Home >Documents >Makalah Pleno Blok 7 Skenario 5

Makalah Pleno Blok 7 Skenario 5

Date post:09-Jul-2016
Category:
View:254 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
respirasi
Transcript:

Saluran Pernapasan dan Mekanisme Pernapasan

Oleh:Naomi Besitimur (102012113/ Ketua)[email protected] Anggiriani (102012453/ Sekertaris Meja)[email protected] Alvan Djari (102012295)Ronaldi Susilo (102012459)Dea Mindy Sasmita (102012409/Sekertaris Papan) [email protected] Ema Febianti S Manalu (102012411) [email protected] Letidebora E.T (102012300) [email protected] Lidomon (102012154)[email protected] Praing (102009215)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510. Telepon: (021)5694-2061, fax: (021)563-1731Jakarta [email protected]

Pendahuluan

Pernapasan mungkin sesuatu proses sehari-hari yang tidak kita sadari, dan tidak mengerti apakah sebenarnya fungsi dari bernapas, untuk apa dan dimana proses bernapas itu berlangsung serta berfungsi secara berkesinambungan dalam tubuh. Sebagian besar dari khalayak pasti mengetahui bahwa kita bernapas menghisap oksigen, akan tetapi banyak yang tidak tau diantara kita, ada gas-gas lain yang masuk ke dalam tubuh kita, diproses dan menjadi gas lainnya.Seperti kandungan gas oksigen di udara atmosfer hanya sekitar 21 % saja dan sisanya 78% gas nitrogen, serta 1% lainnya adalah gas seperti CO2 dan yang lainnya. Mungkin dari sini saja kita sudah tersada, bahwa udara sebersih apapun, lebih banyak kandungan gas nitrogen dibanding gas oksigen.1Proses bergerak, melakukan sesuatu, bernyanyi dan seluruh kegiatan manusia, pasti membutuhkan energi untuk melakukannya. Bagaimana energi ini terbentuk, awalnya adalah proses respirasi. Tanpa adanya proses respirasi tidak akan adanya pembentukan energi untuk melakukan sesuatu kegiatan.

1. 7 Jumps1.1. Indentifikasi Istilah yang Tidak Diketahui Tidak ada1.2. Rumusan MasalahAnak umur 10 tahun mengeluh serak dan sakit saat menelan.1.3. Mikroskopis Analisis Masalah

Anak 10 tahun dengan serak dan sakit saat menelanSerak dan Sakit saat menelanVolume PernapasanMekanisme Pernapasan

Saluran Pernapasan

Makroskopis

Otot-otot Pernapasan

Transpor O2 dengan CO2Pengendalian PernapasanPerubahan Tekanan

1.4. HipotesisSeorang anak yang mengeluh serak dan sakit pada saat menelan dikarenakan adanya gangguan pada saluran pernapasan.

1.5. Tujuan PembelajaranDapat memahami, mengerti dan menjelaskan kembali mengenai anatomi, mekanisme kerja pernapasan, volume-volume pernapasan dalam tubuh. Dan gangguan mekanisme pernapasan yang berkaitan langsung dengan serak, dan sakit saat menelan.

Pembahasan

Saluran PernapasanHidung adalah tempat dimulainya proses pernapasan. Di hidung terdapat rambut-rambut halus dan selaput lendir yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk ke hidung agar udara tersebut bersih dan tidak kotor. Pada tenggorokan terdapat batang tenggorokan, di batang tenggorokan tersebut terdapat katup yang berfungsi untuk membuka dan menutup saluran pernapasan. Batang tenggorokan kemudian terbagi menjadi dua yang disebut dengan bronkus, bronkus berfungsi sebagai jalannya udara menuju paru-paru. Di paru-paru, bronkus berkembang menjadi lebih banyak, atau disebut juga bronkiolus. Bronkiolus berakhir alveolus atau gelembung paru-paru. Di alveolus atau gelembung paru-paru terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Alveolus sangat mudah robek karena hanya terdiri dari satu pembuluh darah.1Struktur Mikroskopis Saluran PernapasanSaluran nafas terdiri atas bagian konduksi dan bagian respirasi. Bagian konduksi adalah saluran nafas solid baik di luar maupun di dalam paru yang menghantar udara ke dalam paru untuk respirasi. Sedangkan bagian respirasi adalah saluran nafas di dalam paru tempat berlangsungnya respirasi atau pertukaran gas.1Bagian superior atau atap rongga hidung mengandung epitel yang sangat khusus untuk mendeteksi dan meneruskan bebauan. Epitel ini adalah epitel olfaktoris yang terdiri atas tiga jenis sel, yaitu sel penyokong (sustentakular), sel basal, dan sel olfaktoris. Sel olfaktoris adalah neuron bipolar sensoris yang berakhir pada permukaan epitel olfaktori sebagai bulbus olfaktoris kecil. Di dalam jaringan ikat di bawah epitel olfaktoris terdapat N. olfaktoris dan kelenjar olfaktoris.1Bagian konduksi sistem pernafasan terdiri atas rongga hidung, faring, laring, trakea, bronkus ekstrapulmonal dan bronkus intrapulmonal dengan diameter yang semakin kecil dan berakhir pada bronkiolus terminalis. Saluran ini ditunjang oleh tulang rawan hialin. Trakea dilingkari oleh cincin-cincin tulang rawan hialin berbentuk C. Setelah bercabang menjadi bronkus yang kemudian memasuki paru, cincin hialin diganti oleh lempeng-lempeng tulang rawan hialin. Saat diameter brinkiolus mengecil, semua lempeng hialin menghilang dari saluran pernafasan bagian konduksi. 1Bagian konduksi saluran nafas yang terkecil adalah bronkiolus terminalis. Bronkiolus yang lebih besar dilapisi epitel bertingkat semu bersilia, seperti pada trakea dan bronkus. Epitel ini berangsur memendek sampai menjadi epitel selapis bersilia. Bronkiolus yang lebih besar masih mengandung sel goblet yang berangsur berkurang sampai tidak dijumpai lagi pada bronkiolus terminalis. Bronkioli yang lebih kecil dilapisi oleh epitel selapis kuboid. Pada bronkiolus terminalis juga terdapat sel kuboid tanpa silia yang disebut sel clara.1Bagian respirasi adalah lanjutan distal bagian konduksi dan terdiri atas saluran-saluran napas tempat berlangsungnya pertukaran gas atau respirasi yang sebenarnya. Bronkiolus terminalis bercabang menjadi bronkiolus respiratorius yang ditandai dengan mulai adanya kantong-kantong udara (alveoli) berdinding tipis. 1Respirasi hanya dapat berlangsung di dalam alveoli karena sawar antara udara yang masuk ke dalam alveoli dan darah vena dalam kapiler sangat tipis. Struktur intrapulmonal lain tempat berlangsungnya respirasi adalah duktus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveoli. Pada alveoli paru terdapat dua jenis sel yaitu sel alveolar gepeng pneumosit tipe 1 yang melapisi seluruh permukaan alveoli dan sel alveolar besar yaitu pneumosit tipe 2 yang terselip di antara sel alveolar gepeng.1Mukosa olfaktoris terdapat pada permukaan konka superior, yaitu salah satu sekat bertulang dalam rongga hidung. Epitel respirasi di dalam rongga hidung adalah epitel bertingkat semu silindris bersilia dan bersel goblet. 1Epitel olfaktoris dikhususkan untuk menerima rangsang bau yang terdiri dari epitel bertingkat semu silindris tinggi tanpa sel goblet. Epitel olfaktorius terdapat di atap rongga hidung, pada kedua sisi septum, dan di dalam konka nasal superior. Di bawah lamina propia terdapat kelenjar Bowman yang menghasilkan sekret serosa, berbeda dengan sekret campur mukosa dan serosa yang dihasilkan kelenjar di bagian lain rongga hidung.1Faring adalah ruangan di belakang kavum nasi, yang menghubungkan traktus digestivus dan traktus respiratorius. Yang termasuk bagian dari faring adalah nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Nasofaring tersusun dari epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Orofaring terdiri dari epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk, sedangkan pada laringofaring epitelnya bervariasi, sebagian besar epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.Laring terdiri dari epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet kecuali ujung plika vokalis berlapis gepeng. Dindingnya tersusun dari tulang rawan hialin, tulang rawan elastis, jaringan ikat, otot bercorak, dan kelenjar campur.1Epiglotis adalah bagian superior laring, terjulur ke atas dari dinding anterior laring berupa lembaran pipih. Tulang yang membentuk kerangka epiglotis adalah sepotong tulang rawan (elastis) epiglotis sentral. Permukaan anterior dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Lamina propia dibawahnya menyatu dengan perikondrium tulang rawan epiglotis. Sedangkan pada permukaan posterior yang menghadap ke arah laring terdiri dari epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet.1Trakea berbentuk huruf C yang terdiri dari tulang rawan hialin. Cincin-cincin tulang rawan satu dengan yang lain dihubungkan oleh jaringan penyambung padat fibroelastis dan retikulin disebut ligamentum anulare untuk mencegah agar lumen trakea tidak meregang berlebihan. Trakea terdiri dari tiga lapisan, yaitu:1-21. Tunika mukosa, tersusun dari epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Lamina basalis agak tebal dan jelas. Lamina propria mempunyai serat-serat elastin yang berjalan longitudinal membentuk membran elastika interna. Pada tunika ini terdapat kelenjar-kelenjar campur.2. Tunika submukosa, terdiri dari jaringan ikat jarang, lemak, kelenjar campur (glandula trakealis) yang banyak di bagian posterior.3. Tunika adventisia, terdapat kelenjar campur.

Terdapat lima jenis sel-sel epitel trakea/respiratorius, yaitu:a. Sel goblet, merupakan sel mukus yang menggelembung dan berisi granula sekretorik. b. Sel silindris bersilia, sel ini memiliki sekitar 300 silia di apikalnya. Pada sel ini terdapat banyak mitokondria kecil yang menyediakan ATP untuk pergerakan sel.c. Sel sikat, sel ini memiliki mikrovili di apex yang berbentuk seperti sikat.d. Sel basal, merupakan sel induk yang akan bermitosis dan berubah menjadi sel lain.e. Sel sekretorik/bergranula, sel yang memiliki granula dengan diameter 100-300 milimikron yang berfungsi mengatur sekresi mukosa dan serosa.Bronkus intrapulmonal biasanya dikenali dari adanya beberapa lempeng tulang rawan yang letaknya berdekatan. Epitelnya adalah epitel bertingkat semu silindris bersilia dengan sel goblet. Sisa dindingnya terdiri atas lamina propria tipis, selapis tipis otot polos, submukosa dengan kelenjar bronkial, lempeng tulang rawan hialin, dan adventisia.Bronkiolus mempunyai epitel yang rendah, yaitu epitel semu silindris bersilia dengan sel goblet. Mukosanya berlipat dan otot polos yang mengelilingi lumennya relatif banyak. Tidak ada tulang rawan dan kelenjar lagi, adventisia mengelilingi struktur ini.Bronkiolus terminalis menunjukkan mukosa yang berombak de

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended