Home >Documents >Makalah Oma (Skenario 6)

Makalah Oma (Skenario 6)

Date post:11-Dec-2014
Category:
View:135 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Transcript:

Pendahuluan Masalah telinga, hidung, dan tenggorokan atau yang biasa disingkat THT merupakan masalah yang sering terjadi pada anak-anak. Saluran napas atas merupakan tempat infeksi tersering pada anak. Infeksi saluran pernapasan atas ini terkadang juga dapat menimbulkan keluhan lain seperti infeksi pada telinga.

Telinga sendiri terbagi menjadi 3 bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga tengah adalah daerah yang dibatasi oleh gendang telinga sekaligus menghubungkan suara dengan alat pendengaran di telinga dalam. Selain itu telinga tengah ini terdapat saluran eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan rongga hidung belakang dan tenggorokan bagian atas sehingga apabila terjadi infeksi di bagian rongga hidung atau tenggorokan bagian atas akan sangat mudah terjadi infeksi pada bagian telinga tengah ini.

Saluran Eustachius yang terdapat pada telinga tengah ini sebenarnya memiliki fungsi antara lain ialah menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan menyesuaikannya dengan tekanan udara di luar telinga dan mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan sel sel yang melapisi telinga tengah ke bagian belakang hidung. Jika terjadi oklusi pada saluran ini akan menyebabkan terjadinya infeksi dan peradangan pada telinga tengah. Anamnesis

Anamnesis yang dilakukan adalah allo anamnesis. Dokter akan menanyakan beberapa pertanyaan kepada ibu bapa, penjaga atau saudara terdekat dengan pasien yang mengalami keluhan untuk mengetahui dengan lebih jelas penyakit penderita tersebut.

Untuk dapat menegakkan diagnosis suatu penyakit atau kelainan di telinga, hidung dan tenggorokan diperlukan kemampuan dan keterampilan melakukan anamnesis dan pemeriksaan organ-organ tersebut. Kemampuan ini merupakan bagian dari pemeriksaan fisik yang merupakan syarat bila terdapat gejala atau keluhan yang berhubungan dengan kepala atau leher. Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dalam dan lebih luas keluhan utama pasien.

1. Keluhan utama dapat berupa: Sakit pada telinga secara tiba-tiba. Bila ada gangguan pendengaran maka perlu ditanyakan : 2. 3. 4. 5. Apakah keluhan tersebut pada satu atau dua telinga? Apakah timbul tiba-tiba atau bertambah berat secara bertahap? Sudah berapa lama diderita? Adakah riwayat trauma telinga (tertampar, terpapar bising, trauma akustik)? Riwayat penggunaan obat-obatan ototoksik sebelumnya? Apakah pernah menderita penyakit infeksi virus? Apakah gangguan pendengaran ini dialami sejak masih bayi dan juga terdapat gangguan dalam berbicara? Apakah gangguan ini lebih terasa di tempat yang bising atau tenang? (Ditanyakan pada orang dewasa) Tinnitus (Suara berdengung/berdenging) Otalgia (Rasa nyeri dalam telinga) Otore (Keluar cairan dari telinga) Apakah secret keluar dari satu atau kedua telinga? Sudah berapa lama terjadi? Apakah disertai rasa nyeri atau tidak?

Riwayat Penyakit sekarang Riwayat Penyakit terdahulu Riwayat penggunaan obat Riwayat penyakit keluarga

Pemeriksaan

Pemeriksaan Fisik

Alat yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan telinga adalah lampu kepala, corong telinga, otoskop, pelilit kapas, pengait serumen, pinset telinga dan garputala. Mula-mula dillihat keadaan dan bentuk daun telinga, daerah belakang daun telinga (retro aurikuler) apakah terdapat tanda-tanda radang, sikatrik ataupun bekas operasi. Dengan menarik daun telinga ke atas dan ke belakang liang telinga akan menajdi lebih lurus dan mempermudah untuk melihat keadaan liang telinga tengah dan membrane timpani. Pakailah otoskop untuk dapat melihat membrane timpanu dengan lebih jelas.

Bila terdapat serumen dalam liang telinga yang menyembut maka serumen ini harus dikeluarkan. Jika konsistensinya cair maka dapat dikelurkan dengan kapas yang dililitkan, bila konsistensinya lunak atau liat dapat dikeluarkan dengan pengait dan bila berbentuk lempengan dapat dipegang dan dikeluarkan dengan pinset. Jika serumen ini sangat keras dan menyumbat seluruh telinga maka lebih baik dilunakkan dulu dengan minyak atau karbogliserin. Bila sudah lunak atau cair maka dapat dilakukan irigasi dengan air agar telinga menjadi bersih.1 Daun telinga - Diperhatikan bentuk serta tanda-tanda peradangan atau pembengkakan. - Daun telinga ditarik, untuk menentukan nyeri tarik dan menekan tragus untuk menentukan nyeri tekan. Daerah Mastoid - Adakah abses atau fistel di belakang telinga. - Mastoid diperkusi untuk menentukan nyeri ketok. Liang telinga - Lapang atau sempit, dindingnya adakah edema, hiperemis atau ada furunkel. Perhatikan adanya polip atau jaringan granulasi, tentukan dari mana asalnya. Apakah ada serumen atau sekret. Membran tempani Nilai warna, reflek cahaya, perforasi dan tipenya dan gerakannya. Warna membran timpani yang normal putih seperti mutiara. Refleks cahaya normal berbentuk kerucut, warna seperti air raksa Bayangan kaki maleus jelas kelihatan bila terdapat retraksi membrane timpani ke arah dalam.

Perforasi umumnya berbentuk bulat. Bila disebabkan oleh trauma biasanya berbentuk robekan dan di sekitarnya terdapat bercak darah. Lokasi perforasi dapat di atik (di daerah pars = flaksida), di sentral (di pars tensa dan di sekitar perforasi masih terdapat membran) dan di marginal (perforasi terdapat di pars tensa dengan salah satu sisinya langsung berhubungan dengan sulkus timpanikus) Gerakan membran timpani normal dapat dilihat dengan memakai balon otoskop. Pada sumbatan tuba Eustachius tidak terdapat gerakan membran timpani ini.1

Pemeriksaan Hidung, Nasofaring Dan Sinus Paranasal Hidung luar Bentuk hidung luar diperhatikan apakah ada deformitas atau depresi tulang hidung. Apakah ada pembengkakan di daerah hidung dan sinus paranasal. Dengan jari dapat dipalpasi adanya krepitasi tulang hidung atau rasa nyeri tekan pada peradangan hidung dan sinus paranasal.

Rinoskopi anterior| Pasien duduk menghadap pemeriksa. Spekulum hidung dipegang dengan tangan kiri (right handed), arah horizontal, dengan jari telunjuk ditempelkan pada dorsum nasi. Tangan kanan untuk mengatur posisi kepala. Spekulum dimasukkan ke dalam rongga hidung dalam posisi tertutup, dan dikeluarkan dalam posisi terbuka. Saat pemeriksaan diperhatikan keadaan: Rongga hidung, luasnya lapang/sempit( dikatakan lapang kalau dapat dilihat pergerakan palatum mole bila pasien disuruh menelan) , adanya sekret, lokasi serta asal sekret tersebut. Konka inferior, konka media dan konka superior warnanya merah muda (normal), pucat atau hiperemis. Besarnya, eutrofi, atrofi, edema atau hipertrofi. Septum nasi cukup lurus, deviasi, krista dan spina. Jika terdapat sekret kental yang keluar daridaerah antara konka media dan konka inferior kemungkinan sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis etmoid anterior, sedangkan sekret yang terdapat di meatus superior berarti sekret berasal dari sinus etmoid posterior atau sinus sphenoid. Massa dalam rongga hidung, seperti polip atau tumor perlu diperhatikan keberadaannya. Asal perdarahan di rongga hidung, krusta yang bau dan lain-lain perlu diperhatikan.

Rinoskopi posterior Untuk pemeriksaan ini dipakai kaca tenggorok no.2-4. Kaca ini dipanaskan dulu dengan lampu spritus atau dengan merendamkannya di air panas supaya kaca tidak menjadi kabur oleh nafas pasien. Sebelum dipakai harus diuji dulu pada punggung tangan pemeriksa apakah tidak terlalu panas. Lidah pasien ditekan dengan spatula lidah, pasien bernafas melalui mulut kemudian kaca tenggorok dimasukkan ke belakang uvula dengan arah kaca ke atas. Setelah itu pasien diminta bernafas melalui hidung. Perlu diperhatikan kaca tidak boleh menyentuh dinding posterior faring supaya pasien tidak terangsang untuk muntah. Sinar lampu kepala diarahkan ke kaca tenggorok dan diperhatikan : - Septum nasi bagian belakang. - Nares posterior (koana).

- Sekret di dinding belakang faring (post nasal drip) - Dengan memutar kaca tenggorok lebih ke lateral maka tampak konka superior, konka media dan konka inferior. - Pada pemeriksaan rinoskopi posterior dapat dilihat nasopharing, perhatikan muara tuba, torus tubarius dan fossa rossen muller.

Pemeriksan Mulut dan Faring (Orofaring) Dua per tiga bagian depan lidah ditekan dengan spatula lidah kemudian diperhatikan: 1. Dinding belakang faring: warnanya, licin atau bergranula, sekret ada atau tidak dan gerakan arkus faring. 2. Tonsil: besar, warna, muara kripti, apakah ada detritus, adakah perlengketan dengan pilar, ditentukan dengan lidi kapas. Ukuran tonsil 3. 4. 5. 6. To Tonsil sudah diangkat. T1 Tonsil masih di dalam fossa tonsilaris. T2 Tonsil sudah melewati pilar posterior belum melewati garis para Median. T3 Tonsil melewati garis paramedian belum lewat garis median (pertengahan uvula). T4 Tonsil melewati garis median, biasanya pada tumor.

Mulut :bibir, bukal, palatum, gusi dan gigi geligi. Lidah: gerakannya dan apakah ada massa tumor, atau adakah berselaput. Palpasi rongga mulut diperlukan bila ada massa tumor, kista dan lain-lain. Palpasi kelenjar liur mayor (parotis dan mandibula).

Pemeriksaan Hipofaring dan Laring Pasien duduk lurus agak condong ke depan dengan leher agak fleksi. Lidah pasien dijulurkan kemudian dipegang dengan tangan kiri memakai kasa( dengan jari tengah dibawah dan jempol diatas lidah di pegang, telunjuk di bawah hidung, jari manis dan kelingking di bawah dagu). Pasien diminta bernafas melalui mulut denggan tenang. Kaca tenggorok no 9 yang telah dihangatkan dipegang dengan tangan kanan seperti memegang pensil, diarahkan ke bawah, dimasukkan ke dalam mulut dan diletakkan di muka uvula.1

Diperhatikan: Epiglotis yang berbentuk omega Aritenoid berupa tonjolan 2 buah Plika ariepiglotika yaitu lipatan yang menghubungkan aritenoid dengan Epiglottis Rima glotis Pita suara palsu (plika ventrikularis) : warna, edema atau tidak, tumor. Pita suara (plika vokalis): warna, gerakan adduksi pada waktu fonasi dan abduksi pada waktu inspirasi, tumor dan lain-lain - Valekula : adakah benda asing - Sinus piriformis : apakah banyak sekret

Pemeriksaan Leher dan Kelenjar Limfe Leher Pemeriksaan kel tiroid, kista tiroid Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba dengan kedua belah tangan seluruh daerah leher dari atas ke bawah. Bila terdapat pembesaran kelenjar limfe, tentukan ukuran, bentuk, konsistensi, perlekatan dengan jaringan sekitarnya.

Pemeriksaan Penunjang Radiografi dan MRI tidak begitu penting untuk kasus ini kecuali gambaran klinis menunjukkan kemungkinan adanya kerusakan tulang dan atau adanya kholesteatom. Perforasi yang asimtomatik, terutama jika pendengaran masih mendekati normal, biasanya tidak dibutuhkan pemeriksaan ini. Ada beberapa tes lain yang dapat dilakukan untuk menunjang diagnosa antara lain : Dengan otoskopi Perforasi yang kecil mebutuhkan otomikroskopi untuk identifikasi Beberapa program skrining pendengaran seperti test impedance telinga tengah Skrining timpanometri mengungkapkan kelainan yang konsisten dengan perforasi. Masih dibutuhkan pemeriksaan lain untuk konfirmasi

Selalu menunjukkan audiometric ketika diagnosis awal perforasi membran timpani dan juga sebelum dilakukan perbaikan apapun baik di praktek ataupun di ruang operasi. Audiography preoperasi dan postoperasi selalu dilakukan. Hilangnya konduktif mayor tidak hanya menjadi perhatian bagi ahli bedah untuk melihat kemungkinan adanya lesi osikular, tetapi dokumentasi sebelum adanya tuli sensorineural melindungi ahli bedah dari bukti di kemudian hari bahwa operasi menyebabkan hilangnya pendengaran.

Audiometri mengungkapkan pendengaran normal. Adanya tuli konduktif yang ringan merupakan perforasi yang konsisten, dan komponen konduktif setidaknya 30dB mengindikasikan adanya diskontinitas osikular atau kondisi patologik. Pada kasus yang jarang, otomikroskopi dan studi impedance masih meninggalkan

pertanyaan untuk diagnosa perforasi membran timpani. Untuk membuktikan adanya perforasi (dalam wujud suatu arus gelembung), isi saluran telinga dengan air suling yang cukup atau dengan air steril untuk menutupi membran timpani dan pasien melakukan maneuver Valasava. Hasil negative test ini merupakan sugesti dan tidak pasti. Hasil positif pada test ini disebabkan hanya oleh perforasi membran timpani.1 Pada perforasi membran timpani yang kronik, pemeriksaan histologi terlihat adanya epitel skuamosa pada mukosa telinga tengah dan membentuk sudut perforasi. Setiap penyembuhan sudut perforasi menunjukkan adanya factor kontribusi terjadinya perforasi yang persisten.1 Diagnosis Kerja

Daripada anamnesis dan pemeriksaan dapat ditegakkan bahawa pasien menderita otitis media akut (OMA). Penegakan diagnosis terhadap OMA tidak sulit, cukup dengan melihat gejala klinis dan keadaan membran timpani biasanya diagnosis sudah dapat ditegakkan. Penilaian membran timpani dapat dilihat melalui pemeriksaan lampu kepala dan otoskopi. Perforasi yang terdapat pada membran timpani bermacam-macam, antara lain perforasi sentral, marginal, atik, subtotal, dan total.2,3 Selain itu, diagnosis OMA dapat ditegakkan oleh hal hal berikut:

1. Penyakitnya muncul mendadak (akut) 2. Ditemukannya tanda efusi (pengumpulan cairan) di telinga tengah. Efusi dapat dibuktikan dengan adanya salah satu diantara tanda tanda berikut : Menggembungnya gendang telinga Terbatas/ tidak adanya gerakan gendang telinga Adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga Cairan yang keluar dari telinga

3. Adanya tanda/ gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan adanya salah satu diantara tanda berikut : Kemerahan pada gendang telinga Nyeri telinga yang menggangu tidur dan aktivitas

Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh tinggi serta ada riwayat batuk pilek sebelumnya. Anak juga gelisah, sulit tidur, diare, kejang-kejang, dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun, dan anak tertidur tenang. Pada anak yang lebih besar atau dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran dan rasa penuh dalam telinga.

Sedangkan pada bayi dan anak yang lebih kecil gejala khas OMA ialah suhu tubuh tinggi dapat mencapai 39,5 C (pada stadium supurasi), anak gelisah dan susah tidur terkadang anak tiba-tiba menjerit saat tidur.

Diagnosis Banding

Otitis Media Serosa Otitis media serosa adalah keadaan terdapatnya secret yang non-purulen di telinga tengah sedangka membrane timpani utuh. Apabila efusi tersebut kental maka disebut dengan otitis media serosa kronik atau otitis media koloid (glue ear). Pada otitis media koloid, cairan yang terdapat pada liang telinga tengah timbul akibat sekresi aktif dari kelenjar dan kista yang terdapat dalam mukosa telinga tengah, tuba Eustachius dan sel mastoid. Pada otitis media serosa kronik secret terbentuk perlahan secara bertahap tanpa nyeri dengan gejala-gejala pada telinga yang berlangsung lama. Otitis media serosa kronik lebih sering terjadi pada anak-anak. Sekret pada otitis media serosa kronik dapat kental seperti lem maka disebut dengan glue ear. Otitis media serosa kronik juga bias terjadi akibat gejala sisa dari OMA yang tidak sembuh sempurna. Penyebab lain diperkirakan berhubungan dengan infeksi virus, alergi ataupu gangguan mekanis pada tuba. Perassan tuli pada otitis media serosa kronik lebih menonjol (40-50dB) oleh karena adanya secret kental. Pada otoskop terlihat membrane timpani utuh, retraksi, suram, kuning kemerahan atau keabu-abuan. Pengobatan yang harus dilakukan adalah mengeluarkan secret dengan miringotomi dan memasang pipa ventilasi (Grommet). Pada kasus yang masih baru pemberian denkongestan tetes hidung serta kombinasi anti histamine-dekongestan per oral kadang-kadang bias berhasil. Sebagian ahli menganjurkan pemberian obar selama 3 bulan, bila tidak berhasil baru dilakukan operasi.2,3

Otitis Media Supuratif infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang timbul, sekret dapat encer atau kental, bening atau berupa nanah. Otitis media supuratisf kronis selian merusak jaringan lunak pada telinga tengah dapat juga merusak tulang dikarenakan terbentuknya jaringan patologik sehingga sedikit sekali / tidak pernah terjadi resolusi spontan. Otitis media supuratif kronis terbagi antara benigna dan maligna, maligna karena terbentuknya kolesteatom yaitu epitel skuamosa yang bersifat osteolitik. Penyakit OMSK ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita datang dengan gejalagejala penyakit yang sudah lengkap dan morbiditas penyakit telinga tengah kronis ini dapat berganda, gangguan pertama berhubungan dengan infeksi telinga tengah yang terus menerus ( hilang timbul ) dan gangguan kedua adalah kehilangan fungsi pendengaran yang disebabkan

kerusakan mekanisme hantaran suara dan kerusakan konka karena toksisitas atau perluasan infeksi langsung. Tipe Benigna Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk , ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang, discharge mukoid dapat konstan atau intermitten. Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang2 pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit. Perforasi membran timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal, kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid da setelah satu atau dua kali pengobatan local abu busuk berkurang. Cairan mukus yang tidak terlalu bau datang dari perforasi besar tipe sentral dengan membrane mukosa yang berbentuk garis pada rongga timpani merupakan diagnosa khas pada omsk tipe benigna.2,3

Tipe Maligna Dengan Kolesteatom Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas, sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat juga terlihat keeping-keping kecil, berwarna putih mengkilat. Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom.

Etiologi

Otitis media akut (OMA) terjadi karena faktor pertahan tubuh ini terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba yang terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan menyebabkan peradangan.2.3 1. Bakteri Bakteri piogenik merupakan penyebab OMA yang tersering. Menurut penelitian, 65-75% kasus OMA dapat ditentukan jenis bakteri piogeniknya melalui isolasi bakteri terhadap kultur cairan atau efusi telinga tengah. Kasus lain tergolong sebagai non-patogenik karena tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Tiga jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti oleh Haemophilus influenzae (25-30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%). Kira-kira 5% kasus dijumpai patogen-patogen yang lain seperti Streptococcus pyogenes (group A beta-hemolytic), Staphylococcus aureus, dan organisme gram negatif. Staphylococcus aureus dan organisme gram negatif banyak ditemukan pada anak dan neonatus yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Haemophilus influenzae sering dijumpai pada anak balita. Jenis mikroorganisme yang dijumpai pada orang dewasa juga sama dengan yang dijumpai pada anak-anakSelain itu dikatakan juga pencetus terjadinya OMA adalah infeksi saluran napas atas. Pada anak, makan sering anak terserang infeksi saluran napas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA, sedangkan pada bayi OMA lebih mudah terjadi karena tuba Eustachius nya masih pendek, lebar dan letaknya horizontal sehingga apabila terjadi infeksi saluran napas atas akan sangat memudahkan invasi kuman yang akan menyebabkan terjadi otitis media. 2. Virus Virus juga merupakan penyebab OMA. Virus dapat dijumpai tersendiri atau bersamaan dengan bakteri patogenik yang lain. Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak, yaitu respiratory syncytial virus (RSV), influenza virus, atau adenovirus (sebanyak 30-40%). Kira-kira 10-15% dijumpai parainfluenza virus, rhinovirus atau enterovirus. Virus akan membawa dampak buruk terhadap fungsi tuba Eustachius, menganggu fungsi imun lokal, meningkatkan adhesi

bakteri,

menurunkan

efisiensi

obat

antimikroba

dengan

menganggu

mekanisme

farmakokinetiknya (Kerschner, 2007). Dengan menggunakan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan virus specific enzyme-linked immunoabsorbent assay (ELISA), virus-virus dapat diisolasi dari cairan telinga tengah pada anak yang menderita OMA pada 75% kasus Seperti yang telah disebutkan diatas mengenai saluran tuba Eustachius pada anak dan bayi, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan mengapa pada anak dan bayi lebih sering mengalami OMA, yaitu : 1. Sistem kekebalan tubuh anak yang masih dalam tahap perkembangan 2. adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Epidemiologi

Prevalensi terjadinya otitis media di seluruh dunia untuk usia 1 tahun sekitar 62%, sedangkan anak-anak berusia 3 tahun sekitar 83%. Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami minimal satu episode otitis media sebelum usia 3 tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris setidaknya 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. Patofisiologi

Otitis media sering diawali dengan infeksi saluran napas seperti radang tenggorok atau pilek yang kemudian menyebar ke telinga tengah melalui tuba Eustachius. Saat bakteri melewati tuba Eustachius, bakteri ini dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran yang menyebabkan tersumbatnya saluran dan kemudian

datangnya sel sel darah ptuih untuk melawan bakteri tersebut. Sel sel darah putih ini akan membunuh bakteri tersebut dengan cara mengorbankan diri sendiri yang pada akhirnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah ini.2 Selain itu pembengkakan jaringan sekitar tuba Eustachius ini menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, fungsi pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulangtulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Rasa nyeri juga dapat timbul akibat pembengkakan dan penumpukan lendir pada telinga tengah ini sampai keluhan yang terberat dapat berupa robeknya gendang telinga karena besarnya tekanan yang tidak seimbang. Telinga tengah biasanya steril. Gabungan aksi fisiologis silia, enzim penghasil mucus dan anti bodi berfungsi sebagai mekanisme pertahanan bila telinga terpapar dengan mikroba kontaminan pada saat menelan. Otitis media terjadi bila mekanisme fisiologis ini terganggu. Sebagai pelengkap system pertahanan dipermukaan, suatu anyaman kapiler subepitelyang penting menyediakan faktor-faktor humoral, leukosit polimorfonukleardan sel fagosit lainya. Obstruksi atau eklusi tuba eustachius merupak suatu faktor penyebab dasar pada otitis media karena terjadi hilangnya sawar utama terhadap bakteri dan biasanya pada bakteri yang biasanya tidak patogenik dapatv berkolonisasi di telinga tengah, menyerang jaringan dan menimbulkan infeksi. Pada tahap awal infeksi biasanya terjadi pelebaran pembuluh darah pada membrane timpani yang biasa disebut dengan stadium hiperemis. 2 Karena proses peradangan yang hebat dan terjadi pecahnya sel epitel, menyebabkan terbentuknya eksudat purulen pada kavum timpani dan menyebabkan membrane timpani menonjol ke arah meatus auditiva eksterior. Biasanya pada stadium ini pasien merasakan nyeri yang sangat hebat, suhu meningkat dan pada anak sering mengalami susah tidur dan rewel. Karena pemberian antibiotika yang terlambat atau virulensi kuman yang sangat tinggi, dapat terjadi rupturnya membrane timpani dan pus keluar menuju ke telinga bagian luar. Pada stadium ini biasanya anak sudah mulai tenang, nyeri dan suhu tubuh sudah menurun.

Pada stadium supuratif dan perforasi akan terjadi gangguan pendengaran konduktif akibat membrane timpani yang tidak dapat bekerja secara maksimal. Membrane timpani yang rupture akan bisa menyatu kembali dan dapat berfungsi secara normal kembali pada stadium resolusi.

Dipercayai bahwa anak lebih mudah terserang OMA dibanding dengan orang dewasa. Ini karena pada anak dan bayi, tuba lebih pendek, lebih lebar dan kedudukannya lebih horizontal dari tuba orang dewasa, sehingga infeksi saluran pernapasan atas lebih mudah menyebar ke telinga tengah. Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah umur 9 bulan adalah 17,5 mm (Djaafar, 2007). Ini meningkatkan peluang terjadinya refluks dari nasofaring menganggu drainase melalui tuba Eustachius. Insidens terjadinya otitis media pada anak yang berumur lebih tua berkurang, karena tuba telah berkembang sempurna dan diameter tuba Eustschius meningkat, sehingga jarang terjadi obstruksi dan disfungsi tuba. Selain itu, sistem pertahanan tubuh anak masih rendah sehingga mudah terkena ISPA lalu terinfeksi di telinga tengah. Adenoid merupakan salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh. Pada anak, adenoid relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid yang berdekatan dengan muara tuba Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya tuba Eustachius. Selain itu, adenoid dapat terinfeksi akibat ISPA kemudian menyebar ke telinga tengah melalui tuba Eustachius.3

Faktor predisposisi pada anak terhadap otitis media yang paling menonjol adalah posisi horizontal dan dukungan kartilago flaksid pada tuba eustachius yang pada orang tua anatominya akan berubah. Hal tersebut menyebabkan infeksi virus atau bakteri pada saluran pernafasan atas dapat menyebar ke telinga bagian tengah melalui tuba eustachius.2,3

Gambar 1: Perbedaan Antara Tuba Eustachius pada Anak-anak dan Orang Dewasa

Faktor Risiko Faktor risiko terjadinya otitis media adalah umur, jenis kelamin, ras, faktor genetik, status sosioekonomi serta lingkungan, asupan air susu ibu (ASI) atau susu formula, lingkungan merokok, kontak dengan anak lain, abnormalitas kraniofasialis kongenital, status imunologi, infeksi bakteri atau virus di saluran pernapasan atas, disfungsi tuba Eustachius, inmatur tuba Eustachius dan lain-lain

Faktor umur juga berperan dalam terjadinya OMA. Peningkatan insidens OMA pada bayi dan anak-anak kemungkinan disebabkan oleh struktur dan fungsi tidak matang atau imatur tuba Eustachius. Selain itu, sistem pertahanan tubuh atau status imunologi anak juga masih rendah. Insidens terjadinya otitis media pada anak laki-laki lebih tinggi dibanding dengan anak perempuan. Anak-anak pada ras Native American, Inuit, dan Indigenous Australian menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi dibanding dengan ras lain. Faktor genetik juga berpengaruh. Status sosioekonomi juga berpengaruh, seperti kemiskinan, kepadatan penduduk, fasilitas higiene yang terbatas, status nutrisi rendah, dan pelayanan pengobatan terbatas, sehingga

mendorong terjadinya OMA pada anak-anak. ASI dapat membantu dalam pertahanan tubuh. Oleh karena itu, anak-anak yang kurangnya asupan ASI banyak menderita OMA.

Lingkungan merokok menyebabkan anak-anak mengalami OMA yang lebih signifikan dibanding dengan anak-anak lain. Dengan adanya riwayat kontak yang sering dengan anak-anak lain seperti di pusat penitipan anak-anak, insidens OMA juga meningkat. Anak dengan adanya abnormalitas kraniofasialis kongenital mudah terkena OMA karena fungsi tuba Eustachius turut terganggu, anak mudah menderita penyakit telinga tengah. Otitis media merupakan komplikasi yang sering terjadi akibat infeksi saluran napas atas, baik bakteri atau virus.4

Manifestasi Klinik Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien. Stadium otitis media akut (OMA) berdasarkan perubahan mukosa telinga tengah:

Gambar 2: Membran Timpani Normal

1. Stadium oklusi tuba Eustachius

Terdapat gambaran retraksi membran timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi.2

2. Stadium hiperemis (presupurasi) Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sukar terlihat.2

Gambar 3 Membran Timpani Hiperemis 3. Stadium supurasi Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial serta terbentuknya eksudat purulen di kavum timpani.Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromboflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan kekuningan pada membran timpani. Di tempat ini akan terjadi ruptur.2

Gambar 4 Membran Timpani Bulging dengan Pus Purulen

4. Stadium perforasi Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tidur nyenyak.2

Gambar 5: Membran Timpani Peforasi 5. Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali. Bila terjadi perforasi maka sekret akan berkurang dan mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi

kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. Otitis media akut (OMA) berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terusmenerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut otitis media supuratif kronik (OMSK) bila berlangsung lebih 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa perforasi.Pada anak, keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga dan suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada orang dewasa, didapatkan juga gangguan pendengaran berupa rasa penuh atau kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas otitis media anak adalah suhu tubuh yang tinggi (> 39,5 derajat celsius), gelisah, sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, diare, kejang, dan kadangkadang memegang telinga yang sakit. Setelah terjadi ruptur membran tinmpani, suhu tubuh akan turun dan anak tertidur. Komplikasi Sebelum adanya antibiotik, otitis media akut (OMA) dapat menimbulkan komplikasi, mulai dari abses subperiosteal sampai abses otak dan meningitis. Otitis media yang tidak diobati dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengah, termasuk otak. Namun komplikasi ini umumnya jarang terjadi. Salah satunya adalah mastoiditis pada 1 dari 1000 anak dengan OMA yangtidak diobati. Otitis media yang tidak diatasi juga dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen. Cairan di telinga tengah dan otitis media kronik dapat mengurangi pendengaran anak serta menyebabkan masalah dalam kemampuan bicara dan bahasa. Otitis media dengan efusi didiagnosis jika cairan bertahan dalam telinga tengah selama 3 bulan atau lebih.2,3,5

Penatalaksanaan Terapi OMA bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik.6

Stadium Oklusi. Terapi ditujukan untuk membuka kembali tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,25 % untuk anak < 12 tahun atau HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologis untuk anak diatas 12 tahun dan dewasa. Selain itu sumber infeksi lokal harus diobati. Antibiotik diberikan bila penyebabnya kuman.6

Stadium Presupurasi. Diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan analgesik. Bila membran timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari.6

Stadium Supurasi. Selain antibiotik, pasien harus dirujuk untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur. Stadium Perforasi. Terlihat sekret banyak keluar, kadang secara berdenyut. Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup sendiri dalam 7-10 hari.6

Stadium Resolusi. Membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi, dan perforasi menutup.

Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Keadaan ini dapat disebabkan karena berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada keadaan demikian, antibiotika dapat dilanjutkan sampai 3 minggu.

Bila 3 minggu setelah pengobatanvsekret masih tetap banyak, kemungkinan telah terjadi mastoiditis.

Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronis (OMSK).6

Pencegahan Beberapa hal yang tampaknya dapat mengurangi risiko OMA adalah: 1. pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak, 2. pemberian ASI minimal selama 6 bulan, 3. penghindaran pemberian susu di botol saat anak berbaring, 4. dan penghindaran pajanan terhadap asap rokok. Berenang kemungkinan besar tidak meningkatkan risiko OMA. Prognosis Prognosis pada otitis media akut adalah baik jika ditangani dengan tindakan yang sesuai berdasarkan stadiumnya dan biasanya sembuh dengan sendirinya. Kesimpulan Anak berusia 2 tahun dengan keluhan demam sejak 3 hari lalu, tidak mahu makan dan hidung mengeluarkan ingus encer serta sakit telinga kanan adalah disebabkan Otitis Media Akut Telinga Dextra.

Daftar Pustaka 1. Efiaty, Nurbaiti, Janny, Ratna. Pemeriksaan Telinga, Hidung dan Tenggorok. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. FKUI. Jakarta. 6th Edition. 2010: 1-9. 2. Efiaty, Nurbaiti, Janny, Ratna. Kelainan Telinga Tengah. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. FKUI. Jakarta. 6th Edition. 2010: 64-73. 3. Fauci, Braunwald, Kasper, Hauser, Et al. Pharyngitid, Sinusitis, Otitis, and Other Upper Respiratory Infection. Harrisons Principles of Internal Medicine. 17th Edition. Vol I. United States of America: Mc Graw Hill. 2008: 205-13. 4. Efiaty, Nurbaiti, Janny, Ratna. Infeksi Hidung. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. FKUI. Jakarta. 6th Edition. 2010: 139-44. 5. Efiaty, Nurbaiti, Janny, Ratna. Sinus Paranasal. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga. Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. FKUI. Jakarta. 6th Edition. 2010: 145-49. 6. Katzung, B. Susan, J. Anthony. Chemotherapeutics Drugs. Basic And Clinical Pharmacology. International 11th Edition. Singapore: Mc Graw Hill; 2009: 773-986.

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended