Home > Documents > PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED INSTRUCTION …

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED INSTRUCTION …

Date post: 16-Oct-2021
Category:
Author: others
View: 0 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 235 /235
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED INSTRUCTION TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA PESERTA DIDIK SKRIPSI SITTI AMRINA 10539110513 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JANUARI 2018
Transcript
SKRIPSI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian guna Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Fisika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
“Wahai orang-orng yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah kamu, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara
kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat”. (Q.S. AL-Mujadalah : 11)
“Berangkat dengan penuh keyakinan berjalan dengan penuh keikhlasan bersabar dalam menghadapi cobaan. Keberhasilan bukan dinilai melalui
hasilnya tetapi lihatlah proses dan kerja kerasnya, tanpa adanya proses dan kerja keras maka keberhasilan tidak mempunyai nilai yang berarti dan jika
kamu takut melangkah, lihatlah bagaimana seorang bayi yang mencoba berjalan. Niscaya akan kau temukan , bahwa manusia pasti akan jatuh. Hanya manusia
terbaiklah yang mampu bangkit dari kejatuhan. Kontruksi kehidupan dibangun dengan keyakinan, diperkuat dengan gerakan, diindahkan dengan mimpi demi menuju kesempurnaan. “Kesalahan bukan kegagalan tapi bukti bahwa seseorang
sudah melakukan sesuatu”.
ombak dan gelombang itu...” (Marcus Aurelius)
Persembahan: Sujud syukur ku persembahkan pada ALLAH yang maha kuasa, berkat dan rahmat
dan detak jantung, denyut nadi, nafas dan putaran roda kehidupan yang diberikan-Nya hingga saat ini saya dapat mempersembahkan skripsiku pada orang-
orang tersayang: Kedua orang tua bapak ibu, yang tak pernah lelah membesarkanku dengan
kasih sayang, serta memberikan dukungan, perjuangan, motivasi dan
pengorbanan dalam hidup ini.
dukungan dan semangat.
Almamater Tercinta.
dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhmmadiyah Makssar. Dosen Pembimbing
(Bunga Dara Amin dan Aisyah Azis).
Penelitan ini Pre Eksperimen yang menggunakan One Grup Pretest-Posttest
Design bertujuan untuk mengetahui penerapan model problem based instruction
terhadap peningkatan hasil belajar fisika peserta didik ditinju dari aspek kognitif.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tes awal (pretest) kepada
satu kelas yang disebut sebagai kelas eksperimen. Kemudian diberikan perlakuan
(treatment) dengan menerapkan model Problem Based Instruction, selanjutnya
diberikan tes akhir (posttest) pada akhir pembelajaran. Penelitian dilaksanakan di
SMA Muhammadiyah Limbung Kabupaten Gowa dengan populasi kelas X MIA
dengan sampel kelas sebanyak 34 orang. Hasil penelitian ditinjau dari aspek
kognitif menunjukkan bahwa hasil belajar fisika kelas penelitian mengalami
peningkatan (gain normalized) sebesar 0,67 (kategori sedang), dengan skor rata-rata
pretest peserta didik adalah 7,02 dan skor rata-rata posttest peserta didik adalah
20,50. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem
Based Instruction terhadap peningkatan hasil belajar fisiska, ditinjau dari hasil belajar
aspek kognitif dimana 17,65% peserta didik memperoleh skor peningkatan (gain)
hasil belajar berkategori rendah, 73,53% peserta didik memperoleh skor peningkatan
(gain) hasil belajar berkategori sedang, 8,82% peserta didik memperoleh skor
peningkatan (gain) hasil belajar berkategori tinggi.
Dari analisis dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Instruction
dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar fisika peserta didik kelas
SMA Muhammadiyah Limbung.
Fisika.
viii
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pada hakikatnya yang paling utama dihati ini, penulis mengucapkan puji dan
rasa syukur kepada Allah Swt. Kemudian, Shalawat serta salam-Nya, mudah-
mudahan tercurah ke baginda Rasulullah Saw, beserta keluarganya, sahabatnya, serta
umatnya yang turut dengan ajarannya. Aamiin.
Berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan
skripsi yang berjudul “Penerapan Model Problem Based Instruction terhadap
Peningkatan Hasil Belajar Fisika Peserta Didik” yang disusun untuk memenuhi
salah satu persyaratan akademik guna memperoleh gelar sarjana Pendidikan Fisika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah
Makassar sekaligus dengan harapan akan dapat memberikan kontribusi positif bagi
perkembangan dunia pengajaran secara khusus dan dunia pengajaran secara umum.
Penghargaan dan ucapan terima kasih terkhusus kupersembahkan kepada
ayahanda Amiruddin dan ibunda Marwati yang mempersembahkan segala
idealisme, prinsip, edukasi dan kasih sayang berlimpah dengan wajah datar
menyimpan kegelisahan, perjuangan yang tidak pernah penulis ketahui, namun
tenang temaram dengan penuh kesabaran dan pengertian yang luar biasa, yang tiada
ix
pernah hentinya selama ini memberiku semangat, doa, dorongan, nasehat serta
pengorbanan yang tak tergantikan hingga penulis selalu kuat menjalani setiap
rintangan yang ada didepan.
mengalami hambatan, namun berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak,
akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Olehnya itu, penulis menyampaikan ucapan
terima kasih dan penghargaan yang setulusnya kepada Ayahanda Dr. Hj. Bunga
Dara Amin, M.Ed selaku pembimbing I dan Dra. Hj. Aisyah Azis selaku
pembimbing II yang selalu bersedia meluangkan waktunya dalam membimbing
penulis, memberikan ide, arahan, saran dan bijaksana dalam menyikapi keterbatasan
pengetahuan penulis, serta memberikan ilmu dan pengetahuan yang berharga dalam
penelitian ini. Semoga Allah SWT memberikan perlindungan, kesehatan dan pahala
yang berlipat ganda atas segala kebaikan yang telah dicurahkan kepada penulis
selama ini.
berkenaan dengan itu penulis patut mengemukakan bahwa penyelesaian skripsi ini
tidak mungkin tercapai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada: Bapak Dr. Abd. Rahman Rahim, SE., MM selaku
Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, bapak Erwin Akib, M.Pd., Ph.D.
selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah
x
Makassar, ibu Nurlina, S.Si., M.Pd. dan Bapak Ma’ruf S.Pd., M.Pd. selaku ketua
dan sekretaris jurusan pendidikan fisika Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makasar. Ayahanda dan Ibunda Dosen Jurusan
Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar dan Universitas Negeri
Makassar yang telah ikhlas menyalurkan ilmunya kepada penulis, bapak Dr. Andi
Sukri Syamsuri, M.Hum. selaku Penasehat Akademik selama perkuliahan yang
telah memberikan banyak nasehat dalam menjalani perkuliahan, teristimewa Bapak
Syarif, S.Pd.,M.Pd selaku guru pembimbing yang memberikan kritikan dan motivasi
yang begitu berarti bagi penulis, ibu Silviany DJafar Selaku Kepala SMA
Muhammadiyah Limbung sekaligus beserta guru-guru yang telah memberi
kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitiaan di SMA Muhammadiyah
Limbung, Saudara-saudaraku Mirnawati dan Suami, Najemuddin dan Ny. , mutiara,
sukmawati, kk Ani, cayyung, tante mariah dan Suami. yang tiada henti-hentinya
memberikan dukungan,
darma) yang selalu mendukung, menemani, memberikan semangat, dan motivasi,
semoga kebersamaan kita selama ini dapat menjadi kisah indah yang dapat terus
dikenang. Rekan-rekan mahasiswa Dimensi Angkatan 2013 Jurusan Pendidikan
Fisika khususnya Dimensi A yang telah bersama-sama penulis menjalani masa-masa
suka duka perkuliahan, terima kasih atas sumbang saran dan motivasinya selama ini.
Semoga persaudaraan kita tetap berlanjut untuk selamanya. Adik-adik peserta didik
xi
Kelas XIPA2 SMA Muhammadiyah Limbung, atas perhatian dan kerjasamanya selama
pelaksanaan penelitian ini.
Penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran
dan kritik yang konstruktif dari berbagai pihak senantiasa penulis harapkan. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat dan menambah khasanah ilmu khususnya di bidang
pendidikan Fisika. Aamiin.
3. Hasil Belajar…………………………………………………….. 18
B. Kerangka Pikir……………………………………………………… 30
B. Variabel penelitian ............................................................................... 32
E. Instrumen Penelitian............................................................................. 33
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian .................................................................................... 39
Kegiatan Peserta didik............................................................. 51
Analisis Validitas dan reabilitas............................................... 181
Analisis Deskriptif.................................................................... 187
Analisis N-Gain......................................................................... 191
Kategori Ketuntasan.................................................................. 193
menentukan standar nasional pendidikan di Indonesia, termasuk juga sebagai
perwujudan UUD 1945 pasal 31 ayat 3 yang berbunyi “pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang
meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang” Salah
satu sistem pendidikan tersebut yaitu adanya Kurikulum Tahun 2013 biasa
disebut dengan K13. Kurikulum yang dipandang sebagai unsur yang bisa
memberikan konstribusi terhadap proses perwujudan pendidikan yang
berkualitas.
didik mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan
mengkomunikasikan (mempresentasikan) apa yang mereka peroleh atau
mereka ketahui setelah menerima pembelajaran. Kurikulum 2013 dapat
diterapkan dalam pembelajaran fisika di SMA agar siswa memiliki
kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka
1
2
akan lebih kreatif, inovatif dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa
sukses dalam menghadapi berbagai persoalan.
Berdasarkan hasil observasi dengan salah satu guru fisika kelas X
di SMA Muhammadiyah Limbung, diperoleh informasi bahwa hasil belajar
fisika peserta didik masih rendah, hal ini disebabkan oleh minimnya kesadaran
siswa untuk mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh, pada saat guru
menerangkan materi pelajaran di depan kelas kemudian diterapkan dalam
contoh soal dan latihan-latihan siswa cenderung pasif dan kurang
berpartisipasi dalam pembelajaran. Hal ini terlihat dari aktivitas siswa
yang hanya mencatat, mendengarkan dan hanya sedikit yang bertanya.
Interaksi yang terjadi dalam proses belajar mengajar hanya berlangsung
satu arah, yaitu dari guru kepada siswa. Hal ini menyebabkan hasil
belajar fisika peserta didik rendah. Ini terlihat dari rata-rata nilai ulangan
siswa yaitu 70 sedangkan kriteria ketuntasan minimum (KKM) 75 yang
ditetapkan di SMA Muhammadiyah Limbung.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti akan menerapkan
model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI), pada model
pembelajaran PBI dapat diterapkan kurikulum 2013, dimana Problem Based
Instruction merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah
dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara
berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
3
suatu proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
Berdasarkan kajian dari beberapa jurnal menyebutkan bahwa model
Problem Based Instruction cocok diterapkan dalam proses belajar mengajar
karena telah terbukti bahwa ada penimgkatan hasil belajar fisika peserta didik.
Berkenaan dengan hal tersebut, maka judul penelitian yang akan
dilakukan peneliti adalah “Penerapan Model Problem Based Instruction
terhadap Peningkatan Hasil Belajar Fisika Peserta Didik”.
B. Rumusan Masalah
diselidiki dalam penelitian ini adalah:
1. Seberapa besar hasil belajar fisika peserta didik kelas X IPAMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung sebelum diajar menggunakan model Problem
Based Instruction tahun ajaran 2017-2018?
2. Seberapa besar hasil belajar fisika peserta didik kelas X IPAMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung setelah menggunakan model Problem Based
Instruction tahun ajaran 2017-2018?
3. Bagaimana peningkatan hasil belajar fisika peserta didik X IPAMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung sebelum dan setelah menggunakan model
Problem Based Instruction tahun ajaran 2017-2018?
4
Tujuan dalam penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui hasil belajar fisika peserta didik kelas X IPAMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung sebelum diajar menggunakan model Problem
Based Instruction tahun ajaran 2017-2018.
2. Untuk mengetahui hasil belajar fisika peserta didik kelas X IPAMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung setelah menggunakan model Problem Based
Instruction tahun ajaran 2017-2018.
3. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar fisika peserta didik X IPAMIA2
SMA Muhammadiyah Limbung sebelum dan setelah menggunakan model
Problem Based Instruction tahun ajaran 2017-2018.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi peserta didik
meningkatkan hasil belajar peserta didik yang berguna untuk pemecahan
masalah.
pembelajaran dalam upaya untuk mengembangkan hasil belajar peserta
didik.
5
meningkatkan kualitas hasil belajar, khususnya kualitas hasil belajar fisika
di SMA SMA Muhammadiyah Limbung.
4. Pengembang ilmu pendidikan
problem based instruction sebagai salah satu model pembelajaran yang
dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas.
5. Peneliti
mengembangkan kemampuannya dalam hal mengidentifikasi masalah-
masalah pembelajaran fisika.
Fisika sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan
kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta
mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup.
Pembelajaran Fisika di SMA menekankan pada pemberian pengalaman
belajar secara langsung dan penekanan salingtemas (sains, lingkungan,
teknologi, dan masyarakat) melalui penggunaan keterampilan proses dan
sikap ilmiah. Oleh karena itu, perlunya penerapan model pembelajaran
yang sesuai dengan proses pembelajaran Fisika seperti model
pembelajaran Problem Based Instruction.
adalah upaya secara sistematis yang dilakukan guru untuk mewujudkan
proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien yang dimulai dari
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Kemampuan mengelola
pembelajaran merupakan syarat mutlak bagi guru agar terwujud
kompetensi profesionalnya. Konsekuensinya, guru harus memiliki
pemahaman yang utuh dan tepat terhadap konsepsi belajar dan mengajar.
Pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk
mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan
6
7
kejadian intern yang berlangsung dialami peserta didik. Sementara Gagne
(Siregar & Hartini Nara, 2014), mendefinisikan pembelajaran sebagai
pengaturan peristiwa secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar
danmembuatnyaberhasil.dalam pengertian lainnya, Winkel (Siregar & Hart
ini Nara, 2014) mendefiniskan pembelajaran sebagai pengaturan dan
penciptaan kondisi-kondisi ekstern sedemikian rupa, sehingga menunjang
proses belajar peserta didik dan tidak menghambatnya.
2. Model Pembelajaran Problem Based Instruction.
a. Pengertian model Problem Based Instruction.
Model pembelajaran Problem Based Instruction dikenal dengan
nama lain seperti pembelajaran berdasarkan proyek (project-based
instruction), pembelajaran bedasarkan pengalaman (experience-based
instruction), pembelajaran autentik (authentic instruction), dan
pembelajaran bermakna. PBM atau PBI, model pembelajaran ini mulai
diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah
terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang autentik dan
bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk
melakukan penyelidikan dan ikuiri (Nur, 2011: 2).
Menurut Trianto (2014:63) Pengajaran Berdasarkan Masalah
(PBM) atau dari istilah Inggris Problem-based instruction (PBI) adalah
suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan
masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru.
8
64) Belajar berdaskan masalah adalah interaksi antara simulus dan respon,
merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan.
Lingkunagan berikan masukan kepada peserta didik berupa bantuan dan
masalah, sedangkan sistem syaraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu
secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai,
dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik. Pengalaman peserta
didik yang diperoleh dari lingkungan akan menjadikan kepadanya bahan
dan materi guna memperoleh pengertian serta bisa dijadikan pedoman dan
tujuan belajarnya.
efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini
membantu peserta didik untuk memproses informasi yang sudah jadi
dalam benaknya, dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia
sosial dan sekitarnya. Pembelajran ini cocok untuk mengembangkan
pengetahuan dasar maupun kompleks.
dimana peserta didik mengerjakan permasalahan yang autentik dengan
maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan
inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan
kemandirian dan percaya diri.
Problem Based Instruction adalah suatu pembelajaran yang menggunakan
segala permasalahan di lingkungan sekitar peserta didik sebagai sumber
belajar, mempertajam cara berfikir kritis, sekaligus sebagai sarana peserta
didik untuk memecahkan masalah melalui penyelidikan sehingga peserta
didik memperoleh pengetahuan berdasarkan pengalaman yang telah
dilalui.
Menurut Arends (1997:349) dalam Trianto (2014:66-67), berbagai
pengembang pengajaran berdasarkan masalah telah memberikan model
pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Pengajuan pertanyaan atau masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran
di sekitar pertanyaan dan masalah yang keduanya secara sosial penting
dan secara pribadi bermakna untuk peserta didik.
b. Befokus pada keterkaitan antardisiplin.
Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat
pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, ilmu-ilmu sosial),
masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam
pemecahannya, peserta didik meninjau masalah itu dari banyak mata
pelajaran.
10
melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata
terhadap masalah nyata.
Pembelajaran berdasarkan masalah menuntut peserta didik untuk
menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata. Produk
tersebut dapat berupa laporan, model fisik, vidio maupun program
komputer.
yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara
berpasangan atau dalam kelompok kecil.
c. Tujuan Problem Based Instruction.
Menurut Nur (2011: 6) dalam Afrizon,dkk.(2012:4) Adapun tujuan
dari hasil belajar yang dicapai dengan model pembelajaran PBI adalah:
1. Keterampilan berfikir dan pemecahan masalah. PBI memungkinkan
peserta didik mencapai keterampilan berfikir yang lebih tinggi.
2. Pemodelan peranan orang dewasa. PBI membantu peserta didik untuk
berkinerja dalam situasi kehidupan nyata dan belajar pentingnya orang
dewasa.
didik menjadi pelajar yang otonom dan mandiri melalui bimbingan guru
11
nyata oleh peserta didik.
tersebut, maka didalam pelaksanaannya model PBI harus memiliki tiga
landasan yaitu:
Dewey dan Kill Patrick (dalam Nur, 2011: 18)
mengemukakan bahwa: “Pembelajaran di sekolah seharusnya lebih
memiliki manfaat dari pada abstrak dan pembelajaran yang memiliki
manfaat terbaik dapat dilakukan oleh peserta didik dalam kelompok–
kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek masalah dan pilihan
mereka sendiri”. Pada kelas PBI, peserta didik memecahkan masalah
yang nyata dengan berpasangan atau berkelompok.
2) Piaget, Vigotsky, dan Konstruktivisme
Menurut pandangan kontruktivis-kognitif, peserta didik dalam segala
usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan
membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis
tetapi terus menerus tumbuh pada saat peserta didik menghadapi
pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan
memodifikasi pengetahuan awal mereka. Disamping itu, Vigotsky
(dalam Nur, 2011: 19) mengemukakan bahwa: “Perkembangan
intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman
baru dan menantang, ketika mereka berusaha untuk memecahkan
12
memanfaatkan pengetahuan peserta didik sebelumnya sehingga
peserta didik dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya.
3) Bruner dan Pembelajaran Penemuan
Menurut Bruner, pembelajaran penemuan menekankan pengalaman–
pengalaman pembelajaran berpusat pada peserta didik menemukan
ide–ide mereka sendiri dan menurunkan makna oleh mereka sendiri.
