Home >Government & Nonprofit >Majalah Detik #132 - Panasbung

Majalah Detik #132 - Panasbung

Date post:29-Nov-2014
Category:
View:22,814 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Description:
Majalah Detik 132 dipublikasikan pada 6 Juni 2014, salah satu artikelnya membahas sekelompok orang yang dinamakan "Pasukan Nasi Bungkus" yang bekerja sebagai pemecah belah bangsa. PDF ini adalah bagian dari Majalah Detik yang tadinya sebesar 50MB lebih dibuang isi lainnya dan dioptimisasi untuk dapat didownload dan disebarkan dengan mudah. Hanya berfokus kepada tiga artikel: - Pengakuan Panasbung - Ketika Kampanye Jahat Masuk Pesantren - Surat Palsu Mantan Pendukung Versi JPEG dari artikel Pengakuan Panasbung dapat diakses di http://panasbungisreal.tumblr.com DISCLAIMER: Pengupload tidak dibayar SEPESERPUN untuk melakukan download, optimize dan upload. Lagipula, optimizing PDF seperti ini dapat dilakukan hanya dalam waktu 5 menit. :D
Transcript:
  • 1. EDISI 132 | 9 - 15 JUNI 2014 10 tahun monorel molor TAK ada instruksi inteli masjid JUSUF KALLA INTERVIEW EDISI 132 | 9 - 15 JUNI 2014 10 tahun monorel molor TAK ada instruksi inteli masjid JUSUF KALLA INTERVIEW
  • 2. Majalah detik 9 - 15 juni 2014Majalah detik 9 - 15 juni 2014 Saya dibayar Rp 2,5 juta per bulan. Mereka bilang jangan sampai ada yang boleh tahu kalau kita kerja kayak gitu. Nasi Bungkus Pengakuan Mantan Pasukan
  • 3. Majalah detik 9 - 15 juni 2014 Kami pasukan nasi bungkus Laskar cyber pejuang di belakang komputer Senjata kami Facebook dan Twitter Menyerang lawan tak pernah gentar Patuh setia pada yang bayar L aki-laki 20 tahunan itu senyum-senyum sendiri. Ia terke- nang pernah bekerja sebagai pa- sukan nasi bungkus alias Panas- bung seperti yang dibuat dalam puisi Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indo- nesia Raya Fadli Zon di atas. Panasbung adalah laskar cyber bayaran. Dulu sih tidak tahu. Dibilang dulu kerjanya di depan komputer saja. Mereka bilang sih jang- an sampai ada yang tahu kalau kita kerja kayak gitu, kata laki-laki muda itu. Ia berkisah dirinya diajak temannya untuk menjadi relawan di Think Big Indonesia (TBI), yang berkantor di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Banyak teman di kampusnya, sebuah universitas ternama di Tangerang, Banten, yang mengisi waktu dengan menjadi relawan dan mendapatkan uang lumayan. Sebulan dibayar Rp 2,5 juta. Bagi mahasis- wa kan itu jumlah yang besar, kisah pria yang minta namanya dirahasiakan itu, alasannya takut nanti diapa-apain kalau ketahuan mem- bocorkan pernah menjadi Panasbung itu. Saya takut nanti tidak aman, katanya. Selain gaji Rp 2,5 juta, ia juga mendapat satu kali makan gratis dan disediakan minum- an di kantornya, yang merupakan rukan dua lantai itu. Sedangkan peralatan kantor, berupa komputer dan koneksi Internet, semua sudah tersedia. Ia bekerja dari Senin sampai Sabtu. Ada dua shift yang diberlakukan di TBI, yakni pukul 07.00-16.00 WIB dan pukul 16.00-24.00 WIB. Seingatku sih ada 32 orang yang kerja. Seka- rang katanya sudah ditambah lagi jadi tiga shift, orangnya juga nambah tapi tidak tahu berapa, kata pria muda itu. Pria muda itu dan 31 temannya mendapat tugas melawan berita-berita jelek mengenai Selain gaji Rp 2,5 juta, ia juga mendapat satu kali makan gratis dan disediakan minuman di kantornya
  • 4. Majalah detik 9 - 15 juni 2014 calon presiden Prabowo Subianto di media massa. Setiap masing-masing personel memi- liki lima akun Twitter dan lima akun Facebook. Sebelum bertugas, mereka diminta untuk mengetahui sejarah baik dan buruk Prabowo sehingga bisa menangkis bila ada berita negatif terhadap mantan Komandan Jenderal Kopas- sus itu. Sehari, biasanya ia diberi 8 berita untuk dikomentari dengan 5 akun Twitter dan 5 akun Facebook-nya. Kita cuma disuruh bagaimana berita buruk tentang Prabowo dipelintir jadi baik, kata pe- muda itu. Ia memberi contoh, misalkan bila Prabowo diberitakan melanggar HAM, maka ia diarah- kan untuk menulis komentar, itu kejadian lama, sampai saat ini pengadilan belum menentukan Prabowo bersalah atau tidak, lagi pula semua orang itu pasti punya kesalahan. Saya sebenarnya netral, tapi, karena kerja di situ, ya saya harus bela Prabowo. Saya keluar begitu lulus dan dapat kerjaan lain, itu cuma untuk ngisi kegiatan daripada nganggur, cerita pria itu. Mantan anggota tim TBI lainnya menjelas- kan, selain melawan berita negatif Prabowo, Managing Partner TBI, Juke Sutaram bahtiar rifai/majalah detik
  • 5. Majalah detik 9 - 15 juni 2014 mereka juga ditugasi memberi komentar- komentar berita tentang Jokowi. Misalnya menulis komentar sebagai warga Jakarta dan menulis komentar agar Jokowi menyelesaikan tugas di Jakarta terlebih dahulu, kata mantan karyawan TBI tersebut, yang juga tidak mau disebut namanya, kepada majalah detik. Misalnya lagi tentang revolusi mental, aku per- nah komen visi-misinya Jo- kowi enggak jelas banget. Ngambang, ujarnya. Suasana kerja biasanya sepi. Masing-masing sibuk berkutat dengan kompu- ternya. Paling kadang ada yang cekikikan bila sedangberantemdikomendenganpendukung Jokowi, kisahnya. Meski sepi, pengawasan kerja cukup ketat. Siapa pun yang mau meninggalkan ruangan, bahkan hanya untuk sekadar buang air kecil, harus mencatatnya di sebuah buku. Tim relawan cyber TBI itu mengaku saat per- tama masuk kerja, ia bertemu dan mendapat pengarahan dari Managing Partner TBI Juke Sutaram. Saat dikonfirmasi, Juke dengan jujur mengakupihaknyaadalahsimpatisanPrabowo- Hatta. TBI sebagai perusahaan PR consultant sering membantu branding Prabowo. Namun ia membantah mengerahkan Panasbung. Tidak ada karyawannya yang dipekerjakan untuk me- lawan berita negatif tentang Prabowo di media atau media sosial. Kita tidak berkompeten melakukan itu kare- na kita tidak ditunjuk sebagai profesional. Kan kita pertemanan dengan Pak Prabowo. Kalau saya tak tahu ya, kalau di tempat JKW itu ada yang memproklamirkan (soal Panasbung) itu, kata Juke kepada majalah detik. Seorang blogger yang memiliki ribuan peng- ikut memberi kesaksian soal Panasbung kelas atas. Menurutnya, ada sekelompok orang yang disebut sebagai Kelompok Opinion Leader, yang bertugas mempengaruhi para pengikut- nya dengan membuat tulisan di media sosial. Mereka ini biasanya para selebritas di media sosial dengan pengikut ribuan. Nah, mereka mendapat imbalan gede deng- an sistem kontrak bila mem-posting tulisan atau membuat status di akunnya ataupun ngeblog Misalnya lagi tentang revolusi mental, aku pernah komen visi-misinya Jokowi enggak jelas banget. Ngambang.
  • 6. Majalah detik 9 - 15 juni 2014Majalah detik 9 - 15 juni 2014 yang isinya memuji atau menjelekkan salah satu capres. Tergantung jumlah followers-nya. Bisa yang sampai puluhan juta, kata blogger terkenal itu, yang namanya minta dirahasiakan. Yang main dua kaki, tentunya lebih gede lagi karena dapat dari sana-sini. Istilah Panasbung kembali ramai ketika Fadli Zon membuat sajak berjudul Pasukan Nasi Bungkus akhir April lalu. Bila sejumlah Panas- bung mengaku dibayar untuk membela Prabo- wo, Fadli justru memberi kesaksian sebaliknya, kubu Prabowo justru menjadi korban. Ia ter- inspirasi membuat sajak Panasbung itu karena geram Partai Gerindra banyak mendapat se- rangan dan kampanye hitam dari laskar cyber bayaran itu. Fadli, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Tim Kampanye Nasional Koalisi Merah Putih, mengatakan pihak Prabowo kini mengawasi komentar-komentar Panasbung. Ada, keba- nyakan yang komentar-komentar begitu itu pakai akun anonim. Panasbung., kata Fadli kepada majalah detik. Kita respons dengan kampanye putih. Sedangkan kubu Jokowi mengakui adanya tim khusus di jagat maya. Namun mereka membantah mengerahkan Panasbung. Cyber army di tim sukses Jokowi berbasis relawan. Mereka tidak disiapkan secara khusus dengan dana yang sangat besar. Jokowi bahkan tidak tahu soal tim di dunia maya itu. Salah kalau nasi bungkus, kita makannya prasmanan sayur lodeh, canda jubir PDIP, Eva Kusuma Sundari. n ARYO BHAWONO, BAHTIAR RIFAI, ELVAN DANY SUTRISNO I IIN YUMIYANTI Kantor TBI di Pondok Pinang, Jakarta Selatan bahtiar rifai/majalah detik
  • 7. Majalah detik 9 - 15 juni 2014 Kampanye hitam terhadap Jokowi dilancarkan lewat tabloid dan pesan berantai. Banyak pegawai negeri dan guru terpengaruh. Bisa terjungkal jika perbedaan suara dengan Prabowo tipis. Ketika Kampanye Jahat Masuk Pesantren
  • 8. Majalah detik 9 - 15 juni 2014 G un Gun Heryanto menyesal telah memenuhi permintaan Darmawan Sepriyossa. Seandainya tahu tabloid macam apa yang diwakili Darmaw- an, Gun tidak akan pernah mau menulis kolom yang dimintanya. Gun sudah lama mengenal Darmawan. Pada 25 April, dosen komunikasi politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu dikontak Darmawan untuk menulis opini berisi analisis terhadap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dalam mengikuti pemilihan presi- den. Dia bilang mau bikin tabloid baru, kata Gun. Namun, dalam percakapan telepon itu, Dar- mawan tidak menyebut nama tabloid tempat tulisan kolom itu akan dimuat. Gun kaget ketika tulisannya ternyata muncul di tabloid Obor Rakyat. Tabloid setebal 16 ha- laman itu pada Rabu, 4 Juni 2014, dilaporkan tim hukum Joko Widodo-Jusuf Kalla ke Badan Pengawas Pemilu karena isinya fitnah kepada calon presiden dan wakil presiden itu. Ketua Bawaslu Muhammad mengatakan, jika tabloid itu terbukti berisi kampanye hitam, pembuatnya melanggar Undang-Undang Pe- milihan Presiden dan Pemilihan Umum serta pasal pencemaran nama baik. Sanksinya seki- tar dua tahun penjara, bahkan bisa lebih jika dikenakan pasal berlapis. Gun merasa tulisannya tidak menyerang Jokowi ataupun PDIP, namun dia menyesalkan kemunculan artikel itu di Obor Rakyat. Kalau Edisi perdana tabloid Obor Rakyat yang berisi isu-isu miring tentang calon presiden Joko Widodo. Ari Saputra/detikcom
  • 9.
Embed Size (px)
Recommended