Home >Education >Makalah hadist dan ulumul hadist

Makalah hadist dan ulumul hadist

Date post:10-Feb-2017
Category:
View:535 times
Download:14 times
Share this document with a friend
Transcript:

MakalahHadist dan Ulumul HadistPengertian, sejarah, perkembangannya dan cabang-cabangnya& Pembagian hadits

Yang di Bimbing oleh:Ali Tamam, M. Pd I

Yang disusun oleh:

1. Fitriyani(201346041138)2. Nur Afifah (201346041139)

STI Syariah Sentra Bisnis IslamJl. Kalidami no 14- 16 SurabayaTahun Ajaran 2015- 2016

Kata Pengantar

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas kelimpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini untuk memenuhi salah satu mata kuliah yatu Hadist dan Ulumul Hadist. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi akhir zaman, manusia terbaik yang di turunkan Allah ke muka bumi, satu-satunya nabi dan rosul yang berhak member safaat, sang permata di antara batu karang, yakni nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Semoga kita termasuk umat beliau dan berhak memperoleh safaatnya nanti di hari akhir amin..Ulumul hadist adalah salah satu bidang study atau mata kuliah yang sangat penting bagi para pelajar dan mahasiswa yang ingin mempelajari hadist dan keislaman secara mendalam. Ulumul hadist merupakan ilmu yang mengantar umat islam untuk memahami kajian hadist dengan mudah dan benar. Dengan demikian memahami Ulumul Hadist sangat penting, karena hadits merupakan sumber ke dua setelah Al-quran.Manusia dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli danaqli. Sumber yang bersifatnaqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia baik dalam agamanya secara khusus, maupun masalah dunia pada umumnya. Dan sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah Alquran dan Hadis Rasulullah SAW.Allah telah menganugerahkan kepada umat kita para pendahulu yang selalu menjaga Alquran dan hadis Nabi SAW. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian di antara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Alquran dan ilmunya yaitu para mufassir. Dan sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadis Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadis. Salah satu bentuk nyata para ahli hadis ialah dengan lahirnya istilahUlumul Hadis(Ilmu Hadis) yang merupakan salah satu bidang ilmu yang penting di dalam Islam, terutama dalam mengenal dan memahami hadis-hadis Nabi SAW. Karena hadis merupakan sumber ajaran dan hukum Islam kedua setelah dan berdampingan dengan Alquran. Namun begitu perlu disadari bahwa hadis-hadis yang dapat dijadikan pedoman dalam perumusan hukum dan pelaksanaan ibadah serta sebagai sumber ajaran Islam adalah hadis-hadis yangMaqbul (yang diterima), yaitu hadis sahih dan hadis hasan. Selain hadis maqbul, terdapat pula hadisMardud, yaitu hadis yang ditolak serta tidak sah penggunaannya sebagai dalil hukum atau sumber ajaran Islam. Bahkan bukan tak mungkin jumlah hadis mardud jauh lebih banyak jumlahnya daripada hadis yang maqbul.Untuk itulah umat Islam harus selalu waspada dalam menerima dan mengamalkan ajaran yang bersumber dari sebuah hadis. Artinya, sebelum meyakini kebenaran sebuah hadis, perlu dikaji dan diteliti keotentikannya sehingga tidak terjerumus kepada kesia-siaan. Adapun salah satu cara untuk membedakan antara hadis yang diterima dengan yang ditolak adalah dengan mempelajari dan memahami Ulumul Hadis yang memuat segala permasalahan yang berkaitan dengan hadis.Tak ada gading yang tak retak, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun selalu kami nantikan, untuk perbaikan pembuat makalah selanjutnya.

Surabaya, 16 Oktober 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata PengantarDaftar IsiBAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang1.2 Rumusan Masalah1.3 TujuanBAB IIPEMBAHASAN2.1 Pengertian Ulumul Hadist2.2 Sejarah Perkembangan Ilmu Hadista. Periode Pertama (Zaman Rasul)b. Periode Kedua (Masa Khulafaur rasyidin)c. Periode Ketiga (Masa Sahabat Kecil Tabiit Besar)d. Periode Keempat (Masa Pembukuan Hadist)e. Periode Kelima (Masa Kodefikasi Hadist)f. Periode Enam (dari tahun 656 H sampai sekarang)2.3 Cabang- cabang Ilmu Hadista. Ilmu Dirayatul Hadistb. Ilmu Riwayatul Hadist2.4 Pembagian Hadist Dari segi kuantitas sanad, mutawatir, masyhur, dan ahada. Hadist Ditinjau dari Segi Kuantitas SanadnyaBAB IIIPENUTUP3.1 Kritik3.2 Saran

BAB IPendahuluan

1.1. Latar belakang.Hadits atau yang disebut dengan sunnah, adalah segala sesuatu yang bersumber atau disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan atau taqrirnya. Sebagai sumber ajaran Islam setelah Al-Qur'an, sejarah perjalanan Hadits tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan Islam itu sendiri. Akan tetapi, dalam beberapa hal terdapat ciri-ciri tertentu yang spesifik, sehingga dalam mempelajarinya diperlukan pendekatan khusus.Hadis dapat disebut sumber hukum Islam ke-dua setelah Al-Quran karena, hadis diriwayatkan oleh para perawi dengan sangat hati-hati dan teliti, sebagaimana sabda Nabi s.a.w. : Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya dalam neraka disediakan

Tidak seperti Al-Qur'an, dalam penerimaan Hadits dari Nabi Muhammad SAW banyak mengandalkan hafalan para sahabatnya, dan hanya sebagian saja yang ditulis oleh mereka. Penulisan itupun hanya bersifat dan untuk kepentingan pribadi. Dengan demikian, Hadits-hadits yang ada pada para sahabat, yang kemudian diterima oleh para tabi'in, memungkinkan ditemukan adanya redaksi yang berbeda-beda. Sebab ada yang meriwayatkannya sesuai atau sama benar dengan lafadz yang diterima dari Nabi SAW, dan ada yang hanya sesuai makna atau maksudnya saja, sedangkan redaksinya tidak sama.Atas dasar itulah, maka dalam menerima suatu Hadits, langkah yang harus dilakukan adalah dengan meneliti siapa pembawa Hadits itu (disandarkan kepada siapa Hadits itu), untuk mengetahui apakah Hadits itu patut kita ikuti atau kita tinggalkan. Oleh karena untuk memahami Hadits secara universal, diantara beberapa jalan, salah satu diantaranya adalah dengan melihat Hadits dari segi kuantitas atau jumlah banyaknya pembawa Hadits (Sanad) itu.

1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengertian Ulumul Hadist ? 2. Bagaimanakah Sejarah, perkembangan dan cabang dari ulumul Hadist ?3. Bagaimana penjelasan ulumul hadist dari segi kuantitas sanat, mutawattir, masyhur, dan ahad?4. Bagaimanakah penjelasan ulumul Hadist dari segi kualitas: shohih, hasan dan dlaif, ma'mulbih dan ghayar ma'mulbih ?

1.2. Tujuan 1. Mengetahui pengertian ulumul Hadist.2. Mengetahui sejarah, perkembangan dan cabang dari ulumul Hadist.3. Mengetahui dan mengerti tentang ulumul hadist dari segi kuantitas semisal sanad, mutawattir, masyhur, dan ahad.4. Mengetahui dan mengerti tentang ulumul hadist dari segi kualitas semisal shohih, hasan, dlaif, mamulbih dan ghayar mamulbih.

BAB IIPEMBAHASAN2.1 Pengertian Ulumul HadistUlumul Hadits adalah istilah ilmu hadits di dalam tradisi Ulama Hadits yang bahasa Arabnya yaitu Ulum al-Hadits. Ulum al-Hadits ini terdiri atas dua kata, yaitu Ulum dan al-Hadits. Kata Ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari ilm, jadi berarti ilmu-ilmu; sedangkan al-Hadits di kalangan Ulama Hadits berarti segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW. dari perkataan, perbuatan, taqrir atau sifat. Dengan demikian Ulumul Hadits adalah ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan hadits Nabi SAW.Sekitar pertengahan abad ke-3 Hijriyah sebagian Muhadditsin mulai merintis ilmu ini dalam garis-garis besarnya saja dan masih berserakan dalam beberapa mushafnya. Diantara mereka adalah Ali bin Almadani (238 H), Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam At-Turmudzi dan lain-lain.Adapun perintis pertama yang menyusun ilmu ini secara fak (spesialis) dalam satu kitab khusus ialah Al-Qandi Abu Muhammad Ar-Ramahurmuzy (360 H) yang diberi nama dengan Al-Muhaddisul Fasil Bainar Wari Was Sami. Kemudian bangkitlah Al-Hakim Abu Abdilah an-Naisaburi (321-405 H) menyusun kitabnya yang bernama Makrifatu Ulumil Hadits. Usaha beliau ini diikuti oleh Abu Nadim al-Asfahani (336-430 H) yang menyusun kitab kaidah periwayatan hadits yang diberi nama Al-Kifayah dan Al-Jamu Liadabis Syaikhi Was Sami yang berisi tentang tata cara meriwayatkan hadits.2.2 Sejarah perkembangan Ilmu Haditsa. Periode Pertama (Zaman Rasul)Para sahabat bergaul dan berinteraksi langsung dengan Nabi, sehingga setiap permasalahan atau hukum dapat ditanyakan langsung kepada Nabi. Para sahabat lebih fokus dengan menghapal dan mempelajari Al-Quran. Rasul pada masa itu secara umum melarang menuliskan hadits karena takut tercampur baur dengan ayat Al-Quran karena wahyu sedang / masih diturunkan.Secara umum sahabat masih banyak yang buta huruf sehingga tidak menuliskan hadits, mereka meriwayatkan hadits mengandalkan hafalan secara lisan. Sebagian kecil sahabat yang pandai baca tulis- menuliskan hadits seperti: Abdullah Bin Amr Bin Ash yang mempunyai catatan hadits dan dikenal sebagai Shahifah Ash Shadiqah juga Jabir Bin Abdullah Al Anshary mempunyai catatan hadits yang dikenal sebagai Shahifah Jabir. Pada event tertentu orang Arab badui ingin fatwa Nabi dituliskan, maka Nabi meluluskan permintaannya untuk menuliskan haditsnya.b. Periode Kedua (Masa Kulafaur Rasyidin)Sebagian sahabat tersebar keluar jazirah Arab karena ikut serta dalam jihad penaklukan ke daerah Syam, Iraq, Mesir, Persia. Pada daerah taklukan yang baru masuk Islam, Khalifah Umar menekankan agar mengajarkan Al-Quran terlebih dahulu kepada mereka. Khalifah Abu Bakar meminta kesaksian minimal satu orang bila ada yang meriwayatkan hadits kepadanya. Khalifah Ali meminta bersumpah orang yang meriwayatkan hadits. Khalifah Umar melarang sahabat besar keluar dari kota Madinah dan melarang memperbanyak periwayatan hadits. Setelah Khalifah Umar wafat, sahabat besar keluar kota Madinah tersebar kedaerah taklukkan untuk mengajarkan agama.c. Periode Ketiga (Masa Sahabat Kecil dan Tabiin Besar)Para sahabat besar telah terpencar keluar dari Madinah. Jabir pergi ke Syam menanyakan

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended