Home >Documents >NASKAH PUBLIKASI RELIGIUSITAS REMAJA ACEH KORBAN BENCANA...

NASKAH PUBLIKASI RELIGIUSITAS REMAJA ACEH KORBAN BENCANA...

Date post:06-Feb-2018
Category:
View:216 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 1

    NASKAH PUBLIKASI

    RELIGIUSITAS REMAJA ACEH KORBAN BENCANA

    TSUNAMI PASCA 1 TAHUN

    KARJUNIWATI

    H. FUAD NASHORI

    PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

    FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA

    UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

    YOGYAKARTA

    2007

    NASKAH PUBLIKASI

  • 2

    RELIGIUSITAS REMAJA ACEH KORBAN BENCANA

    TSUNAMI PASCA 1 TAHUN

    Telah Disetujui Pada Tanggal

    __________________

    Dosen Pembimbing Utama

    ( H. Fuad Nashori, S.Psi, M.Si, Psikolog )

  • 3

    RELIGIUSITAS REMAJA ACEH KORBAN BENCANA TSUNAMI

    PASCA 1 TAHUN

    Oleh

    Karjuniwati

    H. Fuad Nashori

    INTISARI

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tema-tema religiusitas remaja

    Aceh korban bencana tsunami pasca 1 tahun dan faktor-faktor yang

    mempengaruhi religiusitas.

    Subjek dalam penelitian ini adalah remaja Aceh yan menjadi korban

    bencana tsunami. Peneliti akan memfokuskan pada remaja yang menalami

    kejadian tsunami secara langsung. Jmlah subjek penelitian adalah 5 orang, terdiri

    dari 3 remaja putri dan 2 remaja putra.

    Metode penelitian yag digunakan dalam penelitian ini adalah metode

    kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang

    sifat deskripif, seperti transkrip wawancara. Metode pengumpulan data yang

    digunakan adalah wawancara mendalam terhadap subjek penelitian. Dari hasil

    tersebut diperoleh data-data yang mendukung pertanyaan penelitian yaitu

    bagaimana religiusitas remaja Aceh korban bencana tsunami pasca 1 tahun.

    Kata kunci : Religiusitas, Remaja, Korban tsunami.

  • 4

    PENGANTAR

    Bencana alam gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004

    merupakan musibah terbesar yang dialami oleh bangsa Indonesia. Musibah ini

    telah merenggut ratusan ribu jiwa manusia dan menghancurkan infrastruktur di

    Nanggroe Aceh Darussalam. Musibah ini telah menyisakan penderitaan yang

    mendalam bagi masyarakat Aceh. Mereka kehilangan keluarga yang tercinta,

    kehilangan tempat tinggal serta hal yang menyedihkan adalah mereka harus

    berjuang dengan maut untuk menyelamatkan diri dari musibah itu.

    Bencana alam yang terjadi di Aceh, walaupun telah menghancurkan fisik

    bumi Aceh ternyata mereka mampu menerimanya dengan lapang dada dan

    menganggap musibah yang dialaminya adalah takdir Tuhan yang pasti akan ada

    hikmah di balik semua yang terjadi.

    Menurut Cucu Juantika Sari (Republika, 3 Januari 2005), musibah adalah

    buah dari kehendak sang Maha Kehendak. Maka pasti sang Maha Kehendak

    juga tahu jalan keluarnya. Tidak ada tempat kembali yang utama kecuali kepada

    Tuhan dikembalikan segala urusan dengan ikhtiar yang maksimal.

    Seorang ahli psikologi, Ardiningtiyas Pitaloka (e-psikologi, 19 Januari 2005), mengatakan bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk merasakan kengerian. Setiap orang memiliki kemampuan mekanisme coping sendiri-sendiri seperti juga eksistensi manusia yang unik sebagai pribadi. Menurut TMT (Teror Management Theory), belief (keyakinan) akan bertindak sebagai cultural anxiety-buffer dalam mengatasi terror kehidupan tersebut I atas. Masyarakat Aceh yang selama ini telah dihimpit oleh konflik yang berkepanjangan terkenal dengan kehidupan yang kental dengan ajaran Islam. Islam telah menjadi nafas utama kehidupan di Aceh, ini menunjukkan internalisasi nilai-nilai keyakinan yang dianut masyarakat di tanah Serambi Mekah. Dalam bahasa TMT, Aceh yang terkenal religius memiliki penyangga kecemasan budaya yang menonjol yakni agama Islam.

    Dari bencana tsunami, menurut Vebry (2005), masyarakat Aceh

    berkeyakinan bahwa musibah yang dialaminya merupakan ujian dari Tuhan, di

  • 5

    mana sebagai hamba, manusia harus mampu bersabar dan menerima cobaan

    ini. Kekuatan dan ketabahan masyarakat Aceh menghadapi musibah ini juga

    dikarenakan mereka sudah terbiasa berada dalam penderitaan. Hal ini dimulai

    sejak zaman perang kaphee melawan invasi Belanda, penganugrahan status

    Daerah Operasi Militer sampai pada penumpasan GAM. Sungguh derita ini telah

    menghantui sejarah Aceh, sehingga masyarakat Aceh sudah sangat terbiasa

    dengan cobaan ini dan pukulan yang terus menghantui eksistensinya. Dengan

    demikian tidak ada pilihan lain selain menjadi orang-orang yang tabah dan kuat

    menghadapi cobaan hidup.

    Pembentukan religiusitas remaja Aceh karena adanya pengaruh

    penderitaan yang terus-menerus dialami oleh masyarakat aceh karena konflik,

    membuat remaja belajar dari pengalaman orang-orang yang mengalami

    penderitaan tersebut untuk lebih tabah menghadapi cobaan yang datang

    bertubi-tubi. Selain itu pula kebudayaan yang melekat pada masyarakat aceh

    yang menjadi unsur keunikan orang aceh seperti hikayat. Hikayat aceh

    mengandung unsur hikayat agama, sejarah, safari, peristiwa jihad dan cerita.

    Adapun ciri khas hikayat-hikayat aceh dimulai dengan basmallah, kemudian

    tokoh-tokoh agama yang bermain dalam hikayat adalah manusia yang taat

    kepada Allah, berakhlak mulia, berwatak kepahlawanan, berhati budiman dan

    berpendidikan agama yang sempurna.

    Secara tradisional, masyarakat aceh sangat menggemari hikayat aceh

    yang selalu diciptakan dalam bentuk puisi. Hkayat tersebut dibuat untuk

    menanamkan ajaran agama secara sederhana kepada anak-anak maupun untuk

    lingkungan yang lebih luas. Para ibu sering memetik lagu ratib (shalawat)

  • 6

    sebagai lagu nina bobo secara tidak langsung, ikatan puisi yang dinyanyikan oleh

    ibu melekat ke dalam ingatan anak. (Oktavia, 2006)

    Berdasarkan observasi pada beberapa remaja Aceh, tingkat religiusitas

    mereka ada yang bertambah dan ada yang biasa saja. Tentunya banyak

    penyebab yang memunculkan hal dan tingkah laku demikian. Padahal, musibah

    yang dialami oleh remaja Aceh, seharusnya mampu meningkatkan religiusitas

    remaja karena mereka mengalami langsung kejadian yang sangat mengerikan

    dan memilukan itu.

    Dengan demikian, penulis melihat adanya suatu permasalahan yang

    muncul pada remaja Aceh, yakni bagaimanakah religiusitas remaja Aceh setelah

    bencana tsunami terjadi. Dalam penelitian awal menunjukkan bahwa keseharian

    yang dijalani oleh remaja Aceh korban bencana Tsunami, mereka menganggap

    musibah yang dialaminya adalah takdir dari Allah, mereka menyerahkan semua

    kepada Allah dan mengharap hikmah di balik semua kejadian tersebut.

    DASAR TEORI

    Menurut Dister (1982), religiusitas diartikan sebagai keberagamaan

    individu yang menunjukkan tingkat sejauh mana individu mengamalkan,

    melaksanakan dan menghayati ajaran-ajaran agamanya secara terus menerus.

    Remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak

    menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik,

    psikis, dan psikososial.

    Menurut Glock dan Stark (Ancok & Suroso, 1994), ada 5 macam dimensi

    keberagamaan, yaitu:

    1. Dimensi keyakinan (ideologis)

  • 7

    Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan di mana orang religius

    berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran

    doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama mempertahankan seperangkat

    kepercayaan di mana penganut diharapkan taat.

    2. Dimensi peribadatan (ritualistik)

    Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang

    dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang

    dianutnya.

    3. Dimensi penghayatan (eksperimen)

    Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama

    mengandung pengharapan-pengharapan tertentu. Dimensi ini berkaitan

    dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi,

    dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang atau sekelompok orang.

    4. Dimensi pengetahuan agama (intelektual)

    Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa setiap orang yang beragama

    paling tidak memiliki sejumlah pengetahuan dasar-dasar keyakinan, ritus-

    ritus, kitab suci dan tradisi-tradisi.

    5. Dimensi pengamalan (konsekuensi)

    Dimensi ini mengacu kepada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan,

    praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang.

    Thouless (1992) menjelaskan tentang faktor-faktor yang bisa

    menghasilkan sikap keagamaan, yaitu:

    1. Faktor sosial, mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap

    keagamaan.

  • 8

    2. Faktor pengalaman, berkaitan dengan berbagai jenis pengalaman yang

    membantu sikap keagamaan.

    3. Faktor kebutuhan, kebutuhan-kebutuhan ini secara garis besar dapat

    dikelompokkan menjadi empat:

    a. Kebutuhan akan keamanan atau keselamatan

    b. Kebutuhan akan cinta kasih

    c. Kebutuhan untuk memperoleh harga diri

    d. Kebutuhan yang timbul karena adanya ancaman kematian

    2. Faktor intelektual, berkaitan dengan berbagai proses penalaran verbal atau

    rasionalisasi.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan agama pada remaja

    menurut Daradjat (2003) adalah:

    1. Pertumbuhan mental remaja

    2. Masalah mati dan kekekalan

    3. Emosi dan pengaruhnya terhadap kepercayaan agama

    4. Perkembangan moral dan perkembangannya dengan agama

    5. Kedudukan remaja dalam masyarakat dan pengaruhnya terhadap sikap

    6. Sikap remaja terhadap agama

    Agama atau religi merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa

    remaja. Sebagian orang berpendapat bahwa moral dan religi dapat

    mengendalikan tingkah laku anak yang beranjak pada usia remja sehingga

    mereka tidak akan melakukan hal-hal yang merugikan kepada masyarakat atau

    bertentangan dengan norma-norma agama. (Panuju dan Utami, 1999)

    Menurut Idrus (2006), kepercayaan remaja kepada Tuhan ditanamkan

    oleh orang tua dan gurunya. Di rumah remaja mengembangkan pemahaman

  • 9

    terhadap Tuhan dengan memproyeksikan ide dari orang dewasa di sekitar

    mereka. Melalui pengajaran orang tua dan gurunya, remaja memiliki gambaran

    tentang siapa dan bagaimana Tuhan. Sesuai dengan tahap perkembangannya,

    remaja mengalami krisis yang menyebabkan mereka memiliki keraguan kepada

    Tuhan, hal ini disebabkan keragu-raguan beragama memang merupakan salah

    satu karakteristik kehidupan beragama pada masa remaja yang sangat menonjol.

    Keraguan dan konflik remaja dalam hal beragama memang menjadi hal yang

    serius, manakala remaja tidak dapat menyelesaikan krisis yang terjadi.

    Kemampuan untuk mengatasi krisis akan membantu remaja sukses menjadi

    tahap perkembangan selanjutnya. Kegagalan untuk mengatasi krisis yang

    berupa keraguan terhadap Tuhan menyebabkan remaja mengalami hambatan

    dalam mengikuti perkembangan berikutnya.

    Adapun hal-hal yang hendak diungkap dalam penelitian ini adalah :

    1. Tema religiusitas pada remaja Aceh korban bencana Tsunami pasca 1

    tahun?

    2. Faktor-faktor yang mempengaruhi religiusitas korban bencana tsunami ?

    METODE PENELITIAN

    Penelitian ini mengunakan metode kualitatif, yaitu prosedur penelitian

    yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkrip

    wawancara, catatan laporan, gambar foto, rekaman video dan sebagainya

    (Poerwandari, 2001).

    Dalam penelitian ini, peneliti mengambil responden pada remaja yang

    menjadi korban bencana tsunami. Karakteristik subjek penelitian terdiri dari dua

    remaja putra dan tiga remaja putri. Subjek penelitian putra berusia 21-23 tahun.

  • 10

    Subjek-subjek itu kuliah di perguruan tinggi negeri. Ketiga remaja putri tersebut

    berusia 18-21 tahun, subjek-subjek ini tinggal di barak pengungsian Lhong Raya.

    Di antara dua remaja putri baru masuk perguruan tinggi swasta sedangkan satu

    remaja putri sudah kuliah di perguruan tinggi negeri. Peneliti akan memfokuskan

    pada remaja yang mengalami kejadian tsunami secara langsung.

    Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis tematik, dimana

    analisis ini memungkinkan peneliti menemukan pola yang pihak lain tidak

    melihatnya secara jelas. Analisis tematik merupakan proses mengkode informasi,

    yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema atau indikator yang kompleks,

    kualifikasi yang biasanya terkait dengan tema itu, atau hal-hal di antara /

    gabungan dari yang telah disebutkan. Tema tersebut secara minimal dapat

    mendeskripsikan fenomena, dan secara maksimal memungkinkan interpretasi

    fenomena (Poerwandari,1998)

    Langkah awal koding (Poerwandari,1998) dapat dilakukan melalui :

    1. Peneliti menyusun transkripsi verbatim (kata demi kata) atau catatan

    lapangannya sedemikian rupa sehingga ada kolom kosong yang cukup besar

    di sebelah kiri dan kanan transkrip. Hal ini akan memudahkannya

    membubuhkan kode-kode atau catatan-catatan tertentu di atas transkrip

    tersebut

    2. Peneliti secara urut dan kontinyu melakukan penomoran pada baris-baris

    transkrip dan atau catatan lapangan tersebut

    3. Peneliti memberikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode

    tertentu. Kode yang dipilih haruslah kode yang mudah diingat dan dianggap

    paling tepat mewakili berkas tersebut. Selalu membubuhkan tanggal di tiap

    berkas

  • 11

    HASIL PENELITIAN

    Hasil penelitian selama wawancara menunjukkan tema-tema religiusitas

    yang muncul dalam penelitian dan faktor-faktor yang mempengaruhi religiusitas

    remaja Aceh korban bencana tsunami. Adapun hasil penelitian sebagai berikut :

    A. Tema-tema religiusitas remaja Aceh korban bencana tsunami sebagai berikut

    1. Keyakinan agama

    Remaja Aceh korban bencana tsunami secara umum percaya dan yakin

    kepada Allah, malaikat, nabi, kitab suci, qadha dan qadar dan hari akhir.

    Walaupun dengan tingkat yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dalam

    penelitian berikut ini :

    a. Keyakinan terhadap Allah Bagaimana pandangan mira terhadap Allah ? ya...menurut saya adanya Allah, dengan adanya diciptakan manusia, diciptakan alam sekitar, langit dan bumi, dengan adanya alam sekitar lah.. (DM. 83-132)

    b. Keyakinan terhadap malaikat Bagaimana pandangan adek tentang malaikat ? malaikat adalah

    utusan Allah dan menjalankan perintah Allah (A. 123-135) c. Keyakinan terhadap nabi Apa saja yang telah dilakukan oleh nabi? yang adek ketahui yang

    nabi telah lakukan, emang perbuatan-perbuatan yang baik mungkin, sebelum kita lahir pun seperti kaum Quraisy yang tersesat diluruskan oleh nabi , maksudnya dikasih pengarahan ke kaum-kaum yang sesat bahwa semua adalah hamba Allah, ciptaan Allah, kita harus menyembah Allah, tuhan yang patut disembah (A.152-194)

    d. Keyakinan terhadap kitab suci bisa putra jelaskan tentang kitab suci? kitab suci tu kan pedoman

    bagi semua manusia apakah putra yakin dengan kebenaran isi al-Quran? percaya, karna kalo misalnya putra gak percaya putra keluar (LS. 214-232)

    e. Keyakinan terhadap qadha dan qadar Bisakah putri menjelaskan tentang qadha dan qadar? Qadha itu

    ada yang baik ada yang buruk, bagaimana perbuatan kita, kalo perbuatan kita baik maka Qadha itu ada, sebaliknya kalo kita melakukan yang buruk maka qadha buruk. bagaimana putri menghadapi qadha dan qadar Allah? Berzikir pada Allah, mengingatnya, sering melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah. (PL. 108-133)

    f. Keyakinan terhadap hari akhir

  • 12

    Bisa Mira jelaskan tentang hari kiamat? Hari kiamat emang sangat mengerikan, lebih parah dari tsunami, tapi kita gak bisa menjangkaunya, menghayalkannya karna kek mana ya ? hari kiamat di luar jangkauan Apakah Mira meyakini hari kiamat itu? Sangat yakin, klo gak ngapain juga kita menjadi orangislam karma hari kiamat adalah rukun iman( DM. 215-228)

    2. Pelaksanaan ibadah

    Secara umum remaja Aceh korban bencana tsunami melaksanakan

    perintah Allah dengan melaksanakan shalat, puasa, zakat, zikir, dan doa.

    Kecuali ibadah haji, subjek belum melaksanakan haji dan ada keinginan

    untuk melaksanakannya. Namun, ada juga di antara subjek yang belum

    melaksanakan ibadah secara sempurna.

    a. Pandangan dan pelaksanaan shalat Bagaimana pendapat putri tentang shalat? Shalat adalah sesuatu

    yang harus dikerjakan karena Allah Taala Apakah putri telah melakukan shalat secara penuh? Insya Allah sudah. (PL. 192-225)

    b. Pandangan dan pelaksanaan puasa apa itu puasa? dulu pun puasa itu salah satu rukun islam yang harus

    dikerjakan oleh seluruh umat islam, insyaallah adek pun tetap rajin mengerjakan puasa insyaalllah tdak pernah bolong kecuali lagi alangan, tapi kita ganti sesudah itu. Apa manfaat yang adek peroleh dari puasa? kita bertawakkal pada Allah trus kita bisa menahan lapar dan dahaga seperti orang yang kelaparan. (A. 282-317)

    c. Pandangan dan pelaksanaan zakat Menurut putri apa itu zakat? Zakat adalah yang harus

    disumbangkan kepada fakir dan miskin pada bulan ramadhan. Kapan seseorang disebut berkewajiban membayar zakat? Pada bulan ramadhan Apakah putri melaksanakan kewajiban membayar zakat? Belum, biasanya mamak yang bayar. ( PL. 251-259)

    d. Pandangan dan pelaksanaan haji apa mira udah naik haji?Blom. apa yang akan mira persiapkan

    untuk naik haji? kalau sekarang belom, mudah-mudahan ke depan kalau udah kerja bisa ngumpul-numpul duit dikit-dikit untuk naik haji, mudah-mudahan mira bisa naikkah haji orang tua dulu baru mira (DM. 310-322)

    e. Pandangan dan pelaksanaan zikir kalau tentang zikir, bagaimana pendapat putri? zikir tu gak hanya

    dilakukan setelah shalat aja tapi bisa juga dalam keseharian misalnya sambil duduk, sambil baca apa-apa itu, berzikir.. gimana kebiasaan berzikir putri? putri berzikir tu biasanya abis shalat, serin juga kalo duduk-duduk sendiri.. (PL. 277-291)

    f. Pandangan dan pelaksanaan doa

  • 13

    kapan dikki berdoa? dikki gak tetap kak doanya misalnya abis shalat, tapi dikki lebih pada perasaan, kalo sudah merasa gak senang atau merasa senang dikki berdoa, tergantung situasi bagaimana kebiasaan dikki doa ? biasanya dikki berdoa setelah shalat (DA.369-382)

    3. Perilaku dalam lingkungan sosial

    Secara umum sikap remaja Aceh korban bencana tsunami terhadap

    orang tua, lingkungan tetangga, lingkungan teman dan guru baik. Terjalin

    hubungan dan komunikasi yang baik. Walaupun terkadang subjek kurang

    patuh pada orang tua tapi subjek menyayangi orang tua. Hal ini dapat

    dilihat dalam wawancara berikut ini :

    a. Akhlak terhadap orang tua bagaimana wujud kasih sayang mira sama orang tua? mira ngelakuin apa yang disuruh oleh orang tua mira kerjain pekerjaan rumah tanpa membebani orang tua. menurut mira apakah mira sudah patuh sama orang tua? ada juga gak,tapi mira patuhlah, ngelakuin semua yang disuruh untuk membahagiakan orang tua. (DM. 365-384)

    b. Hubungan dengan lingkungan tetangga bagaimana adek berinteraksi dengan tetangga dan orang di sekitar adek? mungkin dengan cara ngumpul bareng-bareng teman, ngobrol-ngobrol, abistu gak mesti dengan teman-teman, dengan ibu-ibu juga, tetangga, mungkin salah satunya dengan nonton televise bersama, atau kalo ada kegiatan-kegiatan. (A. 425-443)

    c. Hubungan dengan lingkungan teman menurut putri perlukah memiliki sahabat? Mengapa? perlu, putri

    punya? punya tapi yang kayak gitu-itu aja, kalo yang akrab gak ada (PL. 366-379)

    d. Akhlak terhadap guru menurut putra bagaimana seharusnya berakhlak kepada guru?

    bandel dulu karna putra emang gak bisa diam, ya banya gerak, apalagi kawan-kawan putra juga sama (LS. 447-454)

    4. Perasaan dekat dengan tuhan

    Secara umum pengalaman yang sangat berkesan bagi subjek adalah

    tsunami. Kejadian tsunami membuat subjek mudah mengingat pada Allah

    saat berbuat salah, hal ini ditunjukkan dengan mendekatkan diri pada

    Allah, memohon ampunan, berzikir, insaf, meminta petunjuk pada Allah.

  • 14

    Selain itu, subjek lebih sabar dan tawakkal kepada Allah, seperti

    tawakkal, bersabar, tabah, pasrah, mengembalikan pada Allah. Hal ini

    dapat dilihat hasil wawancara berikut ini :

    apakah adek mendapatkan pengalaman yang menunjukkan adek dekat dengan Allah? ya ada, pengalaman yang mendekatkan diri pada Allah ya,,mungkin keluarga ya kalo ada apa-apa kita minta petunjuk pada Allah, kalo teman pun atau pacar kita kalo ada masalah, kita mendekatkan diri dengan Allah apa yang terbaik untuk kita, apa yang seharusnya dilakukan agar lebih baik. bisa adek ceritakan pengalaman dekat dengan Allah itu? kalo dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kalo berbuat sesuatu yang kurang baik ato kesalahan langsung teringat pada Allah. Trus gimana ade menghadapinya? ya dengan memohon ampun atas kesalahan yang diperbuat. (A. 473-506)

    5. Pengetahuan agama

    Secara umum subjek telah mengetahui isi al-Quran dan hadis. Subjek

    mengetahui isi al-Quran dengan cara membaca al-Quran, memaknai,

    berusaha mengamalkan, kadang-kadang membaca tafsir. Subjek juga

    mengetahui isi hadis dari buku-buku, pengajian dan mengamalkannya.

    Namun ada subjek yang tidak tahu semua isi al-Quran, belum mampu

    mengamalkannya, tidak mendalami hadis dan kurang tahu tentang isi

    hadis. Sebagaimana dalam wawancara berikut :

    berdasarkan pengetahuan dikki, apa aja isi al-Quran? pasti menurut dikki berisi tentang tauhid, akhlak, abistu nilai-nilai sosial yang ada didalamnya bagaimana kita harus berhubungan dengan sesame, dengan yang di atas dan bahkan dengan alam, seperti itu lah apakah diantara isi al-Quran itu ada yang membuat dikki berkesan? mungkin hubungan antara manusia dengan manusia, sampe ke perkawinan pun diajarkan seperti tu apakah mengamalkannya setelah mendalaminya? pastilah, jangan masuk kuping kiri keluar kuping kanan jadi buat apa kita ke situ (mesjid) sejauh ini adakah hadis yang berhubungan dengan kehidupan dikki? ada .misalnya tentang kehalalan makanan, karena dikki konsentrasi di bidang itu, paling gak dari sekarang dikki harus cari hadis-hadis tentang itu walaupun di al-Quran umum, tapi secara detailnya kan gak ada di situ, abistu cari di hadis (DA. 533-575)

  • 15

    B. Faktor-faktor yang mempengaruhi religiusitas remaja Aceh korban bencana

    tsunami

    1. Faktor pendidikan keluarga dan dukungan lingkungan masyarakat

    Secara umum lingkungan sangat mempengaruhi keimanan subjek dan

    mempunyai pengaruh terhadap keimanan subjek. Hal ini dapat dilihat dari

    penelitian berikut ini :

    apakah lingkungan sekitar mempengaruhi keimanan putri? Mempengaruhi bisa dijelaskan bagaimana pengaruhnya? terutama dari orang tua, abistu guru, dari ustad yang putri ngaji, pernah sikit-sikit (sedikit) dipelajari dan melakukannya apalagi yang baik-baik bisa dijelaskan hal-hal baik yang dilakukan? berbuat baik sama orang sekarang gimana? lebih meningkat, kalo dulu putri gak pake jilbab kalo keluar-keluar kan, sekarang insyaallah dah pake kalo keluar depan pintu dah pake walaupun masih nampak dikit.. (PL. 444-458)

    2. Faktor pengalaman

    Pengalaman hidup yang berkesan bagi subjek adalah kejadian tsunami

    yang mempengaruhi keimanan subjek. Berikut kutipan wawancara :

    apakah ada pengalaman hidup yang mengesankan? tsunami , kalo dulu biasa-biasa aja .apakah dari pengalaman itu ada yang mempengaruhi keimanan mira? pada waktu tsunami itu ada bisa dijelaskan bagaimana pengalaman hidup itu mempengaruhi keimanan mira ? pengaruhnya agar kita lebih mengingat Allah lagi, gitu ya? Menjalankan perintah Allah, yang jelek-jelek di jauhi jangan dilakuin lagi ato mungki dulu banyak dosa janganlah dosa lagi, sekarang lebih baik lgi, kita kan gak tau kapan kita mati, kek ( seperti) kemaren tu gak ada angin gak ada hujan, abis sekali sapu. (DM. 525-537)

    3. Faktor untuk mengatasi ketakutan

    Secara umum dengan adanya religiusitas,subjek membutuhkan rasa

    aman dan selamat dari hal-hal yang mengancam dirinya, dan kebutuhan

    yang timbul karena adanya ancaman kematian. Hal ini sebagaimana

    dalam penelitian berikut ini :

    a. Kebutuhan akan rasa aman dan selamat apakah adek sudah merasa aman dan selamat dari hal-hal yang

    mengancam diri adek? ya adek merasa aman dan adek merasa

  • 16

    butuh rasa aman dan selamat itu apa yang adek lakukan ketika merasa aman dan dan selamat? mensyukuri, berterima kasih pada Allah, insyaallah gak bolong abistu melakukan shalat sunat, puasa sunat juga,, ( a. 598-606)

    b. Kebutuhan yang timbul karena adanya ancaman kematian apayang putra butuhkan ketika ada ancaman kematian? yang

    pasti kita berikhtiar disamping memohon pertolongan Allah karna setelah itu kita bisa tenang dan merasa puas apapun hasilnya apakah yang telah putra persiapkan untuk menghadapinya? putra bersabar, tawakkal.. (LS. 608-615)

    4. Faktor pengetahuan umum

    Secara umum menurut subjek ada hubungan antara pengetahuan

    dengan keyakinan pada agama dengan mengaitkan pengetahuan yang

    telah diperoleh dengan keyakinan pada agama lalu mengamalkannya.

    Dengan demikian intelektual mempengaruhi religiusitas subjek. Berikut ini

    kutipan wawancara :

    berdasarkan pengetahuan agama mira, menurut mira adakah hubungan pengetahuan dengan keyakinan pada agama? ya berpengaruh lah kak.. bisa dijelaskan bagaimana mira mengaitkan pengetahuan yang telah diperoleh dengan keyakinan pada agama? ya dengan adanya, banyaknya kita tau ilmu agama bertambahlah keyakinan kita terhadap agama yang sedang kita jalani. apa yang mira lakukan? ya kayak pertama mira tau tentang shalat, mira kan tau tentang ilmu shalat dengan buku tuntunan shalat ya..ya udah, dengan belajar-belajar itu mira ngejalanin shalat itu langsung dipraktekkan dan meyakini ajaran-ajaran agama.. (DM. 572-587)

    PEMBAHASAN

    Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan peneliti

    diperoleh beberapa tema religiusitas. Tema religiusitas adalah keyakinan agama,

    pelaksanaan ibadah, perilaku dalam lingkungan sosial, pengetahuan agama dan

    perasaan dekat dengan tuhan.

    Pada aspek keyakinan terhadap agama, tema-tema yang muncul adalah

    keyakinan terhadap Allah, keyakinan terhadap malaikat, keyakinan terhadap

  • 17

    nabi, keyakinan terhadap kitab suci, keyakinan terhadap hari akhir dan keyakinan

    terhadap qadha dan qadar. Secara umum tampak bahwa keyakinan remaja Aceh

    korban bencana tsunami cenderung meningkat. Hal ini diketahui dari indikator-

    indikator yang muncul pada setiap tema seperti percaya, yakin, rasa syukur,

    merasakan kasih sayang Allah, mengambil hikmah, menerima ketentuan Allah,

    mendekatkan diri pada Allah, memperbaiki diri dan terus mempelajari kekuasaan

    Allah masih sangat tampak, meskipun beberapa dari mereka juga merasa sulit

    menerima cobaan, depresi, bahkan masih ada yang takut tapi diperkuat oleh

    orang tua dengan agama supaya tidak melakukan hal-hal yang tidak baik.

    Namun hal ini hanya sebagian kecil dari indikator-indikator yang muncul.

    Pada aspek pelaksanan ibadah,. Menyangkut pemahaman dan intensitas

    pelaksanaan ibadah sebagai implementasi pada ajaran agama yang dianutnya.

    Dari indikator tersebut, diketahui bahwa remaja Aceh korban bencana tsunami

    memiliki religiusitas yang meningkat. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya

    intensitas ibadah yang dilakukan oleh remaja Aceh korban bencana tsunami.

    Dengan memahami dan melaksanakan ibadah membuat remaja Aceh korban

    bencana tsunami mengingat Allah, merasa lega, merasa tenang, sanggup

    melawan hawa nafsu, belajar mengontrol diri, mampu mengendalikan diri, lebih

    dekat dengan Allah. Namun pada tema ibadah haji tidak dapat mewakili

    religiusitas remaja Aceh korban tsunami karena mereka belum melaksanakannya

    tapi sudah ada usaha mempersiapkan diri untuk melaksanakan haji.

    Pada aspek perilaku dalam lingkungan, secara umum indikator yang

    muncul menunjukkan bahwa remaja Aceh korban tsunami memiliki religiusitas

    yang cenderung sama. Sebagian jawaban yang muncul adalah perilaku sehari-

    hari yang berhubungan dengan orang tua, lingkungan dan guru. Layaknya

  • 18

    remaja lainnya, remaja Aceh korban tsunami juga ada yang berperilaku baik

    seperti patuh, membantu orang tua, terbuka, saling membantu, mendengar

    nasehat,perhatian dan butuh pertolongan orang lain. Namun ada juga yang

    berperilaku tidak baik seperti kurang patuh, membantuh, bandel, dan urang

    terbuka, sehingga agak sulit untuk tampak religiusitasnya.

    Aspek perasaan dekat dengan tuhan merupakan salah satu religiusitas

    remaja Aceh korban tsunami. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Nashori dan

    Mucharam (2002), bahwa pengalaman keagamaan dan perasaan tentang

    kehadiran tuhan, perasaan takut melanggar larangan tuhan sikap ikhlas, dan

    tawakkal kepada Allah menunjukkan perasaan dekat dengan Allah,. Tema yang

    muncul menunjukkan bahwa dengan pengalaman tsunami yang dialaminya

    seperti kehilangan keluarga, kelengkapan keluarga, kedatangan kematian

    membuat remaja Aceh korban bencana tsunami mudah mengingat Allah saat

    berbuat salah, seperti memohon ampunan, mendekatkan diri kepada Allah, insaf,

    berzikir, meminta petunjuk Allah. Selain itu, remaja Aceh korban bencana

    tsunami lebih bersabar dan tawakkal, seperti tabah, pasrah kepada Allah.

    Pada aspek pengetahuan agama, juga terlihat peningkatan religiusitas

    remaja Aceh korban bencana tsunami. Tema yang muncul adalah pengetahuan

    tentang isi al-Quran dan pengetahuan tentang isi hadis. Berdasarkan penelitian

    terungkap bahwa remaja Aceh korban bencana tsunami sering membaca al-

    Quran sehingga mengetahui isi-isi al-Quran, memaknai dan berusaha

    mengamalkan, meskipun ada juga yang tidak tahu isi al-Quran dan belum

    mampu menjalankannya. Selain itu, pengetahuan tentang isi hadis diperoleh dari

    buku-buku, dari pengajian, ada yang membaca hadis lalu mengamalkannya, tapi

  • 19

    ada juga remaja Aceh korban bencana tsunami yang kurang tahu tentang hadis

    bahkan tidak mendalaminya.

    Berdasarkan penelitian ini juga diperoleh beberapa factor yang

    mempengaruhi religiusitas remaja Aceh korban tsunami, di antaranya yaitu

    pendidikan keluarga, pengaruh lingkungan sosial, pengalaman, untuk mengatasi

    ketakutan dan pengetahuan.

    Pendidikan orang tua sangat berperan penting dalam pembentukan

    religiusitas remaja Aceh karena sejak kecil, remaja-remaja tersebut sudah

    berada dalam lingkungan beragama dan mendapatkan pendidikan, pengalaman,

    dan latihan-latihan keagamaan sehingga agama tersebut menjadi mutlak. Hal ini

    pula yang menjadi kekhasan remaja Aceh korban tsunami bahwa pendidikan

    orang sangat penting dalam membentuk keimanan remaja Aceh. Pendidikan

    shalat, puasa, membayar zakat, jika remaja tersebut tidak shalat akan dipukul

    oleh orang tuanya, jika puasa masih bolong-bolong maka jatah di hari raya akan

    disedikitkan. Walaupun itu sebuah pemaksaan namun secara otomatis ada

    perasaan tidak lengkap jika tidak melakukannya.

    Pengaruh dukungan lingkungan masyarakat juga mempengaruhi remaja

    Aceh, hal ini dapat dilihat pengaruh sosial kemasyarakatan yang ada di sekitar

    remaja Aceh. Pendidikan agama yang diperoleh dari guru dan ustad, di sekolah

    dan tempat pengajian merupakan pendidikan di luar lingkungan keluarga,

    sehingga apa yang diperoleh di dalam keluarganya didukung dengan pendidikan

    yang diperoleh di lingkungan sekitarnya. Pelaksanaan ibadah seperti aktif dalam

    kegiatan masjid, membuat remaja mendapatkan ajaran agama tambahan,

    walaupun berada di lingkungan yang didominasi oran non muslim seperti

  • 20

    lingkungan orang Cina ternyata kehidupan beragama tetap terbentuk dengan

    adanya sikap demokrasi dari orang non muslim tersebut.

    Faktor pengalaman yang diperoleh remaja Aceh korban tsunami juga

    menunjukkan religiusitasnya, bahwa dengan kejadian tsunami yang dialami oleh

    korban tsunami membuat remaja Aceh takut jika kejadian serupa menimpanya

    lagi. Selain itu, berdasarkan pengalaman tsunami itu remaja memaknai bahwa

    hidup tidak kekal, semua makhluk akan mati dan kematian itu tidak tahu kapan

    datangnya, sehingga muncul ketakutan-ketakutan pada diri remaja. Dengan

    demikian remaja lebih mengingat Allah, menjalankan perintah Allah, seperti

    menutup aurat, menyempurnakan shalat, mengaji. Hal ini sebagaimana yang

    diungkapkan oleh Dister (1982) bahwa perilaku beragama muncul untuk

    mengatasi frustasi. Frustasi yang dialami oleh remaja Aceh korban tsunami

    karena alam, yaitu tsunami. Demikian juga, sebagaimana yang dikemukakan

    oleh Dister (1982) bahwa motif seseorang berkelakuan agama salah satunya

    untuk mengatasi ketakutan.

    Faktor pengetahuan umum juga mempengaruhi keyakinan remaja Aceh

    korban tsunami terhadap Allah. Dengan memperoleh pengetahuan umum melalui

    pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadikan remaja tidak bimbang

    dengan agama yang dianutnya. Sejak kecil remaja telah mendapat didikan

    agama dari orang tuanya. Penerapan ajaran-ajaran agama, seperti shalat, puasa

    dalam kehidupan sehari-hari maka dengan sendirinya remaja mencari dan

    menggali pengetahuan agama tersebut untuk dapat diamalkan dalam kehidupan

    sehari-hari. Orang Aceh menjadikan islam sebagai peradaban yang mewarnai

    perjalanan hidup sehari-hari, kebudayaan yang bernuansa islami diterapkan

    secara turun temurun kepada generasi penerusnya.

  • 21

    Dinamika Psikologis Religiusitas Remaja Aceh Korban Tsunami

    Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis maka muncul

    dinamika psikologis yang menunjukkan religiusitas remaja Aceh korban tsunami.

    Remaja Aceh korban tsunami memiliki religiusitas meningkat ditandai oleh

    beberapa aspek, yaitu aspek keyakinan agama, di mana remaja meyakini

    keberadaan Allah dengan kekuasaan melalui penciptaan alam semesta sampai

    pada bencana tsunami yang tak pernah terlupakan. Aspek pelaksanaan ibadah

    menunjukkan bahwa intensitas ibadah yang dilakukan oleh remaja Aceh korban

    tsunami meningkat, dengan beribadah remaja merasa tenang, lebih

    mendekatkan diri kepada Allah dan bersyukur. Aspek perilaku dalam lingkungan

    cenderung biasa, yaitu berperilaku baik terhadap orang lain, namun dalam hal

    perilaku kepada orang tua cenderung meningkat karena ingin berbakti pada

    orang tua. Aspek pengetahuan agama, mengenai ajaran-ajaran agama yang

    telah diperoleh sejak kecil. Aspek-aspek tersebut menuju pada aspek perasaan

    dekat dengan tuhan, keempat aspek tersebut membuat remaja Aceh merasakan

    kedekatan dengan Allah.

    Keyakinan terhadap agama yang dianutnya membuat remaja Aceh

    korban tsunami merasakan kebesaran Allah, menerima ketentuan Allah,

    merasakan kasih sayang Allah dengan diberi kelengkapan keluarga, kehilangan

    keluarga, sehingga remaja Aceh merasakan kedekatannya dengan Allah untuk

    menjadi lebih baik. Intensitas ibadah, seperti shalat, puasa membuat remaja

    Aceh merasa tenang, lega, mengingat Allah, dapat mengendalikan diri dari hawa

    nafsu. Kekhasan yang muncul pada remaja Aceh korban tsunami adalah karena

    adanya tsunami membuat keluarganya hilang, ada ketakutan kapan ajal akan

  • 22

    menjemputnya sehingga ketika remaja melakukan kesalahan atau melanggar

    aturan-aturan agama akan merasa menyesal dan memohon ampunan, insaf,

    ertawakkal dan tabah pada kehendak Allah. Dengan demikian aspek-aspek ini

    menunjukkan bahwa religiusitas remaja Aceh korban tsunami meningkat.

    Pada dasarnya religiusitas yang dimiliki oleh remaja Aceh korban tsunami

    dipengaruhi oleh pendidikan keluarga, dukungan lingkungan masyarakat,

    pengalaman mengatasi ketakutan terhadap tsunami dan pengetahuan umum.

    Pendidikan keluarga sangat mempengaruhi keyakinan remaja terhadap

    agama yang menunjukkan intensitas melaksanakan ibadah dan

    mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kekhasan yang muncul

    pada religiusitas remajaAceh adalah pola asuh orang tua terhadap remaja yang

    mulai semenjak kecil. Pendidikan agama yang diterapkan sejak kecil dengan

    sistem otoriter dan keras dikarenakan agama adalah sesuatu yang sakral

    sehingga agama tidak boleh dimain-mainkan dan benar-benar ditekankan

    sehingga agama terbentuk dalam unsur kepribadian remaja Aceh.

    Hal ini sesuai dengan teori belajar Skinner tentang reward dan

    punishment , ketika melakukan kebenaran akan mendapat penghargaan (reward)

    tapi jika melakukan kesalahan akan mendapat hukuman (punishment). Pada saat

    remaja Aceh masih kecil, ketika melakukan kesalahan seperti tidak

    melaksanakan shalat akan dipukul, ketika tidak berpuasa akan mendapatkan

    jatah sedikit pada hari raya. Dengan demikian proses belajar melalui pendidikan

    keluarga yang diperoleh sejak kecil menjadikan remaja Aceh meyakini ajaran

    agama yang dianutnya, lalu melaksanakan ajaran-ajaran agama seperti shalat,

    puasa, zakat, bertingkah laku baik terhadap orang tua, lingkungan sekitarnya dan

    guru. Remaja juga lebih memperdalam pengetahuan tentang agama untuk

  • 23

    mendukung keyakinannya terhadap agama dan pendidikan keluarga juga

    membuat remaja Aceh lebih merasakan kedekatan dengan Allah.

    Faktor dukungan lingkungan masyarakat sangat mempengaruhi

    religiusitas remaja Aceh korban tsunami, hubungan yang terjalin antara remaja

    dengan lingkungan masyarakat membuat subjek yakin kepada Allah bahwa

    manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia saling bergantung, saling

    membutuhkan pertolongan. kemudian remaja akan melaksanakan ibadah

    seperti berpuasa bersama teman-teman yang ada dibarak, berbusana muslim.

    Hal ini sesuai dengan pendapat Darajat (2003) bahwa dalam menjalankan

    aktivitas-aktivitas agama, beribadah biasanya remaja sangat dipengaruhi oleh

    teman-temannya. Dengan demikian membuat remaja Aceh dekat dengan Allah

    karena bersyukur berada dalam lingkungan yang benar dan baik.

    Pengalaman tsunami yang dialami oleh remaja Aceh membuat dirinya

    mendekatkan diri kepada Allah, ada keyakinan pada ketentuan-ketentuan Allah

    dan menerima cobaan yang Allah timpakan pada dirinya yaitu pengalaman yang

    sangat mengerikan maka membuat remaja meyakini bahwa ada hikmah dibalik

    musibah yang dialaminya. Maka remaja Aceh menyempurnakan ibadah-ibadah

    untuk merasakan ketenangan dan dapat mengendalikan diri serta sebagai wujud

    syukur kepada Allah. Remaja juga berbuat baik kepada orng lain yang ada di

    lingkungannya, baik terhadap tetangga, teman, dan guru. Sehingga remaja

    Aceh merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya dan merasa dekat dengan

    Allah dengan lebih bersabar, pasrah dan tawakkal. Begitu juga halnya dengan

    ketakutan yang muncul karena ancaman kematian, kebutuhan rasa aman dan

    selamat membuat remaja Aceh korban tsunami mendekatkan diri kepada Allah

    dengan meyakini semua kehendak Allah, melakukan perintahNya dan

  • 24

    meninggalkan laranganNya, baik dalam ibadah maupun lingkungan sosial yang

    didukung oleh pengetahuan agama yang dimilikinya.

    Berdasarkan dinamika psikologis remaja Aceh korban tsunami dapat

    diketahui bahwa setelah tsunami religiusitas remaja Aceh korban tsunami

    meningkat. Hal ini disebabkan oleh hubungan antara remaja dan orang tua

    terjalin semakin baik. Sebelum tsunami perkembangan hubungan remaja dan

    orang tua kurang baik. Salah satu ciri yang menonjol dari remaja yang

    mempengaruhi relasinya dengan orang tua adalah perjuangan untuk

    memperoleh otonomi, baik secara fisik dan psikologis karena remaja meluangkan

    lebih sedikit waktunya bersama orang tua dan lebih banyak menghabiskan waktu

    untuk saling berinteraksi dengan dunia yang lebih luas (Desmita,2005). Maka

    masalah yang dihadapi oleh remaja dengan orang tuanya adalah sulitnya

    mengadakan komunikasi, sebagian remaja Aceh lebih terbuka pada teman-

    teman sebayanya dengan cara menceritakan masalahnya.

    Selain itu, dengan adanya proses belajar dari pengalaman masa lalu

    yang dialami oleh rakyat Aceh menjadikan remaja Aceh kuat dan tabah

    menghadapi cobaan yang menimpa dirinya.

    Pada dasarnya penelitian ini, menurut peneliti masih mengalami

    kekurangan, hal ini tampak dalam penggalian data-data pada remaja yang masih

    kurang, dan kurang mendalam dalam mengungkap religiusitas yang khas pada

    remaja Aceh korban tsunami.

    KESIMPULAN DAN SARAN

    Penelitian di lapangan menunjukkan bahwa religiusitas remaja Aceh korban

    tsunami meningkat. Kejadian tsunami yang menimpa Aceh membuat remaja

  • 25

    korban tsunami tunduk dan patuh pada Allah atas ketetapan Allah, menerima

    semua ketentuan Allah dengan kejadian tsunami yang dialaminya, sehingga

    remaja mendekatkan diri kepada Allah. Remaja menjadi lebih rajin shalat,

    berpuasa untuk mendekatkan diri pada Allah sebagai rasa syukur atas

    keselamatan dan kesempatan yang diperolehnya, meskipun ada remaja yang

    belum sepenuhnya melaksanakan amalan-amalan. Namun mereka berusaha

    untuk memperbaiki diri dengan menjalankan perintah Allah dan meninggalkan

    larangan Allah. pengetahuan agama yang telah diperoleh sejak kecil menjadikan

    remaja Aceh mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian

    muncul perasaan dekat dengan Allah sebagai manifestasi dari keyakinan,

    pengamalan, dan penghayatan alam hidupnya.

    Faktor pendidikan keluarga sangat mempengaruhi religiusitas remaja

    korban tsunami. Religiusitas remaja Aceh korban tsunami terbentuk sejak kecil

    yaitu pendidikan agama yang telah menyatu dalam adat masyrakat Aceh

    sehingga telah mendarah daging pada remaja Aceh, selain itu ajaran agama

    yang diterapkan oleh orang tua dengan sistem yang keras sehinggga pendidian

    agama tersebut terbentuk menjadi unsur kepribadian remaja. Pengalaman

    tsunami yang dialami oleh remaja Aceh membuat dirinya mendekatkan diri

    kepada Allah, ada keyakinan pada ketentuan-ketentuan Allah dan menerima

    cobaan yang Allah timpakan pada dirinya yaitu pengalaman yang sangat

    mengerikan maka membuat remaja meyakini bahwa ada hikmah dibalik musibah

    yang dialaminya. Sehingga remaja Aceh merasakan kehadiran Allah dalam

    kehidupannya dan merasa dekat dengan Allah dengan lebih bersabar, pasrah

    dan tawakkal. Begitu juga halnya dengan ketakutan yang muncul karena

    ancaman kematian, kebutuhan rasa aman dan selamat membuat remaja Aceh

  • 26

    korban tsunami mendekatkan diri kepada Allah dengan meyakini semua

    kehendak Allah, melakukan perintahNya dan meninggalkan laranganNya, baik

    dalam ibadah maupun lingkungan sosial yang didukung oleh pengetahuan

    agama yang dimilikinya.

    Tsunami yang melanda Aceh membuat remaja Aceh korban tsunami kuat

    dan tabah menghadapi musibah tersebut. Remaja Aceh korban tsunami meyakini

    bahwa musibah tsunami yang dihadapinya merupakan ujian dari Allah, mereka

    meyakini ada hikmah di balik semua yang terjadi.

    B. Saran-Saran

    1. Bagi Remaja Aceh Korban Tsunami

    Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti menyarankan

    kepada remaja Aceh korban tsunami agar lebih meningkatkan keimanan dan

    keyakinan kepada Allah sehingga remaja Aceh lebih bisa merasakan

    kedekatan dengan Allah melalui ibadah-ibadah dan amalan-amalan yang

    dilakukan. Bagi remaja Aceh korban tsunami yang mulai meningkatkan

    religiusitas, diharapkan bisa mempertahankan dan lebih ditingkatkan untuk

    menjadi lebih baik.

    2. Bagi Peneliti Selanjutnya

    Dari hasil penelitian ini diharapkan bagi peneliti-peneliti selanjutnya dapat

    melakukan penelitian lebih mendalam mengenai religiusitas yang khas pada

    remaja Aceh korban tsunami dengan penggalian data-data lebih mendalam

    sehingga memunculkan tema-tema religiusitas yang khas.

  • 27

    DAFTAR PUSTAKA

    Achier. Y.A. 1979. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta:Depdikbud

    Al-Baghdady, A. 2005. Tsunami Tanda Kekuasan Allah. Jakarta: Cakrawala

    Publishing Ancok, D dan Nashori, F.N. 1994. Psikologi Islami: Solusi Islam Atas Problem-

    Problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Apridar. 2005. Tsunami Aceh Azab Atau Bencana. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar Azwar, S. 1998. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Liberty Dahlan,M&Yacub,L.Lya Sofyan. 2003. Kamus Induk Istilah Ilmiah Seri Intelektual.

    Surabaya: Target Press Daradjat, Z. 2003. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang Daradjat, Z. 1994. Remaja Harapan dan Tantangan. Bandung: Ruhama Dariyo, A. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor: Ghalia Indonesia Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya Dister, N.S. 1982. Pengalaman dan Motivasi Beragama. Jakarta: Leppenas Furqani,H. 2006. Aceh Dan Kesadaran Sejarah. http://www.acehinstitute.org/opini_hafas_furqani_aceh_dan_kesadaran_sejarah.htm Hayyinah. 2004. Religiusitas dan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa. Jurnal

    Psikologika, Nomor 17, Tahun IX, Januari 2004.31-41

    Idrus, M. 2006. Keraguan Kepada Tuhan Pada Remaja. Jurnal Psikologika, Nomor 21, Tahun XI, Januari 2006, 27-36

    Jalaluddin. 1998. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada Latief, Z.M. 1998. Akidah Islam. Yogyakarta: UII Press Mappiare, A. 1982. Perkembangan Remaja. Surabaya: Usaha Nasional Moleong, J.L. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

    Rosdakarya

  • 28

    Mualim,Y. 2006. Identitas dan Pembangunan. http://www.ranesi.nl/tema/pengetahuan/identitas_pembangunan060117

    Mubarok,MM. 2005. Duka Aceh Tsunami dan Solidaritas Dunia. Surabaya: Java

    Pustaka Muthahhari, M. 1990. Manusia dan Agama. Bandung: Mizan Nashori,F.N dan Mucharam,R.D. 2002. Mengembangkan Kreativitas Perspektif

    Psikologi Islami. Yogyakarta: Menara Kudus Oktavia,M. 2006. Pengaruh Hikayat Dalam Masyarakat Aceh.

    http://www.acehinstitute.org/opini_morina_pengaruh_hikayat.htm Panuju, P dan Umami S.I. 1999. Psikologi Remaja. Yogyakarta: Tiara Wacana Pitaloka, A. 2005. Religi dan Spiritualitas Sebagai Coping Stress Dalam

    Penanganan Psikologis Korban Tsunami. http://www.e-psikologi.com/masalah/190105.htm

    Poerwandari, E.K. 2001. Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku

    Manusia. LPSP3. Jakarta: Fakultas Psikologi UI Salim,P & Salim,Y. 1991. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta:

    Modern English Press Sarwono, S.W. 2002. Psikologi Remaja. Yogyakarta: raja Grafindo Persada Theresiawati, E.N. dan Prihastuti. 2003. Hubungan Antara Tingkat Religiusitas

    dan Metode Active Coping PTSD Di Mana Tingkat PTSD Merupakan Variabel Kontrol Pada Pengungsi Remaja Asal Sampit Sebagai Santri Pondok Pesantren Darusslam Ketapang Sampang Madura. Insani Media Psikologi. Vol 5, nomor 3, Desember 2003, 157-168

    Thouless, R.H. 1992. Pengantar Psikologi Agama. Jakarta: Rajawali Pers Vebry, M. 2005. Masihkah Uroe raya Idul Fitri Tahun Depan Kami Tinggal Di

    Tenda. http://www.acehinstitute.org/opini_riset_vebry_masihkah_uroe_raya.htm

    Waruwu, F.E. 2003. Perkembangan Kepribadian dan Religiusitas Remaja. Arkhe

    Jurnal Ilmiah. Th 8, nomor 1, April 2003, 29-39 Zulkifli. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya

of 28/28
1 NASKAH PUBLIKASI RELIGIUSITAS REMAJA ACEH KORBAN BENCANA TSUNAMI PASCA 1 TAHUN KARJUNIWATI H. FUAD NASHORI PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2007 NASKAH PUBLIKASI
Embed Size (px)
Recommended