Home >Documents >MAKALAH IMUNOLOGI

MAKALAH IMUNOLOGI

Date post:02-Jun-2018
Category:
View:307 times
Download:18 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 8/10/2019 MAKALAH IMUNOLOGI INFLAMASI.docx

    1/16

    Imunologi_Inflamasi Page 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    I.1 Latar Belakang

    Inflamasi adalah respon biologis kompleks dari jaringan vaskuler atas adanya bahaya,

    seperti pathogen, kerusakkan sel, atau iritasi. Ini adalah usaha perlindungan diri organisme

    untuk menghilangkan rangsangan penyebab luka dan inisiasi proses penyembuhan jaringan.

    Jika inflamasi tidak ada maka luka dan infeksi tidak akan sembuh dan akan menggalami

    kerusakkan yang lebih parah. Inflamsi yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan

    penyakit, seperti demam, atherosclerosis, dan reumathoid arthritis. (Gard, 2001)

    Inflamasi dapat dibedakan atas inflamasi akut dan kronis. Inflamasi akut adalah

    respon awal tubuh oleh benda berbahaya dan meningkat dengan meningkatnya pergerakkan

    plasma dan leukosit dari darah ke jaringan luka. Reaksi biokimia berantai yang

    mempropagasi dan pematangan respon imun, termasuk system vaskuler, system imun, dan

    berbagai sel yang ada pada jaringan luka. Inflamasi kronis adalah atau inlamasi yang

    berpanjangan memicu peningkatan pergantian tipe sel yang ada pada tempat inflamasi dan

    dicirikan dengan kerusakkan dan penutupan jaringan dari proses inflamasi. (Gard, 2001)

    I.2 Manifestasi klinis inflamasi

    Fenomena inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskular, meningkatnya permeabilitas

    kapiler dan migrasi leukosit ke jaringan radang. Gejala umum proses inflamasi yang sudah

    dikenal yaitu, kolor, rubor,tumor, dolor, dan function laesa. Selama proses inflamasi terjadi

    banyak mediator kimia yang dilepaskan secara local antara lain histamine, 5-

    hidroksitriptamin (5-HT), factor kemotatik, bradikinin, leukotrien, dan PG.

    Beberapa penelitian menyebutkan bahwa inflamasi kronis berkaitan erat dengan adanya

    peningkatan mutasi seluler yang menginisiasi terjadinya kanker. Inflamasi yang terjadi terus

    menerus pada pembuluh darah berkontribusi langsung pada terbentuknya plak dalam dinding

    pembuluh arteri sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah dan menyebabkan tekanan

    darah tinggi, serangan jantung, serta stroke. Penyakit lain yang melibatkan adanya proses

    inflamasi kronis dalam tubuh antara lain,arthritis, asma, diabetes, alergi, anemia, penyakit

    Alzheimer, fibrosis, fibromyalgia, systemic lupus, psoriasis, pancreatitis, dan penyakit-

    penyakit autoimun sehingga diperlukan obat antiinflamasi.

  • 8/10/2019 MAKALAH IMUNOLOGI INFLAMASI.docx

    2/16

    Imunologi_Inflamasi Page 2

    I.3 Tujuan

    1.Mengetahui dan memahami definisi inflamasi.

    2.Mengetahui dan memahami penyebab inflamasi.

    3.Mengetaui tanda-tanda inflamasi.

    4.Mengetahui mediator inflamasi.

    5.Mengetahui sel yang berperan dalam proses inflamasi.

    6.Mengetahui dan memahami mekanisme inflamasi.

    I.4 Rumusan Masalah

    1.Apakah definisi inflamasi itu?

    2. Apa yang menyebabkan inflamasi?

    3. Bagaimana tanda-tanda inflamasi?

    4. Apa saja mediator inflamasi ?

    5. Apa saja sel yang berperan dalam proses inflamasi?

    6. Bagaimana mekanisme inflamasi?

    I.5 Manfaat

    Menambah pengetahuan tentang inflamasi, penyebab inflamasi, tanda -

    tandaterjadinya inflamasi, mediator yang menyebabkan inflamasi, sel yang berperandalam

    proses inflamasi dan memahami mekanisme inflamasi baik akut maupunkronis.

  • 8/10/2019 MAKALAH IMUNOLOGI INFLAMASI.docx

    3/16

    Imunologi_Inflamasi Page 3

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    II.1 Inflamasi

    Inflamasi merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau

    kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau mengurung

    (sekuestrasi) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu (Dorland, 2002).

    Inflamasi (peradangan) merupakan reaksi kompleks pada jaringan ikat yang memiliki

    vaskularisasi akibat stimulus eksogen maupun endogen. Dalam arti yang paling sederhana,

    inflamasi adalah suatu respon protektif yang ditujukan untuk menghilangkan penyebab awal

    jejas sel serta membuang sel dan jaringan nekrotik yang diakibatkan oleh kerusakan sel

    (Robbins, 2004).

    Penyebab inflamasi antara lain mikroorganisme, trauma mekanis, zat-zat kimia, dan pengaruh

    fisika. Tujuan akhir dari respon inflamasi adalah menarik protein plasma dan fagosit ke

    tempat yang mengalami cedera atau terinvasi agar dapat mengisolasi, menghancurkan, atau

    menginaktifkan agen yang masuk, membersihkan debris dan mempersiapkan jaringan untuk

    proses penyembuhan (Corwin, 2008).

    Respons inflamasi terjadi dalam tiga fase dan diperantarai oleh mekanisme yang berbeda :

    fase akut, dengan ciri vasodilatasi lokal dan peningkatan permeabilitas kapiler.

    reaksi lambat, tahap subakut dengan ciri infiltrasi sel leukosit dan fagosit.

    fase proliferatif kronik, dengan ciri terjadinya degenerasi dan fibrosis (Wilmana,

    2007).

    Respon antiinflamasi meliputi kerusakan mikrovaskular, meningkatnya permeabilitas kapiler

    dan migrasi leukosit ke jaringan radang. Gejala proses inflamasi yang sudah dikenal ialah:

    1. Kemerahan (rubor)

    Terjadinya warna kemerahan ini karena arteri yang mengedarkan darah ke daerah

    tersebut berdilatasi sehingga terjadi peningkatan aliran darah ke tempat cedera (Corwin,

    2008).

    2. Rasa panas (kalor)

    Rasa panas dan warna kemerahan terjadi secara bersamaan. Dimana rasa panasdisebabkan karena jumlah darah lebih banyak di tempat radang daripada di daerah lain di

  • 8/10/2019 MAKALAH IMUNOLOGI INFLAMASI.docx

    4/16

    Imunologi_Inflamasi Page 4

    sekitar radang. Fenomena panas ini terjadi bila terjadi di permukaan kulit. Sedangkan bila

    terjadi jauh di dalam tubuh tidak dapat kita lihat dan rasakan (Wilmana, 2007).

    3. Rasa sakit (dolor)

    Rasa sakit akibat radang dapat disebabkan beberapa hal:

    Adanya peregangan jaringan akibat adanya edema sehingga terjadi peningkatan

    tekanan lokal yang dapat menimbulkan rasa nyeri,

    Adanya pengeluaran zat zat kimia atau mediator nyeri seperti prostaglandin,

    histamin, bradikinin yang dapat merangsang saraf saraf perifer di sekitar radang

    sehingga dirasakan nyeri (Wilmana, 2007).

    4. Pembengkakan (tumor)

    Gejala paling nyata pada peradangan adalah pembengkakan yang disebabkan oleh

    terjadinya peningkatan permeabilitas kapiler, adanya peningkatan aliran darah dan cairan ke

    jaringan yang mengalami cedera sehingga protein plasma dapat keluar dari pembuluh darah

    ke ruang interstitium (Corwin, 2008).

    5. Fungsiolaesa

    Fungsiolaesa merupakan gangguan fungsi dari jaringan yang terkena inflamasi dan

    sekitarnya akibat proses inflamasi. (Wilmana, 2007).

    Selama berlangsungnya respon inflamasi banyak mediator kimiawi yang dilepaskan secara

    lokal antara lain histamin, 5-hidroksitriptamin (5HT), faktor kemotaktik, bradikinin,

    leukotrien dan prostaglandin (PG). Dengan migrasi sel fagosit ke daerah ini, terjadi lisis

    membran lisozim dan lepasnya enzim pemecah. Obat mirip aspirin dapat dikatakan tidak

    berefek terhadap mediator-mediator kimiawi tersebut kecuali PG (Wilmana, 2007).

  • 8/10/2019 MAKALAH IMUNOLOGI INFLAMASI.docx

    5/16

    Imunologi_Inflamasi Page 5

    Gambar 3. Pembentukan metabolit asam arakidonat dan peranan dalam inflamasi. (Sumber :

    Robbins, 2004)

    II.2 Mekanisme Inflamasi

    Inflamasi dibagi dalam 3 fase, yaitu inflamasi akut (respon awal terhadap cidera

    jaringan), respon imun (pengaktifan sejumlah sel yang mampu menimbulkan kekebalan

    untuk merespon organisme asing), dan inflamasi kronis (Katzung, 2004). Proses inflamasi

    akut dan inflamasi kronis ini melibatkan sel leukosit polimorfonuklear sedangkan sel leukosit

    mononuklear lebih berperan pada proses inflamasi imunologis (Sedwick & Willoughby,

    1994). Secara umum, dalam proses inflamasi ada tiga halpenting yang terjadi yaitu :

    a. Peningkatan pasokan darah ke tempat benda asing, mikroorganisme atau jaringan yang

    rusak.

    b. Peningkatan permeabilitas kapiler yang ditimbulkan oleh pengerutan sel endotel yang

    memungkinkan pergerakan molekul yang lebih besar seperti antibodi.

    c. Fagosit bergerak keluar pembuluh darah menuju menuju ke tempat benda asing,

    mikroorganisme atau jaringan yang rusak. Leukosit terutama fagosit PMN

    (polymorphonuclear neutrophilic) dan monosit dikerahkan dari sirkulasi ke tempat bendaasing, mikroorganisme atau jaringan yang rusak. (Hamor,1989)

  • 8/10/2019 MAKALAH IMUNOLOGI INFLAMASI.docx

    6/16

    Imunologi_Inflamasi Page 6

    Terjadinya respon inflamasi ditandai oleh adanya dilatasi pada pembuluh darah serta

    pengeluaran leukosit dan cairan pada daerah inflamasi. Respon tersebut dapat dilihat dengan

    munculnya gejala-gejala seperti kemerahan (erythema) yang terjadi akibat dilatasi pembuluh

    darah, pembengkakan (edema) karena masuknya cairan ke dalam jaringan lunak serta

    pengerasan jaringan akibat pengumpulan cairan dan sel-sel (Ward, 1993).

    Mekanisme terjadinya inflamasi secara umum dapat dilihat pada Gambar 2.

    Adanya rangsang iritan atau cidera jaringan akan memicu pelepasan mediator-mediator

    inflamasi. Senyawa ini dapat mengakibatkan vasokontriksi singkat pada arteriola yang diikuti

    oleh dilatasi pembuluh darah, venula dan pembuluh limfa serta dapat meningkatkan

    permeabilitas vaskuler pada membran sel. Peningkatan permeabilitas vaskuler yang lokal

    dipengaruhi oleh komplemen melalui jalur klasik (kompleks antigen-antibodi), jalur lectin

    (mannose binding lectin) ataupun jalur alternatif.

    Peningkatan permeabilit

Embed Size (px)
Recommended