Home >Documents >MAKALAH Critical Thinking

MAKALAH Critical Thinking

Date post:27-Jun-2015
Category:
View:1,380 times
Download:87 times
Share this document with a friend
Transcript:

MAKALAH BERPIKIR KRITIS DAN PROSES KEPERAWATANDiajukan untuk Memenuhi Tugas Harian Mata Kuliah Fundamental of Nursing III

Disusun oleh : Suci Amalya Suci Puspitasari Sylvia Farmasya Adha Tarina Eka Putri Taufik N Rochman Teguh Sumarna Tia Destianti Tiktik Yuniarti Tasrikah Twenty S Simanjuntak Ulan Imagi Upik Desma Venti Apriani F 220110090130 220110090042 220110090125 220110090112 220110090049 220110090072 220110090085 220110090097 220110090004 220110090058 220110090095 220110090055

Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena karena rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini berisikan tentang berpikir kritis yang ditunjang dengan proses keperawatan. Perawat dalam melaksanakan tanggung jawabnya untuk membantu individu meraih kembali atau meningkatkan kesehatannya harus mampu berpikir kritis. Kami ucapkan terima kasih untuk rekan-rekan dan dosen yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Kami hanya manusia yang tak luput dari kesalahan, maka kami mohon maaf apabila telah melakukan kesalahan di dalam penyusunan makalah ini serta isi dalam makalah. Semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi siapapun.

Jatinangor, Februari 2010

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... i DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................... 2 2.1 Berpikir Kritis ................................................................................... 2 2.1.1 Model Berpikir Kritis ........................................................ 2.1.2 Tingkat Berpikir dalam Keperawatan ............................... 2.2 Proses Keperawatan ........................................................................ 2.2.1 Pengkajian ......................................................................... 2 7 8 9

2.2.2 Diagnosa Keperawatan ..................................................... 14 2.2.3 Perencanaan ...................................................................... 15 2.2.5 Evaluasi ............................................................................ 19 BAB III KESIMPULAN ................................................................................... DAFTAR PUSTAKA 21

ii

BAB I PENDAHULUAN

Perawat memegang peran penting pada klien dalam kelangsungan asuhan keperawatan. Saat klien mengeluhkan berbagai masalah, perawat dituntut untuk selalu berpikir kritis dan menemukan jalan keluar yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan klien. Berpikir kritis adalah suatu proses yang dikaji setelah mendapat informasi. Penerapan praktik berpikir kritis ditunjang oleh proses keperawatan. Proses keprawatan terdiri atas pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Perawat pun akan melakukan berbagai pertimbangan dalam melakukan intervensi pada klien karena kondisi kesehatan klien merupakan tanggung jawabnya.

1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Berpikir Kritis Berpikir adalah menggunakan pikiran dan mencakup membuat pendapat, membuat keputusan,menarik kesimpulan,dan mereflesikan (Gordon,1995). Berpikir merupakan suatu proses yang aktif dan terkoordinasi(Chaffee,1994). Bagaimana perawat menggunakan informasi sebagai pertimbangan, membuat kesimpulan, dan membentuk gambaran mental tentang apa yang terjadi pada klien ini adalah gambaran berpikir kritis. BERPIKIR DAN BELAJAR Sebagai perawat profesional, perawat harus selalu melihat dan berpikir ke depan. Perawat tidak dapat membiarkan berpikir menjadi sesuatu yang rutin atau standar. Praktik keperawatan selalu berubah. Sehingga dapat dikatakan, dengan tersedianya pengetahuan baru, perawat profesional harus selalu menantang caracara tradisional dalam melakukan sesuatu dan mencari apa yang paling efektif, yang mempunyai bukti-bukti mendukung secara ilmiah,dan memberikan hasil yang lebih baik untuk klien.Untuk berpikir secara kritis membuat perawat mampu belajar dan untuk secara positif mempengaruhi praktik keperawatan. Kedewasaan seorang perawat diukur dengan kemampuannya untuk menggunakan pengetahuan baru yang terlibat dalam proses penemuan yang menguntungkan bagi klien juga bagi profesi. 2.1.1 Model Berpikir Kritis Kataoka-Yahiro dan Saylor (1994) telah mengembangkan model berpikir kritis untuk penilaian keperawatan. Model tersebut dirancang untuk mengetengahkan penilaian keperawatan dalam peran klinis, manajerial, kepemimpinan, dan pendidikan. Saat perawat masuk ke dalam pengalaman klinis, tujuan dari model 2

tersebut, yaitu lima komponen berpikir kritis, yang pada akhirnya mengarahkan perawat untuk membuat penilaian klinis yang diperlukan untuk suhan keperawatan yang aman dan efektif. 1. Dasar Pengetahuan khusus Dasar pengetahuan khusus merupakan komponen pertama berpikir kritis seorang perawat profesional. Dasar pengetahuan ini beragam sesuai dengan program pendidikan dan dasar keperawatan dari jenjang mana perawat diluluskan, dan setiap gelar tingkat lanjut yang didapatkan pearawat atau profesi yang dijalani dan pendidikan tambahan yang harus dicari maupun ditempuh. Penting artinya bahwa dasar pengetahuan ini mencakup pendekatan yang menguatkan kemampuan pearawat untuk berpikir secara kritis tentang masalah keperawatan. Dasar pengetahuan perawat mencakup informasi dan teori dari ilmu pengetahuan alam, humaniora, dan keperawatan yang diperlukan untuk memikirkan masalah keperawatan. Seseorang yang sudah mempunyai kemampuan untuk berpikir kritis biasanya akan melakukan aktivitas mental berikut ini sementara ia berpikir secara kritis. a. Mengajukan pertanyaan- pertanyaan untuk menentukan alasan dan penyebab mengapa perkembangan tertentu terjadi dan untuk menentukan apakah diperlukan informasi lain. b. Mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan untuk

mempertimbangkan semua faktor yang tercakup. c. Memvalidasi informasi yang tersedia untuk memastikan bahwa informasi itu akurat, bukan semata- mata pendapat atau dugaan, dan bahwa informasi itu beralasan dan didasarkan pada fakta dan bukti. d. Menganalisa informasi tersebut untuk menentukan maknanya dan untuk menentukan apakah informasi tersebut membentuk suatu rangkaian atau pola yang akin mengacu pada suatu kesimpulan tertentu.

3

e.

Menggunakan pengalaman dan pengetahuan klinis yang lalu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi dan untuk mengantisisipasi apa yang akin terjadi selanjutnya.

f. Mempertahankan suatu sikap fleksibel yang memungkinkan fakta- fakta untuk menuntun dalam brisker dan dalam mempertimbangkan semua kemungkinan. g. Mempertimbangkan pilihan yang tersedia dan menilai tiap pilihan itu menurut keuntungan dan kerugian masing- masing. h. Merumuskan suatu keputusan yang mencerminkan pengambilan keputusan yang kreatif dan mandiri. 2. Pengalaman Pengalaman memberikan suatu sarana untuk menguji keprofesionalan . Seorang perawat menjadikan pengalaman klinis sebagai suatu sarana laboratorium untuk menguji pengetahuan keperawatan. Perawat harus mengetahui bahwa pendekatan teori atau buku ajar mempunyai landasan kerja yang penting untuk praktik tetapi harus dibuat modifikasi untuk merangkul lingkungan kerja, kualitas keunikan klien yang ada dan pengalaman perawat yang didapatkan dari klienklien sebelumnya. Perawat yang ahli memahami konteks dalam situasi klinis, mengenali isyarat, dan menginterpretasikannya sebagai relevan atau tidak relevan (Benner, 1992). Tingkat kompetensi ini hanya terdapat dalam pengalaman. Kemungkinan merupakan pelajaran terbaik yang harus dipelajari oleh peserta didik keperawatan yang baru adalah mengambil manfaat semua yang dialami klien. 3. Kompetensi Kompetensi berpikir kritis adalah proses kognitif yang digunakan perawat untuk membuat penilain keperawatan. Terdapat tiga tipe kompetensi yaitu : 1. Berpikir kritis umum

Proses berpikir kritis umum mencakup metode ilmiah, pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan. Proses berpikir umum digunakan dalam disiplin lain (mis, pekerja sosial dan kedokteran) dan dalam situasi non-klinis. Pemecahan masalah mencakup mendapatkan informasi ketika terdapat kesengajaan antara apa yang sedang terjadi dengan yang seharusnya terjadi. Dalam pembuatan keputusan, individu memilih tindakan untuk memenuhi tujuan. Sebagai contoh, pengambilan keputusan terjadi ketika seseorang memutuskan bagaimana cara menggunakan waktunya atau makanan yang akan dimasak untuk makan malam. Untuk membuat keputusan, seseorang harus mengkaji semua pilihan, menimbang setiap pilihan tersebut terhadap serangkaian criteria, dan kemudian membuat pilihan terakhir. 4

2. Berpikir kritis spesifik dalam situasi klinis Kompetensi berpikir kritis spesifik dalam situasi klinis mencakup pertimbangan diagnostik, kesimpulan klinis, dan pembuatan keputusan klinis. Suatu contoh pemeriksaan diagnostik yang beralasan termasuk perawat yang membuat pengkajian berkesinambungan berdasarkan masalah medis klien (Carnevali & Thomas, 1993).

3. Berpikir kritis dalam keperawatan Satu teori kompetensi berpikir kritis bersifat khusus untuk keperawatan. Proses keperawatan merupakan pendekatan sistematis yang digunakan untuk secara kritis mengkaji dan menelaah kondisi klien, mengidentifikasi respons klien terhadap masalah kesehatan, melakukan tindakan yang sesuai, dan kemudian mengevaluasi apakah tindakan yang dilakukan telah efektif. Format untuk proses keperawatan adalah unik untuk disiplin keperawatan dan memberikan bahasa dan proses yang umum bagi perawat untuk memikirkan semua masalah klien (Kataoka-Yahiro dan Saylor,

1994).

Prose

Embed Size (px)
Recommended