Home >Documents >Memanusiakan Babi

Memanusiakan Babi

Date post:04-Jun-2018
Category:
View:252 times
Download:9 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 8/13/2019 Memanusiakan Babi

    1/48

  • 8/13/2019 Memanusiakan Babi

    2/48

    WACANA YANG HARUS DIANTISIPASI SEDINI MUNGKIN OLEH

    PARA ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA

    Prof. Dr. Umar A. JenieKepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

    Assalamualaikum wa RahmatulLahi wa Barakatuh,

    Buku yang berjudul Memanusiakan Babi yang ditulisoleh seorang pakar muslim yang ahli

    tentang ihwal babi, memang patut kita cermati. Buku ini telah mengundang kita semua ummat

    Islam, termasuk pula lembaga-lembaga Keislaman, utamanya Majelis Ulama Indonesia (MUI),untuk sedini mungkin dapat melakukan antisipasi dalam menentukan sikapnya atas

    berkembangnya teknologi xenotransplantation pada manusia, utamanya yang menggunakan

    jaringan atau organ babi sebagai donornya. Perkembangan ilmu pengetahuan pada akhir abad

    XX serta awal abad XXI Masehi ini sungguh sangat eksponensial kecepatannya. Perkembangan

    dalam biologi sel atau biologi molekuler beserta aplikasi teknologinya, telah sedemikian rupa

    sehingga telah mampu memasuki bagian-bagian yang paling asazi dari manusia atau

    kemanusiaan itu sendiri. Perkembangan teknologi kloning dan juga stem cells experiment, telah

    mengejutkan kita ummat manusia. Namun demikian ummat Islam tidak boleh hanya bersikap

    reaktif saja. Sikap sedemikian menunjukkan kelemahan dan ketidak-acuhan ummat Islam dalam

    mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus menunjukkan ketidak-siapannya dalam

    menanggapi berbagai macam teknologi maju yang muncul dalam masyarakat dunia.

    Al Quran surah al-Baqarah ayat-173 menyatakan bahwa Sesungguhnya Allah hanya

    mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika

    disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa

    (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka

    tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

    Dalam hal darah, ummat Islam diperkenankan melakukan transfusi darah, demi memperbaiki

    kesehatannya. Padahal kita faham bahwa darah merupakan yang diharamkan untuk dimakan,

    sebagaimana tertulis dalam Kitabullah surah al-Baqarah ayat-173 tersebut diatas. Dalam

    bukunya ini, Dr Muladno memberikan pertanyaan kepada kita semua ummat Islam, tentang

    bagaimana sikap ummat terhadap organ babi, yang sebagaimana dengan darah juga

    diharamkan untuk dimakan. Apakah organ babi tersebut dapat di ditransplantasikan ke dalam

  • 8/13/2019 Memanusiakan Babi

    3/48

    organ tubuh manusia demi kesembuhan penyakitnya ?. Bila hal tersebut tidak boleh dilakukan,

    mengapa terhadap darah, hal tersebut boleh dilakukan. Ijtihad, untuk mendapatkan jawaban

    terhadap suatu masalah ini, merupakan hal yang diperbolehkan; namun harus dengan

    menggunakan dan berbasis pada pengetahuan keagamaan/keilmuan yang komprehensif.

    RasululLah Muhammad saw. pernah bersabda yang pada pokoknya menjelaskan bahwa jika

    ijtihad yang kita lakukan benar, maka pahalanya dua, sedangkan jika ijtihadyang kita lakukan

    tersebut salah, maka pahalanya satu. Oleh karena itulah marilah kita mencoba untuk melakukan

    ijtihad itu, yang pintunya terbuka lebar bagi kita. Buku ini, yang ditulis oleh Dr. Muladno, -

    seorang pakar di bidang bioteknologi peternakan, patut untuk dibaca serta menjadi renungan

    kita semua ummat Islam, untuk melakukan ijtihad bersama, guna memperoleh jawabannya.

    Dengan demikian kita ummat Islam Indonesia, termasuk para ulamanya, perlu melakukan

    antisipasi yang tepat, guna menjawab persoalan-persoalan yang menyangkut harkat manusia ini.

    Ummat Islam (dalam hal ini diwakili oleh para Ulama) harus mampu melakukan antisipasi sejak

    dini terhadap berbagai macam aplikasi teknologi maju pada masyarakat (baca: manusia);

    termasuk aplikasi teknologi yang didasarkan pada perkembangan dalam bidang biologi sel dan

    atau biologi molekuler, seperti cloning technology, transgenic experiment,stem cell experiment,

    xenotransplantationdll. Untuk dapat melakukan antisipasi dini tersebut, maka arus informasi

    tentang frontiers sciences diatas, - dari para ahli di bidangnya, harus dapat dengan cepat dan

    kontinyu diterima, difahami, serta dicerna dengan baik dan benar oleh para ulama dalam majelis

    keagamaan Islam, yang bertanggungjawab untuk memberikan atau mengeluarkan fatwa

    keagamaan. Oleh karenanya, sumber daya manusia muslim dituntut untuk mampu menguasai

    dua hal penting. Pertama, ia haruslah seorang yang mampu mengerti, memahami dan

    menafsirkan ayat-ayat yang terdapat dalam KitabulLah, al-Quran, serta juga al-Hadits dan

    Sunnah RasululLah Muhammadsaw. Kedua, ia haruslah orang yang menguasai bidang-bidang

    keilmuan yang tergolong ilmu-ilmu garis-depan (frontiers sciences), utamanya ilmu-ilmu yang

    aplikasinysa menyentuh harkat asazi manusia atau kemanusiaan. Kedua tuntutan ini merupakan

    tuntutan yang ideal, yang mungkin sangat sulit direalisaikan. Jalan keluarnya adalah, adanya

    kerjasama yang saling melengkapi dan menguatkan (suatu symbiosis mutualisme) dari mereka

    yang menguasai ilmu-ilmu keagamaan, dengan kemampuan daya tafsir KitabulLah yang diakui,

    dengan para ilmuwan yang ahli di bidang-bidang frontier sciences tersebut. Dengan adanya

    kerjasama sedemikian ini, diharapkan ummat Islam Indonesia tidak lagi bersikap reaktif, dan

    selalu terkejut apabila berhadapan dengan aplikasi teknologi-teknologi baru.

  • 8/13/2019 Memanusiakan Babi

    4/48

    Sebagai penutup perkenankanlah saya sedikit mengritik judul dari buku ini, yaitu

    Memanusiakan Babi.Nampaknya judul tersebut dimaksudkan untuk menarik konsumen agar

    membeli dan membacanya. Namun dalam masyarakat kita yang sifatnya masih sangat

    tradisionil ini, judul itu tentu cukup provokatif. Alangkah baiknya apabila judul tersebut

    berbunyi Xenotransplantasi Organ Babi pada Manusia; Bagaimana Ummat Islam

    Mensikapinya?. Akhirnya saya ucapkan selamat kepada saudara Dr. Ir. Muladno, MSA, penulis

    buku ini, yang telah melemparkan wacana serta menyadarkan kepada kita semua ummat Islam,

    untuk ikut mengantisipasi masuknya teknologi-teknologi frontiers, yang berpengaruh secara

    langsung kepada manusia dan kemanusiaan ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua,

    amien.

    Wassalamualaikum wa RahmatulLahi wa Barakatuh.

    RANTAI SISTEMATIS FLORA, FAUNA, DAN MANUSIA

    Dalam Ijtihad dan Pengembangan Iptek

    Oleh: Abdul Munir Mulkhan1

    Seluruh pemeluk Islam percaya tentang kesempurnaan, kelengkapan, dan fungsi

    universal ajaran Islam yang termaktub dalam Kitab Al Quran dan Sunnah Rasul. Islam

    diyakini sebagai din(agama) terakhir dan penyempurna dari seluruh agama yang pernah

    diturunkan Tuhan ke muka bumi (Al Quran surat Al Maaidah ayat 4). Fungsi dari ajaranIslam sebagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidupnya di sepanjang sejarah itu

    bersumber dari wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul Muhammad saw

    pada abad ke-7 Masehi. Manusia mempunyai kewajiban memahami wahyu Tuhan yang

    termaktub dalam kitab suci-Nya sehingga ajaran Islam itu benar-benar bisa berfungsi

    sebagai petunjuk dan pedoman kehidupannya yang terus berubah dan berkembang.

    1

    ). Guru Besar Filsafat Pendidikan Islam IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Wakil SekretarisPimpinan Pusat Muhammadiyah 2000-2005.

  • 8/13/2019 Memanusiakan Babi

    5/48

    Seluruh jagad raya dengan segala isinya dan seluruh bentuk kehidupan di dunia

    ini diciptakan Tuhan bagi kepentingan hidup manusia sehingga manusia bisa memenuhi

    fungsi sebagai khalifah-Nya guna memakmurkan kehidupan duniawi. Sesuai fungsi dari

    manusia itulah, Islam merupakan agama yang berpihak pada kehidupan manusia dengan

    menempatkan seluruh isi jagad raya berupa benda mati, tumbuhan, dan hewan, hingga

    makhluk gaib, hanya bagi kepentingan manusia yang hidup. Seluruh realitas alam raya

    dengan beragam flora, fauna, dan manusia, adalah rantai kesatuan sistematis kehidupan

    yang peruntukannya hanya bagi kehidupan manusia (Al Quran surat Ibrahim; 32-33, Al

    Hajj; 65, Luqman; 20). Dalam rantai kesatuan sistematis seluruh realitas di jagad raya

    itu, manusia adalah makhluk paling sempurna dengan menempatkan seluruh ragam

    makhluk Allah yang lain sebagai pendukungnya. Seluruh ragam flora dan fauna serta

    seluruh isi jagad raya ini hanya mempunyai arti jika berfungsi bagi kepentingan hidup

    manusia. Penciptaan seluruh ragam kehidupan dan benda mati di jagad raya ini tiada

    lain hanya bagi kepentingan manusia yang merupakan cermin seluruh jagad raya itu

    sendiri (mikro kosmos).

    Karena itu, hanya kepada manusia dibebankan kewajiban agama dan hanya bagi

    manusia pula hukum-hukum keagamaan diwahyukan Tuhan. Tujuan dan fungsi agama

    ialah agar manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang dengan kehidupannya

    tersebut manusia bisa merealisasikan diri sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka

    bumi. Hanya jika manusia bisa memenuhi kebutuhan hidup dan merealisasikan dirinya

    sebagai khalifah Tuhan itulah manusia akan bisa menempatkan dirinya sebagai aktor

    perhambaannya sebagai makhluk Tuhan yang dikenal sebagai bentuk ibadah.

    Untuk maksud pemenuhan fungsi jagad raya dan segala jenis makhluk tersebut di

    atas bagi kepentingan manusia, diletakkan lima prinsip hukum yaitu mubah, makruh,

    haram, sunnah, dan wajib. Haram atau halalnya sesuatu berupa benda fisik, tumbuhan,

    dan hewan, didasari berfungsi atau tidaknya sesuatu itu bagi kepentingan hidup

    manusia. Berdasar alasan tersebutlah mengapa sesuatu yang semula

Embed Size (px)
Recommended