Home >Documents >Makalah Pleno Skenario 8

Makalah Pleno Skenario 8

Date post:07-Feb-2016
Category:
View:10 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
FK
Transcript:

Combustio

Kelompok C4: Shannaz Y 10.2008.038 Alethea Andantika 10.2010.251 Muhammad Afiq bin Abd Malek 10.2010.367 Elisabeth Stefani 10.2010.069 Nurul Syahidah binti Muhamad Zaki 10.2010.380 Muhammad Aditya Mahatvavirya 10.2010.070 Petrick Aqrasvawinata 10.2010.392 Claudia Narender 10.2010.209 Vien Stefani 10.2010.238

21 Oktober 2013

Universitas Kristen Krida WacanaJalan Arjuna Utara No. 6Jakarta BaratPendahuluan Trauma termis adalah kerusakan kulit (dapat disertai kerusakan jaringan di bawahnya) yang disebabkan oleh perubahan suhu. Trauma termis dapat berupa luka bakar (combusio), karena bahan kimia (cidera kimia), karena aliran listrik (electric trauma), karena dingin (sengatan dingin dan frostrip). Luka bakar dapat mengakibatkan masalah yang kompleks yang dapat meluas melebihi kerusakan fisik yang terlihat pada jaringan yang terluka secara langsung. Masalah kompleks ini mempengaruhi semua sistem tubuh dan beberapa keadaan yang mengancam kehidupan. Pengurangan waktu penyembuhan, antisipasi dan penanganan secara dini untuk mencegah komplikasi, pemeliharaan fungsi tubuh dalam perawatan luka dan tehnik rehabilitasi yang lebih efektif semuanya dapat meningkatkan rata-rata harapan hidup pada sejumlah klien dengan luka bakar serius.Prognosis klien yang mengalami suatu luka bakar berhubungan langsung dengan lokasi dan ukuran luka bakar. Faktor lain seperti umur, status kesehatan sebelumnya dan inhalasi asap dapat mempengaruhi beratnya luka bakar dan pengaruh lain yang menyertai

Anatomi dan Fisiologi KulitKulit merupakan organ terbesar pada tubuh, dengan ukuran daripada 0,25 m2 pada neonatus sehingga 1,8 m2 pada orang dewasa. Kulit terdiri daripada dua lapis; epidermis dan dermis. Sel yang terletak paling luar pada epidermis merupakan sel mati yang berperan memberikan proteksi terhadap bakteri dan zat kimia. Lapisan dermis berperan sebagai barier yang menghalang terjadinya kehilangan cairan lewat evaporasi dan kehilangan suhu tubuh. Kelenjar keringat berperan mempertahankan suhu tubuh dengan mengontrol jumlah air yang terevaporasi.1

Anamnesis - Alloanamnesis Pengambilan suatu anamnesus yang menyeluruh merupakan suatu tugas yang paling penting dan sering kali paling sulit untuk dilakukan dalam merawat pasien luka bakar. Petugas pertologan darurat, pemadam kebakaran, dan staf unit gawat darurat merupakan sumber informasi yang sangat baik pada saat pasien datang ke rumah sakit. tanggal, jam, lokasi geografis dari cedera sangat penting dalam penatalaksanaan pengobatan awal. Pengobatan yang harus dilakukan di tempat kejadian, terutama bila pasien tidak sadar atau dalam keadaan henti jantung dan di resusitasi pada tempat kejadian memiliki kesempatan yang lebih baik untuk harapan hidup. Penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya, termasuk penyakit pembuluh koroner, diabetes mellitus, penyakit paru kronis, penyakit serebrovaskular dan AIDS, memperburuk prognosis dan catat. 1

Pemeriksaan FisikMulailah evaluasi primer segera setelah anda melihat pasien. Pemeriksaan singkat bisa mengungkapkan banyak hal. Apakah pasien bernapas? Apakah pasien melihat kearah anda? Apakah vertebra servikalis sudah diimobilisasi?2-4Airway (jalan napas)1. Apakah jalan napas sudah bebas? Jika belum, koreksi dengan mengubah posisi (angkut dagu dan dorong rahang), jalan napas melalui mulut, suction, dan jika perlu diintubasi (dengan diimobilisasi untuk melindungi vertebra servikalis).2-42. Tanyakan bagaimana keadaan anda? Jika pasien merespons dengan suara jelas, jalan napas sudah bebas pada saat ini. Suara yang jelas, pernapasan tenang dan status mental yang normal menyingkirkan kemungkinan adanya obstruksi yang signifikan.23. Dengarkan : bunyi mendengkurkan menunjukkan obstruksi, sedangkan bunyi berkumur menunjukkan sekresi, muntahan, atau darah dalam jalan napas. Terdengarnya suara-suara ini merupakan indikasi untuk membersihkan jalan napas, biasanya diikuti intibasi. Serak atau nyeri saat berbicara bisa menunjukkan adanya cedera laring, yang bisa menyebabkan obstruksi jalan napas. Agitasi bisa terjadi akibat hipoksia. Perubahan tingkat kesadaran bisa terjadi akibat retensi karbon dioksida.24. Nilailah risiko jangka panjang bagi jalan napas dengan mencari benda asing atau gigi yang lepas, dan periksa refleks muntah jika pasien tidak sadar.2Breathing (pernapasan)2-41. Apakah pasien bernapas adekuat? Jika tidak, berikan oksigen 100% dan resusitasi dari mulut ke mulut atau ventilasi dengan cara lain.2. Jika pernapasan pasien tidak jelas, tempelkan telinga pada mulut pasien. Sambil memperhatikan gerakan dada, dengarkan dan rasakan gerakan udara pada pipi anda. Nilailah laju pernapasan dan kedalamannya: dengarkan bunyi napas di dada.Circulation (sirkulasi)2-41. Apakah sirkulasi adekuat? Bagaimana denyut nadi dan tekanan darah? Adakah kehilangan darah yang jelas, perdarahan yang aktif? Pasang jalur vena, berikan cairan, mulai pijat jantung eksternal jika tidak ada curah jantung. Pantau sirkulasi pasien dengan EKG dan pengukuran denyut nadi dan TD yang sering. Hentikan semua perdarahan eksternal aktif dengan menekan tepat pada luka.2. Jika ada syok berikan cairan dan pertimbangkan penyebab yang mendasari, seperti hipovolemia, tamponade perikard atau pneumotoraks tension.3. Hipovolemia atau syok bisa menyebabkan gelisah, mengantuk dan bahkan tidak responsif. Daerah perifer bisa tampak pucat, dingin dan kebiruan atau berbintik-bintik.4. Periksa nadi perifer.5. Periksa kecepatan dan irama nadi, TD, bunyi jantung, dan JVP.6. Imobilisasi kepala dan leher, dan pertahankan vertebra servikalis dalam posisi netral. Selalu anggap ada cedera pada vertebra servikalis sampai terbukti sebaliknya.Disability (ketidakmampuan)(tingkat kesadaran)(atau gangguan SSP)31. Bagaimana tingkat kesadaran pasien? Gunakan Skor Koma Glasgow untuk mencatatnya. Periksa ukuran, kesimestrisan dan reaktivitas pupil.

Tabel 1. Skala Koma Glasgow 1

Evaluasi Sekunder 2,3 Luas luka (persentase) Kedalaman luka Keadaan umum Umumnya penderita datang dengan keadaan kotor mengeluh panas sakit dan gelisah sampai menimbulkan penurunan tingkat kesadaran bila luka bakar mencapai derajat cukup berat TTVTekanan darah menurun, nadi cepat, suhu dingin, pernafasan lemah sehingga tanda tidak adekuatnya pengembalian darah pada 48 jam pertama Pemeriksaan kepala dan leher Kepala dan rambut Catat bentuk kepala, penyebaran rambut, perubahan warna rambut setalah terkena luka bakar, adanya lesi akibat luka bakar, grade dan luas luka bakar Mata Catat kesimetrisan dan kelengkapan, edema, kelopak mata, lesi adanya benda asing yang menyebabkan gangguan penglihatan serta bulu mata yang rontok kena air panas, bahan kimia akibat luka bakar Hidung Catat adanya perdarahan, mukosa kering, sekret, sumbatan dan bulu hidung yang rontok. MulutSianosis karena kurangnya supply darah ke otak, bibir kering karena intake cairan kurang TelingaCatat bentuk, gangguan pendengaran karena benda asing, perdarahan dan serumen Leher Catat posisi trakea, denyut nadi karotis mengalami peningkatan sebagai kompensasi untuk mengatasi kekurangan cairan Pemeriksaan thorak / dadaInspeksi bentuk thorak, irama parnafasan, ireguler, ekspansi dada tidak maksimal, vokal fremitus kurang bergetar karena cairan yang masuk ke paru, auskultasi suara ucapan egophoni, suara nafas tambahan ronchi. Abdomen Inspeksi bentuk perut membuncit karena kembung, palpasi adanya nyeri pada area epigastrium yang mengidentifikasi adanya gastritis. Urogenital Kaji kebersihan karena jika ada darah kotor / terdapat lesi merupakan tempat pertumbuhan kuman yang paling nyaman, sehingga potensi sebagai sumber infeksi dan indikasi untuk pemasangan kateter. Muskuloskletal Catat adanya atropi, amati kesimetrisan otot, bila terdapat luka baru pada muskuloskleletal, kekuatan otot menurun karen nyeri Pemeriksaan neurologi Tingkat kesadaran secara kuantifikasi dinilai dengan GCS. Nilai bisa menurun bila supply darah ke otak kurang (syok hipovolemik) dan nyeri yang hebat (syok neurogenik) Pemeriksaan kulit Merupakan pemeriksaan pada daerah yang mengalami luka bakar (luas dan kedalaman luka). Prinsip pengukuran prosentase luas luka bakar menurut kaidah 9 (rule of nine lund and Bowder) sebagai berikut :Bagian tubuh1 th2 thDewasa

Kepala leher18%14%9%

Ekstrimitas atas (kanan dan kiri)18%18%18 %

Badan depan18%18%18%

Badan belakang18%18%18%

Ektrimitas bawah (kanan dan kiri)27%31%30%

Genitalia1%1%1%

Pemeriksaan Penunjang Hitung darah lengkap, elektrolit dan profil biokimia standar perlu diperoleh segera setelah pasien tiba di fasilitas perawatan. 1 Diantaranya : 21. LED: mengkaji hemokonsentrasi.2. Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.3. Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal, khususnya pada cedera inhalasi asap.4. BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.5. Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.6. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.7. Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif.8. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.

Konsentrasi gas darah dan karboksihemoglobin perlu segera diukur karena pemberian oksigen dapat menutupi penyaring terhadap obat-obatan, antara lain etanol, memungkinkan penilaian status mental pasien dan antisipasi terjadinya gejala-gejala putus obat. Semua pasien sebaikanya dilakukan rontgen dada: tekanan yang terlalu kuat pada dada, usaha kanulasi pada vena sentralis, serta fraktur iga dapat menimbulkan pneumotoraks atau hemotoraks. Pasien yang juga mengalami trauma tumpul yang menyertai luka bakar harus menjalani pemeriksaan radiografi dari seluruh vertebra, tulang panjang, dan pelvis. 1

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended