Home >Documents >PEDOMAN HISAB - luk.staff.ugm.ac.idluk.staff.ugm.ac.id/kmi/iptek/gapai/Pedoman_Hisab_   A....

PEDOMAN HISAB - luk.staff.ugm.ac.idluk.staff.ugm.ac.id/kmi/iptek/gapai/Pedoman_Hisab_   A....

Date post:27-Apr-2019
Category:
View:221 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

PEDOMAN HISABMUHAMMADIYAH

MAJELIS TARJIH DAN TAJDIDPIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

CETAKAN KEDUA1430 H / 2009 M

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan.Pedoman Hisab Muhammadiyah,Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Yogyakarta, 2009ISBN: 979-97993-2-5

Penyusun : Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP MuhammadiyahCover : Susiknan AzhariPenata Letak : Awi cs.Khot Arab : Cholid ZuhriPra Cetak : Amirudin

CetakanPertama Zulhijah 1429 H / Desember 2008Kedua Syakban 1430 H / Agustus 2009

PenerbitMajelis Tarjih dan Tajdid PP MuhammadiyahJl. KH. Ahmad Dahlan No. 103 YogyakartaTelp. (0274) 375025 Fax. (0274) 381031

iv Pedoman Hisab Muhammadiyah

KATA PENGANTAR CETAKAN KEDUA

Buku Pedoman Hisab Muhammadiyah di tangan pembacaini disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan PusatMuhammadiyah. Penyusunan buku ini didorong pertama-tama olehkebutuhan akan adanya suatu pedoman penentuan arah kiblat,waktu salat dan awal bulan kamariah di lingkunganMuhammadiyah agar dapat diketahui metodenya secara jelas olehwarga Muhammadiyah sendiri dan juga oleh warga masyarakatsecara umum.

Rencana penyusunan pedoman ini memang sudah lama,namun karena berbagai kendala baru sekarang dapatdirealisasikan.

Isi buku ini meliputi uraian-uraian dari dua sisi, yaitu sisifikih menyangkut dalil-dalil dari masalah yang diuraikan, dan sisiastronomi menyangkut langkah-langkah dan rumus-rumusperhitungan arah kiblat, penentuan waktu salat, penetapan awalbulan kamariah dan gerhana.

Secara lebih rinci buku ini dibagi dalam lima bab. Bab Iberisi uraian tentang tinjauan umum sekitar hisab. Bab II memuaturaian tentang dalil dan rumus perhitungan arah kiblat. Bab III

Kata Pengantar v

memuat uraian tentang dalil dan rumus perhitungan waktu-waktusalat. Bab IV berisi penjelasan tentang dalil-dalil penggunaan hisabpenentuan awal bulan kamariah dalam Muhammadiyah danrumus-rumus perhitungannya. Akhirnya Bab V memuat penjelasantentang gerhana baik dari segi tuntunan syari mengenainyamaupun rumus perhitungannya.

Naskah buku ini merupakan naskah baru yangkeseluruhannya ditulis ulang sebagai ganti naskah lama yang sudahdisusun pada tahun 2006 dan dibicarakan dalam MusyawarahAhli Hisab Muhammadiyah bulan Juli 2006. Penulisan ulangdilakukan karena dirasakan bahwa naskah pertama itu lebihmerupakan sebuah buku ilmu falak daripada sebuah pedomanhisab, di mana tidak ada pedoman dan langkah-langkahperhitungan. Tulis ulang ini dilakukan oleh Syamsul Anwar (KetuaMajelis), Oman Fathurohman (Wakil Ketua Majelis), dan SusiknanAzhari (Wakil Sekretaris Majelis). Hasil tulis ulang ini dibahas dalambeberapa kali lokakarya yang dihadiri oleh anggota PimpinanMajelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dan beberapa anggotaPimpinan Majelis Tarjih PWM dan PDM di Yogyakarta (lihat daftarnama di belakang). Melalui lokakarya tersebut telah dilakukanbanyak koreksi, terutama oleh Oman Fathurohman, dan usulantambahan uraian tentang hisab secara umum. Setelahdilokakaryakan buku ini dilakukan cetak percobaan beberapaeksemplar, kemudian diperiksa lagi dan ternyata masih adabeberapa hal yang harus diperbaiki dan bahkan ditambahkan,terutama pada Bab I. Perbaikan dan tambahan tersebut dikaverdalam cetakan kedua ini.

Atas jerih payah para penulis dan para pembahas yang telahmencurahkan tenaga dan pikiran untuk mempelajari draf buku ini,Pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah

iv Pedoman Hisab Muhammadiyah

mengucapkan terima kasih. Tanpa pengorbanan dan jerih payahtersebut buku ini tentu tidak akan terwujud. Terima kasih jugadisampaikan kepada Departermen Agama RI di Jakarta yangmemberikan Bantuan Operasional Ormas Islam untuk HisabRukyat Tahun 2008. Bantuan tersebut telah digunakan untukpelatihan hisab-rukyat, seminar, pembelian perlengkapan rukyat,pembuatan software hisab dan penyusunan buku pedoman hisab.

Kepada para pembaca, Majelis Tarjih dan Tajdid PPMuhammadiyah mengucapkan terima kasih apabila ada kritik dansaran perbaikan atas buku pedoman ini. Akhirnya kepada Allahjualah kita semua mohon taufik dan hidayah karena Dia-lahPemberi bimbingan ke jalan lurus yang diridai-Nya.

Yogyakarta, 05 Jumadil Akhir 1430 HYogyakarta, 30 Mei 2009 M

Majelis Tarjih dan TajdidPimpinan Pusat Muhammadiyah

Ketua,

ttd.

Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA

Kata Pengantar v

Kata Pengantar v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR CETAKAN KEDUA ... .. . . . . . . .. . . . . i i iDAFTAR ISI . .. . .. . . .. . .. . .. . . .. . .. . .. . .. . . .. . .. . .. . . .. . .. . .. . . .. . .. . vi i

BAB I PENDAHULUAN ... . . .. . . .. . .. . . .. . .. . . .. . . .. . .. . . .. . . .. . 1A. Pengertian Hisab dan Kaitan dengan Ilmu Falak ............ 1B. Perkembangan Studi Ilmu Falak dalam Islam ................. 5C. Penggunaan Hisab untuk Penentuan Waktu Ibadah ....... 13D. Macam-macam Hisab .................................................... 18

BAB II ARAH KIBLAT ... . . .. . .. . .. . . .. . .. . . .. . .. . . .. . .. . .. . . .. . 2 5A. Pengertian Kiblat ............................................................ 25B. Dalil-dalil yang Berkaitan dengan Arah Kiblat ................ 27C. Penentuan Arah Kiblat .................................................... 29D. Langkah-langkah Penentuan Arah Kiblat ....................... 35E. Contoh Perhitungan Arah Kiblat ..................................... 36

BAB III WAKTU-WAKTU SALAT .. .. . . .. . . . .. . . .. . . . .. . . .. . . 4 3A. Pendahuluan .................................................................. 43B. Waktu-waktu Salat Fardu ............................................... 44C. Rincian Waktu-waktu Salat Fardu .................................. 50D. Posisi Matahari Terkait Waktu Salat Fardu ..................... 52

viii Pedoman Hisab Muhammadiyah

E. Langkah-langkah Hisab Awal Waktu Salat .................... 54F. Contoh Hisab Awal Waktu Salat .................................... 61

BAB IV PENENTUAN AWAL BULAN .... . . . .. . . . .. . . . .. . . 7 3A. Kedudukan Hisab dan Kriteria Awal Bulan .................... 73B. Pedoman Penentuan Awal Bulan ................................... 82C. Contoh Cara Melakukan Perhitungan

(1 Syawal 1429 H) untuk Kota Yogyakarta( = -07 48 LS dan = 110 21 BT, Ketinggian 90 m) 88

BAB V GERHANA MATAHARI DAN BULAN ... . . . . . . . 9 5A. Memahami Gerhana ...................................................... 95B. Tuntunan Syari tentang Gerhana .................................. 102C. Cara Menghitung Gerhana Matahari .............................. 114D. Cara Menghitung Gerhana Bulan ................................... 117

DAFTAR PUSTAKA ... . . .. . .. . . .. . .. . . .. . .. . .. . . .. . .. . . .. . .. . . .. . 1 2 3LAMPIRAN ... . .. . .. . . .. . .. . .. . .. . .. . .. . . .. . .. . .. . .. . .. . .. . . .. . .. . .. . 1 2 6Lampiran ILampiran IIA. Penulis NaskahB. Peserta Lokakarya Pembahasan Naskah

INDEX ... . .. . .. . . .. . .. . .. . .. . .. . .. . .. . . .. . .. . .. . .. . .. . .. . .. . . .. . .. . .. . 1 3 1

Tentang Hisab 1

BAB I

TENTANG HISAB

A. Pengertian Hisab dan Kaitan dengan Ilmu Falak

Kata hisab berasal dari kata Arab al-isb yang secaraharfiah berarti perhitungan atau pemeriksaan. Dalam al-Qurankata hisab banyak disebut dan secara umum dipakai dalam artiperhitungan seperti dalam firman Allah,

Artinya: Pada hari ini, tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apayang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini.Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan (pemeriksaan) -Nya[Gfir (40): 17].

Dalam al-Quran juga disebut beberapa kali kata yaum al-isb, yang berarti hari perhitungan. Misalnya dalam firman Allah,

( )

( )

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allahakan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hariperhitungan [d (38): 26].

Dalam surat Ynus ayat 5, hisab malah dipakai dalam artiperhitungan waktu, sebagaimana firman Allah,

Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulanbercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempatorbit) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangantahun dan perhitungan (waktu). [Ynus (10): 5].

Dalam hadis kata hisab lebih banyak digunakan untuk artiperhitungan pada Hari Kemudian. Namun dalam hadis yangdikutip pada sub bahasan B halaman 5 di bawah ini, kata kerjanasubu menunjukkan arti perhitungan gerak Bulan dan matahariuntuk menentukan waktu, yaitu hisab untuk menentukan bulankamariah.

Dalam bidang fikih menyangkut penentuan waktu-waktuibadah, hisab digunakan dalam arti perhitungan waktu dan arahtempat guna kepentingan pelaksanaan ibadah, seperti penentuanwaktu salat, waktu puasa, waktu Idulfitri, waktu haji, dan waktugerhana untuk melaksanakan salat gerhana, serta penetapan arahkiblat agar dapat melaksanakan salat dengan arah yang tepat keKakbah. Penetapan waktu dan arah tersebut dilakukan denganperhitungan terhadap posisi-posisi geometris benda-benda langitkhususnya matahari, Bulan dan bumi guna menentukan waktu-waktu di muka bumi dan juga arah.

2 Pedoman Hisab Muhammadiyah

( )

Pengkajian mengenai posisi-posisi geometris benda-bendalangit guna menentukan penjadwalan waktu di muka bumimerupakan bagian dari apa yang dalam peradaban Islam disebut

ilmu haiah ( ) yang menurut al-Masd (w. 346 H / 957 M)merupakan padanan istilah Yunani astronomi ( ).1

Ilmu haiah (astronomi) sering juga disebut ilmu falak ( ),

namun istilah ilmu haiah dalam sejarah Islam lebih populer danlebih banyak digunakan. Ini terbukti bila kita membuka Programal-Jmi al-Kabr, misalnya, akan terlihat bahwa istilah ilmu haiahdisebut sebanyak 345 kali, sedangkan istilah ilmu falak hanya 97kali. Di zaman modern sekarang

of 140

Embed Size (px)
Recommended