Home >Business >Modul manajemen stress daniel doni

Modul manajemen stress daniel doni

Date post:03-Jul-2015
Category:
View:6,303 times
Download:2 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 1. Perilaku Keorganisasian Manajemen StresModul Stress Management Your andrenalines flowing, your senses are alive.. Sammy Fong Tujuan Pembelajaran Dengan memahami modul ini secara aktif, anda seharusnyamampu : 1. Memahami konsep teoritis maupun praktis mengenai manajemen stres 2. Memiliki wawasan untuk menghandle stres yang terjadi di organisasi anda. 3. Mengaplikasikan konsep dan wawasan tersebut dalam situasi praktis. 4. Mengenali kecenderungan diri anda berkaitan dengan stres dan manajemen stres.Pra ModulDont fall to me, please!prepared by : Daniel Doni Sundjojo- Program Magister Manajemen Universitas Airlangga 1

2. Perilaku Keorganisasian Manajemen Stres Pendahuluan Stres, cenderung dipandang negatif oleh masyarakat. Seringkali kata-kata stres dianalogikan kearah stres destruktif : stres karena putus dengankekasih, stres karena di PHK, stres menghadapi Boss yang otoriter, streskarena beban kerja yang tidak masuk akal, dan sebagainya. Padahal, stres,apabila dimanage dengan tepat, justru membantu kita untuk senantiasameningkatkan kompetensi ataupun performa kita. Dalam modul ini, akandibahas berbagai hal mengenai stres dalam organisasi dan bagaimana carauntuk memanage stres sehingga stres bisa dirasakan sebagai stres yangkonstruktif. Definisi Stres Mc Shane and Von Glinow (2003, 198) mendefinisikan stres sebagai : an adaptive response to a situation that is perceived as challenging orthreatening to the persons well being. Dalam definisi itu, stres lebihmengarah kepada reaksi seseorang terhadap kondisi ataupun situasi yang diaalami, dan bukan mengarah ke kondisi ataupun situasi itu sendiri. Merujukpada definisi tersebut, stres dipandang sebagai suatu proses adaptasiseseorang terhadap suatu situasi yang dianggap menantang atau prepared by : Daniel Doni Sundjojo- Program Magister Manajemen Universitas Airlangga 2 3. Perilaku Keorganisasian Manajemen Stres menghambatnya. Coba anda bayangkan, perasaan apa yang anda rasakanketika mendadak anda diminta untuk berlenggak lenggok bak model dihadapan orang banyak, padahal anda bukanlah seorang model. Apa yang andarasakan ketika anda bermain bungee jumping? Atau, apa yang mungkin andamasih mengingat sesaat sebelum anda memasuki ruang sidang tugas akhiryang menentukan hidup mati anda setelah mengenyam pendidikan di Strata 1dulu. Apa yang anda rasakan? Gugup? Gelisah? Menelan ludah berkali kali?Badan panas dingin? Well, itu adalah bagian dari proses stres tersebut.Namun, ketika anda sudah berhasil menguasai situasi tersebut, maka rasa ituakan hilang. Ketika anda berada dalam ruang sidang, dan anda berhasilmenjawab pertama dari dewan penguji, maka ada perasaan lega dalam dirianda, perasaan bahwa anda sudah dapat menguasai keadaaan. Itu berarti,anda sudah berhasil menguasai diri anda terhadap stres yang anda alami.Dengan adanya berbagai perasaan tersebut, yang sebenarnya merupakansuatu respons tubuh kita atas kejadian yang kita alami, maka Hans Selye,mendefinisikan stres sebagai : the nonspesific response of the body to anydemand made upon it. prepared by : Daniel Doni Sundjojo- Program Magister Manajemen Universitas Airlangga 3 4. Perilaku Keorganisasian Manajemen Stres General Adaption SystemOrang pertama yang mempublikasikan penelitian mengenai stres adalah Dr.Hans Selye. Selye menemukan bahwa seseorang memiliki respons yangkonsisten manakala dia menghadapi situasi yang dapat menyebabkan stres.Respons tersebut, oleh Selye, dinamakan General Adaption System, yangsecara otomatis membantu kita untuk beradaptasi dan mengatasi situasistres tersebut. Shani and Lau (2005, 3) mendefinisikan General AdaptionSystem sebagai : a defensive reaction to environtmental demand that isperceived as threatening. Ada 3 stage dalam General Adaption System, yaitu:1. Alarm reaction. Dalam tahap ini, adanya situasi yang dipersepsikan atau dirasakan menantang maupun menghambat, akan menyebabkan otak kita, secara otomatis mengirimkan pesan biologis terhadap bagian-bagian tubuh. Sehingga muncullah perasaan tegang, keringat dingin, meningkatnya detak jantung, tekanan darah, perasaan selalu ingin buang air dan berbagai macam respons lainnya. Dalam hal ini, kondisi fisik seseorang berada dalam tingkat yang lemah dan tidak produktif. Saat situasi ini, seringkali yang dapat dilakukan hanya diam prepared by : Daniel Doni Sundjojo- Program Magister Manajemen Universitas Airlangga 4 5. Perilaku Keorganisasian Manajemen Stresdan menenangkan pikiran, mencoba menguasai kondisi. Tahap ini, seringkali memakan korban jiwa, apabila seseorang mengalami shock yang berlebihan. Banyak kasus kematian akibat stres dilaporkan di Jepang, dan setelah diteliti, kebanyakan akibat shock yang berlebihan sehingga orang tersebut tidak dapat bernafas, gagal jantung atau tekanan darah terlalu tinggi. 2. Resistance. Setelah mengalami alarm reaction, dan mampu mengatasi keadaan, seseorang akan masuk tahap resistance. Dalam tahap ini, seseorang sudah mulai mampu menguasai keadaan, berpikir jernih untuk menghadapi sumber stres tersebut. Namun perlu diingat, dalam organisasi, seringkali seseorang berhadapan dengan multi sumber stres secara bertubi tubi, situasi inilah yang seringkali membuat orang rapuh terhadap stres di tempat kerja, di rumah tangga, ataupun dalam lingkungan sosial lain, sehingga melakukan perbuatan bodoh, seperti bunuh diri. 3. Exhaustion. Setiap orang, memiliki kapasitas yang berbeda-beda untuk menghadapi stresor. Sampai suatu saat, orang tersebut merasa tidak mampu untuk menghadapi situasi tersebut. Jika anda merasakan hal ini, maka anda sudah berada dalam tahap exhaustion, tahap yang sedapatprepared by : Daniel Doni Sundjojo- Program Magister Manajemen Universitas Airlangga 5 6. Perilaku Keorganisasian Manajemen Stresmungkin anda hindari. Sebaiknya, anda segera bangkit mengatasi stres sebelum masuk tahap ini. Ketika tahap resistance, sebenarnya orang dapat menguasai keadaan, bahkan mungkin dapat meningkatkan kinerjanya. Namun, dengan bertambahnya tekanan yang menyebabkan stres tersebut, bisa jadi orang mengalami tahap exhaustion ini (merujuk ke kurva U terbalik) Penyebab Stres (Stressor) Mc Shane and Von Glinow (2003, 200) mendefinisikan stressor sebagai: the cause of stress, including any environtmental conditions that place aphysical or emotional demand on the person. Stres, dapat timbul mulai darikehidupan pribadi tiap orang, misalnya hubungan kekerabatan, rumah tangga.Stres juga dapat timbul dari dalam diri seseorang, misalnya orang yangmemang secara personal memiliki kecenderungan rapuh sehingga mudah stres,sampai yang kompleks misalnya stres yang timbul dalam organisasi tempatseseorang bekerja. Karena modul ini menitikberatkan pada manajemen stresdalam organisasi tempat seseorang berkarya, maka pembahasan akandifokuskan mengenai penyebab work related stressor. Mc Shane and VonGlinow (2003, 200) membagi work related stressor menjadi 4 kategori yaitu :prepared by : Daniel Doni Sundjojo- Program Magister Manajemen Universitas Airlangga 6 7. Perilaku Keorganisasian Manajemen Stres1. Physical Environtmental Stressor, yaitu stressor yang berkaitan dengan kondisi fisik lingkungan kerja yang dirasakan kurang nyaman oleh anggota organisasi sehingga menimbulkan stres, misalnya kebisingan yang berlebihan, penerangan yang buruk di tempat kerja, bau yang tidak sedap, hingga design furniture maupun design ruang kerja. Dalam banyak kasus, seringkali hal ini membuat menurunnya kinerja karyawan. 2. Role-Related Stressor, yaitu stressor yang timbul berkaitan dengan peran seseorang dalam organisasi tersebut. Ada 4 macam role-related stresor yang sering terjadi dalam organisasi, yaitu : a. Role conflict, yaitu stressor yang berkaitan dengan konflik akibat peran yang diemban seseorang dalam organisasi. Adanya rangkap jabatan, seringkali membuat seseorang merasa stres. b. Role ambiguity, yaitu stressor yang berkaitan dengan ambiguitas peran yang harus dilakukan seseorang dalam organisasi. Ketidakjelasan job description, kewenangan, prepared by : Daniel Doni Sundjojo- Program Magister Manajemen Universitas Airlangga 7 8. Perilaku Keorganisasian Manajemen Stresataupun posisi seseorang dalam organisasi seringkali menyebabkan seseorang menjadi stres. c. Workload- Work underload, merupakan stressor yang paling sering ditemui dalam organisasi. Manakala seseorang diminta untuk menyelesaikan terlalu sedikit atau terlalu banyak pekerjaan, atau bisa saja terlalu mudah atau terlalu sulit bagi dirinya, hal itu akan menimbulkan stres bagi yang bersangkutan. d. Task control. Stressor ini juga termasuk sering terjadi dalam organisasi. Ketika seseorang tidak atau kurang memiliki kontrol serta wewenang atas pekerjaan yang harus mereka kerjakan, maka orang tersebut akan mengalami stres. Pengawasan yang berlebihan dari pimpinan terhadap apa dan bagaimana seseorang menyelesaikan tugasnya seringkali menimbulkan stres bagi orang tersebut. 3. Interpersonal stressor, yaitu stressor yang berkaitan hubungan interpersonal dalam organisasi. Adanya pelecehan seksual, ancaman, konsumen yang terlalu banyak komplain, kolega yangprepared by : Daniel Doni Sundjojo- Program Magister Manajemen Universitas Airlangga 8 9. Perilaku Keorganisasian Manajemen Strestidak kooperatif, ataupun pimpinan yang tidak obyektif, atau kebijakan yang tidak transparan seringkali menimbulkan stres bagi orang yang mengalami hal tersebut. 4. Organizational Stressor, yaitu stressor yang berhubungan dengan perkembangan organisasi. Adanya rencana perampingan organisasi, merger ataupun akusisisi, serta berbagai perubahan yang direncanakan akan dilakukan dalam organisasi seringkali menimbulkan stres bagi anggota organisasi tersebut. Akibat yang ditimbulkan oleh stresBeberapa akibat yang sering terjadi akibat stres adalah : 1. Physical Outcomes, yaitu akibat stres yang berimplikasi pada fisik seseorang. Seringkali stres yang tidak termanage dengan baik, akan membuat fisik seseorang menjadi lemah dan akhirnya sakit, bahkan berujung pada ke