Home > Documents > PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY BERBANTUAN …

PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY BERBANTUAN …

Date post: 28-Nov-2021
Category:
Author: others
View: 0 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 14 /14
DOI: 10.20961/paedagogia.v22i1. 23806 Hal.13-26 Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 22 No. 1,Februari Tahun 2019 http://jurnal.uns.ac.id/paedagogia p-ISSN 0126-4109; e-ISSN 2549-6670 Alamat korespondensi: Jl Ir. Sutami 36 A Jebres , Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126 e-mail: [email protected] 13 Received: 07 september , 2018 Accepted: 20 Mei, 2019 Online Published: 17 juni , 2019 PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY BERBANTUAN HIERARKI KONSEP DAPAT MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA Guided Discovery Learning With Concept Hierarki, Can Improve Critical Thinking Ability and Student Learning Achievements Putri Alvy Assa’Adah*, Ashadi, dan Sri Mulyani Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, Universitas Sebelas Maret Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar siswa kelas X MIPA 1 pada materi reaksi redoks di salah satu SMA Negeri di Surakarta melalui penerapan model pembelajaran Guided Discovery berbantuan hierarki konsep. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA 1. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, kajian dokumen, angket, dan tes. Validitas data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Guided Discovery berbantuan hierarki konsep dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (65,63% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II) dan prestasi belajar siswa (aspek pengetahuan 43,75% pada siklus I menjadi 90,63% pada siklus II) pada materi reaksi redoks. Sedangkan aspek sikap menunjukkan terjadi peningkatan persentase dari 90,63% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Ketercapaian aspek keterampilan sebesar 100% pada siklus I. Kata Kunci: guided discovery, hierarki konsep, kemampuan berpikir kritis Abstract: The purpose of this study is to improve the critical thinking skill and students’ learning achievement of X grade MIPA 1 in the material of redox reaction in one of senior high school of Surakarta through the application of Guided Discovery learning models that assisted by concept of hierarchy. The type of this research was Classroom Action Research (CAR). Subjects of this research were X grade MIPA 1. The technique of collecting data were taken by observation, interviews, document, questionnaires, and tests. The data validity of this research was tested by using triangulation technique. The result of this research showed that guided discovery learning model was assisted by concept of hierarchy could improved critical thinking skill (65.63% in the first cycle to 100% in the second cycle) and students’ learning achievement (on knowledge aspect was 43.75% in the first cycle to 90.63% in the second cycle) in the material of redox reaction. While the aspect of attitude showed that there was improvement of percentage from 90.63% in the first cycle to 100% in the second cycle. Percentage of skill aspect was 100% in the first cycle. Key word: Guided discovery, concept hierarchy, critical thinking ability,
Transcript
http://jurnal.uns.ac.id/paedagogia p-ISSN 0126-4109; e-ISSN 2549-6670
Alamat korespondensi: Jl Ir. Sutami 36 A Jebres , Kota Surakarta, Jawa Tengah 57126
e-mail: [email protected]
13
Received: 07 september , 2018 Accepted: 20 Mei, 2019 Online Published: 17 juni , 2019
PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY BERBANTUAN
BERPIKIR KRITIS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA
Guided Discovery Learning With Concept Hierarki, Can
Improve Critical Thinking Ability and Student Learning
Achievements
Putri Alvy Assa’Adah*, Ashadi, dan Sri Mulyani
Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, Universitas Sebelas Maret
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan prestasi belajar siswa kelas X MIPA 1 pada materi reaksi redoks di salah satu SMA Negeri di Surakarta melalui penerapan model pembelajaran Guided Discovery berbantuan hierarki konsep. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X MIPA 1. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, kajian dokumen, angket, dan tes. Validitas data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Guided Discovery berbantuan hierarki konsep dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (65,63% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II) dan prestasi belajar siswa (aspek pengetahuan 43,75% pada siklus I menjadi 90,63% pada siklus II) pada materi reaksi redoks. Sedangkan aspek sikap menunjukkan terjadi peningkatan persentase dari 90,63% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Ketercapaian aspek keterampilan sebesar 100% pada siklus I.
Kata Kunci: guided discovery, hierarki konsep, kemampuan berpikir kritis
Abstract: The purpose of this study is to improve the critical thinking skill and students’ learning achievement of X grade MIPA 1 in the material of redox reaction in one of senior high school of Surakarta through the application of Guided Discovery learning models that assisted by concept of hierarchy. The type of this research was Classroom Action Research (CAR). Subjects of this research were X grade MIPA 1. The technique of collecting data were taken by observation, interviews, document, questionnaires, and tests. The data validity of this research was tested by using triangulation technique. The result of this research showed that guided discovery learning model was assisted by concept of hierarchy could improved critical thinking skill (65.63% in the first cycle to 100% in the second cycle) and students’ learning achievement (on knowledge aspect was 43.75% in the first cycle to 90.63% in the second cycle) in the material of redox reaction. While the aspect of attitude showed that there was improvement of percentage from 90.63% in the first cycle to 100% in the second cycle. Percentage of skill aspect was 100% in the first cycle.
Key word: Guided discovery, concept hierarchy, critical thinking ability,
14 Jilid 22, Nomor 1,Februari 2019 , halaman 13-26
PENDAHULUAN
mengarahkan pembelajaran yang berpusat
rannya secara sendiri sedangkan guru ber-
peran sebagai fasilitator dalam pembelaja-
ran, sehingga diperlukan kreativitas dan
inovasi pembelajaran agar sesuai dengan
penerapan kurikulum 2013. Hal ini dapat
dilakukan melalui penerapan model –
model pembelajaran, seperti discovery
learning, project-based learning, problem-
(Mulyasa, 2015). Namun, ada salah satu
SMA Negeri di Surakarta yang
melaksanakan pembelajaran tidak dipusat-
tif dalam kegiatan belajar mengajar serta
siswa tidak memiliki kesempatan untuk
menggunakan pemikirannya dalam
lain, apabila siswa terbiasa menggunakan
pemikirannya maka siswa akan terbiasa
membedakan antara fakta dan opini, penge-
tahuan dan keyakinan sehingga akan
mengasah kemampuannya dalam berpikir
puan tersebut penting dimiliki oleh siswa
agar mampu memahami konsep, membuat
keputusan, lebih teliti, dan cermat
(Oktaviana, Saputro, & Utami, 2016). Pada
saat pembelajaran, siswa harus diberikan
kesempatan untuk berpikir, mendiskusikan
pemikirannya dengan teman ataupun
berkembang (Santrock, 2011).
Kritis Siswa Kelas X MIPA 1
di Salah Satu SMA Negeri di
Surakarta Tahun Pelajaran
lah satu SMA Negeri di Surakarta, guru
tidak terbiasa menggunakan metode
mengakibatkan sebagian besar kemam-
di SMA Negeri tersebut masih rendah. Hal
ini didukung oleh data tes prasiklus yang
menunjukkan kategori kemampuan ber-
pada Tabel 1.
Berdasarkan Tabel 1, persentase
ketercapaian kemampuan berpikir kritis
rendah. Oleh karena itu, diperlukan pe-
nanganan kemampuan berpikir kritis dalam
setiap mata pelajaran, salah satunya mata
pelajaran kimia, mengingat kimia merupa-
kan mata pelajaran yang berhubungan
dengan konsep, dari konsep yang paling
sederhana sampai konsep yang lebih kom-
pleks. Berkaitan dengan hal tersebut, maka
kemampuan berpikir kritis sangat penting
bagi siswa agar dapat memahami kimia.
(Gluck, Gilmore, & Dillihunt, 2015).
Berdasarkan hasil wawancara, siswa
beranggapan bahwa kimia merupakan
haman konsep yang baik, dan abstrak.
Anggapan tersebut terjadi karena siswa
tidak terbiasa menggunakan pemikiran
ga berdampak pada rata – rata prestasi bela-
jar yang rendah. Hal ini dapat diketahui dari
nilai rata- rata Ulangan Tengah Semester
Ganjil kelas X MIPA 1 di SMA Negeri
tersebut mendapat nilai rata – rata paling
rendah diantara lima kelas yaitu sebesar 49.
Salah satu materi kimia yang diang-
gap sulit oleh siswa untuk dipelajari adalah
reaksi redoks. Materi ini merupakan materi
yang abstrak, memuat simbol – simbol, ter-
dapat reaksi kimia, dan konsep – konsep
redoks yang memerlukan pemahaman kon-
sep baik, dan aktif untuk berlatih
mengerjakan soal. Selain itu dibutuhkan
pemahaman yang baik pada materi sebe-
lumnya yaitu sistem periodik unsur dan
ikatan kimia. Kesulitan yang dialami siswa
terjadi karena siswa cenderung menghafal-
kan konsep sehingga tidak terbiasa
mengasah kemampuan berpikir kritisnya.
Hal ini dibuktikan dari data nilai ulangan
harian guru kelas X MIPA 1 yang menun-
jukkan bahwa nilai ulangan harian kimia
pada materi ikatan kimia masih rendah
dengan ketuntasan siswa hanya 34,38%.
Berdasarkan permasalahan di atas,
untuk memperbaiki kualitas dan hasil pem-
belajaran, yaitu melalui penerapan model
pembelajaran guided discovery. Penerapan
konsep yang ditemukannya, sehingga
pemahaman dan prestasi belajar siswa akan
meningkat (Swaak, De Jong, & Van
Joolingen, 2004). Hal ini ditunjukkan dari
penelitian sebelumnya yang menyatakan
(Haris, Rinanto, & Fatmawati, 2015).
menggunakan model pembelajaran yang
dapat digunakan sebagai pendukung model
pembelajaran guided discovery adalah
digunakan untuk materi reaksi redoks. Kare-
na pada materi reaksi redoks, terdapat kon-
sep-konsep yang berhubungan dengan kon-
sep sebelumnya. Dengan demikian, konsep
tersebut harus disusun secara hierarki agar
mudah dikuasai dan dipahami melalui
penemuan sendiri sehingga pengetahuan
berupa hafalan dan dapat mengerjakan soal
reaksi redoks dengan baik (Rahayu,
Widodo, & Supartono, 2010). Dengan
demikian, pembelajaran guided discovery
berbantuan hierarki konsep diharapkan
dapat meningkatkan kemampuan berpikir
MIPA 1 di SMA Negeri tersebut
METODE PENELITIAN
klus dengan setiap siklus terdiri dari 4
tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan,
Penelitian tindakan kelas ini
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas
X MIPA 1 tahun pelajaran 2017/2018 di
salah satu SMA Negeri di Surakarta
yang digunakan dalam penelitian ini.
Objek penelitian ini adalah kemampuan
berpikir kritis dan prestasi belajar yang
terdiri dari aspek pengetahuan, sikap,
dan keterampilan. Penelitian ini
servasi, tes, dan angket. Data yang di-
peroleh dianalisis dengan cara deskriptif.
Teknik uji validitas data yang digunakan
pada penelitian ini adalah observasi, wa-
wancara, kajian dokumen atau angket.
Teknik analisis data mengacu pada Miles
dan Huberman yang meliputi reduksi
data, penyajian data, penarikan
kesimpulan, dan verifikasi (Sugiyono,
kemampuan berpikir kritis diperoleh
kesimpulan bahwa kemampuan berpikir
salah satu SMA Negeri di Surakarta masih
rendah. Dengan demikian, diperlukan suatu
tindakan untuk meningkatkan kemampuan
lalui penerapan model pembelajaran yang
sesuai dengan permasalahan di atas yaitu
model pembelajaran Guided Discovery.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
si sikap siswa, lembar observasi aspek
keterampilan presentasi, lembar penilaian
Pelaksanaan Tindakan
dirancang dalam 3 kali pertemuan (6JP) un-
tuk penyampaian materi dan satu pertemuan
(3JP) untuk tes siklus I. Rencana pelaksa-
naan pembelajaran tersebut berdasarkan
siklus I meliputi perkembangan konsep
reaksi redoks, penentuan bilangan oksidasi,
penentuan oksidator dan reduktor, penen-
tuan reaksi redoks, bukan reaksi redoks, dan
reaksi autoredoks. Setiap pertemuan siswa
belajar dalam kelompok untuk memecahkan
permasalahan yang diberikan berkaitan
Observasi Tindakan
observasi sikap. Sedangkan penilaian
pertemuan.
pada siklus I aspek pengetahuan disajikan
pada Tabel 2.
Tabel 2. Ketuntasan Prestasi Belajar
Aspek Pengetahuan
Kategori Jumlah
aspek pengetahuan belum mencapai target
yang ditentukan yaitu 75% siswa tuntas. Se-
dangkan hasil penilaian sikap siswa dapat
dilihat pada Gambar 1.
Pada siklus I ketuntasan siswa aspek
sikap sebesar 90,63% serta semua indikator
dan aspek sudah mencapai target yang diten-
tukan. Dengan demikian, penelitian aspek
sikap dilanjutkan pada siklus II untuk
mengetahui peningkatan yang terjadi.
Sedangkan hasil penilaian prestasi
pada Tabel 3.
Keeterampilan
Capaian
diketahui bahwa ketarampilan membuat
ditentukan. Dengan demikian, penilaian
II.
akukan sebelum siklus I dan pada akhir si-
klus. Penilaian kemampuan berpikir kritis
dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Persentase Ketercapaian
Berdasarkan persentase tersebut
dan tinggi sejumlah 65,63 %. Dengan
demikian, kemampuan berpikir kritis siswa
pada siklus I belum tercapai.
Refleksi
dan kemampuan berpikir kritis belum men-
capai target. Oleh karena itu, perlu diada-
kan tindakan pada siklus II agar seluruh
indikator dapat tuntas. Perbaikan tersebut
berupa menyusun RPP yang lebih difokus-
kan pada indikator kompetensi yang belum
dikuasai oleh siswa.
yang dibahas difokuskan pada indikator
kompetensi yang belum tuntas pada siklus
I, yaitu menentukan bilangan oksidasi suatu
unsur dalam molekul atau ion dan menen-
tukan reaksi redoks, bukan reaksi redoks,
dan reaksi autoredoks. Pada siklus II ini
juga untuk memperbaiki dan menyempur-
nakan kendala yang terdapat pada siklus I.
Alokasi waktu pada siklus II
sebanyak 5 JP, dengan 3 JP penyampaian
materi dan 2 JP evaluasi siklus II.
Observasi Tindakan
aspek pengetahuan siklus II dapat dilihat
pada Tabel 4.
Siklus II.
Kategori Jumlah
indikator kompetensi telah mencapai target
penelitian. Selain itu, pada tabel tersebut
dapat diketahui juga bahwa terdapat 3
siswa yang tidak tuntas dari 32 siswa. Hal
itu terjadi karena pada siklus II, pembelaja-
ran lebih difokuskan kepada indikator
kompetensi yang belum dipahami oleh
siswa sehingga siswa yang belum me-
mahami materi menanyakan kepada siswa
yang memiliki pemahaman lebih atau
kepada guru. Hal itu dilakukan dengan
menerapkan model pembelajaran guided
discovery melalui kegiatan diskusi.
memantau siswa dalam berdiskusi sehing-
ga guru bisa mengetahui siswa yang belum
paham dan memberikan bantuan berupa
arahan dalam memecahkan soal.
Analisis aspek sikap siklus II
disajikan pada Gambar 3.
Belajar Siswa Aspek Sikap
ketercapaian aspek sikap.
dilihat pada Tabel 5.
Kritis Siswa Siklus II
klus II sudah mencapai target yang diten-
tukan, yaitu ketercapaian pada siklus II
100%. Berdasarkan analisis indikator
target yang ditentukan.
keterampilan, dan kemampuan berpikir
Perbandingan Tindakan Antar Siklus
siklus II kemudian dibandingan dengan
tujuan untuk mengetahui adanya pening-
katan selama tindakan siklus I dan siklus II
yang disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Perbandingan Hasil Siklus I
dan Siklus II.
Berdasarkan Gambar 4 menunjukkan
terjadinya peningkatan capaian untuk
kecuali pada aspek keterampilan karena te-
lah mencapai target pada siklus I sehingga
tidak dilanjutkan ke siklus II.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa pembelajaran guided discovery
dapat meningkatkan kemampuan berpikir
reaksi redoks kelas X MIPA 1 di salah satu
SMA Negeri di Surakarta tahun pelajaran
2017/2018.
Pembahasan
covery, siswa tidak menerima hasil akhir
maupun menghafal konsep melainkan
sendiri konsep dari materi yang dipelajari
sedangkan guru bertindak sebagai fasilita-
tor dan memberikan bimbingan berupa
petunjuk-petunjuk untuk membangun dan
Media ini berfungsi untuk mengubah cara
belajar siswa yang semula hafalan menjadi
belajar bermakna. Hal itu seperti pada
penjelasan teori belajar Ausubel dimana
dengan belajar bermakna maka penge-
tahuan yang didapatkan oleh siswa akan
bertahan lebih lama dan dapat meningkat-
kan pemahaman siswa (Dahar, 2011).
Berdasarkan hasil observasi siklus I,
keaktifan siswa cukup baik dan keaktifan
siswa semakin meningkat pada siklus II.
Hal ini menandakan bahwa penerapan
model pembelajaran guided discovery
dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Bruner yang menyarankan agar siswa-
siswa hendaknya belajar melalui partisipasi
secara aktif dengan konsep dan prinsip –
prinsip agar memperoleh pengalaman un-
tuk menemukan prinsip – prinsip itu sendiri
(Dahar, 2011). Sementara itu, sumbangsih
dari teori belajar Vigotsky yaitu terjadinya
interaksi sosial antara guru dan siswa serta
antarsiswa dalam kegiatan diskusi. Hal ini
dapat meningkatkan keaktifan dan kemam-
puan siswa dalam berpikir. Menurut Vigot-
sky perkembangan pengetahuan siswa
belajar melalui pemecahan masalah yang
dilakukan secara diskusi dengan teman
sebaya maupun dengan guru.
prasiklus sampai dengan siklu II, aspek
kemampuan berpikir kritis dan prestasi
22 Jilid 22, Nomor 1,Februari 2019 , halaman 13-26
belajar aspek pengetahuan mengalami
implementasi model pembelajaran guided
guru mendorong siswa untuk terlibat aktif
dalam pembelajaran baik dalam kegiatan
diskusi untuk menemukan konsep maupun
dalam tanya jawab. Menurut teori belajar
Bruner, perkembangan intelektual meliputi
dengan penemuan dapat meningkatkan
penalaran, kemampuan berpikir kritis,
sehingga dapat memecahkan masalah
Hal ini juga didukung oleh penelitian
terdahulu yang menjelaskan bahwa kelebi-
han model penemuan terbimbing adalah
melibatkan siswa secara aktif dalam proses
pembelajaran sehingga dapat mengem-
(Windarti, Tjandrakirana, & Widodo,
terhadap prestasi belajar siswa dan kemam-
puan berpikir kritis.
karena penerapan model pembelajaran
mecahkan soal. Pada model pembelajaran
ini, konsep yang diperoleh melalui diskusi
dengan teman akan lebih bertahan lama da-
lam ingatan siswa sehingga pembelajaran
menjadi bermakna. Hal ini terjadi karena
dalam berdiskusi siswa saling bertukar pen-
dapat dan berdebat mengenai suatu masa-
lah, sehingga akan memotivasi siswa untuk
menemukan sebuah konsep dan berusaha
untuk memecahkan suatu masalah. Proses
ini akan membuat siswa untuk
menganalisis argumen, mengidentifikasi
pertimbangan terhadap konsep dan
akan membuat siswa menggunakan
kemampuan berpikirnya sehingga dapat
jadi karena siswa berani bertanya mengenai
materi yang belum dikuasai baik dengan te-
man maupun dengan guru. serta guru lebih
Putri Alvy Assa’Adah,dkk. Pembelajaran Guided Discovery......... 23
intensif dalam memberikan bimbingan
menyatakan bahwa perkembangan penge-
mana siswa belajar melalui pemecahan
masalah yang dilakukan secara diskusi
dengan teman sebaya maupun dengan guru
(Suyono & Hariyanto, 2015). Dengan
dikenal dengan pemberian bantuan yang
diberikan oleh teman sebaya atau orang de-
wasa yang lebih kompeten kepada siswa
yang kurang kompeten (Suprihatiningrum,
mendorong siswa untuk meningkatkan
menyatakan bahwa dalam kegiatan
siswa yaitu siswa yang memiliki kemam-
puan tinggi menjelaskan ke siswa yang
memiliki kemampuan rendah ketika siswa
mengalami kesulitan. Melalui interaksi
bat aktif dalam pembelajaran, bertanya dan
menjawab pertanyaan, serta memiliki
berikan pengaruh terhadap pencapaian
ketuntasan belajarnya (Slameto, 2013).
klus II mengalami peningkatan menjadi
100% siswa yang terbagi dalam kategori
sangat baik dan baik. Peningkatan ini bisa
diatasi dengan cara memberikan
bimbingan dapat meningkatkan perilaku
siswa yang tadinya malu sudah berani ber-
tanya kepada teman dan guru mengenai
materi yang dianggapnya sulit, dan siswa
merasa termotivasi untuk belajar dalam ke-
lompok (Novita & Anggo, 2016).
seperti waktu yang terbatas untuk menga-
dakan penilaian seluruh siswa, siswa yang
terlalu banyak sehingga sulit melakukan
pengawasan, dan siswa yang kurang pintar
24 Jilid 22, Nomor 1,Februari 2019 , halaman 13-26
akan merasa minder. Akan tetapi, hal terse-
but bisa diatasi dengan membagi waktu
sebaik mungkin. Setiap siswa diberikan
waktu yang sama dalam mempresentasikan
hasil kerjanya, memberikan motivasi dan
membagi tugas sama rata agar tidak ada
siswa yang minder serta dengan dibantu
oleh observer sehingga penilaian tidak
bersifat subjektif dan tetap dalam
pengawasan.
menggunakan nilai optimum, yaitu dari dua
bentuk penilaian diambil nilai yang paling
tinggi untuk digunakan sebagai nilai
keterampilan. Oleh karena itu, hasil yang
diperoleh telah mencapai target yaitu
persentase ketercapaian pada siklus I sebe-
sar 100%. Hal ini berarti bahwa penilaian
aspek keterampilan tidak dilakukan kem-
bali pada siklus II. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran guided discovery
katkan kemampuan berpikir kritis dan pres-
tasi belajar siswa pada materi reaksi redoks
kelas X MIPA 1 di salah satu SMA Negeri
di Surakarta tahun pelajaran 2017/2018.
SIMPULAN
pembelajaran guided discovery berbantuan
hierarki konsep dapat meningkatkan
belajar siswa pada materi reaksi redoks ke-
las X MIPA 1 di salah satu SMA Negeri di
Surakarta tahun pelajaran 2017/2018.
mi peningkatan dari siklus I ke siklus II,
yaitu dari 65,63% menjadi 100%. Prestasi
belajar aspek pengetahuan pada siklus I
sebesar 43,75% selanjutnya menjadi
batas ketuntasan semuanya. Prestasi belajar
aspek sikap pada siklus I yaitu siswa yang
mendapat nilai Sangat Baik (SB) sebanyak
28%, Baik (B) sebanyak 63%, Cukup (C)
sebanyak 9%, sehingga persentase
90,63%. Pada siklus II mengalami pening-
katan yaitu persentase ketercapaian aspek
sikap siswa dengan kategori minimal Baik
(B) sebanyak 100%. Sedangkan pada aspek
keterampilan, persentase ketercapaian
yaitu sebanyak 100% siswa pada siklus I.
Romadhoni Setyo Nugroho,. Pengaruh Kompetensi Guru......... 25
DAFTAR PUSTAKA
Akinbobola, A. O. and Afolabi, F. 2009. Constructivist Practicies Through Guided
Discovery Approach: The Effect on Students' Cognitive Achievements in Nigerian
Senior Secondary School Physics Bulg. J. Sci. Educ. Policy, 3(2), pp. 233–252.
Dahar, R.W. 2011. Teori - Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta: PT Gelora Aksara
Pratama.
Gluck, L. Gilmore, M. W. and Dillihunt, M. 2015. Advantages of Using Innovative
Technological Pedagogy to Teach Chemistry in Secondary Schools.Mod. Chem.
Appl.,3(3).6-16
Haris, F., Rinanto,Y., dan Fatmawati, U. 2015. Pengaruh Model Guided Discovery
Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik. Jurnal Pendidik Biologi. 7(2),
pp. 114–122.
Meningkatkan Kualitas Proses Dan Hasil Belajar Materi Stoikiometri.Jurnal
Pendidikan Kimia (JPK). 4 (1), pp. 10–19.
Johnson, E.B. 2007. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar -
Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna. Bandung: Mizan Media Utama.
Karim, A. 2011. Studi Peran IMSTEP dalam Penguatan Program Pendidikan Guru MIPA
di Indonesia. Jurnal Penelitian. Pendidik,1(1), pp. 154–163.
Mulyasa, E. 2015. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Novak, J. D. and Gowin, D. B. 1984. Learning How to Learn. Cambridge: Cambridge
University Press.
Novita, S. and Anggo, M. 2016. Efektivitas Penggunan Model Pembelajaran Guided
Discovery (Penemuan Terbimbing) Terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir
Kritis Matematik Siswa Kelas VII SMP Negeri 10 Kendari Jurnal Penelitian
Pendidikan. Matematika, vol. 4, no. 1, pp. 127–140.
Oktaviana, I. A, Saputro, A. N. C.and Utami, B. 2016. Upaya Peningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis dan Prestasi Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) Dilengkapi Modul Pada Materi Kelarutan dan Hasil
Kali Kelarutan. Jurnal Pendidikan Kimia, vol. 5, no. 1, pp. 143–152.
Rahayu, S., Widodo, A. T. dan Supartono. 2010 Pengembangan Model Pembelajaran
Advance Organizer untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa. Jurnal
Inovasi Pendidikan Kimia, 4(1), 127-140
26 Jilid 22, Nomor 1,Februari 2019 , halaman 13-26
Sanjaya, W. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Santrock, J. W. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika.
Slameto. 2013. Belajar dan Faktor - faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
R&D, 5th ed. Bandung: Alfabeta.
Suprihatiningrum. 2013. Strategi Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Suyono and Hariyanto. 2015 Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Swaak, J., De Jong, T., and Van Joolingen, W. R. 2004. The Effects of Discovery
Learning and Expository Instruction on The Acquisition of Definitional And
Intuitive Knowledge J. Comput. Assist. Learn., vol. 20, no. 4, pp. 225–234.
Windarti, Tjandrakirana, and Widodo. 2013. Melatih Keterampilan Berpikir Kritis
Menggunakan Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery)
Pada Siswa SMP. Jurnal Pendidikan Sains Pascasarjana Universitas Negeri
Surabaya. 3 (1), pp. 274–281.

Recommended