Home >Documents >Model Pembelajaran Latihan Laboratoris-untuk Karir

Model Pembelajaran Latihan Laboratoris-untuk Karir

Date post:24-Jul-2015
Category:
View:175 times
Download:6 times
Share this document with a friend
Transcript:

MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN LABORATORIS ( LABOORATORY TRAINING/ T-GROUP ) 1. Pengantar. Tahun 1947di Bethel, Maine, pelatihan laboratoris atau sering disebut T-Group muncul sebagai bentuk perhatian terhadap meningkatnya perubahan individu dan sosial dalam masyarakat modern dan untuk memperbarui dan meningkatkan metade yang memfasilitasi respon individu dan untuk mengontrol perubahan yang terjadi. Perubahan tersebut antara lain emosi, kepercayaan, norma, kebutuhan, kebiasaan, pola interaksi dan lain-lain. Perubahan didalam masyarakat menimbulkan permintaan personal/ individu dan sosial dan untuk menghindari kegagalan individu membutuhkan keintregasian aspek kognitif dan emosi sejalan dengan aspek personal dan sosial. Kemampuan untuk hidup dalam keambiguan (ketidak jelasan), perubahan, bekerja sama dan berdaya cipta sosial adalah kebutuhan dan keefektifan keanggotaan sosial. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah model pembelajaran yang menyediakan rehabilitasi individu dan rekon struksi sosial. 2. Rumusan masalah. Rumusan masalah dari kertas kerja berikut ini adalah sebagai berikut: 1. Pengenalan model pembelajaran latihan laboratoris; sintakmatik, sistem sosial, prinsip reaksi, dampak instruksional langsung ataupun penggiring. 2. Aplikasi model latihan laboratoris. 3. Analisis kritis terhadap penerapan latihan laboratoris 4. Kelebihan dan kekurangan model laboratoris. 3. Tujuan. 1. Mengenal model pembelajaran laboratoris. 2. Mengaplikasi model latihan laboratoris. 3. Menganalisis penerapan model latihan laboratoris. 4. Model Latihan Laboratoris. Model latihan laboratoris ini normalnya terdiri dari sepuluh sampai dua belas orang, menghabiskan waktu selama delapan sampai empat puluh jam bersama dalam sebuah pembelajaran kelompok tatap muka yang didalamnya individu individu satu sama lain mencari penyelesaian suatu masalah. Topik pembelajaran berasal dari pengalaman anggota kelompok dengan kata lain fokus pembicaraan berkisar pada pengalaman, sikap, kebiasaan, perasaan, persepsi dan reaksi anggota kelompok tersebut selama bersama. Model ini menghadirkan seorang pelatih/ guru yang berperan sebagai fasilitator, pengamat dan peserta. Didalam pelaksanaan model pembelajaran ini, mereka memberi kesempatan kepada peserta

untuk mengklarifikasi dan mengorientasi kembali nilai kehidupan sosial yang telah diwariskan. Mereka berperan pengembangan komunikasi, menawarkan bantuan kepada anggota kelompok untuk menemukan cara menggunakan pengalaman mereka untuk belajar. Peserta juga didorong untuk belajar banyak tentang kebiasaan, mereka sendiri, peserta lain dan kebiasaan kelompok dari observasi dan analisis pengalaman berkelanjutan dalam kelompok. Tujuan pembelajaran laboratoris bisa dilihat dari tiga dimensi, yaitu: 1. Content atau isi. Dimensi content atau isi terbagi menjadi empat area yaitu: 1.1 Intrapersonal : Bertujuan untuk mencapai wawasan diri atau untuk meningkatkan pengetahuan diri juga mencakup identifikasi tekanan, emosional dan lain-lain. 1.2 Interpersonal : adalah dimensi isi yang terfokus pada dinamika hubungan antar anggota Kelompok. Pengaruh hubungan umpan balik, resolusi konflik, memberi dan menerima bantuan. 1.3 Dinamika kelompok : kelompok sebagai media, bagian dari kumpulan individu yang memiliki kualitas uniknya sendiri. Kualitas unik mencakup norma/ standar nilai, peran, kekuatan dan struktur sosial dan pola interaksinya. 1.4 Arahan diri : menekankan pada perubahan dari kognitif ke perilaku. Ini mengembangkan diagnosa untuk meningkatkan kompetensi antar individu dan orgamisasi, akurasi, penafsiran, konswekwensi perilaku dalam hubungannya dengan yang lain. 2. Tingkat pembelajaran Setiap tujuan bisa dicapai pada beberapa tingkatan. Schein and Bennis ( Joice & Well 1996 ) membedakantingkatan pembelajaran menjadi tiga: kesadaran, merubah sikap dan perilaku baru. Individu dapat meningkatkan kesadaran terhadap perasaan mereka sendiri dan orang lain; kekomplekan komunikasi, perbedaan kebutuhan anggota, tujuan dan cara manajemen pertikaian, ketegangan, integrasi

pendekatan masalah, pengaruh mereka pada orang lain, konsekwensi tindakan atau perilaku meningkatkan kesadaran yang pada akhrnya menghasilkan perubahan sikap terhadap diri, orang lain dan kelompok sehingga akan menghasilkan perilaku baru, dalam bentuk diagnosis mendalam dan kompetewnsi keterampilan sosial. Semangat untuk meneliti atau melakukan proses inquiry sangat penting dalam keseluruhan proses pencapaian tujuan dalam model ini ( Udin S. Winataputra 2001 ).

3. Target utama pembelajaran. Target utama pembelajaran ini adalah individu dan organisasi atau masyarakat yang saling berhubungan. Model laboratoris ini lebih menekankan aspek sosial yang relevan terhadap perilaku target utama pembelajarannya. Ada tiga elemen dasar model latihan laboratoris ini, yaitui: ( Udin S.Winataputra 2001 ). 1. Situasi yang kurang bertujuan, kurang terpimpin dan kurang tersusun acaranya. Disini kekaburan menimbulkan ketegangan dan memungkinkan peserta memberikan respon terhadap keadaan tersebut yang pada akhirnya dilakukan pengarahan. 2. Orientasi terhadap peertumbuhan dan perkembangan 3. Data yang mnejadi bahan analisis adalah pengalaman umpan balik yang diperoleh pada saat mereka belajar bersama. 4. Sintakmatik. Model ini tidak memiliki tahapan kegiatan yang ketat. Tahapan kegiatan yang dikembangkan bervariasi sesuai dengan rancangan pertemuan laboratoris sendiri. Biasanya struktur T-Group merupakan struktur yang utama. Struktur T-Group ini meliputi dua tahap utama dengan tahapan yang lebih kecil untuk masing masing tahap utama, seperti berikut : I. Tahap Ketergantungan : Hubungan dengan kekuasaan issue pokok. 1. Ketergantungan (kebutuhan akan adanya pranata dan pemimpin). 2. Kontra Ketergantungan (menghindarkan diri dari pimpinan, munculnya dua kelompok yang bervbeda keinginan). 3. Pemecahan Masalah (munculnya: keinginan untuk memanfaatkan waktu lebih baik; penghargaan terhadap pelatih; pengenalan terhadap macam-macam sikap; rasa percaya dan kerja sama). II. Saling Ketergantungan : Peduli terhadap orang lain dan kerja sama dalam memecahkan masalah umum. 4. Pemikatan (solidaritas kelompok, perasaan positif) 5. Pemencaran (kepedulian terhadap perbedaan, dan keterlibatan lebih banyak, serta rasa takut diserang) 6. Validasi Kesepakatan (penyiapan untuk mengakhiri kelompok, evaluasi keterlibatan, sadar akan tanggapan terhadap orang lain). 5. Sistem sosial. Setelah pengajar membangun situasi yang membingungkan, pengajar sebagai pelatih menjelaskan bahwa ia tidak akan berfungsi sebagai pemimpin tapi sebagai anggota

kelompok. Disini, struktur tidaklah nampak, dan kelompok harus bertanggung jawab untuk mengarahkan pertumbuhannya sendiri. Memang iklim belajar dalam T-Group ini merupakan situasi yang sangat mendukung dan menciptakan proses belajar yang bersifat kerjasama, namun masih tetap dalam batas yang dapat ditolerani. 6. Prinsip Reaksi Pelatih dalam hal ini pengajar memegang berbagai peranan dalam T-Group ini, yakni sebagai : pengamat yang terlibat, anggota kelompok, pemberi contoh, dan sebagai mediator atau perantara. Didalam melakukan moderasi ini kelompok akan sangat tergantung pada model perilaku kelompok yang baik seperti: terbuka, jujur, terarah, bersemangat belajar yang tinggi, mau dan mampu memberi dan menerima umpan balik, dan bersifat mendukung. 7. Sistim pendukung. Sarana pendukung yang diperlukan dan palingutama ialah pengajar/ pelatih yang berpengalaman dalam model ini. Model ini dapat dilaksanakan dalam situasi kelembagaan, situasi kelas, dan situasi yang diintegrasikan dengan kehidupanm sehari-hari.

8.

Dampak instruksional dan pengiring. Model ini memiliki dampak instruksional dan pengiring seperti dilukiskan dalam gambar berikut:

Model Latihan Laboratoris Kemampuan mengatasi perubahan - perubahan Wawasan terhadap perilaku interpersonal

Kemampuan dalam bersepakat dan ekspresi diri Toleransi terhadap kebinekaan

Penerimaan atas hakikat efektif dari respon manusia

Dampak pengiring ss

Model latihan laboratoris ini dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut: KEGIATAN PENGAJAR Rasa tergantung * Beri stimulus suatu isu Dorongan mandiri * Ajukan pertanyaan Pemicu Pendapat yang Bertolak Belakang Pemecahan masalah * Ciptakan situasi Pemecahan masalah *Diskusikan pemecahan Kontradiksi tersebut *Kenali adanya kontradiksi *Beri respon kebutuhan LANGKAH POKOK KEGIATAN MAHASISWA

.. Rasa terlibat * Ajukan pertanyaan Pemicu kebersamaan *Rasakan

rlibatan

Rasa peduli * Ciptakan situasi yang Mengundang kepedulian

*Tunjukkan kepedulian terhadap orang

Validasi * Minta untuk menilai Diri masing-masing

*Lakukan penilaian diri (Adaptasi, Udin,1994)

5.

Aplikasi Model.

Model latihan laboratoris adalah rancangan yang didisain untuk meningkatkan kemampuan diri, hubhungan interpersonal. Apliokasi model ini didalamkelas dapat meningkatkan fleksibel dan kemampuan siswa/ peseerta pembelajaran untuk berubah sesuai dengan tujuan pembelajaran.

6. Analisis Kritis. Tujuan latihan laboratoris adalah tidaK hanya mengembangkan kemampuan intelaktualnya tetapi perubahan yang lebih terintegrasi dan terkoneksi secara adaptif terhadap nilai, konsep, perasaan, persepsi, strategi dan keterampilan Pembelajaran bukan hanya penyebaran informasi dan mendapatkannya kembali; ini adalah masalah hubungan manusia dimana guru/ pelatih dan siswa/ peserta mengeksplorasi dan mendiagnosis kebutuhan dan daya tahan terhadap pembelajaran dan perubahan. Sebagai tambahan pembelajaran dapat memperoleh keterampilan dari paretisipasi proses sosial. Latihan laboratoris menempatkan nilai diatas keterbukaan dan keautentikan komunikasi, melalui pelatihan interpersonal. Model laboratoris ini mereformasi sosial

7.

Kelebihan dan Kelemahan model latihan laboratoris. Kelebihan :

1. Meningkatkan pemahaman terhadap dinamika kelompok 2. Meningkatkan pemahaman proses ssial dengan berinteraksi didalam kelompok. 3. Meningkatkan keterampilan interpersonal. 4. Meningkatkan kemampuan menerima umpan balik. Kelemahan: 1. Membutuhkan waktu pembelajaran yang lebih l;ama. 2. Membutuhkan guru atau pembimbing yang berpengalaman. 3. Adanya dominasi individu dalam kelompok. 4. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.

8. Kesimpulan. Tujuan pembelajaran laboratoris bisa dilihat dari tiga dimensi yaitu: intrapersonal, interpersonal, dinamika kelompok dan arahan diri. Model pembelajaran ini memiliki tiga tingkatan yaitu: kesadaran merubah sikap dan perilaku baru. Dan model juga menekankan pada proses pembelajaran bukan hanya pada aspek kognitif peserta. Peran guru/ pelatih bukan sebagai pemimpin melainkan sebagai fasilitator pengamat, dan peserta.

9. Saran. 1. Guru dapat mengatur dinamika kelompok agar tercipta pembelajaran yang efektif. 2. Guru harus memiliki wawasan yang luas dengan mengikuti perkembangan informasi dari berbagai sumber. 3. Peserta diharapkan berperan aktif, memberi dan menerima pendapat/ bantuan dan bersikap terbuka terhadap perubahan serta menilai dan mengkritisi isu yang disampaikan.

Daftar rujukan : Joice,B dan Wei,M, 1972. Models of Teaching.New Jersey; Prentice-Hal. Inc. Winataputra,U.S.2001. Modewl-model Pembelajaran Inovatif, Jakarta; Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional.

Lampiran : Aplikasi model latihan laboratoris RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Mata Pelajaran Kelas/ Semester Alokasi waktu : Pengetahuan Sosial : VI/ II : 1 x 35 menit

petensi

: Kemampuan menganalisis bentuk bentuk perilaku yang muncul sebagai dampak globalisasi : Menjelaskan terjadinya globalisasi dalam kehidupan masyarakat. Menyebutkan perubahan perilaku masyarakat setempat sebagai dampak globalisasi.

I. II. III. IV.

Tujuan Pembelajaran. Siswa menganalisis bentuk bentuk perilaku akibat dari globalisasi Siswa dapat menyebutkan perubahan perubahan perilaku akibat dari globalisasi. Materi ajar Dampak globalisasi Model Pembelajaran Latihan laboratories Metode Pembelajarn Diskusi/ inquiri Langkah Pembelajaran.

V.

Kegiatan awal Mengecek kehadiran siswa. Mengkondisikan kelas Menjelaskan tujuan pembelajaran Pretest Apersepsi dengan bertanya jawab tentang peristiwa di Negara lain dapat kita saksikan dengan cara bagaimana? Kegiatan inti Guru menampilkan suatu kasus tentang globalisasi Siswa memberi respon tentang kasus yang diajukan oleh guru Guru mengajukan pertanyaan untuk memancing siswa mengeluarkan pendapat yang bertolak belakang Guru mengajukan pertanyaan agar semua siswa ikut terlibat dalam diskusi Siswa menunjukkan situasi yang peduli kepada orang lain Siswa diminta untuk menilai diri sendiri Kegiatan Penutup Siswa diminta merumuskan kesimpulan yang berkaitan dengan Pembelajaran Guru meluruskan kesimpulan yang telah dirumuskan oleh siswa Post test Alat dan sumber pembelajaran Sumber: Buku paket yang sesuai Modul Koran dan majalah

Bahan Koran dan majalah CD Film Alat Laptop LCD

VI. a.

Hasil Penilaian Teknik : tertulis

b. Bentuk instrument : Essay c. Instrumen : Bagaimana bentuk perubahan perilaku akibat dampak globalisasi ?

Mengetahui, Kepala Sekolah

Jambi,......................... Guru Kelas

NIP

NIP

MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN LABORATORIS ( LABOORATORY TRAINING/ T-GROUP ) 1. Pengantar. Tahun 1947di Bethel, Maine, pelatihan laboratoris atau sering disebut T-Group muncul sebagai bentuk perhatian terhadap meningkatnya perubahan individu dan sosial dalam masyarakat modern dan untuk memperbarui dan meningkatkan metade yang memfasilitasi respon individu dan untuk mengontrol perubahan yang terjadi. Perubahan tersebut antara lain emosi, kepercayaan, norma, kebutuhan, kebiasaan, pola interaksi dan lain-lain. Perubahan didalam masyarakat menimbulkan permintaan personal/ individu dan sosial dan untuk menghindari kegagalan individu membutuhkan keintregasian aspek kognitif dan emosi sejalan dengan aspek personal dan sosial. Kemampuan untuk hidup dalam keambiguan (ketidak jelasan), perubahan, bekerja sama dan berdaya cipta sosial adalah kebutuhan dan keefektifan keanggotaan sosial. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah model pembelajaran yang menyediakan rehabilitasi individu dan rekon struksi sosial. 2. Rumusan masalah. Rumusan masalah dari kertas kerja berikut ini adalah sebagai berikut: 1. Pengenalan model pembelajaran latihan laboratoris; sintakmatik, sistem sosial, prinsip reaksi, dampak instruksional langsung ataupun penggiring.

2. Aplikasi model latihan laboratoris. 3. Analisis kritis terhadap penerapan latihan laboratoris 4. Kelebihan dan kekurangan model laboratoris. 3. Tujuan. 1. Mengenal model pembelajaran laboratoris. 2. Mengaplikasi model latihan laboratoris. 3. Menganalisis penerapan model latihan laboratoris. 4. Model Latihan Laboratoris. Model latihan laboratoris ini normalnya terdiri dari sepuluh sampai dua belas orang, menghabiskan waktu selama delapan sampai empat puluh jam bersama dalam sebuah pembelajaran kelompok tatap muka yang didalamnya individu individu satu sama lain mencari penyelesaian suatu masalah. Topik pembelajaran berasal dari pengalaman anggota kelompok dengan kata lain fokus pembicaraan berkisar pada pengalaman, sikap, kebiasaan, perasaan, persepsi dan reaksi anggota kelompok tersebut selama bersama. Model ini menghadirkan seorang pelatih/ guru yang berperan sebagai fasilitator, pengamat dan peserta. Didalam pelaksanaan model pembelajaran ini, mereka memberi kesempatan kepada peserta untuk mengklarifikasi dan mengorientasi kembali nilai kehidupan sosial yang telah diwariskan. Mereka berperan pengembangan komunikasi, menawarkan bantuan kepada anggota kelompok untuk menemukan cara menggunakan pengalaman mereka untuk belajar. Peserta juga didorong untuk belajar banyak tentang kebiasaan, mereka sendiri, peserta lain dan kebiasaan kelompok dari observasi dan analisis pengalaman berkelanjutan dalam kelompok. Tujuan pembelajaran laboratoris bisa dilihat dari tiga dimensi, yaitu: 1. Content atau isi. Dimensi content atau isi terbagi menjadi empat area yaitu: 1.1 Intrapersonal : Bertujuan untuk mencapai wawasan diri atau untuk meningkatkan pengetahuan diri juga mencakup identifikasi tekanan, emosional dan lain-lain. 1.2 Interpersonal : adalah dimensi isi yang terfokus pada dinamika hubungan antar anggota Kelompok. Pengaruh hubungan umpan balik, resolusi konflik, memberi dan menerima bantuan. 1.3 Dinamika kelompok : kelompok sebagai media, bagian dari kumpulan individu yang memiliki manajemen pertikaian, ketegangan, integrasi

kualitas uniknya sendiri. Kualitas unik mencakup norma/ standar nilai, peran, kekuatan dan struktur sosial dan pola interaksinya. 1.4 Arahan diri : menekankan pada perubahan dari kognitif ke perilaku. Ini mengembangkan diagnosa untuk meningkatkan kompetensi antar individu dan orgamisasi, akurasi, penafsiran, konswekwensi perilaku dalam hubungannya dengan yang lain. 2. Tingkat pembelajaran Setiap tujuan bisa dicapai pada beberapa tingkatan. Schein and Bennis ( Joice & Well 1996 ) membedakantingkatan pembelajaran menjadi tiga: kesadaran, merubah sikap dan perilaku baru. Individu dapat meningkatkan kesadaran terhadap perasaan mereka sendiri dan orang lain; kekomplekan komunikasi, perbedaan kebutuhan anggota, tujuan dan cara

pendekatan masalah, pengaruh mereka pada orang lain, konsekwensi tindakan atau perilaku meningkatkan kesadaran yang pada akhrnya menghasilkan perubahan sikap terhadap diri, orang lain dan kelompok sehingga akan menghasilkan perilaku baru, dalam bentuk diagnosis mendalam dan kompetewnsi keterampilan sosial. Semangat untuk meneliti atau melakukan proses inquiry sangat penting dalam keseluruhan proses pencapaian tujuan dalam model ini ( Udin S. Winataputra 2001 ). 3. Target utama pembelajaran. Target utama pembelajaran ini adalah individu dan organisasi atau masyarakat yang saling berhubungan. Model laboratoris ini lebih menekankan aspek sosial yang relevan terhadap perilaku target utama pembelajarannya. Ada tiga elemen dasar model latihan laboratoris ini, yaitui: ( Udin S.Winataputra 2001 ). 1. Situasi yang kurang bertujuan, kurang terpimpin dan kurang tersusun acaranya. Disini kekaburan menimbulkan ketegangan dan memungkinkan peserta memberikan respon terhadap keadaan tersebut yang pada akhirnya dilakukan pengarahan. 2. Orientasi terhadap peertumbuhan dan perkembangan 3. Data yang mnejadi bahan analisis adalah pengalaman umpan balik yang diperoleh pada saat mereka belajar bersama. 4. Sintakmatik. Model ini tidak memiliki tahapan kegiatan yang ketat. Tahapan kegiatan yang dikembangkan bervariasi sesuai dengan rancangan pertemuan laboratoris sendiri. Biasanya struktur T-Group merupakan struktur yang utama. Struktur T-Group ini meliputi dua tahap utama dengan tahapan yang lebih kecil untuk masing masing tahap utama, seperti berikut : I. Tahap Ketergantungan : Hubungan dengan kekuasaan issue pokok.

1. Ketergantungan (kebutuhan akan adanya pranata dan pemimpin). 2. Kontra Ketergantungan (menghindarkan diri dari pimpinan, munculnya dua kelompok yang bervbeda keinginan). 3. Pemecahan Masalah (munculnya: keinginan untuk memanfaatkan waktu lebih baik; penghargaan terhadap pelatih; pengenalan terhadap macam-macam sikap; rasa percaya dan kerja sama). II. Saling Ketergantungan : Peduli terhadap orang lain dan kerja sama dalam memecahkan masalah umum. 4. Pemikatan (solidaritas kelompok, perasaan positif) 5. Pemencaran (kepedulian terhadap perbedaan, dan keterlibatan lebih banyak, serta rasa takut diserang) 6. Validasi Kesepakatan (penyiapan untuk mengakhiri kelompok, evaluasi keterlibatan, sadar akan tanggapan terhadap orang lain). 5. Sistem sosial. Setelah pengajar membangun situasi yang membingungkan, pengajar sebagai pelatih menjelaskan bahwa ia tidak akan berfungsi sebagai pemimpin tapi sebagai anggota kelompok. Disini, struktur tidaklah nampak, dan kelompok harus bertanggung jawab untuk mengarahkan pertumbuhannya sendiri. Memang iklim belajar dalam T-Group ini merupakan situasi yang sangat mendukung dan menciptakan proses belajar yang bersifat kerjasama, namun masih tetap dalam batas yang dapat ditolerani. 6. Prinsip Reaksi Pelatih dalam hal ini pengajar memegang berbagai peranan dalam T-Group ini, yakni sebagai : pengamat yang terlibat, anggota kelompok, pemberi contoh, dan sebagai mediator atau perantara. Didalam melakukan moderasi ini kelompok akan sangat tergantung pada model perilaku kelompok yang baik seperti: terbuka, jujur, terarah, bersemangat belajar yang tinggi, mau dan mampu memberi dan menerima umpan balik, dan bersifat mendukung. 7. Sistim pendukung. Sarana pendukung yang diperlukan dan palingutama ialah pengajar/ pelatih yang berpengalaman dalam model ini. Model ini dapat dilaksanakan dalam situasi kelembagaan, situasi kelas, dan situasi yang diintegrasikan dengan kehidupanm sehari-hari.

8.

Dampak instruksional dan pengiring.

Model ini memiliki dampak instruksional dan pengiring seperti dilukiskan dalam gambar berikut:

Model Latihan Laboratoris Kemampuan mengatasi perubahan - perubahan Wawasan terhadap perilaku interpersonal

Kemampuan dalam bersepakat dan ekspresi diri Toleransi terhadap kebinekaan

Penerimaan atas hakikat efektif dari respon manusia

Dampak pengiring ss

Model latihan laboratoris ini dapat diadaptasi dalam bentuk kerangka operasional sebagai berikut: KEGIATAN PENGAJAR Rasa tergantung * Beri stimulus suatu isu Dorongan mandiri *Beri respon kebutuhan LANGKAH POKOK KEGIATAN MAHASISWA

* Ajukan pertanyaan Pemicu Pendapat yang Bertolak Belakang Pemecahan masalah * Ciptakan situasi Pemecahan masalah

*Kenali adanya kontradiksi

*Diskusikan pemecahan Kontradiksi tersebut

.. Rasa terlibat * Ajukan pertanyaan Pemicu kebersamaan *Rasakan

rlibatan

Rasa peduli * Ciptakan situasi yang Mengundang kepedulian

*Tunjukkan kepedulian terhadap orang

Validasi * Minta untuk menilai Diri masing-masing

*Lakukan penilaian diri (Adaptasi, Udin,1994)

5.

Aplikasi Model. Model latihan laboratoris adalah rancangan yang didisain untuk meningkatkan kemampuan diri, hubhungan interpersonal. Apliokasi model ini didalamkelas dapat meningkatkan fleksibel dan kemampuan siswa/ peseerta pembelajaran untuk berubah sesuai dengan tujuan pembelajaran.

6. Analisis Kritis. Tujuan latihan laboratoris adalah tidaK hanya mengembangkan kemampuan intelaktualnya tetapi perubahan yang lebih terintegrasi dan terkoneksi secara adaptif terhadap nilai, konsep, perasaan, persepsi, strategi dan keterampilan Pembelajaran bukan hanya penyebaran informasi dan mendapatkannya kembali; ini adalah masalah hubungan manusia dimana guru/ pelatih dan siswa/ peserta mengeksplorasi dan mendiagnosis kebutuhan dan daya tahan terhadap pembelajaran dan perubahan. Sebagai tambahan pembelajaran dapat memperoleh keterampilan dari paretisipasi proses sosial. Latihan laboratoris menempatkan nilai diatas keterbukaan dan keautentikan komunikasi, melalui pelatihan interpersonal. Model laboratoris ini mereformasi sosial

7.

Kelebihan dan Kelemahan model latihan laboratoris. Kelebihan :

1. Meningkatkan pemahaman terhadap dinamika kelompok 2. Meningkatkan pemahaman proses ssial dengan berinteraksi didalam kelompok. 3. Meningkatkan keterampilan interpersonal. 4. Meningkatkan kemampuan menerima umpan balik. Kelemahan: 1. Membutuhkan waktu pembelajaran yang lebih l;ama. 2. Membutuhkan guru atau pembimbing yang berpengalaman. 3. Adanya dominasi individu dalam kelompok. 4. Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.

8. Kesimpulan. Tujuan pembelajaran laboratoris bisa dilihat dari tiga dimensi yaitu: intrapersonal, interpersonal, dinamika kelompok dan arahan diri. Model pembelajaran ini memiliki tiga tingkatan yaitu: kesadaran merubah sikap dan perilaku baru. Dan model juga menekankan pada proses pembelajaran bukan hanya pada aspek kognitif peserta. Peran guru/ pelatih bukan sebagai pemimpin melainkan sebagai fasilitator pengamat, dan peserta. 9. Saran. 1. Guru dapat mengatur dinamika kelompok agar tercipta pembelajaran yang efektif. 2. Guru harus memiliki wawasan yang luas dengan mengikuti perkembangan informasi dari berbagai sumber. 3. Peserta diharapkan berperan aktif, memberi dan menerima pendapat/ bantuan dan bersikap terbuka terhadap perubahan serta menilai dan mengkritisi isu yang disampaikan.

Daftar rujukan : Joice,B dan Wei,M, 1972. Models of Teaching.New Jersey; Prentice-Hal. Inc. Winataputra,U.S.2001. Modewl-model Pembelajaran Inovatif, Jakarta; Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional.

Lampiran : Aplikasi model latihan laboratoris RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Mata Pelajaran Kelas/ Semester : Pengetahuan Sosial : VI/ II

Alokasi waktu

: 1 x 35 menit

petensi

: Kemampuan menganalisis bentuk bentuk perilaku yang muncul sebagai dampak globalisasi : Menjelaskan terjadinya globalisasi dalam kehidupan masyarakat. Menyebutkan perubahan perilaku masyarakat setempat sebagai dampak globalisasi.

I. II. III. IV.

Tujuan Pembelajaran. Siswa menganalisis bentuk bentuk perilaku akibat dari globalisasi Siswa dapat menyebutkan perubahan perubahan perilaku akibat dari globalisasi. Materi ajar Dampak globalisasi Model Pembelajaran Latihan laboratories Metode Pembelajarn Diskusi/ inquiri Langkah Pembelajaran. Kegiatan awal Mengecek kehadiran siswa. Mengkondisikan kelas Menjelaskan tujuan pembelajaran Pretest Apersepsi dengan bertanya jawab tentang peristiwa di Negara lain dapat kita saksikan dengan cara bagaimana? Kegiatan inti Guru menampilkan suatu kasus tentang globalisasi Siswa memberi respon tentang kasus yang diajukan oleh guru Guru mengajukan pertanyaan untuk memancing siswa mengeluarkan pendapat yang bertolak belakang Guru mengajukan pertanyaan agar semua siswa ikut terlibat dalam diskusi Siswa menunjukkan situasi yang peduli kepada orang lain Siswa diminta untuk menilai diri sendiri

V.

Kegiatan Penutup Siswa diminta merumuskan kesimpulan yang berkaitan dengan Pembelajaran Guru meluruskan kesimpulan yang telah dirumuskan oleh siswa Post test Alat dan sumber pembelajaran Sumber: Buku paket yang sesuai Modul Koran dan majalah

VI. a.

Bahan Koran dan majalah CD Film Alat Laptop LCD Hasil Penilaian Teknik : tertulis

b. Bentuk instrument : Essay c. Instrumen : Bagaimana bentuk perubahan perilaku akibat dampak globalisasi ?

Mengetahui, Kepala Sekolah

Jambi,......................... Guru Kelas

NIP

NIP

STRATEGI KOMUNIKASI PENGEMBANGAN ORGANISASISTRATEGI KOMUNIKASI PENGEMBANGAN ORGANISASI (Studi Empirik di Pesantren Hidayatullah) Oleh : Mashud, S.Sos.I., M.Si Dosen Tetap STAI Luqman Al Hakim Surabaya ABSTRAK The development of Hidayatullah Islamic boarding institutions as one of religius social organization in Indonesia gets special attention from former religius organizations. This attention is reasonable, because in no longer time Hidayatullah has spreaded all over Indonesia / Nusantara. This phenomenon is interesting to study in the perspective of communication science : what is the communication concept and strategy of organization development of Hidayatullah ? Based on the problem, this reseach is aimed to study and find the communication concept and strategy of development which is applied by Hidayatullah. This reseach uses qualitatif-phenomenology approach, and to collect data is used interview, partisipation observation, and documentation. The reseach subject is the general leader of Hidayatullah, the central board (DPP) of Hidayatullah, and the pioneers of Hidayatullah. The result of reseach shows that there are some proponent / supporting factors in the communication concept and strategy of organization developiment which is applied by Hidayatullah,its like to (1) becoming the values and concept of religion as guidance to rule all organization activities, (2) using command management approach imamah jamaah as communication strategy of organization development. Key word : strategi, strategi komunikasi, komunikasi organisasi, pengembangan organisasi

A. Pendahuluan Keberadaan suatu organisasi tidak lepas dari adanya suatu ide atau gagasan dari seseorang atau sekelompok orang yang memiliki tujuan dan cita-cita yang sama. Dalam realita sosial pola kehidupan masyarakat senantiasa dilingkupi oleh bentuk interaksi yang beraneka ragam sesuai dengan situasi, kondisi, budaya, keyakinan dan adat istiadat dimana masyarakat itu berada. Pola interaksi sosial yang terjadi antar individu kemudian menjadi suatu kelompok dalam masyarakat akan melahirkan suatu perkumpulan atau organisasi sosial yang disepakati bersama. Blau dan Scot (1962) menjelaskan istilah organisasi sosial merujuk pada pola-pola interaksi sosial meliputi ; frekuensi dan lamanya kontak antara orang-orang, kecendrungan mengawali kontak, arah pengaruh antara orang-orang, derajat kerja sama, perasaan tertarik, hormat dan permusuhan dan perbedaan status ; dan regularitas yang teramati dan prilaku sosial orangorang yang disebabkan oleh situasi sosial mereka alih-alih oleh karakteristik fisiologis dan psikologis mereka sebagai individu1. Adanya pola atau regularitas dalam interaksi sosial mengisyaratkan bahwa terdapat hubungan antara orang-orang yang mentransformasikan

mereka dari suatu kumpulan individu menjadi kelompok orang atau dari sejumlah kelompok menjadi suatu sistem sosial yang lebih besar2. Lahirnya suatu organisasi sosial pada umumnya selalu bermula dari adanya hubungan pola interaksi seperti yang dijelaskan Blau dan Scot di atas. Demikian halnya dengan organisasi sosial yang dilandasi oleh suatu keyakinan atau agama, keberadaannya merupakan wujud dari prilaku sosial yang dilandasi pada nilai-nilai religi dan menjadi budaya interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai agama yang ada dalam setiap individu -kemudian menjadi kelompok atau suatu perkumpulan- dijadikan sebagai rujukan dalam melakukan interaksi sosial. Pola interaksi sosial yang didasari atas nilai-nilai keagamaan dan keyakinan yang dimiliki dikenal dengan istilah organisasi sosial keagamaan. Pesantren Hidayatullah sebagai suatu organisasi sosial keagamaan yang kampus induknya berada di Balikpapan Kalimantan Timur merupakan organisasi yang lahir dari adanya pola interaksi sosial yang dilandasi oleh nilai-nilai religi yang dimiliki oleh setiap individu. Dengan modal nilai-nilai religi inilah kemudian pesantren Hidayatullah sebagai organisasi sosial keagamaan lahir dan diakui masyarakat sebagai organisasi yang memiliki ciri khas tersendiri. Spesifikasi (kekhasan) pesantren ini terutama terletak pada konsistensinya yang kuat sebagai organisasi pondok pesantren pencetak kader dakwah yang didasarkan pada filosofi perjalanan perjuangan Rasulullah dengan manhaj (metode) sistematika nuzulnya wahyu. Ide dan metode pembinaan ini merupakan kontinuitas dan pengembangan dari gagasan besar almarhum Ust. Abdullah Said selaku perintis dan pendiri pondok pesantren Hidayatullah3. Gagasan besar yang dimiliki Ust. Abdullah Said merupakan suatu ideologi yang lahir dari kajian mendalam beliau terhadap nilai-nilai ajaran Islam. Dalam kajian organisasi dikenal istilah indoktrinasi sasaran, yaitu informasi tentang ideologi untuk mengembangkan rasa misi. Maksudnya, misi organisasi haruslah dikomunikasikan kepada para anggota agar mereka dapat mengenal sasaran-sasaran organisasi. Sebagai kelanjutan dari rasional pekerjaan, informasi ideologi ini memungkinkan para anggota organisasi dapat memahami gambaran besar organisasi sehingga dapat bekerja lebih efektif. Mereka dapat mengembangkan rasa ikut memiliki organisasi (sense of belanzing to the organization)4. Dengan modal ideologi ini, Ust. Abdullah Said kemudian melakukan pembinaan secara personal (Interpersonal Communication) ke beberapa rekan beliau secara intens, dari hasil pembinaan tersebut kemudian melahirkan suatu kekuatan baru yang pada akhirnya dibentuklah pesantren Hidayatullah. Pesantren Hidayatullah yang diresmikan Menteri Agama Prof. Dr. Mukti Ali tanggal 5 Agustus 1976 di Balikpapan merupakan cikal bakal pesantren yang tersebar di seluruh pelosok tanah air5. Pada tahun 1998 pada saat pendirinya meninggal dunia, pesantren ini telah berkembang dan memiliki 120 cabang di seluruh Indonesia6. Salah satu strategi pengembangan organisasi yang dilakukan pesantren Hidayatullah sehingga bisa berkembang adalah adanya pola pembinaan yang bersifat dokrinasi yang berisi tentang bagaimana setiap individu atau jamaah memiliki pribadi yang tangguh dan siap ditugaskan ke daerah-daerah untuk mengemban dakwah. Penugasan daerah ini merupakan bagian dari bentuk rencana pengembangan jaringan organisasi pesantren.

Pengembangan organisasi merupakan suatu proses yang berkaitan dengan serangkaian perencanaan perubahan yang sistematis yang dilakukan secara terus menerus oleh organisasi7, dengan kata lain suatu proses penyiapan untuk mengelola upaya perencanaan perubahan. Menurut Cherrington (1989) dikutip Indriyo G. pengembangan organisasi meliputi suatu pendekatan diagnosis dan pemecahan masalah yang bersifat menyeluruh untuk menghindarkan keruntuhan organisasi dan untuk menciptakan pembaharuan bagi organisasi8. Sebagai organisasi sosial keagamaan yang dibangun atas dasar pola interaksi sosial yang didasari nilai-nilai keyakinan agama yang kuat dan mantap, keberadaan pesantren Hidayatullah semakin establish dan banyak mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Misalnya, birokrasi pemerintah, tokoh masyarakat setempat, tokoh nasional, dan dukungan para tokoh yang datang dari berbagai daerah pada saat melakukan kunjungan ke Balikpapan. Dari berbagai dukungan tersebut kemudian kepercayaan masyarakat kepada pesantren Hidayatullah semakin meningkat, akibatnya kemudian para santri datang dari berbagai daerah untuk bergabung dan menjadi binaan pesantren Hidayatullah. Kemajuan Pesantren Hidayatullah tersebut tidak lepas dari bentuk konsep dan strategi komunikasi jitu yang dibangun para pengurus lembaga khususnya Bapak pimpinan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kenyataannya masalah komunikasi senantiasa muncul dalam proses organisasi, dan komunikasi merupakan hal mutlak dan harus ada dalam suatu organisasi apapun bentuknya. Komunikasi merupakan alat penghubung dan pembangkit kinerja antar bagian dalam organisasi sehingga menghasilkan sinergi. Fenomena lain yang bisa dicermati bahwa keberadaan Hidayatullah sebagai salah satu pesantren di Indonesia memililiki keunikan tersendiri. Keunikan yang dimaksud adalah pola komunikasi pimpinan yang bersifat doktrinasi senantiasa menjadi kebiasaan pada saat menyampaikan ceramah, taushiah, atau hubungan interpersonal dengan semua jamaah setiap hari. Hal ini yang membuat para jamaah / anggota organisasi selalu berupaya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu termasuk dalam masalah menata organisasi yang ada. Semua gerak langkah yang dilakukan setiap anggota organisasi atau jamaah selalu didasari atas idealisme yang kuat untuk menunjukkan kepada siapapun bahwa Islam adalah ajaran yang paripurna, mengajarkan bagaimana konsep hidup yang baik dan benar dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam hal menata organisasi yang sudah ada dan mengembangkannya atau menyampaikannya kepada semua jamaah yang ada di daerah yang ada jaringan hidayatullah. Melihat perkembangan organisasi yang cukup pesat tersebut tentunya memiliki konsep dan strategi komunikasi yang jitu sehingga dalam waktu yang relatif singkat pesantren Hidayatullah bisa menata organisasinya dengan baik dan melakukan pengembangan jaringan dengan membuka cabang di berbagai daerah di indonesia. Ini merupakan fenomena organisasi yang menarik untuk dikaji lebih jauh. B. Pengertian B.1. Strategi Komunikasi Sebelum membahas lebih jauh tentang strategi komunikasi, dalam tulisan ini akan diuraikan terlebih dahulu tentang makna strategi. Menurut Onong Uchyana (2004 : 29) strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen untuk mencapai suatu tujuan.

Namun untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, tetapi harus menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya. Definisi lain menjelaskan bahwa strategi adalah jalan-jalan utama yang terpilih untuk menjamin tercapainya tujuan secara efektif dan efisien (Santoso : 2005). Dalam kamus induk istilah ilmiah (2003 :740) dijelaskan bahwa strategi adalah taktik, kiat, cara-cara yang baik dan menguntungkan dalam suatu tindakan. Uraian lain menjelaskan strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus (KBBI : 1996 : 964). Adapun strategi komunikasi menurut Onong merupakan paduan dari perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen komunikasi (communication manajement) untuk mencapai suatu tujuan (goal). Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan dalam arti kata bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda-beda sewaktu-waktu, bergantung pada situasi dan kondisi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa strategi komunikasi adalah suatu cara yang dikerjakan demi kelancaran suatu komunikasi. Dalam istilah lain strategi komunikasi adalah metode atau langkah-langkah yang diambil untuk keberhasilan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu atau mengubah sikap, pendapat dan perilaku, baik secara langsung secara lisan maupun tidak langsung melalui media (Onong Uchiana, 2002 : 5) Sebagian besar fakar komunikasi yang ada di berbagai negara berkembang memberikan perhatian besar terhadap strategi komunikasi (communication strategy), karena dengan memiliki strategi komunikasi yang tepat akan membantu proses pembangunan nasional di negara masing-masing secara efektif dan efesien. Aktivitas komunikasi antara pemerintah dan masyarakat di negara yang sedang berkembang khususnya dalam proses komunikasi massa dibutuhkan strategi komunikasi yang tepat. Dan media massa merupakan sarana komunikasi massa yang efektif karenanya dibutuhkan strategi komunikasi yang baik meliputi komunikator (pemilik media massa), pesan (isi media), komunikan (khalayak masyarakat). Ketiga komponen ini harus dikelola dengan baik sesuai dengan situasi dan kondisi kebutuhan masyarakat di masing-masing Negara berkembang tersebut. Dalam hal ini masih menurut Onong strategi komunikasi baik secara makro (planned multimedia strategy) maupun secara mikro (single communication medium strategy) memiliki fungsi ganda ; Pertama menyebarluaskan pesan komunikasi yang bersifat informatif, persuasive, dan instruktif secara sistematis kepada sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal. Kedua, menjembatani kesenjangan budaya (cultural gap) akibat kemudahan diperolehnya dan kemudahan dioperasionalkannya media massa yang begitu ampuh, yang jika dibiarkan akan merusak nilai-nilai budaya. Demikian beberapa uraian tentang urgensinya strategi komunikasi khususnya dalam proses komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Namun dalam kajian ini strategi komunikasi akan dijadikan suatu pijakan dalam mengelola proses interaksi yang terjadi dalam suatu organisasi agar efektif dan efesien dalam mencapai tujuan didirikannya.

Melihat pentingnya strategi komunikasi dalam proses pengembangan organisasi agar bisa mewujudkan tujuan organisasi secara efektif maka pembahasan tentang strategi komunikasi dalam kajian ini menjadi sangat menentukan efektifitas pengembangan organisasi apapun bentuknya. C. Pengembangan Organisasi Agar suatu organisasi dapat bertahan terhadap lingkungan yang selalu berubah, maka organisasi tersebut harus selalu berusaha untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitasnya. Dari aspek manajemen, upaya untuk meningkatkan keberhasilan organisasi dalam menjawab perubahan lingkungan tersebut diantaranya dengan melakukan pengembangan organisasi. Pengembangan organisasi (organization development) diperlukan karena organisasi harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan di pelbagai aspek kehidupan seperti teknologi, politik, ekonomi, dan budaya yang kompleks dan penuh ketidakpastian. Pengembangan organisasi dapat membantu suatu organisasi untuk menciptakan tanggapantanggapan positif terhadap perubahan-perubahan dengan cara melakukan perubahanperubahan dalam organisasi. Perubahan tersebut perlu direncanakan, diarahkan dan dilaksanakan oleh orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut atau dengan cara memproleh bantuan dari para ahli. Pengembangan organisasi merupakan sesuatu yang relatif baru yang dengan cepatnya berubah sebagai akibat pengetahuan baru (Moekijat, 2005:1). Dengan demikian ada beberapa kertidaksesuaian diantara para penulis dan praktisi tentang hakekat dan luasnya pengembangan organisasi. Dalam kenyataan, tidak ada satu definisi yang dapat disetujui oleh semua pihak. C.1. Sejarah Pengembangan Organisasi Pengembangan organisasi mulai dikenal pada pertengahan 1940-an, hal ini ditandai dengan adanya program-program pelatihan yang mulai menerima macam-macam perspektif atau harapan dalam banyak organisasi (Moekijat, 2005 : 23). Para ahli manajemen mulai mempertimbangkan bahwa cara mengoptimalkan prestasi dan pengambilan keputusan yang sukses dalam organisasi merupakan langkah awal bagi individu-individu yang ingin melakukan perubahan dalam organisasi. Perubahan sikap dan kebiasaan dalam melakukan aktivitas organisasi disebut sebagai perubahan dalam suasana organisasi. Dengan mengikuti perubahan, anggota-anggota organisasi hendaknya berada dalam kerangka pikiran untuk memecahkan masalah-masalah, mengkonfrontasikan pertentangan, merumuskan kebjaksanaan-kebijaksanaan, dan menangani maslah-masalah operasional secara efektif. Menurut Wexley dan Yukl (1977) dikutip Moekijat (2005:24) sejarah pengembangan organisasi dapat ditelusuri kembali pada dua sumber yang berhubungan, akan tetapi yang berlainan. Sumber Pertama, latihan di dalam laboratorium atau latihan kelompok-L (laboratory or Tgroup training) timbul pada tahun 1946 ketika Kurt Lewin dan para stafnya membentuk suatu lokakarya kelompok-L yang pertama (T-group; T adalah singkatan training). Lokakarya ini memerlukan pemimpin masyarakat yang diikutsertakan membicarakan masalah-masalah kemudian diberikan kesempatan mengadakan reaksi terhadap umpan balik perilaku

individual mereka. Sebagai hasil pemgalaman ini Lewin dan kawan-kawannya merasa yakin bahwa individu-individu dapat belajar dari pengaruh timbal balik mereka sendiri dengan mengikuti situasi-situasi kelompok kecil (disebut kelompok-L) yang tidak tersusun. Pekerjaan mereka mula-mula mengakibatkan terbentuknya National Training Laboratories (NTL)-Institute for Applied Behavior Science di Bethel, Maine, pada akhir tahun 1940-an. Selama tahun 1950-an, banyak pelatih NTL makin terlibat dalam menyediakan manajermanajer dalam perusahaan dan industtri dengan latihan kelompok-L. Sejak saat itu kelompok-L menjadi sangat terkenal dalam berbagai organisasi yang luas. Sumber kedua, juga berasal dari pekerjaan awal Lewin, waktu itu dalam riset dan umpan balik survai. Sebagai ilustrasi ancangan ini, di Detroit Edison Company diselenggarakan suatu penyelidikan sikap pegawai dan manajamen yang sangat luas, yang dimulai pada tahun 1948. Selama beberapa tahun kemudian, pertemuan-pertemuan diadakan secara terpisah dengan para pegawai bukan pengawas, pengawas-pengawas garis pertama dan kedua, dari berbagai tingkat manajemen untuk mengumpan balikkan informasi tentang sikap setiap kelompok kerja mengenai pengawasan mereka, kesempatan-kesempatan promosi, pemuasan pekerjaan dan seterusnya. Ini merupkan yang pertama dari banyak studi riset yang hingga kini masih berlangsung, yang dilakukan oleh Institute for Social Reseach pada Universitas Michigan terhadap akibat umpan balik riset survai. Penerapan pengembangan organisasi yang berasal dari salah satu atau kedua sumber tersebut dapat dilihat dalam berbagai jenis organisasi di dunia, misalnya bidang perusahaan industri, kepolisian, lembaga pendidikan, lembaga sosial, dan berbagai jenis lembaga atau institusi lainnnya. C.2. Masalah-masalah Yang Dapat Dipecahkan Melalui Pengembangan Organisasi Sebenarnya dalam melakukan aktivitas hidup apapun bentuknya akan selalu dilingkupi dengan berbagai permasalahan dan setiap permasalahan yang ada pasti akan ada solusinya. Demikian halnya dengan masalah organsiasi, banyak masalah yang perlu diselesaikan dengan pengembangan organisasi. Akan tetapi menurut Joseph J. Famularo (1972) dikutip Moekijat ada delapan masalah yang teramat penting. 1. Pertentangan tujuan. Tujuan manajerial sekarang mungkin tidak ada hubungannya dengan kenyataan hari ini. Tujuan tersebut mungkin didasarkan atas praktik-praktik yang telah lampau atau dengan tujuan yang tidak masuk akal bagi bidang tanggung jawab seseorang. 2. Komunikasi yang tidak baik. Mungkin ada rintangan atau penyimpangan pada suatu tingkat. Data yang sesungguhnya, yang diperlukan untuk mengambil keputusan perusahaan yang baik, mungkin tidak cukup, dan mutu data (orang-orang tidak mengatkan yang sebenarnya mereka maksudkan) mungkin kurang baik. Tidak ada suasana pemecahan masalah yang terbuka masalah-masalah yang sesungguhnya diabaikan atau disembunyikan. 3. Pertentangan didiamkan. Mungkin gagal mengkonfrontasikan pertentangan dalam organisasi dengan menyangkal eksisitensinya, atau menyembunyikannya. Pertentangan tidak lurus. 4. Kerjasama yang kurang baik. Kelompok-kelompok mungkin bekerja dengan filsafat persaingan ; setiap orang untuk dirinya. Individu-individu dalam suatu kelompok kerja belum mengembangkan rasa saling mempercayai.

5. Persaingan yang bersifat merusak. Kelompok-kelompok yang saling berfantung (mereka yang saling membutuhkan untuk dapat berfungsi secara efektif) mengembangkan rasa tidak percaya, kurang koordinasi, tujuan-tujuan yang bertentangan, dan sebagainya. 6. Pengambilan keputusan yang salah. Keputusan-keputusan didasarkan atas otoritas peranan atau status, bukan atas otoritas pengetahuan atau kemampuan. Pegambilan keputusan tidak dekat dengan sumber informasi. 7. Tanggapan yang lamban terhadap perubahan. Organisasi itu kaku dan menganggap sulit mengadakan perubahan untuk memenuhi perusahaan dan lingkungan sosial yang terusmenerus berubah. Perubahan-perubahan dalam organisasi dipaksakan, tidak direncanakan dengan baik, tidak ada hubungannya dengan tujuan, dan sebagainya. 8. Kurang motivasi. Sistem penghargaan adalah sedemikian rupa sehingga tidak mengakui bahwa pencapaian tujuan maupun kemajuan orang-orang, penting sekali. Idividu-individu tidak dimotivasi secara positif ke arah tujuan organisasi, mereka tidak mempunyai tanggung jawab. D. Komunikasi Organisasi Menurut Pace (2001 : 31) komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Sedangkan menurut liliweri (2004 : 58) komunikasi organisasi adalah komunikasi inpersonal, dan antarpribadi dalam kelompok formal/organisasi sesuai dengan tuntutan struktur dan tata kerja organsiasi. Aktivitas organsiasi yang berlangsung bisa tatap muka atau melalui media, membutuhkan umpan balik melalui struktur organisasi formal, suasana makin formal, pesan juga makin formal, tujuan dan maksud komunikasi umumnya berstruktur. Jadi dapat digambarkan bahwa komunikasi organisasi meliputi beberapa proses yaitu pertukaran dan penafsiran pesan diantara semua unit organisasi, adanya interaksi antara semua elemen baik antar pribadi, kelompok, dan organisasi itu sendiri yang memiliki tujuan dan maksud komunikasi yang terstruktur dan terorganisir. Itu semua kemudian membentuk suatu sistem yang dikenal dengan istilah sistem komunikasi organisasi. D.1. Hakekat Komunikasi Dalam Organisasi Kalau berbicara tentang komunikasi organisasi maka yang tergambar dalam diri seseorang adalah hal-hal yang berkaitan dengan peranan dan status dari setiap orang dalam organisasi, karena peranan dan status seseorang menentukan pula cara bagaimana berkomunikasi dengan orang lain juga cara bagaimana berkomunikasi dengannya, karenanya seorang yang baik yaitu orang yang selalu menghubungkan peran dan status dengan pekerjaan (Liliweri, 2004 : 59). Dalam masyarakat modern orang mengenali seseorang karena dia memiliki peran dan status yang beragam. Di dalam organisasi keragaman itu dilihat melalui pembagin kerja dimana setiap orang akan bekerja menurut bakat dan kemampuan sehingga dia bertanggungjawab atas pekerjaan itu. Ketika jumlah atau jenis pekerjaan semakin banyak palagi beragam maka dibutuhkan jalinan antara jenis-jenis pekerjaan yang berbeda-beda, jalinan antara seorang pemimpin dengan bawahan atau antara kalangan pemimpin yang pada akhirnya membentuk

sebuah kekuatan besar-sinergis untuk menghasilkan keluaran yang lebih berkualitas. Pada tahap ini diutuhkan komunikasi. Komunikasi organisasi sering pula diartikan sebagai perilaku pengorganisasian (organizing behavior) yakni bagaimana seorang bawahan terlibat dalam proses bertransaksi dan memberikan makna atas apa yang sedang terjadi. Karena itu ketika organisasi dianggap sekedar sekumpulan orang yang berinteraksi maka komunikasi hanya berfungsi sebagai organisasi; dia adalah organisasi itu sendiri. Jadi komunikasi organisasi akan berpusat pada simbol-simbol yang memungkinkan kehidupan organisasi, pakah kata-kata, gagasan-gagasan dan konstruk yang mendorong mengesahkan, mengkoordinasikan, dan mewujudkan aktivitas yang terorganisir dalam situasi-situasi spesifik. Tulisan atau apapun yang bekaitan dengan komunikasi organisasi selalu mempertimbangkan dua konsep utama, yakni organisasi dan komunikasi. Suatu organisasi dapat didekati sebagai suatu obyek yang menyenangkan dan menarik, namun ada yang mungkin sekali memandang organisasi sebagai sebuah penindasan. Sikap menyenangkan atau menindas itu sebenarnya sangat tergantung dari pemahaman dan praktek interaksi, relasi dan transaksi yang terjadi antar manusia dalam organisasi, itulah yang disebut komunikasi organisasi. Jadi kedudukan komunikasi dalam organisasi sebenarnya menekankan pada bagaimana suatu organisasi dikonstruksi dan dipelihara lewat proses komunikasi. Dengan demikian komunikasi organisasi lebih dari sekedar apa yang dilakukan orang-orang melainkan sebuah penjelasan teoritis atas praktek komunikasi dalam organisasi yang melayani kebersamaan baik dalam organisasi maupun melayani orang lain yang membutuhkan organisasi. Dengan kata lain keberadaan komunikasi dalam organisasi membuat seseorang mampu membedakan dua hal yaitu : pertama, mnunjukkan bagaimana para anggota bekerja sebagai seorang organisatoris ; dan kedua, bagaimana operasi jaringan kerja yang mengaitkan mereka satu sama lain, jadi bagaimana kedudukan mereka sebagai human actors. Dalam perspektif seperti iini maka komunikasi itu penting dalam organisasi, 1). Komunikasi adalah jalan, melalui komunikasi orang-orang mencari informasi dan mengembangkan sejumlah kriteria untukmana mereka terbagi dalam pekerjaan; yang 2). Komunikaasi merupakan proses dalam mana mereka meletakkan pilihan mereka yang praktis. D.2. Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi Fungsi komunikasi atau apa yang dilakukan atau dilaksanakan oleh komunikasi dapat dipelajari pada berrbagai tingkat. Pada tingkat total organisasi, komunikasi itu dapat dianalisa menurut tiga fungsi umum ; 1). Produksi dan pengaturan (regulation), 2). Pembaharuan (Innovation) dan 3). Pemasyarakatan (socialitation) atau pemeliharaan (M.T Myers ; 1987). D.2.1. Produksi dan pengaturan Komunikasi yang terutama berhubungan dengan penyelesaian pekerjaan dan membantu organisasi mencapai tujuan produksi (produk, jasa, dsb). Adalah berorientasi pengaturan atau produksi. Contoh komunkasi produksi adalah informasi penjualan, pesan pengawasan mutu, anggaran, dan pesan-pesan kebijaksanaan dan pengaturan yang menunjukkan kepada para anggota organisasi mengenai bagaimana melaksanakan tugas-tugas mereka.

Fungsi komunikasi ini meliputi pesan yang memungkinkan para manajer dan para anggota organisasi untuk : 1. Menentukan sasaran dan tujuan 2. Merumuskan bidang masalah 3. Menilai prestasi 4. Mengkoordinir tugas-tugas yang secara fungsional saling bergantung 5. Menentukan standard hasil prestasi 6. Mengomando, menunjukkan kepada pegawai apa yang harus dilakukan, memberi perintah 7. Memberikan instruksi, menunjukkan kepada pegawai bagaimana melaksanakan suatu perintah, mengembangkan prosedur, dan memahami kebijaksanaan 8. Memimpin dan mempengaruhi. Fungsi produksi adalah menyangkut setiap kegiatan komunikasi yang langsung berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan utama organisasi. Dalam organisasi pabrik, kita memasukkan komunikasi tentang produksi atau apa saja yang harus dikomunikasikan untuk dapat menghasilkan mobil atau botol bir. Dalam lembaga pendidikan ia adalah pengajaran dan latihan sesungguhnya untuk para mahasiswa. Semua komunikasi yang berkaitan dengan pembelian, pengepakan, penerimaan atau pemecatan pegawai, pengumpulan modal, penjualan, pencarian pekerjaan untuk lulusan Perguruan Tinggi, adalah contoh-contoh fungsi produksi dari komunikasi. D.2.2. Pembaharuan (Innovation) Fungsi pembaharuan dari komunikasi, meliputi aktivitas-aktivitas komunikasi seperti sistem saran di seluruh organisasi, pekerjaan penelitian dan pengembangan, riset dan analisa pasar, sidang-sidang urun-saran (brainstorming), dan panitia tank pemikir. Fungsi komunikasi ini sangat vital dalam organisasi yang mendapatkan dirinya berada dalam lingkungan yang tidak stabil dan suka berubah. D.2.3. Pemasyarakatan atau Pemeliharaan Fungsi komunikasi yang ketiga ini meliputi komunikasi yang mempengaruhi 1) harga diri para anggota organisasi, 2) hubungan antar-pribadi mereka dalam organisasi, dan 3) motivasi mereka untuk menyatukan sasaran-sasaran individu dengan tujuan-tujuan organisasi. Pertama, harga diri para anggota organisasi. Aktivitas komunikasi sosial tidaklah ditujukan pada material yang sedang dikerjakan, tetapi pada alat-alat untuk menyelesaikan pekerjaan itu yang dalam banyak hal adalah pegawai itu sendiri. Komunikasi sosial adalah menyangkut imbalan dan motivasi pegawai, moral dsb. Agar pegawai betah dalam suatu organisasi dan berprestasi memadai, mereka hendaklah memperoleh pengalaman menyenangkan dalam organisasi itu. Imbalan itu dapat berupa uang, prestise, status, pekerjaan menarik, identifikasi dengan produk organisasi, dan faktor kepuasan lainnya. Kedua, hubungan antar-pribadi mereka dalam organisasi. Komunikasi sosial meliputi informasi yang menunjang hubungan seseorang dengan lingkungan fisik dan manusia. Misalnya, informasi yang menyokong pandangan anda tentang diri anda sendiri sebagai orang yang kompeten dan berguna adalah bersifat menyatukan dan memperkuat harga diri anda. Ketiga, motivasi mereka untuk menyatukan sasaran-sasaran individu dengan tujuan-tujuan organisasi. Fungsi sosial dari komunikasi membantu memvbangun harapan bersama dengan

para anggota organisasi, harapan mengenai satu sama lain, pekerjaan yang akan dilaksanakan, bagaimana melaksanakan pekerjaan itu, dan kontak organisasional dan lingkungan dimana organisasi itu berada.Upacara (rituals), dan prosedur adalah cara-cara para anggota organisasi mengembangkan harapan bersama yang menyatukanmereka bersama sebagai bagian dari organisasi. Oleh karena fungsi sosial dari komunikasi itulah para anggota organisasi mengenal dan bergaul satu sama lain sebagai anggota organisasi itu. Hanya dengan komunikasi sosial atau komunikasi pemeliharaan pegawai dapat terlibat secara pribadi dalam sasaran suatu organisasi. D.3. Manajemen Komunikasi Organisasi Berbicara tentang teori komunikasi organisasi nampaknya tak bisa dilepaskan dengan perkembangan historis studi-studi tentang administrasi, organisasi, dan terutama kini adalah manajemen (Liliweri : 2004). Salah satu aspek yang menyatukan berbagai pendekatan itu adalah komunikasi, karena di dalam cara pandang administrasi, organisasi, dan manajemen terdapat aktivitas komunikasi sebagai penjelas hubungan antarpersonal maupun antarkelompok dalam organisasi, organisasi sebagai wadah kerjasama serta organisasi sebagai wujud perilaku manusia. Adapun bila mengkaji tentang manajemen komunikasi organisasi maka fokus pembahasannya adalah pada bagaimana aktivitas komunikasi yang dilakukan manusia dalam organisasi dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Secara sederhana manajemen itu merupakan seni untuk memperoleh sesuatu karena hasil pekerjaan orang lain (Mary Parker Follet). Manajemen itu mengandung pengertian usaha untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efesien melalui perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengawasi sumber daya manusia. Jadi manajemen itu berkaitan dengan : a). perencanaan visi, arah dan tujuan. b). pengorganisasian tugas, sumber daya, dan proses. c). memimpin motivasi, lingkungan, dan komunikasi. d). pengawasan tampilan versus target (bagaimana bergerak menuju self control). Lebih jauh Liliweri menjelaskan bahwa seseorang yang disebut sebagai manajer sekurangkurangnya menampilkan tiga kompetensi yaitu, (1). Keterampilan ; konseptual, hubungan antar manusia, dan teknis. (2). Peran ; mengelola informasi, mewakili semua, pemimpin, penghubung, pengambil keputusan, negosiator, sebagai orang yang dapat memecahkan masalah, menangani perubahan, dan mengalokasikan sumberdaya. (3). Kompetensi baru ; (a). menyatukan bagian-bagian organisasi sehingga organisasi merupakan kesatuan orang-orang yang bekerjasama. (b). menciptakan jaringan kerja organisasi (membentuk relasi dan membangun tim kerja). (c). mampu berhadapan dengan organisasi virtual (maya) melalui pemberdayaan, membangun kepercayaan dan pengembangan masa depan. Apapun kompetensi yang akan dimainkan oleh seorang administrator, organisatoris dan manajer namun dia tetap menampilkan diri sebagai seorang komunikator, adalah seseorang yang harus menjadi orang pertama yang mengambil prakarsa dalam proses komunikasi dalam kerjasama antarmanusia. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa pembahasan tentang manajemen komunikasi organisasi tak lepas dari pembahasan tentang beberapa hal di atas yang satu dengan lainnya saling berkaitan. Secara sistematis pembahasan manajemen komunikasi organisasi meliputi :

a). visi, arah dan tujuan organisasi (planning). b). tugas, sumber daya dan proses dalam organisasi (organiting). c). motivasi, lingkungan, dan komunikasi antar bawahan dan atasan dalam organisasi (manajer), d). pengawasan terhadap proses interaksi atau komunikasi antarmanusia (controlling). Faktor lain yang membantu proses manajemen komunikasi organisasi dapat berjalan dengan adalah kompetensi seorang manajer. Seorang manajer dalam mengelola organisasi sekurangkurangnya memiliki tiga kompetensi yaitu : 1). Keterampilan ; konseptual, hubungan antar manusia, dan teknis. 2). Peran ; mengelola informasi, mewakili semua, pemimpin, penghubung, pengambil keputusan, negosiator, sebagai orang yang dapat memecahkan masalah, menangani perubahan, dan mengalokasikan sumberdaya. 3). Kompetensi baru ; (a). menyatukan bagian-bagian organisasi sehingga organisasi merupakan kesatuan orang-orang yang bekerjasama. (b). menciptakan jaringan kerja organisasi (membentuk relasi dan membangun tim kerja). (c). mampu berhadapan dengan organisasi virtual (maya) melalui pemberdayaan, membangun kepercayaan dan pengembangan masa depan. E. Hasil Penelitian dan Pembahasan Dalam bahasan ini akan dipaparkan tentang konsep dan strategi komunikasi pengembangan organisasi Pesantren Hidayatullah berdasarkan data hasil wawancara mendalam dengan informan berupa ungkapan dan cerita asli para informan yang terkait langsung dengan seluk beluk mengenai konsep dan strategi komunikasi pengembangan organisasi dan dilengkapi dengan berbagai data sekunder. Deskripsi tersebut dikemukakan dengan gaya bertutur informal, mendetail, dalam bahasa dan mimik para informan. Dari keseluruhan penuturan para informan tentang konsep dan strategi komunikasi pengembangan organisasi Hidayatullah dapat dilihat dalam beberapa bagian sebagai berikut. E.1. Ajaran Islam Sebagai Konsep Berorganisasi Lingkungan pesantren dengan segala bentuk aktivitas sehari-hari yang diselimuti oleh kegiatan keagamaan akan membentuk pola pikir dan cara pandang bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya, termasuk cara pandang terhadap aturan organisasi. Apalagi dibarengi dengan adanya kajian-kajian keislaman, juga ceramah maupun taushiah yang sering disampaikan akan membentuk karakter tersendiri bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya. Demikian halnya dengan pesantren Hidayatullah tradisi seperti itu sudah berjalan sejak berdirinya sampai sekarang. Dan penekanan dari setiap aktivitas termasuk dalam hal aturan hidup berorganisasi di lingkungan pesantren Hidayatullah senantiasa merujuk pada ajaran Islam. Begitu juga dengan perkembangan organisasi hidayatullah, menurut informan pertama pertumbuhan dan perkembangan organisasi Hidayatullah tidak bisa lepas dari ajaran islam itu sendiri, yaitu dalam memahami islam sebagai suatu ajaran untuk membangun masyarakat yang berperadaban tinggi, agung, pesantren memilih suatu manhaj atau metodologi yang diyakini sebagai sebuah metodologi yang efektif untuk menumbuhkembangkan diri dan masyarakat. Jadi tidak bisa lepas dari sana, dan jika bertitik tolak dari ajaran islam itu

sendiri dalam melakukan pembinaan terhadap santri, maka rujukannya adalah sebagaimana dicontohkan rasul dala al Quran surat al jumuah ayat 2. Pendapat ini juga dipertegas oleh informan berikutnya ust. Abdul Manan seperti penjelasan beliau berikut : konsep, ide dasar, filosofi lahirnya lembaga ini tidak bisa lepas dari ajaran islam itu sendiri. Apapun permasalahan yang kita hadapi dalam hidup ini, termasuk dalam hal berorganisasi kita harus merujuk pada ajaran Islam (back to Islam). Uraian tersebut memberikan gambaran bahwa sesungguhnya dalam mengatur organisasi di lingkungan Hidayatullah konsep yang dijadikan panduan adalah ajaran Islam itu sendiri dengan sumber utamanya Al Quran dan Al Hadits. Dari sumber al Quran tersebut pesanten hidayatullah dalam mendalami ajaran islam dikenal istilah konsep sistematika nuzulnya wahyu. Konsep ini mengandung pengertian bahwa dalam menjalankan ajaran Islam seorang muslim seharusnya meniru bagaimana rasulullah dulu menerima wahyu dan bagaimana mengamalkannya sesuai dengan urutan turunnya wahyu tersebut. E.2. Faktor Kepemimpinan / Imamah Dalam mengatur organisasi di lingkungan Pesantren Hidayatullah, faktor pemimpin sangat besar pengaruhnya dalam menentukan aturan main organisasi (manajemen organisasi). Figur pimpinan yang memiliki banyak kelebihan seperti memiliki rohani (spiritual) yang baik, intelek, bermoral, dan kelebihan-kelebihan lain akan sangat berpengaruh dalam setiap langkah pertumbuhan organisiasi. Disamping itu dalam masalah kepemimpinan di hidayatullah dikenal istilah organisasi imamah jamaah, seperti yang dijelaskan oleh ust. Abdurrahman berikut ; dalam sebuah kebangkitan masyarakat harus ada sosok pemimpin yang memiliki kemauan kuat untuk merubah masyarakat tersebut dengan suatu konsep yang jelas sebagaimana yang digambarkan dalam al Quran surat al jumuah ayat 2. Kebangkitan sebuah masyarakat atau organisasi akan baik apabila seorang pemimpin itu mampu melakukan pencerahan spiritual, intelektual, moral, tilawah, tazkiah adalah sangat mendasar. Dari situ pribadi-pribadi yang ada dalam jamaah itu memiliki kesamaan dalam berbagai hal, seperti idealisme, visi, misi dan orientasi hidup yang sama juga. Hal ini penting sekali sebagai suatu kultur hidup yang sama, mereka siap dalam satu kepemimpinan, organisasi imamah jamaah ditata untuk melakukan sesuatu yang sama secara spiritual, moral dan intelektual melakukan kesadaran pribadi, jamaai, itu penting sekali dari sini orang-orang diorganisasikan dalam suatu organisasi yang namanya ormas Hidayatullah. Pola kepemimpinan yang dibangun Al marhum ustazd Abdullah Said tersebut dijadikan pedoman dalam membangun tradisi di semua cabang hidayatullah yang sudah ada. Dengan kata lain sebagai tempat penyemaian untuk kemudian diduplikasi sebagaimana penjelasan beliau ust. Abdurrahman lebih lanjut. Dari tempat penyemaian tersebut, karena kita mulai dari membina SDM, mulai dari adanya pemimpin yang mampu untuk membina jamaah itu dalam bentuk wadah pesantren atau orsos. Dari sini sudah ada sosok kader yang taat pada pimpinannya, karena ada kesamaan visi misi dan idealisme itu besar maka melahirkan tanggung jawab yang besar juga. Setelah itu mereka siap melakukan pekerjaan apapun yang terkait dengan idealisme, sehingga ini yang membuat mereka taat untuk ditugaskan pada bidang apa sajadan dimana saja dan itu yang membuat Hidayatullah cepat untuk berkembang, tersebar dan melakukan sesuatu duplikasi

daripada yang pernah dirasakan di tempat dimana ada instruktur, ada pembimbing yang bisa membimbing. Ini sebenarnya persoalan adanya pemimpin yang melakukan proses kaderisasi, itu yang bisa mempercepat langkah-langkah Hidayatullah untuk tersebar dimana-mana termasuk Surabaya yang membuat duplikasi pesantren di Jawa dan Nusa Tenggara. Penjelasan di atas ditambahkan oleh ust. Abdul Manan dengan memberikan istilah struktur imamah jamaah dan konsep komando dalam mengatur organisasi di lingkungan hidayatullah. Sejak berdirinya hidayatullah panduan organisasi yang diterapkan adalah struktur imamah jamaah, struktur ini tidak ubahnya struktur ular. Struktur ular itu adalah setelah kepala kemudian leher semua, jadi struktur pesantren Hidayatullah tatkala itu setelah pucuk pimpinan adalah semuanya anggota. Maa badal imam mamum, setelah imam adalah mamum. Kemudian dalam hal memberikan tugas dan tanggung jawab konsep yang digunakan adalah sistem manajemen komando. Konsep kepemimpinan yang dibangun oleh pendiri hidayatullah dapat dilihat dari penjelasan di atas, dan pada proses pertumbuhan dan perkembangannya pola tersebut dijadikan panduan sampai pada saat Hidayatullah berubah menjadi organisasi massa (Ormas). Namun setelah pendiri pesantren wafat pola kepemimpinan dengan konsep strategi manajemen komando tidak berlaku lagi, karena para pelanjut beliau menyadari akan banyak kekurangan yang dimiliki maka konsep tersebut tidak digunakan lagi dan menggunakan konsep kepemimpinan one collective show bukan one man show seperti yang dijelaskan berikut. Pada masa awal atau generasi pertama kepemimpinan Hidayatulllah memang keberadaan beliau UAS sangat menonjol. Beliau adalah pendiri (father founding), perintis sehingga bisa dikatakan beliau sebagai ideolog. System komando masih kental dan orientasi figurnya juga sangat menonjol. Setelah beliau wafat kondisi seperti itu tidak bisa lagi kita lihat. Pola kepemimpinan yang dijalankan pada generasi kedua menggunakan pendekatan kepemimpinan kolektif. Artinya setiap ada keputusan atau kebijakan strategis selalu dilakukan dengan musyawarah mufakat terlebih dahulu. Organisasi itu kan sama dengan organisme yang memiliki masa awal dalam pertumbuhannya, ia selalu bergantung pada induknya. Kemudian ketika induknya memiliki banyak anak tentunya anak-anaknya memiliki perbedaan dalam menindaklanjuti idealisme, orientasi hidup yang pernah diajarkan indukya. Hal inilah yang perlu difahami dalam melihat perkembangan organisasi hidayatullah. E.3. Islam Sebagai Idiologi Organisasi Organisasi Hidayatullah hadir dengan anggota yang memiliki modal pemahaman agama yang kental, yaitu dengan adanya pemahaman islam sebagai ideologi mereka dalam menempuh hidup ini baik susah maupun senang. Seperti yang diuraikan informan berikut ; Islam itu sebagai basis yang mendorong orang tumbuh dan berkembangnya kreatifitas, jadi bukan berarti Quran dan sunnah tak sempurna, sangat sempurna dan memberikan dasar dalam pengembangan keberadaannya dalam bentuk pikiran itu. Oleh karena itu bisa berkembang secara sendiri, natural (alami) karena adanya kebutuhan yang mendasar, terus ada upaya-upaya sendiri sehingga menemukan teori-teori atau ilmu-ilmu atau menemukan cara-cara terbaik sehingga bila dibandingkan dengan teori yang disusun para fakar itu, saya katakan nyambung saja ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut walaupun gak semuanya, karena ada nilai-nilai yang kita miliki yang dikemas sesuai dengan situasi dan kondisi. E.4. Faktor Perubahan

Konsep komunikasi yang dibangun pendiri Hidayatullah tidak selamanya bisa diterapkan. Apa yang sudah berjalan pada masa kepemimpinan beliau tidak bisa sepenuhnya dijalankan oleh penerusnya, karena berbagai faktor yang sangat beragam. Hal pertama yang perlu diingat bahwa setelah Ustadz Abdullah Said wafat tidak ada orang yang bisa mewakili sepenuhnya segala kemampuan beliau, inilah yang menjadi alasan utama perubahan dari orsos ke ormas. Yang kedua, perkembangan lembaga semakin meluas, aspekaspeknya semakin kompleks, sehingga perlu adanya sistem yang bisa mengakomodasi tuntutan, keperluan dan perkembangan lembaga. Kalau dalam bentuk orsos belum tentu bisa seperti itu, demikian uraian salah seorang informan. Lebih jauh beliau menjelaskan tentang pengaruh perubahan struktur kepemimpinan di lingkungan hidayatullah sebagai berikut. Menset-up sebuah sistem nasional tidak mudah, perlu waktu, ada masa transisi. Dan perubahan struktural memang cepat dan perubahan kultural lambat. Jadi untuk melaksanakan sistem yang baru ini butuh waktu dan memang cukup berat karena masih banyak kendala di lapangan. Misalnya, masih adanya konflik lokal maupun konflik-konflik kecil di semua elemen organisasi yang ada. Dengan kata lain perkembangan hidayatullah masih dalam masa transisi sampai saat ini. Dalam melakukan pengembangan organisasi pada masa kepemimpinan ustadz Abdullah Said (alm.) salah satu strategi yang dilakukan sebagai efek dari pengembangan organisasi adalah pengiriman dai ke berbagai daerah di seluruh pelosok tanah air. Namun hal ini tidak sepenuhnya bisa dilaksanakan pada masa kepemimpinan ustadz Abdurrahman Muhammad, karena situasi dan kondisi sudah berubah. Kegiatan seperti itu tidak bisa sepenuhnya bisa dilakukan karena tuntutan organisasi sudah berubah, kegiatan tersebut masih berjalan tapi mekanismenya berbeda sesuai dengan kebutuhan. Yang menangani program ini adalah departemen SDM di struktur DPP yang mengatur manajemen penugasan daerah. Dari uraian informan tersebut dapat dijelaskan bahwa dalam melakukan aktivitas pengembangan organisasi, konsep dan strategi yang diterapkan adalah berpedoman pada beberapa aspek mulai dari pemahaman tentang ajaran islam, kepemimpinan (imamah wal jamaah), islam sebagai ideologi organisasi, dan faktor perubahan organisasi. Keempat aspek tersebut memberikan pengaruh yang signifikan dalam menentukan arah pengembangan organisasi, karena masing-masing aspek memiliki substansi yang berbeda dan saling mendukung. Sehingga dapat dikatakan sebagai satu kesatuan atau sistem yang menentukan perkembangan organisasi yang sudah berjalan. F. Penutup Kesimpulan merupakan suatu sintesis dari pembahasan hasil penelitian, paling sedikit harus mengandung jawaban terhadap permasalahan penelitian dalam bentuk temuan penelitian berupa konsep atau teori serta kemungkinan pengembangannya di masa yang akan datang. Dari pembahasan hasil penelitian (diskusi antara data dan teori) yang telah dilakukan dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut : Pertama, terkait dengan konsep komunikasi yang diterapkan dalam proses pengembangan organisasi di lingkungan pesantren hidayatullah adalah menerapkan konsep yang didasari oleh pemahaman ajaran Islam yang menghasilkan cara pandang bahwa dalam menentukan

arah organisasi nilai-nilai yang terkandung dalam semua unsur komunikasi didasari oleh ideologi tauhid yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits yang dikenal dengan konsep sistematika nuzulnya wahyu. Konsep ini diilhami oleh tarbiyah Allah kepada Rasul-Nya, kemudian tarbiyah Rasul kepada para sahabat, berikut umatnya. Disebut demikian karena tahapan-tahapan pembinaannya didasarkan atas urutan-urutan turunnya wahyu kepada Rasulullah mulai dari surat al-Alaq, al-Qolam, al-Muzammil, al-Mudatsir, dan al-Fatihah. Konsep inilah yang melandasi semua aktifitas organisasi Hidayatullah termasuk dalam hal pengembangan organisasi. Kedua, terkait dengan strategi manajemen komunikasi yang diterapkan dalam pengembangan organisasi adalah manajemen komando imamah jamaah yang dalam aplikasinya menggunakan doktrin ideologi tauhid sebagai falsafah dan taat serta patuh pada imam sebagai doktrin operasional. Manajemen komando imamah jamaah mengandung pengertian bahwa dalam proses kepemimpinan menggunakan pendekatan analogi imam dan makmum dalam sholat. Artinya apapun yang dilakukan imam selama itu tidak menyalahi aturan yang telah digariskan dalam ajaran Islam maka makmum harus mengikutinya. Pola manajemen inilah yang sangat membantu proses pengembangan organisasi di lingkungan Pesantren Hidayatullah sehingga dapat mencapai hasil yang diharapkan. Ketiga, dalam tataran pelaksanaan manajerial organisasi faktor esoteris sangat berpengaruh dan menjadi determinator faktor eksoteris. Factor esoteris adalah prinsip sedangkan eksoteris adalah manifestasi. Artinya dalam pelaksanaan manajerial organisasi di lapangan, prinsipprinsip ideologi tauhid yang dipegang oleh setiap anggota hidayatullah dijadikan pedoman dalam melaksanakan semua aktivitas keorganisasian. Temuan ini memiliki arti penting bagi pemerhati pengembangan organisasi khususnya tentang konsep dan strategi komunikasi pengembangan organisasi keagamaan. Jadi menurut temuan ini pengembangan organisasi akan bisa memperoleh hasil yang diinginkan secara efektif dan efesien apabila menjadikan nilai-nilai dan konsep pemahaman agama sebagai pedoman dalam menjalankan semua aktifitas organisasi. Berikutnya menurut temuan ini bahwa dalam menjalankan strategi komunikasi pengembangan organisasi akan mencapai tujuan pengembangan organisasi apabila menggunakan pendekatan manajemen komando imamah jamaah. Secara teoritis dapat dikemukakan bahwa pengembangan organisasi akan efektif mencapai hasil dan tujuan organisasi apabila menerapkan konsep yang dilandasi nilai-nilai agama yang kuat dan manajemen strategi komando kepemimpinan yang islami (imamah jamaah).

DAFTAR PUSTAKA Agustinus Sri Wahyuni, 1996. Manajemen Strategik (Pengantar proses berpikir Strategik), Binarupa Aksara, Jakarta, cet. 1 Aji, Firman B. 1990. Perencanaan dan Evaluasi (Suatu Sistem Untuk Proyek Pembangunan), Bumi Aksara, Jakarta, cet. 3 Alex S. Nitisemito, 1989. Manajemen Suatu Dasar dan Pengantar, Ghalia Indonesia, Jakarta, cet.1

Barry Cushway and Derej Logde, 1995. Organisational Behavior and Design, (Perilaku dan Desain organisasi) alih bahasa, Sularno Tjiptowardojo, Jakarta. PT. Elex Media Komputindo, Beckhard, Richard. Alih Bahasa Ali Saifullah. 1981. Pengembangan Organisasi (Strategi dan Model). Penerbit Usaha Nasional. Surabaya. Dedy Mulyana., 2003. Metode Penelitian Kualitatif., cet. 3 Bandung. PT. Rosda Karya, Eddy C.Y. Kuo (et.al), 1994. Communication Policy and planing in Singapura, 1983. cet. 1 diterjemahkan dengan judul Kebijakan dan Perencanaan Komunikasi ; Pengalaman Singapura, penerjemah Nirwono, Jakarta, LP3ES Efendi, Onong Uchjana, 2004. Dinamika Komunikasi. PT. Remaja Rosda Karya Bandung, cet. 6. Bandung. Hamidi. 2004. Metode Pnelitian Kualitatif (Aplikasi Praktis Pembuatan Proposal dan Laporan Penelitian). cet.2. Malang. UMM Press. Hamijoyo, Santoso S. 2005. Hand Out Mata Kuliah Perencanaan Komunikasi, Program Pasca Sarjana Unitomo Surabaya ------------------------. 2005. Komunikasi Partisipatoris (Pemikiran dan Implementasi Komunikasi dalam Pengembangan Masyarakat. Editor. Asep. S. Muhtadi. Penerbit humaniora. Cet.1. Bandung. Hasil penelitian IAIN Antasari dan Litbang Depag, Hidayatullah Sarang Teroris? Pustaka Inti, Jakarta, 2004 Indriyo G. et.al. 2000. Perilaku Keorganisasian cet.2 BPFE, Yogyakarta KBBI, 2002. Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, Jkt. Edisi. III Liliweri, Alo,. 2004. Wacana Komunikasi Organisasi. Penerbit Mandar Maju Bandung. Cet. 1. Bandung. Little John SW. 1996. Theoris of Human Communicaion. Fifth edition. New York. Wadsworth Publishing Company. M.T.Myers & G.E. Myers, 1987. Teori-Teori Manajemen Komunikasi, alih bahasa ; A. Hasymi Ali, cet.1 Jakarta. Bahana Aksa, Manan, Abdul, 2000. Rekayasa Ulang Budaya Organisasi Dakwah, Madina Pustaka, Jakarta ------------------------, 1998. Membangun Islam Kaffah (Merujuk Pola Sistematika Nuzulnya Wahyu), Madina Pustaka, Jakarta ------------------------, 2000. Pesantren Hidayatullah Kini dan Esok, Madina Pustaka, Jakarta ------------------------. 2005. Strategi Pemenangan Dakwah, MC Publishing, Jakarta,

Middleton, John. Approaches to Communication Planning, Paris. Unesco Moekijat, 2005. Pengembangan Organisasi. Penerbit PT. Mandar Maju. Cet. 5 Bandung. Panuju, Redi. 2000. Komunikasi Bisnis. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Cet. 2. Jakarta. R. Wayne Pace dan Don F. Faules, Deddy Mulyana, (Ed.) 2002. Komunikasi Organisasi (Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan), cet.4. Bandung, Remaja Rosdakarya, Rakhmat, Jalaludin., 2000. Metode Penelitian Komunikasi, PT. Rosda Karya Bandung. cet. 8. Kota Bandung Salim, Peter dkk. 1991. Kamus Bahasa Indonesia Kontenporer, edisi pertama, Jakarta Siswanto, Bedjo, Drs. Manajemen Modern (Konsep dan Aplikasi). Penerbit Sinar cet. 1. Bandung. 1990 Tanri Abeng (et.al), 1987. Manajemen Dalam Perspektif, LMP2M (Lembaga Manajemen Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) BPFE Yogyakarta, cet.1 Tripomo, Tedjo, Et. al . 2005. Manajemen Strategi. Penerbit Rekayasa Sains Bandung. Bandung. Cet. 1. Widjaya, A.W. 1987. Perencanaan Sebagai Fungsi Manajemen ; PT. Bina Aksara, Jakarta, Model Pembelajaran Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan tertentu & berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para pengajar/tutor dalam merencanakan dan melaksanakan aktivititas pembelajaran. Hakekat mengajar adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide, ketrampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya dan cara-cara belajar bagaimana belajar Kelompok Model Sosial Model ini dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama Model dalam kelompok ini terdiri dari: Investigasi kelompok (Group invetigation) Bermain peran (Role Playing) Latihan Laboratoris (Laboratory Training) Penelitian Ilmu Sosial (Social Science Inquiry) Investigasi kelompok (Group investigation)

Ide model pembelajaran geroup investigation bermula dari perpsektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan atau teman. Model group-investigation dikembangkan oleh Herbert Thelen. Thelen menyatakan bahwa kelas hendaknya merupakan miniatur demokrasi yang bertujuan mengkaji masalahmasalah sosial antar pribadi (Arends, 1998). Dalam model investigasi kelompok, dosen atau guru harus mampu menciptakan suasana yang demokratis. Semua keputusan dikembangkan dari pengalaman kerja kelompok. Iklim diskusi ditandai oleh proses interaksi yang bersifat kesepakatan. Model group-investigation memiliki enam langkah pembelajaran (Slavin, 1995), yaitu: (1) grouping (menetapkan jumlah anggota kelompok, menentukan sumber, memilih topik, merumuskan permasalahan) (2) planning (menetapkan apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajari, siapa melakukan apa, apa tujuannya) (3) Investigation (saling tukar informasi dan ide, berdiskusi, klarifikasi, mengumpulkan informasi, menganalisis data, membuat inferensi) (4) organizing (anggota kelompok menulis laporan, merencanakan presentasi laporan, penentuan penyaji, moderator, dan notulis) (5) presenting (salah satu kelompok menyajikan, kelompok lain mengamati, mengevaluasi, mengklarifikasi, mengajukan pertanyaan atau tanggapan) (6) evaluating (masing-masing siswa melakukan koreksi terhadap laporan masing-masing berdasarkan hasil diskusi kelas, siswa dan guru berkolaborasi mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan, melakukan penilaian hasil belajar yang difokuskan pada pencapaian pemahaman. Bermain peran (Role Playing) Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik. Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian. Melalui bermain peran, peserta didik

mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah. Metode yang digunakan dalam mengembangkan prototipe model pembelajaran dengan pendekatan role playing game, dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Tahapan identifikasi masalah; menentukan fokus dari masalah penelitian yang akan dilakukan. 2. Tahapan pengumpulan data; melakukan eksplorasi, pengumpulan data dan literatur yang mendukung penelitian. 3. Tahapan analisis; melakukan analisis dari aspek-aspek pengembangan model pembelajaran yang dipetakan dalam bentuk kerangka berpikir sebagai landasan tahapan selanjutnya. 4. Tahapan desain; membuat konsep model pembelajaran yang dikembangkan dan membuat desain teknis pengembangan berupa pemodelan perangkat lunak dan desain layar model yang dibuat. 5. Tahapan implementasi dan pengujian; tahapan pengembangan prototipe model pembelajaran dengan pendekatan role playing game dan pengujian terhadap model yang dikembangkan.

Latihan Laboratoris (Laboratory Training) Dosen atau guru membangun situasi yang membingungkan dan kemudian menjelaskan perannya bukan sebagai pemimpin tetapi sebagai anggota kelompok. Kelompok harus bertanggung jawab untuk mengarahkan kegiatan diskusinya dalam mencari konsensus dalam pemecahan masalah. Penelitian Ilmu Sosial (Social Science Inquiry) ilmu Sosial Inquiry Strategi berkaitan dengan pengembangan kapasitas siswa untuk menyelidiki dan merenungkan sifat sosial seperti, khususnya perjalanan hidup mereka sendiri dan arah masyarakat mereka. Tiga karakteristik penting dari model ini adalah aspek-aspek sosial dari kelas termasuk iklim diskusi terbuka, penekanan pada hipotesis sebagai fokus penyelidikan, dan penggunaan fakta sebagai bukti Ini adalah model penyelidikan karena penalaran induktif diperlukan dan keterlibatan aktif siswa dalam proses.

PEMANFAATAN FACEBOOK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Di era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih, penyebaran informasi dan akses telekomunikasi dan transportasi semakin cepat dan mudah. Tidak dapat dipungkiri hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempunyai dampak bagi masyarakat baik berdampak positif dan maupun negatif. Dampaknya tidak terbatas dikalangan tertentu saja, namun telah meluas ke semua kalangan baik kalangan terpelajar maupun bukan kalangan terpelajar. Penggunaan Internet bukanlah suatu hal yang istimewa untuk kalangan tertentu , baik dari segi profesi, kalangan masyarakat, pendidikan dan usia. Hampir semua golongan sudah akrab apa yang namanya Internet. Internet merupakan salah satu hasil dari kecanggihan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi buatan manusia. Fungsi internet bermacam-macam, salah satunya yaitu jejaring social (media pertemanan dalam dunia maya) misalnya yang paling banyak diminati yaitu Facebook. Facebook merupakan jejaring sosial yang perkembangannya sangat pesat di kalangan remaja. Facebook merupakan situs social network yang dibuat oleh mahasiswa lulusan Harvard yang bernama Mark Zukerberg. Facebook menduduki rangking pertama sebagai jejaring social yang terlaris di antara jejaring-jejaring sosial lainnya. Tercatat perkembangan penggunaan Facebook oleh masyarakat Indonesia yang mencapai pertumbuhan 64,5 % pada tahun 2008 (Budi Putra mantan editor Harian Tempo yang dirilis oleh CNET Asia portal IT). Indonesia merupakan satu dari berberapa Negara yang mengalami perkembangan pesat penggunaan Facebook. Dari data yang diperoleh dari www.tutorialblogging.com bahwa Indonesia tercatat menduduki rangking ke 2 dari 10 negara pengguna facebook terbanyak. Lebih dari 35.174.940 penduduk Indonesia menggunakan Facebook. Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media (Sadiman dkk, 2005).Banyaknya pengguna facebook membuat facebook dijadikan ajang untuk bertemu teman-teman bahkan yang sudah lama tidak ketemu. Tren pemanfaatan social nework ini sebenarnya menjadi peluang yang cukup menarik untuk dimanfaatkan dalam dunia pendidikan sebagai salah satu media pembelajaran. Oleh karena itu penulis membuat makalah dengan Judul Penggunaan Facebook sebagai Media Pembelajaran. I.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang permasalahan tersebut maka penulis merumuskan masalah Bagaimana Penggunaan Facebook sebagai Media Pembelajaran 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu : 1. Bagaimana menggunakan Facebook sebagai media pembelajaran 2. Bagaimana peran guru dalam memaksimalkan penggunaan Facebook sebagai media pembelajaran yang komunikatif. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah Aplikasi Facebook.

Pengertian Facebook menurut Wikipedia berbahasa Indonesia adalah sebuah situs web jejaring popular yang diluncurkan pada tanggal 4 februari 2004 . Facebook didirikan oleh

Mark Zukerberg, seorang mahasiswa Harvard kelahiran 14 Mei 1984 dan mantan murid Ardshley High Scholl. Facebook dapat juga diartikan sebuah web jejaring sosial (pertemanan). Facebook memungkinkan para pengguna menambahkan profil dengan kontak, foto, video ataupun informasi lainnya yang bersifat personal dan dapat bergabung dengan komunitas untuk melakukan koneksi dan interaksi dengan pengguna lainnya . Sejarah Facebook berawal ketika Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa Harvard lulusan Ardsley High Scholl, awal penggunaannya hanya diperuntukkan bagi mahasiswa Harvard College, dalam dua bulan selanjutnya , keanggotaanya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Universitas Boston, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Selanjutnya banyak perguruan tinggi yang ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun dalam peluncurannya (www.gomecomputer.com). Selanjutnya dikembangkan jaringan jaringan ke sekolah tingkat atas daaaaan beberapa perusahaan besar , sampai akhirnya pada bulan September 2006 Facebook mulai membuka pendaftaran bagi siapa saja yang memiliki alamat e-mail. Pada waktu itu jumlah pengguna Facebook terus bertambah. Sampai beberapa perusahaan besar dalam bidang IT seperti Friendster, Viacom sampai yahoo tertarik untuk mengakuisi Facebook dengan harga yang sangat fantastis ((www.gomecomputer.com). Namun semua itu ditolak mentah-mentah oleh Mark Zuckerberg. Langkah yang diambil Mark Zuckerberg sangat tepat sekali, karena Facebook terus berkembang pada tahun 2007, Facebook menambah 200 ribu account baru setiap harinya. Lebih dari 25 juta user aktif menggunakan facebook setiap harinnya . Sampai pada tahun 2009 penghasilan facebook mencapai nominal 800 juta US Dollar. Untuk jumlah pengguna, di tahun 2010 menurut sumber terbaru sudah melebihi angka 500 juta user (www.gomecomputer.com). Sejak tahun 2007, penggunaan Facebook di Indonesia sangat besar . Penggunaan Facebook ternyata memberi dampak positif dan negatif di kalangan masyarakat , terutama digunakan secara berlebihan. Dari data yang diambil sampai periode September 2010 urutan 5 Negara terbesar pengguna Facebook . seperti tabel dibawah ini : No Country Numbers of Facebook users Sept 2008 Numbers of Facebook users Sept 2009 Numbers of Facebook users Sept 2010 12 month growth % 24 month growth % 1 USA 32,931,680 84,596,240 138,660 64% 321.1 % 2 UK 12,637,540 20,228,480 27,279,920 34,9% 115% 3 Indonesia 322.840 8,786 26,870 205,8% 8223,2% 4 Turkey 4,566,000 13,996,000 22,689,000 62,1 % 396.6% 5 France 3,381,000 12,032,000 18,875,000 56,9 % 458,2 % Sumber : http//www.nickburcher.com/2010/09/facebook-usagestatistics-by-country.html Dari tabel diketahui pengguna Facebook di Indonesia pada periode September 2010 mencapai peringkat ke- tiga dunia dan tidak tertutup kemungkinan dari tren persentase bulan desember 2010 bisa mencapai peringkat ke-2 dunia, disini kita perlu pahami bahwa Indonesia salah satu Negara yang sangat padat penduduk. Hal ini merupakan peluang terbesar bagi kita bisa memanfaatkan Facebook sebagai media yang bernilai positif 2.2 Penyimpangan dalam penggunaan Facebook

Akhir-akhir ini banyak dijumpai pemberitaan di media cetak dan elektronik yang memberitakan tentang penyalahgunaan situs jejaring sosial, berita yang paling sering kita dengar yaitu seorang anak remaja laki-laki membawa kabur seorang perempaun yang baru dikenalnya melalui situs jejaring sosial. Dan penggunaan Facebook sebagai ajang prositusi dikalangan remaja . keadaan ini sangat ironis dengan tujuan utama Social Networking dibuat, yaitu untuk memperluas hubungan sosial . Tidak hanya kehidupan umum saja yang terkena dampak dari peny

of 65/65
MODEL PEMBELAJARAN LATIHAN LABORATORIS ( LABOORATORY TRAINING/ T-GROUP ) 1. Pengantar. Tahun 1947di Bethel, Maine, pelatihan laboratoris atau sering disebut T-Group muncul sebagai bentuk perhatian terhadap meningkatnya perubahan individu dan sosial dalam masyarakat modern dan untuk memperbarui dan meningkatkan metade yang memfasilitasi respon individu dan untuk mengontrol perubahan yang terjadi. Perubahan tersebut antara lain emosi, kepercayaan, norma, kebutuhan, kebiasaan, pola interaksi dan lain-lain. Perubahan didalam masyarakat menimbulkan permintaan personal/ individu dan sosial dan untuk menghindari kegagalan individu membutuhkan keintregasian aspek kognitif dan emosi sejalan dengan aspek personal dan sosial. Kemampuan untuk hidup dalam keambiguan (ketidak jelasan), perubahan, bekerja sama dan berdaya cipta sosial adalah kebutuhan dan keefektifan keanggotaan sosial. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah model pembelajaran yang menyediakan rehabilitasi individu dan rekon struksi sosial. 2. Rumusan masalah. Rumusan masalah dari kertas kerja berikut ini adalah sebagai berikut: 1. Pengenalan model pembelajaran latihan laboratoris; sintakmatik, sistem sosial, prinsip reaksi, dampak instruksional langsung ataupun penggiring. 2. Aplikasi model latihan laboratoris. 3. Analisis kritis terhadap penerapan latihan laboratoris
Embed Size (px)
Recommended