Home > Documents > Mini Project Mereka

Mini Project Mereka

Date post: 06-Feb-2016
Category:
Author: dewikurnialestari
View: 92 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Description:
miniproject
Embed Size (px)
of 85 /85
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Millenium Development Goals (MDG’s) atau Tujuan Pembangunan Milenium merupakan tujuan pembangunan global. Salah satu tujuan dalam MDG’s yaitu menurunkan angka gizi buruk dari 17,9 persen pada tahun 2010 menjadi 15,1 persen pada tahun 2015. Target Millenium Development Goals (MDG's) 2015 sebesar 15% tak tercapai. 50,51 Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk, diantaranya adalah status sosial ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang pemberian gizi yang baik untuk anak, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), serta penyakit penyerta. 10,11 Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran hidup. 12 Sosial ekonomi merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial ekonomi keluarga dilihat dari variabel tingkat pekerjaan. 1 Selain status sosial ekonomi, BBLR juga dapat mempengaruhi terjadinya gizi buruk, hal ini dikarenakan bayi yang mengalami BBLR akan mengalami komplikasi penyakit karena kurang matangnya organ, menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan gizi saat balita. 13 1
Transcript

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangMillenium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium merupakan tujuan pembangunan global. Salah satu tujuan dalam MDGs yaitu menurunkan angka gizi buruk dari 17,9 persen pada tahun 2010 menjadi 15,1 persen pada tahun 2015. Target Millenium Development Goals (MDG's) 2015 sebesar 15% tak tercapai. 50,51Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk, diantaranya adalah status sosial ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang pemberian gizi yang baik untuk anak, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), serta penyakit penyerta.10,11 Sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran hidup.12 Sosial ekonomi merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial ekonomi keluarga dilihat dari variabel tingkat pekerjaan.1 Selain status sosial ekonomi, BBLR juga dapat mempengaruhi terjadinya gizi buruk, hal ini dikarenakan bayi yang mengalami BBLR akan mengalami komplikasi penyakit karena kurang matangnya organ, menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan gizi saat balita.13Asupan makanan keluarga, faktor infeksi, dan pendidikan ibu juga bisa menjadi penyebab kasus gizi buruk.14 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan kejadian gizi buruk. menunjukkan bahwa terdapat hubungan status ekonomi, pendidikan ibu, pengetahuan ibu dalam monitoring pertumbuhan, perhatian dari ibu, pemberian ASI, kelengkapan imunisasi, dan asupan makanan balita dengan kejadian gizi buruk.11 Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan yang merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita.15 Selain pendidikan, pemberian ASI dan kelengkapan imunisasi juga memiliki hubungan yang bermakna dengan gizi buruk karena ASI dan imunisasi memberikan zat kekebalan kepada balita sehingga balita tersebut menjadi tidak rentan terhadap penyakit. Balita yang sehat tidak akan kehilangan nafsu makan sehingga status gizi tetap terjaga baik.16,17Menurut data yang diperoleh dari Depkes (2010) memperlihatkan prevalensi gizi buruk di Indonesia terus menurun dari 9,7% di tahun 2005 menjadi 4,9% di tahun 2010.6 Merujuk pada data Direktorat Bina Gizi, terdapat beberapa provinsi yang tercatat memiliki jumlah penderita gizi buruk yang cukup tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar 2010, prevalensi gizi buruk di Pulau Jawa yang tertinggi adalah Banten dan Jatim sebesar 4,8 %.51 Propinsi Jawa Timur merupakan wilayah yang berpotensi dalam menyumbang tingginya jumlah penderita gizi buruk di negeri Indonesia. Berdasarkan hasil survey Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo tahun 2014 ditemukan kasus gizi buruk sebesar 2,6% dari target kurang dari 5%. Angka kejadian gizi buruk di Kecamatan Besuki tahun 2013 sebanyak 11 kasus dengan prevalensi 0,26% dan pada tahun 2014 sebesar 17 kasus dengan prevalensi 0,33%.Gizi buruk merupakan masalah yang kompleks dan penyebab gizi buruk pada balita mempunyai peranan yang bervariasi, sehingga peneliti tertarik untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi tingginya kasus gizi buruk di kecamatan besuki pada tahun 2014. 1.2 Masalah Penelitian Masalah yang diangkat adalah kenaikan angka kejadian gizi buruk yaitu tahun 2013 sebesar 0,26 % menjadi 0,33 % pada tahun 2014 di wilayah kerja Puskesmas Besuki Kabupaten Situbondo.1.3 Pembatasan MasalahTidak semua faktor penyebab masalah gizi buruk diteliti karena adanya keterbatasan waktu pengamatan. Penelitian kejadian gizi buruk difokuskan pada faktor pemberian ASI.1.4 Rumusan Masalah Apakah peranan ASI Ekslusif mempengaruhi tingginya kasus gizi buruk di kecamatan besuki pada tahun 2014?

1.5 Tujuan Penelitian1.5.1 Tujuan UmumMenyusun upaya menurunkan kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Besuki berdasarkan analisis faktor ASI.1.5.2 Tujuan KhususMenganalisis pengaruh ASI terhadap kejadian gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Besuki Kabupaten Situbondo.1.6 Manfaat Penelitian1.6.1 Bagi Peneliti1. Mengimplementasikan ilmu dan pengetahuan kedokteran2. Memperluas wacana tentang gizi buruk1.6.2 Bagi Institusi Puskesmas Besuki Kabupaten SitubondoMemberikan informasi dalam pengambilan keputusan untuk mengentaskan kejadian kasus gizi buruk terkait faktor ASI.1.6.3 Bagi MasyarakatMemberikan informasi kepada masyarakat mengenai peran ASI sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk, sehingga dapat dilakukan upaya pencegahan terjadinya gizi buruk.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1 Definisi Gizi BurukGizi buruk merupakan istilah teknis yang biasanya digunakan oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran.2 Gizi buruk adalah kondisi seseorang yang nutrisinya di bawah rata-rata.21 Hal ini merupakansuatu bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun.2Balita disebut gizi buruk apabilaindeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) < -3 SD.3Keadaan balita dengan gizi buruk sering digambarkan dengan adanya busung lapar.22.2 Pengukuran Gizi BurukGizi buruk ditentukan berdasarkan beberapa pengukuran antara lain: Pengukuran klinis : metode ini penting untuk mengetahui status gizi balita tersebut gizi buruk atau tidak.Metode ini pada dasarnya didasari oleh perubahan-perubahan yang terjadi dan dihubungkan dengan kekurangan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit,rambut,atau mata.22Misalnya pada balita marasmus kulit akan menjadi keriput sedangkan pada balita kwashiorkor kulit terbentuk bercak-bercak putih atau merah muda (crazy pavement dermatosis).23 Pengukuran antropometrik : pada metode ini dilakukan beberapa macam pengukuran antara lain pengukuran tinggi badan,berat badan, dan lingkar lengan atas. Beberapa pengukuran tersebut, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas sesuai dengan usia yang paling sering dilakukan dalam survei gizi.Di dalam ilmu gizi, status gizi tidak hanya diketahui denganmengukur BB atau TB sesuai dengan umur secara sendiri-sendiri, tetapi juga dalam bentuk indikator yang dapat merupakankombinasi dari ketiganya.24

Berdasarkan Berat Badan menurut Umur diperoleh kategori :31. Tergolong gizi buruk jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.2. Tergolong gizi kurang jika hasil ukur -3 SD sampai dengan < -2 SD.3. Tergolong gizi baikjika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.4. Tergolong gizi lebih jika hasil ukur > 2 SD.Berdasarkan pengukuran Tinggi Badan (24 bulan-60 bulan) atau Panjang badan (0 bulan-24 bulan) menurut Umur diperoleh kategori :31. Sangat pendek jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.2. Pendek jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.3. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.4. Tinggi jika hasil ukur > 2 SD.Berdasarkan pengukuran Berat Badan menurut Tinggi badan atau Panjang Badan:31. Sangat kurus jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.2. Kurus jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.3. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.4. Gemuk jika hasil ukur > 2 SD.Balita dengan gizi buruk akan diperoleh hasil BB/TB sangat kurus, sedangkan balita dengan gizi baik akan diperoleh hasil normal.3

2.3 Klasifikasi Gizi BurukGizi buruk berdasarkan gejala klinisnya dapat dibagi menjadi 3 :2.3.1 MarasmusMarasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering ditemukan pada balita.25 Hal ini merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk. Gejala marasmus antara lain anak tampak kurus, rambut tipis dan jarang,kulit keriput yang disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang, muka seperti orang tua (berkerut), balita cengeng dan rewel meskipun setelah makan, bokong baggy pant, dan iga gambang.26Pada patologi marasmus awalnya pertumbuhan yang kurang dan atrofi otot serta menghilangnya lemak di bawah kulit merupakan proses fisiologis.Tubuh membutuhkan energi yang dapat dipenuhi oleh asupan makanan untuk kelangsungan hidup jaringan. Untuk memenuhi kebutuhan energi cadangan protein juga digunakan. Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan energi tetapi juga untuk sistesis glukosa.272.3.2 KwashiorkorKwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang inadekuat.4,5 Hal ini seperti marasmus,kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari tingkat keparahan gizi buruk.25 Tanda khas kwashiorkor antara lain pertumbuhan terganggu, perubahan mental,pada sebagian besar penderita ditemukan oedema baik ringan maupun berat, gejala gastrointestinal,rambut kepala mudah dicabut,kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar,sering ditemukan hiperpigmentasi dan persikan kulit,pembesaran hati,anemia ringan,pada biopsi hati ditemukan perlemakan.24Gangguan metabolik dan perubahan sel dapat menyebabkan perlemakan hati dan oedema. Pada penderita defisiensi protein tidak terjadi proses katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi dengan jumlah kalori yang cukup dalam asupan makanan. Kekurangan protein dalam diet akan menimbulkan kekurangan asam amino esensial yang dibutuhkan untuk sintesis. Asupan makanan yang terdapat cukup karbohidrat menyebabkan produksi insulin meningkat dan sebagian asam amino dari dalam serum yang jumlahnya sudah kurang akan disalurkan ke otot. Kurangnya pembentukan albumin oleh hepar disebabkan oleh berkurangnya asam amino dalam serum yang kemudian menimbulkan oedema.272.3.3 Marasmiks-KwashiorkorMarasmic-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran dari beberapa gejala klinis antara kwashiorkor dan marasmus dengan Berat Badan (BB) menurut umur (U) < 60% baku median WHO-NCHS yang disertai oedema yang tidak mencolok.282.4. Faktor risikoFaktor risiko gizi buruk antara lain :2.4.1 Asupan makananAsupan makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup atau salah mendapat makanan bergizi seimbang, dan pola makan yang salah.2 Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan balita adalah air, energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.Setiap gram protein menghasilkan 4 kalori, lemak 9 kalori, dan karbohidrat 4 kalori.Distribusi kalori dalam makanan balita dalam keseimbangan diet adalah 15% dari protein, 35% dari lemak, dan 50% dari karbohidrat.Kelebihan kalori yang menetap setiap hari sekitar 500 kalori menyebabkan kenaikan berat badan 500 gram dalam seminggu.26Setiap golongan umur terdapat perbedaan asupan makanan misalnya pada golongan umur 1-2 tahun masih diperlukan pemberian nasi tim walaupun tidak perlu disaring.Hal ini dikarenakan pertumbuhan gigi susu telah lengkap apabila sudah berumur 2-2,5 tahun.Lalu pada umur 3-5 tahun balita sudah dapat memilih makanan sendiri sehingga asupan makanan harus diatur dengan sebaik mungkin.Memilih makanan yang tepat untuk balita harus menentukan jumlah kebutuhan dari setiap nutrien,menentukan jenis bahan makanan yang dipilih, dan menentukan jenis makanan yang akan diolah sesuai dengan hidangan yang dikehendaki.26Sebagian besar balita dengaan gizi buruk memiliki pola makan yang kurang beragam.Pola makanan yang kurang beragam memiliki arti bahwa balita tersebut mengkonsumsi hidangan dengan komposisi yang tidak memenuhi gizi seimbang. Berdasarkan dari keseragaman susunan hidangan pangan, pola makanan yang meliputi gizi seimbang adalah jika mengandung unsur zat tenaga yaitu makanan pokok, zat pembangun dan pemelihara jaringan yaitu lauk pauk dan zat pengatur yaitu sayur dan buah.29Menurut penelitian yang dilaksanakan di Kabupaten Magelang, konsumsi protein(OR 2,364) dan energi (OR 1,351) balita merupakan faktor risiko status gizi balita.302.4.2 Status sosial ekonomiSosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat sedangkan ekonomi adalah segala usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan untuk mencapai kemakmuran hidup.31 Sosial ekonomi merupakan suatu konsep dan untuk mengukur status sosial ekonomi keluarga dilihat dari variabel tingkat pekerjaan.1 Rendahnya ekonomi keluarga, akan berdampak dengan rendahnya daya beli pada keluarga tersebut. Selain itu rendahnya kualitas dan kuantitas konsumsi pangan, merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita. Keadaan sosial ekonomi yang rendah berkaitan dengan masalah kesehatan yang dihadapi karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk mengatasi berbagai masalah tersebut.12Balita dengan gizi buruk pada umumnya hidup dengan makanan yang kurang bergizi.29Bekerja bagi ibu mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Ibu yang bekerja mempunyai batasan yaitu ibu yang melakukan aktivitas ekonomi yang mencari penghasilan baik dari sektor formal atau informal yang dilakukan secara reguler di luar rumah yang akan berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki oleh ibu untuk memberikan pelayanan terhadap anaknya.Pekerjaan tetap ibu yang mengharuskan ibu meninggalkan anaknya dari pagi sampai sore menyebabkan pemberian ASI tidak dilakukan dengan sebagaimana mestinya.32Masyarakat tumbuh dengan kecenderungan bahwa orang yang bekerja akan lebih dihargai secara sosial ekonomi di masyarakat.Pekerjaan dapat dibagi menjadi pekerjaan yang berstatus tinggi yaitu antara laintenaga administrasi tata usaha,tenaga ahli teknik dan ahli jenis, pemimpin,dan ketatalaksanaan dalam suatu instansi baik pemerintah maupun swasta dan pekerjaan yang berstatus rendah antara lain petani dan operator alat angkut.33 Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten Kampar Kepulauan Riau terdapat hubungan bermakna status ekonomi dengan kejadian gizi buruk p=0,0001.34.2.4.3 Pendidikan ibuKurangnya pendidikan dan pengertian yang salah tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia.Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi.Salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan adalah pendidikan yang rendah. Adanya pendidikan yang rendah tersebut menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupan.35 Rendahnya pendidikan dapat mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga, yang selanjutnya mempengaruhi kuantitas dan kualitas konsumsi pangan yang merupakan penyebab langsung dari kekurangan gizi pada anak balita.36Tingkat pendidikan terutama tingkat pendidikan ibu dapat mempengaruhi derajat kesehatan karena pendidikan ibu berpengaruh terhadap kualitas pengasuhan anak.Tingkat pendidikan yang tinggi membuat seseorang mudah untuk menyerap informasi dan mengamalkan dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan adalah usaha yang terencana dan sadar untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri dan ketrampilan yang diperlukan oleh diri sendiri, masyarakat, bangsa,dan negara.36Jalur pendidikan terdiri dari pendidikan formal dan non formal yang bisa saling melengkapi. Tingkat pendidikan formal merupakan pendidikan dasar,pendidikan menengah,dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar merupakan tingkat pendidikan yang melandasi tingkat pendidikan menengah. Tingkat pendidikan dasar adalah Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama atau bentuk lain yang sederajat, sedangkan pendidikan menengah adalah lanjutan dari pendidikan dasar yaitu Sekolah Menengah Atas atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan tinggi merupakan tingkat pendidikan setelah pendidikan menengah yang terdiri dari program diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.36 Tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi balita karena pendidikan yang meningkat kemungkinan akan meningkatkan pendapatan dan dapat meningkatkan daya beli makanan. Pendidikan diperlukan untuk memperoleh informasi yang dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang.352.4.4 Penyakit penyertaBalita yang berada dalam status gizi buruk, umumnya sangat rentan terhadap penyakit. Seperti lingkaran setan, penyakit-penyakit tersebut justru menambah rendahnya status gizi anak.26Penyakit-penyakit tersebut adalah:1. Diare persisten :sebagai berlanjutnya episode diare selama 14hari atau lebih yang dimulai dari suatu diare cair akut atau berdarah (disentri).Kejadian ini sering dihubungkan dengan kehilangan berat badan dan infeksi non intestinal. Diare persisten tidak termasuk diare kronik atau diare berulang seperti penyakit sprue, gluten sensitive enteropathi dan penyakit Blind loop.262. Tuberkulosis : Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yaitu kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru atau di berbagai organ tubuh hidup lainnya yang mempunyai tekanan parsial oksigen yang tinggi. Bakteri ini tidak tahan terhadap ultraviolet, karena itu penularannya terjadipada malam hari. Tuberkulosis ini dapat terjadi pada semua kelompok umur, baik di paru maupun di luar paru.263. HIV AIDS : HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiencyvirus. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit- penyakit.26Penyakit tersebut di atas dapat memperjelek keadaan gizi melalui gangguan masukan makanan dan meningkatnya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Terdapat hubungan timbal balik antara kejadian penyakit dan gizi kurang maupun gizi buruk.Anak yang menderita gizi kurang dan gizi buruk akan mengalami penurunan daya tahan, sehingga rentan terhadap penyakit. Di sisi lain anak yang menderita sakit akan cenderung menderita gizi buruk.26 Menurut penelitian yang dilakukan di Jogjakarta terdapat perbedaan penyakit yang bermakna antara balita KEP dengan balita yang tidak KEP(p=0,034) CI 95%.142.4.5 Pengetahuan ibuIbu merupakan orang yang berperan penting dalam penentuan konsumsi makanan dalam keluaga khususnya pada anak balita.Pengetahuan yang dimiliki ibu berpengaruh terhadap pola konsumsi makanan keluarga.Kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi menyebabkan keanekaragaman makanan yang berkurang. Keluarga akan lebih banyak membeli barang karena pengaruh kebiasaan, iklan, dan lingkungan. Selain itu, gangguan gizi juga disebabkan karena kurangnya kemampuan ibu menerapkan informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari.352.4.6 Berat Badan Lahir RendahBayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi sedangkan berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir.15Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Bayi yang lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu ini pada umumnya disebabkan oleh tidak mempunyai uterus yang dapat menahan janin, gangguan selama kehamilan,dan lepasnya plasenta yang lebih cepat dari waktunya. Bayi prematur mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim sehingga semakin muda umur kehamilan, fungsi organ menjadi semakin kurang berfungsi dan prognosanya juga semakin kurang baik. Kelompok BBLR sering mendapatkan komplikasi akibat kurang matangnya organ karena prematur.37Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) juga dapat disebabkan oleh bayi lahir kecil untuk masa kehamilan yaitu bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan saat berada di dalam kandungan.Hal ini disebabkan oleh keadaan ibu atau gizi ibu yang kurang baik. Kondisi bayi lahir kecil ini sangat tergantung pada usia kehamilan saat dilahirkan. Peningkatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas neonatus, bayi,dan anak merupakan faktor utama yang disebabkan oleh BBLR.37 Gizi buruk dapat terjadi apabila BBLR jangka panjang.Pada BBLR zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit terutama penyakit infeksi. Penyakit ini menyebabkan balita kurang nafsu makan sehingga asupan makanan yang masuk kedalam tubuh menjadi berkurang dan dapat menyebabkan gizi buruk.152.4.7 Kelengkapan imunisasiImunisasi berasal dari kata imun yaitu resisten atau kebal. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya dapat memberi kekebalan terhadap penyakit tersebut sehingga bila balita kelak terpajan antigen yang sama, balita tersebut tidak akan sakit dan untuk menghindari penyakit lain diperlukan imunisasi yang lain. Infeksi pada balita penting untuk dicegah dengan imunisasi.13 Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan terhadap suatu antigen yang dapat dibagi menjadi imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat.16Imunisasi juga dapat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian, menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit, memperbaiki tingkat kesehatan,dan menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara.34 Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang paling peka terhadap penyakit dan sistem kekebalan tubuh balita masih belum sebaik dengan orang dewasa.13Sistem kekebalan tersebut yang menyebabkan balita menjadi tidak terjangkit sakit. Apabila balita tidak melakukan imunisasi, maka kekebalan tubuh balita akan berkurang dan akan rentan terkena penyakit. Hal ini mempunyai dampak yang tidak langsung dengan kejadian gizi.Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali tetapi dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit untuk mempertahankan agar kekebalan dapat tetap melindungi terhadap paparan bibit penyakit.Macam- macam imunisasi antara lain:13a. BCG : vaksin untuk mencegah TBC yang dianjurkan diberikan saat berumur 2 bulan sampai 3 bulan dengan dosis 0,05 ml pada bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml pada anak disuntikkan secara intrakutan.13b. Hepatitis B : salah satu imunisasi yang diwajibkan dengan diberikan sebanyak 3 kali dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua kemudian 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga.Usia pemberian dianjurkan sekurang-kurangnya 12 jam setelah lahir.13c. Polio : imunisasi ini terdapat 2 macam yaitu vaksi oral polio dan inactivated polio vaccine.Kelebihan dari vaksin oral adalah mudah diberikan dan murah sehingga banyak digunakan.13d. DPT : vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan tetanus yang dimurnikan serta bakteri pertusis yang diinaktivasi.13e. Campak : imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena termasuk penyakit menular. Pemberian yang dianjurkan adalah sebanyak 2 kali yaitu pada usia 9 bulan dan pada usia 6 tahun.13f. MMR : diberikan untuk penyakit measles,mumps,dan rubella sebaiknya diberikan pada usia 4 bulan sampai 6 bulan atau 9 bulan sampai 11 bulan yang dilakukan pengulangan pada usia 15bulan-18 bulan.13g. Typhus abdominal : terdapat 3 jenis vaksin yang terdapat di Indonesia yaitu kuman yang dimatikan, kuman yang dilemahkan, dan antigen capsular Vi polysaccharida.13h. Varicella : pemberian vaksin diberikan suntikan tunggal pada usia diatas 12 tahun dan usia 13 tahun diberikan 2 kali suntikan dengan interval 4-8mg.13i. Hepatitis A: imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya hepatitis A yang diberikan pada usia diatas 2 tahun.13j. HiB : Haemophilus influenzae tipe b yang digunakan untuk mencegah terjadinya influenza tipe b dan diberikan sebanyak 3 kali suntikan.13Menurut penelitian yang dilakukan di Kabupaten Lombok Timur, imunisasi yang tidak lengkap terdapat hubungan yang bermakna dengan kejadian gizi buruk OR(95%CI) dari 10,3; p 34 mgg: BBL > 1800 gram. Mendapatkan semua kebutuhan dari payudara.4. Bayi kuningPencegahan : segera menyusui setelah lahir, dan jangan dibatasi atau susui sesering mungkin. Berikan bayi kolustrum, kolustrum mengandung purgatif ringan, yang membantu bayi untuk mengeluarkan mekonium. Bilirubin dikeluarkan melalui feses, jadikolustrum berfungsi mencegah dan menghilangkan bayi kuning.5. Bayi kembarIbu optimis ASI nya cukup, susui dengan football position, susui pada payudara dengan bergantian untuk variasi bayi, dan kemampuan menghisap mungkin berbeda6. Bayi sakitTidak ada alasan untuk menghentikan pemberian ASI. Untuk bayi tertentu seperti diare, justru membutuhkan lebih banyak ASI untuk rehidrasi.Yakinkan ibu bahwa alam telah menyiapkan air susu bagi semua makhluk, sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu semua ibu sebenarnya sanggup menyusui bayi kembar.7. Bayi sumbingBayi tidak akan mengalami kesulitan menyusui, cukup dengan berikan posisi yang sesuai, untuk sumbing pallatum molle ( langit-langit lunak ), dan pallatum durum(langit-langit keras). Manfaat menyusui bagi bayi sumbing : melatih kekuatan otot rahang dan lidah, memperbaiki perkembangan bicara, mengurangi resiko terjadinya otitis media.Untuk bayi dengan palatoskisis ( celah pada langit-langit ) : Menyusui dengan posisi duduk, putting dan areola pegang saat menyusui, ibu jari ibu digunakan sebagai penyumbat lubang, kalau mengalami labiopalatoskisis, berikan ASI dengan sendok, pipet, dot panjang.

8. Bayi dengan lidah pendek ( Lingual Frenulum ) Keadaan ini jarang terjadi, dimana bayi mempunyai jaringan ikat penghubunglidah dan dasar mulut yang tebal dan kaku, sehingga membatasi gerak lidah, dan bayi tidak dapat menjulurkan lidah untuk menangkap puting. Cara menyusui : Ibu membantu dengan menahan kedua bibir bayi segera setelah bayi dapat menangkap puting dan areola dengan benar9. Bayi yang memerlukan perawatan Ibu ikut dirawat supaya pemberian ASI bisa dilanjutkan. Seandainya tidak memungkinkan, ibu dianjurkan untuk memerah ASI setiap 3 jam dan disimpan didalam lemari untuk kemudian sehari sekali daiantar kerumah sakit.Perlu ditandai pada botol waktu ASI tersebut ditampung, sehingga dapat diberikan sesuai jam nya.

B. Faktor-faktor dari Ibu dan Keluarga1. Perubahan sosial budaya Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya.Kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam angkatan kerja dan adanya emansipasi dalam segala bidang kerja dan di kebutuhan masyarakat menyebabkan turunnya kesediaan menyusui dan lamanya menyusui. Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol. Persepsi masyarakatkan gaya hidup mewah membawa dampak menurutnya kesediaan menyusui. Bahkan adanya pandangan bagi kalangan terentu bahwa susu botol sangat cocok buat bayi dan terbaik. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain, atau tanya untuk prestise. Merasa ketinggalan zaman jika menyusui bayinya.Budaya modern dan perilaku masyarakat yang meniru negara barat mendesak para ibu untuk segera menyapih anaknya dan memilih air susu buatan sebagai jalan keluarnya.

2. Faktor psikologis Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.Adanya anggapan para ibu bahwa menyusui akan merusak penampilan. Padahal setiap ibu yang mempunyai bayi selalu mengubah payudara, walaupun menyusui atau tidak menyusui. Tekanan batin.Ada sebagian kecil ibu mengalami tekanan batin di saat menyusui bayi sehingga dapat mendesak si ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama menyusui bayinya, bahkan mengurangi menyusui.

3. Faktor fisik ibu Alasan yang cukup sering basi ibu untuk menyusui adalah karena ibu sakit, baik sebentar maupun lama.Tetapi.sebenarnya jarang sekali ada penyakit yang mengharuskan berhenti menyusui. Dari jauh lebih berbahaya untuk mulai memberi bayi makanan buatan daripada membiarkan bayi menyusu dari ibunya yang sakit.4. Faktor kurangnya petugas kesehatanMasyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai manfaat dan cara pemanfaatannya. 5. Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI. Peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang memudahkan periklanan distribusi susu buatan menimbulkan tumbuhnya kesediaan menyusui dan lamanya baik di desa dan perkotaan. Distibusi, iklan dan promosi susu buatan berlangsung terus dan bahkan meningkat titik hanya di televisi, radio dan surat kabar melainkan juga ditempat-tempat praktek swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat di Indonesia. 6. Penerangan yang salah justru datangnya dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng. Penyediaan susu bubuk di Puskesmas disertai pandangan untuk meningkatkan gizi bayi, seringkali menyebabkan salah arah dan meningkatkan pemberian susu botol. Prornosi ASI yang efektif haruslah dimulai pada profesi kedokteran, meliputi pendidikan di sekolah-sekolah kedokteran yang menekankan pentingnya ASI dan nilai ASI pada umur 2 tahun atau lebih.7. Faktor pengelolaan laktasi di ruang bersalin Untuk menunjang keberhasilan laktasi, bayi hendaknya disusui segera atau sedini mungkin setelah lahir.Namun tidak semua persalinan berjalan normal dan tidak semua dapat dilaksanakan menyusui dini.Ada beberapa persalinan yang terpaksa tidak dapat berjalan lancar dan terpaksa dilakukan dengan tindakan persalinan misalnya seksio sesaria. Dengan mengingat hal diatas, pengelolaan laktasi dapat dikelompokkan 2 cara, yaitu persalinan normal dan persalinan dengan tindakan. a. Persalinan normal Pada persalinan normal, ibu dan bayi dalam keadaan sehat.Oleh karena itu, dapat segera dilaksanakan menyusui dini.Hal tersebut perlu oleh karena menyusui dini mempunyai beberapa manfaat baik terhadap ibu maupun terhadap bayi.Kalau bisa bayi disusukan ke kedua puting ibu secara bergantian.Setelah jalan nafasnya dibersihkan, usahakan menyusui sedini mungkin dan tidak melebihi waktu lewat jam sesudah lahir.b. Persalinan dengan tindakan Dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian masalah :1. Persalinan dengan tindakan narkosa misalnya seksio sesaria menyusui dini perlu ditunda sampai pasien sadar, karena ASI pada ibu dan tindakan ini mempunyai efek terhadap bayi. Misalnya bayi menjadi mengantuk sehingga malas menyusu.Sebaiknya sesudah ibu sadar ditanyakan dahulu untuk menyusui bayinya pada saat tersebut.2. Persalinan dengan tindakan tanpa narkosa. Persalinan dengan tindakan tanpa narkosa yang kemungkinan mempunyai pengaruh pada bayi. Dalam hal ini bayi tidak dapat menyusui secara aktif , oleh karena itu ASI diberi secara aktif pasif yaitu dengan pipet/sendok. Walaupun demikian bila keadaan bayi memungkinkan untuk diangkat menyusui dini dapat dilakukan seperti biasa. Pendapat daripada ahli-ahli kesehatan dan kebiasaan rumah-rumah sakit mempunyai dampak terhadap pendapat para ibu tentang alternatif pemberian susu kepada bayi. Terutama bagi ibu-ibu yang melahirkan perlu sekali diberi penyuluhan tentang cara-cara pemberian ASI yang menjamin kelancaran produksi ASI sejak bayi lahir.

BAB IIIMETODOLOGI PENELITIAN

A. DESAIN PENELITIANPada penelitian ini, desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif.

B. TEMPAT DAN WAKTUPengambilan data dilakukan di Puskesmas Besuki.Waktu pengambilan data dilakukan selama 8 hari, yaitu sejak tanggal 22 November - 29 November 2014. Data yang diambil dari hasil pengukuran antropometri balita 0-5 tahun yang mengikuti kegiatan skrining gizi buruk di wilayah Puskesmas Besuki.

C. POPULASI DAN SAMPEL1. Populasi Balita usia 0-5 tahun di wilayah Puskesmas Besuki. 2. SampelBalita usia 0-5 tahun yang mengalami gizi buruk di wilayah Puskesmas Besuki.

D. SUMBER DATA1. Data PrimerData Primer diperoleh langsung dari hasil pengukuran antropometri balita 0-5 tahun yang mengikuti kegiatan skrining gizi buruk di wilayah Puskesmas Besuki Kecamatan Besuki.2. Data SekunderData sekunder diperoleh dari catatan medik balita 0-5 tahun gizi buruk yang dimiliki oleh bagian Gizi Puskesmas Besuki Kecamatan Besuki.

BAB IVGAMBARAN UMUMA. PROFIL KOMUNITAS UMUMKEPALA PUSKESMASZAINUDDIN S. Kep., NersKEPALA TATA USAHASUJIANTO S. KepKOOR. TIM MANAJEMEN MUTUDrg. UCIEK F.KOORDINATOR UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT (PEMBERDAYAAN)PENANGGUNGJAWABAULIA RAHMAN PENJI : PUSKESMAS DENIEK: KIA HENY: KB AULIA R.: UKS UCIEK: UKGS FITRI: PRB. GIZI UDIN: KES. JIWA KES. KERJA AULIA: PROMKES METAL: KESLING UDIN: KES. INDRA YUDI: BATRA WIWIK: K. USILA AULIA: KES. ORBIDANG PENERIMANI NYOMANBIDANG PENGELUARANPANTI EKO R.BIDANG BARANGNURHAYATIKEPEG & UMUMIMAM FARAIDSP2TPENDANG P.KOOORDINATOR UPAYA PENUNJANGKOOORDINATOR UPAYA KESEHAAN PERORANGAN PENANGGUNGJAWABWAHYUDI PRANOTO LABORATORIUM: PANTI: KAMAR OBAT & GUDANG OBAT ARIESTA: AMBULAN ENDANG: PUSLING PENI: POLI UMUM DENIEK: POLI KIA-KB Drg. UCIEK: POLI GIGI FITRI: KLINIK GIZI SAIFUDIN: UGDPUSTU PESISIRKARTIKAPUSTU DEMUNGSHAFINAPONK. BESUKILINDAPONK. KALIMASCITRAPONK. JETISNININGPONK. S. REJOROBIATUL A.PUSTU W. PAYUNGDOVIPUSTU BLIMBINGTUTIKPONK. LANGKAPRISTAPUSTU BLORONANINGPENANGGUNGJAWABDr. YOAN NATALIA, LA

B. KONDISI GEOGRAFISPuskesmas Besuki merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten Situbondo yang terletak didaerah dataran rendah dan berbatasan dengan laut utara di sebelah utara, sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Suboh, sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan Sumbermalang, serta sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Banyuglugur.Luas wilayah kerja Puskesmas Besuki adalah 26,08 hektar, dan merupakan dataran rendah. Luas wilayah per desa dapat dilihat pada tabel berikut ini.Tabel Luas Wilayah Menurut Desa di Puskesmas BesukiNo.DESALUAS ( hektar )

1.Besuki2.31

2.Pesisir0.56

3.Demung3.59

4.Kalimas0.60

5.Langkap1.14

6.Bloro2.68

7.Blimbing4.97

8.Jetis4.23

9.Widoropayung2.51

10.Sumberejo3.49

Jumlah Desa: 10 desa26.08

Sumber data : Kecamatan Besuki dalam angka tahun 2014

C. KONDISI DEMOGRAFISJumlah penduduk di Puskesmas Besuki tahun 2013 mencapai 61.211 jiwa. Sedangkan masyarakat miskin (Maskin) di Puskesmas Besuki adalah 34209 jiwa dan yang termasuk dalam sasaran program Jamkesmas sebanyak 27154 jiwa yang tersebar di 10 desa.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin di Puskesmas Besuki Tahun 2013 , sebagai berikut :NoNama DesaJumlah PendudukJumlah JAMKESMASJumlah JAMKESDAJumlah JPS/JKD

1Besuki14.9555.9552.2918.246

2Langkap2.8401.2995951.894

3Blimbing6.3552.7583883.146

4Widoropayung4.4472.1436692.812

5Sumberejo2.1141.4841731.657

6Jetis7.5363.5714103.981

7Kalimas4.9721.9192772.196

8Demung4.3631.5054581.963

9Pesisir9.6694.4801.0345.514

10Bloro3.9602.0407602.800

JUMLAH61.21127.1547.05534.209

Sumber Data : Survey Sasaran Prioritas Kec. Besuki Th.2013

D. KETENAGAAN DI PUSKESMAS BESERTA JARINGANNYA Untuk ketenagaan berdasarkan tingkat pendidikan di Puskesmas Besuki beserta jaringannya dapat dilihat pada tabel berikut:No.PendidikanStatus Kepegawaian

P N SP T T/kontrak/ THLP

1Dokter Umum2-

2Dokter Gigi1-

3Apoteker--

4SKM1-

5Akper310

6AKL-1

7AKZI1-

8AKBID523

9SPRG--

10SAA--

11SPK2-

12Bidan1-

13SMAK--

14SPPH--

15SPAG--

16SLTA3-

17SLTP2-

18SD--

J U M L A H2134

Sumber data: Data Dasar Puskesmas Besuki Tahun 2014E. SARANA PELAYANAN KESEHATAN DI KECAMATANSecara umum jumlah sarana pelayanan kesehatan yang berada di Kecamatan Besuki dapat dilihat pada tabel berikut:NOJENIS SARANA YAN KESJUMLAHKETERANGAN

1PUSKESMAS1

2PUSTU5

3POLINDES/PONKESDES6

4PUSLING1

5APOTEK6

6LABORATORIUM3

TOTAL22

Sumber data: Data Dasar Puskemas Besuki Tahun 2014

F. SARANA DAN PRASARANA PENUNJANGDalam rangka pelaksanaan program JAMKESMAS di Puskesmas beserta jaringannya dibutuhkan sarana dan prasarana penunjang berupa obat-obatan/unit farmasi, laboratorium, Radiologi, ECG, USG maupun alat kesehatan lainnya yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :No.

Jenis Sarana PenunjangJumlah Sarana Penunjang

KurangCukupLebih

1.Obat-obatan

2.Laboratorium

3.Bidan Kit

4.UKGM Kit

5.PHN Kit

6.Media Penyuluhan

Sumber data : Data Puskesmas Besuki Tahun 2014BAB VHASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut data yang diperoleh dari Depkes (2010) memperlihatkan prevalensi gizi buruk di Indonesia terus menurun dari 9,7% di tahun 2005 menjadi 4,9% di tahun 2010.6 Merujuk pada data Direktorat Bina Gizi, terdapat beberapa provinsi yang tercatat memiliki jumlah penderita gizi buruk yang cukup tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar 2010, prevalensi gizi buruk di Pulau Jawa yang tertinggi adalah Banten dan Jatim sebesar 4,8 %.51 Propinsi Jawa Timur merupakan wilayah yang berpotensi dalam menyumbang tingginya jumlah penderita gizi buruk di negeri Indonesia. Berdasarkan hasil survey Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo tahun 2014 ditemukan kasus gizi buruk sebesar 2,6% dari target kurang dari 5%. Angka kejadian gizi buruk di Kecamatan Besuki tahun 2013 sebanyak 11 kasus dengan prevalensi 0,26% dan pada tahun 2014 sebesar 17 kasus dengan prevalensi 0,33%.A. PESISIRBerdasarkan data skrining terhadap 9 balita di desa Pesisir, didapatkan 4 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 4 balita tersebut, didapatkan : 1 balita memiliki riwayat mendapat pengobatan TB. Hal ini disebabkan adanya riwayat kontak dengan penderita TB dewasa dan kurangnya pencahayaan serta ventilasi yang memenuhi standard di rumah tersebut. 1 balita mengalami limfadenopathy e.c Infeksi Saluran Pernafasan Atas dengan gejala demam, batuk, nyeri tenggorokan. 1 balita mengalami Stunted dimana tinggi badan kurang menurut umur yang ditandai dengan keterlambatan pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai umur anak. Hal ini diakibatkan kekurangan energy dan protein yang kronis.

B. BESUKIBerdasarkan data skrining terhadap 25 balita di desa Besuki, didapatkan 16 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 16 balita tersebut, didapatkan : 1 balita dengan Kongenital Construction Band Ring karena terjadi gangguan pada fase blastogenesis. Hal ini disebabkan asupan mikronutrien yang tidak memadai. 1 balita dengan Microcephaly dan Down syndrome dengan penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar. Terdapat tanda klinis lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari serta jarak antara jari pertama dan kedua baik tangan maupun kaki melebar. Hal ini disebabkan adanya kelainan kromosom. 1 balita dengan riwayat BBLR mengalami KPSP (Kuesioner Pra SkriningPerkembangan) Penyimpangan di aspek motorik kasar. 1 balita didapatkan mengalami pembesaran kelenjar getah bening dan didapatkan Ayah anak menderita TB Paru.

C. DEMUNGBerdasarkan data skrining terhadap 11 balita di desa Demung, didapatkan 16 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 6 balita tersebut, didapatkan :-1 balita memiliki riwayat mendapat pengobatan TB. Hal ini disebabkan adanya riwayat kontak dengan penderita TB dewasa. -1 balita mengalami Stunted dimana tinggi badan kurang menurut umur yang ditandai dengan keterlambatan pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai umur anak. Hal ini diakibatkan kekurangan energy dan protein kronis. D. JETISBerdasarkan data skrining terhadap 13 balita di desa Jetis, didapatkan 4 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 4 balita tersebut, didapatkan : 1 balita mengalami Oxyuriasis yang disebabkan infeksi cacing oxyuris vermicularis dengan gejala gatal di malam hari dan pada pagi hari keluar cacing pada dubur. Hal ini disebabkan karena pasien kurang menjaga higienitas

E. BLIMBINGBerdasarkan data skrining terhadap 17 balita di desa Blimbing, didapatkan 3 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 3 balita tersebut, didapatkan : 2 balita mengalami Stunted dimana tinggi badan kurang menurut umur yang ditandai dengan keterlambatan pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai umur anak. Hal ini diakibatkan kekurangan energy dan protein kronis. F. BLOROBerdasarkan data skrining terhadap 22 balita di desa Bloro, didapatkan 5 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 5 balita tersebut, didapatkan :-1 balita mengalami Stunted dimana tinggi badan kurang menurut umur yang ditandai dengan keterlambatan pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai umur anak. Hal ini diakibatkan kekurangan energy dan protein kronis. -2 balita mengalami pembesaran kelenjar getah bening dengan riwayat batuk lama.-1 balita dengan bronkopneumonia yang disebabkan oleh infeksi dengan gejala batuk yang disertai sesak nafas dan demam tinggi.-1 balita dengan mikrocepalus mengalami KPSP (Kuesioner Pra SkriningPerkembangan) Penyimpangan dan yang merupakan penyakit gangguan perkembangan otak sehingga ukuran kepala menjadi kecil yang bias terjadi akibat gangguan kromosom atau gangguan saat kehamilan seperti TORCH, Infeksi Cacar air ataupun terpapar bahan kimia beracun.-1 balita dengan riwayat BBLR mengalami KPSP (Kuesioner Pra SkriningPerkembangan) Penyimpangan di aspek motorik kasar.

G. LANGKAPBerdasarkan data skrining terhadap 11 balita di desa Langkap, didapatkan 9 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 9 balita tersebut, didapatkan : 1 balita mengalami Stunted dimana tinggi badan kurang menurut umur yang ditandai dengan keterlambatan pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai anak. Hal ini diakibatkan kekurangan energy dan protein, sering mengalami penyakit kronis, pemberian makan yang tidak sesuai dan faktor kemiskinan. 1 balita dengan pembesaran kelenjar getah bening dan didapatkan nenek pasien menderita penyakit TB Paru.

H. KALIMASBerdasarkan data skrining terhadap 4 balita di desa Kalimas, didapatkan 4 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 4 balita tersebut, didapatkan :

I. WIDOROPAYUNGBerdasarkan data skrining terhadap 20 balita di desa Widoropayung, didapatkan 8 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 8 balita tersebut, didapatkan :-1 balita dengan riwayat BBLR mengalami KPSP (Kuesioner Pra SkriningPerkembangan) Penyimpangan di aspek motorik kasar.

J. SUMBEREJOBerdasarkan data skrining terhadap 12 balita di desa Sumberejo, didapatkan 4 balita mengalami gizi buruk dengan menggunakan indikator BB/TB yang sebelumnya dihitung dengan menggunakan BB/U. Dari 4 balita tersebut, didapatkan : 1 balita mengalami Stunted dimana tinggi badan kurang menurut umur yang ditandai dengan keterlambatan pertumbuhan anak yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai umur anak. Hal ini diakibatkan kekurangan energy dan protein kronis. Dari skrining gizi buruk terhadap balita dengan BGM di 10 desa di Kecamatan Besuki, didapati bahwa hampir semua balita tersebut tidak mendapatkan ASI secara eksklusif . ASI berupa emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara ibu, sebagai makanan utama bayi. ASI bukan minuman, namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi.ASI mempunyai peranan yang penting selama masa emas tumbuh kembang anak terutama selama 6 bulan awal pertumbuhan. Mengingat kandungan nutrisi ASI yang lengkap dan cocok untuk bayi. Disamping itu pemberian ASI lebih praktis, mudah, murah, sedikit kemungkinan untuk terjadi kontaminasi, dan menjalin hubungan psikologis yang erat antara bayi dan ibu yang penting dalam perkembangan psikologi anak tersebut. ASI merupakan makanan alam atau natural, ideal, fisiologis, nutrien yang diberikan selalu dalam keadaan segar dengan suhu yang optimal dan mengandung nutrien yang lengkap dengan komposisi yang sesuai kebutuhan pertumbuhan bayi.Selain itu ASI juga mengandung antibodi atau zat kekebalan yang akan melindungi balita terhadap infeksi. Hal ini yang menyebabkan balita yang diberi ASI, tidak rentan terhadap penyakit sehingga berperan langsung terhadap status gizi balita karena ASI cepat terserap sesuai dengan sistem pencernaan bayi. ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan air putih, serta tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim, kecuali vitamin dan mineral dan obat. Setelah usia bayi 6 bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI, sedangkan ASI terus diberikan sampai 2 tahun.

BAB VISIMPULAN DAN SARAN6.1 SimpulanStatus sosial ekonomi, pendidikan ibu, penyakit penyerta dan pemberian ASI merupakan faktor risiko yang mempengaruhi kejadian gizi buruk. Faktor risiko kejadian gizi buruk yang paling dominan adalah Pemberian ASI.6.2 Saran6.2.1 Puskesmas6.2.1.1 Peranan tenaga kesehatan lebih ditingkatkan dalam memberikan penyuluhan atau petunjuk kepada ibu baru melahirkan dan ibu menyusui tentang manfaat ASI Eksklusif.6.2.1.2 Memotivasi ibu hamil dan keluarga saat ANC untuk memberikan ASI ekslusif6.2.1.3 Petugas kesehatan mampu secara aktif memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemberian ASI secara eksklusif pada bayi sejak lahir.6.2.1.4 Perlu dilakukan skriningawal terhadap balita agar tidak mengalami gizi buruk secara kronik.6.2.1.5 Perlu dilakukan monitoring evaluasi lebih lanjut mengenai pelaporan pemberian ASI eksklusif.6.2.1.6 Perlu koordinasi dengan pemegang TB.6.2.1.7 Perlu koordinasi dengan petugas konseling.6.2.1.8 Meningkatkan IMD.6.2.1.9 Meningkatkan peranan lintas sektor dalam memberikan pengetahuan kepada masyarkat cara menyusui yang benar.6.2.1.10 Melakukan pendekatan kepada tokoh agama dan tokoh masyarkat mengenai budaya pemberian ASI.

6.2.2. Masyarakat6.2.1.1 Masyarakat diharapkan lebih aktif melakukan pemeriksaan kesehatan ibu dan anak secara berkala ke Posyandu setempat.6.2.1.2 Masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam mengikuti kegiatan penyuluhan yang diadakan oleh Puskesmas.

LAMPIRANPESISIR (22-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Eksklusif

1An.S48blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)Ntidak

2An.AP47blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

3An. M26blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

4An.R54blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), ScabiesKTidak

5An.N45blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Riwayat Tx TBKTidak

6An.C36blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

7An.E13blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (+), Dermatitis, Scabies, LymfadenopatyKTidak

8An. A29blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), ShuntedNTidak

9An. L18blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-) , DermatitisNTidak

BESUKI (22-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Ekskusif

1An.A27blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

2An. N48blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

3An. I11blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Kongenital Construction band ringNTidak

4An.A19blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

5An.R22blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

6An.MD19blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met (-)KTidak

7An.H7 blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)N Tidak

8An.H36blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)N Tidak

9An.N42blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), microcephaly down syndromeKTidak

10An.R21blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

11An.A27blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

12An.S32blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

13An.R42blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

14An.S23blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

15An.K48blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (+), evaluasi, dermatitis atopikNTidak

16An.F44blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), ISPAKTidak

17An.S24blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), met (-)NTidak

18An.D32blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), evaluasiNTidak

19An.R24blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), evaluasiKTidak

20An.A40blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), rhinitis+furunkelKTidak

21An.A42blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

22An.H37blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),DeratitisKTidak

23An.R30blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),evaluasi KPSP, DADRKTidak

24An.MY39blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), ISPAKTidak

25An.I40blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (+), Ayah Ps TB(+)KTidak

DEMUNG (24-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Ekskusif

1An.S32blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), ISPAKTidak

2An. F39blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

3An.N48blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Post tx TB, ShuntedNTidak

4An.L14blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

5An.F30blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), ISPAKTidak

6An.M23blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), KonjungtivitisNTidak

7An.Y17blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

8An. S19blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

9An. S36blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

10An.N31blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), imunisasitdklengkapKTidak

11An.A26blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

JETIS (26-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Ekskusif

1An.SA34blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

2An. S22blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met (-), D-iS KPSPNTidak

3An.S4blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met (-), Obs. Febris h.2KTidak

4An.M37blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-), FurunkelNTidak

5An.F37blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

6An.F28blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-), MicrocephalyNTidak

7An.H23blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)KTidak

8An. S43blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

9An. S19blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)KTidak

10An.A48blnBB/TB -2 s/d 2-3SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-), ISPAKTidak

11An.S11blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-), Obs. Febris h.2NTidak

12An.I19blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

13An.D42blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-), Oxyuris VermicularisNTidak

BLIMBING ( 26-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Ekskusif

1An.MN12blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

2An. SK40blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met (-)NTidak

3An.SW60blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met (-)KTidak

4An.R58blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-), ShuntedNTidak

5An.A60blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

6An.FH19blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-), ShuntedNTidak

7An.R49blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

8An. A23blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)KTidak

9An. F30blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

10An.A15blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

11An.SN39blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

12An.A36blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

13An.R16blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

14An.R25blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)KTidak

15An.I9blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

16An.M60blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

17An.D27blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

BLORO ( 27-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Ekskusif

1An.A13blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

2An. A41blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

3An. AK40blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

4An.MJ14blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

5An.MB41blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

6An.AD11blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), ShuntedNTidak

7An.MA27blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

8An. D36blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

9An. AY10blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (+) auricular sinistra, ISPANTidak

10An. M41blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), ShuntedNTidak

11An.AB31blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (+) auriculadextra, R. Batuk lama.KTidak

12An.MW22blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Microcephal, KPSP penyimpanganNTidak

13An.SA4blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

14An.FS4blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

15An.M25blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), KPSP PenyimpanganKTidak

16An.A58blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

17An.MA42blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

18An.DP19blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

19An.FA13blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

20An.M10blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

21An.MN31blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), GEANTidak

22An. A25blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

LANGKAP (28-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Ekskusif

1An.AN20blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalam batas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met (-)KTidak

2An.BN23blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)NTidak

3An.AF49blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), dermatitisKTidak

4An.NK20blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

5An.NF23blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

6An.S32blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), ShuntedNTidak

7An.A17blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

8An. A32blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (+), Nenek Ps TB.KTidak

9An. A32blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

10An.SN15blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

11An.AQ42blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-)KTidak

KALIMAS (28-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Ekskusif

1An.J25blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met (-)KTidak

2An.DR22blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met (-), Obs. Febris H.2KTidak

3An.B30blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met (-), ISPAKTidak

4An.C32blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (+),Met (-), ISPA, Tetanggabatuk lamaKTidak

WIDOROPAYUNG (29-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Ekskusif

1An.L14blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-), GEA, D-Is, ASINTidak

2An. F27blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-), KPSP PenyimpanganNTidak

3An. J27blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)KTidak

4An.O36blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-),ISPANTidak

5An.B9blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-),ISPANTidak

6An.P8blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)KTidak

7An.V16blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

8An.R19blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)KTidak

9An.A26blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(+), D-Is AtopikNTidak

10An.A41blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-), HiperaktifKTidak

11An.I17blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-), RUJUK RPGKTidak

12An.KA60blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

13An.B60blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

14An.I35blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

15An.S29blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

16An.Z35blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)KTidak

17An.IB17blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

18An.D33blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)NTidak

19An.A17blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)KTidak

20An.I42blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-),Met(-)KTidak

SUMBER REJO (29-11-2014)NoNamaUsiaHasilPemeriksaanStatusASI Ekskusif

1An.H11blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

2An. S39blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-), ShuntedNTidak

3An.MR12blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-), Rhonki ParuNTidak

4An.SZ13blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

5An.KU20blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)KTidak

6An.H53blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)KTidak

7An.RD29blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)KTidak

8An.MF27blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

9An.M36blnBB/TB -2 s/d -3 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)KTidak

10An.R6blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-), ISPANTidak

11An.N23blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

12An.H17blnBB/TB -2 s/d 2 SD, LIKA Normal, C/P dalambatas normal, H/L ttb, BU normal, KGB (-), Met(-)NTidak

JUMLAH PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF BALITA DI KECAMATAN BESUKI KABUPATEN SITUBONDO JAWA TIMUR TAHUN 2013NO

NAMA DESAJUMLAHBAYI DIPERIKSAEKSKLUSIF ( E0 - E5 )DIPERIKSA

JML.BAYIPROYEKSI

n%

1BESUKI21514266.0215119

2PESISIR17315287.917380

3DEMUNG433172.14340

4KALIMAS1118374.811142

5LANGKAP393692.33924

6BLORO493673.54934

7BLIMBING938490.39356

8JETIS807188.88065

9WIDOROPAYUNG564987.55638

10SUMBEREJO272385.22717

.

DAFTAR PUSTAKA

1. Notoatmodjo S. Prinsip-Prinsip Dasar IlmuKesehatan Masyarakat.Jakarta : Rineka Cipta; 2003.2. Pudjiadi S. Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. Jakarta: Gaya Baru; 2005.3. Kementerian Kesehatan RI. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak.Jakarta: Direktorat Bina Gizi; 2011.4. Kumar S.Global Database on Child Growth and Malnutrition [Internet]. 2007[cited 2011 Desember 14].Available from:http://Who.int//nutgrowthdb>.20075. Tropical Medicine Central Resource.Kwashiorkor (Protein Calorie Malnutrition) [Internet].2008[cited 2011 Desember 14]. Available from:http://tmcr.Usuhs.mil/tmcr/chapter16/Kwashiorkor.htm6. Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.Anak dengan Gizi Baik Menjadi Aset dan Investasi Bangsa di Masa Depan[Internet].2011[cited 2011 Desember 14].Available from: http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/1346-anak-dengan-gizi-baik-menjadi-aset-dan-investasi-bangsa-di-masa-depan.html7. Laporan Akhir Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Tengah[Internet].2010[cited 2011 Desember 14].Available from: http://www.docstoc.com/docs/66364904/Laporan-Akhir-EKPD-2010-Provinsi-Jawa-Tengah-oleh-Universitas-Diponegoro8. Sudaryat S, Soetjiningsih.Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah.Denpasar:SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unud Denpasar; 2000.9. World Health Organisation.Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.Jakarta: WHO Indonesia ; 2009.10. Kusriadi.Analisis Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Kurang Gizi Pada Anak Balita Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)[karya tulis ilmiah].Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2010.11. Anwar K,Juffrie M,Julia M.Faktor Risiko Kejadian Gizi Buruk di Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat.Jurnal Gizi Klinik Indonesia [Internet].2005[cited 2011 Desember 14]:2(3):81-85.Available from:http://ijcn.or.id/v2/content/view/33/40/

12. Effendi.Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC; 1998.13. Hidayat AAA.Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan.Jakarta:Salemba Medika;2008.14. Razak AA,Gunawan IMA,Budiningsari RD. Pola Asuh Ibu Sebagai Faktor Risiko Kejadian Kurang Energi Protein (KEP) Pada Anak Balita.Jurnal Gizi Klinik Indonesia[Internet].2009[cited 2011 Desember 14]:6(2):95-103.Available from:http://www.i-lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?dataId=1076115. Kosim, Sholeh M.Buku Ajar Neonatologi Edisi I.Jakarta: Badan Penerbit IDAI;2008.16. Supartini Y.Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak.Jakarta:EGC; 2002.17. Mexitalia M. Air Susu Ibu dan Menyusui. Dalam: Sjarif DR, Lestari ED, Mexitalia M, Nasar SS, penyunting. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik. Edisi ke-1.Jakarta: IDAI;2011. hal. 77-95.18. Hartono A. Asuhan Nutrisi Rumah Sakit.Jakarta: EGC; 1997.19. Wahyuni S, Julia M, Budiningsari D. Pengukuran Status Gizi Pasien Anak Menggunakan Metode SGNA Sebagai Prediktor Lama Rawat Inap, Status Pulang dan Kejadian Malnutrisi di Rumah Sakit.Jurnal Gizi Klinik Indonesia [Internet].2005 [cited 2012 Mei 25]: 2(1): 80-84. Available from: http://dc183.4shared.com/doc/gV1MYaob/preview20. Lada C, Aspatria U, Jutomo L. Kajian Jenis-Jenis Penyakit Infeksi dan Lamanya Perawatan Bagi Balita Penderita Gizi Buruk di Panti Rawat Gizi Panite Kabupaten Timor Tengah Selatan.Jurnal Gizi Klinik Indonesia [Internet].2007 [cited 2012 Mei 25]: 2(2): 1-5. Available from: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/1109819_2085-9341.pdf21. Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2001.22. Paryanto E.Gizi Dalam Masa Tumbuh Kembang.Jakarta:EGC;1997.23. Soendjojo RD,Sritje H,Mien S.Menstimulasi Anak 0-1 Tahun.Jakarta:PT Elexmedia Komputindo.2000.24. Departemen Kesehatan RI.Pemantauan Pertumbuhan Balita. Jakarta: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI;2002.25. Kliegman R.Nelson Textbook of Pediatrics. USA: Saunders Elsevier;2007.26. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Indonesia.Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta:Infomedika;2007.27. Walker,Allan.Pediatric Gastrointertinal Disease.USA:DC Decker;2004.28. Dini L.Konsumsi Pangan Tingkat Rumah Tangga Sebelum dan Selama Krisis Ekonomi.Jakarta:PT Gramedia Pustaka;2000.29. Soekirman.Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat.Jakarta:EGC;2000.30. Rumiasih. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Buruk pada Anak Balita di Kabupaten Magelang[karya tulis ilmiah].Semarang: Universitas Diponegoro;2003.31. Pius,Dahlan.Kamus Ilmiah Populer.Surabaya:Arkola;2001.32. Departemen Kesehatan RI.Program Gizi Makro.Jakarta:Depkes RI;2002.33. Soekanto,Soerjono.Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada;2000.34. Taruna J.Hubungan Status Ekonomi Keluarga dengan Terjadinya Kasus Gizi Buruk pada Anak Balita di Kabupaten Kampar Provinsi Riau Tahun 2002[karya tulis ilmiah].Jakarta:Universitas indonesia;2002.35. Abu A.Ilmu Sosial Dasar.Jakarta:Rineka Cipta;1997.36. Departemen Kesehatan RI.Analisis Situasi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:Depkes RI;2004.37. Tim Paket Pelatihan Klinik PONED.Buku Acuan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED).Jakarta:EGC;2008.38. Dahlan S.Besar Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: PT Arkans;2006.39. Retno S.Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita Setelah Mendapatkan PMT Pemulihan di Provinsi DKI Jakarta [karya tulis ilmiah]. Jakarta: Universitas Indonesia; 2008.40. Goode W.Sosiologi Keluarga. Jakarta: Bumi Aksara;2000.41. Faiza R, Elnovriza D, Syafianti.Faktor Risiko Kejadian Gizi Buruk pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Kecamatan Padang Timur Kota Padang.Jurnal Media Gizi Keluarga [Internet].2007 [cited 2012 Juni1]:31(1):80-88.Available from: http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/31107808842. Dewati M. Analisis Pengaruh Pendapatan Keluarga, Jumlah Anggota Keluarga, Tingkat Pendidikan Ibu dan Tingkat Pendidikan Ayah Terhadap Status Gizi Balita di Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo [karya tulis ilmiah].Solo: Universitas Negeri Sebelas Maret; 2008.43. Oetomo D. Gizi Buruk Balita di Surakarta Dikaji dari Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Konsumsi Makan Balita [karya tulis ilmiah]. Surakarta: Universitas Negeri Sebelas Maret;2006.44. Sumiati I. Evaluasi Penatalaksanaan Asuhan Gizi pada Balita Kurang Energi Protein di RSUD Ulin Banjarmasin [karya tulis ilmiah]. Malang: Universitas Brawijaya; 2007.45. Nadimin. Hubungan Keluarga Sadar Gizi dengan Status Gizi Balita di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Jurnal Media Gizi Pangan[Internet].2010 [cited 2012 Mei 28]:10(2):1-7. Available from: http://jurnalmediagizipangan.files.wordpress.com/2012/04/1-hubungan-keluarga-sadar-gizi-dengan-status-gizi-balita46. Saputra M. Hubungan Antara Riwayat BBLR dengan Status gizi pada Anak Balita di Kelurahan Pringgokusuman Kecamatan Gedongtengen Kota Yogyakarta [karya tulis ilmiah]. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta; 2012.47. Susanti E. Hubungan Berat Badan Lahir dengan Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Basuki Rahmad Kota Bengkulu [karya tulis ilmiah]. Bengkulu:Universitas Bengkulu ;2011.48. Lingga NK.Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak Balita di Desa Kolam Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang [karya tulis ilmiah]. Medan:Universitas Sumatera Utara;2010.49. Wahyuni. Hubungan Kelengkapan Imunisasi dan Pemberian Vitamin A dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Titi Rantai dan Kelurahan Babura Kecamatan Medan Maru [karya tulis ilmiah]. Medan; UniversitasSumatera Utara;2005.50.http://health.liputan6.com/read/520968/angka-penurunan-gizi-buruk-balita-sulit-penuhi-target-mdgs51.Hans Obor (2011). Kasus gizi burukmasih tinggi [Online]. Available:http://nttonlinenews.com/ntt/index.php?view=article&id=9426%3Akasus-gizi-buruk-masih-tinggi&option=com_content&Itemid=56.52.http://www.bhasafm.co.id/kabupaten-situbondo-jadi-salah-satu-kantong-gizi-buruk-di-jawa-timur/53.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34314/3/Chapter%20I.pdf54.Arif, N. (2009).Panduan Ibu Cerdas ASI dan Tumbuh Kembang. Yogyakarta: MediaPressindo.55. Prasetyono, 2009.Buku Pintar ASI eksklusif.Jogjakarta : Diva Pres.56. Sitaresmi, M, N,. (2010). Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara Eksklusif,http://kebijakan kesehatanindonesia.net/node/2, diakses 15 Februari 201457.Sutama,2008.Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah.http://asiku.wordpress-.com/2008/08/07/pemberian-asi-eksklusif-masih-rendah/,diakses 24 Juni 2011. 58. Sidi, Ieda Poernomo Sigit, Dra, dkk.2003. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi,Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia 59. Roesli, U, 2009. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta : PT. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara.

38


Recommended