Natalia Kti

Date post:28-Oct-2015
Category:
View:69 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
kti
Transcript:

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah

Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang manusia maupun hewan (zoonosis). Penyakit ini disebabkan oleh leptospira bakteri aerob(termasuk golongan spirochaeta) yang berbentuk spiral dan bergerak aktif .Leptospira bisa terdapat pada binatang peliharaan seperti anjing, sapi, babi, kerbau, maupun binatang liar seperti tikus, musang, tupai dll. Di dalam tubuh hewan-hewan ini (juga berlaku sebagai penjamu reservoar) leptospira hidup di ginjal dan air kemihnya. Manusia biasa terinfeksi bakteri leptospira karena kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi oleh urin atau cairan tubuh lainnya dari hewan yang terinfeksi bakteri leptospira. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang luka atau membrane mukosa. Penyakit ini bersifat musiman, di daerah beriklim sedang masa puncak insidens dijumpai pada musim panas dan musim gugur karena tmperatur adalah factor yang mempengaruhi kelangsungan hidup leptospira, sedangkan untuk daerah tropis insidens tertinggi terjadi selama musim hujan. ( Aru W. Sudoyo, et al. 2009: 1823). Gejala dari penyakit ini sangat bervariasi mulai dari gejala infeksi ringan sampai dengan infeksi berat dan fatal.Dalam bentuk ringan,Leptospirosis dapat menampilkan gejala seperti influenza disertai nyeri kepala sedangkan dalam bentuk parah yang biasa disebut sebagai Weils syndrome secara khas menampilkan gejala ikterus dan disfungsi renal.(Djunaedi,2007: 19)Umumnya penyakit ini menyerang para petani, pekerja perkebunan, perkerja tambang/ selokan, pekerja Rumah Potong Hewan dan militer. Ancaman ini berlaku pula bagi mereka yang mempunyai hobi melakukan aktivitas di danau atau di sungai seperti berenang. Urmimala Sarkar (2002) mendapatkan bahwa jenis pekerjaan tukang selokan air mempunyai risiko 2 kali lebih tinggi terkena leptospirosis. Tempat tinggal yang dekat dengan selokan air mempunyai risiko 5 kali lebih tinggi terkena leptospirosis. Adanya tikus di dalam rumah mempunyai risiko 4 kali lebih tinggi terkena leptospirosis. Leptospirosis juga dapat menyerang manusia akibat kondisi seperti banjir, air bah atau saat air konsumsi tercemar oleh urin hewan. Kontak dengan air selokan mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi terkena leptospirosis . Kontak dengan air banjir dan lumpur mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi terkena leptospirosis.( Sarkar Urmimala et al, 2002:605-610)Internasional Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai Negara dengan insiden Leptospirosis tinggi dan menduduki peringkat ke tiga di dunia untuk mortalitas ( 16,7 %) setelah Uruguay dan India. Angka kematiannya bias mencapai 2,5-16, 47% ( rata-rata 7,1 %) , pada usia lebih dari 50 tahun bias mencapai 56%. Penderita yang disertai selaput mata berwarna kuning (kerusakan jaringan hati), resiko kematian akan lebih tinggi. Di Indonesia Leptospirosis ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. ( Aru W. Sudoyo et al 2006: 1823).Jadi berdasarkan penjelasan yang telah dikemukan, jelaslah diketahui bahwa wilayah di Indonesia sangat berpotensi dalam terinfeksinya penyakit leptospirosis, karena itulah penyakit ini perlu untuk diwaspadai atau dilakukan pencengahan. Inilah factor yang melatarbelakangi penulis tertarik memilih judul cara penularan dan pencengahan pada leptospirosis sebagai focus pembahasan dalam tulisan ini.

1.2 Rumusan MasalahSesuai dengan topic yang akan dikaji dalam tulisan ini, maka ada beberapa rumusan masalah yang akan dibahas pada bagian selanjutnya yaitu :1. Apakah yang dimaksud dengan Leptospirosis dan morfologi dari Leptospirosis?2. Apa penyebab lepospirosis?3. Bagaimana cara penularan leptospirosis?4. Bagaimana manifestasi kliniks yang ditimbulkan oleh leptospirosis?5. Bagaimana cara mendiagnosis leptospirosis?6. Langkah apa yang dilakukan untuk mencengah terjadinya leptospirosis?

1.3 Tujuan PenulisanBerdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tulisan ini bertujuan :1. Untuk mendeskripsikan secara terperinci pengertian leptospirosis dan morfologi dari Leptospirosis2. Untuk mengetahui penyebab leptospirosis 3. Untuk mengetahui bagaimana cara penularan leptospirosis4. Untuk mengetahui bagaimana manifestasi kliniks yang ditimbulkan oleh leptospirosis5. Untuk mengetahui bagaimana cara mendiagnosa leptospirosis6. Untk mengetahui langkah-langkah apa yang dilakukan untuk mencengah terjadinya leptospirosis?

1.4 Manfaat PenulisanTulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat :1. Bagi PenulisTulisan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana kedokteran, sekaligus memperluas cakrawala pengetahuan penulis khususnya mengenai Leptospirosis, serta meningkatkan ketrampilan dalam menulis Karya Ilmiah yang bernilai akademis tinggi.2. Bagi PembacaUntuk menambah wawasan pengetahuan para pembaca mengenai Leptospirosis3. Bagi LembagaUntuk memperkaya koleksi ilmu pengetahuan khususnya pada perpustakaan lembaga, sebagai bahan bacaan yang bermanfaat.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Defenisi Leptospirosis adalah penyakit zoonis yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang berbentuk spiral dari genus leptospira yang pathogen,menyerang hewan dan manusia. Penelitian tentang leptospira pertama kali dilakukan oleh Adolf Heil pada tahun 1886. Dia melaporkan adanya penyakit tersebut pada manusia dengan gambaran kliniks demam, pembesaran hati dan limpa, ikterus dan ada tanda-tanda kerusakan pada ginjal. Penyakit-penyakit ini dengan gejalan tersebut disebut sebagai weils disease . dan pada tahun 1915, inada berhasil membuktikan bahwa Weils Disease disebakan oleh bakteri Leptospira icterohemorrhagiae. ( Bodner, Elizabeth M, 2005). Leptospira merupakan organism fleksibel, tipis, berlilit padat, dengan panjang 5-15m, disertai spiral halus yang lebarnya 0,1-0,2m. salah satu ujung organism ini sering kali bengkok membentuk sebuah kait. ( Seoeharsono, 2006: 40) Gambar 1. Morfologi Leptospira

Leptospira merupakan Spirochaeta yang paling mudah dibiakkan, tumbuh paling baik dalam keadaan aerob pada pH 7,4 dan pada suhu 28-30 c. waktu generasinya rata-rata sekitar 12 jam dan bila dibiakkan di dalam media semisolid yang kaya akan protein ( misalnya media Fletcher, dll), Leptospira akan membentuk koloni di bawah permukaan berbentuk bundar dengan diameter 1-3 mm dalam 6- 10 hari. Bakteri ini mempunyai kebutuhan nutrisi yang relative sederhana, yaitu mengambil energy melalui oksidasi dan membutuhkan asam lemak rantai panjang serta vitamin B1 dan B12 untuk pertumbuhan.(Sylvia Y. Muliawan, 2007: 65-66)2.2 EpidemiologiLeptospira merupakan penyakit zoonis penting yang tersebar luas diseluruh dunia dan menyerang lebih dari 160 spesies mamalia. Reservoir yang memegang peran utama bagi penyebaran leptospira ke manusia adalah hewan pengerat terutama tikus meskipun hewan periharaan ( anjing, babi, sapi, kuda , kucing, kelinci) dan hewan lain seperti kelelawar, tupai, musang juga dapat berperan sebagai reservoir. ( Djuanedi 2007: 21). Di dalam tubuh binatang, leptospira hidup didalam ginjal/ air kemihnya. Tikus merupakan vector yang utama dari L. icterohaemorrhagica penyebab leptospirosis pada manusia. Dalam tubuh tikus, leptospira akan menetapdan membentuk koloni serta berkembang biak di dalam epitel tubulus ginjal tikus dan secara terus menerus dan ikut mengalir dalam filtrate urine. Leptospira membentuk hubungan simbiosis dengan penjamunya dan dapat menetap dalam tubulus renalis selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Beberapa serovar berhubungan dengan binatang tertentu seperti L. icterohaemoragiae/ copenhageni dengan tikus, L. grippotyphosa dengan voles( sejenin tikus), L. hardjo dengan sapi, L. canicola dengan anjing dan L. Pomona dengan babi. Penyakit ini bersifat musiman, didaerah beriklim sedang masa puncak insidens dijumpai pada musim panas dan musim gugur karena temperature adalah factor yang mempengaruhi kelangsungan hidup leptosipra, sedangkan daerah tropis insidens tertinggi terjadi selama musim hujan. Leptospirosis mempunyai dua cirri epidemiologic yang sangat mempersulit pengendalian penyakit ini secara efektif yaitu : 1) Leptospira dapat membuat hubungan simbiotik dengan banyak hospes hewan, menetap untuk waktu yang lama di dalam tubuli renalis dan diekresi di dalam urin tanpa menimbulkan penyakit atau perubahan patologik pada ginjal, bahkan anjing yang telah mendapat imunisasi dapat mengekskresi Leptospira infeksius di dalam urin untuk waktu yang lama. 2) hewan liar merupakan reservoir untuk reinfeksi populasi hewan peliharaan secara berkesinambungan. ( Sylvia Y. Muliawan, 2008:64-65)2.3 PenularanPenularan leptospirosis pada manusia ditularkan oleh hewan yang terinfeksi kuman leptospira. Hewan penjamu kuman leptospira adalah hewan peliharaan, seperti, babi, lembu, kambing, kucing, anjing, serta beberapa hewan liar, seperti: tikus, anjing, dan lain-lain. . Di dalam tubuh hewan-hewan ini (juga berlaku sebagai penjamu reservoar) leptospira hidup di ginjal dan air kemihnya. Manusia terinfeksi leptospira melalui kontak dengan air, tanah ( lumpur), tanaman yang telah di kotori oleh air seni dari hewan-hewan penderita Leptospirosis. Tempat masuknya Leptosira biasanya melalui kulit yang terluka atau mukosa, pada kulit yang utuh, infeksi dapat terjadi setelah kontak lama dengan air yang terkontaminasi. ( LEVETT, 2001) Leptospira, kadang-kadang melalui saluran pencernaan dari makanan yang terkontaminasi oleh urine tikus yang terinfeksi Leptospira. Penularan langsung dari manusia ke manusia jarang terjadi. Penularan Leptospirosis dapat secara langsung dan tidak langsung. 1.)Penularan secara langsung dapat melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung kuman Leptospira yang masuk ke dalam tubuh penjamu, dapat juga melalui hewan ke manusia yang disebabkan akibat pekerjaan, terjadi pada orang yang merawat hewan atau me

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended