Home >Documents >Nadia 1408045024 Psikiatri Skizo

Nadia 1408045024 Psikiatri Skizo

Date post:05-Dec-2015
Category:
View:12 times
Download:4 times
Share this document with a friend
Description:
skizoprene
Transcript:

MAKALAH PSIKIATRISKIZOPRENE DAN PENANGANANNYA

Disusun Oleh :NADIA SAPTARINA1407045024

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ILMU KEFARMASIANMINAT FARMASI KLINIKFAKULTAS FARMASIUNIVERSITAS AHMAD DAHLANYOGYAKARTA2015Gambaran Persepsi Tentang Gangguan Jiwa Pada Keluarga Penderita Skizofrenia Yang Datang Ke Grha Atma Pada Periode April Sampai Dengan Mei 2014.ABSTRAKKeluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberi perawatan langsung pada setiap keadaan sehat dan sakit anggota keluarganya. Skizofrenia bukan penyakit menular tetapi dapat menyebabkan beban mental maupun materi bagi keluarganya. Persepsi keluarga yang positif diperlukan untuk membantu kesembuhan penderita skizofrenia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi tentang gangguan jiwa pada keluarga penderita skizofrenia yang datang ke Grha Atma pada periode bulan April 2014 sampai dengan Mei 2014.Penelitian deskriptif kuantitatif ini dilakukan pada 96 responden keluarga penderita skizofrenia yang diambil dengan cara consecutive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner. Hasil penelitian menggunakan analisa univariat.Hasil penelitian menunjukkan persepsi keluarga yang positif (52,1%) tentang gangguan jiwa lebih banyak dibandingkan dengan persepsi keluarga yang negatif (47,9%).Disarankan bagi pelayanan di Grha Atma untuk mengoptimalkan program promosi kesehatan jiwa. Bagi tenaga kesehatan untuk melaksanakan standard operasional procedure psikoedukasi gangguan jiwa pada keluarga dan masyarakat.Kata kunci : Gangguan jiwa, keluarga, persepsi, skizofrenia

BAB IPENDAHULUAN

1. PengertianSkizofrenia adalah sekelompok gangguan psikotik dengan gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas proses pikir, kadang-kadang mempunyai perasaan bahwa dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham yang kadang-kadang aneh, gangguan persepsi, afek abnormal yang terpadu dengan situasi nyata atau sebenarnya, dan autisme. Meskipun demikian, kesadaran yang jernih dan kapasitas intelektual biasanya tidak terganggu.(Mansjoer, 2000).Sedangkan gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu yang ditandai dengan adanya gejala kombinasi antara gejala skizofrenia dan gejala gangguan afektif diaman keduanya sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama (Sadock, dkk., 2003 ; Maslim, 2002).Maramis (2006) menyebutkan skizofrenia dan gangguan skizoafektif merupakan salah satu gangguan kejiwaan berat dan menunjukkan adanya disorganisasi (kemunduran) fungsi kepribadian, sehingga menyebabkan disability (ketidakmampuan). Ketidakmapuan penderita skizofrenia atau dengan gangguan skizoafektif dalam mencapai berbagai keterampilan hidup inilah yang menyebabkan penderita menjadi beban keluarga dan masyarakat. Ketidakmampuan bersosialisasi pada penderita skizofrenia tergantung dari tingkat keparahan simptom psikologis yang dialami penderita, dimana semakin dominan tingkah laku simptomatologik menguasai seluruh tingkah lakunya, semakin buruk juga ketidakmampuan bersosialisasi yang dialami oleh penderita.Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan depresif maupun gangguan bipolar, tetapi memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia (Sadockdkk., 2003).

2. Epidemiologi

Sekitar satu persen penduduk dunia akan mengidap skizofrenia pada suatu waktu dalam hidupnya. Di Indonesia diperkirakan satu sampai dua persen penduduk atau sekitar dua sampai empat juta jiwa akan terkena penyakit ini. Bahkan sekitar sepertiga dari sekitar satu sampai dua juta yang terjangkit penyakit skizofrenia ini atau sekitar 700 ribu hingga 1,4 juta jiwa kini sedang mengidap skizofrenia.Perkiraan angka ini disampaikan Dr LS Chandra, SpKJ dari Sanatorium Dharmawangsa Jakarta Selatan.Tiga per empat dari jumlah pasien skizofrenia umumnya dimulai pada usia 16 sampai 25 tahun pada laki-laki. Pada kaum perempuan, skizofrenia biasanya mulai diidap pada usia 25 hingga 30 tahun. Penyakit yang satu ini cenderung menyebar di antara anggota keluarga sedarah3. Manifestasi Klinik dan Kriteria DiagnosisA. Manifestasi Klinik1. Tanda dan gejala pramorbidKepribadian schizoid / skizotipal, ditandai sebagai pendiam, pasif, dan introvert, sehingga memiliki sedikit teman.Gangguan somatisasi, dimulai dengan keluhan di sekitar gejala somatic, seperti nyeri kepala, nyeri punggung dan otot, kelemahan, dan masalah pencernaan.2. Pemeriksaan status mentalPenampilan bermacam-macam, dari orang yang sama sekali acak-acakan, berteriak-teriak, teragitasi sampai orang yang berdandan secara obsesif, sangat tenang, dan tidak bergerak.Pasien senang berbicara dan menunjukkan postur tubuh yang aneh.Perilaku menjadi teragitasi dan menyerang, tampaknya dalam suatu cara yang tidak terprovokasi tetapi biasanya sebagai respon terhadap halusinasi.Pada katatonia, pasien tampaknya tanpa kehidupan sama sekali dan menunjukkan tanda seperti kebisuan, negativisme, dan kepatuhan otomatis. Kadang tampak fleksibilitas lilin.Penarikan diri dari lingkungan sosial yang jelas dan egosentrisitas, tidak adanya bicara / gerakan spontan, tidak adanya perilaku yang diarahkan tujuan.Gerakan tubuh yang aneh (tiks, stereotipik, manerisme, ekopraksia).Perasaan prekoks.Depresi (ciri psikosis).Irama perasaan lain seperti kebingungan, terror, perasaan terisolasi, ambivalensi.Penurunan responsivitas emosional dan emosi yang sangat aktif dan tidak sesuai, seperti penyerangan yang ekstrem, kegembiraan, dan kecemasan.Afek datar atau tumpul.Gangguan persepsi, seperti halusinasi (paling sering halusinasi dengar).Halusinasi kenestetik adalah sensasi perubahan keadaan organ tubuh yang tidak mempunyai dasar.Ilusi : penyimpangan dari citra atau sensasi yang sesungguhnya.Gangguan berpikir, meliputi gangguan isi pikiran, seperti waham (waham kejar, kebesaran, keagamaan, somatik), gangguan bentuk pikiran (inkoherensi, tangensialitas, sirkumstansialitas, neologisme, ekolalia, verbigerasi, kata yang campur aduk, mutisme), dan gangguan proses pikiran (flight of idea, hambatan pikiran, gangguan perhatian, kemiskinan isi pikiran,over-inclusion). Impulsivitas, bunuh diri, dan pembunuhanOrientasi terhadap orang, waktu, dan tempat baikB. Kriteria Diagnosis1. Kriteria Diagnostik Skizofreniaa. Gejala-gejala yang khas : 2 atau lebih dari gejala berikut yang bermakna dalam periode 1 bulan (atau kurang jika berhasil diterapi):Waham, halusinasi, pembicaraan yang janggal (mis.Sering derailment atau incohorensia), perilaku janggal atau katatonik, adanya gejala negatif (spt afek datar,alogia,abulia).Cat. : Hanya satu dari kriteria A yang diperlukan jika waham-nya janggal atau jika halusinasinya berupa suara yang terus menerus mengomentari tingkah laku atau pikiran yang bersangkutan atau berisi 2 (atau lebih) suara-suara yang saling bercakap-cakap.b. Disfungsi sosial atau pekerjaan: 1 atau lebih dari area fungsional utama menunjukkan penurunan nyata di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset dalam suatu rentang waktu yang bermakna sejak onset gangguan (atau bila onset pada masa anak-anak atau remaja terdapat kegagalan pencapaian tingkat interpersonal, akademik atau okupasi lainnya) seperti pekerjaan, hubungan interpersonal atau perawatan diri.c. Durasi: tanda-tanda gangguan terus berlanjut dan menetap sedikitnya 6 bulan. Periode 6 bulan ini meliputi 1 bulan gejala-gejala fase aktif yang memenuhi kriteria A (atau kurang bila berhasil diterapi) dan dapat juga mencakup fase prodromal atau residual. Selama berlangsung. fase prodormal atau residual ini, tanda-tanda gangguan dapat bermanifestasi hanya sebagai gejala-gejala negatif saja atau lebih dariatau=2 dari gejala-gejala dalam kriteria A dalam bentuk yang lebih ringan (seperti kepercayaan kepercayaan ganjil, pengalaman perseptual yang tidak biasa).d. Penyingkiran skizofektif dan gangguan mood: Gangguan skizoafektif dan mood dengan gambaran psikotik dikesampingkan karena : (1) tidak ada episode depresi, mania atau campuran keduanya yang terjadi bersamaan dengan gejala-gelala fase aktif, (2) jika episode mood terjadi intra fase aktif maka perlangsungannya relatif singkat dibanding periode fase aktif dan residual.e. Penyingkiran kondisi medis dan zat: Gangguan ini bukan disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (seperti obat-obatan medikasi atau yang disalah gunakan) atau oleh suatu kondisi medis umum.f. Hubungan dengan suatu gangguan perkembangan pervasif: Jika terdapat riwayat autistik atau gangguan pervasif lainnya maka tambahan diagnosa skizofernia hanya dibuat bila juga terdapat delusi atau halusinasi yang menonjol dalam waktu sedikitnya 1 bulan (atau kurang jika berhasil diterapi).Klasifikasi berdasarkan perjalanannya (longitudinal;hanya dipakai setelah minimal 1 tahun berlalu semenjak onset dari gejala-gejala fase aktif pertama): Episodik dengan gejala-gejala residual interepisode (episode ditandai dengan keadaan kekambuhan dari gejala-gejala psikosis) juga tentukan jika disertai gejala-gejala negatif yang menonjol. Episodik tanpa gejala-gejala residual interepisode. Kontinyu (gejala-gejala psikosis jelas ada sepanjang periode observasi) juga tentukan jika disertai gejala-gejala negatif yang menonjol. Episode tunggal dengan remisi parsial; juga tentukan jika disertai gejala-gejala negatif yang menonjol. Episode tunggal dengan remisi penuh Pola lainnya atau yang tidak ditentukan.

2. Tipe Skizoprenea. Tipe PARANOIDSuatu tipe skizofrenia yg memenuhi kriteria:1. Preokupasi dgn 1 ataulebih waham atau sering berhalusinasi auditorik.2.Gejala2 berikut tidak menonjol:pembicaraan atau perilaku yang janggal atau katatonik atau afek datar atau inappropriate.b. Tipe KACAU (DISORGANIZED)Suatu tipe skizofrenia yg memenuhi kriteria:1.Semua gejala berikut menonjol:pembicaraan yang janggal.perilaku yang janggal.afek datar atau inappropriate.2.Krite

Embed Size (px)
Recommended