Home >Documents >MENGENAL ISLAM - p2kk.umm.ac. RAHMATAN LIL' aktualisasi dari kepercayaan tentang

MENGENAL ISLAM - p2kk.umm.ac. RAHMATAN LIL' aktualisasi dari kepercayaan tentang

Date post:16-May-2019
Category:
View:217 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Transcript:

MENGENAL ISLAM

Pada dasarnya setiap manusia hidup tidak lepas dengan sebuah agama, sebab agama

merupakan aktualisasi dari kepercayaan tentang adanya kekuatan ghoib dan supranatural atau

disebut Tuhan dengan segala konsekwensinya. Dengan kata lain, adanya agama untuk

menjebatani kebutuhan fitrah manusia terhadap Tuhan di dalam mencapai kebenaran,

kedamaian dan kesejahteraan yang hakiki. Begitu juga dengan Islam, merupakan agama yang

memiliki konsep Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari sudut kitab, Islam memiliki kemurnian

baik teks maupun isi kandungannya dari zaman ke zaman, yaitu al-Quran dan al-Hadits yang

benar, dibawa dan tercermin dalam diri Nabi Muhammad SAW. Hal ini sesuai dengan tujuan

dari lahirnya agama Islam, yaitu mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera dalam

konteks Illahiyah, baik di dunia maupun di akhirat.

Terkait dengan Islam sebagai agama yang berupaya membentuk pengikutnya yang

memiliki akhlak karimah, yaitu manusia yang mempunyai wawasan budaya lingkungan,

dapat mengfungsikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman hidup secara cerdas dan kreatif,

dapat menjadi uswah hasanah dan secara kumulatif keberadaannya dapat memberikan

kontribusi bagi terwujudnya misi Islam sebagai rahmatan lilalamin. Untuk itu, maka ada 3

hal yang akan dibicarakan dalam tema ini, yaitu: what is Islam, Islam sebagai agama

rahmatan lil alamin, Islam sebagai way of life. Selanjutnya, ketiga tema ini akan dijabarkan

sebagai berikut:

A. What is Islam ?

Ada beberapa hal yang akan dibicarakan dalam bagian ini, antara lain:

1. Mengapa manusia harus beragama ?

Apabila diperhatikan sejarah kehidupan manusia dari zaman ke zaman, maka tidak

akan ada manusia yang hidup tanpa agama. Sebab, agama merupakan aktualisasi dari

kepercaaan adanya kekuatan ghoib dan supranatural yang disebut sebagai Tuhan dengan

segala konsekwensinya. Oleh karena itu, agama dipahami sebagai seperangkat ajaran yang

telah tersistematisasi dan baku. Dan pada ranah praktis, ada upaya untuk mengaplikasikan

ajaran tersebut melalui kelembagaan dalam sistem kepercayaan. Seperti: membangun sistem

nilai, kepercayaan, upacara dan segala bentuk aturan atau kode etik yang berusaha

mengarahkan penganutnya untuk mendapatkan rasa aman dan tentram, Abdul Madjid, dkk

(1989).

Bertolak pada gambaran secara umum tersebut dapat ditarik kesimpulan, bahwa agama

berada pada wilayah privatisasi manusia yang terkait dengan jiwanya (asal mula benih

agama itu tumbuh dalam sanubarinya). Termasuk juga adanya kesediaan manusia untuk

menjalankan nilai-nilai agama, yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari benih

agama yang telah ditanamkan ke dalam jiwanya sebelum dia lahir. Menyangkut persoalan

benih agama, ada yang berpendapat dimulai dari rasa takut, yang selanjutnya termanifestasi

dalam bentuk pemberian sesajen pada sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan yang

menakutkan. Walhasil, rasa takut merupakan salah satu pendorong utama tumbuh suburnya

rasa keagamaan, meskipun pendapat ini banyak ditolak oleh para pakar.

Sedangkan menurut pakar Islam, bahwa benih agama

muncul dari penemuan manusia terhadap: (a) kebenaran

ciptaan Allah yang terbentang di alam raya dan diri manusia.

(b) Keindahan pada bintang yang gemerlapan, bunga yang

mekar dan alam raya yang terbentang luas dengan aneka ragam

tanaman maupun binatang. (c) Kebaikan pada angin sepoi

yang menyehatkan tubuh ketika merasakan gerah kepanasan,

atau yang sejuk ketika seseorang merasakan kehausan, Shihab,

M. Quraisy (1998). Ketiga hal ini selanjutnya melahirkan

kesucian, dan itu dimiliki oleh manusia. Selanjutnya manusia

yang memiliki naluri ingin tahu, dan tetap berupaya

mendapatkan sesuatu yang paling indah, benar dan baik melalui panca inderanya. Disinilah

letak jiwa dan akalnya dalam rangka mengantarkan untuk bertemu dengan Sang Maha Suci,

dan berupaya untuk berhubungan dengan-Nya, bahkan berupaya mencontoh sifat-sifat-Nya.

Dari sini agama lahir, bahkan proses beragamapun terjadi, sebagai upaya manusia untuk

mencontoh sifat-sifat Yang Maha Suci.

2. Agama mana yang harus diikuti oleh manusia ?

Apabila diperhatikan beberapa isi buku perbandingan agama, maka setiap pemeluk

suatu agama akan mengatakan bahwa agama yang dipeluk yang paling benar. Sedangkan

bagi seseorang yang kurang memperdulikan agamanya akan mengatakan semua agama sama,

sama baiknya atau sama jeleknya. Jawaban ini nampaknya seiring dengan manusia diberi

kebebasan untuk memilih agama, termasuk tidak beragama. Mengingat, Allah hanya

menuntut tanggungjawab atas pilihannya, dan tidak seorangpun berhak memaksakan

kehendaknya untuk memeluk suatu agama tertentu (baca kisah Nabi Nuh yang tidak bisa

mengislamkan istri dan anaknya dan Nabi Muhammad tidak bisa mengislamkan pamannya*).

Meskipun demikian, seseorang tidak dapat memungkiri bahwa Allah telah memberikan

seperangkat potensi yang harus dilakukan dan dimaksimalkan sesuai dengan kebutuhan dan

keinginan masing-masing dengan tidak menyalahi norma dan aturan untuk dapat

berhubungan dengan kekuatan ghaib dan supranatural. Oleh karena itu, yang harus dilakukan

oleh setiap orang adalah berkewajiban untuk mengikuti salah satu ajaran agama, berusaha

dan bekerja, serta berdoa dengan sungguh-sungguh untuk berhubungan dengan Tuhannya.

Dengan demikian, manusia diwajibkan untuk menentukan salah satu agama yang dipercayai,

dan dilanjutkan dengan melakukan serangkaian aktivitas yang terkandung dalam ajaran

kitabnya untuk berhubungan dengan Tuhannya juga berhubungan dengan antara sesama

manusia.

Ditinjau dari sumbernya, agama yang dipeluk oleh

manusia dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu agama

samawi dan ardhi. Agama samawi disebut juga dengan

agama langit, agama wahyu, agama profetis, revealid

religion, Din as-Samawi, yaitu agama yang diwahyukan Allah

kepada manusia melalui para Nabi/Rasul-Nya. Sedangkan

agama ardhi disebut dengan agama budaya, agama filsafat,

agama bumi, agama rayun, natural relegion, non-revealed relegion, Din at-Thabii, yaitu

Agama untuk

menjebatani

kebutuhan fitrah

manusia terhadap

Tuhan di dalam

mencapai kebenaran,

kedamaian dan

kesejahteraan yang

hakiki

Dilihat dari sumbernya

maka agama

dikelompokkan

menjadi 2 yaitu agama

samawi dan agama

ardhi

agama ciptaan manusia sendiri, (Anshori, Endang Syaifuddin, 1986). Diantara contoh agama

samawi adalah agama Yahudi asli, agama Nasrani asli dan agama Islam. Sedangkan contoh

agama ardhi adalah agama Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Shinto, termasuk aliran kepercayaan.

Menurut pandangan Islam, baik agama Yahudi asli maupun Nasrani asli merupakan agama

samawi. Mengingat kedua agama ini termaktub dalam bentuknya yang murni dan menurut al-

Quran adalah agama Islam juga, bahkan menurut al-Quran (QS. Ali Imran : 67)semua

agama yang dianut oleh para Nabi/Rasul adalah agama Islam. (Anshori, Endang Syaifuddin

1986).

Selanjutnya, agama mana yang harus diikuti oleh seseorang? apakah agama samawi

atau ardhi? Untuk menjawab pada dua pilihan agama yang harus diikuti ini memang tidak

semudah membalikkan tangan, dan juga tidak semudah mendengarkan ceramah maupun

khotbah dari siapapun yang menyampaikan, selanjutnya mengikutinya tanpa alasan yang

jelas dan benar. Akan tetapi perlu sekali seseorang untuk melakukan perenungan terhadap

apa yang telah didengar, membaca beberapa buku atau leteratur yang dianggap dapat

membantu membawa pada pencerahan dalam berfikir, berdialog kepada orang-orang yang

dianggap mampu dalam hal ini, bahkan membaca fenomena alam pun sangat diperlukan,

sehingga seseorang tidak terjebak untuk sekedar mengikutinya tanpa memahami substansi isi

atau ajaran yang dibawa oleh masing-masing agama tersebut. Dengan demikian, yang harus

dilakukan oleh seseorang adalah mempertimbangan lahirnya agama dan proses perjalanan

manusia yang gagal mencari kedamaian atau kebenaran yang hakiki melalui inderanya dan isi

kitabnya lebih dikedepankan. Sesudah itu berfikir pada keberadaan masing-masing agama

samawi atau agama ardhi pada ranah implementasi pada kehidupan sehari-hari, sehingga

ajaran agama yang diikuti dapat menghasilkan suatu karya atau budaya tertentu yang

mencerminkan ajaran agama yang dibudayakannya.

Adapun alasan seseorang memilih dan mengikuti agama samawi adalah: (1) Agama

samawi sebagai agama wahyu yang datangnya dari Allah yang disampaikan kepada manusia

melalui utusan-Nya. (2) Agama wahyu pada dasarnya merupakan sifat Rahman dan Rahim

Allah kepada manusia, agar manusia dapat selamat dan hidup sejahtera di dunia dan di

akhirat. (3) Setiap manusia ingin hidup selamat dan sejahtera di dunia-akhirat, maka

diharuskan berpedoman pada agama wahyu. Sedangkan alasan seseorang memilih dan

mengikuti agama ardhi adalah (1) Secara fitrah manusia bertuhan, hati nuraninya tidak

pernah bohong itu mengatakan bahwa ada kekuatan gaib dan supranatural yang menciptakan,

mengatur dan menguasai alam ini, termasuk menguasai manusia

Embed Size (px)
Recommended