Home >Documents >Penerapan Pendekatan Challenge-Based Learning pada Kelas ...Secure Site ... i Penerapan Pendekatan...

Penerapan Pendekatan Challenge-Based Learning pada Kelas ...Secure Site ... i Penerapan Pendekatan...

Date post:30-Oct-2020
Category:
View:0 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • i

    Penerapan Pendekatan Challenge-Based Learning Pada Kelas XI Teknik

    Sepeda Motor 3 di SMK Negeri 3 Salatiga

    Artikel Ilmiah

    Oleh : Adzkal Anam

    NIM : 702011012

    Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Dan Komputer

    Fakultas Teknologi Informasi

    Universitas Kristen Satya Wacana

    Salatiga

    Oktober 2015

  • ii

  • iii

  • iv

  • v

  • vi

  • vii

    Penerapan Pendekatan Challenge-Based Learning

    Pada Kelas XI Teknik Sepeda Motor 3

    Di SMK Negeri 3 Salatiga

    1.)Adzkal Anam, 2.)Adriyanto Juliastomo Gundo

    Fakultas Teknologi Informasi

    Universitas Kristen Satya Wacana

    Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50711, Indonesia 1.)702011012@student.uksw.edu , 2.)adriyanto.gundo@staff.uksw.edu

    Abstract

    The problems in this study is only 10% from 80 teachers in SMK 3 Salatiga to implement

    learning according to the criteria that apply learning curriculum of 2013. An example is

    the a scientifically learning with the use of learning technology. The purpose for this study

    to implement a learning approach Challenge-based Learning to identifying the

    implementation stage "create" in bloom taxonomy as well as testing results and processes

    created by the students useful for the environment. The approach used in this study is the

    Challenge-based Learning. The results using Challenge-based learning approach in the

    cognitive, affective and psychomotor student has increased, reaching over 80% in every

    aspect. Challenge-based approach so that the learning is able to increase the learning

    process in the classroom.

    Keywords : Curriculum of 2013, Challenge-based Learning

    Abstrak

    Masalah dalam penelitian ini adalah hanya 10% dari 80 guru di SMK 3 Salatiga yang telah

    menerapkan pembelajaran yang memenuhi kriteria Kurikulum 2013. Contohnya adalah

    pembelajaran secara ilmiah dengan penggunaan teknologi pembelajaran. Penelitian ini

    bertujuan untuk menerapkan pendekatan pembelajaran Challenge-based Learning, untuk

    mengidentifikasi penerapan tahapan “create” dalam taksonomi bloom serta pengujian hasil

    dan proses yang dibuat oleh siswa berguna bagi lingkungan sekitar. Pendekatan yang

    digunakan dalam penelitian ini adalah Challenge-based Learning. Hasil penelitian dengan

    menggunakan pendekatan Challenge-based Learning pada aspek kognitif, afektif serta

    psikomotorik siswa telah meningkat yaitu mencapai diatas 80% pada setiap aspeknya.

    Sehingga pendekatan Challenge-based Learning mampu untuk meningkatkan proses

    belajar mengajar dalam kelas.

    Kata Kunci : Kurikulum 2013, Challenge-based Learning

    1. Mahasiswa Fakultas Teknologi Informatika Jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer Universitas Kristen Satya Wacana

    2. Staff Pengajar Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Satya Wacana

    mailto:702011012@student.uksw.edu mailto:adriyanto.gundo@staff.uksw.edu

  • 1

    1. Pendahuluan

    Pendidikan di Indonesia ini tidak akan terlepas oleh suatu kurikulum yang

    telah ditentukan oleh pemerintah. Perangkat pendidikan merupakan jawaban

    terhadap kebutuhan dan tantangan masyarakat [1]. Pada saat ini kurikulum yang

    sedang berjalan dan dalam tahap perbaikan secara terus menerus di Indonesia ini

    dapat kita kenal dengan nama Kurikulum 2013. Di Indonesia sudah ada beberapa

    sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 ini, terutama dari sekolah kejuruan

    atau dikenal dengan nama SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

    Penerapan Kurikulum 2013 sekarang ini sudah diimplementasikan dengan

    pembelajaran abad 21 yang menyebabkan banyak perubahan terkait dengan peran

    siswa dan guru dalam pembelajaran yang akan dicapai. Hal-hal penting yang

    dibutuhkan oleh siswa untuk dapat mengikuti pembelajaran abad 21 yaitu [2]: (1)

    Berpikir kritis dan pemecahan masalah, (2) Kolaborasi dan kepemimpinan, (3)

    Kelincahan dan adaptasi, (4) Inisiatif dan wirausaha, (5) Efektifitas komunikasi

    lisan dan tertulis, (6) Mengakses dan menganalisa informasi, dan (7) Rasa ingin

    tahu dan imajinasi.

    Berdasarkan data yang diperoleh dari Wakil Kepala Sekolah bidang

    Kurikulum tentang Evaluasi Proses Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMK 3

    Salatiga pada tahun 2014-2015, dari 80 Guru yang mengajar di SMK N 3 Salatiga

    hanya 10% yang menerapkan pembelajaran dalam kurikulum 2013 secara

    menyeluruh. Contohnya adalah pembelajaran secara ilmiah dengan menggunakan

    teknologi pembelajaran, sedangkan 27,5% hanya penilaian yang diterapkan,

    sisanya 62,5% masih belum menerapkan sesuai kriteria pada kurikulum 2013. Dari

    hasil wawancara dengan beberapa guru, bahwa kebutuhan Guru saat ini di SMK N

    3 Salatiga adalah untuk mengetahui proses penerapan pembelajaran pada

    Kurikulum 2013, sehingga masalah yang terjadi proses pembelajaran di dalam kelas

    yang dilakukan oleh guru kurang memenuhi pembelajaran pada kurikulum 2013,

    selain itu beberapa guru kurang menambah pengetahuan mereka tentang

    pembelajaran dalam penerapan proses pembelajaran pada Kurikulum 2013. Untuk

    meningkatkan metode pembelajaran dalam Kurikulum 2013, pendekatan

    pembelajaran Challenge-based Learning akan digunakan sebagai solusi untuk

    menjawab kriteria dari Kurikulum 2013 tentang pembelajaran secara ilmiah dengan

    menggunakan teknologi pembelajaran.

    Mengacu pada latar belakang masalah dapat diidentifikasi beberapa masalah

    sebagai berikut: (1) bagaimana penerapan kurikulum 2013 dalam pembelajaran

    abad 21 di SMK 3 Salatiga? (2) bagaimana cara penerapan metode Challenge-based

    Learning dalam kurikulum 2013 di Sekolah? (3) apakah metode Challenge-based

    Learning dapat merubah proses pembelajaran?. Penelitian ini dilakukan dengan

    tujuan untuk menerapakan proses pendekatan pembelajaran Challenge-based

    Learning, mengidentifikasi penerapan tahapan “create” dalam taksonomi bloom,

    dan untuk menguji hasil dan proses yang dibuat oleh siswa berguna bagi lingkungan

    sekitar.

  • 2

    2. Tinjauan Pustaka

    Penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan dua penelitian

    yang revelan. Penelitian pertama yang dilakukan oleh Stephanie Bell tentang

    “Project-based Learning pada abad 21 : Ketrampilan Untuk Masa Depan” [3].

    Berdasarkan penelitian tersebut telah didapat bagaimana sistem pembelajaran abad

    21 dengan menggunakan pendekatan Project-based Learning. Instruksi Project-

    based Learning dapat membantu siswa dalam menjembatani kesenjangan yang ada

    dalam pengetahuan dan ketrampilan, sehingga tugas mudah untuk dikelola.

    Penelitian kedua yang telah dilakukan oleh Veneranda Hajrulla tentang

    “Memfasilitasi Problem-based Learning melalui e-portofolio di EFL (English as a

    Foreign Language)”[4]. Penelitian tersebut menyimpulkan tentang mengubah cara

    belajar dan mengajar dalam abad 21 dengan menggunakan Problem-based

    Learning. Potensi bahwa problem-based Learning dan e-portofolio bagus selama

    membimbing siswa dalam proses pembelajaran.

    Berdasarkan penelitian dan jurnal yang berkaitan tentang pembelajaran

    abad 21. Pendekatan pembelajaran Challenge-based Learning yang akan

    diimplementasikan pada Kurikulum 2013 di SMK N 3 Salatiga. Challenge-based

    Learning mempunyai tujuan yang sama dengan penelitian yang dilakukan oleh

    Stephani Bell dan Venranda Hajrulla yaitu pembelajaran pada abad 21, tetapi yang

    membedakan pendekatan ini adalah dimana nanti siswa akan melakukan sebuah

    temuan masalah seperti Problem-based Learning dan sebuah penelitian terstruktur

    seperti Project-based Learning yang akan dibantu oleh seorang pakar yang ahli

    dalam bidangnya sesuai masalah dan penelitian yang akan diangkat oleh siswa.

    Maka dari itu penelitian akan dilakukan oleh siswa, dan siswa sendiri dapat

    berperan aktif karena berhubungan langsung dengan pakar dan teknologi

    pembelajaran. Siswa akan terjun langsung ke lapangan untuk mencari suatu

    masalah yang ada di lingkungan sekitar dan guru bisa menempatkan diri sebagai

    fasilitator yang akan membimbing siswa. Jadi siswa akan tetap terpantau pada saat

    proses pembelajaran berlangsung.

    Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain,

    pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian proses dan sumber belajar

    [1]. Definisi tersebut memiliki komponen-komponen : 1.) teori dan pratek; 2.)

    desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian; 3.) proses dan

    sumber; dan 4.) untuk kepentingan belajar. Komponen teori dan praktek merujuk

    pada teknologi pembelajaran yang memiliki landasan pengetahuan dari hasil kajian

    melalui riset dan pengalaman. Kegiatan praktek merupakan penerapan pengetahuan

    dalam pembelajaran tertentu, terutama dalam memecahkan masalah pembelajaran.

    Teori dan praktek merupakan suatu hal terpenting dalam proses pembelajaran yang

    akan menentukan tahap dari pembelajaran. Komponen desain, pengembangan,

    pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian

Embed Size (px)
Recommended