Home >Documents >OPTIMALISASI MINUMAN KOPI NON KAFEIN DARI BAHAN...

OPTIMALISASI MINUMAN KOPI NON KAFEIN DARI BAHAN...

Date post:05-Mar-2019
Category:
View:225 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Transcript:

OPTIMALISASI MINUMAN KOPI NON KAFEIN DARI BAHAN DASAR

PETAI CINA DENGAN PENAMBAHAN KETAN HITAM

DAN JAHE SEBAGAI AROMA

NASKAH PUBLIKASI

Disusun oleh :

NONI TRI HASTUTI

A 420102015

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2014

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Jl. A. Yani Tromol Pos I Pabelan, Kartasura Telp. (0271) 717417, Fax : 7151448 Surakarta 57102

Surat Persetujuan Artikel Publikasi Ilmiah

Yang bertanda tangan ini pembimbing skripsi/ tugas akhir :

Nama : Dr. Siti Chalimah, M.Pd.

NIP/NIK/NIDN : 07116125901

Telah membaca dan mencermati naskah artikel publikasi ilmiah, yang merupakan

ringkasan skripsi/tugas akhir dari mahasiswa:

Nama : Noni Tri Hastuti

NIM : A 420102015

Program Studi : Pendidikan Biologi

Judul Skripsi :

OPTIMALISASI MINUMAN KOPI NON KAFEIN DARI BAHAN

DASAR PETAI CINA DENGAN PENAMBAHAN KETAN HITAM DAN

JAHE SEBAGAI AROMA

Naskah artikel tersebut, layak dan dapat disetujui untuk dipublikasikan.

Demikian persetujuan dibuat, semoga dapat dipergunakan seperlunya.

Surakarta, Januari 2014

Pembimbing

Dr. Siti Chalimah, M.Pd

NIDN. 07116125901

OPTIMIZATION OF DECAFFEINATED COFFEE BEVERAGES MADE

FROM DRIED PETAI CINA (Leucaena leucocephala) WITH THE

ADDITION OF BLACK GLUTINOUS RICE AND GINGER

AS A FLAVOUR

Noni Tri Hastuti1, Dr. Siti Chalimah, M.Pd

2.

Biology Education Studies Program, Faculty of Teacher Training and Education,

University of Muhammadiyah Surakarta, 2014, 1)

Students, [email protected]

2)

Lecturer in Biology Education Program, Teaching Staff,

, [email protected]

ABSTRACT

Petai cina (Leucaena leucocephala) has a potency to be processed to

decaffeinated coffee beverages. The purpose of this study are (1) to determine the

optimal concentration of petai cina in the decaffeinated coffee by panelists test (2)

to know the differences in taste, flavour, color and texture of decaffeinated coffee

beverages from petai cina various concentrations and (3) to determine the

acceptability of decaffeinated coffee beverage from petai cina with the addition of

black glutinous rice and ginger as a flavour. The method used was completely

randomized design (CRD) with 1 factor, namely the concentration of petai cina

using five treatments ( 0, 2 ,4, 6 and 8 g ) was 2 g of dried petai cina with the

addition of 2 g black glutinous rice and ginger mixture (1:1). Data were analyzed

using one way anova. The results showed that the optimal concentration was 2 g

of dried petai cina, 88% of panelists choose this product and give a high

acceptability score. The panelists give 3.56 (very tasty) score for the taste; 3.32

(savory) score for flavour; 2.8 (black) score for colour and 4.0 (smooth) score for

texture.

Keywords: decaffeinated coffee, petai cina, black glutinous rice, ginger

mailto:[email protected]:[email protected]

OPTIMALISASI MINUMAN KOPI NON KAFEIN DARI BAHAN DASAR

PETAI CINA DENGAN PENAMBAHAN KETAN HITAM

DAN JAHE SEBAGAI AROMA

Noni Tri Hastuti1, Dr. Siti Chalimah, M. Pd

2.

1Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP UMS, [email protected]

2Staf Pengajar UMS Surakarta [email protected]

ABSTRAK

Petai cina berpotensi untuk diolah sebagai bahan dasar pembuatan

minuman kopi non kafein. Salah satu kelemahan dari kopi non kafein berbahan

dasar petai cina adalah aroma. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui

konsentrasi optimal petai cina untuk minuman kopi non kafein yang paling

disukai oleh panelis (2) mengetahui perbedaan rasa, aroma, warna dan tekstur

minuman kopi non kafein dengan bahan dasar petai cina berbagai konsentrasi

dan (3) mengetahui daya terima panelis terhadap minuman kopi non kafein dari

bahan dasar petai cina dengan penambahan ketan hitam dan jahe sebagai aroma.

Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 1 faktor, yaitu

konsentrasi petai cina menggunakan lima perlakuan (0, 2, 4, 6 dan 8 g) dengan

penambahan campuran ketan hitam dan jahe (1:1) sebanyak 2 g. Data kemudian

dianalisis menggunakan one way anava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

konsentrasi optimal petai cina untuk minuman kopi non kafein yang paling

disukai oleh konsumen dengan daya terima tertinggi 88% yaitu perlakuan 2 g

petai cina. Skor penilaian konsumen terhadap produk terpilih adalah untuk rasa

3,56 (sangat enak); aroma 3,32 (sedap); warna 2,8 (hitam) dan tekstur 4,0

(halus).

Kata kunci : kopi non kafein, petai cina, ketan hitam, jahe

mailto:[email protected]:[email protected]

A. Pendahuluan

Minuman kopi banyak

digemari oleh masyarakat seluruh

dunia. Aroma dan rasa yang khas

pada kopi seringkali membuat para

penikmat kopi merasa kecanduan.

Kopi mengandung banyak

antioksidan yang dapat menghambat

penyakit yang disebabkan oleh

kerusakan oksidatif. Kopi bermanfaat

mengurangi resiko stroke, parkinson,

mencegah kanker, meningkatkan

fungsi kognitif, mengobati liver,

meningkatkan kerja fisik dan

membuka peredaran darah. Namun

disi lain kopi memiliki dampak

negatif karena mengandung kafein.

Kafein merupakan stimulan yang

bersifat mencandu dan memberikan

efek merangsang. Kafein ialah

alkaloid yang tergolong dalam

methylxanthine bersama-sama

senyawa tefilin dan teobromin

sebagai penenang sistem saraf pusat

(Fulder dalam Syah, 2008).

Kafein yang berlebihan

mempengaruhi sistem

kardiovaskuler, seperti peningkatan

detak jantung dan tekanan darah.

Kafein mempengaruhi pembuluh

darah dengan cara mempersempit

pembuluh darah ke otak, akibatnya

kerja jantung meningkat dan

terjadilah hipertensi. Konsumsi kopi

setiap hari lebih dari satu kali,

memiliki resiko untuk tejadi

hipertensi 4,52 kali lebih besar

dibandingkan yang mengkonsumsi

kopi satu kali setiap hari atau

kadang-kadang (Saifulah dalam

Ernita, 2011). Nurdiana (2013),

menyatakan bahwa kandungan

kafein pada kopi dapat

mempengaruhi kualitas tidur

sesorang. Tidur orang yang

mendapat kopi kafein 53,3%

berkualitas sedang, 73,3%

berkualitas baik. Oleh karena itu

disarankan, terutama mahasiswa

tidak selalu mengkonsumsi kopi

karena dapat mempengaruhi kualitas

tidur.

Para pecandu kopi bagaikan

dilema karena di satu sisi kopi

mengandung antosianin yang baik

bagi kesehatan tapi disisi lain kafein

yang terkandung pada kopi dapat

mengancam kesehatan bila

dikonsumsi berlebihan. Suatu

terobosan baru untuk menghasilkan

minuman kopi non kafein, yaitu

dengan memanfaatkan biji petai cina

sebagai pengganti biji kopi asli. Di

daerah Jawa petai cina dikenal

dengan sebutan lamtoro. Petai cina

(Leucaena leucochepala)

mengandung alkoloid, saponin,

flavoloid, tanin, mimosin, leukanin,

protein, asam lemak dan serat. Pada

dasarnya petai cina memiliki aroma

menyengat dan kurang sedap, untuk

meminimalisir aroma tersebut

dengan mencampur ketan hitam dan

jahe sebagai aroma sehingga tercipta

minuman kopi non kafein beraroma

sedap, sehat dan berkualitas.

Yanuar (2009), menyatakan

bahwa ketan hitam merupakan salah

satu komoditi yang sangat potensial

sebagai sumber karbohidat,

antioksidan, senyawa bioaktif dan

serat yang penting bagi kesehatan.

Menurut departemen gizi, dalam 100

g ketan hitam mengandung 17,4 g

karbohidrat, 6,7 g protein, 0,7 g

lemak, 12 g kalsium, 148 g fosfor,

0,8 g besi, 0,16 g vitamin B1 dan 12

g air. Jahe putih mempunyai

kandungan aktif oleoresin. Oleoresin

merupakan minyak dan damar, yaitu

campuran minyak atsiri sebagai

pembawa aroma dan pembawa rasa.

Jahe memiliki banyak manfaat,

antara lain : obat sakit kepala, masuk

angin, batuk, gangguan saluran

pencernaan, karminatif, kolera, diare,

sakit tenggorokan, penawar racun

ular, keseleyo dan obat bengkak

(Ravindran et al, 2005). Dari uraian

tersebut dapat digambarkan bahwa

minuman kopi non kafein yang

dicampur dengan ketan hitam dan

jahe merupakan minuman kopi non

kafein yang berkualitas untuk

kesehatan.

Syamsudin et al (2010),

menyatakan bahwa biji petai cina

berpengaruh untuk mengurangi kadar

gula dalam darah. Hasil identifikasi

komponen bioaktif mengindikasikan

bahwa glykosid pada petai cina

merupakan kelompok galaktosa

monosakarida dan sakarida lain.

Dengan terciptanya produk minuman

kopi non kafein, para pecandu kopi

dapat menikmati kopi sepuasnya

tanpa khawatir bahaya kafein.

Berdasarkan latar belakang diatas,

perlu dilakukan penelitian tentang

Optimalisasi Minuman Kopi Non

Kafein dari Bahan Dasar Petai Cina

dengan Penambahan Ketan Hitam

dan Jahe Sebagai Aroma.

B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan

Rancangan Acak Lengkap (RAL),

1 faktor dengan 5 kali ulangan, yaitu

konsentrasi petai cina menggunakan

lima perlakuan (0, 2, 4, 6, 8 g)

dengan penambahan campuran ketan

hitam dan jahe pada rasio yang sama

(1:1), dan dilarutkan dengan jumlah

air yang sama yaitu 100 cc pada

setiap perlakuan, yang selanjutnya

digunakan sebagai variabel kontrol.

Data yang diperoleh dianalisis

menggunakan deskriptif kualitatif

dan deskriptif kuantitatif. Deskriptif

kualitatif dari uji organoleptik,

sedang deskriptif kuantitatif dari uji

anava satu jalur dilanjutkan uji BNT.

Uji sampel organoleptik dan daya

terima panelis sebanyak 25 panelis

mahasiswa dengan kriteria pecandu

minuman kopi yang berkafein. Dari

uji tersebut akan dibuat kriteria

sebagai berikut :

Tabel 1 Kriteria Hasil Uji Organoleptik Kriteria Rasa Aroma Warna

1,0 - 1,80 kurang enak kurang sedap coklat

1,81 - 2,61 agak enak agak sedap kurang hitam

2,62 - 3,42 Enak sedap Hitam

> 3,43 Sangat enak Sangat sedap Sangat hitam

C. Hasil Penelitian Dan Pembahasan

Hasil uji organoleptik dapat dilihat pada tabel 2 di bawah sebagai berikut.

Tabel 2 Tabel rerata hasil uji organoleptik Perlakuan

C0K

C4K

C3K

C2K

C1K

Rerata

Rasa

1,16

3,56

2,52

2,44

2,08

Aroma

3,60

3,32

2,60

2,40

2,24

Warna

1,16

2,80

2,92

3,16

3,56

Tekstur

4,0

4,0

4,0

4,0

4,0

Keterangan : Kriteria Uji Organoleptik

C0K : 2 g ketan hitam dan jahe Kriteria Rasa Aroma Warna C4K : 2 g petai cina : 2 g ketan hitam dan jahe 1,0-1,8 kurang enak kurang sedap coklat

C3K : 4 g petai cina : 2 g ketan hitam dan jahe 1,81-2,61 agak enak agak sedap kurang hitam

C2K : 6 g petai cina : 2 g ketan hitam dan jahe 2,62-3,42 enak Sedap hitam

C1K : 8 g petai cina : 2 g krtan hitam dan jahe 3,43 sangat enak sangat sedap sangat hitam

1. Hasil Uji Organoleptik (hasil

kualitatif)

Hasil pada tabel 2

menunjukkan bahwa perlakuan C0K

memiliki rerata nilai rasa yang paling

rendah diantara kelima perlakuan

yaitu 1,16 sedangkan perlakuan C4K

memiliki rerata paling tinggi yaitu

3,56. Perlakuan C3K nilai rerata

sebesar 2,52 , C2K 2,44 dan C1K

2,08. Secara kualitatif dapat

dikatakan perlakuan C0K

mempunyai rasa kurang enak dan

perlakuan C4K merupakan perlakuan

yang memiliki kualitas rasa paling

enak dan tepat komposisi, yaitu tidak

terlalu pahit dan agak pedas karena

efek zingerol jahe. Perlakuan C3K

memiliki rasa petai cina agak kuat

sedangkan ketan hitam dan jahe tidak

begitu terasa. Rasa yang dihasilkan

perlakuan C2K hampir sama dengan

perlakuan C3K tapi petai cina

semakin kuat. C1K memiliki rasa

petai cina paling kuat dan sangat

pahit. Indra lidah merupakan

instrumen yang paling berperan

untuk mengetahui rasa suatu bahan

pangan. Rasa nilainya sangat relatif,

meskipun rasa dapat dijadikan

standar dalam penelitian mutu

makanan. Pada umumnya bahan

pangan tidak hanya terdiri dari salah

satu rasa, tapi gabungan berbagai

rasa secara terpadu sehingga

menimbulkan cita rasa yang utuh

(Setyowati, 2011). Sedangkan untuk

aroma yang paling disukai oleh

panelis, yaitu C0K memiliki aroma

paling sedap dengan nilai rerata

aroma paling tinggi 3,6. Aroma yang

kurang disukai panelis pada

perlakuan C1K, memiliki nilai rerata

2,24 dengan aroma agak sedap.

Paimin dalam Patmarani (2007),

menyatakan bahwa jahe mengandung

komponen minyak yang mudah

menguap, tidak mudah menguap dan

pati. Minyak yang mudah menguap

disebut minyak atsiri, pemberi bau

yang khas sedangkan minyak yang

tidak mudah menguap disebut

oleoresin (pemberi rasa pedas dan

pahit). Komponen pada oleoresin

merupakan gambaran kandungan

jahe yaitu minyak atsiri dan minyak

tidak menguap terdiri dari zingerol,

shogaol dan resin.

Tabel 2 menunjukkan bahwa

perlakuan C1K memiliki nilai rerata

warna paling tinggi 3,56 sedangkan

perlakuan C0K memiliki rerata

terendah yaitu 1,16. Secara kualitatif

hal ini menunjukkan bahwa kualitas

warna yang dimiliki C1K sangat

hitam, perlakuan C0K berwarna

coklat karena hanya terdiri dari ketan

hitam dan jahe tanpa campuran petai

cina. Perlakuan C2K, C3K dan C4K

menghasilkan warna hitam. Mulato

(2002), menyatakan bahwa waktu

sangrai ditentukan atas dasar warna

biji kopi sangrai atau sering disebut

derajad sangrai. Makin lama waktu

sangrai, warna biji kopi sangrai

mendekati coklat kehitaman. Semua

perlakuan memiliki tekstur yang

sama (halus), terbukti nilai rerata

tekstur yang sama yaitu 4,0. Untuk

memperjelas hasil uji kualitatif

meliputi rasa, aroma, warna dan

tekstur dapat dilihat pada gambar 1

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 1 Grafik nilai rerata rasa, aroma, warna dan tekstur

Gambar 1 menunjukkan adanya

perbedaan yang nyata dari masing-

masing perlakuan terhadap kualitas

rasa, aroma dan warna minuman kopi

non kafein.

0

2

4

C0K C4K C3K C2K C1K

3,6 3,32

2,6 2,4 2,24

Arom

a

Perlakuan

Rerata Aroma

C0K

C4K

C3K

C2K

C1K

0,00

5,00

C0K C4K C3K C2K C1K

Teks

tur

Perlakuan

Rerata Tekstur

C0K

C4K

C3K

C2K

C1K

0,00

2,00

4,00

C0K C4K C3K C2K C1K

1,16

3,56

2,52 2,44 2,08

Ras

a

Perlakuan

Rerata Rasa

C0K

C4K

C3K

C2K

C1K

0,00

5,00

C0K C4K C3K C2K C1K

1,16

2,80 2,92 3,16 3,56

war

na

Perlakuan

Rerata Warna

C0K

C4K

C3K

C2K

C1K

Gambar 2 Persentase Daya Terima

Minuman Kopi Non Kafein

Berdasarkan gambar 2, secara

kualitatif menunjukkan bahwa

perlakuan C4K merupakan perlakuan

yang paling disukai oleh panelis

dengan persentase penerimaan

tertinggi yaitu 88%.

2. Uji Anava Satu Jalur (hasil

kuantitatif)

Tabel 3 Hasil uji anava satu jalur dan uji lanjut BNT

Uji Anova satu jalur Uji lanjut BNT

Indikator FH F tabel

5% Keputusan

Perlakuan

(notasi)

Rerata Nilai

BNT

Rasa

16,87 2,87 HI diterima C0K 1,16 a 0,62

C1K 2,08 b

C2K 2,44 b

C3K 2,52 b

C4K 3,56 c

Aroma

10,08 2,87 HI diterima C0K 2,24 a 0,55

C1K 2,40 a

C2K 2,60 a

C3K 3,32 b

C4K 3,60 b

Warna

53,33 2,87 HI diterima C0K 1,16 a 0,37

C1K 2,80 b

C2K 2,92 b

C3K 3,16 b

C4K 3,56 c

Tekstur

0 2,87 HI ditolak C0K

C1K

C2K

C3K

C4K

Keterangan :

C0K : 2 g ketan hitam dan jahe

C4K : 2 g petai cina : 2 g ketan hitam dan jahe

C3K : 4 g petai cina : 2 g ketan hitam dan jahe

C2K : 6 g petai cina : 2 g ketan hitam dan jahe

C1K : 8 g petai cina : 2 g ketan hitam dan jahe

0%

50%

100%

C0K C4K C3K C2K C1K

4%

88%

52% 36%

24%

Per

sen

tase

Da

ya T

erim

a

Perlakuan

C0K

C4K

C3K

C2K

C1K

Berdasarkan tabel 3, uji anava

satu jalur indikator rasa

menunjukkan F hitung > F tabel pada

taraf signifikan 5% yaitu 16,87 >

2,87 sehingga H1 diterima, berarti

ada pengaruh perbedaan konsentrasi

petai cina terhadap rasa minuman

kopi non kafein. Setelah diuji lanjut

BNT di dapatkan nilai BNT 0,62.

Perlakuan C1K, C2K dan C3K tidak

berbeda nyata tapi berbeda nyata

dengan perlakuan yang lain,

sehingga diberi notasi b. Perlakuan

C0K berbeda nyata dengan perlakuan

yang lain sehingga diberi notasi a.

Perlakuan C4K berbeda nyata

dengan perlakuan yang lain sehingga

diberi notasi c. Indikator aroma

menunjukkan bahwa F hitung > F

tabel yaitu 10,08 > 2,87 sehingga H1

diterima, berarti ada pengaruh

perbedaan konsentrasi petai cina

terhadap aroma minuman kopi non

kafein. Setelah diuji lanjut BNT

didapatkan nilai BNT 0,55.

Perlakuan C1K, C2K dan C3K tidak

berbeda nyata tapi berbeda nyata

dengan perlakuan yang lain,

sehingga diberi notasi a. Perlakuan

C4K dan C0K tidak berbeda nyata

tapi berbeda nyata dengan perlakuan

yang lain, maka diberi notasi b.

Indikator warna menunjukkan bahwa

F hitung > F tabel yaitu 53,33 > 2,87

sehingga H1 diterima, berarti ada

pengaruh perbedaan konsentrasi

petai cina terhadap warna minuman

kopi non kafein. Setelah diuji lanjut

BNT didapatkan nilai BNT 0,37.

Perlakuan C2K, C3K dan C4K tidak

berbeda nyata tapi berbeda nyata

dengan perlakuan yang lain,

sehingga diberi notasi b. Perlakuan

C0K berbeda nyata dengan perlakuan

yang lain, maka diberi notasi a.

Perlakuan C1K berbeda dengan

perlakuan yang lain, sehingga diberi

notasi c. Indikator tekstur

menunjukkan F hitung < F tabel

yaitu 0 < 2,87 sehingga H1 ditolak,

berarti tidak ada pengaruh perbedaan

konsentrasi petai cina terhadap

tekstur minuman kopi non kafein dan

tidak perlu uji lanjut.

D. Simpulan

1. Konsentrasi optimal petai cina untuk

minuman kopi non kafein yang

paling disukai oleh panelis,

perlakuan 2 g petai cina dengan

penambahan 2 g campuran ketan

hitam dan jahe dilarutkan pada 100

cc air mendidih menghasilkan

minuman kopi non kafein tepat

komposisi.

2. Perbedaan rasa, aroma, warna

minuman kopi non kafein berbahan

dasar petai cina berbagai konsentrasi

berbeda nyata, sedang tekstur tidak

berbeda nyata. Perlakuan C4K paling

enak, aroma sedap, warna hitam dan

bertekstur halus. Perlakuan yang lain

tidak tepat komposisi.

3. Daya terima panelis dengan

persentase tertinggi 88% terhadap

minuman kopi non kafein dari petai

cina, pada perlakuan C4K.

E. Ucapan terima kasih

Ucapan terima kasih peneliti

sampaikan kepada yang terhormat

Dr. Siti Chalimah M.Pd. sebagai

pembimbing skripsi atas nasehat,

perhatian, bimbingan dan saran yang

telah diberikan selama penelitian ini

berlangsung sampai selesai.

DAFTAR PUSTAKA

Ernita. 2011. Hubungan Kebiasaan

Minum Kopi Terhadap

Kejadian Hipertensi Pada Laki-

Laki di Kota Lhokseumawe

Provinsi Nanggro Aceh

Darussalam. Tesis.

Yogyakarta. Minat Utama Gizi

dan Kesehatan Program Ilmu

Kesehatan Masyarakat. UGM.

Mulato,Sri.2002.Simposium Kopi

2002 dengan Tema Perkopian

Nasional yang Tangguh

melalui Diversifikasi Usaha

Berwawasan Lingkungan

dalam Pengembangan Industri

Kopi Bubuk Skala Kecil untuk

Meningkatkan Nilai Tambah

Usaha Tani Kopi Rakyat

Denpasar : 16-17 Oktober

2002. Pusat Penelitian Kopi

dan Kakao Indonesia.

Nurdiana Binti T Daswin dan Nelly

Samosir. 2013 . Pengaruh

Kafein Terhadap Kualitas

Tidur Mahasiswa Fakultas

Kedokteran Universitas

Sumatra Utara. E Jurnal FK

USU. Vol 1 (1) : 1 5

Patmarani, Asri. 2007. Aplikasi

Minyak Jahe (Zingiber

officinale) Pada Pembuatan

Hand and Body Cream.

Skripsi. Bogor. IPB

Ravindran, P. N, and Babu, K.N.

2005. Ginger The Genus

Zingiber . New York. CRC

Press.

Setyowati, Lilis. 2011. Kualitas

Fruitghurt Hasil Fermentasi

Kulit Pisang (Musa

Paradisiaca) oleh

Lactobacillus bulgaris dengan

Konsentrasi yang Berbeda .

Skripsi. Surakarta. FKIP, UNS

Syah, Novianti Fitri. 2008.

Pengaruh Berat dan Waktu

Penyeduhan Terhadap Kadar

Kafein dari Teh Bubuk .

Skripsi. Medan. Universitas

Sumatra Utara.

Syamsudin dkk. 2010. Antidiabetic

Activity of Active Fractions of

Leucaena leucocephala (Imk)

Dewit Seeds in Experiment

Model European Journal of

Scientific Research. Vol 43 (3):

384-391.

Yanuar, Willy. 2009. Aktivitas

antioksidan Dan

Immunodulator Serelia Non

Beras .

Http://Respository.ipb.ac.id .

(diakses 10 Juni 2013).

http://respository.ipb.ac.id/

of 13/13
OPTIMALISASI MINUMAN KOPI NON KAFEIN DARI BAHAN DASAR PETAI CINA DENGAN PENAMBAHAN KETAN HITAM DAN JAHE SEBAGAI AROMA NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh : NONI TRI HASTUTI A 420102015 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2014
Embed Size (px)
Recommended