Home > Documents > Panduan AMA

Panduan AMA

Date post: 08-Jan-2016
Category:
Author: anom-nurcahyadi
View: 231 times
Download: 1 times
Share this document with a friend
Description:
bahan kuliah ergonomi
Embed Size (px)

of 34

Transcript
  • Bukti Medis yang Kuat pada Kasus dengan Panduan AMA

  • Model Rangkaian Langkah AnalisisBatasan Bukti Yang KuatAMA Compliant ReportBatasanUnsur-unsur yang diperlukanContoh-contoh yang baik, buruk dari AMA dan NonAMA

  • Rekam Medis KeluhanGambaran UmumContoh 1: Tingkatan kerusakan tulang belakang lumbalContoh 2: Tingkatan kerusakan ekstremitas atas (Pergelangan kiri)Contoh 3: Tingkatan kerusakan ortopedik multipelContoh 4: Tingkatan kerusakan ekstremitas atas (Bahu, pergelangan, siku)Contoh 5: Tingkatan kerusakan tulang belakang lumbal, torakal, pinggulContoh 6: Tingkatan kerusakan ekstremitas bawah (fraktur patella) Contoh 7: Tingkatan kerusakan cedera kepala

  • Model Rangkaian Langkah AnalisisSuatu kasus berdasarkan panduan AMA, WCAB dan semua hasil kompensasi pekerja seharusnya mengikuti model rangkaian langkah analisis untuk menentukan rekam medis yang merupakan bukti medis yang kuat. rekaman sebagai suatu kesatuan terdiri dari laporan pengobatan dokter, laporan AME atau panel QME, bukti dokumen yang lain dan kesaksian dari saksi.

  • Model Rangkaian Langkah AnalisisIsu medis apa yang akan saling membantah antara korban dan terdakwaRekam medis yang mana yang akan dipercaya dan mengapa?Apakah laporan yang dipercaya itu merupakan bukti yang kuat?Apakah laporan yang dipercaya itu sesuai dengan AMA? Apakah setiap laporan mengikuti deskripsi dan pengukuran yang tepat sesuai dengan panduan AMA kode 4660(b)(1) dan konsisten dengan post-SB 899 PDRS?Laporan yang mana lebih bisa dipercaya dan meyakinkan untuk membantah isu-isu dan mengapa?

  • Batasan Bukti Yang KuatKeputusan Escobedo v. Marshalls...sehingga untuk menyusun bukti yang kuat, suatu pendapat medis harus disebut alasan kemungkinan medis ... pendapat medis bukanlah bukti kuat jika didasarkan atas kenyataan tidak ada dalam keluarga, lemahnya riwayat medis dan pemeriksaan, teori yang tidak benar, atau suatu dugaan, spekulasi, pengagak, atau sangkaan, atau perkiraan.... Laporan kesehatan bukan merupakan bukti yang kuat kecuali mengetengahkan pertimbangan yang mendasari opini dari dokter dan bukannya semata-mata berdasarkan atas kesimpulannya. ...Pendapat medis harus berada dalam ranah medis, dan bukan bersifat spekulatif, tapi harus berdasarkan ketepatan fakta dan pemeriksaan serta riwayat yang adekuat, dan harus mengetengahkan pertimbangan dalam mendukung kesimpulan.

  • Pada laporan medis yang berdasarkan kepada Panduan AMA, adalah sangat penting dimana kesimpulan dokter didasari atas pemeriksaan yang adekuat. pengukuran menggunakan active range motion dan bukan oleh assisted atau passive range motion.

  • AMA Compliant Report Pertama, untuk parties, raters, penasehat dan hakim untuk menentukan apakah suatu laporan medis mengikuti deskripsi dan pengukuran Panduan AMA sesuai dengan perintah Labor Code 4660(b)(1) secara tepat. Kedua, untuk menentukan apakah laporan medis telah mengikuti hukum California, termasuk refleksi dari pemahaman dokter terhadap post-SB 899 PDRS

  • PersyaratanKombinasi aturan direktur administratif danpanduan AMATujuan pemeriksaan (dokter, AME, Panel QME, QME)Riwayat sakit saat iniKeluhan utamaAktifitas sehari-hari sebelum dan sesudah cederaRiwayat medis yang lampau

  • PersyaratanPekerjaanReview catatan/rekam medis dan hukum, termasuk daftar yang direviewPemeriksaan fisik (termasuk oleh siapa dan metode apa yang dipakai) dan penemuan-penemuan selama pemeriksaanHasil diagnostik dan pemerikasaan imagingDiagnosis dan kesan

  • PersyaratanDiskusi dan kesimpulanPenyebab cedera (cedera khusus, trauma berkelanjutan atau keduanya)Apakah korban telah mencapai peningkatan medis secara maksimum dan apakah permanen dan menetap?Penemuan obyektif: Hilangnya range of motion, kelainan neurologikal karena gangguan sensoris (nyeri, mati rasa, hilangnya rasa raba, kesemutan), dan fungsi motorik (kelemahan otot, atrofi), spondylosis, spondylisthesis, herniated intervertebral disc, kerusakan saraf, dan sebagainya.Diskusi mengenai tes negatif dan positif tes diagnostik dan studi imaging.

  • PersyaratanDeskripsi tentang kerusakan setiap anggota tubuh menggunakan bab, tabel, dan halamam serta menggambarkan metode evaluasi (DRE, ROM, atau keduanya; kehilangan fungsi, kehilangan anatomis,; kombinasi dan penambahan lain yang sesuai)Apakah kesimpulan dokter konsisten dengan post-SB 899PDRS dan sesuai dengan hukum?Bagaimana industrial injury yang baru berakibat terhadap ADLs korban?Rasional dokter untuk menggunakan metode khusus untuk deskripsi dan pengukuran Panduan AMA.

  • PersyaratanPenyebab kerusakan permanen (apportionment), bagaimana dan mengapa faktor lain menyebabkan cacat permanen dalam hubungannya dengan faktor industri.Rekomendasi untuk perawatan medis lebih lanjut.Dapatkah korban melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan ?Apa saja kemampuan fungsi residual dan pembatasan kerja korban?

  • Contoh 4: Impairment Rating Ekstremitas atas (Pergelangan tangan kiri) Wanita berumur 63, pegawai perpustakaan tergelincir dan jatuh bertumpu dengan pergelangan tangan kirinya, kejadian tersebut menyebabkan fraktur tertutup radius distal kiri. Fraktur ditangani dengan penggunaan cast (gips) yang kemudian dilepaskan setelah 6 minggu dengan fisioterapi yang intensif. Ia kemudian didiagnosis dengan Carpal Tunnel Syndrom kiri Post Traumatik dan pada EMG/NCV menunjukkan adanya penekanan yang berat pada nervus medianus pada kanal karpal kiri.

  • Pada laporan MMI permanen dan menetap, dokter yang merawatnya menyatakan: Dengan kata-kata pasien sendiri dikatakan Saya dalam keadaan sehat dan sama sekali tidak mengalami suatu masalah dan saya belajar hidup dengan masalah yang saya miliki. Dokter mengukur range of motion pergelangan tangan kiri wanita ini sebagai berikut: Ekstensi 45 derajat, fleksi 60 derajat, deviasi radial 15 derajat dan deviasi ulnar 25 derajat. (Rentangan Normal untuk pergerakan pergelangan tangan adalah fleksi 60 derajat, ekstensi 60 derajat, deviasi radial 25 derajat, dan deviasi ulnar 30 derajat).

  • Dokter menggunakan impairment rating chart ekstremitas atas dan menentukan rating kerusakan ekstremitas atas adalah 5% berdasarkan hilangnya range of motion pergelangan tangan. Rating sebesar 5% untuk ekstremitas atas dikonversi menjadi 3% untuk rating kerusakan seluruh tubuh.Korban tidak diwakili penasehat hukum pada saat penyelesaian

  • Komentar:Note: WJC menaruh perhatian bahwa ada sesuatu yang salah penyelesaian tersebut dan dikonsultasikan dengan buku panduan ini dan Panduan AMA.

  • Bukan AMA compliant dan bukan merupakan bukti yang kuat:Studi tentang konduksi saraf tidak ada. Sistem penilaian yang sepantasnya untuk kerusakan fungsi sensoris dan motoris tidak digunakan. Dokter gagal mengevaluasi sindrom karpal tunel dengan menggunakan sistem penilaian dari Panduan AMA untuk kerusakan fungsi sensoris dan motoris. Seharusnya dokter telah membuat suatu tingkatan beratnya kerusakan fungsi sensoris dan motoris menggunakan hasil EMG/NVC, bersama dengan deskripsi rinci mengenai ucapan korban yang mengatakan telah belajar hidup dengan permasalahan yang ada yang mengacu pada carpal tunnel syndrom yang dideritanya.ADLs tidak disebutkan. Efek terhadap aktifitas kehidupan sehari-hari korban menggunakan Panduan AMA.Rating ekstremitas atas yang tidak benar. Dokter seharusnya merujuk pada Panduan AMA dalam menentukan rating ekstremitas atas untuk kerusakan fungsi sensoris dan motoris dari sindrom karpal tunel.

  • WJC memerintahkan untuk mendengar keluhan pasien dan proses panel QME sesuai dengan Labor Code 4062. Jika parties tidak dapat setuju dengan rating yang mencerminkan kondisi pergelangan tangan kiri korban secara tepat. Sebagai alternatif, WJC dapat menunjuk dokter yang merawat untuk memperbaiki laporan sesuai dengan Panduan AMA bab 16. selain itu WJC juga dapat menunjuk dokter lain untuk meminta pendapat ahli.

  • Contoh 6. Impairment Rating UNTUK Ekstremitas bawah (Fraktur Patella) Korban 58 tahun, Cleaning Service di RS, tergelincir di atas tumpukan plastik dengan 5 mm displace fraktur di patela kiri. Setelah dilakukan open reduksi dan internal fiksasi dengan 2 pin dan post surgical physical therapy, korban dinyatakan oleh dokter yang merawat telah mengalami kerusakan permanen dan perbaikan medis maksimum. Fraktur patella telah direduksi ke posisi anatomis dengan pembedahan dengan lingkar paha 41 cm di kiri, 44 cm di kanan. Lingkar betis 31 cm di kiri dan 32 cm di kanan. Sehingga terdapat 3 cm atrofi di paha kiri dan 1 cm atrofi di betis kiri. Fleksi dan ekstensi lutut kiri normal 0-135 derajat.

  • Ini digolongkan atrofi otot quadriceps ringan dan atrofi betis sangat ringan dengan kehilangan minimal fungsi fleksi dan kekuatan otot. Pasien masih dapat bekerja, berdiri, jongkok, dan naik-turun tangga dengan sesekali nyeri bila berdiri ekstrim. Kekuatan otot quadriceps 5/5. Dokter menyatakan sebagai berikut: Sesuai dengan panduan AMA dan tabel 17-33, impairment pasien dengan displaced fraktur patella sudah sembuh. Sesuai dengan ini impairment ekstremitas bawah 7%, WPI 3%. Berdasarkan keluhan subyektif pasien yang ringan dan temuan tanda obyektif kita yakini hasil ini mewakili impairment yang dialaminya. Pemberian keterangan bahwa pasien tidak mengalami fraktur patella maka pasien akan berisiko mengalami masalah patella di kemudian hari termasuk sindrom patellofemoral dan artritis.

  • Rekam medis ini sesuai dengan AMA:Lihat tabel 17-2 dari panduan AMA. Tabel ini mengindikasikan adanya kombinasi dari 13 cara (lihat tabel 17-1) untuk memberikan rate impairment ekstremitas bawahCatatan: pengacara, hakim, dan penyesuai klaim sangat mengenal 13 cara untuk mengevaluasi rating ekstremitas bawah dan belajar mengenal dari rekam medis di mana semua informasi diberikan oleh dokter untuk mengevaluasi secara tepat kasus ekstremitas bawah.Lihat tabel 17-6 panduan AMA. Tabel ini mengindikasikan adanya atrofi untuk paha 3 cm, 5% WPI, atrofi 1% betis, 1% WPI, kombinasi rating 6% WPI. Setelah disesuaikan untuk FEC, umur, dan pekerjaan rating disability permanen menjadi 10%Menentukan jika kelemahan otot sendi lutut telah diperiksa dokter. Jika kelemahan otot sendi lutut masih ada, menjadi 25% grade 4 (5% WPI) untuk fleksi, dan 25% grade 4 (5% WPI) untuk ekstensi, kombinasi menjadi 10% WPI berdasarkan tabel 17-7 dan 17-8 panduan AMA.

  • SE Menakertrans No. 645 tahun 2004Santunan STMB: 4-100%, 4-75%, seterusnya 50%Santunan cacat sebagian; cacat sebagian di mana bagian dari anggota tubuhnya hilang: %tabelx70xupah sebulanSantunan cacat total: cacat total fisik atau mental ADL tidak bisa (dihitung maksimum 70%: santunan sekaligus 70%x70 bulan upah, santunan berkala Rp 50000 selama 24 bulan

  • SE Menakertrans No. 645 tahun 2004Santunan cacat fungsi: hanya berkurang fungsinya (dihitung sampai maksimum 100%) dokter pemeriksa, dokter yg merawat/dokter penasehat dibayarkan sekaligus sebesar %berkurangnya fungsix%tabelx70 bulan upahPenentuan tingkat cacat di bidang ortopedi dilakukan setelah menjalani pengobatan sekurang-kurangnya 6 bulan dan selama-lamanya 24 bulan

  • Kepmenaker No. 62A/ men/1992Penyakit orthopedi menyangkut sistem muskuloskeletal yang erat kaitannya dengan kelainan gangguan gerak akibat trauma atau penyakit yang mengakibatkan kelainan anatomik atau fungsi yang dapat timbul karena suatu keadaan kelelahan dan ketidakstabilan yg akan mempercepat proses degenerasi

  • Kelainan berupa:Kelainan bentukUkuran membesar/mengecilUkuran lebih panjang atau pendekBengkok/deformitasTerputarTerputusKelainan gangguan gerakKekakuanKelemahan kelumpuhan

  • DIAGNOSISAnamnesis:Apa ada trauma? Kapan terjadi?Apakah penderita tak dpt bekerja sama sekali?Kidal atau kinan?Sudah berapa lama?Sudah dapat terapi?Sejak kapan dapat terapi? Masih perlu pengobatan rehabilitasi?Berapa lama waktu yg diperlukan untuk kembali bekerja?Keadaan tersebut sudah hasil maksimum/stabil (permanen)?

  • DIAGNOSISPemeriksaan Fisik: Keadaan umumPemeriksaan orthopedik (look, feel, move)Kelainan yg dpt ditemukan: kelainan sensorik dan motorik, kelainan tonus otot/lingkar, ukuran panjang-pendek, kekakuan atau kelainan sendi, stabilitas dan gerak lingkup sendi (sikatriks, trofi, deformitas)Pemeriksaan laboratorium rutinPemeriksaan penunjang: Ro minimal dlm 2 proyeksi, bila perlu dilakukan:Proyeksi khusus daerah tertentuTomografiKontrasCT scanMRIUSGPx neurologik

  • Penilaian CACATAMPUTASI:Jelaskan bagian yg hilangPenilaian sesuai dengan UU Kecelakaan No. 2/1951Kelumpuhan atau kelemahanUraian cacat:Jelaskan kelumpuhan atau kelemahanJelaskan anatomiknyaJelaskan persentase fungsi yg hilangPenilaian cacat dgn metode MMT: Nilai 0-5

  • Nilai cacat: Kelumpuhan sama dengan amputasi (nilai 0 = kehilangan fungsi 100%)Kelumpuhan dgn tidak ada kekakuan sendi: MMT 1: kehilangan fungsi 80%MMT 2: kehilangan fungsi 60%MMT 3: kehilangan fungsi 40%MMT 4: kehilangan fungsi 20%MMT 5: kehilangan fungsi 0%

  • KekakuanKehilangan fungsi dihitung dari LGS/ROM:Bandingkan dgn catatan medik awalBandingkan dgn LGS sisi lainBandingkan dgn pemeriksa normalLGS awal 90 derajat setelah kekakuan 60 maka kehilangan 30 derajat sehingga kehilangan fungsi 30/90 x 100%= 33,3%

  • Kehil. Fs.= 250/400x 100% = 62,5%

  • PerpendekanHanya untuk anggota bawah. Setiap perpendekan 0,5 inchi salah satu tungkai kehil. Fs 5%Kasus khusus: Sendi panggul nilainya terhadap seluruh badan 50%Nonunion tanpa koreksi perbaikan: 75%Dgn arthroplasti, dpt berjalan dan berdiri waktu bekerja 40% gerak: 50%Lingkup gerak dan kedudukan kelainan: 50%Sendi lutut:Pasca minisektomi 5%, ligamen cruciatum ruptur 20-30%, patelektomi 20%, gangguan gerak Pergelangan kaki: impairment dan loss of physical handicap 80 % dari anggota gerak bawah

  • Nyeri dan chronic back pain yang diakibatkan kecelakaan dan PAK untuk menegakkan diagnosis dilakukan: anamnesis, px fisik, Ro, Rujukan (Ro khusus, arteriografi, arthrografi, CT-scan, scintigrafi, USG, EMG, MRI


Recommended