapan, ketrampilan, dan sikap pada

    individu. Belajar merupakan proses yang berlangsung seumur hidup

    manusia mulai dari kecil hingga akhir hayat. Belajar dimulai sejak kecil

    agar kelak dewasa mampu hidup mandiri dan mengembangkan dirinya.

    Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

    belajar adalah proses perubahan pada diri seseorang yang relatif positif

    ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku, pengetahuan,

    pemahaman, keterampilan, kecakapan dan kebiasaan sebagai hasil dari

    latihan dan pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    b. Pengertian Hasil Belajar

    Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai dari proses belajar

    mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar diukur untuk

    mengetahui pencapaian tujuan pendidikan sehingga hasil belajar harus

    sesuai dengan tujuan pendidikan. Hasil belajar diklasifikasikan menjadi

    tiga ranah yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor

    (Bloom dalam Sudjana 2005: 22). Hasil belajar dapat diukur dalam bentuk

    perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan, perubahan yang lebih

    baik dibandingkan sebelumnya, misalnya dari bodoh menjadi pintar, dari

    tidak bisa menjadi bisa (Martinis Yamin, 2008: 168).

    Hamzah B.Uno dan Nina Lamatenggo (2010: 75) berpendapat

    “hasil belajar adalah semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator

    tentang nilai dari penggunaan metode pembelajaran dengan kondisi yang

    berbeda”. Sedangkan Purwanto (2011: 46) mengemukakan hasil belajar

    merupakan perubahan perilaku pada individu yang terjadi setelah

    mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan.

    Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka peneliti

    menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu bentuk pencapaian

    perubahan perilaku yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik

    akibat dari proses belajar. Perubahan perilaku disebabkan karena mencapai

    penguasaan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar

    mengajar. Pencapaian itu didasarkan atas tujuan pengajaran yang telah

    ditetapkan.

    c. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan

    Pendidikan kewarganegaraan merupakan suatu mata pelajaran yang

    diajarkan dari SD sampai Perguruan Tinggi. Hal ini dikarenakan pelajaran

    pendidikan kewarganegaraan dirasa sangat penting untuk diajarkan.

    Pengertian pendidikan kewarganegaraan menurut kurikulum pendidikan

    dasar adalah :

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    Wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan

    moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan

    dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku dalam kehidupan sehari-

    hari siswa, baik sebagai individu maupun sebagai anggota

    masyarakat, warga negara dan makluk ciptaan TuhanYang Maha

    Esa (1993: 1).

    Arnie Fajar (2002: 141) menjelaskan mata pelajaran pendidikan

    kewarganegaraan memfokuskan pada pembentukan diri baik dari segi

    sosiokultural, agama, bahasa, suku bangsa maupun usia untuk menjadi

    warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang

    diamanatkan dalam pancasila dan UUD 1945. Pendidikan

    kewarganegaraan merupakan pendidikan yang menyangkut status formal

    warga negara yang diatur dalam UU No. 2 th. 1949 (Ruminiati, 2008: 1-

    25).

    Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

    pendidikan kewarganegaraan adalah wahana untuk mengembangkan dan

    melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa

    Indonesia seperti budi pekerti luhur, pengetahuan dan kemampuan dasar

    tentang hubungan antara warga negara dan negara serta menjadi warga

    negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara sehingga dalam

    pergaulan antar bangsa akan nampak ciri khas bangsa Indonesia.

    d. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V Sekolah Dasar

    Kompetensi mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan berkaitan

    dengan pengetahuan, sikap dan perilaku. Dari kompetensi rumpun mata

    pelajaran ini kemudian dijabarkan menjadi kompetensi yang lebih

    operasional dan lebih mencerminkan aspek-aspek khusus pencapai tujuan

    mata pelajaran. Menurut kurikulum KTSP, pembelajaran pendidikan

    kewarganegaraan memiliki ruang lingkup dan tujuan yang harus tercapai.

    Ruang lingkup materi pembelajaran pendidikan kewarganegaraan SD

    kelas V semester II berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi

    dasarnya dapat dilihat pada tabel 2.1.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    Tabel 2.1: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran

    Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V Semester II

    Semester II

    Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

    3. Memahami kebebasan

    organisasi

    3.1 Mendiskripsikan pengertian

    Organisasi

    3.2 Menyebutkan contoh organisasi di

    sekolah dan masyarakat

    3.3 Menampilkan peran serta dalam

    pemilihan organisasi di sekolah

    4. Menghargai keputusan

    bersama

    4.1 Mengenal bentuk keputusan bersama

    4.2 Mematuhi keputusan bersama

    e. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan

    Menurut kurikulum pendidikan dasar (1993: 2) tujuan mata

    pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang harus tercapai yaitu :

    1) Siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan kemampuan

    memahami dan menghayati nilai-nilai Pancasila dalam rangka

    pembentukan sikap dan perilaku sebagai pribadi, anggota

    masyarakat dan warga negara yang bertanggung jawab.

    2) Memberi bekal kemampuan pada siswa untuk mengikuti pendidikan

    di jenjang pendidikan menengah.

    Sedangkan Arnie Fajar (2002: 143) menyebutkan tujuan mata

    pelajaran pendidikan kewarganegaraan sebagai berikut:

    1) Siswa mampu berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi

    isu kewarganegaraan.

    2) Siswa mampu berpartisipasi pembelajaran pendidikan

    kewarganegaraan secara berkualitas dan bertanggung jawab, serta

    bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa

    dan bernegara.

    3) Siswa mampu berkembang secara positif dan demokratis untuk

    membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat

    Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    4) Siswa mampu berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam

    percaturan dunia baik secara langsung maupun tidak langsung

    dengan memanfaatkan teknologi dan komunikasi.

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran

    pendidikan kewarganegaraan adalah mengembangkan potensi siswa agar

    dapat berpikir kritis dan siswa dapat berpartisispasi secara cerdas dan

    bertanggung jawab terhadap nilai dan norma yang brelaku.

    f. Materi Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V Sekolah Dasar

    Materi mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk kelas V

    sekolah dasar terdiri dari empat materi pokok antara lain: (1) Keutuhan

    nagara kesatuan republik Indonesia meliputi pengertian negara kesatuan

    republik Indonesia, pentingnya keutuhan negara kesatuan republik

    Indonesia, upaya-upaya dalam menjaga keutuhan negara kesatuan

    republik Indonesia; (2) Peraturan perundang-undangan meliputi

    pengertian perundang-undangan, sumber hukum peraturan perundang-

    undangan, tata urutan peraturan perundang-undangan, peraturan pusat,

    peraturan daerah, pelaksanaan peraturan; (3) Kebebasan berorganisasi

    meliputi pengertian organisasi, organisasi di lingkungan sekolah dan

    masyarakat, kebebasan berorganisasi; (4) Keputusan bersama meliputi

    pengertian keputusan bersama, bentuk-bentuk keputusan bersama, cara

    pengambilan keputusan bersama, melaksanakan hasil keputusan bersama.

    Dalam penelitian ini peneliti mengambil materi tentang kebebasan

    berorganisasi dan keputusan bersama. Materi pertama adalah kebebasan

    berorganisasi. Organisasi adalah sekelompok manusia yang diatur untuk

    bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan bersama (Setiati Widihastuti

    dan Fajar Rahayu Ningsih, 2008: 57). Begitu juga dengan Ikhwan Sapto

    Darmono dan Sudarsih (2008: 71) menyatakan organisasi adalah tempat

    berkumpulnya orang-orang demi tujuan tertentu. Organisasi merupakan

    bentuk perkumpulan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama untuk

    mencapai tujuan yang diinginkan bersama (Najib Sulhan, Nafich, Yamini

    dan Asmunah, 2008: 64).

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    Adapun unsur-unsur yang membentuk organisasi (Ikhwan Sapto

    Darmono dan Sudarsih, 2008: 71): (1) Adanya tujuan bersama; (2)

    Adanya kerjasama diantara orang-orang yang bekerja; (3) Adanya

    pembagian tugas sekelompok orang. Sedangkan menurut Najib Sulhan,

    Nafich, Yamini dan Asmunah (2008: 65) unsur-unsur dari suatu

    organisasi adalah sebagai berikut: (1) Adanya anggota: (2) Adanya

    tempat; (3) Adanya tujuan; (4) Adanya tugas; (5) Adanya struktur

    organisasi

    Dari pendapat di atas dapat disimpulkan organisasi adalah suatu

    perkumpulan yang anggotanya terdiri atas beberapa orang untuk

    melakukan kerja sama dalam upaya mencapai tujuan bersama.

    Materi kedua dalam penelitian ini keputusan bersama. Keputusan

    adalah segala putusan yang sudah ditetapkan berdasarkan pertimbangan,

    pemikiran, dan penelitian yang matang (Ikhwan Sapto Darmono dan

    Sudarsih 2008: 71). Sedangkan menurut Najib Sulhan, Nafich, Yamini

    dan Asmunah (2008: 65) Keputusan adalah pilihan yang diambil

    seseorang untuk dilaksanakan. Keputusan merupakan pedoman dalam

    menentukan langkah-langkah berikutnya.

    Menurut Setiati Widihastuti dan Fajar Rahayu Ningsih (2008: 81)

    ada 3 bentuk keputusan bersama:

    1) Musyawarah untuk Mufakat

    Musyawarah dilakukan dengan cara mempertemukan semua

    pendapat yang berbeda-beda. Setelah pendapat didengar dan

    ditampung, pendapat yang paling baik akan disepakati bersama.

    2) Pemungutan Suara

    Pemungutan suara atau voting dilakukan setelah cara musyawarah

    untuk mufakat gagal menghasilkan keputusan. Dalam voting,

    pendapat yang memperoleh suara terbanyak menjadi keputusan

    bersama.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    3) Aklamasi

    Aklamasi adalah pernyataan setuju secara lisan dari seluruh anggota

    kelompok. Pernyataan setuju dilakukan untuk melahirkan keputusan

    bersama.

    Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan keputusan bersama

    adalah segala putusan atau pilihan yang ditetapkan atas dasar

    persetujuan atau kesepakatan.

    g. Media Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

    Peningkatan hasil belajar juga didukung oleh penggunaan media

    pembelajaran yang tepat. Media pembelajaran adalah suatu sarana

    penghubung untuk menyampaikan materi pembelajaran dari guru kepada

    siswa. Media pembelajaran itu bermacam-macam jenisnya. Menurut Sri

    Anitah (2009: 128), jenis-jenis media pembelajaran antara lain :

    1) Media Visual yang Tidak Diproyeksikan

    Jenis media ini tidak memerlukan proyektor untuk melihatnya. Yang

    termasuk media visual yang tidak diproyeksikan adalah gambar diam,

    ilustrasi, karikatur, poster, bagan, diagram, grafik, peta datar, model

    dan realita.

    2) Media Visual yang Diproyeksikan

    Media visual yang diproyeksikan adalah jenis media yang terdiri dari

    dua macam yaitu media proyeksi yang tidak bergerak dan media

    proyeksi yang bergerak. Media proyeksi yang tidak dapat bergerak

    antara lain slide, film strip, OHP, opaque peojector, dan micro

    projection. Sedangkan media proyeksi yang bergerak antara lain: film,

    televisi, video tape recorder.

    3) Media Audio

    Media audio adalah media yang bisa di dengar melalui suara-suara.

    Media audio juga merupakan bentuk atau cara perekaman dan

    transmisi suara (manusia dan suara lainnya) untuk kepentingan tujuan

    pembelajaran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    4) Sistem Multi Media

    Sistem multi media adalah kombinasi dari media dasar audio visual

    dan visual yang dipergunakan untuk tujuan pembelajaran. Bentuk-

    bentuk system multi media yang banyak digunakan di sekolah adalah

    kombinasi slide suara, kombinasi system audio kaset dan kit

    (peralatan) multi media.

    Sedangkan menurut Rudi Susilana (2007: 13) media pembelajaran

    dapat dikelompokkan menjadi tujuh, antara lain:

    1) Media Grafis, Bahan Cetak dan Gambar Diam

    Media grafis adalah media visual yang menyajikan fakta, ide atau

    gagasan melalui penyajian kata-kata, kalimat, angka-angka, dam

    simbol/gambar. Media bahan cetak adalah media visual yang

    pembuatannya melalui proses pencetakan /printing. Sedangakn media

    gambar diam adalah media visual yang berupa gambar yang

    dihasilkan melalui proses fotografi.

    2) Media Proyeksi Diam

    Media proyeksi diam adalah media visual yang diproyeksikan atau

    media yang memproyeksikan pesan, dimana hasil proyeksinya tidak

    bergerak atau memiliki sedikit unsur gerakan. Jenis media ini antara

    lain: OHP, slide, opaque projector, dan film-strip.

    3) Media Audio

    Media audio adalah media yang penyampaian pesannya hanya dapat

    diterima oleh indera pendengaran. Jenis media ini antara lain: radio,

    kaset tape recorder.

    4) Media Audio Visual Diam

    Media audio proyeksi diam adalah media yang penyampaian pesannya

    dapat diterima oleh indera pendengaran dan indera penglihatan, akan

    tetapi gambar yang dihasilkannya adalah gambar diam atau sedikit

    memiliki unsur gerak. Jenis media ini antara lain: slide suara, film-

    strip bersuara dan halaman bersuara.

    5) Media Gambar Hidup atau Film

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    Film adalah serangkaian gambar diam yang meluncur secara cepat dan

    diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan bergerak. Ada

    beberapa jenis film antara lain: film bisu, film bersuara dan film

    gelang.

    6) Media Televisi

    Televisi adalah media yang dapat menampilkan pesan secara audio

    visual dan gerak. Jenis dari media ini antara lain: televisi terbuka,

    televisi siaran terbatas, video cassette recorder.

    7) Multi Media

    Multi media merupakan suatu sistem penyampaian dengan

    menggunakan berbagai jenis bahan belajar yang membentuk suatu

    unit atau paket.

    Dengan demikian, media pembelajaran yang dapat digunakan

    dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan antara lain (1) media

    yang tidak dapat diproyeksikan meliputi media grafis, bahan cetak dan

    gambar diam, (2) media yang dapat diproyeksikan meliputi media

    proyeksi diam dan media proyeksi bergerak, (3) media audio, dan (4)

    multimedia.

    h. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

    Hasil belajar merupakan realisasi tercapainya tujuan pendidikan.

    Untuk itu, hasil belajar juga memerlukan evaluasi. Evaluasi dimaksudkan

    sebagai cermin untuk melihat kembali apakah tujuan yang ditetapkan telah

    tercapai. Selain itu, untuk mengetahui apakah proses belajar mengajar

    telah berlangsung efektif dan memperoleh hasil belajar yang baik.

    Teknik penilaian untuk menilai hasil belajar siswa harus

    disesuaikan dengan karakteristik indikator, standar kompetensi dan

    kompetensi dasar yang telah dibuat oleh guru. Hasil belajar siswa dapat

    diukur dengan menggunakan tes yang diselenggarakan oleh guru sendiri

    pada setiap akhir pertemuan pelajaran ataupun yang berupa ujian akhir

    nasional. Menurut Endang Poerwanti (2008: 1-5), tes adalah seperangkat

    tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman dan penguasaannya

    terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan dan sesuai dengan tujuan

    pengajaran tertentu. Untuk mengetahui keefektifan pembelajaran yang

    telah berlangsung, diperlukan tes pengukur keberhasilan.

    Nurgiyantoro dalam Sarwiji Suwandi (2009:44) menjelaskan

    bahwa tes itu meliputi (1) tes kemampuan awal, (2) tes diagnostik, (3) tes

    formatif, dan (4) tes sumatif. Tes kemampuan awal dimaksudkan sebagai

    tes yang dilakukan sebelum siswa mengalami proses belajar mengajar.

    Yang termasuk tes kemampuan awal adalah pre- test, tes prasyarat dan tes

    penempatan. Sedangkan tes diagnostik adalah tes yang dilakukan sebelum

    atau sesudah berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Tes diagnostik ini

    dimaksudkan untuk menemukan bahan-bahan pelajaran tertentu yang

    masih menyulitkan siswa. Kemudian untuk mengukur keberhasilan

    kemampuan siswa juga bisa menggunakan tes formatif dan sumatif. Tes

    formatif dilakukan selama kegiatan belajar mengajar masih berlangsung,

    pada setiap akhir suatu satuan bahasan. Tes formatif dilakukan beberapa

    kali dalam satu semester. Informasi yang diperoleh dari tes formatif

    merupakan masukan yang berguna untuk menilai efektifitas kegiatan

    pengajaran yang dilakukan. Sedangkan tes sumatif dilakukan setelah

    selesai semua kegiatan belajar mengajar atau seluruh program yang

    direncanakan. Tes sumatif lazimnya dilaksanakan pada akhir semester

    yang biasa disebut dengan ulangan harian. Tes sumatif lebih dimaksudkan

    untuk mencapai tujuan umum pengajaran. Tujuan umum yang dimaksud

    telah secara jelas tertera dalam silabus.

    Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa dalam

    setiap pembelajaran memerlukan suatu alat ukur atau evaluasi. Dalam

    pembelajaran pendidikan kewarganegaraan ini evaluasi pembelajaran bisa

    menggunakan tes, baik itu tes awal maupun tes akhir setelah selesai

    pembelajaran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    i. Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan

    Kegiatan belajar dapat diketahui hasilnya dengan alat ukur yang

    tepat. Hasil belajar biasanya ditentukan dengan memberikan nilai atau

    penghargaan. Nilai hasil belajar dapat berupa angka-angka (kuantitatif)

    juga dapat diberikan secara kualitatif. Untuk menentukan hasil belajar

    seseorang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan membandingkan

    hasil belajar sesorang dengan orang lain atau dengan membandingkan

    hasil belajar dengan pathokan standar yang telah ditetapkan.

    Peserta didik dikatakan berhasil dalam belajar apabila mampu

    menguasai kompetensi belajar yang ditetapkan dalam batas waktu tertentu.

    Apabila dalam batas waktu tersebut peserta didik tidak mampu

    menyelesaikan beban belajarnya, dikatakan peserta didik tersebut

    mengalami kegagalan. Hasil belajar pendidikan kewarganegaraan diartikan

    sebagai hasil belajar yang telah mencapai ketuntasan belajar dan dikuasai

    peserta didik dalam standar kompetensi mata pelajaran pendidikan

    kewarganegaraan.

    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar

    pendidikan kewarganegaraan adalah hasil belajar yang diperoleh dari

    berbagai kegiatan dengan menggunakan keterampilan proses untuk

    mencapai ketuntasan belajar dan mampu dikuasai peserta didik dalam

    standar kompetensi mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan baik

    secara kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan demikian, untuk

    mengukur hasil belajar pendidikan kewarganegaraan dapat dilakukan

    dalam bentuk tes atau evaluasi.

    2. Hakikat Model Quantum Learning

    a. Pengertian Model Pembelajaran

    Agar siswa dapat mencapai tujuan belajar secara efektif dan efisien,

    guru harus memiliki Model tertentu. Salah satu langkahnya adalah

    penguasaan terhadap Model pembelajaran. Model pembelajaran

    merupakan pengetahuan tentang cara mengajar yang digunakan oleh guru.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    Nana Sudjana (2005: 76) mengemukakan model pembelajaran adalah

    suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh

    seorang guru atau instruktur. Model pembelajaran juga merupakan cara

    yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada

    saat berlangsungnya pengajaran.

    Ada delapan prinsip dalam memilih model pembelajaran yaitu : (1)

    memperhatikan aspek individual siswa, (2) menimbulkan proses belajar

    yang menyenangkan, (3) berorientasi pada tujuan, (4) mendorong proses

    interaksi, (5) menantang siswa untuk berpikir, (6) menimbulkan inspirasi

    siswa untuk siswa untuk berbuat dan menguji, (7) mendorong aktivitas

    siswa, (8) mampu memotivasi siswa belajar lebih baik (Killen, 1998 dan

    Depdiknas, 2005 dalam Sugiyanto 2009: 4).

    Triyanto (2007: 1) menjelaskan bahwa model pembelajaran adalah

    suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan guru sebagai pedoman

    dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Sedangkan Arends (2007: 4)

    mengemukakan model pembelajaran mengacu pada pendekatan

    pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan

    pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan

    pembelajaran, dan pengelolaan kelas.

    Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih

    model pembelajaran, yaitu: (1) tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, (2)

    sifat atau materi ajar, (3) kondisi siswa, (4) ketersediaan sarana-prasarana

    (Sugiyanto, 2009: 3).

    Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa model

    pembelajaran merupakan suatu perencanaan sistematis yang digunakan

    oleh guru yang mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan

    digunakan seperti tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam pembelajaran,

    lingkungan belajar dan pengelolaan kelas untuk menimbulkan hasil belajar

    pada siswa.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    b. Macam-Macam Model Pembelajaran

    Model pembelajaran terbagi menjadi bebagai macam, Sri Anitah

    (2009: 47), menyebutkan macam-macam model pembelajaran terdiri dari:

    1) Model pembelajaran kolaboratif adalah model pembelajaran yang

    melibatkan dua orang atau lebih untuk bekerjasama dalam belajar.

    2) Model pembelajaran kontekstual adalah model pembelajaran yang

    memungkinkan peserta didik untuk memperkuat, memperluas, dan

    menerapkan pengetahuan maupun keterampilan akademiknya dalam

    berbagai lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas.

    3) Problem solving dan discovery inquiry, diajarkan dengan tujuan

    menyiapkan peserta didik untuk memecahkan masalah dalam

    kehidupan sehari-hari. Melalui penemuan, peserta didik belajar secara

    intensif dengan mengikuti metode investigasi ilmiah di bawah supervisi

    guru.

    4) Experiental learning, peserta didik belajar denagn mencocokkan

    pengetahuan dan pengalaman baru, dengan mengganti dan memperluas

    pengatahuan lama.

    5) Model pembelajaran terpadu adalah pengintegrasian beberapa mata

    pelajaran dan digunakan secara bermakna untuk menginvestigasi dan

    mengembangkan konsep tertentu di dalam suatu topik.

    6) Model quantum learning merupakan model pembelajaran yang

    menciptakan pembelajaran yang bergairah dan menyenangkan.

    7) Resource-based learning merupakan belajar terbuka, jarak jauh dan

    fleksibel.

    Sedangkan Sugiyanto (2009: 3) menyebutkan macam-macam

    model pembelajaran terdiri dari:

    1) Model pembelajaran kontekstual adalah konsep pembelajaran yang

    mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan

    dan situasi dunia nyata siswa.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    2) Model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran yang bertujuan

    untuk mengembangkan aspek keterampilan sosial sekaligus aspek

    kognitif dan aspek sikap siswa.

    3) Model pembelajaran kuantum, model ini disajikan sebagai salah satu

    model yang dapat dipilih guru agar proses pembelajaran dapat

    berlangsung secara menyenangkan.

    4) Model pembelajaran terpadu merupakan kegiatan mengajar dengan

    memadukan beberapa mata pelajaran dalam satu tema.

    5) Model Problem Based Learning (PBL), disini guru lebih harus sering

    memfungsikan diri sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa

    dapat belajar untuk berpikir dan menyelesaikan masalahnya sendiri.

    Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa ada berbagai

    macam model pembelajaran inovatif, diantaranya adalah model

    pembelajaran berbasis masalah, kooperatif atau kolaboratif, quantum

    learning, pembelajaran terpadu, pembelajaran kontekstual, Problem

    solving dan discovery inquiry, Experiental learning, Resource-based

    learning, dan Problem Based Learning (PBL).

    c. Pengertian Quantum Learning

    Deporter & Hernacki (2002: 16) mendefinisikan quantum learning

    sebagai “interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.”

    Mereka mengamsusikan kekuatan energi sebagai bagian penting dari tiap

    interaksi manusia. Mengutip rumus klasik E = mc2, mereka mengalihkan

    energi itu ke dalam analogi tubuh manusia. “Sebagai pelajar, tujuan kita

    adalah meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi, hubungan, inspirasi

    agar menghasilkan energi cahaya”. Pada kaitan inilah, quantum learning

    menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP

    dengan teori, keyakinan, dan metode tertentu.

    Sugesti dapat mempengaruhi hasil situasi belajar dan setiap detail

    apapun memberikan sugesti positif atau negatif merupakan salah satu

    prinsip dari quantum learning. Quantum learning mencakup aspek-aspek

    penting dalam program neurolinguistik (NLP), yaitu suatu penelitian

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    tentang bagaimana otak mengatur informasi. Program ini meneliti

    hubungan antara bahasa dan perilaku dan dapat digunakan untuk

    menciptakan jalinan pengertian siswa dan guru. Semua ini dapat pula

    menunjukkan dan menciptakan gaya belajar terbaik dari setiap orang

    (DePorter & Hernacki, 2002: 16).

    Kata quantum sebenarnya tema yang dipinjam dari istilah Fisika

    yang berarti paket energi yang dpendidikan kewarganegaraanncarkan oleh

    benda panas. Seperti makna asalnya, energi yang dipancarkan oleh

    quantum learning diharapkan dapat menumbuhkan zest of study yang

    maksimal bagi peserta didik dalam semua tahap usia di mana pun

    (Baharuddin & Moh. Makin, 2007: 230).

    Agus Nggermanto (2007) dalam Sri Anitah (2009: 75) mengatakan

    bahwa quantum learning menjelaskan bagaimana cara belajar efektif

    sehingga mendapatkan hasil yang sama dengan kecepatan cahaya.

    Sedangkan menurut Sri Anitah (2009:75), pembelajaran kuantum adalah

    suatu pembelajaran yang dilaksanakan dengan meriah dan segala nuansa

    yang mengedepankan unsur-unsur kebebasan, santai, menakjubkan,

    menyenangkan dan menggairahkan. Pembelajaran ini dikembangkan

    berdasarkan indikator keberhasilan peserta didik sejahtera.

    Katherine J. Janzen, Beth Perry dan Margaret Edwards (2011)

    menjelaskan “the quantum perspective of learning provides an opportunity

    to view learning, learners, and learning environments in a new way. The

    quantum perspective of learning may provide a bridge to understanding

    more fully how we learn”. Yang artinya Perspektif pembelajaran kuantum

    memberikan kesempatan untuk melihat pembelajaran, peserta didik, dan

    lingkungan belajar dengan cara yang baru. Perspektif pembelajaran

    kuantum dapat memberikan jembatan untuk memahami secara lebih

    lengkap bagaimana kita belajar.

    Kusno & Joko Purwanto (2011) mengemukakan:

    Quantum learning can make students active and thus reducing

    teacher’s dominance. Therefore, there is opportunity for discussion

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    among students and between students and teacher. Based on the

    students’ response, the new (85%) and pleasant classroom

    atmosphere (90%) can improve enthusiasm so that the silent

    students had the courage and will to ask questions and present

    ideas.

    Yang artinya Berdasarkan pengamatan terhadap aktivitas siswa

    selama proses belajar diperoleh rata-rata aktivitas siswa untuk

    menunjukkan (berkomunikasi ide-ide) adalah 23,69%. Hal ini

    menunjukkan bahwa pembelajaran kuantum dapat membuat siswa aktif

    sehingga mengurangi dominasi guru. Oleh karena itu, ada kesempatan

    untuk diskusi antara siswa dan antara siswa dengan guru. Berdasarkan

    respon siswa, suasana ruang kelas baru (85%) dan menyenangkan (90%)

    dapat meningkatkan minat sehingga siswa memiliki keberanian untuk

    bertanya dan mengeluarkan ide.

    Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa quantum

    learning adalah cara baru yang memudahkan proses belajar dengan

    penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya sehingga

    membuat siswa nyaman dan tertarik dalam mengikuti proses

    pembelajaran.

    d. Prinsip Quantum Learning

    Menurut DePorter, Reardon & Nourie (2005: 7) dan Sri Anitah

    (2009: 77) dalam quantum learning ada lima prinsip utama, yaitu: (1)

    segalanya berbicara, (2) segalanya bertujuan, (3) pengalaman mendahului

    penanaman, (4) akuilah setiap usaha yang dilakukan dalam pembelajaran,

    (5) sesuatu yang layak dipelajari layak pula dirayakan.

    Berikut penjabaran dari kelima prinsip quantum learning tersebut:

    1) Segalanya Berbicara

    segala sesuatu di lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari

    kertas yang dibagikan sampai rancangan pelajaran, semuanya mengirim

    pesan tentang belajar.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    2) Segalanya Bertujuan

    Semua yang terjadi dalam proses pembelajaran mempunyai tujuan.

    Tidak ada kejadian yang tidak bertujuan.

    3) Pengalaman Mendahului Penanaman

    Proses belajar paling baik terjadi ketika peserta didik telah mengalami

    informasi sebelum mereka memperoleh makna untuk apa yang mereka

    pelajari.

    4) Akuilah Setiap Usaha yang Dilakukan dalam Pembelajaran

    Pada saat siswa belajar mereka patut mendapat pengakuan atas

    kecakapan dan kepercayaan dirinya karena belajar mengandung resiko

    besar. Belajar berarti melangkah keluar dari kenyamanan.

    5) Sesuatu yang Layak Dipelajari Layak Pula Dirayakan

    Perayaan memberikan umpan balik tentang kemajuan belajar dan

    mengingatkan asosiasi emosi positif dengan pembelajaran.

    e. Karakteritik Quantum Learning

    Quantum learning memiliki beberapa karakteristik umum yang

    dapat menguatkan model quantum learning. Menurut Sugiyanto (2009: 73)

    ada beberapa karakteristik quantum learning sebagai berikut:

    1) Berpangkal pada Psikologi Kognitif

    Quantum learning dikembangkan dari berbagai teori psikologi kognitif

    yang erat kaitannya tentang pembelajaran, belajar, dan pembelajar.

    2) Lebih Bersifat Humanistis

    Potensi diri, daya motivasi, kemampuan pikiran, dan sebagainya yang

    ada pada diri siswa diyakini dapat berkembang secara maksimal.

    Kesalahan dipandang sebagai gejala manusiawi.

    3) Lebih Bersifat Konstruktivis(tis).

    Pembelajaran kuantum menekankan pentingnya peranan lingkungan

    dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan optimal serta

    memudahkan keberhasilan tujuan pembelajaran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    4) Memusatkan Perhatian pada Interaksi yang Bermutu dan

    Bermakna

    Quantum learning memberikan tekanan pada pentingnya interaksi,

    frekuensi dan akumulasi yang bermutu dan bermakna. Interaksi dalam

    proses pembelajaran menjadi kata kunci dan konsep sentral dalam

    pembelajaran.

    5) Menekankan pada Pemercepatan Pembelajaran dengan Taraf

    Keberhasilan Tinggi

    Segala sesuatu yang menghalangi pemercepatan pembelajaran harus

    dihilangkan dan segala sesuatu yang mendukung pemercepatan

    pembelajaran harus diciptakan.

    6) Menekankan Kealamiahan dan Kewajaran Proses Pembelajaran

    Kealamiahan dan kewajaran menimbulkan suasana nyaman, santai dan

    menyenangkan. Denagn begitu para perancang dan pelaksana

    pembelajaran harus bekerja secara proaktif dan suportif.

    7) Menekankan Kebermaknaan dan Kebermutuan Proses

    Pembelajaran

    Proses pembelajaran yang tidak bermakna dan tidak bermutu

    menyebabkan kegagalan. Untuk itu perlu dihadirkan pengalaman yang

    dapat dimengerti dan berarti bagi pembelajar.

    8) Memadukan Konteks dan Isi Pembelajaran

    Konteks dan isi pembelajaran tidak dapat dipisahkan dan saling

    mendukung. Kepaduan dan kesesuaian keduanya akan membuahkan

    keberhasilan pembelajaran yang tinggi.

    9) Memusatkan Pembentukan Keterampilan Akademis, Hidup, dan

    Prestasi Klasikal

    Pembelajaran yang berhasil bukan hanya terbentuknya keterampilan

    akademis namun lebih pentingnya lagi adalah terbentuknya

    keterampilan hidup pembelajar. Untuk itu diperlukan kurikulum harus

    disusun sedemikian rupa sehingga dapat terwujud kombinasi harmonis

    antara keterampilan akademis, hidup, dan prestasi klasikal.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    10) Nilai dan Keyakinan Penting dalam Proses Pembelajaran

    Nilai-nilai merupakan kacamata untuk memandang dunia. Kita

    mengevaluasi, menetapkan prioritas, menilai, dan bertingkah laku

    berdasarkan cara kita memandang kehidupan melalui kacamata ini.

    11) Mengutamakan Keberagaman dan Kebebasan

    Di sini keragaman gaya belajar siswa, dikembangkannya aktivitas-

    aktivitas siswa yang beragam, dan digunakannya bermacam-macam

    kiat dan metode pembelajaran. Karena itu dalam pembelajaran kuantum

    berkembang ucapan: “Selamat datang keberagaman dan kebebasan,

    selamat tinggal keseragaman”.

    12) Mengintegrasikan Totalitas Tubuh dan Pikiran

    Aktivitas total antara tubuh dan dan pikiran membuat pembelajaran bisa

    berlangsung lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.

    f. Kerangka Perencanaan Quantum Learning

    Menurut DePorter, Reardon & Nourie (2005) untuk mempermudah

    mengingat dan untuk keperluan operasional quantum learning dikenalkan

    dengan konsep TANDUR. Kerangka perancangan TANDUR adalah

    sebagai berikut:

    1) Tumbuhkan

    Sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan keingin tahuan mereka.

    Buatlah mereka tertarik atau penasaran tentang materi yang kita

    ajarkan.

    2) Alami

    Berikan mereka pengalaman belajar, tumbuhkan kebutuhan untuk

    mengetahui.

    3) Namai

    Berikan data tepat saat minat memuncak mengenalkan konsep-konsep

    pokok dari materi pelajaran.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    4) Demonstrasikan

    Berikan kesempatan bagi mereka untuk mengaitkan pengalaman

    dengan data baru, sehingga mereka menghayati dan membuatnya

    sebagai pengalaman pribadi.

    5) Ulangi

    Rekatkan gambaran keseluruhannya. Ini dapat dilakukan melalui

    pertanyaan postest, ataupun penugasan, atau membuat ikhtisar hasil

    belajar.

    6) Rayakan

    Jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan. Perayaan

    menambahkan belajar dengan asosiasi positif.

    g. Model Quantum Learning dalam Pembelajaran Pendidikan

    Kewarganegaraan

    Penggunaan model quantum learning dalam pembelajaran

    pendidikan kewarganegaraan akan membantu siswa untuk lebih paham dan

    menguasai materi. Hal ini dapat diketahui apabila hasil belajar pendidikan

    kewarganegaraan tinggi serta peran aktif siswa dalam mengutarakan secara

    lisan, tulisan, maupun aplikasi dalam kehidupannya. Sehingga dengan

    proses pembelajaran yang menarik dan mebuat siswa nyaman siswa akan

    lebih menguasai materi yang diajarkan. Dengan adanya penerapan model

    quantum learning dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan

    diharapkan :

    1) Proses pembelajaran tidak didominasi oleh guru sehingga siswa bisa

    aktif dalam KBM.

    2) Proses pembelajaran berlangsung secara menyenangkan sehingga siswa

    tidak merasa bosan.

    3) Pengetahuan yang siswa peroleh bukan hanya sekedar ingatan atau

    hafalan sehingga pelajaran lebih bermakna.

    4) Sebisa mungkin guru bisa lebih akrab dengan siswa dengan begitu

    siswa tidak merasa takut dan mereka bisa bebas mengurakan pendapat.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    Mengingat ilmu pendidikan kewarganegaraan adalah wahana untuk

    mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada

    budaya bangsa Indonesia seperti budi pekerti luhur, pengetahuan dan

    kemampuan dasar tentang hubungan antara warga negara dan negara.

    Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan tidak saja pengembangan aspek

    kognitif saja tetapi harus mampu membentuk sikap dan karakter siswa baik

    kognitif, afektif maupun psikomotor. Maka apabila dalam pembelajaran

    pendidikan kewarganegaraan menggunakan model quantum learning dapat

    memberi pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa.

    3. Hakikat Model Pengajaran Langsung

    a. Pengertian Model Pengajaran Langsung

    Pembelajaran langsung atau direct instruction dikenal dengan

    sebutan active teaching. Hal ini mengacu kepada gaya mengajar dimana

    guru terlibat aktif dalam mengusung isi pelajaran kepada peserta didik dan

    mengajarkannya secara langsung kepada seluruh kelas. Menurut Slavin

    (1997: 231), direct instruction approach to teaching in which lessons are

    goal-oriented and structured by the teacher. Artinya pembelajaran langsung

    adalah cara mengajar suatu pelajaran yang tujuan dan susunannya dirancang

    sendiri oleh guru. Hal ini diperkuat oleh pendapat Arends (1997: 67),

    “direct instruction is a teacher-centered model that has five steps: set

    induction, demonstration, guided practice, feedback, and extended

    practice”. Artinya pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang

    berpusat pada guru memiliki lima tahap pembelajaran yaitu: mengatur

    kondisi pembelajaran, demonstrasi, praktik terbimbing, timbal balik dan

    praktik mandiri.

    Berdasarkan pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

    pengajaran langsung merupakan gaya mengajar guru yang berfokus pada

    interaksi antara guru dan siswa dimana guru terlibat aktif dalam mengusung

    pelajaran. Selain itu guru juga mengajarkannya secara langsung didalam

    kelas. Dalam proses pembelajaran guru masih mendominasi jalannya

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    kegiatan pembelajaran (active teaching), sehingga siswa tidak diberikan

    kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri.

    b. Tahap – Tahap Pengajaran Langsung

    Menurut David A. Jacobsen, Paul Eggen, dan Donald Kauchak

    (2009: 203) ada empat tahap dalam pengajaran langsung yaitu: pengenalan

    dan review, pengembangan pemahaman,praktik terbimbing, dan praktik

    mandiri. Berikut merupakan penjelasan dari keempat tahap tersebut:

    1) Tahap pengenalan dan review adalah tahap untuk menarik perhatian

    siswa, mendorong mereka masuk ke dalam pelajaran, dan mengingatkan

    mereka tentang konten yang telah dipelajari sebelumnya. Setelah itu guru

    meminta siswa untuk mereview istilah-istilah dalam persamaan.

    2) Pengembangan pemahaman merupakan segmen dari pengajaran langsung

    dimana guru menjelaskan konten baru. Sayangnya guru sering

    melakukan dengan kurang baik. Daripada bekerja untuk mengembangkan

    pemahaman siswa, mereka justru lebih sering menekankan hafalan, gagal

    mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang cukup, atau terlalu cepat

    berpindah pada praktik.

    3) Praktik terbimbing menyediakan kesempatan-kesempatan pada siswa

    untuk mencoba keterampilan baru dan untuk guru, praktik terbimbing ini

    menyediakan kesempatan dalam memberikan umpan balik tentang

    kemajuan pembelajaran.

    4) Praktik mandiri, dari siswa bekerja di bawah bimbingan guru menuju

    bekerja secara mandiri.

    Sedangkan menurut Joyce, Weil, dan Calhoun (2009)

    mengemukakan model pengajaran langsung terditi dari lima tahap aktivitas,

    yaitu orientasi, presentasi, praktik yang terstruktur, praktik dibawah

    bimbingan dan praktik mandiri. Tahap orientasi, guru menyampaikan tujuan

    pembelajaran, kemudian menjelaskan tugas-tugas yang ada dalam

    pembelajaran. Siswa mengerjakan tugas dari guru dengan penuh tanggung

    jawab. Kemudian dilanjutkan dengan tahap presentasi. Dalam tahapan ini

    guru menjelaskan konsep atau skill baru yang ada dalam pembelajaran

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    pendidikan kewarganegaraan dan memberikan pemeragaan contoh. Setelah

    itu, guru melakukan praktik yang terstruktur. Peran guru adalah fasilitator,

    mendesign pembelajaran, mengontrol dan mengarahkan jalannya praktik.

    Setelah siswa dianggap sudah mandiri, guru memberikan tugas.