Pada kelas PBI peserta didik juga dibimbing untuk mengkonstruksi
sendiri pengetahuannya, tetapi lebih memusatkan pembelajaran pada
masalah kehidupan nyata yang bermakna bagi peserta didik. PBI juga
bergantung pada konsep lain dari Bruner, yaitu scaffolding. Bruner
(dalam Nur, 2011: 26) menyatakan “Scaffolding sebagai suatu proses
dimana guru membantu peserta didik untuk menuntaskan suatu
masalah yang melampaui batas tingkat pengetahuannya pada saat
itu”.
Pengajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu
guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Penga-
jaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu peserta didik
mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan
keterampilan intelektual.
Belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam
pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi pembelajar yang otonom dan
mandiri.
Menurut Trianto (2014:71) Kelebihan pengajaran berdasarkan
masalah sebagai suatu model pembelajaran yaitu:
1. Realistis dengan kehidupan siswa;
2. Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa;
3. Memupuk inkuiri siswa;
Menurut Trianto (2014:72) Kekurangan pengajaran berdasarkan
masalah sebagai suatu model pembelajaran yaitu:
1. Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks;
2. Sulitnya mencari problem yang relevan;
3. Sering terjadi miss-konsepsi; dan
4. Kosumsi waktu, di mana model ini memerlukan waktu yang cukup
dalam proses penyelidikan.
Menurut Trianto (2014:72) Problem Based Instruction terdiri dari
5 langkah atau tahap utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan
14
siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan
analisis hasil kerja peserta didik.
Tabel 2.1: Kelima tahap Problem Based Instruction
Tahap Tingkah Laku Guru
pemecahan masalah yang dipilih.
masalah tersebut.
Tahap 3 :
Membimbing penyelidikan
dan menyiapkan karya yang sesuai seperti
laporan, vidio, dan model serta membantu
mereka untuk berbagi tugas dengan
temannya.
gunakan.
15
Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 15) dalam Trianto (2014: 73), di
dalam kelas Problem Based Instruction, peran guru berbeda dengan kelas
tradisional. Peran guru didalam kelas Problem Based Instruction antara
lain :
autentik, yaitu masalh kehidupan nyata sehari-hari;
Memfasilitasi/membimbing penyelidkan, misalnya melakukan pengamatan
atau melakukan eksperimen/percobaan;
Mendukung belajar peserta didik.
Menurut Trianto (2014:73-75), Pelaksanaan model pembelajaran
Problem Based Instruction meliputi dua kegiatan, yaitu tugas perencanaan
dan tugas interaktif.
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2. Merancang situasi masalah yang sesuai
Situasi masalah yang baik harus memenuhi kriteria antara
lain autentik, tidak terdefinisi secara ketat, bermakna bagi peserta
16
serta bermanfaat.
Pembelajaran berdasarkan masalah memotivasi siswa untuk
bekerja dengan beragam material dan peralatan yang dapat dilakukan
di dalam kelas, perpustakaan atau laboratorium dan dapat pula
dilakukan di luar sekolah. Oleh karea itu, guru harus mengumpulkan
dan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk penyelidikan
siswa dalam rangka memecahkan masalah.
Tugas interraktif
menjelaskan model pembelajaran yang akan digunakan. Selanjutnya,
guru menyajikan situasi masalah dengan prosedur yang jelas untuk
melibatkan peserta didik dalam identifikasi masalah. Situasi masalah
harus disampaikan secara tepat dan menarik. Biasanya memberi
kesempatan peserta didik untuk melihat, merasakan dan menyentuh
sesuatu atau menggunakan kejadian-kejadian di sekitar peserta didik
sehingga dapat memunculkan ketertarikan, rasa ingin tahu dan
motivasi.
17
memperhatikan tingkat kemampuan, keragaman ras, etnis dan jenis
kelamin yang didasarkan pada tujuan yang telah ditetapkan.
3. Membimbing penyelidikan individu dan kelompok.
b. Pengumpulan data.
masalah dalam kelompoknya. Guru bertugas mendorong peserta
didik untuk mengumpulkan data dan melaksanakan penyelidikan
sampa mereka benar-benar memahami situasi masalah yang
dihadapi. Tujuan pengumpulan data yaitu agar peserta didik
mengumpulkan cukup informasi untuk membangun ide dan
pengetahuan mereka sendiri.
Peserta didik mengajukan berbagai hipotesis, penjelasan dan
pemecahan dari masalah yang diselidiki. Pada tahap ini guru
mendorong semua ide, menerima sepenuhnya ide tersebut,
melengkapi dan membenarkan konsep-konsep yang salah.
4. Mengembangkan dan penyajian hasil.
Guru meminta salah seorang anggota kelompok untuk
mempresentasikan hasil pemecahan masalah kelompok dilanjutkan
dengan diskusi dan membimbing peserta didik jika mereka
mengalami kesulitan. Kegiatan ini berguna untuk mengetahui hasil
18
pelajaran.
hasil penyelidikan.
merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap
jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya
pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar
yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan
rumah atau keluarganya sendiri.
Syah (2016: 93) Belajar adalah key term (istilah kunci) yang paling
viral dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya
tidak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hamper selalu
mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan
dengan upaya kependidikan, misalnya psikologi pendidikan. Karena
demikian pentingnya arti belajar, maka bagian terbesar upaya riset dan
eksperimen psikologi pendidikan pun diarahkan pada tercapainya
pemahaman yang lebih luas dan mrendalam mengenai psoses perubahan
manusia itu.
persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih
dahulu maju karena belajar. Akibat persaingan tersebut, kenyataan tragis
juga bias terjadi karena belajar. Contoh, tidak sedikit orang pintar
menggunakan kepintarannya untuk mengintimidasi bahkan
menghancurkan kehidupan orang lain.
kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta
sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut
banyaknya materi yang dikuasai peserta didik.
Secara institusional, belajar dipandang sebagai proses “validasi”
atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah
ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa telah belajar dapat
diketahui seusai proses mengajar. Ukurannya, semakin baik pula mutu
guru mengajar akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang
kemudian dinyatakan dalam bentuk skor.
Secara kualitatif, belajar iyalah proses memeroleh arti-arti dan
pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling
siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir
dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang
kini dan nanti dihadapi peserta didik.
20
dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan, keterampilan dan sikap. Perubahan itu diperoleh melalui
usaha ( bukan karena kematangan), menetap dalam waktu yang relatif
lama dan merupakan hasil pengalaman.
Berbeda dengan menurt Purwanto (2016:47) Belajar dalam arti
luas adalah semua persentuhan pribadi dengan lingkungan yang
menimbulkan perubahan perilaku. Pengajaran adalah usaha yang memberi
kesempatan agar proses belajar terjadi dalam diri peserta didik.
Oleh karena belajar dapat terjadi ketika pribadi bersentuhan dengan
lingkungan maka pembelajaran terhadap siswa tidak hanya dilakukan di
sekolah, sebab dunia adalah lingkungan belajar yang memungkinkan
perubahan perilaku.
perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek
kompotensi kemanusiaan saja. Artinya hasil pembelajaran yang
dikategorisasikan oleh pakar pendidikan sebagaimana tersebut tidak dilihat
secara fragmentaris atau terpisah melainkan komprehensif.
Pengertian belajar menurut Mohammad Surya (Kosasih, 2014),
Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua
orang dan berlangsung seumur hidup, sejak masih bayi (bahkan dalam
21
kandungan) hingga liang lahat. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah
belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya.
Perubahan tingkah laku tersebut meyangkut perubahan yang bersifat
pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang
menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Belajar menurut Witherington (Kosasih, 2014) adalah proses usaha
yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya. Selanjutnya aktifitas yang
menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar baik aktual
maupun potensi. Perubahan tersebut sebagai akibat didapatkannya
kemampuan yang baru yang berlangsung dalam waktu yang relatif dalam
serta terjadi karena adanya usaha.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik
yang ditandai dengan adanya perubahan perilaku bukan hanya kompotensi
kemanusiaanya saja setelah melakukan kegiatan belajar tetapi baik aspek
pengetahuan, sikap dan keterampilan mengalami perubahan, Perubahan
tersebutkarena adanya usaha.
Menurut Purwanto (2016:49-53), Hasil belajar yang berupa
perubahan tingkah laku meliputi bentuk kemampuan yang menurut
Taksonomi Bloom dan kawan-kawannya diklasifikasi dalam 3
22
afektif (affective domain) dan ranah psikomotor (psychomotor
domain). Adapun Taksonomi Bloom atau klasifikasi tersebut sebagai
berikut:
Kognitif dalam batasan selalu diartikan oleh para pendidik
dengan pengetahuan, dimana dalam obyek pembagiannya sebenarnya
adalah lebih luas dari apa yang kita anggap selama ini. Segi kognitif
memiliki 6 tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda.
Keenam tingkat tesebut adalah :
mampu mengingat (recall) informasi yang telah diterima
sebelumnya, seperti: fakta, terminologi, rumus, dll.
2. Mengerti (pemahaman)
untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui
dengan kata-kata sendiri.
menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke
dalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang
timbul dalam kehidupan sehari-hari,.
prosedur yang telah dipelajari.
nilai bersama dengan pertanggungjawaban berdasarkan kriteria
tertentu. Evaluasi merupakan level ke lima menurut Anderson,
yang mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian
dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode, produk atau
benda dengan criteria tertentu.
mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur
pengetahuan yang ada sehingga berbentuk pola baru yang lebih
menyeluruh. Sintesis meliputi kemampuan menyusun sesuatu
yang terpecah belah hingga menjadi suatu struktur yang berarti.
b. Affective Domain (ranah afektif)
Peserta didik mampu melibatkan ekspresi, perasaan atau
pendapat pribadi terhadap hal-hal yang relatif sederhana tetapi
24
respon yang melibatkan sikap atau nilai yang telah mendalam di
sanubarinya. Ranah afektif meliputi 5 taraf, meliputi:
1. Penerimaan (receiving)
atau stimulus (kegiatan kelas, musik, buku ajar)
2. Partisipasi (responding )
peserta didik tidak hanya menghadiri suatu kegiatan, tetapi juga
bereaksi terhadap sesuatu dengan beberapa cara.
3. Penilaian/ penentuan sikap (valuing)
Meliputi kemampuan untuk memberikan penilaian
terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu.
4. Organisasi (organization)
menyelesaikan konflik diantara nilai-nilai, dan mulai membentuk
suatu sistem nilai yang konsisten.
5. Pembentukan pola hidup (characterization)
Meliputi kemampuan untuk menghayati nilai-nilai
kehidupan sehingga menjadi milik pribadi dan menjadi pegangan
dalam mengatur hidupnya dalam kurun waktu yang lama.
c. Psychomotor Domain (ranah psikomotorik)
25
termasuk klasifikasi gerak disini adalah mulai dari gerak yang paling
sederhana yaitu gerak melipat kertas sampai dengan merakit suku
cadang televisi/computer. Ranah psikomotorik meliputi 7 taraf,
meliputi:
perbedaan ciri-ciri fisik y ang khas pada masingmasing stimulus.
2. Kesiapan (set)
serangkaian gerakan.
Kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik
sesuai dengan contoh yang diberikan, seperti meniru dalam gerakan
tarian.
dengan lancer tanpa memperhatikan lagi contoh yang diberikan.
5. Gerakan yang kompleks (complex respons)
Kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan yang
terdiri atas beberapa komponen, dengan lancar, tepat dan efisien.
26
Kemampuan untuk membuat perubahan dan menyesuaikan
pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau dengan persyaratan
khusus yang berlaku.
7. Kreativitas (creativity)
seluruhnya atas dasar inisiatif sendiri. Perubahan salah satu atau
ketiga domain yang disebabkan oleh proses belajar dinamakan hasil
belajar. Hasil belajar dapat dilihat dari ada tidaknya perubahan
ketiga domain tersebut yang dialami peserta didik setelah
menjalani proses belajar.
Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Kedua faktor tersebut saling mempengaruhi dalam proses
belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil belajar. Adapun
faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Faktor internal
individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor
internal meliputi:
dengan kondisi fisik individu. Kondisi fisiologis umumnya sangat
berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Anak-anak
yang kurang gizi, kemampuan belajarnya di bawah anak-anak yang
tidak kekurangan gizi, mereka cepat lelah, mudah mengantuk dan
tidak mudah menerima pelajaran.
a. Inteligensi
global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara
terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan
secara efisien.
b. Perhatian
dipertinggi, jiwa itu pun semata-matatertuju kepada suatu objek
(benda/hal) atau sekumpulan objek.
memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.
d. Bakat
besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang.
Secara umum bakat (aptitude) didefinisikan sebagai
kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai
keberhasilan pada masa yang akan datang.
b. Faktor eksternal
pribadi manusia atau berasal dari orang lain atau lingkungannya.
Dalam hal ini Muhibbin Syah menjelaskan bahwa faktor-faktor
eksternal yang empengaruhi hasil belajar dapat digolongkan
menjadi dua golongan, yaitu:
lingkungan sosial keluarga. Lingkungan sosial yang lebih baik
banyak mempengaruhi kegiatan belajar adalah lingkungan sosial
keluarga.
adalah:
29
suasana yang sejuk dan tenang.
b. Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat
digolongkan menjadi dua macam. Pertama, hardware, seperti
gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar dan lain
sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah,
peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi dan lain
sebagainya.
Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan
peserta didik, begitu juga metode mengajar guru, disesuaikan
dengan kondisi perkembangan peserta didik.
30
Limbung mengalami peningkatan
Pemberian model pembelajaran
Problem Based Instruction
SMA Muhammadiyah Limbung
1. Jenis penelitian
melibatkan satu kelompok subjek, sehingga tidak ada control yang ketat
terhadap variabel.
Posttest Design.Pada desain ini sebelum diberi perlakuan, maka terlebih
dahulu sampel diberikan tes awal (pretest) dan di akhir pembelajaran
sampel di beri tes akhir (posttest). Penggunaan desain ini sesuai dengan
tujuan pada penelitian yaitu untuk mengetahui peningkatan hasil belajar
fisika peserta didik setelah diterapkan pemberian model Problem Based
Instruction dalam pembelajaran fisika. Berikut adalah desain penelitian
One-Group Pretest-Posttest Design :
O1 X O2
perlakuan dengan model Problem Based Istruction.
= Perlakuan (treatment) dengan menerapkan model Problem Based
Istruction.
perlakuan dengan model Problem Based Istruction.
Sugiyono (2016:110-111)
1. Variabel bebas yaitu pemberian model Problem Based Instruction dalam
pembelajaran fisika.
C. Populasi dan Sampel
Pada penelitian ini, populasi target adalah seluruh siswa di suatu
SMA Muhammadiyah Limbung, sedangkan populasi terjangkau adalah
siswa kelas X IPAMIA2 di suatu SMA Muhammadiyah Limbung.
Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPAMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung dengan jumlah 34 orang peserta didik yang terdiri
dari peserta didik laki-laki dan peserta didik perempuan. Teknik penarikan
sampel yang dilakukan adalah purposive sampling dimana teknik
pengambilan sampelnya secara sengaja di kelas X IPAMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung.
penelitian ini memberi batasan definisi operasional sebagai berikut:
Model Problem Based Instruction
pengajaran berdasarkan masalah dimana guru memperkenalkan peserta
didik dengan suatu masalah nyata yaitu memberikan praktikum yang harus
diselesaikan melalui penyelidikan dan membuat hasil karya.
33
Hasil belajar dalam penelitian ini adalah skor hasil belajar yang
diperoleh melalui tes belajar peserta didik. Kemampuan tersebut meliputi
ingatan, pemahaman, penerapan, dan analisis yang diukur dengan
menggunakan tes hasil belajar fisika sesuai dengan RPP.
E. Instrumen Penelitian
berupa tes hasil belajar fisika.
Tes hasil belajar fisika dibuat oleh peneliti dalam bentuk pilihan ganda
dengan lima alternatif pilihan jawaban, dimana salah satu dari keempat pilihan
jawaban tersebut merupakan kunci jawaban, sedangkan pilihan jawaban yang
lain merupakan jawaban yang salah atau pengecoh yang terdiri dari 27 item
soal dalam aspek kognitif dengan indikator meliputi C1, C2, C3,C4 yang
selanjutnya diujicobakan untuk melihat validitas dan reliabilitasnya.
Pemberian skor pada ujicoba instrumen adalah skor satu untuk tiap jawaban
yang benar dan nol untuk jawaban yang salah.
a. Validitas
kesahihan suatu instrumen. Dalam penelitian ini yang diuji validitaskan
adalah validitas isi yaitu apakah instrumen penelitian yang dibuat dapat
mewakili atau mencakup aspek aspek yang ingin diteliti. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar fisika yang
34
dibuat berjumlah 45 butir soal dalam bentuk pilihan ganda kemudian
divalidasi oleh 2 validator, soal yang dinyatakan memenuhi aspek-aspek
penelitian berjumlah 45 butir soal. Kemudian diujicobakan di Kelas XIMIA2
SMA Muhammadiyah Limbung pada 2 oktober 2017 dengan jumlah
responden 35 peserta didik. Pemberian skor pada instrumen tes adalah
skor 1 untuk tiap jawaban benar dan 0 untuk jawaban yang salah. Dari
hasil uji coba tersebut akan dianalisis dan diambil butir soal yang terbukti
valid untuk digunakan dalam penelitian.
Uji validasi dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan
program Microsoft Excel. Untuk menganalisis validitas soal, peneliti
menggunakan persamaan korelasi biserial dengan menggunakan r tabel
one tailed (satu arah). Dari 45 butir soal yang diuji coba, diperoleh 27
butir soal valid yang akan digunakan sebagai soal pretest dan posttest
disaat penelitian. Penetuan butir soal instrumen tes yang digunakan dalam
penelitian didasarkan pada hasil uji validitas. Butir soal yang digunakan
untuk penelitian adalah butir soal yang terbukti valid.
Analisis untuk mengetahui validitas dengan menggunakan korelasi
biserial.
35
q
p
S
MM
t
tp
pbi
pbi = Koefisien korelasi biseral
Mp = Rerata skor dari subyek yang menjawab betul bagi item yang dicari
validitasnya.
q = Proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1 - p)
Valid tidaknya item ke-i ditunjukkan dengan membandingkan nilai pbi (i)
dengan nilai rtabel pada taraf signifikan = 0,05 dengan kriteria sebagai berikut:
Jika: Nilai pbi (i) ≥ rtabel, item dinyatakan valid Nilai
pbi (i) <rtabel, item
Reabilitas adalah ketetapan atau ketelitian suatu alat ukur. Alat ukur
dikatakan reliabel apabila dapat dipercaya, konsisten atau stabil untuk
digunakan sebagai alat pengumpul data.
Perhitungan reliabilitas tes yang akan digunakan untuk menguji hasil
belajar dengan menggunakan rumus Kuder Richardson – 20 (KR-20) karena
36
data yang digunakan dari pemberian skor 1 dan 0. Adapun rumus yang
dignakan adalah sebagai berikut:
p = Proporsi subyek yang menjawab item benar
q = Proporsi subyek yang menjawab item salah (q = 1 - p)
pq = Jumlahhasilperkalian antara p dan q
n = Banyaknyaitem
Pada pengumpulan data dilakukan pada saat sebelum dan setelah
dilakukan proses pembelajaran berupa instrument yang telah divalidasi untuk
mengukur hasil belaja siswa fisika peserta didik kelas X IPAMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung.
Data yang terkumpul pada penelitian ini, diolah atau dianalisis dengan
menggunakan analisis deskriptif dan analisis statistik inferensial.
1. Analisis Deskriptif
berupa skor rata-rata dan standar deviasi.
a. Menentukan skor rata-rata peserta didik dengan menggunakan rumus:
37
M =
N = jumlah responden
(Sugiyono, 2015:58)
dengan:
SI = Skor ideal
Interval Nilai Kategori
menunjukkan peningkatan hasil belajar peserta didik setelah
pembelajaran dilakukan oleh guru.
didik, diuji dengan menggunakan rumus Normalized Gain:
g =
model pembelajaran berbasis masalah berbantuan media visual, skor
pretest adalah nilai rata-rata hasil belajar peserta didik sebelum
pembelajaran berbasis masalah berbantuan media visual dan skor
maksimal adalah nilai skor maksimal ideal.
Tinggi rendahnya gain yang dinormalisasi (N-gain) dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Jika g ≥ 0,7, maka N-gain yang dihasilkan termasuk kategori tinggi;
2. Jika 0,7 ≥ g ≥ 0,3, maka N-gain yang dihasilkan termasuk kategori
sedang, dan
3. Jika g < 0,3, maka N-gain yang dihasilkan termasuk kategori rendah.
Hake (http://list.asu.edu, 2014)
Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian serta pembahasannya tentang
peerapan model pembelajaran Problem Based Instruction pada pembelajaran
fisika terhadap hasil belajar Fisika peserta didik. Data dan informasi yang diolah
merupakan tes hasil belajar Fisika yang diperoleh dari kelas penelitian dengan
pemberian pretest yang berupa tes tertulis yang berbentuk pilihan ganda sebanyak
27 soal dan pemberian posttest juga berupa tes tertulis yang berbentuk pilihan
ganda sebanyak 27 soal.
Fisika Peserta Didik Kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung Tahun
Ajaran 2017/2018 dapat dilihat pada Tabel 4.1:
Tabel 4.1 Analisis Deskriptif Skor Peserta Didik kelas XMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran 2017/2018 pada
Saat Pretest Dan Postest.
Skor ideal 27 27
Skor tertinggi 13 25
Skor terendah 3 14
Skor rata-rata 7,03 20,50
Stándar deviasi 2,7 2,9
kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung tahun Ajaran 2017/2018
terhadap materi Kinematika tentang gerak adalah sebesar 6,62 dari skor
ideal. Skor tertinggi yang diperoleh peserta didik adalah 13 dari skor ideal
yaitu 27 dan skor terendah adalah 3 dari skor 0 yang mungkin dicapai.
Standar deviasi yang diperoleh adalah 2,42 dan variansinya adalah 7,2.
Sedangkan skor posttest menunjukkan bahwa skor rata-rata peserta
didik kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran
2017/2018 terhadap materi kinematika tentang gerak adalah sebesar 20,26
dari skor ideal. Skor tertinggi yang diperoleh peserta didik adalah 24 dari
skor ideal 27 dan skor terendah adalah 14 dari skor 0 yang mungkin
dicapai. Standar deviasi yang diperoleh adalah 2,73 dan variansinya adalah
7,6.
34 peserta didik, dapat dilihat pada Tabel 4.2:
Tabel 4.2 Kategori Skor Hasil Belajar Fisika peserta didik kelas XMIA2
SMA Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran 2017/2018 pada
Saat Pretest Dan Posttest.
24 – 29 85 – 100 0 0 6 18 Sangat Tinggi
18 – 23 65 – 84 0 0 22 64 Tinggi
12 – 17 55 – 64 0 0 6 18 Cukup
6 – 11 35 – 54 4 11 0 0 Rendah
0 – 5 0 – 34 30 88 0 0 Sangat Rendah
(Data primer terolah)
didik kelas XMIA2 Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran 2017/2018
pada saat pretest yang mendapat kategori sangat rendah terdapat 30
peserta didik, kategori rendah terdapat 4 peserta didik, kategori sedang
terdapat 0 peserta didik, kategori tinggi terdapat 0 peserta didik dan
kategori sangat tinggi terdapat 0 peserta didik. Sedangkan Pesentase skor
hasil belajar Fisika peserta didik kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah
Limbung Tahun Ajaran 2017/2018 pada saat pretestt yang mendapat
kategori sangat rendah terdapat 11 % , kategori rendah terdapat 88 %,
kategori sedang terdapat 0 %, kategori tinggi terdapat 0 % dan kategori
sangat tinggi terdapat 0 %.
didik kelas XMIA2 Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran 2017/2018
pada saat posttest yang mendapat kategori sangat rendah terdapat 0 peserta
didik, kategori rendah terdapat 0 peserta didik, kategori cukup terdapat 6
peserta didik, kategori tinggi terdapat 22 peserta didik dan kategori sangat
tinggi terdapat 6 peserta didik. Sedangkan persentase skor hasil belajar
Fisika peserta didik kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung Tahun
Ajaran 2017/2018 pada saat posttest yang mendapat kategori sangat
rendah terdapat 0 %, kategori rendah terdapat 0 %, kategori cukup
terdapat 18 %, kategori tinggi terdapat 20 % dan kategori sangat tinggi
terdapat 18 %
Gambar 4.1 Diagram Kategori Skor Hasil Belajar Fisika Peserta Didik
kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran
2017/2018 Pada Saat Pretest Dan Posttest untuk 34 peserta
didik.
Dari grafik diatas terlihat jelas bahwa terdapat perbedaan skor hasil
belajar Fisika peserta didik kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung
pada saat pretest dan posttest.
Tabel 4.3 Rekapitulasi Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas XMIA2
SMA Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran 2017/2018.
Skor Rata-Rata Pre Test Skor Rata-Rata Pos Test
7,03 20,50
pretest
posttes
43
Didik Kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung Tahun
Ajaran 2017/2018 pada Saat Pretest dan Posttest untuk 34
Peserta Didik.
diperoleh peserta didik pada saat pretest dengan skor rata-rata yang
diperoleh peserta didik pada saat posttest, yaitu 7,03 pada saat pretest dan
20,50 pada saat posttest. Itu artinya bahwa terdapat peningkatan hasil
belajar peserta didik kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung Tahun
Ajaran 2017/2018 sebelum diajar menggunakan model pembelajaran
Problem Based Instruction dan setelah diajar menggunakan model
pembelajaran Problem Based Instruction.
Untuk menentukan ada tidaknya kontribusi penerapan model
pembelajaran Problem Based Instruction pada pembelajaran fisika
terhadap peningkatan hasil belajar Fisika peserta didik. Peningkatan hasil
0
5
10
15
20
25
Hasil analsis tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Distribusi frekuensi dan persentase hasil belajar berdasarkan hasil
analisis di atas dapat dilihat pada Tabel 4.4:
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Belajar Fisika Peserta
Didik Kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung Tahun
Ajaran 2017/2018 Berdasarkan Rentang N-Gain.
Rentang Kategori Frekuensi Persentase % Rata-rata N-Gain
g ≥ 0,7 Tinggi 3 8,82
0,67 0,3 < g ≤ 0,7 Sedang 25 73,53
g < 0,3 Rendah 6 17,65
Jumlah 34 100
(Data primer terolah)
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa 3 peserta didik memenuhi kriteria
tinggi, 25 peserta didik memenuhi kriteria sedang, dan 6 orang yang
memenuhi kriteria rendah. Terlihat juga bahwa peserta didik kelas XMIA2
SMA Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran 2017/2018 memiliki skor
rata-rata gain ternormalisasi sebesar 0,67 yang termasuk dalam kategori
sedang.
Tabel 4.5 Kategori Ketuntasan Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas
XMIA2 dimana KKM di SMA Muhammadiyah Limbung Tahun
Ajaran 2017/2018 adalah 75,0.
XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran 2017/2018 setelah
melakukan posttes yaitu 14 peserta didik tidak memenuhi dalam kategori
tuntas, dan 20 peserta didik yang memenuhi dalam kategori tuntas dimana
KKM di SMA Muhammadiyah Limbung Tahun Ajaran 2017/2018 adalah
75,0.
Pada penelitian ini terlebih dahulu dilakukan tes awal (pre-test) untuk
mengetahui kemampuan peserta didik sebelum diberikan perlakuan (model
Pembelajaran Problem Based Instruction) dalam proses belajar mengajar.
Setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran
Problem Based Instruction maka dilakukanlah posttest. Adapun sampel dalam
penelitian adalah peserta didik kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung
dengan jumlah peserta didik sebanyak 34 orang.
Tes yang digunakan pada penelitian berupa instrumen tes. Namun,
sebelum tes digunakan untuk pengambilan data, terlebih dahulu melakukan
uji coba instrumen tes. Hasil uji coba tersebut dianalisis validasi dan reabilitas
dengan bantuan microsoft ecxel. Dari hasil analisis diperoleh 27 item soal
valid dan reliable dari jumlah keseluruhan sebanyak 45 item soal.
Penelitian ini dilaksanakan pada tiga tahap. Dimana pada tahap awal,
penelitian memberikan tes awal (pretes) berupa soal pilihan berganda untuk
mengetahui sejauhmana pengetahuan hasil belajar fisika peserta didik
46
terhadap materi yang akan diajarkan. Setelah tes diperoleh, hasil belajar
peserta didik di analisis secara deskriptif dan uji N-Gain. Berdasarkan analisis
tentang hasil belajar fisika peserta didik kelas XMIA2 SMA Muhammadiyah
Limbung menunjukkan bahwa kemampuan masing-masing peserta didik
masih sangat rendah. Kemudian dalam proses pembelajaran diberikan
treatment (perlakuan) berupa penerapan model pembelajaran Problem Based
Instruction. Setelah treatment, peserta didik diberikan soal (posttess) berupa
tes pilihan berganda. Dimana, soal pretest dan posttes itu sama tetapi pada
soal posttess yang diberikan peserta didik telah diacak terlebih dahulu.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka didapatkan
data hasil belajar Fisika peserta didik pada Pretest dan Posttest kemudian
dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis uji N-gain. Data yang
diperoleh dari analisis deskriptif pada skor rata-rata Posttest lebih besar dari
pada skor rata-rata Pretest. Berdasarkan uji N-gain, rata-rata N-Gain yang
diperoleh dari hasil belajar fisika peserta didik kelas XMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung berada pada kategori tinggi. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dengan menerapkan penggunaan model Problem Based
Instruction dalam kegiatan belajar mengajar memiliki dampak positif dalam
peningkatkan hasil belajar peserta didik.
Selama pengambilan data di SMA Muhammadiyah Limbung ada
beberapa kendala yaitu : kurangnya waktu yang efisien pada proses belajar
mengajar karena berhubung jadwal untuk mata pelajaran fisika dikelas XMIA2
SMA Muhammadiyah Limbung berada di jam terakhir sehingga siswa sudah
47
kurang fokus terhadap pembelajaran. Jadi, apa yang ingin dicapai dalam
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tidak terlaksana dengan baik, materi yang
seharusnya hanya satu pertemuan berubah menjadi dua pertemuan dan
membutuhkan waktu yang banyak dalam menyelesaikan satu materi.
Berdasarkan kendala yang peneliti temukan, maka cara mengatasi hal tersebut
dengan lebih meningkatkan kedisiplinan jam pelajaran.
Dalam pengambilan data, variabel yang ingin peneliti teliti yaitu hasil
belajar fisika peserta didik tetapi selama proses pengambilan data ada
variable lain yang peneliti temukan yaitu peserta didik terampil dalam
melakukan kegiatan dan keaktifan peserta didik dalam proses belajar
mengajar.
48
bahwa:
1. Hasil belajar fisika peserta didik sebelum diajar menggunakan model
Problem Based Instruction pada pembelajaran fisika peserta didik kelas
XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung dalam kategori rendah.
2. Hasil belajar fisika peserta didik setelah diajar menggunakan model
Problem Based Instruction pada pembelajaran fisika peserta didik kelas
XMIA2 SMA Muhammadiyah Limbung dalam kategori tinggi.
3. Terdapat peningkatan hasil belajar fisika peserta didik kelas XMIA2 SMA
Muhammadiyah Limbung setelah diajar dengan menggunakan model
pembelajaran Problem Based Instruction penilaiannya berada pada
kategori Tinggi dengan demikian pendekatan ini dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik.
hendaknya melakukan pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat
belajar peserta didik.
2. Karena adanya peningkatan hasil belajar yang signifikan dari penggunaan
pengajaran ini maka disarankan kepada guru fisika hendaknya dapat
48
49
yang menjadi acuan dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang lebih
baik untuk yang akan datang.
3. Diharapkan kepada para peneliti selanjutnya dibidang pendidikan apabila
ingin melakukan penelitian dengan judul yang sama agar penelitian lebih
disempurnakan lagi dengan peserta didik yang berbeda.
4. Diharapkan kelengkapan sarana dan prasarana terpenuhi agar
terlaksananya proses pembelajaran dengan baik terkhusus pada
pembelajaran IPA.
Aksara.
(Inovatif). Bandung: CV Yrama Widya.
Depdikbud. 2009. Evaluasi Dan Penilaian Proyek Perangkat Mutu Guru. Jakatra:
Dirjen dikdasmen.
(http://125.160.17.21/speedyorari/view.php?file=pendidikan/pelajaranseko
Hake,Richard. 2014. Analyzing Change Gain Scores. (Online), (http://list.asu.edu,
diakses 13 Juli 2017)
Kosasih. 2014. Strategi Belajar dan Pembelajaran. Bandung: CV Yrama Widya.
Nur, Muhammad. 2011. Model pembelajaran berbasis masalah. Suirabaya:
UNESA
Renol Afrizon, dkk. (2012). Peningkatan Perilaku Berkarakter Dan Keterampilan
Berpikir Kritis Siswa Kelas Ix Mtsn Model Padang Pada Mata Pelajaran
Ipa-Fisika Menggunakan Model Problem Based Instruction Renol Afrizon,
1(22),116.Retrievedfromhttp://ejournal.unp.ac.id/index.php/jppf/articlevi5
9
PT Mediyatama Sarana Perkasa.
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suprijono, Agus. 2014. Cooperatif Learning Teori & Aplikasi Paikem. Surabaya:
Pustaka Pelajar.
Trianto. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, Dan
Kontekstual. Jakarta: Prenadamedia Group.
MATA PELAJARAN : FISIKA
MATERI POKOK : GERAK
A. Kompetensi Inti
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan
metoda sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar
1.1 Menyadari kebesaran Tuhan yang menciptakan dan yang mengatur alam jagad
raya melalui pengamatan fenomena alam fisis dan pengukurnnya
53
wujud imlementasi sikap dalam melakukan percobaan, melaporkan, dan
berdiskusi
3.3 Menganalisis besaran-besaran fisis pada gerak lurus dengan kecepatan konstan dan
gerak lurus dengan percepatan konstan
Indikator:
2. Menjelaskan perbedaan jarak dan perpindahan
4.3 Menyajikan data dan grafik hasil percobaan untuk menyelidiki sifat gerak benda yang
bergerak lurus dengan kecepatan konstan dan gerak lurus dengan percepatan konstan.
Indikator :
1. Melakukan percobaan sederhana tentang hubungan antara jarak tempuh dengan
waktu tempuh
waktu
4. Mampu menggambarkan grafik posisi (perpindahan) terhadap waktu
C. Materi Pembelajaran
Fakta
1. Sebuah mobil di jalan tol bergerak dengan kecepatan tetap karena tidak
ada hambatan.
2. Sebuah mobil yang tidak menyadari didepannya ada kucing berlari
mendekat akan m
Konsep
2. Dilakukan percobaan sederhana
54
E. Media, Alat, dan Sumber Belajar Media : Power point dan LKPD
Alat :Spidol, Meja, Penggaris
Sumber belajar: Aip Saripuddin, Dkk. 2009.. Fisika Untuk SMA Kelas X
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
(seperti pada Gambar 2).
jawaban
siswa:
Fenomena
A:
1 1. Menjelaskan pengertian gerak
2. Menjelaskan perbedaan jarak,
1. Jelaskan pengertian gerak.
perpindahan !
acuan. Titik acuan sendiri
didefinisikan sebagai titik awal
kecepatan.
dalam selang waktu
tertentu. Perpindahan adalah
perubahan kedudukan suatu
s = 800 m
tempuh benda tiap waktu.
1 Kehadiran peserta didik
2 Keseriusan dalam belajar
3 Kerjasama dalam kelompok
1 Kehadiran peserta didik Hadir tepat waktu 3
Hadir telat 2
Tidak hadir 1
2 Keseriusan dalam
dibicarakan guru
yang dibicarakan guru
kelompok dan menyelesaikan
permasalahan pada LKPD
diskusi kelompok dan menyelesaikan
70
pengamatannya
3
5 Ketepatan
mengumpulkan tugas
tugas
3
6 Aktif berpendapat Peserta didik aktif mengemukakan
pendapatnya
3
pendapatnya
2
7 Tanggung Jawab Peserta didik mengumpulkan LKPD tepat
waktu dan mengisi LKPD dengan lengkap
3
tepat waktu dan mengisi LKPD dengan
lengkap
2
71
71
MATA PELAJARAN : FISIKA
MATERI POKOK : GERAK
A. Kompetensi Inti
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan
metoda sesuai kaidah keilmuan
1.2 Menyadari kebesaran Tuhan yang menciptakan dan yang mengatur alam
jagad raya melalui pengamatan fenomena alam fisis dan pengukurnnya
72
sebagai wujud imlementasi sikap dalam melakukan percobaan,
melaporkan, dan berdiskusi
3.3 Menganalisis besaran-besaran fisis pada gerak lurus dengan kecepatan konstan
dan gerak lurus dengan percepatan konstan
Indikator:
2. Menghitung kelajuan rata-rata
3. Menghitung kecepatan rata-rata
5. Menghitung besar percepatan rata-rata
6. Menghitung besar percepatan sesaat.
4.3 Menyajikan data dan grafik hasil percobaan untuk menyelidiki sifat gerak
benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan dan gerak lurus dengan
percepatan konstan.
Fakta
1. Sebuah mobil di jalan tol bergerak dengan kecepatan tetap karena
tidak ada hambatan.
2. Sebuah mobil yang tidak menyadari didepannya ada kucing berlari
mendekat akan mengerem hingga mobil berhenti
Konsep
2. Dilakukan percobaan sederhana
E. Media, Alat, dan Sumber Belajar
Media : Power point dan LKPD
Alat :Spidol, Meja, Penggaris
Kelas X Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
74
Alokasi
waktu
Memberikan Apersepsi dan motivasi
Guru memberikan apersepsi (menanyakan
dan motivasi kepada siswa berupa demonstrasi
kemudian memberikan pertanyaan kontekstual
Mengamati
Fenomena :
sentral dengan menggunakan mobil.
naik turun. Wati menanyakan kepada ayahnya
apakah sebenarnya yang ditunjukkan oleh
speedometer tersebut, apakah kelajuan ataukah
kecepatan mobilnya?
sejauh mana pengetahuan awal siswa terhadap
materi yang akan diajarkan)
pembelajaran.
Siswa memberikan
pertanyaan terkait
kelompok
didiskusikan dengan anggota kelompoknya
Guru memberikan petunjuk untukmengerjakan
LKPD secara berkelompok.
pada saat diskusi serta mengevaluasi kegiatan
siswa.
penilaian untuk kegiatan yang telah dilakukan
siswa).
telah didiskusikan siswa
kedepannya bisa lebih baik lagi dari
sebelumnya.
untuk bertanya
dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
Siswa mengerjakan kuis
No Indikator Soal Kunci jawaban Skor
1 1. Menghitung kelajuan
sekon. Kelajuan rata-rata
dan kecepatan rata-rata
dalam s, tentukan:
1.
Kelajuan rata-rata =
kecepatan suatu objek bergerak dalam selang
80
s dan t = 2 s!
waktu tertentu, sedangkan Percepatan sesaat
adalah percepatan suatu benda yang bergerak
dalam waktu tertentu.
t = 0s → v0 = (3 + (4)(0))i + 3(0) 2 j = 3i
t = 2s → v = v2 = (3 + (4)(2))i + 3(2) 2 j = 11 i +
12
81
1 Kehadiran peserta didik
2 Keseriusan dalam belajar
3 Kerjasama dalam kelompok
1 Kehadiran peserta didik Hadir tepat waktu 3
Hadir telat 2
Tidak hadir 1
2 Keseriusan dalam
dibicarakan guru
yang dibicarakan guru
kelompok dan menyelesaikan
permasalahan pada LKPD
diskusi kelompok dan menyelesaikan
diskusi kelompok dan menyelesaikan
pengamatannya
3
5 Ketepatan
mengumpulkan tugas
tugas
3
6 Aktif berpendapat Peserta didik aktif mengemukakan
pendapatnya
3
pendapatnya
2
7 Tanggung Jawab Peserta didik mengumpulkan LKPD tepat
waktu dan mengisi LKPD dengan lengkap
3
tepat waktu dan mengisi LKPD dengan
lengkap
2
83
84
MATA PELAJARAN : FISIKA
MATERI POKOK : GERAK
A. Kompetensi Inti
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan
metoda sesuai kaidah keilmuan
1.3 Menyadari kebesaran Tuhan yang menciptakan dan yang mengatur alam
jagad raya melalui pengamatan fenomena alam fisis dan pengukurnnya
85
sebagai wujud imlementasi sikap dalam melakukan percobaan,
melaporkan, dan berdiskusi
3.3 Menganalisis besaran-besaran fisis pada gerak lurus dengan kecepatan konstan
dan gerak lurus dengan percepatan konstan
Indikator:
2. Menghitung dengan menggunakan rumus gerak lurus beraturan
3. Menentukan berbagai persoalan yang berkaitan dengan gerak lurus
beraturan.
4.3 Menyajikan data dan grafik hasil percobaan untuk menyelidiki sifat gerak
benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan dan gerak lurus dengan
percepatan konstan.
2. Menyajikan grafik gerak lurus beraturan.
3. Menyimulkan pengertian gerak lurus beraturan berdasarkan hasil
percobaan.
Fakta
1. Sebuah mobil di jalan tol bergerak dengan kecepatan tetap karena
tidak ada hambatan.
2. Sebuah mobil yang tidak menyadari didepannya ada kucing berlari
mendekat akan mengerem hingga mobil berhenti
Konsep
Prosedur
D. Metode Pembelajaran
86
Media : Power point dan LKPD
Alat :Spidol, Meja, Penggaris
Kelas X Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
87
Alokasi
waktu
Memberikan Apersepsi dan motivasi
Guru memberikan gambaran tentang
memberikan gambaran tentang
aplikasinyadalam kehidupan sehari-hari.
pembelajaran.
kelompok
untuk didiskusikan dengan anggota
mengevaluasi kegiatan siswa.
siswa).
telah didiskusikan siswa
mempresentasikan hasil diskusi
sebelumnya.
diberikan oleh guru dan
mengetahui sejauh mana pengetahuan
diberikan.
Siswa mengerjakan kuis
salam penutup
1 6. Menjelaskan pengertian Gerak
Lurus Beraturan
lintasan lurus dan
datar
10 s
1 Kehadiran peserta didik
2 Keseriusan dalam belajar
3 Kerjasama dalam kelompok
1 Kehadiran peserta didik Hadir tepat waktu 3
Hadir telat 2
Tidak hadir 1
2 Keseriusan dalam
dibicarakan guru
yang dibicarakan guru
kelompok dan menyelesaikan
permasalahan pada LKPD
diskusi kelompok dan menyelesaikan
diskusi kelompok dan menyelesaikan
pengamatannya
3
5 Ketepatan
mengumpulkan tugas
tugas
3
6 Aktif berpendapat Peserta didik aktif mengemukakan
pendapatnya
3
pendapatnya
2
7 Tanggung Jawab Peserta didik mengumpulkan LKPD tepat
waktu dan mengisi LKPD dengan lengkap
3
tepat waktu dan mengisi LKPD dengan
lengkap
2
96
97
MATA PELAJARAN : FISIKA
MATERI POKOK : GERAK
A. Kompetensi Inti
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan
metoda sesuai kaidah keilmuan
1.4 Menyadari kebesaran Tuhan yang menciptakan dan yang mengatur alam
jagad raya melalui pengamatan fenomena alam fisis dan pengukurnnya
98
sebagai wujud imlementasi sikap dalam melakukan percobaan,
melaporkan, dan berdiskusi
3.3 Menganalisis besaran-besaran fisis pada gerak lurus dengan kecepatan konstan
dan gerak lurus dengan percepatan konstan
Indikator:
3. Menentukan berbagai persoalan yang berkaitan dengan GLBB
4.3 Menyajikan data dan grafik hasil percobaan untuk menyelidiki sifat gerak
benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan dan gerak lurus dengan
percepatan konstan.
2. Menyajikan GLBB
percobaan.
Fakta
1. Sebuah mobil di jalan tol bergerak dengan kecepatan tetap karena
tidak ada hambatan.
2. Sebuah mobil yang tidak menyadari didepannya ada kucing berlari
mendekat akan mengerem hingga mobil berhenti
Konsep
D. Metode Pembelajaran
99
Media : Power point dan LKPD
Alat :Spidol, Meja, Penggaris
Sumber belajar: Aip Saripuddin, Dkk. 2009.. Fisika Untuk SMA Kelas X
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Alokasi
waktu
kelompok
untuk didiskusikan dengan anggota
mengevaluasi kegiatan siswa.
dilakukan siswa).
mempresentasikan hasil diskusi
kelompoknya, dan memberikan
dari sebelumnya.
Siswa mempresentasikan
1 1. Menjelaskan pengertian Gerak
Lurus Berubah Beraturan.
2. Menghitung dengan
menggunakan rumus GLBB.
(GLBB) adalah situasi ketika
besar percepatan konstan dan
Guru memberikan kesempatan kepada
mengetahui sejauh mana pengetahuan
diberikan.
Siswa mengerjakan kuis
percepatan gravitasi ditempat
gesekan udara diabaikan,
sebelum kemudian jatuh ke
2. Dik:
105
1 Kehadiran peserta didik
2 Keseriusan dalam belajar
3 Kerjasama dalam kelompok
1 Kehadiran peserta didik Hadir tepat waktu 3
Hadir telat 2
Tidak hadir 1
2 Keseriusan dalam
dibicarakan guru
yang dibicarakan guru
kelompok dan menyelesaikan
permasalahan pada LKPD
diskusi kelompok dan menyelesaikan
diskusi kelompok dan menyelesaikan
pengamatannya
3
5 Ketepatan
mengumpulkan tugas
tugas
3
6 Aktif berpendapat Peserta didik aktif mengemukakan
pendapatnya
3
pendapatnya
2
7 Tanggung Jawab Peserta didik mengumpulkan LKPD tepat
waktu dan mengisi LKPD dengan lengkap
3
tepat waktu dan mengisi LKPD dengan
lengkap
2
107
108
MATA PELAJARAN : FISIKA
A. Kompetensi Inti
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak
terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan
metoda sesuai kaidah keilmuan
1.5 Menyadari kebesaran Tuhan yang menciptakan dan yang mengatur alam
jagad raya melalui pengamatan fenomena alam fisis dan pengukurnnya
109
sebagai wujud imlementasi sikap dalam melakukan percobaan,
melaporkan, dan berdiskusi
3.3 Menganalisis besaran-besaran fisis pada gerak lurus dengan kecepatan konstan
dan gerak lurus dengan percepatan konstan
Indikator:
1. Menjelaskan pengertian gerak jatuh bebas
2. Menganalisis besaran-besaran pada gerak vertical
4.3 Menyajikan data dan grafik hasil percobaan untuk menyelidiki sifat gerak
benda yang bergerak lurus dengan kecepatan konstan dan gerak lurus dengan
percepatan konstan.
2. Menyajikan hasil percobangerak jatuh bebas
3. Menyimulkan hasil percobaan
Konsep
D. Metode Pembelajaran
Metode :Ceramah, Demostrasi, Eksperimen, Diskusi dan Presentasi.
E. Media, Alat, dan Sumber Belajar Media : Power point dan LKPD
Alat :Spidol, Meja, Penggaris
Sumber belajar: Aip Saripuddin, Dkk. 2009. Fisika Untuk SMA Kelas X
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Alokasi
waktu
mengevaluasi kegiatan siswa.
Peserta didik memperhatikan
dilakukan siswa).
mempresentasikan hasil diskusi
kelompoknya, dan memberikan
lagi dari sebelumnya.
3 Penutup
Fase 5
(Menganalisi dan
mengetahui sejauh mana
1 1. Menjelaskan pengertian
sebuah benda yang
sekon. Jika benda mula-
searah dengan perpindahan
benda, maka tentukan:
selama 10 sekon.
gaya pada benda selama
gerak suatu benda yang
115
h = 12 x 1,2 – ½ x 10 x
1,22
1 Kehadiran peserta didik
2 Keseriusan dalam belajar
3 Kerjasama dalam kelompok
1 Kehadiran peserta didik Hadir tepat waktu 3
Hadir telat 2
Tidak hadir 1
2 Keseriusan dalam
dibicarakan guru
yang dibicarakan guru
kelompok dan menyelesaikan
permasalahan pada LKPD
diskusi kelompok dan menyelesaikan
diskusi kelompok dan menyelesaikan
pengamatannya
3
5 Ketepatan
mengumpulkan tugas
tugas
3
6 Aktif berpendapat Peserta didik aktif mengemukakan
pendapatnya
3
pendapatnya
2
7 Tanggung Jawab Peserta didik mengumpulkan LKPD tepat
waktu dan mengisi LKPD dengan lengkap
3
tepat waktu dan mengisi LKPD dengan
lengkap
2
118
118
benda tersebut mengalami perubahan
kedudukan suatu titik terhadap acuan tertentu.Seperti pada gambar disamping
terlihat bahwa perubahan posisi pembalap dari garis start menuju garis finish.Pada
saat benda bergerak maka ada dua hal yang terjadi yaitu ada terjadi perpindahan
dan jarak.
Perpindahan merupakan besaran vektor sehingga perpindahan dapat nyatakan
dalam suatu resultan perpindahan sumbu X dan sumbu Y seperti pada gambar
dibawah ini
Gambar 1.1
Persamaan 1.1
Besar resultan dari perpindahan kedua arah itu memenuhi dalil Pythagoras seperti
berikut
Persamaan1.2
Persamaan 1.3
Persamaan 1.4
Persamaan 1.5
B. TUJUAN
2. Menyajikan grafik yang berkaitan dengan besaran-besaran pada gerak
3. Menyimpulkan pengertian besaran-besaran dalam gerak berdasakan hasil
percobaan
120
C. PERCOBAAN
a. Kegiatan
1. Ukur lebar suatu ruangan kemudian buat garis lurus pada pada lebar
ruangan yang telah kalian ukur
2. Mintalah salah seorang dari teman kelompokmu berjalan dari suatu
tepi ruangan A ke tengah ruangan B kemudian terus ke tepi yang lain
yaitu C dan kemudian kembali ke B dengan kecepatan lambat,sedang
dan cepat,Seperti pada gambar dibawah ini
3. Catat waktu yang dibutuhkan teman kalian untuk berjalan dari A ke
B,dari B ke C dan dari C kembali ke B
4. Ulangi kegiatan b dan c dengan teman yang lain dengan kecepatan
yang berbeda
b. Analisis
percobaan diatas
lurus beraturan jika lintasan yang ditempuh oleh
benda itu berupa garis lurus dan kecepatannya selalu tetap setiap saat. Sebuah
benda yang bergerak lurus menempuh jarak yang sama untuk selang waktu yang
sama. Sebagai contoh, apabila dalam waktu 5 sekon pertama sebuah mobil
menempuh jarak 100 m, maka untuk waktu 5 sekon berikutnya mobil itu juga
menempuh jarak 100 m.Seperti pada gambar disamping terlihat sebuah mobil
yang sedang melaju pada lintasan yang lurus.
Secara matematis, persamaan gerak lurus beraturan (GLB) adalah:
......... Persamaan 2.1
v = kecepatan (m/s)
t = waktu yang diperlukan (s)
Jika kecepatan v mobil yang bergerak dengan laju konstan selama selang
waktu t sekon, diilustrasikan dalam sebuah grafik v-t, akan diperoleh sebuah garis
lurus, tampak seperti pada Gambar 2.2
123
D. TUJUAN
2. Peserta didik dapat melakukan percobaan sederhana tentang gerak lurus
beraturan (GLB)
3. Peserta didik dapat mengambar grafik gerak lurus beraturan (GLB)
4. Peserta didik dapat menyimpulkan pengertian gerak lurus beraturan (GLB)
D. PERCOBAAN
b. Kegiatan Percobaan
1. Pasanglah batu baterai baru pada mobil mainan,letakkan di atas papan
mendatar berpenggaris, dan on-kan baterainya, maka mobil itu akan
meluncur di atas papan.
2. Tentukan sepanjang lintasan papan mendatar dengan jarak tertentu s
berdasarkan penggaris yang tersedia, ukurlah waktunya dengan
stopwatch (t) ketika mobil mainan tersebut melintasi lintasan papan
mendatar tersebut.
124
3. Ulangilah langkah 2 dan 3 untuk berbagai panjang lintasan yang
berbeda.
c. Analisis
Percobaan Jarak (m) Waktu (t) Kecepatan(m/s)
2. Buatlah grafik hubungan antara jarak dengan waktu
3. Berdasarkan percobaan diatas diskusikan dengan teman kelompokmu
pengertian dari Gerak Lurus beraturan (GLB)
125
Hari/Tanggal :
Kelompok : ......................
atau mendekati konstan, yaitu jika percepatan tidak berubah
terhadap waktu. Situasi ketika besar percepatan konstan dan
gerak melalui garis lurus disebut gerak lurus berubah beraturan
(GLBB). Dalam hal ini, percepatan sesaat dan percepatan rata-
rata adalah sama.Salah satu contoh dari gerak lurus berubah
beraturanyang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari
adalah buah yang jatuh dari pohonnya seperti pada gambar disamping.
Terdapat banyak persamaan hubungan dalam gerak lurus berubah
beraturan (GLBB),seperti pada persamaan dibawah ini
….. Persamaan 3.1
Beraturan ( GLBB)
b. Peserta Didik Menyajikan grafik gerak lurus Berubah beraturan (GLBB)
c. Peserta Didik Menyimpulkan pengertian gerak lurus Berubah beraturan
(GLB) berdasakan hasil percobaan
mobilan diatas papan luncur
2. Tentukan sepanjang lintasan papan miring dengan jarak tertentu s
3. Lepaskan mobil-mobilan dan biarkan bergerak turun di sepanjang
papan luncur sambil menghitung waktu yang diperlukan mobil-
mobilan untuk sampai dibawah
4. Ulangi langkah 1 sampai 3 dengan panjang lintasan yang berbeda
5. Masukkan hasil data percobaan pada tabel yang tersedia.
127
Percobaan Jarak (m) Waktu (s) Kecepatan
(m/s)
Percepatan
pengertian dari Gerak Lurus berubah beraturan (GLBB)
128
Hari/Tanggal :
Kelompok : ......................
mengalami jatuh bebas dengan jarak yang tidak jauh dari
permukaan tanah. Kenyataan bahwa benda yang jatuh
mengalami percepatan, mungkin pertama kali tidak begitu
terlihat. Sebelum masa Galileo, orang mempercayai pemikiran bahwa benda yang
lebih berat jatuh lebih cepat dari benda yang lebih ringan, dan bahwa laju jatuh
benda tersebut sebanding dengan berat benda itu. Sumbangan Galileo yang
spesifik terhadap pemahaman kita mengenai gerak benda jatuh bebas dapat
dirangkum sebagai berikut:
“Pada suatu lokasi tertentu di Bumi dan dengan tidak adanya hambatan udara,
semua benda jatuh dengan percepatan konstan yang sama”.
129
Dimana:
t = waktu (s)
b. Gerak Vertikal
Percepatan gravitasi ini juga bekerja pada benda yang dilemparkan ke atas
tetapi akan memperlambat gerak benda. Sehingga secara umum percepatan
gravitasi berlaku untuk gerak vertikal.Gerak vertical terbagi menjadi dua yaitu
gerak vertical ke bawah dan gerak vertical keatas.
= kecepatan awal benda (m/s)
h = ketinggian benda (m)
g = percepatan gravitasi (10 )
t = waktu gerak (s)
H. TUJUAN
1. Peserta didik mampu Menyimpulkan pengertian Gerak jatuh bebas dan gerak
vertical berdasarkan kasus yang diberikan.
F. KASUS
130
1. Pada gambar A terlihat bahwa batu lebih dulu bergerak kebawah
dibandingkan kertas padahal keduanya dijatuhkan secara bersamaan, Jelaskan
penyebab dari gambar A!
2. Pada gambar B terlihat bahwa batu dan kertas bergerak bersamaan dan
keduanya dijatuhkan secara bersamaan,Jelaskan penyebab dari gambar B!
3. Berdasarkan kedua gambar diatas,jelaskan pengertian gerak jatuh bebas!
131
A B
1. Pada gambar A terlihat sebuah buah yang jatuh dari pohonnya,jelaskan
jenis gerak vertical dari gambar A beserta alasannya!
………………………………………………..…………………………………
……………..………………………………………………..
………………………………………………..…………………………………
……………..………………………………………………..
………………………………………………..…………………………………
……………..………………………………………………..
2. Pada gambar B terlihat seorang anak yang sedang melempar bola,jelaskan
jenis gerak vertical dari gambar B beserta alasannya!
………………………………………………..…………………………………
……………..………………………………………………..
………………………………………………..…………………………………
……………..………………………………………………..
………………………………………………..…………………………………
……………..………………………………………………..
………………………………………………..…………………………………
……………..………………………………………………..
dan gerak vertical kebawah!
………………………………………………..…………………………………
……………..………………………………………………..
………………………………………………..…………………………………
……………..………………………………………………..
………&hel

Recommended