Home >Documents >PENGARUH INVESTMENT OPPORTUNITY SET DAN .PENGARUH INVESTMENT OPPORTUNITY SET ... Dengan berjalannya

PENGARUH INVESTMENT OPPORTUNITY SET DAN .PENGARUH INVESTMENT OPPORTUNITY SET ... Dengan berjalannya

Date post:15-Jun-2019
Category:
View:213 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

1

PENGARUH INVESTMENT OPPORTUNITY SET

DAN MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP

KUALITAS LABA DAN NILAI PERUSAHAAN

(Studi Pada Perusahaan Manufaktur

Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2009)

Irma Adriani

Prof. Dr. H. Muchamad Syafruddin, M.Si., Akt.

Universitas Diponegoro

ABSTRACT

The objective of this research is to examine the influence of

Investment Opportunity Set (IOS) and corporate governance mechanism (audit

committee independence, independence of commissioner, institutional ownership,

managerial ownership) to earnings quality and firm value. This research also

examines the influence of earnings quality to firm value.

This research uses samples from 130 companies listed on Indonesia

Stock Exchange (IDX), by using purposive sampling which published financial

report among 2005-2009. The method of analysis of this research uses multi

regression.

The results of this research show that (1) earnings quality didnt have

significant influence to firm value, (2) Investment Opportunity Set (IOS) didnt

have significant influence to earnings quality but had significant influence to firm

value, (3) audit committee independence didnt have significant influence to

earnings quality but had significant influence to firm value, (4) independence of

commissioner had significant influence to earnings quality but didnt have

significant influence to firm value, (5) institutional ownership had significant

influence to earnings quality but didnt have significant influence to firm value,

(6) managerial ownership had significant influence to earnings quality and firm

value, and (7) simultaneously of Investment Opportunity Set (IOS), audit

2

committee independence, independence of commissioner, institutional ownership,

and managerial ownership had significant influence to earnings quality and firm

value.

Keywords : Investment Opportunity Set (IOS), corporate governance mechanism,

earnings quality, firm value

3

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Laporan keuangan merupakan proses akhir dari proses akuntansi yang

mempunyai peran penting bagi pengukuran dan penilaian kinerja sebuah

perusahaan. Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang

menyangkut posisi keuangan, kinerja perusahaan, serta perubahan posisi

keuangan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan

keputusan ekonomi (IAI, 2002 dalam Ujiyantho 2007). Dalam proses penyusunan

laporan keuangan, informasi yang disajikan harus mencerminkan kondisi

perusahaan yang sebenarnya agar dapat digunakan oleh para pengguna sebagai

dasar pengambilan keputusan. Laporan keuangan merupakan bentuk

pertanggungjawaban manajemen perusahaan kepada pihak-pihak yang

berkepentingan, seperti pemegang saham, investor, kreditor, pemerintah,

masyarakat maupun pihak-pihak lainnya.

Bagi pihak investor, laporan keuangan berguna dalam pengambilan

keputusan yang nantinya dapat memaksimalkan jumlah investasinya. Bagi pihak

kreditor, laporan keuangan digunakan untuk membantu mereka dalam

memutuskan pinjaman dan bunga yang harus dibayar. Sedangkan bagi

pemerintah, laporan keuangan digunakan untuk mengatur aktivitas perusahaan,

menetapkan kebijakan pajak, dan untuk menyusun statistik pendapatan nasional

(Ghozali dan Chariri, 2007).

Penelitian Subramanyam (1996) (dalam Siregar dan Utama , 2005)

menunjukkan bahwa salah satu ukuran kinerja perusahaan yang sering digunakan

sebagai dasar pengambilan keputusan adalah laba yang dihasilkan perusahaan,

sedangkan penelitian Dechow (1994) menunjukkan bahwa laba yang diukur atas

dasar akrual dianggap sebagai ukuran yang lebih baik atas kinerja perusahaan

dibandingkan arus kas operasi karena akrual mengurangi masalah waktu dan

mismatching yang terdapat dalam penggunaan arus kas dalam jangka pendek.

Dalam prosesnya, dasar akrual dapat memberikan kesempatan kepada

manajer dalam melakukan manajemen laba atau earnings management guna

4

menaikkan atau menurunkan angka akrual dalam laporan laba rugi. Fischer dan

Rosenzweig (1995) mendefinisikan manajemen laba sebagai tindakan seorang

manajer dengan menyajikan laporan yang menaikkan (menurunkan) laba periode

berjalan dari unit usaha yang menjadi tanggungjawabnya, tanpa menimbulkan

kenaikan (penurunan) prifitabilitas ekonomi unit tersebut dalam jangka panjang.

Manajemen laba merupakan masalah keagenan yang timbul karena

adanya konflik kepentingan antara shareholders dan manajer, karena tidak

bertemunya utilitas yang maksimal antara mereka. Sebagai agent, manajer secara

moral bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik

(principal), namun disisi yang lain manajer juga mempunyai kepentingan

memaksimumkan kesejahteraan mereka. Sehingga ada kemungkinan besar bahwa

agent tidak selalu bertindak demi kepentingan terbaik principal (Jensen dan

Meckling, 1976).

Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui

informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang

dibandingkan pemilik (pemegang saham). Akan tetapi, informasi yang

disampaikan terkadang diterima tidak sesuai dengan kondisi perusahaan

sebenarnya. Kondisi ini dikenal sebagai informasi yang tidak simetris atau

asimetri informasi (information asymmetric). Asimetri antara manajemen (agent)

dengan pemilik (principal) memberikan kesempatan kepada manajer untuk

bertindak oportunis, yaitu memperoleh keuntungan pribadi. Dalam hal pelaporan

keuangan, manajer dapat melakukan manajemen laba (earnings management)

untuk menyesatkan pemilik (pemegang saham) mengenai kinerja ekonomi

perusahaan.

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa laporan keuangan

yang dibuat dengan angka-angka akuntansi diharapkan dapat meminimalkan

konflik diantara pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan laporan keuangan

yang dibuat manajemen, prinsipal dapat menilai kinerja manajemen untuk

melaporkan laba sesuai kepentingan pribadinya. Jika hal ini terjadi maka akan

mengakibatkan rendahnya kualitas laba.

5

Dalam Rachmawati dan Triatmoko (2007) Standar Akuntansi

Keuangan (SAK) memberikan kelonggaran (fleksibility principles) kepada

perusahaan dalam memilih metode akuntansi yang digunakan dalam penyusunan

laporan keuangan. Dengan kelonggaran ini, perusahaan dapat menghasilkan nilai

laba yang berbeda melalui pemilihan metode akuntansi yang berbeda. Perusahaan

yang memilih metode penyusutan garis lurus akan menghasilkan nilai laba yang

berbeda dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan metode angka

tahun atau saldo menurun. Menurut Boediono (2005) praktik seperti ini dapat

memberikan dampak terhadap kualitas laba yang dilaporkan.

Laba yang tidak dilaporkan sesuai dengan fakta yang terjadi dapat

diragukan kualitasnya. Laba dapat dikatakan berkualitas tinggi apabila laba yang

dilaporkan dapat digunakan oleh para pengguna (users) untuk membuat keputusan

yang terbaik, yaitu laba yang memiliki karakteristik relevansi, reliabilitas dan

komparabilitas atau konsistensi (Sutopo, 2009). Rendahnya kualitas laba akan

dapat membuat kesalahan dalam pembuatan keputusan para pemakainya seperti

investor dan kreditor, sehingga nilai perusahaan akan berkurang (Siallagan dan

Machfoedz, 2006).

Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan. Nilai

perusahaan yang tinggi dapat meningkatkan kemakmuran bagi para pemegang

saham, sehingga para pemegang saham akan menginvestasikan modalnya kepada

perusahaan tersebut (Tendi Haruman, 2008). Menurut Siallagan dan Machfoedz

(2006) rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan

keputusan para pemakainya seperti investor dan kreditor, sehingga nilai

perusahaan akan berkurang, sedangkan Fama (1978) (dalam Wahyudi dan

Pawestri, 2006) menyatakan bahwa nilai perusahaan akan tercermin dari harga

pasar sahamnya. Laba sebagai bagian dari laporan keuangan yang tidak

menyajikan fakta yang sebenarnya tentang kondisi ekonomis perusahaan dapat

diragukan kualitasnya. Laba yang tidak menunjukkan informasi yang sebenarnya

tentang kinerja manajemen dapat menyesatkan pihak pengguna laporan. Menurut

Boediono (2005) jika laba seperti ini digunakan oleh investor untuk membentuk

6

nilai pasar perusahaan, maka laba tidak dapat menjelaskan nilai pasar perusahaan

yang sebenarnya.

Investment Opportunity Set (Set Kesempatan Investasi) menunjukkan

investasi perusahaan atau opsi pertumbuhan. Nilai opsi pertumbuhan tersebut

tergantung pada discretionary expenditure manajer. Smith dan Watts (1992)

(dalam Wah, 2002) menyatakan bahwa manajemen investment opportunities

membutuhkan pembuatan keputusan dalam lingkungan yang tidak pasti dan

konsekuensinya tindakan manajerial menjadi lebih unobservable. Tindakan

manajer yang unobservable dapat menyebabkan prinsipal tidak dapat mengetahui

apakah manajer telah melakukan tindakan yang sesuai dengan keinginan prinsipal

atau ti

Embed Size (px)
Recommended