    Dari berbagai pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa

    dalam pelaksanaan pengajaran langsung terjadi secara tatap muka antara

    guru dan siswa dalam satu ruang kelas. Guru menyiapkan rencana

    pembelajaran dan materi pelajaran yang akan disajikan, kemudian guru

    menyajikan materi yang akan diajarkan sesuai dengan silabus. Metode

    penyajian dalam pembelajaran langsung dapat berupa metode bercerita,

    metode pemecahan masalah bersama, metode tanya jawab, dan metode

    penugasan disesuaikan dengan tuntutan isi materi pelajaran. Guru menilai

    tingkat pemahaman siswa dengan cara mengadakan evaluasi pada akhir

    pembelajaran yang disebut tes formatif.

    c. Kelebihan dan Kekurangan Model Pengajaran Langsung

    Terdapat beberapa kelebihan dan kelamahan dalam model

    pengajaran langsung. Kelebihan model pengajaran langsung antara lain: 1)

    tercapainya efektivitas dan efisiensi dalam hal tenaga, biaya, dan waktu 2)

    dapat mengimplementasi sejumlah langkah instruksional, seperti

    menunjukkan unsur-unsur yang relevan dalam materi pelajaran, 3) materi

    pembelajaran dapat tersampaikan secara tuntas kepada siswa sesuai dengan

    program pembelajaran yang telah dirancang. Menurut Joyce, Weil dan

    Calhoun (2009) keunggulan terpenting pengajaran langsung adalah adanya

    focus akademik, arahan dan kontrol guru, harapan yang tinggi terhadap

    perkembangan siswa, sistem menejemen waktu, dan atmosfer akademik

    yang cukup netral.

    Kelemahan penggunaan pembelajaran ini antara lain: 1) efisien

    memang tercapai tetapi sulit diketahui secara pasti apakah semua siswa

    melakukan persepsi yang telah diajarkan dengan baik, 2) kurangnya

    kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan bakatnya yang akan

    menampakkan hasil belajarnya, 3) kurang dapat membuktikan tercapainya

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    tujuan instruksional khusus, 4) sulit menentukan pemberian umpan balik

    yang sesuai dan cocok kepada masing-masing siswa. Joyce, Weil dan

    Calhoun (2009) mengemukakan beberapa kekurangan tentang model

    pengajaran langsung ini antara lain: 1) selama aktivitas pengajaran

    akademik berlangsung, penggunaan perangkat akademik seperti mainan dan

    teka-teki, tidak terlalu ditekankan atau bahkan ditiadakan, seperti halnya

    interaksi guru-siswa yang tidak berorientasi akademik, seperti diskusi

    masalah pribadi 2) siswa sering diminta untuk bekerja dari teks atau buku

    pelajarannya tanpa sedikitpun diberi penjelasan dari atau oleh arahan guru.

    d. Model Pengajaran Langsung dalam Pembelajaran Pendidikan

    Kewarganegaraan

    Penggunaan model pengajaran langsung dalam pembelajaran

    pendidikan kewarganegaraan mengacu pada gaya mengajar dimana guru

    terlibat aktif dalam mengusung isi pelajaran pendidikan kewarganegaraan

    kepada peserta didik dan mengajarkannya secara langsung kepada seluruh

    kelas. Menurut Arends (1997:67), direct instruction is a teacher-centered

    model that has five steps: set induction, demonstration, guided practice,

    feedback, and extended practice. Artinya pembelajaran langsung adalah

    model pembelajaran yang berpusat pada guru memiliki lima tahap

    pembelajaran yaitu: mengatur kondisi pembelajaran, demonstrasi, praktik

    terbimbing, timbal balik dan praktik mandiri. Adapun penjelasan alur model

    pengajaran langsung seperti ditunjukkan tabel 2.2.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    Tabel 2.2: Alur Pengajaran Model Pengajaran Langsung dalam

    Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan

    Fase Peran guru

    Fase 1 Provide objective

    and Establishing Set

    Menyampaikan tujuan dan

    menyiapkan siswa

    Guru menjelaskan tujuan

    pembelajaran, memberikan informasi

    latar belakang pelajaran, dan

    menjelaskan pentingnya pelajaran.

    Kemudian guru mempersiapkan

    siswa untuk belajar.

    Fase 2 Demonstrate

    knowledge or skill

    Mendemonstrasikan

    pengetahuan dan

    keterampilan

    Guru mendemonstrasikan

    keterampilan dengan benar, atau

    menyajikan informasi tahap demi

    tahap.

    Fase 3 Guided Practice

    Membimbing pelatihan

    Guru merencanakan dan memberikan

    bimbingan pelatihan awal.

    Fase 4 Feed Back

    Mengecek pemahaman dan

    memberikan umpan balik

    Mengecek apakah siswa telah

    berhasil melakukan tugas dengan

    baik, memberi umpan balik

    Fase 5 Extended Practice

    Memberikan kesempatan

    untuk pelatihan lanjutan dan

    penerapan.

    Guru mempersiapkan kesempatan

    melakukan pelatihan lanjutan,

    dengan perhatian khusus pada

    penerapan kepada situasi lebih

    kompleks dalam kehidupan sehari-

    hari

    e. Perbedaan Model Quantum Learning dan Model Pengajaran Langsung

    Pelaksanaan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan

    menggunakan model pembelajaran langsung berbeda dengan model

    quantum learning. Model quantum learning merupakan model

    pembelajaran yang mengutamakan proses keaktifan serta kenyamanan siswa

    dalam mengikuti proses KBM. Sedangkan model pengajaran langsung

    semua desain pembelajaran dibuat oleh guru. Perbedaan model quantum

    learning dan pembelajaran langsung dapat dilihat pada tabel 2. 3.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    75

    Tabel 2.3: Perbedaan Model Quantum Learning dan Model Pengajaran

    Langsung

    Model Quantum Learning Model Pengajaran Langsung

    1. Proses belajar berlangsung secara menyenangkan dan

    efektif.

    Proses belajar hanya

    menggunakan metode ceramah

    yang monoton dan membosankan.

    2. Terjadi komunikasi secara efektif, menjalin hubungan

    dengan orang lain, berlatih

    mendengarkan atau menghargai

    pendapat orang lain dan belajar

    memecahkan masalah.

    Terjadi komunikasi satu arah

    yaitu dari guru kepada siswa.

    3. Diajarkan tiga hal sekaligus yaitu keterampilan akademis,

    prestasi fisik dan keterampilan

    hidup.

    Mengutamakan keterampilan

    akademis.

    4. Menumbuhkan sik


Recommended