Home >Documents >PBL skenario 4

PBL skenario 4

Date post:02-Sep-2015
Category:
View:390 times
Download:10 times
Share this document with a friend
Description:
tes123
Transcript:

Diare Akut et causa Bakteri EnterovasifKevin Jonatan102013033 / F5Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

PendahuluanDiare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat) dengan frekuensi 3 kali sehari atau lebih.Diare merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan pada masyarakat di seluruh dunia.Penyakit ini dapat diklasifikasikan dalam beberapa bentuk, tapi yang utama adalah diare akut dan kronik.Diare akut itu sendiri merupakan diare yang berlangsung kurang dari 14 hari sedangkan diare kronik merupakan diare yang sudah berlangsun gelbih dari 14 hari.Kasus diare terutama diare akut lebih banyak ditemukan pada Negara berkembang seperti Negara Indonesia.Diare juga merupakan penyakit yang endemis, sebagian besar penyakit diare akut disebabkan oleh infeksi, oleh karena itu sangat penting bagi petugas medis untuk mengenali secara tepat gambaran klinik dari penyakit diare. Pengenalan akan gambaran klinik gambaran klinik dari penyakit diare akan membuat kita sebagai petugas medis lebih cepat untuk menangani penyakit diare dan mencegah komplikasi dari diare ini.Kasus SkenarioTn. H, 25 th dating ke poliklinik umum dengan keluhan BAB cair 5x sehari sejak 2 hr smrs. Selain itu pasien juga mengeluh BAB-nya disertai darah, mual, muntah-muntah.Nyeri perut.Sebelumnya dua hari yang lalu pasien makan dan jajan di pinggir jalan.Adanya daging yang keluar dari anus saat BAB disangkal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD= 110/80mmHg, S= 38oC, RR= 18x/menit, HR= 88x/menit, didapatkan bising usus meningkat. Pemeriksaan lab belum dilakukan.AnamnesaSifat feses: konsistensi, frekuensi, ada tidaknya ampas, ada tidaknya lender, ada tidaknya darah , warna feses, feses berlemak atau tidak, ada tidaknya tenesmus.1,2Riwayat sebelum diare: riwayat minum obat sebelumnya (antibiotic, metformin, antasida), riwayat perjalanan keluar kota, riwayat makan di tempat yang tidak bersih, riwayat terkena radiasi, riwayat operasi reseksi usus.1,2Keluhan yang menyertai: ada tidaknya demam, mual muntah, penurunan berat badan, nyeri. Nyeri abdomen menetap biasanya organic, nyeri berubah-ubah biasanya fungsional. Nyeri di sekitar umbilicus umumnya berasal dari usus halus, nyeri di abdomen bawah umumnya dari usus besar.1,2PemeriksaanFisikPemeriksaan fisik umumnya tidak khas, bunyi usus halus dapat meninggi.Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam menentukan penyebab diare.Status volume dinilai dengan memperhatikan perubahan ostostatik pada tekanan darah dan nadi, temperature tubuh dan tanda toksisitas.Pemeriksaan abdomen yang seksama merupakan hal yang penting. Adanya dan kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak adanya distensi distensi abdomen dan nyeri tekan merupakan clue bagi penetuan etiologi.1,2PenunjangPada pasien yang mengalami dehidrasi atau toksisitas berat atau diare berlangsung lebih dari beberapa hari, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan tersebut antara lain pemeriksaan darah tepi lengkap (hemoglobin, hematocrit, leukosit, hitung jenis leukosit), kadar elektrolit serum, ureum dan kreatinin, pemeriksaan tinja pemeriksaan Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) mendeteksi giardiasis dan tes serologic amebiasis, dan foto x-ray abdomen.1,2Pasien dengan diare karena virus, biasanya memiliki jumlah dan hitung jenis leukosit yang normal atau limfositosis.Pasien dengan infeksi bakteri terutama pada infeksi bakteri yang invasive ke mukosa, memiliki leukositosis dengan kelebihan darah putih muda. Neutropenia dapat timbul pada salmonellosis.2Ureum dan kreatinin diperiksa untuk memeriksa adanya kekurangan volume cairan dan mineral tubuh. Pemeriksaan tinja dilakukan untuk melihat adanya leukosit dalam tinja yang menunjukkan adanya infeksi bakteri, adanya cacing dan parasit dewasa.2Pasien yang telah mendapatkan pengobatan antibiotic dalam 3 bulan sebelumnya atau yang mengalami diare di rumah sakit sebaiknya diperiksa tinja untuk pengukuran toksin Clostridium difficile.2Rektoskopi atau sigmoidoskopi perlu dipertimbangkan pada pasien-pasien yang toksik, pasien dengan diare berdarah, atau pasien dengan diare akut persisten.Pada sebagian besar pasien, sigmoidoskopi mungkin adekuat sebagai pemeriksaan awal.Pada pasien dengan AIDS yang mengalami diare, kolonoskopi dipertimbangkan karena kemungkinan penyebab infeksi atau limfoma didaerah kolon kanan. Biopsy mukosa sebaiknya dilakukan jika mukosa terlihat inflamasi berat.2Diagnosis BandingAmoebiasis merupakan infeksi dengan Entamoeba histolitica prevalen di seluruh dunia; focus endemic terutama lazim di daerah tropis dan daerah dengan standar sosiekonomi dan kebersihan yang rendah. E. histolitica memparatisasi lumen saluran pencernaan tanpa atau sedikit menimbulkan sekuele penyakit pada kebanyakan subjek yang terinfeksi. Pada sebagian kecil individu, organisme menginvasi mukosa usus atau menyebar ke organ lain, terutama hati.3,4Kebanyakan individu yang terinfeksi asimtomatik, dan kista ditemukan pada tinjanya. Invasi jaringan terjadi pada 2-8% individu yang terinfeksi dan berhubungan dengan strain parasite atau status nutrisi dan flora usus hospes. Manifestasi klinis amoebiasis yang paling sering adalah karena invasi local epitel usus dan penyebaran ke hati.3,4Amoebiasis usus dapat terjadi dalam 2 minggu infeksi atau tertunda selama beberapa bulan.Mulainya biasanya sedikit demi sedikit dengan nyeri kolik perut dan gerakan usus yang sering (6-8 gerkana/24 jam).Diare seringkali disertai tenesmus.Tinja bercampur darah dan mengandung cukup banyak lendir dengan sedikit leukosit.Karakteristik tidak terdapat gejala dan tanda konstitusional menyeluruh, dengan demam yang didokumentasi hanya pada sepertiga penderita. Disentri amuba akut terjadi berupa serangan yang berakhir beberapa hari sampai beberapa minggu; relaps amat sering pada individu yang tidak diobati. Colitis amuba mengenai semua kelompok umur, tetapi insidennya sangat tinggi pada anak antara umur 1 sampai 5 tahun.Pada beberapa penderita komplikasi seperti ameboma, megakolon toksik, penyebaran ekstraintestinal, atau perforasi local dan peritonitis dapat terjadi. Ulkus bergaung dengan batas mukosa sehat yang khas, terjadi pada kebanyaka kasus dan dapat dideteksi dengan sigmoidoskopi pada 25% penderita.3,4DiareDiare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200gram atau 200ml/24jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lender dan darah.1-3Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan berdasarkan beberapa pendekatan, antara lain:11. Berdasarkan lama dan waktua. Diare akut: diare yang berlangsung kurang dari 14 harib. Diare persisten: diare yang berlangsung 2-4 minggu, biasanya berhubungan dengan giardiasis atau amebiasisc. Diare kronik: diare yang berlangsung 4 minggu atau lebih2. Berdasarkan mekanisme patofisiologika. Diare osmotic: peningkatan osmotic isi lumen usus contohnya pada defisiensi enzim disakaridase (enzim lactose), insufisiensi pancreas, bacterial overgrowth dll.b. Diare sekretorik: peningkatan sekresi ion dan air secara aktifc. Malabsorbsi (asam empedu dan lemak): terjadi gangguan pembentukan micelle empedu sehingga timbul diare saat asupan lemak tinggid. Defek system pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit sehingga terjadi gangguan absorbsi Na+ dan air (contoh: defisiensi enzim disakaridase pada malabsorbsi karbohidrat)e. Motilitas dan waktu transit usus abnormal, dapat terjadi akibat penyakit diabetes mellitus (neuropati otonom), hipertiroid (perangsangan otot di usus halus), efek samping obat (eritromisis) dllf. Inflamasi dinding usus menimbulkan diare inflamatorik seperti pada inflammatory bowel disease (IBD)g. Infeksi dinding usus (diare infeksi)3. Berdasarkan berat-ringan dehidrasi yang ditimbulkannyaa. Dehidrasi ringan dimana kehilangan cairan 2-5% BB, klinis ditandai dengan turgor kurang, tapi belum presyokb. Dehidrasi sedang dimana kehilangan cairan 5-8% BB, klinis ditandai dengan turgor buruk, suara serak, ada tanda presyokc. Dehidrasi berat dimana kehilangan cairan 8-10% BB, klinis ditandai dengan turgor buruk, suara serak , syok, kesadaran menurun, sianosis4. Berat ringannya keadaan secara klinis, yang ditentukan oleh beratnya, lamanya dan keadaan penderita itu sendiria. Diare ringan bila tidak menggganggu aktivitas sehari-harib. Diare sedang bila mulai menimbulkan gangguan aktivitas sehari-haric. Diare berat bila gangguan tersebut mengakibatkan penderita tidak bisa lagi melakukan kegiatan hariannya dan harus dirawat5. Berdasarkan ada tidaknya infeksi penyebab diare yang terbanyak adalah diare oleh karena infeksi (lebih dari 90%). Diare infeksi adalah diare yang penyebabnya infeksi, sebaliknya disebut diare non infeksi. Diare infeksi dibedakan atas;a. Diare enterotoksigenik: karena bakteri non invasive seperti; V cholera eltor, ETEC (enterotoxiigenic E. coli), C. perfringens. Toksin pada mukosa menimbulkan sekresi aktif anion klorida diikuti oleh air, ion bikarbonat, kation natrium dan kalium,b. Diare enterovasif: EIEC (enteroinvasi E. coli), salmonella, shigella, Yersinia. Kerusakan dinding usus menimbulkan nekrosis dan ulserasi sehingga terjadi diare sekretorik eksudatif, dimana tinja dapat bercampur lendir dan darah.Umumnya pathogen usus halus tidak invasif, sebaliknya pathogen ileokolon mengarah ke invasif.6. Berdasarkan organik atau fungsional. Diare organic adalah diare yang penyebabnya kelainan anatomic, bakteriologik, hormonal atau toksikologik; sebaliknya disebut diare fungsional (seperti irritable bowel syndrome).7. Berdasarkan etiologia. Infeksi: bakteri, virusb. Makanan: intoksisasi atau alergic. Imunodefisiensi: hipogamaglobulinemia, penyakit granulomatosa kronik, defisiensi IgAd. Terapi obat: antibiotic, antacid, blockere. Tindakan tertentu: gastr

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended