Home >Documents >P E R S A L I N A N

P E R S A L I N A N

Date post:05-Oct-2021
Category:
View:1 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
P E R S A L I N A N
Heri Rosyati, SSiT, M.KM
kepada tim penyusun dalam menyelesaikan Rencana Pembelajaran Semester
(RPS) Persalinan dengan yang direncanakan. RPS ini menguraikan tentang
deskripsi mata kuliah, capaian pembelajaran (learning outcome), kompetensi,
bahan kajian, karakteristik mahasiswa, jadwal aktivitas, dan evaluasi. Selain itu
dalam RPS ini juga dijelaskan panduan penyusunan tugas makalah format
penilaian hasil belajar, dan format penilaian tugas makalah.
RPS ini diberikan kepada dosen sebagai panduan dalam melaksanakan
pembelajaran Mata Kuliah Persalinan baik melalui kegiatan terstruktur bersama
dosen/fasilitator, maupun secara kelompok, dan/atau mandiri. Melalui RPS ini
diharapkan mahasiswa mampu memiliki pengetahuan yang luas
(knowledgeable), terampil (skillfull), menjadi komunikator yang efektif
(effective problem solver), pembuat keputusan yang efisien (efficient decision-
maker), dan mampu mengaplikasikannya kelak di tatanan nyata di lapangan
dalam bentuk praktik yang terintegrasi dalam praktik klinik.
Kepada berbagai pihak yang terlibat dalam penyusunan RPS ini, kami
ucapkan terimakasih. Smeoga Allah SWT mencatatnya sebagai amal kebajikan.
Menyadari masih adanya berbagai kekurangan dalam RPS ini maka
masukan/saran konstruktif dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk
penyempurnaan di masa mendatang
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………..….. 1
BAB 3 PENUTUPAN
3.1 KESIMPULAN ....................................................................................................... 16
1.1 Latar Belakang
Persalinan adalah tugas dari seorang ibu yang harus dihadapi dengan tabah,
walaupun tidak jarang mereka merasa cemas dalam menghadapi masalah
tersebut. Oleh karena itu, mereka memerlukan penolong yang dapat dipercaya,
yang data memberikan bimbingan dan semangat selalu siap di depan dalam
mengatasi kesukaran.
Persalinan adalah terjadi pada kehamilan aterm (bukan prematur atau post
matur) mempunyai onset yang spontan (tidak diinduksi) selesai setelah 4 jam
dan sebelum 24 jam sejak saat awitannya (bukan partus presipitatus atau partus
lama) mempunyai janin (tunggal) dengan presentasi verteks (puncak kepala)
dan oksiput pada bagian anterior pelvis terlaksana tanpa bantuan artificial
(seperti forseps) tidak mencakup komplikasi (seperti pendarahan hebat)
mencakup pelahiran plasenta yang normal. Dalam makalah ini akan dijelaskan
mengenai proses kelahiran
1.2 Rumusan Masalah
2. apa saja yang di lalui saat proses melahirkan?
1.3 Tujuan
1.4 Manfaat
2. Sebagai pengetahuan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta)
yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan
lahir atau jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan
sendiri). Bentuk persalinan berdasarkan degfinisi adalah sebagai berikut :
1. Persalinan spontan.
2. Persalinan buatan.
3. Persalinan anjuran
dengan jalan rangsangan 19
minggu) tanpa disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu)
sejak uterus berkontraksi mengakibatkan perubahan serviks 22
Persalinan normal adalah proses persalinan yang melalui kejadian
secara alami dengan adanya kontraksi rahim ibu dan dilalui dengan
pembukaan untuk mengeluarkan bayi. Dari pengertian diatas
persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi servik,
lahirnya bayi dan plasenta dari Rahim ibu. Persalinan normal disebut
juga alami karena terjadi secara alami. Jadi secara umum persalinan
normal adalah proses persalinan yang melalui kejadian secara alami
dengan adanya kontraksi Rahim ibu dan dilalui dengan pembukaan
untuk mengeluarkan bayi. 18
1) Perubahan pada uterus
dan serviks. Berikut ini akan dibahas tentang kedua komponen
fungsional dengan perubahan yang terjadi pada kedua komponen
tersebut.
Kontraksi uterus saat persalinan sangat unik karena kontraksi ini
merupakan kontraksi otot yang sangat sakit. Kontraksi ini bersifat
involunter yang beketrja dibawah control saraf dan bersifat
intermitten yang memberikan keuntungan berupa adanya periode
istirahat/reaksi diantara dua kontraksi.
a) Fundal dominan atau dominasi
Kontraksi berawal dari fundus pada salah kornu. Kemudian
menyebar ke samping dan kebawah. Kontraksi tersebar dan
terlama adalah dibagian fundus. Namun pada puncak kontraksi
dapat mencapai seluruh bagian uterus.
b) Kontraksi dan retraksi
Pada awal persalinan kontraksi uterus berlangsung setiap 15 –
20 menit selama 30 detik dan diakhir kala 1 setiap 2 – 3 menit
selama 50 – 60 detik dengan intensitas yang sangat kuat. Pada
segmen atas Rahim tidak berelaksasi sampai kembali ke
panjang aslinya setelah kontraksi namun relative menetap pada
panjang yang lebih pendek. Hal ini disebut dengan retraksi.
c) Polaritas
keselarasan saraf – saraf otot yang berada pada dua kutub atau
segmen uterus ketika berkontraksi. Ketika segmen atas uterus
berkontraksi dengan kuat dan berertraksi maka segmen bawah
uterus hanya berkontraksi sedikit dan membuka.
d) Differensisiasi atau perbedaan kontraksi uterus
Selama persalinan aktif uterus berubah menjadi dua bagian
yang berbeda segmen atas uterus yang berkontraksi secara aktif
menjadi lebih tebal ketika persalinan maju. Segmen bawah
uterus dan servik relative pasif dibanding dengan dengan
segmen atas dan bagian ini berkembang menjadi jalan yang
berdinding jauh lebih tipis untuk janin. Cincin retraksi terbentuk
pada persambungan segmen bawah dan atas uterus. Segmen
bawah Rahim terbentuk secara bertahap ketika kehamilan
bertambah tua dan kemudian menipis sekali pada saat
persalinan.
diakhiri dengan pembukaan servik lengkap,
Kala ini dibagi menjadi 2 fase yaitu fase laten dan fase aktif
a) Fase laten : fase yang dimulai pada pembukaan serviks 0 dan
berakhir sampai pembukaan servik mencapai 3 cm. pada fase
ini kontraksi uterus meningkat frekuensi, durasi, dan
intensitasnya dari setiap 10 – 20 menit, lama 15 – 20 detik
dengan intensitas cukup menjadi 5 – 7 menit, lama 30 – 40 detik
dan dengan intensitas yang kuat.
b) Fase aktif : fase yang dimulai pada pembukaan serviks 4 dan
berakhir sampai pembukaan serviks mencapai 10 cm. pada fase
ini kontraksi uterus menjadi efektif ditandai dengan
meningkatanya frekuensi, durasi dan kekuatan kontraksi.
Tekanan puncak kontraksi yang dihasilkan mencapai 40 – 50
mmHg. Diakhir fase aktif kontraksi berlangsung 2 – 3 menit
sekali, selama 60 detik dengan intensitas lebih dari 40 mmHg.
Fase aktif dibedakan menjadi fase akselerasi, fase lereng
maksimal dan fase deselarasi.
- Fase akselerasi : dari pembukaan servik 3 menjadi 4 cm. fase
ini merupakan fase persiapan menuju fase berikutnya.
- Fase lereng maksimal : fase ini merupakan waktu ketika
dilatasi servik meningkat dengan cepat. Dari pembukaan 4
cm menjadi 9 cm selama 2 jam. Normalnya pembukaan
servik pada fase ini konstan yaitu 3 cm perjam untuk
multipara dan 1.2 cm untuk primipara.
- Fase deselerasi : merupakan akhir fase aktif dimana dilatasi
servik dari 9 cm menuju pembukaan lengkap 10 cm. dilatasi
servik pada fase ini lambat rata – rata 1 cm perjam namun
pada multipara lebih cepat.
a) Pendataran servik disebut juga penipisan servik pemendekan
saluran servik dari 2 cm menjadi hanya berupa muara
melingkar dengan tepi hampir setiis kertas. Proses ini terjadi
dari atas kebawah sebagai hasil dari aktivitas myometrium.
Serabut – serabut otot setinggi os servik internum ditarik
keatas dan dipendekkan menuju segmen bawah uterus,
sementara os eksternum tidak berubah
b) Pembukaan servik
pembukaan yang efisien. Pada primigravida pembukaan
didahului oleh pendatara servik.
bersamaan dengan pendataran
meningkatjan curah jantung meningkat 10% – 15%
d) Perubahan tekanan darah
rata – rata naik 15 mmHg, diastolic 5 – 10 mmHg), antara
kontraksi tekanan darah kembali normal pada level sebelum
persalinan. Rasa sakit, takut dan cemas juga akan
meningkatkan tekanan darah.
e) Perubahan metabolisme
otot. Peningkatan metabolisme ini ditandai dengan
meningkatnya suhu tubuh, nadi, pernafasan, cardiac output
dan kehilangan cairan.
f) Perubahan ginjal
mungkin disebabkan karena meningkatnya curah jantung
selama persalinan dan meningkatnya filtrasi glomelurus dan
aliran plasma ginjal.
g) Perubahan hematologi
persalinan dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum
persalinan sehari setelah pasca salin kecuali ada perdarahan
pot partum. 6
1) Tekanan darah
kontraksi pada kala dua. Upaya mengedan pada ibu juga dapat
memengaruhi tekanan darah, menyebabkan tekanan darah
meningkat dan kemudian menurun dan pada akhirnya berada
sedikit diatas normal. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi tekanan
darah dengan cermat diantara kontraksi. Rata – rata peningkatan
tekanan darah 10 mmHg di antara kontraksi ketika wanita telah
mengedan adalah hal yang normal.
2) Metabolisme
kala dua disertai upaya mengedan pada ibu yang akan menambah
aktivitas otot – otot rangka untuk memperbesar peningkatan
metabolisme.
Secara keseluruhan, frekuensi nadi meningkat selama kala dua
persalinan disertai takikardi yang mencapai puncaknya pada saat
persalinan.
5) Perubahan system pernafasan
diakibatkan peningkatan lebih lanjut curah jantung selama
persalinan dan mencerminkan peningkatan metabolisme yang
terjadi
diakibatkan peningkatan lebih lanjut curah jantung selama
persalinan dan kemungkinan peningkatan laju filtrasi glomelurus
dan aliran plasma ginjal. Polyuria menjadi kurang jelas pada posisi
terlentang karena posisi ini membuat aliran urine berkurang selama
kehamilan.
menetap merupakan hal yang abnormal dan kemungkinan
merupakan indikasi komplikasi obstetric, seperti rupture uterus 20
8) Dorongan mengejan
yang telah bekerja sejak jam – jam awal persalinan , tetapi aktivitas
ini mengalami akselerasi setelah serviks berdilatasi lengkap
namun, akselerasi ini tidak terjadi secara tiba – tiba. Beberapa
wanita merasakan dorongan mengejan sebelum serviks berdilatasi
lengkap dan sebagian lagi tidak merasakan aktivitas ini sebelum
sifat ekspulsif penuh 6
kedalam vagina. Tekanan dan bagian janin yang berpresentasi
menstimulasi reseptor saraf di dasar pelvik (hal ini disebut reflek
ferguson) dan ibu mengalami dorongan untuk mengejan. Reflex ini
pada awalnya dapat dikendalikan hingga batas tertentu, tetapi
menjadi semakin kompulsif, kuat, dan involunter pada setiap
kontraksi. Respon ibu adalah menggunakan kekuatan ekspulsi
sekundernya dengan mengontraksikan otot abdomen dan
diafragma 23
mengalami pergeseran. Dari anterior, kandung kemih terdorong
keatas kedalam abdomen tempat risiko cedera terhadap kandung
kemih lebih sedikit selama penurunan janin. Akibatnya, terjadi
peregangan dan penipisan uretra sehingga lumen uretra mengecil.
Dari posterior rectum menjadi rata dengan kurva sacrum, dan
tekanan kepala menyebabkan keluarnya materi fekal residual. Otot
levator anus berdilatasi, menipis, dan bergeser kearah lateral, dan
badan perineal menjadi datar, meregang dan tipis. Kepala janin
menjadi terlihat pada vulva, maju pada setiap kontraksi dan
mundur diantara kontraksi sampai terjadinya crowning 23
10) Perubahan hematologi
abnormal. 6
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang
berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi lahir uterus teraba
keras dengan fundus uteri diatas pusat beberapa menit kemudian
uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta plasenta dari
dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 menit – 15 menit setelah
bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.
Pengeluaran plasenta, disertai dengan pengeluaran darah. Komplikasi
yang dapat timbul pada kala II adalah perdarahan akibat atonia uteri,
retensio plasenta, perlukaan jalan lahir, tanda gejala tali pusat.
Tempat implantasi plasenta mengalami pengerutan akibat
pengosongan kavum uteri dan kontraksi lanjutan sehingga plasenta
dilepaskan dari perlekatannya dan pengumpulan darah pada ruang
utero – plasenter akan mendorong plasenta keluar.
Otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume
rongga uterus setelah lahirnya bayinya. Penyusutan ukuran ini
menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta.
Karena tempat perlekatan menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran
plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat, menebal dan
kemudian lepas dari dinding Rahim, setelah lepas, plasenta akan turun
ke bagian bawah uterus atau kedalam vagina 7
d. Perubahan Fisiologis kala IV
Persalinan kala IV dimulai dengan kelahiran plasenta dan berakhir 2
jam kemudian. Periode ini merupakan saat paling kritis untuk
mencegah kematian ibu, terutama kematian disebabkan perdarahan.
Selama kala IV, bidan harus memantau ibu setiap 15 menit pada jam
pertama dan 30 menit pada jam kedua setelah persalinan. Jika kondisi
ibu tidak stabil, maka ibu harus dipantau lebih sering. Setelah
pengeluaran plasenta , uterus biasanya berada pada tengah dari
abdomen kira – kira 2/3 antara symphysis pubis dan umbilicus atau
berada tepat diatas umbilicus.
Perubahan psikologis pada ibu bersalin wajar terjadi namun ia
memerlukan bimbingan dari keluarga dan penolong persalinan agar ia
dapat menerima keadaan yang terjadi selama persalinan dan dapat
memahaminya sehingga ia dapat beradaptasi terhadap perubahan yang
terjadi pada dirinya. fase laten dimana fase ini ibu biasanya merasa lega
dan bahagia karena masa kehamilannya akan segera berakhir. Namun,
pada awal persalinan wanita biasanya gelisah, gugup, cemas dan khawatir
sehubungan dengan rasa tidak nyaman karena kontraksi. Biasanya dia
ingin berbicara, perlu ditemani, tidak tidur, ingin berjalan – jalan dan
menciptakan kontak mata. Pada wanita yang dapat menyadari bahwa
proses ini wajar dan alami akan mudah beradaptasi dengan keadaan
tersebut dan pada fase aktif saat kemajuan persalinan sampai pada fase
kecepatan maksimum rasa khawatir wanita menjadi meningkat. Kontraksi
menjadi semakin kuat dan frekuensinya lebih sering sehingga wanita
tidak dapat mengontrolnya. Dalam keadaan ini wanita akan menjadi lebih
serius. Wanita tersebut menginginkan seseorang untuk mendampinginya
karena dia merasa takut tidak mampu beradaptasi.
2.2.4 Tanda – Tanda Persalinan
2) Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (
frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit )
3) Cairan lendir bercampur darah “show” melalui vagina. 8
b. Tanda-Tanda Persalinan.
vagina
a. Power (Kekuatan Ibu)
b. Passage (jalan lahir)
2.2.6 Tanda Bahaya Persalinan
a. Tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg dengan sedikitnya satu tanda
lain atau gejala preeklamsi.
b. Temperatur lebih dari 38 o C, Nadi lebih dari 100 x/menit dan DJJ
kurang dari 120 x/menit atau lebih dari 160 x/menit
c. Kontraksi kurang dari 3 kali dalam 10 menit, berlangsung kurang dari
40 detik, lemah saat di palpasi
d. Partograf melewati garis waspada pada fase aktif
e. Cairan amniotic bercampur meconium, darah dan bau
2.2.7 Penatalaksanaan Dalam Persalinan
Lamanya persalinan
Primigravida Multigravida
menit
Persalinan : 14 jam Persalinan : 8 jam
Penambahan pembukaan 1 sejam bagi primigravida, dan 2 cm sejam bagi
multigravida. Tapi sesungguhnya kemajuan pembukaan tidak sama rata.
a. Kala I (Kala Pembukaan)
Persalinan kala satu dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus teratur
dan meningkat (frekuensi dan kekuatanya) hingga serviks membuka
lengkap (10 cm). kala satu persalinan terdiri dari dua fase yaitu fase
laten dan fase aktif
1) Fase laten
Pada fase ini pembukaan sangat lambat ialah dari 0 sampai 3cm
mengambil waktu kurang lebih 8 jam
2) Fase aktif
Pada fase aktif pembukaan lebih cepat, fase ini dapat dibagi dalam
3 fase lagi yaitu:
a) Fase accelerasi (fase percepatan) dari pembukaan 3 cm sampai
4 cm yang dicapai dalam 2 jam
b) Fase kemajuan dari pembukaan 4 cm sampai 9 selama 2 jam
c) Fase deccelerasi (kurangnya kecepatan) dari pembukaan 9 cm
sampai 10 cm selama 2 jam. 9
Asuhan Persalinan Kala I
a. Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami,
keluarga, orang terdekat, yang dapat menemani ibu dan memberikan
support pada ibu.
b. Mengatur aktivitas dan posisi ibu sesuai dengan keinginannya dengan
kesanggupannya, posisi tidur sebaiknya tidak dilakukan dalam
terlentang lurus
c. Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his dan dianjurkan untuk
menarik nafas panjang, tahan nafas sebentar dan dikeluarkan dengan
meniup sewaktu his.
d. Menjaga privisi Ibu antara orang lain menggunakan penutup tirai,
tidak menghadirkan orang tanpa seizin ibu.
e. Menjelaskan tentang kemajuan persalinan, perubahan yang terjadi
pada tubuh ibu serta prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil - hasil
pemeriksaan.
kemaluan sesudah BAB/BAK.
g. Mengtasi rasa panas dan banyak keringat, dapat diatasi dengan
menggunakan kipas angina, AC didalam kamar.
h. Melakukan massase pada daerah punggung atau mengusap perut ibu
dengan lembut.
dehidrasi
untuk berkemih sesering mungkin. 8
b. Kala II Persalinan
Kala dua persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10
cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua dikenal juga sebagai
kala pengeluaran. 8
1) Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya
kontraksi
vaginnya
5) Peningkatan pengeluaran lendir dan darah
Asuhan Persalinan Kala II
digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan
tabung suntik steril sekali pakai kedalam partus set.
3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastic yang bersih
4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku, mencuci
kedua tangan dengan sabin dan air bersih yang mengalir dan
mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai / pribadi yang
bersih.
5. Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk pemeriksaan
dalam
6. Mengisap oksitosin 10 unit kedalam atbung suntik (dengan memakai
sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan
kembali di partus set steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik.
Memastikan Pembukaan Lengkap
dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang
sudah dibasahi air disinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina,
perineum atau anus terkontaminasi oleh kotorang ibu,
membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari depan
ke belakang. Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasa dalam
wadah yang benar. Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi
(meletakkan kedua sarung tangan tersebut dengan benar di dalam
larutan dekontaminasi)
untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap.
Bila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah
lengkap lakukan amniotomi.
yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5%
dan kemudian melepaslannya dalam keadaan terbalik serta
merendamnya didalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Mencuci
kedua tangan.
untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit)
Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal
Mendokumentasi hasil – hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan
semua hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.
Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses pimpinan
meneran
11. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.
Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta
janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan
mendekontaminasikan temuan – temuan.
mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat ibu mulai
meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran. (pada saat his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan
pastikan ia merasa nyaman)
kuat untuk meneran :
untuk meneran.
meneran
pilihannya (tidak meminta ibu berbaring terlentang)
Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
Mengajurkan keluarga untuk mendukung dan memberi
semangat pada ibu
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum terjadi segera
dalam waktu 120 menit meneran untuk primipara atau 60 menit
untuk multipara, merujuk segera.
menjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil
posisi yang aman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60
menit, mengajurkan ibu untuk muali meneran pada puncak
kontraksi – kontraksi tersebut dan beristirahat diantara
kontraksi.
Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi
15. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm,
meletakan handuk bersih diatas perut untuk mengeringkan bayi.
16. Meletakan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu.
17. Membuka tutup partus set dan memastikan kembali kelengkapan alat
18. Memakai sarung tangan DTT atau sterril pada kedua tangan
Menolong Kelahiran Bayi
Lahirnya kepala
19. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm, lindungi
perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakan tangan
yang lain dikepala dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak
menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepa keluar perlahan –
lahan. Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan – lahan atas
bernafas cepat saat kepala lahir.
Jika ada meconium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut
dan hidung setelah kepala lahir menggunakan penghisap lender
deelee disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau bola karet
penhisap yang baru dan bersih.
20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika
hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi.
Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan
lewat bagian atas kepala bayi.
Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di
satu tempat dan memotongnya.
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara
spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan
di masing – masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran
saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya kea rah bawah
dan kearah keluar hingga bahu anterior muncul dibawah arkus pubis
dan kemudian dengan lembut menarik kearah atas dan ke arah luar
untuk melahirka bahu posterior.
bayi yang berada dibagian bawah kearah perineum tangan
membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tetangan tersebut.
Mengendelikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati
perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh bayi
saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk
mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.
24. Setelah tubuh dari lengan, menelusurkan tangan yang ada atas
(anterior) dari punggung kearah kaki bayi untuk menyangganya saat
panggung dari kaki lahir. Memegang kedua kaki bayi dengan hati –
hati membantu kelahiran kaki.
VII. Penanganan bayi baru lahir
25. Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi diatas perut ibu
dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali
pusat terlalu pendek, meletakan bayi ditempat yang memungkinkan)
26. Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi
kecuali bagian pusat. Ganti handuk atau kain yang kering. Biarkan
bayinya berada diatas perut.
adanya bayi kedua.
28. Memberitahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi
29. Dalam waktu 1 menit setelah kelahiran bayi, memberikan suntikan
oksitosin 10 IU IM di 1/3 paha kanan atas ibu bagian luar, setelah
mengaspirasinya terlebih dahulu.
30. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira – kira 3 cm dari pusat
bayi. Melaukan urutan pada tali pusat mulai dari klem kearah ibu dan
memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama (kearah ibu)
31. Memegang talipusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting
dan memotong tali pusat diantara dua klem tersebut.
32. Meletakan bayi tengkurao didada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga
menempel didada/ perut ibu. Usahakan bayi berada diantara payudara
ibu dengan posisi lebih rendah dari putting payudara ibu
33. Mengganti handuk yang basah dan selimuti bayidengan kain atau
selimut yang bersih dan kering.
34. Memindahkan klem dan tali pusat
35. Meletakan satu tangan diatas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas
tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi
kontraksi menstabilkan uterus. Memegang tali pusat dan menstabilkan
uterus. Memegang tali pusay dan klem dengan tangan lain.
36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan
kearah bawah pada tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang
berlawanan kea rah pada bagian bawah uterus dengan cara menekan
uterus kearah atas dan belakang (dorso kranial) dengan hati – hati
untuk membantu mencegah terjadinya inversion uteri. Jika plasenta
tidak lahir setelah 30 detik – 40 detik, menghentikan penegangan tali
pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut mulai.
Mengeluarkan plasenta
37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik
tali pusat kea rah bawah dan keamudian kea rah atas, mengikuti kurve
jalan lahir sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus
- Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak
sekitar 5 – 10 cm dari vulva.
- Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penengan tali pusat
selama 15 menit.
- Menilai kandung kemih dan mengkateterisasi kandung kemih
dengan menggunakan teknik aseptic jika perlu.
- Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan
- Mengulangi peregangan tali pusat selama 15 menit berikutnya.
- Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak
kelahiran bayi.
plasenta dengan menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta
dengan dua tangan dan dengan hati – hati memutar plasenta hingga
selaput ketuban terpilin. Dengan lembut perlahan melahirkan selaput
ketuban tersebut.
tingkat tingggi atau steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu
dengan seksama. Menggunakan jari – jari tangan atau klem atau
forceps disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepaskan
bagian selaput yang tertinggal.
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan massase
uterus, meletakan telapak tangan di fundus dan melakukan massase
dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi
(fundus menjadi keras)
Menilai Perdarahan
40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun
janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa selaput ketuban
lengkap dan utuh. Meletakan plasenta dalam kantung plastic atau
tempat khusus.
15 detik mengambil tindakan yang sesuai.
41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera
menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
VIII. Melakukan Prosedur Pasca Persalinan
42. Menilai ulan uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.
Mengevaluasi perdarahan persalinan vagina.
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu
paling sedikit 1 jam.
44. Setelah 1 jam, lakukan penimbangan atau pengukuran bayi, beri tetes
mata/zalf antibiotic profilaksis, dan vitamin K 1 mg dipaha kiri
anterolateral
45. Setelah 1 jam pemberian vitamin K berikan suntikan imunisasi
hepatitis B di paha anteroteral.
46. Melanjutan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam.
47. Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan massase uterus
dan memeriksa kontraksi uterus.
48. Mengevaluasi dan estimasi kehilangan darah
49. Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih setiap 15
menit selama satu jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit
selama jam kedua pasca persalinan.
- Memeriksa temperature tubuh ibu sekali setiap jam selama dua jam
pertama pasca persalinan
50. Memeriksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bernafas dengan baik
(40 – 60 x/menit serta suhu tubuh normal (36,5 – 37,5) )
51. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas peralatan setelah
dekontaminasi.
sampah yang sesuai
Membersihkan cairan ketuban, lender dan darah. Membantu ibu
memakai pakaian yang bersih dan kering.
54. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI.
Menganjurkan keluarga untuk memberikan minuman dan makanan
yang diinginkan.
56. Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5%,
membalikan bagian luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
selama 10 menit.
58. Melengkapi partograf. 8
IMD (Inisiasi Menyusu Dini)
Pada tahun 1992 WHO/UNICEF mengeluarkan protocol tentang
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebagai salah satu dari Evidence for the ten
step to successful breastfeeding yang harus diketahui oleh setiap tenaga
kesehatan. Segera setelah dilahirkan, bayi diletakan di dada atau perut
atas ibu selama paling sedikit satu jam untuk memberi kesempatan
kepada bayi untuk mencari dan menemukan putting ibunya.
Manfaat IMD bagi bayi adalah membantu stabilisasi pernapasan,
mengendalikan suhu tubuh bayi lebih baik dibandingkan dengan
incubator, menjaga kolonisasi kuman yang aman untuk bayi dan
mencegah infeksi nosocomial. Kadar bilirubin bayi juga lebih cepat
normal karena pengeluaran meconium lebih cepat sehingga dapat
menurunkan insiden ikterus bayi baru lahir. Kontak kulit dengan kulit
juga membuat bayi telah tenang sehingga didapat pola tidur yang lebih
baik. Dengan demikian, berat badan bayi cepat meningkat dan lebih cepat
keluar dari rumah sakit. Bagi ibu, IMD dapat mengoptimalkan
pengeluaran hormone oksitosin, prolactin, dan secara psikologis dapat
menguatkan ikatan batin antara ibu dan bayi. 10
KALA III
Kala III Persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan
lahirnya plasenta dan selaput ketuban. 8
Tanda – tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal – hal
dibawah ini :
b. Perdarahan, terutama perdarahan yang agak banyak
c. Memanjangnya bagian tali pusat yang lahir
d. Naiknya fundus uteri karena naiknya Rahim lebih mudah digerakan. 9
Manajemen aktif kala III terdiri dari beberapa komponen :
a. Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi
lahir.
c. Massase fundus uteri
c. Memberitahukan kepada ibu bahwa plasenta lahir, memeriksa
kelengkapan plasenta
d. Mengevaluasi kontraksi uterus, beserta perdarahan pada kala III
e. Memantau adanya tanda bahaya kala III seperti kelainan kontraksi. 8
KALA IV
Dimulai dari lahirnya plasenta dan berakhir 2 jam pertama post partum.
Dalam kala IV ini penderita masih membutuhkan pengawasan yang
intensif karena perdarahan karena atonia uteri masih mengancam. Maka
dalam kala IV penderita belum boleh dipindahkan keruang perawatan dan
tidak boleh ditinggalkan oleh bidan. Observasi yang dilakukan 2 jam
postpartum.
- Kontraksi Rahim
- Memeriksa perdarahan da nada tidaknya laserasi, jika ada laserasi
maka dilakukan heacting
- Mengobservasi TTV, kontraksi uterus, perdarahan dan kandung
kemih tiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30 menit pada 1 jam
kedua.
- Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini
- Mendokumentasikan hasil pemeriksaan
primer dan perdarahan post partum sekunder.
Sebab perdarahan post partum adalah sebagai berikut :
Perdarahan Postpartum Primer Perdarahan postpartum
Sekunder
Definisi :
menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari
tempat implantasi plasenta setalah bayi dan plasenta lahir. 10
Atonia uteri sebagai penyebab perdarahan, kini makin berkurang seiring
dengan diterimanya gerakan keluarga berencana, sehingga
grandemultipara semakin menurun.
a. Kehamilan ganda
- Kehamilan dengan hidramnion
Atonia uteri menimbulkan perdarahan yang banyak dan dapat
membahayakan jiwa penderita, sehingga perlu diambil langka
pengobatan sebagai berikut :
a) Pemberian uteronika
- Methergin IV/IM, mempertahankan kontraksi
kearah dinding depan uterus.
dengan tujuan menghentikan perdarahan
menjepit serviks sehingga tertutup
kontraksi otot rahim
5) Histerektomi supravaginal. 12
2.3.1 Pengertian Nifas
Masa nifas setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari menurut
hitungan awam merupakan masa nifas. Masa ini penting sekali untuk
terus dipantau. Nifas merupakan masa pembersihan Rahim, sama halnya
masa haid.
Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir
ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Masa nifas berlangsung selama kira – kira 6 minggu.
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta,
serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ
kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu.
Masa nifas (puerperium), berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang
artinya bayi dan parous yang artinya melahirkan atau berarti masa
sesudah melahirkan.
Perubahan system reproduksi
Selama masa nifas, alat – alat interna atau eksterna berangsur – angsur
kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan keseluruhan alat
genetalia ini disebut involusi. Pada masa ini terjadi juga perubahan
penting lainnya, perubahan – perubahan yang terjadi antara lain sebagai
berikut :
Uterus
Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi posisi
fundus uteri berada kurang lebih pertengahan antara umbilicus dan
simfisis, atau sedikit lebih tinggi. Dua hari kemudian, kurang lebih sama
dan kemudian mengerut, sehingga dua minggu telah turun masuk
kedalam rongga pelvis dan tidak dapay diaraba lagi dari luar.
Dalam keadaan normal, uterus mencapai ukuran besar pada masa
sebelum hamil sampai dengan kurang dari 4 minggu, berat uterus setelah
kelahiran kurang lebih 1 kg sebagai akibat involusi. Satu minggu setelah
melahirkan beratnya menjadi kurang lebih 300 gram, setelah itu menjadi
100 gram atau kurang. Otot – otot uterus segera berkontraksi setelah
postpartum. Pembuluh – pembuluh darah yang berada diantara anyaman
otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah
plasenta dilahirkan.
Involusi TFU Berat Uterus
1 minggu Pertengahan pusat simfisis 750 gr
2 minggu Tidak teraba di atas simfisis 500 gr
6 minggu Normal 50 gr
8 minggu Normal seperti sebelum hamil 30 gr
Gambar 3.1
Lochea
Lokia adalah cairan secret yang berasal dari cavum uteri dan vagina
selama masa nifas. Lokia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu lokia rubra,
sangulenta dan lokia serosa atau alba. Berikut ini adalah beberapa jenis
lokia yang terdapat pada wanita masa nifas.
Lokia rubra (cruenta) berwarna merah karena berisidarah segar dan
sisa – sisa selaput ketuban., set – set desidua. Verniks caseosa, lanugo,
dan mekoneum selama 2 hari pasca persalinan. Inilah lokia yang akan
keluar selama dua sampai tiga hari postpartum.
Lokia sangulenta berwarna merah kuning berisi darah dan lender yang
keluar pada hari ke 3 sampai ke 7 pasca persalinan.
Lokia serosa adalah lokia berikutnya. Dimulai dengan versi yang lebih
pucat dari lokia rubra. Lokia ini berbentuk serum dan berwarna merah
jambu kemudian menjadi kuning. Cairan tidak berdarah lagi pada hari
ke 7 sampai hari ke 14 pascapersalinan. Lokia laba mengandung
terutama cairan serum, jaringan desidua, leukosit, dan eritrosit.
Lokia alba adalah lokia yang terakhir. Dimulai dari hari ke 14
kemudian makin lama makin sedikit hingga sama sekali berhenti
sampai satu atau dua minggu berikutnya. Bentuknya seperti cairan
putih berbentuk krim seperti terdiri atas leukosit dan sel – sel desidua.
Lokia mempunyai bau yang khas, tidak seperti bau
menstruasi. Bau ini lebih terasa tercium pada lokia serosa, bau ini juga
semakin lebih keras jika bercampur dengan keringat dan harus cermat
membedakannya dengan bau busuk yang menandakan adanya infeksi.
Lokia dimulai sebagai suatu pelepasan cairan dalam jumlah yang
banyak pada jam – jam pertama setelah melahirkan. Kemudian lokia
ini akan berkurang jumlahnya sebagai lokia rubra, lalu berkurang
sedikit menjadi sanguelenta, serosa dan akhirnya lokia alba.
Serviks
Serviks terdapat oedema tipis dan terbuka. Pada portio tampak kemerahan
dan lecet. Hari keempat sampai dengan hari 2 jam bila dimasukan
kedalam mulut serviks, setelah 18 jam postpartum serviks menjadi
pendek, mengeras konsistensi lunak, tipis dan akhir pertama pulih
sempurna.
Vagina
saluran yang luas berdinding tipis. Secara berangsur – angsur luasnya
berkurang, tetapi jarang sekali kembali seperti ukuran seorang nulipara.
Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Hymen tampak sebagai
tonjolan jaringan yang kecil, yang dalan proses pembentukan berubah
menjadi karunkulae mitiformis yang khas bagi wanita multiara.
Payudara (Mammae)
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara
alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologis, yaitu
sebagai berikut:
Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan
menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru
lahir. Setelah melahirkan, ketika hormone yang dihasilkan plasenta
tidak ada lagi untuk menghambatnya kelenjar pituitary akan
mengeluarkan prolactin (hormone laktogenik). Sampai hari ketiga
setelah melahirkan, efek prolactin pada payudara mulai bias dirasakan.
Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi darah, sehingga
timbul terasa hangat, bengkak, dan rasa sakit. Ketika bayi menghisap
putting, reflek saraf merangssang lobus posterior pituitary untuk
menyekresi hormone oksitosin.
a. Periode Taking In
b. Periode Taking Hold
c. Periode Letting Go
2.3.4 Tanda Bahaya Nifas
Tanda Bahaya / Komplikasi Nifas
masuknya kuman kedalam alat – alat genetalia pada waktu persalinan dan
nifas, infeksi ini merupakan masalah maternal yang paling tinggi. Bahaya
nifas yang sering kita temukan ialah :
a. Vulvitis
b. Vaginitis
c. Serviksitis
d. Endrometritis
e. Mastitis
h. Flagmasia Alba Dolens
2.3.5 Asuhan Masa Nifas
Kunjungan masa nifas dilakukan sedikitnya 4 kali kunjungan karena
untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah,
mendeteksi dan menangani masalah yang terjadi.
a. Kunjungan Pertama (6 – 8 jam setelah persalinan)
Tujuan :
2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila
perdarahan berlanjut
3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
4. Pemberian ASI Awal
6. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara hipotermi
b. Kunjungan kedua (6 hari setelah persalinan)
Tujuan :
fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan, tidak ada bau
2. Menilai adanya tanda – tanda demas, infeksi perdarahan abnormal
3. Memastikan ibu untuk mendapatkan cukup makanan, cairan dan
istirahat
tanda – tanda penyulit
5. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, mejaga agar bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari –
hari
Tujuan :
fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan, tidak ada bau
2. Menilai adanya tanda – tanda demas, infeksi perdarahan abnormal
3. Memastikan ibu untuk mendapatkan cukup makanan, cairan dan
istirahat
tanda – tanda penyulit
5. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, mejaga agar bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari –
hari
Tujuan. :
fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan, tidak ada bau
2. Menilai adanya tanda – tanda demas, infeksi perdarahan abnormal
3. Memastikan ibu untuk mendapatkan cukup makanan, cairan dan
istirahat
tanda – tanda penyulit
5. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, mejaga agar bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari –
hari
6. Menanyakan kepada ibu tentang penyulit – penyulit yang ibu atau
bayi alami
2.1 Pengertian
(bukan premature atau postmatur), mempunyai onset yang spontan
(tidak diinduksi), selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat
awitannya, mempunyai janin tunggal dengan presentase puncak kepala,
terlaksana tanpa bantuan artificial, tidak mencakup komplikasi, plasenta
lahir normal. Menurut Mochtar (1998), Persalinan adalah suatu proses
pengeluaran hasil konsepsi(janin + uri), yang dapat hidup ke dunia luar, dari
rahim melalui jalan lahir atau dengan jalanlain. Persalinan normal disebut juga
partus spontan, adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan
tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang
umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.Persalinan dimulai (inpartu) pada
Saat uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka
dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta
Pengertian persalinan
Persalinan adalah suatu proses saat janin dan produk konsepsi dikeluarkan
sebagai akibat kontraksi teratur, progresif, sering dan kuat (Barbara, 2009).
Persalinan adalah klimaks dari kehamilan dimana berbagai sistem yang
nampaknya tidak saling berhubungan bekerja dalam keharmonisan untuk
melahirkan bayi. (Manuaba, 2008).
Persalinan dan kelahiran adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakang kepala yang berlangsung selama 18 jam, tanpa komplikasi baik ibu
maupun janin. (Saifudin, 2001).
beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses
persalinan, bayi dilahirkan spontan dengan presentasi belakang kepada pada
usia kehamilan antara 37 hingga 42 minggu lengkap. Setelah persalinan ibu dan
bayi dalam keadaan baik.
proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42
minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung
selama 18 jam produk konsepsi dikeluarkan sebagai akibat kontraksi teratur,
progresif, sering dan kuat yang nampaknya tidak saling berhubungan bekerja
dalam keharmonisan untuk melahirkan bayi.
2.2 Bentuk-Bentuk Persalinan
a) Persalinan spontan
Proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta
tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
b) Persalinan Bantuan
Proses persalinan yang di bantu dengan tenaga dari luar misalnya ekstraksi
dengan forsep atau dilakukan operasi seksio caesaria.
c) Persalinan Anjuran
Pada umumnya persalinan terjadi bila sudah besar untuk hidup di luar, tetapi
sedemikian besarnya sehingga menimbulkan kesulitan dalam persalinan,
kadang-kadang persalinan tidak di mulai dengan sendirinya tetapi baru
berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocin atau prostaglandin.
2.3 Persiapan persalinan
Pada trisemester akhir menjelang kelahiran sang bayi, ada beberapa hal yang
perlu dipersiapkan. Terutama barang – barang keperluan ibu dan sang bayi yang
nantinya akan dibawa ke rumah sakit.
Membuat rencana persalinan, meliputi :
Bagaimana transportasi yang bisa digunakan untuk ke tempat persalinan
tersebut
Berapa biaya yang dibutuhkan, dan bagaimana cara megumpulkannya
Siapa yang kan menjaga keluarganya jika ibu melahirkan
Membuat rencana pembuatan keputusan jika gawat darurat pada saat
pembuat keputusan utama tidak ada
Mempersiapkan transportasi jika terjadi gawat darurat
1. Dimana ibu akan melahirkan
2. Bagaimana cara menjangkaunya
Tabungan ibu bersalin (tabulin )
Kain panjang 4 buah
Pakaian bayi lengkap, minyak telon
Tas plastik/ kresek
Hindari kepanikan dan ketakutan
Siapkan diri ibu, ingat bahwa setelah semua ini ibu akan mendapatkan buah hati
yang didambakan.
Simpan tenaga anda untuk melahirkan, tenaga anda akan terkuras jika berteriak-
teriak dan bersikap gelisah
Dengan bersikap tenang, ibu dapat melalui saat persalinan dengan baik dan
lebih siap
Dukungan dari orang – orang terdekat, perhatian dan kasih sayang tentu
akan membantu memberikan semangat untuk ibu yang akan melahirkan.
Persalinan ditentukan oleh 3 faktor “P” utama
Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan
kardiovaskular respirasi metabolic ibu.
anatomic mayor).
Gejala paling sering menjelang persalinan adalah rasa mulas. Perut terasa
seperti kram, mirip saat menstruasi. Ada juga yang merasa mual, kembung, dan
nyeri punggung. Bahkan ada yang diare atau pusing.Menjelang persalinan,
sistem pencernaan Ibu akan melambat. Lebih baik Ibu makan makanan ringan
saja seperti sup, sereal, atau roti dan banyak minum air putih.
Tanda tanda lainya seperti :
Terasa nyeri di selangkangan.
Anda akan merasakan nyeri di bagian selangkangan karena ada tekanan sebagai
akibat posisi kepala janin sudah turun ke bawah, ke daerah rangka tulang pelvis.
Lantaran janin menekan kandung kemih, ibu hamil menjadi sering buang air
kecil. Anda juga merasakan sakit pada perut, mulas, sering buang air besar, dan
buang angin.
Anda akan merasakan sakit berlebihan pada panggul dan bagian tulang
belakang.
Rasa sakit ini disebabkan oleh pergeseran dan pergerakan janin yang mulai
menekan tulang belakang.
Saat otot rahim mengerut, ukuran rahim akan mengecil, sehingga kepala
janin terdorong ke arah jalan lahir. Bersamaan dengan itu, mulut rahim sedikit
demi sedikit mulai membuka.pada awal pembukaan mulut rahim, sumbat lendir
itu terbuka dan lendir yang berwarna merah muda keluar melalui vagina. Kita
biasa menyebutnya flek.
Ketuban Pecah
Pecah ketuban juga tanda umum menjelang persalinan. Ini lumayan bikin panik.
Apalagi kalau keluarnya seperti semburan yang sulit ditahan.Air ketuban adalah
cairan amniotik yang mengelilingi bayi selama kehamilan. Ketika saat
melahirkan tiba, kantung ketuban pecah dan airnya keluar
melalui vagina.Kalauketuban pecah, hati-hati terhadap bahaya infeksi. Jaga
kebersihan area vagina dan hubungi dokter untuk memastikan apa sudah
saatnya Ibu melahirkan.
Walau tidak nyaman, kontraksi adalah panduan untuk mengetahui kapan bayi
Ibu akan lahir.Normalnya, di minggu ke 38-40 kehamilan, kepala janin sudah
mulai turun ke rongga panggul. Bersamaan dengan itu, otot-otot rahim pun
mulai melakukan gerakan mengerut dan meregang secara bergantian, terus-
menerus secara teratur.Menjelang persalinan, kontraksi makin kuat dan
frekuensinya makin sering. Biasanya kondisi ini secara alami merangsang
Ibu mengejan untuk mendorong bayi keluar.
Jalan lahir membuka
Sejak terjadinya kehamilan, secara alami mulut rahim tertutup oleh semacam
sumbat berupa lendir kental. Sumbat lendir ini bertugas menjaga agar
kehamilan bisa terus berjalan sekaligus melindungi janin dari kuman.
Mulut rahim yang semula hanya membuka sedikit, seiring dengan datangnya
kontraksi yang semakin kuat, akan terus melunak dan terbuka semakin lebar.
Lama kelamaan, mulut rahim akan terlihat semakin datar dan menyatu dengan
rahim bagian bawah.Pembukaan mulut rahim biasanya dihitung dengan satuan
sentimeter (cm). bila dokter mengatakan mulut rahim anda sudah pembukaan 8
artinya jalan lahir sudah membuka sepanjang 8 cm.
Lamanya tahap pembukaan jalan lahir dari awal hingga sempurna, bervariasi
pada setiap kehamilan. Bila mulut rahim sudah membuka sempurna, artinya
anda sudah melewati tahap pertama dari proses persalinan, dan siap menuju
tahap kedua yaitu kelahiran bayi.
Siap Lahir
Pada tahap ini, kepala janin yang memang sudah tepat berada di mulut rahim
akan terus mendesak. Bersamaan dengan itu, secara alamiah, rahim dan vagina
akan membuka semacam cekungan yang menjadi jalur untuk dilewati bayi. Saat
ini, anda akan merasakan tekanan yang sangat kuat di daerah perineum (daerah
antara vagina dan anus).
Saat kepala janin sudah di ambang pintu dan siap keluar, lendir dan darah yang
keluar dari vagina semakin bertambah. Selain itu, desakan kuat kepala janin
akan menyebabkan kantong ketuban pembungkus janin pecah lebih awal atau
saat pembukaan lengkap sehingga cairan ketuban keluar membasahi vagina .
cairan ini sekaligus membuat jalan lahir semakin licin yang justru memudahkan
bayi meluncur keluar dengan mulus. Setelah pembukaan benar – benar lengkap
dan kepala bayi sudah terlihat di pintu lahir, saat inilah anda diijinkan
mengejan.
mendadak, nutrisi janin dari plasenta berkurang.
Tekanan pada ganglion servikale dari frankenhauser, menjadi stimulasi
(pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus
Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin
merangsang terjadinya kontraksi
estrogen mengakibatkan peningkatan aktivitas kortison, prostaglandin,
oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses persalinan.
Faktor yang memegang peranan penting sehingga menyebabkan persalinan.
Beberapa teori yang dikemukakan adalah :
Penurunan kadar estrogen dan progesteron
Gesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya hormon estrogen
meninggikan kerentanan otot-otot rahim.selama kehamilan terdapat
keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen di dalam darah, tetapi
pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his.
Teori oksitosin
kehamilan, kadar oksitosin bertambah, sehingga uterus menjadi lebih sering
berkontraksi.
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang
oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan
isinya.demikian dengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin
teregang otot-otot dan otot-otot rahim makin rentan.
Pengaruh janin
Hipofyse dan kelenjar suprarenal janin memegang peranan oleh karena pada
anencephalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.
Teori prostaglandin
permulaan persalinan.
Menurut teori ini, plasenta menjadi tua akan menyebabkan turunnya kadar
estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal
ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
Teori iritasi mekanik
Di belakang serviks terdapat ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila
ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, maka akan timbul
kontraksi.
1. 1. Kala 1 (dari pembukaan 1 sampai lengkap).
Dimulai bila timbul his dan wanita mengeluarkan lendir yang bercampur darah
(blood show) sampai dengan pembuakaan lengkap (10cm)
Proses ini terbagi menjadi 2 fase , yaitu :
1. 1. Fase laten
Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan serviks secara bertahap.
Biasanya berlangsung di bawah hingga 8 jam
1. 2. Fase aktif
dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu
10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
Serviks membuka dari 4 ke 10 cm, biasanya dengan kecepatan 1 cm
atau lebih per jam hingga penbukaan lengkap (10 cm)
Terjadi penurunan bagian terbawah janin
Berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 sub fase, yaitu :
1. Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan dari 3 – 4 cm
2. Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung
sangat cepat , dari 4 – 9 cm
3. Fase deselerasi : pembukaan menjadi lambat lagi , dalam waktu 2 jam
pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap
Faktor yang mempengaruhi membukanya serviks :
Otot-otot serviks menarik pada pinggir ostium dan membesarkannya.
Waktu kontraksi, segmen bawah rahim dan serviks diregang oleh isi
rahim terutama oleh air ketuban dan ini menyebabkan tarikan pada
serviks.
Waktu kontraksi, bagian dari selaput yang terdapat di atas kanalis
servikalis adalah yang disebut ketuban, menonjol ke dalam kanalis
servikalis dan membukanya.
1. 2. Kala II (dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir)
Kala II persalinan adalah masa pembukaan lengkap sampi dengan lahirnya bayi.
Disebut juga kala pengeluaran atau keluarnya bayi dari uterus melalui vagina.
Perubahan yang terjadi pada kala II :
a) Kontraksi uterus
Lebih lama , 50 – 60 detik untuk satu his
Lebih sering , lebih dari 3x dalam 10 menit
b) Fetus
Hipoksia
mengedan.
10
Karena ibu mengedan , maka otot pada dinding perut akan berkontraksi.
Mengedan optimal dilakukan dengan cara :
Paha ditarik dekat lutut
Gigi bertemu gigi
Tidak mengeluarkan suara.
Vagina jadi tambah luas
Uretra terenggang
Rectum tertekan
Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
Ibu merasakan makin meningkatnya tekanan pada rektum dan atau
vaginanya
Peningkatan pengeluaran lendir dan darah
Diagnosis kala dua persalinan dapat ditegakkan atas dasar hasil pemeriksaan
dalam yang menunjukkan :
Biasanya ketuban pecah sendiri; bila pembukaan lengkap tapi ketuban
masih positif, maka dilakukan amniotomi
Terlihatnya bagian kepala bayi pada introitus vagina
UUK biasanya akan memutar ke depan; pada primigravida kala II
berlangsung rata-rata 1,5 jam dan pada multipara rata-rata 0,5 jam
Cara melahirkan bayi :
1. Melahirkan kepala bayi
Pimpin ibu meneran saat kepala sudah tampak 5-6 cm depan vulva.
Letakkan satu tangan pada kepala bayi agar tidak terjadi defleksi
maksimal.
Usap muka bayi dengan kasa / kain kering untuk membersihkan dari
kotoran seperti darah, lendir dan air ketuban.
Periksa apakah ada lilitan tali pusat, jika ada lilitan dan tali pusat panjang
maka longgarkan melewati kepala bayi, tapi jika tali pusat pendek, klem
lalu potong.
Biarkan kepala bayi mengadakan putaran paksi luar dengan sendirinya.
Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan lehar bayi (secara
biparietal).
Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan,dan
lakukan tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu belakang.
Selipkan satu tangan ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil
menyangga kepala dan selipkan satu tangan lain ke punggung bayi untuk
melahirkan bayi seluruhnya (dengan sanggah susur)
Letakkan bayi di atas perut ibu dan keringkan bayi.
Klem dan potong tali pusat di antara kedua klem.
1. 3. Kala III (dari bayi lahir hingga plasenta lahir).
Kala III berlangsung dari lahirnya bayi hingga lahirnya plasenta secara lengkap
dari dinding uterus. Biasanya plasenta lepas dalam 6 – 15 menit setelah
kelahiran bayi dan keluarnya spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.
Peneluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah. Pengeluaran plasenta
disertai dengan pengeluaran darah 100-200 cc.
Tanda-tanda pelepasan plasenta :
Setelah bayi lahir, dan sebelum miometrium berkontraksi, uterus berbentuk
bulat penuh dan tinggi fundus biasanya turun hingga di bawah pusat.
1. Tali pusat memanjang (tanda Ahfeld)
2. Semburan darah tiba-tiba
Semburan darah yang tiba-tiba ini menandakan bahwa darah yang terkumpul di
antara tempat melekatnya plasenta dan permukaan maternal plasenta ( darah
retroplasenter), keluar melalui tepi plasenta yang terlepas.
Tingkat pada Kelahiran Plasenta :
2. Pengeluaran Plasenta dari dalam kavum uteri
Pelepasan dapat dimulai dari tengah (sentral, menurut Schultz)
Dari pinggir plasenta (marginal, menurut Mathew-Duncan)
Serempak dari tengah dan pinggir plasenta
Umumnya perdarahan tidak melebihi 400 ml, jika lebih termasuk kasus
patologi.
Perasat Kustner
Tangan kanan meregang atau menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri menekan
daerah simfisis , bila tali pusat inimasuk kembali kedalm vagina berarti palsenta
belu lepas dari dinding uterus. Bila tali pusat tidak masuk kembali kedalam
vagina , berarti plasenta telah lepas dari dinding uterus.
Persat Strassman
Tangan kanan meregangkan atau menarik sedikit tali pusat. Tangan kiri
mengetuk fundus uteri.bila tersa getaran pada tali pusat , berarti tali pusat belum
lepas dari tempat implantasi. Bila tidak terasa getaran, berarti tali pusat telah
terlepas dari tempat implantasinya.
Persat Klein
Ibu disuruh mengedan , bila tali pusat tampak turun kebawah saat mengedan
dihentikan maka plasenta telah lepas dari tempat implantasinya.
Perasat Crede
Dengan cara memijat uterus seperti memeras jeruk agar palsenta lepas dari
dinding uterus. Perasat ini hanya digunakan dalam keadaan terpaksa.
1. 4. Kala IV (sampai dengan 2 jam plasenta lahir).
Adalah pemantauan melekat terhadap tanda – tanda vital dan jumlah perdarahan
harus dilakukan pada 1 – 2 jam setelah plasenta lahir lengkap. Hal ini
dimaksudkan agar keadaan ibu post partum dapat dipantau dan bahaya akibat
perdarahan dapat dihindari.
Sebelum meninggalkan ibu post prtum, harus diperhatikan 7 yang penting,
antara lain :
1) Kontraksi uterus harus baik
2) Tidak ada perdarahan baik dari vagina maupun dari alat genitalia lainnya
3) Plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap
4) Kandung kemih harus kosong
5) Luka pada perineum telah terawat baik dan tidak ada hematoma
6) Bayi dalam keadaan baik
7) Ibu dalam keadaan baik , nadi dan TD normal tidak ada keluhan sakit
kepala
Setelah lahirnya Plasenta :
1. Periksa kelengkapan plasenta dengan teliti apakah lengkap atau tidak
untuk menghindari perdarahan.
2. Periksa kontraksi rahim, bila kontraksi rahim tidak bagus dan konsistensi
uterus lembek bisa mengakibatkan perdarahan.
3. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan penolong secara
melintang antara pusat dan fundus uteri. Fundus uteri harus sejajar
dengan pusat atau lebih bawah.
4. Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.
1. Periksa perineum dari perdarahan aktif. Periksa luka laserasi atau
episiotomi, apakah terawat dengan baik dan tidak ada hematome.
2. Evaluasi kondisi ibu secara umum. Pastikan Ibu dalam keadaan baik.
Nadi dan Tekanan Darah normal, tidak ada pengaduan sakit kepala tau
enek.
4. Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala IV persalinan
pada halaman partograf segera setelah asuhan diberikan atau setelah
penilaian.
(bukan premature atau postmatur),mempunyai onset yang spontan
(tidak diinduksi), selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat
awitannya, mempunyai janin tunggal dengan presentase puncak kepala,
terlaksana tanpa bantuan artificial, tidak mencakup komplikasi, plasenta
lahir normal.Persalinan normal disebut juga partus spontan, adalah proses
lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa
bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung
kurang dari 24 jam.Bentuk-Bentuk Persalinan:Persalinan spontan, Persalinan
Bantuan, Persalinan Anjuran
menjelang kelahiran sang bayi, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan.
Terutama barang – barang keperluan ibu dan sang bayi yang nantinya akan
dibawa ke rumah sakit.Tanda – Tanda MelahirkanGejala paling sering
menjelang persalinan adalah rasa mulas. Perut terasa seperti kram, mirip saat
menstruasi. Ada juga yang merasa mual, kembung, dan nyeri punggung.
Bahkan ada yang diare atau pusing.Menjelang persalinan, sistem pencernaan
Ibu akan melambat.Kala dalam persalinan : Kala 1 (dari pembukaan 1 sampai
lengkap),Kala II (dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir),Kala III (dari bayi
lahir hingga plasenta lahir).
Nolan, Mary. 2004. Kehamilan & Melahirkan. Jakarta – Arcan
Bagian Obstetri & Ginokelogi. 1983. Obstetri Fisiologi. Bandung – Eleman
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obesentri (jilid 1). Jakarta-Buku Kedokteran
Pujiastuti. 2009.Ibu hamil dan Bayi.Jogyakarta-Tugu Publiser
Anton, Baskoro. 2008. ASI Panduan Praktis Ibu Menyusui. Jogjakarta.
Banyumedia
Persalinan Normal. Jakarta. Departemen Kesehatan
Http://tumbuhkembangbalita.blogspot.com/2011/12/persiapan-kehamilan-
htmlress.

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended