Home >Documents >P a r i w a r a IPB 2014...¢  2018-12-11¢  Nasoetion, Kampus IPB Dramaga Bogor....

P a r i w a r a IPB 2014...¢  2018-12-11¢  Nasoetion, Kampus IPB Dramaga Bogor....

Date post:19-Jan-2020
Category:
View:4 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • Setiap Selasa, Pukul : 19.30 - 20.00 WIB

    Kantor Hukum, Promosi dan Humas IPB

    Pakar IPB di “ Siaran Pedesaan RRI “ 93,75 FMIPBP a r i w a r

    a

    Penanggung Jawab : Yatri Indah Kusumastuti Pimpinan Redaksi: Redaktur Pelaksana:

    Dedeh Hartati Editor: Aris Solikhah Reporter : Siti Zulaedah, Nunung Munawaroh, Rio Fatahilah, Awaludin

    Layout : Devi Fotografer: Cecep AW, Bambang A, Sirkulasi: Agus Budi P, Endih M, Untung Alamat

    Redaksi: Humas IPB Gd. Andi Hakim Nasoetion, Rektorat Lt. 1, Kampus IPB Darmaga Telp. : (0251)

    8425635, Email: humas@ipb.ac.id

    Siti Nuryati

    PARIWARA IPB/ Maret 2014/ Volume 63Terbit Setiap Senin-Rabu-Jum’at

    DENGARKAN...!

    Bupati Bangli, I Made Gianyar, SH, M.Hum mampu dihasilkan rupiah dalam jumlah beserta para staf ahli, Satuan Kerja banyak. Ini sejalan dengan pemikiran Perangkat Daerah (SKPD) dan para Kepala Bupati yang ingin masyarakat Bangli Desa se-Bangli dibuat terpukau saat sejahtera dari pertanian. Bangli adalah menyimak analisis biaya budidaya sayur sebuah daerah yang ada di kawasan cais in organik oleh penel it i dari pertanian di Pulau Bali. Agribussines Development Station Institut Pertanian Bogor (ADS-IPB), Rabu (19/3), di Selain ADS, rombongan dari Bangli juga Auditor ium Rektorat Andi Hakim mendapat sekilas informasi mengenai Nasoetion, Kampus IPB Dramaga Bogor. Kebun Percobaan Leuwikopo, yang salah Betapa tidak, dari sekadar caisin, ternyata satunya menjelaskan tentang budidaya

    Anggrek Lele (Angle). Selanjutnya penjelasan tentang Peternakan Sapi Tegal Waru (CV Anugrah Farm), Laboratorium Lapang dan Pengolahan Hasil Ternak Fakultas Peternakan IPB dan Seafast Center, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB.

    Kepala LPPM IPB, Dr. Prastowo yang menyambut kedatangan rombongan Bupati Bangli mengatakan, kegiatan hari itu m e r u p a k a n t i n d a k l a n j u t d a r i penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) IPB dengan Pemerintah Kabupaten Bangli beberapa waktu lalu. Dikatakannya, LPPM IPB telah membuat skema kegiatan pengabdian kepada masyarakat, diantaranya IPB Goes To Field (IGTF) dan Farmers Go To IPB Campus (FGTIC). FGTIC ini, terang Dr. Prastowo, sangat memungkinkan dilakukan para Kepala Desa atau petani Bangli.

    “Usai kunjungan ini, jika ada yang dirasa pas, Bapak Bupati bisa mengirimkan sekitar 10- 15 orang Kepala Desa atau petani Bangli untuk magang di IPB. Guna mendapatkan pengetahuan lebih detail tentang pertanian yang sekiranya sesuai untuk masyarakat B a n g l i , ” u r a i D r . P r a s t o w o .

    Sekilas tentang IPB dan LPPM IPB turut dipresentasikan oleh Wakil Kepala LPPM IPB bidang Pengabdian kepada Masyarakat, Dr. Hartoyo. Selanjutnya, rombongan bupati berkunjung ke beberapa lokasi yang menghasilkan ragam inovasi terbaiknya. (nm)

    Bupati Bangli dan Rombongan Terpukau ADS IPB

  • elalui kunjungannya ke Institut Pertanian Bogor (IPB), Scientific Coordinator of SetSAF University of Goettingen Jerman, Dr. Simone Pfeiffer membuka peluang Mkerjasama penelitian bagi peneliti-peneliti di Indonesia. Hal ini disampaikannya

    dalam acara Alumni Program Discussion yang digelar Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni (DPKHA) IPB, (19/3) di Kampus IPB Darmaga.

    Di depan para dosen IPB yang merupakan alumni Universitas Goettingen, Dr. Simone memaparkan beberapa program penelitiannya diantaranya bidang pertanian dan kehutanan di wilayah tropis serta subtropis. Ia berharap banyak aplikasi riset yang datang dari Indonesia. “Saya sebenarnya peneliti di bidang ekologi dan lingkungan dan baru beberapa tahun ini menduduki posisi sebagai koordinator peneliti di Universitas Goettingen. Posisi ini membuat saya banyak berkomunikasi dengan peneliti-peneliti di dunia,” ujarnya.

    Dalam sambutannya Direktur DPKHA, Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah menyambut baik adanya kegiatan ini. “Dari kegiatan ini saya harapkan bisa kita gunakan untuk menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan para alumni,” ujarnya. (zul)

    Univ. Goettingen Bertandang ke IPB

    ebakaran hutan di Provinsi Riau yang terjadi sejak Januari 2014 hingga kini Ksekarang belum berhasil ditangani

    dengan tuntas. Hal ini terjadi karena pemerintah menganggap kebakaran hutan dan lahan bukan persoalan serius. Ini disampaikan Prof. Dr. Bambang Hero Saharjo, Guru Besar Perlindungan Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (Fahutan- IPB) dalam diskusi dengan Wartawan, Senin (17/3), di Ruang Rimbawan Fahutan Kampus IPB Dramaga. "Pemerintah harus serius menanggulangi kebakaran ini. Jika tidak, luasan yang terbakar akan bertambah besar dan tak terkendali," tandas Prof. Bambang. Kebakaran ini selalu berulang dan selalu datang tepat waktu dan tepat sasaran. Tepat waktu saat memulai membuka lahan. Tepat sasaran, api ini akan datang di tempat di mana korporasi (perusahaan) akan membuka lahan. Prof. Bambang menambahkan, “Dengan fakta tersebut, semakin meyakinkan saya bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, tetapi disengaja. Memang ada faktor alam dan kelalaian manusia, tetapi bisa dikesampingkan karena faktor tersebut sangat kecil pengaruhnya." Dugaan kesengajaan ini semakin kuat, karena hasil pantauan dan penelitian Prof. Bambang menunjukkan, biaya pembukaan lahan sangat mahal dan perlu waktu lebih lama, dibandingkan dengan tidak membakar. Sebagai pembanding, untuk membuka lahan satu hektar tanpa membakar diperlukan biaya Rp 50 juta dan waktu sekitar satu bulan. Sedangkan, jika membuka lahan dengan cara membakar, biayanya sekitar Rp. 1 jutaan dan pasti waktunya lebih singkat.” Menurut Prof. Bambang, pemerintah sudah menetapkan aturan tegas bahwa ketika kebakaran terjadi di tingkat kabupaten maka bupati yang bertanggung jawab. Ketika asap telah melintas ke kabupaten dalam propinsi maka gubernur yang harus bertanggung jawab. Jika asap telah melintas batas provinsi atau batas lintas negara maka Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup yang harus terdepan dalam mengani persoalan ini.

    IPB Kritisi Penanganan Kebakaran Hutan di Riau

    Lebih lanjut, Prof. Bambang mengatakan seharusnya pemerintah pusat bisa menegakkan aturan dengan tegas. Jangan hanya memberikan sanksi dan hukuman bagi rakyat kecil, tetapi harus berani memberikan sanksi bagi para pemberi izin atau pengambil keputusan di tingkat kabupaten dan provinsi. Chair South East Asia Wildfire Network, Global Fire Monitoring Center (GFMC) ini lebih jauh

    m e n j e l a s ka n , fa k t a d i l a p a n ga n menunjukkan tidak sedikit di antara mereka benar-benar tidak melakukan apapun. Bahkan tak mau memperjuangkan pendanaan untuk pengendalian kebakaran d i w i l a y a h n y a . M e r e k a b a h k a n membiarkan korporasi melakukan pembakaran daripada kehilangan mereka (investor). Toh, pada akhirnya pemerintah pusat akan datang membantu karena tidak i n g i n ke h i l a n ga n m u ka d i m a t a internasional akibat asap yang telah melintas ke negara tetangga. “Proses seperti hampir setiap tahun dan berulang dan tidak hanya terjadi di Provinsi Riau saja tetapi juga pada provinsi lain di Indonesia,” pungkasnya. (wly)

    tusan Pemerintah Bangladesh berkunjung ke Institut Pertanian Bogor (IPB). Rombongan diterima secara resmi oleh Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan UPertanian IPB, Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, MSc di Kampus IPB Dramaga, (19/3).

    Dr. Dodik menjelaskan, IPB adalah kampus pertanian terbesar di Indonesia. Terkait keamanan pangan yang menjadi tujuan tim Bangladesh Dr. Dodik menyampaikan harapannya semoga penjelasan dari IPB bisa memberikan gambaran yang jelas.

    Dalam kunjungan tersebut, IPB dan tim Bangladesh saling berdiskusi dan saling berbagi informasi terkait perkembangan dan perbedaan pertanian kedua negara. Kunjungan delegasi dari pemerintah Bangladesh ini didampingi Humanitarian Forum for Indonesia (HFI). Perwakilan Humanitarian Forum for Indonesia, Surya Rahman Muhamad menyampaikan harapannya semoga rekan-rekan dari Bangladesh bisa belajar pertanian dari negara Indonesia.

    Terkait keamanan pangan Prof.Dr. Dwi Andreas Santosa, Ketua Program Studi Ilmu Tanah dan Bioteknologi Lingkungan, Sekolah Pascasarjana IPB menyampaikan penjelasan mengenai ‘Training and Exposure Visit on Regional Food Security Program in Indonesia’. Selain ke IPB, delegasi Bangladesh juga akan berkunjung Kementerian Pertanian RI.(dh)

    Utusan Pemerintah Bangladesh Kunjungi IPB

    Page 1 Page 2

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended