Home > Documents > Pemantauan Kualitas Udara

Pemantauan Kualitas Udara

Date post: 03-Sep-2015
Category:
Author: dewiyudia
View: 29 times
Download: 2 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 19 /19
Nama : Dewi Yudianingrum NRP : 3312100088 Mata Kuliah : Pemantauan Kualitas Udara Kelas : A UTS PEMANTAUAN KUALITAS UDARA 2013/2014 Soal No. 1 Rencana pemantauan kualitas udara ambien di Kota Blitar a. Gambaran umum mengenai Kota Blitar: Kota Blitar merupakan sebuah kota yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 167 km sebelah selatan Blitar dan berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. 22/1999, Kota Blitar ditetapkan sebagai daerah kota kecil dengan luas wilayah 32,58 km². Kota Blitar terletak di sebelah selatan Provinsi Jawa Timur, berada di kaki Gunung Kelud dengan ketinggian 156 meter dari permukaan laut, dan bersuhu udara rata-rata cukup sejuk antara 24°–34° Celsius. (id.wikipedia.org, 2014) Kota Blitar terdiri atas tiga kecamatan, yaitu Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo. Jumlah penduduk Kota Blitar tahun 2008 adalah 133.306 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 4.093 jiwa/km². (BPS dan BAPPEDA Kota Blitar, 2009) Lahan terbangun di Kota Blitar seluas 1.416.834 Ha atau sekitar 47.28 % dari keseluruhan wilayah. Proporsi terbesar penggunaan tanahnya adalah lahan permukiman, perumahan, kampung dan lahan persawahan. Sawah irigasi teknis masih cukup dominan keberadaannya. (Pemerintah Kota Blitar, 2012) b. Kualitas udara di Kota Blitar: Saat ini, pemantauan kualitas udara di Kota Blitar dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH). Pemantauan dilakukan melalui pemasangan jaringan pemantau kualitas udara ambien. Jaringan ini akan melakukan pengukuran secara langsung terhadap berbagai polutan pencemar. Kualitas udara di Kota Blitar masih dalam kondisi aman memenuhi baku mutu sesuai dengan Peraturan Gubernur nomor 10 tahun 2009. Data-data tersebut dapat dirinci sebagai berikut :
Transcript
  • Nama : Dewi Yudianingrum

    NRP : 3312100088

    Mata Kuliah : Pemantauan Kualitas Udara

    Kelas : A

    UTS PEMANTAUAN KUALITAS UDARA 2013/2014

    Soal No. 1

    Rencana pemantauan kualitas udara ambien di Kota Blitar

    a. Gambaran umum mengenai Kota Blitar:

    Kota Blitar merupakan sebuah kota yang terletak di bagian selatan Provinsi Jawa Timur,

    Indonesia. Kota ini terletak sekitar 167 km sebelah selatan Blitar dan berbatasan dengan Kabupaten

    Blitar. Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang No. 22/1999, Kota Blitar ditetapkan sebagai

    daerah kota kecil dengan luas wilayah 32,58 km.

    Kota Blitar terletak di sebelah selatan Provinsi Jawa Timur, berada di kaki Gunung Kelud

    dengan ketinggian 156 meter dari permukaan laut, dan bersuhu udara rata-rata cukup sejuk antara

    2434 Celsius.

    (id.wikipedia.org, 2014)

    Kota Blitar terdiri atas tiga kecamatan, yaitu Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.

    Jumlah penduduk Kota Blitar tahun 2008 adalah 133.306 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar

    4.093 jiwa/km.

    (BPS dan BAPPEDA Kota Blitar, 2009)

    Lahan terbangun di Kota Blitar seluas 1.416.834 Ha atau sekitar 47.28 % dari keseluruhan

    wilayah. Proporsi terbesar penggunaan tanahnya adalah lahan permukiman, perumahan, kampung

    dan lahan persawahan. Sawah irigasi teknis masih cukup dominan keberadaannya.

    (Pemerintah Kota Blitar, 2012)

    b. Kualitas udara di Kota Blitar:

    Saat ini, pemantauan kualitas udara di Kota Blitar dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup

    (BLH). Pemantauan dilakukan melalui pemasangan jaringan pemantau kualitas udara ambien.

    Jaringan ini akan melakukan pengukuran secara langsung terhadap berbagai polutan pencemar.

    Kualitas udara di Kota Blitar masih dalam kondisi aman memenuhi baku mutu sesuai dengan

    Peraturan Gubernur nomor 10 tahun 2009. Data-data tersebut dapat dirinci sebagai berikut :

  • Kota/Propinsi : Blitar /Jawa Timur

    Tahun Data : 2009

    No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    1 2 3 4 5

    Lokasi :

    Jl. Tanjung Tlumpu Jl.

    Cemara

    Pintu masuk

    terminal

    Cargo

    Jl.

    Veteran

    1 jam 0,0111 0,0105 0,0098 0,0128 0,0135

    1. SO2 g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    1 jam < LD < LD < LD < LD < LD

    2. CO g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    1 jam 0,0015 0,0021 0,0011 0,0051 0,0032

    3. N02 g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    4. O3 g/Nm3

    1 jam < LD 0,0012 < LD 0,0035 0,0015

    1 tahun

    5. HC g/Nm3 3 jam - -

    6. PM10 g/Nm3 24 jam

    7. PM2.5 g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

    8. TSP g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

  • No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    1 2 3 4 5

    9. Pb g/Nm3

    24 jam 0,0004 0,0003 < LD < LD 0,0002

    1 tahun

    10. Dustfall g/Nm3 30 hari 0,039 0,105 0,048 0,089 0,059

    11. Total Fluorides

    sebagai F g/Nm3

    24 jam

    90 hari

    12. Fluor Index g/Nm3 30 hari

    13.

    Khlorine &

    Khlorine

    Dioksida

    g/Nm3 24 jam

    14. Sulphat Index g/Nm3 30 hari

    No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    6 7 8 9 10

    Lokasi :

    Jl.

    Halmahera

    Jl. Bali Jl. Imam

    Bonjol

    (Pertigaan

    SMA)

    Jl.

    Sudanco

    Supriyadi

    (depan

    Gudang

    Bulog)

    Pertigaan

    Hotel

    Herlingga

    Jl.

    Sudanco

    Supriadi

    1 jam 0,0174 0,0194 0,0156 0,0149 0,0136

    1. SO2 g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    1 jam < LD < LD < LD < LD < LD

    2. CO g/Nm3 24 jam

  • No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    6 7 8 9 10

    1 tahun

    1 jam 0,0017 0,0017 0,0019 0,0028 0,0022

    3. N02 g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    4. O3 g/Nm3

    1 jam 0,0022 0,0018 0,0016 < LD < LD

    1 tahun

    5. HC g/Nm3 3 jam

    6. PM10 g/Nm3 24 jam

    7. PM2.5 g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

    8. TSP g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

    9. Pb g/Nm3

    24 jam < LD < LD < LD < LD < LD

    1 tahun

    10. Dustfall g/Nm3 30 hari 0,079 0,089 0,076 0,086 0,073

    11.Total Fluorides

    sebagai F g/Nm3

    24 jam

    90 hari

    12. Fluor Index g/Nm3 30 hari

    13. Khlorine & Khlorine

    Dioksida g/Nm3 24 jam

    14. Sulphat Index g/Nm3 30 hari

  • No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    11 12 13 14 15

    Lokasi :

    Tengah

    Taman

    Kota

    Kebon

    Rojo

    Perempatan

    Apotek Lovi

    Jl. A Yani

    Depan

    KLH Kota

    Blitar

    Perbatasan

    Kota Jl.

    Ciliwung

    Perbatasan

    Kota , Jl.

    Sukarno -

    Hatta

    1 jam 0,0036 0,0073 0,0092 0,0073 0,0083

    1. SO2 g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    1 jam < LD < LD < LD < LD < LD

    2. CO g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    1 jam 0,0003 0,0005 0,0041 0,0028 0,0082

    3. N02 g/Nm3 24 jam

    g/Nm3 1 tahun

    4. O3 g/Nm3

    1 jam < LD 0,0012 < LD < LD 0,0032

    1 tahun

    5. HC g/Nm3 3 jam

    6. PM10 g/Nm3 24 jam

    7. PM2.5 g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

    8. TSP g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

    9. Pb g/Nm3 24 jam < LD < LD 0,0002 < LD 0,0002

  • No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    11 12 13 14 15

    1 tahun

    10. Dustfall g/Nm3 30 hari 0,042 0,076 0,127 0,095 0,126

    11.Total Fluorides

    sebagai F g/Nm3

    24 jam

    90 hari

    12. Fluor Index g/Nm3 30 hari

    13.

    Khlorine &

    Khlorine

    Dioksida

    g/Nm3 24 jam

    14. Sulphat Index g/Nm3 30 hari

    No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    16 17 18 19 20

    Lokasi :

    Pintu

    masuk

    Makam

    Bung

    Karno

    Alun-alun

    Kota Blitar

    Jl. Merdeka

    Pasar

    Templek

    Jl.

    Anggrek

    Pertigaan

    Depan

    SMA YP,

    Jl.

    Tanjung

    Depan

    Pasar

    Legi

    1 jam 0,0066 0,0053 0,0076 0,0074 0,0073

    1. SO2 g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    1 jam < LD < LD < LD 0,18 0,11

    2. CO g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    1 jam 0,0009 0,0037 0,0039 0,0075 0,0058

    3. N02 g/Nm3 24 jam

    1 tahun

  • No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    16 17 18 19 20

    4. O3 g/Nm3

    1 jam 0,0014 < LD < LD < LD < LD

    1 tahun

    5. HC g/Nm3 3 jam

    6. PM10 g/Nm3 24 jam

    7. PM2.5 g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

    8. TSP g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

    9. Pb g/Nm3

    24 jam < LD 0,0002 < LD 0,0001 0,0002

    1 tahun

    10. Dustfall g/Nm3 30 hari 0,077 0,078 0,101 0,145 0,123

    11. Total Fluorides

    sebagai F g/Nm3

    24 jam

    90 hari

    12. Fluor Index g/Nm3 30 hari

    No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    21 22 23 24 25

    Lokasi :

    Depan

    Pasar

    Hewan

    Dimoro,

    Jl. Kali

    Brantas

    Jl.

    Bengawan

    Solo

    Perbatasan

    Kota Jl.

    Kalimas

    Jl.

    Aryo

    Depan

    Patung

    Koi Jl. Kali

    Brantas

    1 jam 0,0092 0,0098 0,0098 0,0117 0,0111

    1. SO2 g/Nm3 24 jam

  • No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    21 22 23 24 25

    1 tahun

    1 jam < LD < LD < LD < LD < LD

    2. CO g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    1 jam 0,0007 0,0011 0,0190 0,0043 0,0015

    3. N02 g/Nm3 24 jam

    1 tahun

    4. O3 g/Nm3

    1 jam 0,0012 0,0012 < LD < LD 0,0024

    1 tahun

    5. HC g/Nm3 3 jam

    6. PM10 g/Nm3 24 jam

    7. PM2.5 g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

    8. TSP g/Nm3

    24 jam

    1 tahun

    9. Pb g/Nm3

    24 jam < LD < LD 0,0001 0,0003 0,0004

    1 tahun

    10. Dustfall g/Nm3 30 hari 0,082 0,088 0,086 0,092 0,109

    11.Total Fluorides

    sebagai F g/Nm3

    24 jam

    90 hari

    12. Fluor Index g/Nm3 30 hari

  • No. Parameter Satuan Lama

    Pengukuran

    Lokasi

    21 22 23 24 25

    13. Khlorine & Khlorine

    Dioksida g/Nm3 24 jam

    14. Sulphat Index g/Nm3 30 hari

    Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Daerah Kota

    Blitar (2009)

    Apabila data-data kualitas udara di atas (SO2) di atas di plot kan ke dalam peta Kota Blitar sesuai

    nama jalannya. Maka di dapat peta isopleth penyebaran gas SO2 sebagai berikut :

  • Gambar Peta Isopleth Sederhana SO2 Kota Blitar (2009)

    Keterangan :

    : Konsentrasi 0,01 0,02 ug/m3

    : Konsentrasi 0,005 0,01 ug/m3

    : Konsentrasi dibawah 0,005 ug/m3

    c. Tujuan pemantauan:

    Tujuan pemantauan kualitas udara ambien di kota Blitar yang ingin dicapai, antara lain:

    a. Mendapatkan data pemantauan kualitas udara yang mewakili ruang dan waktu sebagai dasar

    pengambilan keputusan.

    b. Menetapkan status mutu udara ambien daerah.

  • c. Bahan pertimbangan dalam menetapkan baku mutu udara ambien (selanjutnya disebut BMUA)

    daerah.

    d. Mengevaluasi efektivitas kebijakan pengendalian pencemaran udara.

    e. Mengamati kecederungan pencemaran udara pada daerah yang diamati.

    f. Memvalidasi model dispersi pencemaran udara untuk memprediksi kontribusi sumber pencemar

    dan jenis pencemarnya.

    g. Memprediksi mutu udara di masa depan.

    h. Memberikan informasi mutu udara kepada masyarakat (ISPU).

    i. Pengawasan penaatan serta penanganan kasus pencemaran udara.

    j. Pelaksanaan audit lingkungan hidup, ISO 14000.

    k. Pelaksanaan RKL/RPL atau UKL-UPL.

    d. Parameter kualitas udara di Kota Blitar:

    Selama ini parameter yang diukur dalam stasiun pemantau kualitas udara ambien di Kota

    Blitar terdiri dari : Parameter kunci : CO, NO2, SO2 ; Parameter pendukung : NOx, H2S, NH3, Debu,

    Pb, HC, Noise

    Disarankan untuk menambah parameter udara ambien sesuai PP No.41 tahun 1999 yaitu:

    Parameter yang dipantau untuk udara ambien paling sedikit meliputi: sulfur dioksida (SO2), karbon

    monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO2), oksidan (O3), dan PM10. Sedangkan untuk roadside paling

    sedikit meliputi parameter: hidrocarbon (dalam bentuk NMHC, non methane hidro carbon), karbon

    monoksida (CO), partikulat (TSP, PM10, PM2.5), NO2, dan SO2. Dan juga ditambahkan parameter

    meteorologi, meliputi : arah dan kecepatan angin, kelembaban dan suhu udara, serta intensitas

    radiasi matahari.

    Di Kota Blitar terdapat beberapa industri serta pengguna kendaraan bermotor yang cukup

    menyumbang emisi meski emisi yang dikeluarkan masih memenuhi baku mutu sehingga SO2 dapat

    dijadikan parameter utama di Kota Blitar. Selain itu kondisi geografis Blitar yang dekat dengan

    gunung api aktif yaitu Gunung Kelud mengharuskan adanya pemantauan kualitas udara terhadap

    debu/partikulat yang merupakan salah satu pencemar udara yang disebabkan oleh aktivitas gunung

    berapi.

    e. Penentuan jumlah stasiun pemantauan kualitas udara ambien di kota Blitar:

    Berdasarkan jumlah penduduk

    Penentuan jumlah stasiun pemantauan di suatu kota dapat dilakukan berdasarkan jumlah

    penduduk dengan menggunakan kurva aproksimasi seperti pada gambar 1. Pada gambar tersebut

  • diperlihatkan jumlah minimum dan maksimum stasiun pemantauan untuk pencemaran TSP-SO2 dan

    parameter lainnya untuk sistem pengukuran otomatik maupun mekanik, untuk masing-masing kelas

    populasi yang tergantung pada penyebaran dan tingkat populasi.

    Kota Blitar memiliki 133.306 jiwa penduduk (berdasarkan data BPS dan BAPPEDA 2012).

    Sistem pengukuran kualitas udaranya menggunakan pengukuran mekanik. Kualitas udara Kota Blitar

    tergolong kategori baik dengan jumlah polutan minimal. Maka, berdasarkan kurva aproksimasi pada

    gambar 1 dapat diperkirakan jumlah stasiun pemantauan yang dibutuhkan Kota Blitar ada 3.

    Berdasarkan Perhitungan

    Penentuan jumlah stasiun pemantauan berdasarkan perhitungan hanya digunakan untuk

    stasiun pemantauan pencemaran SO2 karena parameter pencemaran tersebut sangat dipengaruhi

    oleh kompleksitas sektor industri dan pola penggunaan bahan bakar di daerah yang dipantau.

    Perhitungan di bawah ini menggunakan parameter SO2 dengan rumus perhitungan tersebut sebagai

    berikut :

    N = Nx + Ny + Nz

    Nx = 0,0965 X (Cm Cs)

    Cs

    Nx = 0,0096 Y (Cs Cb)

  • Cs

    Nx = 0,0004 Z

    Data, Asumsi, dan Perhitungan :

    Diketahui :

    Cs = 220 g/m3 (Nilai Cs berdasarkan PP 41 tahun 1999)

    Cm = 365 g/m3 (asumsi berdasarkan ISPU)

    Cb = 80 g/m3 (asumsi berdasarkan ISPU)

    Luas wilayah Kota Blitar = 32,58 km2 (menurut id.wikipedia.com)

    Luas RTH

    Nilai X (Luas daerah Pencemar) = 47,28% Luas Wilayah Kota Blitar (diasumsikan luas

    daerah pencemar = luas lahan terbangun

    berdasarkan data Pemerintah Kota Blitar tahun

    2012)

    = 47,28% x 32,58 km2

    = 15,4 km2

    Nilai Y (Luas daerah Tercemar) = Luas Total Wilayah - Luas Pencemar - Luas RTH

    = 32,58 km2 - 15,4 km2 - 9,774 km2

    = 7,406 km2

    Nilai Z (Luas RTH) =30% Luas Wilayah Kota Blitar (Berdasarkan RKAH Kota Blitar 2012)

    = 30% x 32,58 km2

    = 9,774 km2

    Ditanya : N = ...

    Jawab :

    - Nx = 0,0965X (Cm Cs) Cs

    = 0,0965 x 15,4 x 365 - 220

    220

    = 0,979

    - Ny = 0,0096Y Cs Cb Cs

    = 0,0096 x 7,406 x 220 - 80

    220

    = 0,045

    - Nz = 0,0004Z = 0,0004 x 9,774

    = 0,0039

    N = Nx + Ny + Nz

    = 1,2, sehingga jumlah stasiun 2

  • f. Lokasi Pemantauan Jumlah stasiun ditetapkan sebanyak 4 sesuai dengan kurva aproksimasi dengan

    jumlah penduduk. Dengan meninjau data windrose yang diukur di stasiun geofisika

    Bendungan Karangkates (Ir.Soetami) yang berada di perbatasan Kabupaten Blitar

    Kabupaten Malang (karena data windrose Kota Blitar tidak tersedia), penyebaran

    pencemar dapat diprediksi sesuai dengan arah angin rata-rata tahunan tersebut.

    ( Ahmad Zaki, 2011)

    Lokasi 1

    Merupakan pusat kota dimana kepadatan penduduk palig banyak. Pada peta isopleth terlihat

    bahwa wilayah tersebut mendapat dampak pencemar paling rendah daripada wilayah lainnya,

    sehingga jika pada stasiun tersebut terdeteksi pencemaran udara maka dapat diindikasikan

    bahwa di daerah sekitarnya juga tercemar. Selain itu, lokasi yang dipilih adalah aloon-aloon

    Kota Blitar dimana terletak tepat di tengah kota yang dekat dengan jalan-jalan utama di Kota

    Blitar.

    Lokasi 2

    Merupakan wilayah merah dimana terdapat konsentrasi pencemar lebih tinggi dibandingkan

    dengan wilayah sekitarnya, sehingga hasil pemantauan dapat mewakili tingkat konsentrasi

    pencemar di Kota Blitar yang didukung oleh arah angin tahunan (arah selatan). Selain itu lokasi

    berada diantara Terminal Bus dan Terminal Barang Kota Blitar.

    Lokasi 3

    Merupakan wilayah home industri di Kota Blitar yang merupakan sumber emisi. Hasil

    pemantauan di wilayah tersebut diharapkan dapat mewakili tingkat konsentrasi pencemar dari

    pusat home industri Kota Blitar sehingga emisi yangdikeluarkan dapat terkontrol. Hal ini juga

    didukung oleh arah angin tahunan yang cenderung ke timur dan barat sehingga dapat

    merepresentasikan kualitas udara di wilayah industri tersebut.

    Lokasi 4

    Merupakan wilayah industri rokok di Kota Blitar yang merupakan sumber emisi. Hasil

    pemantauan di wilayah tersebut diharapkan dapat mewakili tingkat konsentrasi dari pabrik-

    pabrik rokok di Kota Blitar. Hal ini juga didukung oleh arah angin tahunan yang cenderung ke

    timur dan barat. Sehingga dapat merepresentasikan kualitas udara di wilayah industri tersebut.

    Windrose tahun 2009 Windrose tahun 2008

  • 1

    2

    Rencana Lokasi Pemantauan

    3

    4

    Stasiun KA

    Terminal Bus

    Terminal Barang

    Industri

    Rokok

    Home

    Industri

  • Soal No.2

    Rencana pemantauan kualitas udara emisi industri di kota blitar

    a. Gambaran Umum Industri

    Kota Blitar memiliki sentra home industri tahu dan tempe di Kelurahan Pakunden,

    Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar yang menyerap hampir 400 orang tenaga kerja, dengan rincian,

    industri tempe sebanyak 160 unit usaha dan industri tahu sebanyak 37 unit usaha (Disperindag Kota

    Blitar, 2010). Namun, dari unit-unit usaha tersebut, hanya 3 unit usaha berupa pabrik tahu dan 1

    pabrik wajan yang memiliki cerobong asap mengingat mayoritas industri di Kota Blitar tergolong

    industri kecil (KLHD Kota Blitar, 2011).

    Ketiga industri tahu yang memiliki cerobong asap tersebut terletak pada satu wilayah

    kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi, sekitar 4.157 jiwa/km2

    (BPS,

    2013). Industri tahu di wilayah tersebut memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi

    masyarakat sekitar. Juga, industri-industri tahu tersebut merupakan pemasok utama kebutuhan

    tahu masyarakat Kota Blitar.

    b. Kualitas Udara Emisi Industri

    Pada industri tahu, proses penggilingan kedelai menggunakan bahan bakar solar, proses

    perebusan kedelai menggunakan bahan bakar kayu bakar dan oli sehingga menghasilkan gas SO2.

    Hasil rata-rata emisi SO2 industri tahu dengan cerobong adalah sebesar 24,949 mg/m3 atau sebesar

    8,845 ppm dengan selang waktu pemantauan 30 menit. Padahal, baku mutu udara ambient menurut

    Peraturan Gubernur Jawa Timur nomor 10 tahun 2009 untuk SO2 adalah sebesar 0,1 ppm dengan

    selang waktu pemantauan 60 menit.

    c. Dimensi Cerobong

    Karena kurangnya data tentang dimensi stack dari pabrik gula Djombang Baru, maka

    dilakukan asumsi tinggi dan diameter stack dengan menggunakan perhitungan :

    Tinggi = 19940526 x 10-2

    mm

    Tinggi = 199,40526 m

    Diameter = 19940526 x 10-4

    mm

    Diameter = 1,9940526 m

    Dengan demikian didapatkan data dimensi stack dari emisi pabrik tahu dan tempe yaitu

    Diameter Cerobong : 1,9940526 m dan Tinggi Cerobong : 199,40526 m.

    d. Tujuan Pemantauan

  • 1. Mengetahui tingkat pencemaran udara yang diemisikan oleh pabrik tahu.

    2. Mengamati kecenderungan tingkat pencemaran udara yang disebabkan pabrik tahu

    e. Parameter Kualitas Udara

    Sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu gas hasil pembakaran. Sedangkan pengolahan

    kedelai menjadi tahu dan tempe sendiri memanfaatkan pembakaran bahan bakar. Bahan bakar

    minyak mengandung unsur sulfur, sehingga pembakarannya menghasilkan SO2. Sulfur dioksida

    merupakan gas yang tidak bewarna namun berbau tajam. Sulfur dioksida dianggap polutan yang

    berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap manusia usia lanjut dan penderita yang mengalami

    penyakit kronis pada sistem pernafasan dan kardiovaskuler. Individu dengan gejala tersebut sangat

    sensitif jika kontak dengan SO2 walaupun dengan konsentrasi yang relatif rendah.

    f. Lokasi pemantauan

    Lokasi pemantauan atau sampling di antara 8xDiameter Cerobong dari bawah dan

    4xDiameter cerobong dari atas. Dengan begitu didapatkan perhitungan :

    Lokasi dari atas = 4x Diameter

    Lokasi dari atas = 4x 1,9940526 m

    Lokasi dari atas = 7.9762104 m

    Lokasi dari bawah = 8x Diameter

    Lokasi dari bawah = 8x 1,9940526

    Lokasi dari bawah = 15,9524208 m

    Lokasi pemantauan berada diantara kedua titik tersebut. Maka untuk menentukan lokasi

    diambil nilai tengah kedua titik tersebut yaitu diantara 7.9762104 m dari atas dan 15.9524208 m dari

    bawah cerobong. Setelah itu diambil titik sampling di dalam stack dengan mengacu pada penjelasan

    berikut :

  • Diameter stack = 1,9940526 m

    R1 = 0,5R

    = 0,5 x 1,9940526 m / 2

    = 0,49851315 m

    R2 = 0,866R

    = 0,866 x 1,9940526 m / 2

    = 0,86342478 m

    Berdasarkan perhitungan didapatkan ketinggian sampling :

    Ketinggian Sampling = 103,690735 m dari dasar stack

    Diameter stack berkisar antara 1-2 m sehingga ditetapkan jumlah titik sampling sebanyak 8 titik di

    dalam stack dan ditambahkan pula satu titik yang berada pada pusat lingkaran.


Recommended