Home >Documents >Model Pendidikan Abk

Model Pendidikan Abk

Date post:25-Nov-2015
Category:
View:84 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Transcript:

MENGENAL DAN MODEL PENDIDIKAN ABK 2013

BIMTEK

PENGAWAS PLB

MATERI PEMAHAMAN TENTANG ABK

DAN BERBAGAI MODEL LAYANAN PENDIDIKAN

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Penulis:

Dr. Haryanto, M. Pd.

Dr. Ibnu Syamsi, M. Pd.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH

DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PENDIDIKAN MENENGAH

2013I. MEMAHAMI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK)A. Pendahuluan

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) terdapat di semua bagian dunia dan pada semua tingkatan dalam setiap masyarakat. Menurut Bandi Delphi (2006). jumlah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di dunia ini senantiasa bertambah. Baik penyebab maupun akibat kekhususannya di dunia ini bervariasi Variasi tersebut diakibatkan oleh perbedaan keadaan sosial ekonomi dan sarana serta prasarana yang dapat disediakan oleh negara untuk kesejahteraan warganya. Undang-Undang Negara Republik Inonesia Nomor 4 Tahun 2007, kebijakan bagi Anak Berkebutuhan Khusus masa kini merupakan hasil perkembangan selama dua ratus tahun terakhir. Dalam banyak hal, keadaan ini mencerminkan kondisi kehidupan pada umumnya dan kebijaksanaan sosial ekonomi dari masa ke masa. Akan tetapi, dalam bidang ABK terdapat pula keadaan-keadaan khusus yang telah mempengaruhi kondisi kehidupan bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Kemasabodohan, kurangnya perhatian, takhayul serta rasa takut merupakan faktor-faktor sosial yang dalam sepanjang sejarah telah memencilkan para Anak Berkebutuhan Khusus dan menghambat perkem-bangannya. Selama tahun-tahun silam, kebijaksanaan berkembang dari perawatan dasar dilembaga-lembaga kependidikan bagi anak-anak yang menyandang kelainan atau berkebutuhan khusus sampai pada rehabilitasi bagi orang-orang yang mengalami kelainan pada masa dewasanya. Melalui pelayanan pendidikan, para ABK menjadi lebih aktif dan menjadi tenaga pendorong bagi pengembangan lebih lanjut kebijaksanaan dalam bidang kelainannya. Organisasi-organisasi bagi mereka yang berkebutuhan khusus serta lembaga swadaya masyarakat dalam bidang kekhususan terbentuk, yang menyuarakan himbauan-himbauan bagi terciptanya kondisi yang lebih baik bagi warga berkebutuhan khusus. Scot Danforth (2006) berpendapat, sesudah Perang Dunia Kedua, konsep tentang integrasi dan normalisasi mulai diperkenalkan, yang mencerminkan tumbuhnya kesadaran tentang kemampuan warga berkebutuhan khusus. Menjelang akhir tahun 1960-an, organisasi-organisasi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di beberapa negara mulai merumuskan suatu konsep baru tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Menurut Susan Etscheidt. (2006), konsep baru tersebut menunjukkan adanya hubungan yang erat antara keterbatasan yang dialami oleh para individu mereka yang berkebutuhan khusus, rancangan bangunan serta struktur lingkungannya dan sikap masyarakat pada umumnya. Mencermati rumusan dari Universal Declaratation of Human Right (1948); sejalan dengan deklerasi hak ABK, masalah-masalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di negara-negara berkembangpun makin muncul ke permukaan. Di beberapa negara berkembang persentase penduduk yang tergolong Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) atau berkelainan diperkirakan sangat tinggi, dan dikebanyakan negara berkembang tersebut warga Berkebutuhan Khusus berada jauh di bawah garis kemiskinan.

B. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Hallahan DP. (1998) berpendapat, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah sebutan untuk anak-anak yang berdasarkan hasil identifikasi dan asesmen, didiagnosis mengalami hambatan dalam pendidikan dan belajar karena faktor internal dan/atau eksternal pada anak, sehingga untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, mereka memerlukan layanan pendidikan khusus.Secara umum anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu anak yang memiliki kebutuhan khusus akibat kelainan permanen pada anak, dan anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer, yaitu mereka yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan yang disebabkan kondisi dan situasi lingkungan. Misalnya, anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri akibat kerusuhan dan bencana alam, atau tidak bisa membaca karena kekeliruan guru mengajar, anak yang mengalami kedwibahasaan (perbedaan bahasa di rumah dan di sekolah), anak yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan karena isolasi budaya dan karena kemiskinan dsb. Menurut Hallahan, DP. (1998) anak berkebutuhan khusus temporer, apabila tidak mendapatkan intervensi yang tepat dan sesuai dengan hambatan belajarnya bisa menjadi permanen. Setiap anak berkebutuhan khusus, baik yang bersifat permanen maupun yang temporer, memiliki hambatan belajar yang berbeda-beda, dan karenanya mereka memerlukan layanan yang berbeda untuk membantu mengatasi hambatannya. Hasil utama dari kegiatan identifikasi adalah mengklasifikasikan anak-anak berdasarkan jenis kelainan dan/atau hambatan belajar yang dialami untuk keperluan layanan pendidikan khusus yang sesuai bagi mereka. Klasifikasi anak dengan kebutuhan khusus sesuai PP No. 17 Tahun 2010 Pasal 129 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan; meliputi antara lain: tunanetra; tunarungu wicara; tunagrahita; tunadaksa; tunalaras; berkesulitan belajar; lamban belajar; autis; memiliki gangguan motorik; korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lain;Konsep anak berkebutuhan khusus memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan pengertian anak luar biasa. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan. Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing anak.

Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu: anak yang memiliki kebutuhan khusus yang bersifat permanen, yaitu akibat dari kelainan tertentu, dan anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer, yaitu mereka yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan yang disebabkan kondisi dan situasi lingkungan. Misalnya, anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri akibat kerusuhan dan bencana alam, atau tidak bisa membaca karena kekeliruan guru mengajar, anak yang diduga mengalami ke-dwibahasaan (perbedaan bahasa di rumah dan di sekolah), anak yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan karena isolasi budaya dan karena kemiskinan dsb. Anak berkebutuhan khusus temporer, apabila tidak mendapatkan intervensi yang tepat dan sesuai dengan hambatan belajarnya bisa menjadi permanen.Mencermati PP No. 17 Tahun 2010 Pasal 129 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Khusus bagi Peserta Didik Berkelainan; setiap anak berkebutuhan khusus, baik yang bersifat permanen maupun yang temporer, memiliki perkembangan hambatan belajar dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Hambatan belajar yang dialami oleh setiap anak, disebabkan oleh tiga hal, yaitu: (1) faktor lingkungan, (2) faktor dalam diri anak sendiri, dan (3) kombinasi antara faktor lingkungan dan faktor dalam diri anak.

Anak berkebutuhan khusus dapat dimaknai dengan anak-anak yang tergolong kelainan atau yang menyandang ketunaan, dan juga anak lantib dan berbakat (Mulyono, 2006). Dalam perkembangannya, saat ini konsep ketunaan berubah menjadi berkelainan (exception) atau luar biasa. Ketunaan berbeda dengan konsep berkelainan. Konsep ketunaan hanya berkenaan dengan dengan kecacatan sedangkan konsep berkelainan atau luar bisa mencakup anak yang menyandang ketunaan maupun yang dikaruniai keunggulan.Banyak istilah digunakan untuk mencoba mengkategorikan anak-anak dengan kebutuhan khusus, beberapa istilah yang dapat membantu guru mengumpulkan informasi yang merencanakan untuk masing-masing anak mencakup: dungu, gangguan fisik, lumpuh otak, gangguan emosional, ketidakmampuan mental, gangguan pende-ngaran, gangguan pengllihatan, ketidak mampuan belajar, autistuk, dan keterlambatan perkembangan.Anak dengan kebutuhan khusus (special needs children) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat (slow) atau mangalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya. Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability, impairment, dan handicap.

C. Hak-hak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Hak-hak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) telah lama menjadi pusat perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi-organisasi Internasional lainnya. Hasil yang paling penting dari Tahun ABK Internasional 1994 adalah Program Aksi Dunia mengenai para ABK yang telah ditetapkan oleh Sidang Umum PBB dalam resolusinya No. 37/52. Tahun ABK Internasional dan Program Aksi Dunia tersebut merupakan tenaga penggerak yang kuat untuk kemajuan layanan bagi warga berkebutuhan khusus (UNESCO & Ministry Of Education And Science, Spain, 1994). Kedua hal tersebut memberi peluang pada hak para ABK untuk memperoleh kesempatan yang sama seperti warga negara lainnya, serta hak untuk memperoleh bagian yang sama dalam perbaikan kondisi kehidupan sebagai hasil dari pembangunan sosial dan ekonomi. Pertemuan global para ahli untuk meninjau kembali pelaksanaan program aksi dunia mengenai warga berkebutuhan khusus pada pertengahan dekade perhatian PBB untuk Anak Berkebutuhan Khusus diselenggarakan di Stockholm pada tahun 1987. Pada pertemuan tersebut disarankan agar dikembangkan satu filsafat yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menentukan prioritas bagi aksi di tahun-tahun mendatang. Dasar filsafat tersebut seyogyanya berupa pengakuan atas hak-hak bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Sehubungan dengan hal tersebut, pertemuan itu merekomendasikan agar Sidang Umum PBB menyelenggarakan suatu konferensi khusus untuk merancang konvensi Internasional tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), yang haru

Embed Size (px)
Recommended