Home >Documents >PENERAPAN NETWORK DEVELOPMENT LIFE CYCLE UNTUK ... kegiatan pelayanan kepada pelanggan atau

PENERAPAN NETWORK DEVELOPMENT LIFE CYCLE UNTUK ... kegiatan pelayanan kepada pelanggan atau

Date post:02-Mar-2019
Category:
View:213 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

ISSN: 2087-9172 125

PENERAPAN NETWORK DEVELOPMENT LIFE CYCLE UNTUK PENGEMBANGAN TEKNOLOGI THIN CLIENT

PADA PENDIDIKAN KSM PONTIANAK

Sandy KosasiProgram Studi Sistem Informasi,

Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer PontianakJln. Merdeka No. 372 Pontianak, Kalimantan Barat

Telp (0561) 735555, Fax (0561) 737777Email:sandykosasi@yahoo.co.id

AbstractThrough the application of Network Development Life Cycle to develop a Thin Client technology

is a process of optimizing the utilization of information technology resources to achieve the total cost of ownership, easy maintenance and improve performance and profitability. This research study uses network analysis and design methodology with the subject of research in the KSM Education Pontianak.

Keyword: NDLC, Network Analysis and Design Methodology, Thin Client Technology, and Total Cost of Ownership

AbstrakMelalui penerapan Network Development Life Cycle untuk mengembangkan teknologi Thin

Client merupakan suatu proses mengoptimalkan pendayagunaan sumberdaya teknologi informasi untuk mencapai total biaya kepemilikan, mudah dalam pemeliharaannya dan meningkatkan kinerja dan profitabilitas perusahaan. Kajian penelitian ini menggunakan metodologi analisis dan perancangan jaringan dengan subjek penelitian pada Pendidikan KSM Pontianak.

Kata Kunci: NDLC, Network Analysis and Design Methodology, Teknologi Thin Client, and Total Biaya Kepemilikan

1. PENDAHULUANDalam rangka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan permintaan dari

pasar tenaga kerja, maka saat ini bermunculan banyak sekali pendidikan non-formal yang menyelenggarakan pendidikan ketrampilan dalam bentuk kursus komputer. Namun dari sekian banyak kursus komputer yang ada masih belum dapat memberdayakan sumberdaya yang mereka miliki untuk mencapai hasil yang maksimal. Kendala yang banyak dihadapi adalah senantiasa harus melakukan penyesuaian (update) sistem dari perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) yang mereka miliki. Sementara dana/anggaran yang dibutuhkan seringkali tidak mencukupi untuk dapat membeli perangkat komputer yang baru. Hal ini tentu akan berakibat kepada kurangnya penyampaian materi yang harus disampaikan kepada peserta kursus. Kecenderungan yang terjadi adalah materi menjadi tidak memenuhi standar lagi dari apa yang sudah ditentukan sebelumnya.

Dari sekian banyak lembaga kursus komputer, salah satunya adalah pendidikan KSM Pontianak. Lembaga ini selain menyelenggarakan kursus komputer juga memberikan bimbingan pelajaran dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas. Lembaga pendidikan KSM Pontianak ini memiliki 4 (empat) ruangan komputer yang masing-masing ruangan berjumlah sekitar 20 unit komputer dan sudah menggunakan

Penerapan Network Development Life. .. (Sandy Kosasi)

ISSN: 2087-9172

sistem jaringan komputer dengan basis windows 2000. Seiring dengan berjalannya waktu, pendidikan KSM ini sudah beberapa kali melakukan investasi pada sejumlah perangkat komponen komputer agar menjadi lebih cepat dan bisa digunakan untuk menjalankan aplikasi tertentu seperti Microsoft Office 2000, pemrograman visual basic, foxpro, delphi, dan sejumlah aplikasi komputer baru lain yang membutuhkan kemampuan komputer dengan spesifikasi hardware yang lebih tinggi.

Saat ini kondisi yang paling sulit dihindari adalah untuk keperluan melakukan penggantian dari sejumlah komponen tertentu dari perangkat komputer yang rusak sudah tidak tersedia lagi. Sementara untuk investasi dengan spesfikasi komputer yang baru pihak lembaga belum mampu mengadakannya. Kondisi ini jelas memperlihatkan perlunya membangun sebuah jaringan komputer agar dapat meningkatkan efektivitas perusahaan. Oleh karena itu, selain pengeluaran investasi untuk setiap komputer personal yang meningkat secara proporsional, perusahaan juga perlu mempertimbangkan investasi dalam memilih sistem jaringan komputer yang efisien.

Untuk itu pendidikan KSM Pontianak perlu mencari solusi alternatif lainnya yang dapat meringankan dari persoalan yang dihadapi selama ini. Salah satu alternatif yang dapat dipilih adalah mengembangkan sistem jaringan komputer dengan menggunakan konsep Thin Client. Konsep jaringan komputer Thin Client banyak hal yang dapat dilakukan seperti mempermudah dan menghemat waktu penerapan suatu aplikasi secara cepat ke semua komputer yang terhubung dengan jaringan komputer, menyebarkan informasi secara cepat dan efektif, dan penyimpanan data secara terpusat.

2. METODE PENELITIANPenelitian ini menggunakan bentuk studi kasus dengan metode penelitian

deskriptif. Metode pengumpulan datanya terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer berasal dari hasil wawancara, observasi, dan sebaran kuesioner. Sementara untuk data sekunder diperoleh dari sejumlah dokumen dan laporan penggunaan sistem jaringan komputer selama ini. Penelitian ini menggunakan variabel tunggal yaitu analisis arsitektur sistem jaringan komputer Thin Client. Metode analisis menggunakan Network Development Life Cycle (NDLC) dan metode pengembangannya menggunakan metode Network Analysis and Design.

2.1 Model Top-Down dan Network Development Life Cycle (NDLC)Model top-down mensyaratkan bahwa seorang analis dan perancang sistem

harus memahami secara mendalam mengenai kebutuhan dan sasaran bisnis perusahaan secara menyeluruh. Sebelum mengembangkan sistem jaringan komputer yang komprehensif dan memiliki integrasi yang akurat dengan kebutuhan bisnis perusahaaan, harus memiliki pemetaan yang jelas dan terstruktur mengenai semua jenis aplikasi dan arsitektur teknologi informasi yang dibutuhkan untuk memperlancar kegiatan pelayanan kepada pelanggan atau para stakeholder lainnya. Model top-down memiliki beberapa lapisan yang saling berinteraksi satu dengan lainya melalui mekanisme dan prosedur yang ada. Adapun masing-masing lapisan tersebut adalah lapisan bisnis, lapisan aplikasi, lapisan data, lapisan jaringan, dan lapisan teknologi. Masing-masing lapisan memiliki spesifikasi proses dengan fokus kegiatan yang berbeda

JIKE Vol. 1, No. 2, Mei 2011 : 125 141

126

JIKE ISSN: 2087-9172

namun memiliki tujuan yang sama. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut ini.

Gambar 1. Model Top-Down dan Network Development Life Cycle (NDLC)

Pemahaman setiap lapisan dapat memberikan suatu manfaat/peluang yang sangat nyata untuk keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan produktivitasnya. Tanpa adanya pemahaman yang jelas mengenai sasaran bisnis perusahaan dapat mengakibatkan pengembangan sistem jaringan komputer tidak akan berhasil dengan baik. Artinya, pihak manajemen perusahaan tidak dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang ada sehingga akan berdampak kepada peningkatkan biaya pemeliharaan dan mempengaruhi kapabilitas perusahaan dalam melakukan kegiatannya sehari-hari.

Konsep penting yang menjadi perhatian adalah melakukan proses penyelarasan proyek sistem jaringan komputer dengan strategi bisnis dalam hubungannya dengan perhitungan biaya total kepemilikan pengembangannya dan penekanan kepada tingkat pengembalian investasi. Keseluruhan pengembangan sistem informasi berhubungan erat dengan proses pengembangan sistem jaringan komputer sehingga mempermudah pencapaian sasaran strategis perusahaan. Investasi teknologi informasi khususnya dalam pengembangan sistem jaringan komputer selalu meningkat selaras dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin maju. Para pemimpin perusahaan mulai khawatir mengenai manfaat dari investasi tersebut yang mungkin tidak sebesar seperti yang diharapkan. Fenomena demikian seringkali disebut sebagai IT Investment Paradox. Biaya besar diinvestasikan untuk teknologi informasi, namun dihadapkan dengan lubang hitam yang besar tanpa memberikan banyak kontribusi yang bernilai (Brynjolfsson, 1993).

Untuk menghindari kondisi tersebut, kunci utama adalah melakukan proses integrasi dan standarisasi. Proses integrasi menunjukkan adanya keselarasan antara strategi bisnis dan strategi sistem jaringan komputer yang diwujudkan dalam bentuk standarisasi data karena melalui data yang sudah standar dapat menjadi acuan bagi organisasi untuk menyinergikan seluruh aktivitas bisnis. Sedangkan proses standarisasi adalah perencanaan terkendali seluruh bentuk keputusan atas arsitektur sistem jaringan komputer, termasuk proses penerapan dan pengawasannya.

Memahami pengembangan sistem, khususnya berkaitan penerapan siklus hidup pengembangan jaringan, memperlihatkan keluaran produknya berupa

Penerapan Network Development Life . .. (Sandy Kosasi)

127

ISSN: 2087-9172

pemenuhan kebutuhan dokumentasi dan menyiapkan proposal perancangan arsitektur sistem jaringan komputernya. Kedua jenis produk tersebut sangat menentukan model dari arsitektur dan infrastruktur sistem jaringan komputer yang akan dikembangkan. Melalui dokumen yang lengkap berisi semua kebutuhan perangkat infrastruktur jaringan akan menjadi dasar perancangan proposal yang efektif melalui justifikasi biaya manfaat untuk memenuhi pencapaian biaya total kepemilikan agar selaras dengan sasaran dan tujuan strategi bisnis secara profitable.

2.2 Network Development Life Cycle (NDLC)NDLC merupakan suatu siklus hidup pengembangan sistem jaringan

komputer yang bersifat komprehensif dengan tingkat integritas yang kuat dari sejumlah tahapan yang ha

Embed Size (px)
Recommended